Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Kami Memang Preman!!! Lantas Anda Mau Apa???




Di antara tumpukan emas ini
Kami membaurkan diri
Tak terlihat, namun terasa jika tersentuh jemari
Kami tak memiliki warna yang pasti
Hanya warna kusam yang terlihat menari
Kamilah debu-debu kehidupan
Kami ada walaupun tak ada yang sudi merasakan
Kami tak meminta belas kasihan
Bukan pula ingin merampas kemilau intan
Kami hanya ingin menyusuri gersangnya jalanan tak bertuan

***

Budong mempercepat langkahnya menuju sudut stasiun. Sekarang hampir setengah berlari. Napasnya memburu dan keringatnya sudah mulai menetes di pelipis. Kini ia telah sampai di bangunan yang diperuntukan sebagai toilet. Raut wajahnya sedikit lega karena telah menemukan yang ia cari.

“Axel!!” panggil Budong kepada seseorang tengah berdiri di beranda toilet sambil menelepon.

“Hoy!!! Ada apa, Bud?” tanya Axel sembari tetap memegang ponselnya.

“Ayo cepet jalan!!! Anak – anak udah pada nungguin di jalur empat. Sebentar lagi target kita datang,” jawab Budong.

“Oh, oke… oke….”

Axel kembali berbicara pada seseorang di ujung telepon.

“Sayang, udahan dulu telponnya ya. Abang mau kerja dulu. Ntar malem minggu kita nongkrong di pasar malem. Abang traktir molen deh. Dadah.”

Axel menekan tombol merah pada ponselnya dan memasukkannya ke saku celana jins yang sudah kumal. Rupanya tadi ia tengah menelepon sang pacar. Ia lalu menghampiri Budong yang masih dengan raut wajah tak sabar.

“Elu ngapain sih, telponan mulu sama pacar lu?”

“Yeee… suka-suka gue, dong. Elu ngiri sama gue, Bud? Cari cewek sendiri sono.”

“Nggak sih, gue heran aja. Kok ada ya cewek yang mau sama elu, yang kerjaannya gak jelas jadi apa?! Tuh cewek matanya rabun kali ya. Nggak ngeliat elu kucel gak karuan kayak gini.”

“Wah… minta dipecat jadi anak buah nih rupanya. Emang napa sih?”

“Bukannya gimana - gimana, Xel. Tapi elu kudu inget waktu dong. Masa kagak hapal – hapal sama jam kedatangan target kita.”

“Iya… iya…. Lagian kenapa jadi elu yang nyolot? Kan gue yang jadi bos di sini.”

“Hmm…, dikasi tau bener – bener, malah ngeluarin jurus andalan. Udah ah. Tuh anak – anak clingak clinguk nyariin elu.”

Axel dan Budong segera berlari menuju jalur empat. Suara berat seorang pria dari ruang kendali stasiun sudah menggema, menandakan beberapa saat lagi sebuah rangkaian gerbong akan memasuki stasiun. Sementara itu, Jupri dan Maman sudah siap di jalur empat.

Lokomotif yang berwarna putih itu sudah nampak dan jaraknya semakin dekat saja. Axel, Budong, Jupri, dan Maman sudah bersiap hendak loncat ke arah kereta yang masih berjalan. Keempat pemuda ini tidak takut dengan aksi mereka dan tidak ada satu petugas stasiun pun yang berani menegur mereka.

Sampai di dalam gerbong pertama, Axel langsung angkat bicara.

“Selamat pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian. Salam sejahtera untuk kita semua. Kami berempat mohon maaf jika kehadiran kami dianggap mengganggu oleh bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian. Maksud kehadiran kami di sini tidak lain dan tidak bukan, hanya untuk meminta keikhlasan dari Anda semua. Seberapapun besarnya, akan kami terima.”

Budong, Jupri, dan Maman mulai mengeluarkan bungkus permen yang sudah tidak terpakai dan menyodorkan kepada para penumpang kereta. Segalanya berjalan dengan lancar, walaupun tak sedikit juga penumpang yang acuh dengan kehadiran empat pemuda ini. Tapi bagi Axel dan rekan-rekannya, itu bukan masalah besar. Toh, mereka bukanlah preman-preman pemaksa seperti di luar sana. Yang terpenting bagi mereka, jangan sampai ada yang menghina atau melecehkan keberadaan mereka.

Sampai di bagian belakang gerbong pertama, Axel dan kawan-kawannya mendapat sebuah pertanyaan dari salah seorang penumpang yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

“Hei, dik. Mengapa kau menjadi preman?”

Axel benar – benar terkejut dengan pertanyaan itu. Namun ia cepat menguasai keadaan.

“Kami memang preman. Lantas Anda mau apa?” tanya Axel.

“Carilah pekerjaan lain,” jawab si bapak yang bertanya tadi.

“Sekarang saya akan balik bertanya kepada bapak. Apakah saya harus menjadi preman jika sebuah pekerjaan mudah di dapat?”

“Menjadi preman, bukanlah sebuah pekerjaan. Masih banyak hal lain yang bisa kau kerjakan, Dik.”

“Pak. Nenek – nenek buta huruf juga tau kalo jadi preman itu bukan sebuah pekerjaan,” celetuk Budong.

“Diam kau, Bud,” hardik Axel.

“Pak, dengarkan perkataan saya dengan baik-baik. Jangan sampai ada yang terlewat. Sejak kami berempat dilahirkan, tidak ada niatan di benak kami untuk menjadi preman. Semua orang di dunia ini pun begitu. Harapan menjadi yang terbaik pastilah ada. Tapi apa yang terjadi kemudian, Pak? Ternyata kami berempat, khususnya saya, dilahirkan dalam keluarga yang teramat miskin. Saya hanyalah anak satu-satunya dan kedua orang tua saya sudah meninggal sejak bertahun-tahun yang lalu. Sekarang silahkan bapak bayangkan, apa yang akan dilakukan seorang bocah yang sudah kehilangan orang tuanya, untuk menyambung hidup? Dan bapak lihat hape ini?” lanjut Axel sambil mengeluarkan ponsel dari saku jinsnya yang kumal, “Ini bukanlah hasil rampasan. Silahkan percaya atau tidak. Saya menabung selama tiga tahun untuk dapat membeli hape bekas ini.”

Axel berhenti sejenak sambil menatap sekitarnya. Ketiga temannya memperlihatkan raut kecemasan. Takut ini semua akan berakhir ricuh dengan datangnya petugas kereta api.

“Dan memang benar kami adalah preman. Tapi kami tidak pernah meminta dengan paksa,” lanjut Axel. Lalu ia kembali menatap si bapak yang memberi pertanyaan padanya. “Sekarang, kami mohon diri karena ada pekerjaan yang harus kami lakukan. Ya..., menjadi preman.”

Note: Terinspirasi dari perjalanan Malang – Cirebon dengan kereta ekonomi Matarmaja

Kisah Al dan Maya - Chapter Thirteen

13423739781269166312



“Pulang?!” Al nyaris berteriak ketika mendengar permintaan Maya. “Untuk apa? Kau tidak bisa pergi begitu saja, Maya. Meskipun bisa, aku tidak akan mengijinkan.”

“Memangnya aku perlu ijinmu? Aku wanita dewasa. Aku bebas berbuat sesukaku,” sahut Maya. “Dan siapa kau, berani melarangku untuk pergi?” Sedikit lagi, Maya lebih mirip Merapi yang siap memuntahkan lava pijar ke permukaan bumi.

Tiba-tiba Al menarik tangan Maya dan merengkuh tubuh gadis itu ke pelukannya. Ia ingin seperti ini saja, bisa memeluk gadisnya dengan erat, tanpa takut orang lain akan memisahkan mereka. Ia berdoa, mungkin dengan pelukan, amarah Maya akan teredam.

Bukannya ia tidak ingin berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan hubungan ini kepada ibundanya. Bahkan itu tujuan utama Al bertandang ke Lembang, ke rumahnya. Tapi apa mau dikata? Ibundanya memang bukan wanita yang mudah mengubah penilaiannya terhadap seseorang. Selalu saja begitu, semuanya hanya dilihat dari permukaan. Kadang Al sendiri jengkel dengan sikap ibundanya.

“Tolong jangan menyerah dulu,” bisik Al sangat dekat di telinga Maya. “Bertahanlah sedikit lagi. Bertahanlah… untukku.”

“Sudah kubilang, Al, aku lelah,” sahut Maya lirih.

“Aku tahu. Tapi bertahanlah sedikit lagi. Tuhan pasti tidak mengijinkan kita menyerah dengan begitu mudahnya.”

“Bagaimana caranya?”

Aku yakin pasti ada jalan. Yang kita perlukan hanya sabar. Aku akan terus berusaha untuk meyakinkan Mama, bahwa kau tidak seperti yang ia pikirkan.” Al melepas pelukannya. Ia mengajak Maya untuk duduk kembali pada tonjolan akar. “Mama belum mengenalmu. Kupikir ada baiknya kau tinggal di sini lebih lama lagi. Jadi kau punya waktu lebih untuk membuat ikatan yang baik dengan Mama. Aku akan memberitahu ayahmu. Beliau pasti mengijinkan.”

“Hah?!” pekik Maya lebih mirip gumam yang nyaris tanpa suara. “Tinggal di sini?! Apa kau gila, Al?”

“Tidak. Aku tidak gila. Aku hanya berpikir rasioal. Batu yang keras saja akan hancur kalau setiap hari kena panas dan hujan bergantian, apalagi hati manusia yang lebih lunak dari batu. Aku yakin Mama pasti bisa menerimamu, Maya. Yang kau butuhkan hanya kesabaran.”

Al mendongak, melihat langit yang sudah menampakkan warna aslinya. Biru terang. Seharusnya ada sebuah jalan yang terang untukku dan Maya, pikir Al. Lalu ia melihat Maya lagi.

“Semuanya akan berjalan lancar kalau kita berdua sama-sama berusaha, Maya. Tidak bisa jika hanya aku yang jalan atau kau saja yang jalan.” Jeda sejenak. “Yakinlah.”

Maya menggelengkan kepala pelan sekali. Dalam hatinya benar-benar belum bisa memilih hendak condong kemana. Sebagian, ia ingin percaya begitu saja pada ucapan Al. Sebagian lagi, ia yakin, ini tidak akan berhasil. Nyonya Berta bukan manusia yang mudah ditaklukkan hatinya, batin Maya. Dan kegelisahan itu tertangkap mata oleh Al.

“Kau masih belum percaya?!” tanya Al.

Maya mengangguk.

“Bagian mana yang masih sulit untuk kau percaya?” tanya Al lagi.

Maya menatap Al. Agak ragu, tapi ia bersuara juga, “Semuanya….”

“Semua?! Maksudmu?”

“Ya, semuanya. Aku bahkan tidak percaya aku ada di sini, di bawah pohon ini, di suatu tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya, dan ada kau duduk di sampingku.” Maya menggeleng lagi. “Nampak asing, semuanya. Semuanya….”

Al menunduk. Ia bukan sedang menikmati suara gemerisik gesekan dedaunan. Tidak pula sedang menikmati alunan nada yang dibawa deru angin sejuk pegunungan. Apalagi untuk menekuni dedaunan kering yang gugur dan membentuk mozaik tiga warna yang indah – hijau, hijau kekuningan, dan coklat – di antara kaki-kakinya. Al sedang berpikir. Dan setelah beberapa jenak yang tak terlalu lama, ia kembali membuka percakapan. “Jika kau percaya pada takdir,” Al masih menunduk, “bahwa kejadian teraneh sekalipun di dunia ini bisa mempertemukan dua orang yang jauh jaraknya, maka seharusnya kau tidak berkata seperti itu.”

“Seberapa besar…,” Maya meraih tangan Al, “kau menginginkan diriku, Al?”

Al mengangkat kepala, melihat ke arah Maya. Ia hampir tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul saat ini. “Sebesar…,” Al bingung, “sebesar…, entah. Aku tidak tahu. Apa harus ada pembandingnya?”

Maya tidak menjawab. Matanyalah yang menjawab: ya.

“Karena memang itu terlalu besar, aku tidak bisa menemukan pembandingnya di dunia ini.”

Mata Maya berkaca-kaca. Perlahan, satu bulir bening berhasil mencuri kesempatan keluar dari liangnya. Lalu meluncur bebas di paras ayunya. Al menyapunya, juga bulir-bulir berikutnya yang menyusul keluar dari liangnya.

“Sudahlah, Maya.” Al mengecup puncak kepala Maya. “Aku bosan melihatmu menangis hari ini.” Ia rengkuh lagi gadis itu ke dalam pelukannya. “Jangan hambur-hamburkan airmatamu. Kau mungkin akan memerlukannya untuk kesempatan lain.”

“Misalnya?!”

“Ya, mungkin untuk momen selepas ijab qabul,” jawab Al.

Maya tersenyum. Ia makin menenggelamkan diri ke pelukan Al. Yang jelas, baik Maya maupun Al, tidak menyadari bahwa seseorang tengah melihat mereka dari kejauhan. Cukup jauh, tapi juga cukup jelas untuk menduga apa yang sedang dilakukan Maya dan Al. Setelah puas dengan apa yang ia lihat, Nyonya Berta melangkah pulang.

Aku masih belum paham, mengapa Al menyukai gadis macam itu. Gadis miskin seperti itu tidak cocok untuk anakku. Gadis itu tidak seperti Maya yang dulu. Aku lebih suka Maya Larasati, bukan Kalina something. Bahkan aku tidak bisa menghapal namanya. Maya Larasati memang bukan dari keluarga yang berlimpah harta, tapi dia punya otak yang sepertinya jauh lebih baik dibanding gadis yang ini. Maya Larasati adalah pengacara muda yang siap menjadi pengacara terkenal. Dengan begitu, uang akan lebih mudah mendekat padanya. Sementara gadis ini, aku tidak punya harapan apa-apa.

***

Selepas isya, Al dan Maya duduk di sofa ruang tengah. Mereka sedang melihat album foto lama milik keluarga Al. Mereka tertawa, kadang hanya senyum sekilas, kadang tergelak lepas. Sesekali mereka mengernyitkan dahi jika menemukan sesuatu yang aneh pada fotonya, terutama foto-foto pada saat masa kecil Al. Sementara Al dan Maya asyik dengan album-album lama, Nyonya Berta memilih menghindar. Wanita paruh baya itu sedang menonton tayangan televisi. Hanya matanya saja yang menonton, pikirannya masih penuh tertuju pada Al dan Maya.

“Ini foto siapa, Al?” tanya Maya ketika membuka album yang sedikit tua.

Pada halaman pertama terdapat tiga foto. Ketiganya memuat wajah yang sama, seorang gadis yang memakai toga kelulusan.

“Oh, itu foto Mama.”

“Oya?! Foto kapan ini? Kelihatannya ini sudah lumayan lama.”

Al mendekatkan album itu ke wajahnya. Dahinya agak berkerut, lalu berkata, “Ini waktu kelulusan SMA.” Berpikir lagi, lalu kembali berkata, “Ya, sepertinya memang betul. Kau lihat laki-laki yang berdiri di samping Mama, yang memakai kemeja biru muda dan celana panjang?! Itu almarhum Papa.”

“Oh, jadi orang tuamu sudah saling kenal sejak masih SMA?”

“Nggak juga. Waktu Mama lulus SMA, Papa sudah bekerja di perkebunan teh milik Kakekku. Orang tua Mama dan orang tua Papa adalah sahabat sekaligus rekan bisnis. Mungkin, mereka sudah merencanakan perjodohan Mama dan Papa sejak mereka masih kecil. Atau bahkan sebelum mereka lahir. Entah,” kata Al sambil mengangkat kedua bahunya.

Maya kembali membuka-buka sisa halaman pada album itu dan mendapati perjalanan hidup Nyonya Berta ketika lulus dari SMA dan mulai menapaki dunia kampus. Lalu, di satu halaman sebelum halaman terakhir, Maya tersentak ketika melihat satu foto yang terpajang di sana. Foto itu nampaknya menjadi foto terbesar di album itu, wujudnya hampir memenuhi satu halaman. Tidak ada yang aneh dengan dua orang yang tergambar pada foto itu. Itu foto Nyonya Berta dengan – mungkin – salah satu teman kuliahnya. Tapi, yang membuat Maya tersentak adalah saat melihat wajah teman Nyonya Berta. Seketika Maya langsung berteriak dalam hati: Wajahnya mirip denganku. Tidak! Bukan mirip. Tapi sama!

“Al….”

Maya melihat wajah Al yang sedang menunjukkan ekspresi aneh. Campuran antara bingung, penasaran, dan rasa tidak percaya yang berlebihan.

“Aku tidak tahu siapa perempuan ini,” kata Al setelah beberapa lama bergeming memperhatikan foto itu. “Tapi….”

Al tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah membuka lapisan plastik bening yang melindungi foto itu. Pelan-pelan ia lepaskan lembar foto itu dari halaman album. Lalu berlari menuju kamar Ibundanya. Maya mengikuti dengan perasaan cemas. Di otaknya hanya ada satu pertanyaan: Siapa perempuan itu?

Pintu kamar Nyonya Berta sudah terbuka. Si pemilik kamar sedikit terlonjak ketika mendengar pintunya tiba-tiba terbuka dari luar. “Ada apa ini?”

Baik Al maupun Maya tidak ada yang bersuara. Lalu Al menunjukkan lembar foto yang dipegangnya kepada sang ibu. Dan tidak seperti ekspresi yang mereka harapkan, Nyonya Berta hampir tidak mengubah air mukanya.

“Ada apa dengan foto tua itu?” tanya Nyonya Berta.

“Kenapa Mama masih bertanya seperti itu?” Giliran Al buka suara. “Apa satu wajah di foto ini tidak mengingatkan Mama akan seseorang di rumah ini?”

Nyonya Berta bergeming. Pandangan matanya berpindah-pindah. Dari Al, foto, lalu sekilas melihat Maya, lalu melihat Al lagi. Dan akhirnya ia berkata, “Tidak!” dengan tegas.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.

Kisah Al dan Maya - Chapter Twelve

13423739781269166312



Suasana di ruang tamu itu mendadak senyap. Tiga orang dengan tiga pikiran. Semuanya belum ada yang berani bersuara. Setelah mencium punggung tangan ibunda Al, Maya jadi kikuk. Ia hampir tidak berani memandang wanita paruh baya itu. Maya takut, juga sedikit menyesal, mengapa ia begitu percaya diri mencium punggung tangan wanita itu.

Sementara Al, ia lebih terlihat lebih tenang. Walaupun pikirannya tak setenang kelihatannya. Ia sudah menduga situasi seperti ini akan terjadi juga. Dulu, sehari setelah kepergian Maya, ibundanya memarahi Al. Benar-benar murka wanita itu. Segala sumpah serapah dikeluarkan. Bahkan yang seharusnya tidak pantas diucapkanpun ikut ditumpahkan. Jika seseorang yang tidak mengenal Nyonya Berta, ibunda Al, melihat adegan itu, pasti akan mengira wanita itu sakit jiwa. Isakan-isakan memilukan mengiringi kemarahan Nyonya Berta. Intinya, Nyonya Berta sangat menyayangkan kematian Maya.

Dan sekarang, Nyonya Berta seperti dipaksa untuk membuka lagi kardus memori yang sudah ia segel rapi di otak belakangnya, hanya gara-gara nama itu. Maya.

“Mama mau ke belakang dulu,” akhirnya Nyonya Berta memecah kesenyapan. “Ada yang harus dikerjakan di dapur. Mama akan bicara denganmu nanti malam, Al.” Lalu Nyonya Berta meninggalkan Al dan Maya di ruang tamu.

“Al….” Maya menyentuh lengan Al. “Aku…. Mungkin sebaiknya aku tidak di sini.”

“Apa maksudmu?”

“Ibumu sepertinya tidak menyukaiku.”

“Ehm…. Jangan berkata seperti itu. Kalian hanya belum saling kenal.”

“Tapi… aku takut, Al.”

Takut?! Itu pula yang dirasakan Al saat ini. Tapi ia percaya, bahkan hampir yakin, semuanya akan berakhir seperti yang ia impikan.

Al tersenyum. Ia meraih jemari Maya dan mengusap-ngusap dengan lembut. “Jangan perlihatkan takutmu. Percaya saja. Aku juga menginginkan yang sama denganmu.”

Malam harinya, Maya sudah lebih dulu tidur di kamar tamu. Ia lelah setelah seharian diajak bersepeda keliling kampung dengan Al. Rencananya, mereka akan berada di Lembang sampai hari Selasa sore. Al sudah mengurus cuti. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kecuali satu. Al khawatir ibundanya tidak mau menerima Maya sebagai calon menantunya.

Pukul sembilan lewat sedikit, Al mengetuk pintu kamar ibundanya. Ia tahu, ibundanya belum tidur dan masih menonton televisi di dalam. Pintu terbuka, wajah Nyonya Berta menyeruak dari balik daun pintu.

“Masih nonton tivi, Ma?” tanya Al basa-basi.

“Iya,” sahut Nyonya Berta. “Ada apa?” Nyonya Berta kembali duduk di sofa kulit berwarna hitam, tempat duduk favoritnya jika menonton televisi.

“Bukankah Mama ingin bicara denganku?!” Al duduk di tepi ranjang.

“Bicara apa?” Mata Nyonya Berta tetap tertuju pada layar televisi. Tangannya pura-pura sibuk memencet tombol remote.

Al tahu, ibundanya sedang menguji. “Ayolah, Ma.”

Nyonya Berta masih pura-pura sibuk dengan remote di tangannya. “Mama tidak suka gadis itu.”

Pendek, tegas, dan langsung ke inti masalah. Tapi justru itu membuat masalah baru bagi Al. Ia pun sudah menduga kalimat itu akan meluncur dari mulut ibundanya.

“Apa maksud Mama?”

“Di mana kau menemukan gadis itu?” Nyonya Berta malah mengajukan pertanyaan lain dengan santainya. Mata masih menatap layar kotak, dua meter di hadapannya.

“Ma….” Al seperti mendadak kehilangan kemampuan berbicara. “Mama tidak bisa memperlakukan Maya seolah dia gadis rendahan. Maya gadis baik-baik, Ma.”

“Apa dia dari keluarga baik-baik juga?”

Pertanyaan itu langsung memotong ucapan Al. Dan kali ini, Al benar-benar menjadi bisu.

“Mama tahu, Al. Mama paham betul watakmu.” Nyonya Berta benar-benar melihat Al sekarang. “Kau memacari gadis itu hanya karena namanya sama dengan tunanganmu yang sudah mati itu, kan?! Nama boleh sama, Al. Tapi apa isi otak keduanya sama?”

Al menghela napas panjang. Ia tahu, emosi negatif tidak bisa dilawan dengan hal yang sama. Baiknya ia menjadi oposit yang mendinginkan.

“Jujur saja, Ma. Kalina Mayasari tidak sama dengan Maya Larasati. Gadis ini hanya lulusan SMA dan ayahnya hanya seorang penjaga makam.” Al jeda sejenak. Ia mengamati ekspresi ibundanya yang merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Aku tahu, itu bukan profesi yang menghasilkan banyak uang. Intinya, Ma.” Jeda lagi. Al menimbang sejenak apa yang ingin ia katakan. “Intinya…, aku yang menginginkan Maya. Dan bukan sebaliknya.”

“Maksudmu? Kau mau menikahi gadis itu walaupun gadis itu tidak mencintaimu? Tolong, Al. Bicaralah dengan bahasa yang Mama pahami!”

“Kami saling mencintai, Ma. Tidak ada yang timpang dengan perasaan kami berdua.” Al berdiri. Ia merasa obrolan malam ini dengan ibundanya harus dicukupkan sampai di sini. “Bersikap baiklah kepada Maya, Ma. Nanti Mama akan tahu sendiri, betapa dugaan buruk Mama terhadap Maya sangat tidak beralasan. Aku tahu Mama sangat kehilangan Maya. Sekarang, anggaplah Maya hidup lagi dan menjelma menjadi gadis yang sekarang tidur di kamar tamu.”

Al keluar kamar dan membiarkan Nyonya Berta memikirkan perkataannya.

***

Kerumunan awan abu-abu berarak perlahan, mendekati langit Lembang. Awan-awan itu nantinya hanya lewat tanpa menurunkan tetes-tetes air yang dibawanya. Entah kemana, mereka menurut apa kata angin saja. Sama seperti Al dan Maya, mereka pun tak tahu kemana hubungan mereka seharusnya dibawa. Di satu sisi, mereka ingin menghalalkan hubungan ini. Di sisi lain, ada yang tidak menyukai rencana itu. Dilema.

“Aku tidak pernah meminta untuk sampai pada titik ini,” kata Maya. Jemarinya sibuk memainkan kuntum kembang sepatu yang tadi tadi sempat dipetiknya.

“Siapapun tidak akan menyangka, Maya,” sahut Al.

Baru beberapa menit yang lalu, Al menceritakan percakapannya semalam dengan ibundanya. Maya kaget, tapi sudah menduga soal itu. Sungguhpun, jika bisa, ia ingin dirinya tidak pernah mengenal Al. Hubungan ini memang indah, pikir Maya, tapi menyakitkan manakala ada orang lain yang tidak menginginkannya.

“Mungkin sebaiknya kita akhiri sampai di sini saja, Al.” Jemarinya mulai mencacah kelopak kembang sepatu. Agak gemetar. Mungkin sebentar lagi air matanya akan tumpah.

“Kau mau menyerah begitu saja?!” cecar Al.

“Memangnya kita bisa apa?” Suara Maya mulai bergetar. “Aku tidak mau jika tidak ada ijin dari ibumu.”

“Aku akan memintanya lagi,” ujar Al. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin yang tiba-tiba datang.

Maya duduk di salah satu tonjolan akar pohon. Matanya memandang lepas ke depan, ke hamparan lembah. Air matanya tidak jadi tumpah. Perlahan, ia belajar untuk menjadi tegar. Ia sadar sepenuhnya, ia bukan berasal dari keluarga ‘normal’. Siapa ayah ibunya, ia tidak tahu. Yang ia tahu, Dahlan adalah ayahnya saat ini. Tanpa sosok ibu.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Al kini berdiri menghalangin pandangan Maya ke arah lembah.

Maya tidak menjawab. Ia bahkan tidak mau melihat Al. Jemarinya kembali sibuk mencacah kelopak kembang sepatu yang masih tersisa. Ya, tidak banyak yang tersisa. Jadi Maya memilih menunduk saja setelah kelopak-kelopak itu hancur berantakan.

“Bicaralah, Maya,” pinta Al.

“Aku lelah, Al,” sahut Maya lirih.

“Kalau begitu kita pulang. Supaya kau bisa istirahat di kamar.”

Maya tiba-tiba mendongak, melihat Al yang masih berdiri di hadapannya. “Bukan itu maksudku, Al.” Maya menggeleng. “Ya, Tuhan. Kau belum juga mengerti.”

“Mengerti soal apa?” Al makin bingung.

Maya berdiri. Kini pandangannya hampir sejajar dengan Al. Ia mengamati kedua mata Al, berusaha membaca pikiran pria itu. Lalu menggeleng-geleng lagi. Ia gagal, tak mampu menerka jalan pikiran Al.

“Kita harus sudahi semuanya, Al. sampai kapanpun ibumu tidak akan pernah setuju hubungan kita. Kecuali aku tiba-tiba mendapat segunung uang dan emas, atau mungkin tiba-tiba ada orang kaya raya yang mengakui aku sebagai anak kandungnya. JIka tidak ada, maka silakan kau saja yang bermimpi. Karena aku lelah.” Jeda sejenak. “Sangat lelah, Al.”

Maya sudah mulai melangkah, hendak kembali ke rumah Al. Terlintas di pikirannya untuk pulang saja dengan angkutan umum ke Bandung. Tapi entahlah, gumam Maya dalam hati.

“Kau pikir bisa begitu mudahnya mengakhiri hubungan ini, Maya?!” Al setengah berteriak, takut Maya tidak mendengarnya karena jarak mereka makin jauh. Dan berhasil. Maya menghentikan langkahnya dan kembali melihat Al. “Setelah semua usahaku untuk hubungan ini, kau begitu saja ingin melepas semuanya?! Kau egois, Maya!”

“Egois?!” Maya kembali mendekat. “Kau bilang aku egois?! Kau pikir hanya kau saja yang bersusah payah membangun hubungan ini?! Jika aku tidak mau berusaha, sudah kutinggalkan kau sejak kejadian di butik itu. Itulah mengapa aku lelah, Al. Di awal, aku direpotkan dengan pesonamu yang rupanya menarik gadis-gadis lain. Oke, yang aku lihat cuma satu. Tapi apa yang terjadi ketika aku tidak di dekatmu?” Maya berhenti mengatur napasnya yang mulai tersenggal. “Aku ingin sekali percaya padamu, Al. Tapi tidak bisa. Ditambah lagi ternyata ibumu tidak menyukai aku!”

Maya benar, pikir Al, ia tidak melihat Shinta.

“Sekarang… jika kau bersedia, tolong antarkan aku pada ayahku. Jika tidak bisa…,” Maya mulai terisak, walau samar, “tunjukkan padaku jalan pulang.”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.


Tutorial Singkat Menambahkan Video Youtube ke Dalam Postingan Blog

Mungkin kalian sudah tahu dan mengerti bagaimana cara menambahkan video Youtube pada artikel yang ditayangkan di blog. Bahkan di antaranya ada yang sudah mahir mengutak-atik kode hingga dapat memunculkan tampilan sesuai yang diinginkan. Dan artikel sejenis ini jelas sudah banyak pula yang membuatnya. Tapi gue tetap menuliskannya. Paling tidak, ini untuk koleksi pribadi. Siapa tahu ajah, mendadak gue terkena demensia akut seperti para tersangka koruptor di tipi-tipi kekekekekeke….


  1.         Cari video yang diinginkan di situs Youtube.
  2. 2.       Klik “share”, lalu klik “embed”.
  3. 3.       Pilih “use old embed code”.
  4. 4.     Copy kode yang ada di dalam kotak, lalu salin di kolom postingan. Jangan lupa untuk menyalinnya dalam format html.
  5. 5.       Jika ingin mengubah setting video menjadi autoplay, maka ada beberapa kode yang harus di ubah. Perhatikan dua salinan kode di bawah ini.

<object width="560" height="315"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/LBTXNPZPfbE?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/LBTXNPZPfbE?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" type="application/x-shockwave-flash" width="560" height="315" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object>

Kode yang tercetak dengan huruf tebal diganti dengan “autoplay=1”, menjadi :

<object width="560" height="315"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/LBTXNPZPfbE?version=3&amp;autoplay=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/LBTXNPZPfbE?version=3&amp;autoplay=1" type="application/x-shockwave-flash" width="560" height="315" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object>

Angka satu tersebut maksudnya video itu hanya terputar otomatis sebanyak 1 kali. Selanjutkan harus dinyalakan secara manual (klik tombol play). Tapi jika ingin video terputar sebanyak dua kali, maka kode yang harus ditulis autoplay=2. Begitu seterusnya.

6.       Ukuran tampilan video bisa diubah sesuai dengan kebutuhan.

<object width="560" height="315"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/LBTXNPZPfbE?version=3&amp;autoplay=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/LBTXNPZPfbE?version=3&amp;autoplay=1" type="application/x-shockwave-flash" width="560" height="315" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object>

Diubah menjadi :

<object width="320" height="220"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/LBTXNPZPfbE?version=3&amp;autoplay=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/LBTXNPZPfbE?version=3&amp;autoplay=1" type="application/x-shockwave-flash" width="0" height="0" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object>

Ukuran tersebut adalah ukuran terkecil yang bisa ditoleransi. Jika memasukkan angka lebih kecil dari itu, video tidak akan terputar.

Selamat mencoba. Jika masih ada keluhan, silakan hubungi dokter masing-masing gkgkgkgkgk….

Aku dan Mou

13499296401587288841

“Kau sakit apa, Zee?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut Mou hanya sepersekian detik setelah tiba-tiba ia membuka pintu kamarku. Dan itu membuatku melepas pandangan dari halaman gosip pada majalah yang sedang kupegang.

“Aku tidak sakit, Mou,” jawabku malas.

Well, aku memang sedang malas membahas mengapa selama dua minggu ini aku tidak muncul di kelas menulis, kelas yang selalu Mou pegang di sebuah galeri seni di kota ini. Namun rupanya Mou tidak mau percaya begitu saja jawabanku. Malah, ia memelototiku dan seolah matanya bisa berteriak, ‘Oh, come on, Zee.’

“Sungguh. Aku tidak sakit. Kalau kau tak percaya, kemarilah dan pegang dahiku,” kataku sambil kembali menekuni halaman gosip di majalah.

Dari ekor mataku, aku melihat Mou memang mendekat ke arahku. Lalu ia duduk di tepi ranjang. Mou tidak langsung bicara, ia malah sibuk memainkan jemarinya. Ia menunduk, dan masih tidak bicara. Aku jadi serba salah. Kulempar majalah ke meja kecil di samping ranjangku. Aku mendekati Mou. Kusentuh bahunya, tapi Mou masih menunduk.

“Katakan, Mou. Ada apa?”

Mou masih diam.

Please…,” tambahku sambil menyandarkan tubuhku ke punggungnya. Aku paling suka saat tubuhku merasakan hangatnya punggung Mou.

“Kembalilah ke kelas, Zee. Kelas sudah begitu hambar tanpamu. Mereka yang hadir mengeluh tidak bersemangat jika kau tak ada. Kata mereka, sulit sekali menemukan inspirasi jika bukan dari wajahmu.” Mou diam sebentar. “Kami merindukanmu, Zee. Aku… merindukanmu….”

Oh, Mou. Benarkah itu?! Kau merindukanku?! Kuharap aku salah mendengarnya. Bukankah kau yang selama ini menghindar dariku?! Ehm, tepatnya, kau tidak lagi menganggapku ada, meskipun aku hanya berjarak satu langkah dari tempatmu berdiri. Apalagi setelah kau melihatku di lorong galeri dengan Jesse. Padahal apa yang sedang aku kerjakan dengan Jesse tidak seperti yang kau bayangkan, Mou. Kau tidak pernah bertanya padaku. Kau langsung memberikan tuduhan itu lewat mata birumu. Dan kupikir, kau tidak akan tahu bagaimana sorot matamu serasa seperti sayatan pisau di nadiku.

Aku melepaskan diri dari punggung hangat Mou. Kubaringkan diri dengan punggungku menghadap ke punggung Mou. Kudekap guling merah muda dengan kesal. Itu hadiah pemberian Mou. Ketika Mou menjauhiku, aku tidak pernah berniat membuang guling itu. Karena aku masih berharap, Mou akan datang padaku dan mengatakan sesuatu tentang kerenggangan ini. Dan itulah yang seharusnya terjadi sekarang.

“Aku minta maaf, Zee.”

“Entahlah, Mou. Aku belum bisa memutuskan apa-apa,” jawabku masih dengan posisi yang sama.

Tidak ada balasan. Dan yang selanjutnya kutahu, Mou sudah mendekapku dari arah belakang. Ia mencium belikatku. Kurasakan hangatnya menembus piyama biruku yang tipis.

“Ayolah, Zee. Aku tahu, aku salah. Terlalu cemburu. Kemarin Sam bicara padaku. Entah mengapa kau lebih memilih bicara pada Sam dibanding langsung bicara padaku, Zee. Tapi aku beruntung karena bertemu Sam. Aku jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kita.”

Aku tidak menjawab. Aku sudah tahu itu. Aku memang sengaja bicara pada Sam dan meminta teman sekelasku itu bicara pada Mou. Nampaknya berhasil. Jadi aku tidak perlu kaget. Dan aku memang tidak sakit. Aku hanya malas muncul di galeri. Pekerjaanku di Stamford’s Diner benar-benar menguras tenaga dan pikiranku. Dan jika aku masih harus bertemu Mou di galeri, maka saat itu aku pasti akan langsung mati. Hmm…, berlebihan, ya. Tapi aku belum bisa menemukan padanan yang tepat untuk kondisi itu.

“Zee…. Bicaralah….”

Ah, suara itu semakin samar saja. Seolah datang dari tempat yang sangat jauh.

“Zee….”

Mou…. Mengapa suaramu hampir menghilang? Kau di mana, Mou?


“Zee…. Zee…. Bangun, Zee…. Kau akan terlambat kerja jika tidak bangun sekarang.”

Itu suara ibuku. Wanita itu menepuk-nepuk pipiku. Dan aku berhasil membuka mata, walaupun masih berat. Rupanya tadi aku tertidur. Kulihat ibuku segera pergi dari kamarku setelah memastikan aku benar-benar bangun.

Beberapa saat aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata. Berusaha membaca sekitarku sebelum aku menentukan apa yang harus aku lakukan. Yang jelas, ini sudah pukul tiga sore. Kutahu itu dari jam dinding. Dan satu jam lagi aku harus berada di Stamford’s Diner untuk bekerja.

Tapi, hei, ternyata aku tertidur dengan posisi duduk. Di pangkuanku ada majalah yang terbuka pada halaman gosip. Seketika itu juga aku langsung mendapat konsentrasi penuh. Kuedarkan pandangan ke seluruh kamarku. Lalu aku kembali lemas. Tidak ada Mou.

--- @@@ ---

@sekarmayz - 111012

Sumber gambar, klik image.

Kisah Al dan Maya - Chapter Eleven

13423739781269166312



Subuh sudah berlalu. Kini mentari bersiap hendak menunjukkan kegagahannya kepada seluruh makhluk hidup di bumi. Tak terkecuali Maya. Ia baru saja selesai membereskan sisa sarapan ayahnya. Sekarang ia duduk di balik meja belajar tua di kamarnya. Secara refleks, ia mengambil buku harian dan bolpen dari laci meja.

Ada yang aneh dengan diriku. Semalam, aku seperti dihempas ke banyak adegan opera sabun yang biasa aku tonton di televisi. Mengejutkan, menyakitkan, dan membuatku ingin berteriak marah. Siapa yang menyangka kalau aku mendapat ciuman pertamaku justru setelah aku bertengkar hebat dengan Al? Kupikir ciuman pertamaku pasti terjadi ketika sedang kencan di sebuah taman, atau ketika selesai makan malam romantis di atap sebuah gedung bertingkat. Ya, khas pengila dongeng upik abu dan pangeran tampan berkuda putih. Tapi bukan itu yang terjadi semalam!

Jika ingat bagaimana tingkah Al di butik itu semalam, rasanya aku ingin membawakan petasan korek api dan kuselipkan di antara rambut perempuan itu. Sepuluh batang petasan rasanya cukup untuk membalas perbuatannya. Tapi itu sangat tidak elegan. Aku memang tidak tahu seperti apa keluargaku. Hanya saja, entah mengapa, aku selalu ingin menunjukkan kalau aku bukan terlahir dari rahim wanita sembarangan. Aku sadar, aku punya harga diri. Dan nampaknya, hanya itu hartaku yang paling berharga.

Tiba-tiba Maya menghentikan gerakan jemarinya. Ia menutup buku hariannya dan kembali menaruhnya di laci meja. Ia teringat isi pesan singkat dari Al semalam. Katanya ia akan diajak menginap di suatu tempat. Al akan menjemput jam delapan. Maya menengok jam di dinding. Jam delapan hanya satu jam lagi. Segera saja ia membuka lemari lalu menata beberapa potong pakaian ke dalam sebuah tas besar.

Benar saja. Saat matahari mulai meninggi dan semakin hangat, Al datang menjemputnya. Lebih cepat lima belas menit sebenarnya, tapi tidak masalah buat Maya. Tas besar itu sudah berisi segala yang ia perlukan jika sedang tidak di rumah, termasuk peralatan kecantikan dan perlengkapan untuk mandi.

Sementara itu, Dahlan sudah sedari tadi berada di pemakaman. Sekarang adalah hari Minggu. Dan di akhir pekan, peziarah akan lebih banyak daripada hari biasa.

“Lebih cepat lima belas menit, Al.”

Al tersenyum. “Bukankah itu lebih baik daripada terlambat?!”

Maya membalas senyum Al disertai dengan anggukan.

“Lagipula,” sambung Al, “aku tidak ingin kita terjebak macet.” Al diam. Ia baru benar-benar memperhatikan Maya sekarang. “Kau terlihat sangat cantik dengan pakaian itu, Maya.”

Oke. Tidakkah dia sadar kalau baju ini adalah baju yang kupilih di butik tadi malam? Ternyata Al memang hanya memperhatikan perempuan itu.

Maya tersenyum menanggapi pujian dari Al. Ya, hanya tersenyum. Sebab ia yakin, jika ia mau, ia bisa mengulang lagi pertengkaran semalam. Dan itu akan menjadi hal yang paling ia sesali seumur hidupnya. Jadi ia hanya memilih tersenyum.

“Memangnya kau mau ajak aku kemana, Al?”

Pertanyaan Maya menyadarkan Al dari keterpesonaan yang sedang ia rasakan. “Ehm,” sedikit tergagap, “kita akan… ke suatu tempat. Nanti kau akan tahu,” sambungnya. “Eh, ayahmu mana? Kau sudah pamit?”

“Ayah sudah ke makam sejak tadi.”

“Lho…. Ada apa? Apa ada pesanan lubang?”

Tawa Maya hampir saja meledak. Tapi ia buru-buru menahannya. “Tidak, Al. Hari ini tidak ada pesanan lubang. Sekarang, kan, hari minggu. Dan biasanya akan ada lebih banyak peziarah dibanding hari-hari lain. Terkadang ada yang memakai jasa ayah untuk membersihkan petak-petak pusara itu.”

“Ah, ya. Aku lupa.”

Tanpa menunggu lama, keduanya segera menaiki mobil Al. Lalu lintas hari Minggu sangat tidak bisa diprediksi. Dan Al tidak ingin mereka benar-benar terjebak kemacetan.

“Boleh aku bertanya lagi, akan kemana kita?” tanya Maya di tengah perjalanan.

“Tidak boleh. Ini kejutan. Sebentar lagi kita sampai,” jawab Al dengan memasang raut jahil pada wajahnya.

“Kau tahu aku tidak suka kejutan, Al. Itu membuatku ingin muntah saja ketika aku tahu yang aku hadapi bukan hal yang aku inginkan.”

Al tertawa mendengar ucapan Maya. “Tenang saja, Sayang. Aku tidak akan sekejam itu.”

“Aku tahu,” sahut Maya tanpa mengubah nadanya. Ia masih ragu. “Kau tidak akan sekejam itu padaku. In case something happen to me, you better know what to do.”

I will. I really am,” ujar Al.

Keduanya kembali terdiam. Al sedang fokus menyetir, sementara Maya kembali tenggelam dalam pikirannya.

Aku yakin perbedaan adalah hal yang indah. Bukankah jika semua sama, dunia tidak akan menemukan harmonisasinya?! Aku dan Al sangat berbeda. Maksudku, status sosial kami berbeda. Itu masih menjadi ketakutanku. Mungkin Al berpikir aku benar-benar tidak tahu tujuan perjalanan ini. Tapi aku masih ingat Al menyebut daerah Lembang sebagai tempat tinggalnya dulu. Dan ini adalah jalan menuju Lembang, kan?!

“Apa yang sedang kau pikirkan, Maya?”

“Tidak ada,” jawab Maya sambil memalingkan pandangan menembus kaca mobil di sampingnya.

“Benarkah?! Kulihat kau melamun. Pasti ada yang sedang kau pikirkan.”

Maya kembali melihat Al. Ia tersenyum. “Aku hanya sedang memikirkan – dan sedikit mencemaskan – apa yang kebanyakan para gadis pikirkan. Kurasa itu wajar, Al.”

Vios hitam Al melenggang perlahan memasuki sebuah pekarangan luas. Di tepi pekarangan itu ditumbuhi pohon cemara yang berderet rapi. Ada juga beberapa tanaman bunga tumbuh di sisi lain pekarangan. Sedan milik Al lalu berhenti tepat di depan sebuah teras dari rumah bergaya kolonial Belanda. Di teras itu ada empat pilar besar dan kokoh. Ada satu set kursi kayu jati dan sebuah jambangan besar yang diletakkan di sudut teras. Jambangan itu berisi sebuket bunga sedap malam yang nampaknya masih segar.

“Rumah siapa ini, Al?” tanya Maya sambil melepas sabuk pengaman.

Al tersenyum. “Rumahku,” jawabnya ringan.

“Hah?!” pekik tertahan Maya tak terelakkan. Itu sedikit membuat Al ragu, apakah keputusannya mengajak Maya ke rumah sudah benar.

“Iya. Memangnya kenapa?! Aku ingin memperkenalkanmu pada ibuku.”

“Tapi, Al….”

“Ayolah,” potong Al. Ia tersenyum, seolah sedang membujuk Maya dengan senyuman itu. “Kalian pasti akan cepat akrab.”

Dengan keyakinan tipis dan mood yang tiba-tiba berantakan, Maya keluar dari mobil dengan membawa tasnya. Al menunggunya di anak tangga menuju teras. Langkah Maya masih penuh keraguan. Tapi Al tersenyum lagi. Dan senyum itu yang membuat keyakinan Maya bertambah. Meskipun hanya sedikit. Ini sudah lebih dari cukup, pikir Maya.

Memasuki ruang tamu seperti memasuki sebuah galeri seni. Maya benar-benar dibuat kagum oleh apa yang ia temukan pagi ini. Dari luar, memang rumah ini terlihat biasa saja. Mayapun tak terlalu terkesan, kecuali pada jambangan besar di teras yang berisi buket bunga sedap malam. Pasalnya, ia pernah beberapa kali mengunjungi seorang kerabat jauh ayahnya yang tinggal di Cirebon. Kerabat ayahnya bekerja di sebuah pabrik gula dan Maya sempat diajak berkelilling kompleks perumahan yang dihuni oleh petinggi-petinggi di pabrik itu. Rumah-rumah di sana memang besar, tapi di dalamnya miskin interior. Begitulah penjelasan Pak Bakri, kerabat ayahnya.

Dan jika Maya menyebut ruang tamu ini sebagai galeri seni, itu tidak salah. Ada dua set kursi tamu, diletakkan di dua sisi berbeda. Satu set di sisi kanan adalah kursi tamu seperti kebanyakan, terbuat dari spon dan dilapisi kain kuning gading bercorak bunga. Sedangkan satu set lagi adalah kursi tamu yang terbuat dari kayu jati. Sekilas mirip kursi-kursi di teras, tapi yang ini ukirannya lebih rumit dan warnanya lebih alami. Dan di dinding ruang ini, tergantung tiga lukisan bertema alam. Ukurannya juga luar biasa menurut Maya.

Maya tidak sempat melihat dengan teliti benda-benda apa saja yang terdapat di ruang tamu ini. Tapi ia tetap berpendapat, ini memang tiruan galeri seni. Sekarang pandangannya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya. Wanita itu memakai celana panjang berbahan katun warna coklat tua dan blus lengan pendek dengan warna yang lebih muda. Rambut wanita itu digulung dan dipasangi jepit jala warna hitam. Riasannya biasa saja. Hanya satu yang menonjol di wajahnya. Bibir tipis yang saat ini masih terkatup rapat dilapisi lipstick warna merah menyala. Dan keyakinan yang dibangun Maya ketika melihat senyum Al di teras tadi, sekarang mendadak rontok.

“Siapa dia, Al?”

Oh, tidak. Suara itu lebih mirip suara sipir wanita kejam dibanding suara seseorang yang keibuan. Telapak tangan Maya mulai berkeringat.

Al maju mendekati ibunya. Satu tangannya masih menggenggam tangan Maya. Sejenak Al merasakan remasan pada jemarinya. Ia tahu, Maya sangat ketakutan.

“Kenalkan, Bu. Gadis ini adalah kekasihku. Namanya Maya.”

“Maya?!” Ibunda Al tidak menyembunyikan wajah terkejutnya ketika mendengar nama Maya.

“Iya. Tapi jelas bukan Maya Larasati, Bu.” Mendadak raut wajah Al menjadi sedikit sedih.

Maya sendiri beranjak mendekati Ibunda Al. Ia meraih tangan kanan wanita itu dan mencium punggung tangannya. “ Iya, Bu. Saya Maya,” ujarnya, berusaha sopan. “Kalina Mayasari.”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.