Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Tentang Luna



Luna membuka matanya. Kelopaknya bengkak. Entah sudah berapa lama ia tertidur. Ia hanya ingat, wajahnya masih penuh air mata ketika kantuk itu menyerang. Luna bangkit dari ranjang. Ia mendapati banyak sobekan kertas di lantai kamarnya. Tidak! Itu bukan sekadar kertas! Itu foto kekasihnya. Dengan tergesa ia mengumpulkan serpihan-serpihan kecil itu dan membawanya ke meja. Ia susun lagi potongan demi potongan, hingga terlihat lagi sebentuk paras tampan yang ia cintai. Luna kembali tersenyum.

Alat pemutar compact disc di mejanya ternyata masih menyala. Samar terdengar suara penyanyi pria. Luna menekan beberapa tombol hingga suara yang dihasilkan alat itu lebih keras dari sebelumnya.

Dan terjadi lagi…
Kisah lama yang terulang kembali…
Kau terluka lagi…
Dari cinta rumit yang kau jalani…

Luna memandang lagi foto kekasihnya. Ada air mata lagi yang keluar dari liangnya. Mulanya hanya isakan samar. Lama-lama isakan itu bercampur dengan teriakan-teriakan histeris. Persis seperti yang ia lakukan sebelum ia tertidur.

“Harusnya aku tidak pernah mengenalmu, Biyan!” teriak Luna sambil menunjuk-nunjuk foto kekasihnya. “Kau hanya bisa membuat luka. Kau tidak bisa membuat aku tersenyum. Begitu bodohnya aku, sampai aku harus merasa sakit seperti ini. Dan tidak hanya sekali, Biyan! Tapi dua kali! Dua kali kau melakukannya. Apa aku tidak cukup baik untukmu? Aku memaafkanmu pada kesalahanmu yang lalu. Tapi sekarang?! Haruskah aku memaafkanmu lagi?!”

Luna membuyarkan lagi susunan serpihan foto kekasihnya. Ia biarkan serpihan-serpihan itu kembali berantakan di lantai.

Aku ingin kau merasa…
Kamu mengerti… aku mengerti kamu…
Aku ingin kau sadari…
Cintamu bukanlah dia…

Luna duduk kembali di balik mejanya. Ia membuka salah satu laci di sisi kanan meja. Ia mengambil sebuah foto dengan bingkai plastik berwarna merah muda. Ia menegakkan foto itu dan berlama-lama memandanginya. Terkadang ia membelai foto itu. Air mata Luna menetes lagi.

“Mungkin selama ini kau benar, Ariel. Sayangnya, aku terlalu egois hanya untuk mendengar ucapanmu. Jika saja, aku bisa memutar jarum jam kembali ke belakang, aku ingin sekali membenarkan ucapanmu. Tapi itu tidak mungkin, kan?! Dan tolong…. Jangan tertawakan kekonyolanku. Aku memilih Biyan karena aku punya alasan. Mungkin alasanku memang sulit kau terima. Tapi cobalah melihat dari sisiku. Kau akan mengerti, Ariel.”

Luna membelai lagi foto berbingkai itu. Ia tersenyum.

Dengarlah aku…
Suara hati ini memanggil namamu…
Karena separuh aku… dirimu…

“Terkadang aku memang mendengar suaramu, Ariel. Walau itu hanya dalam mimpiku. Tapi itu melegakan. Seolah aku telah terbebas dari gersangnya gurun tandus. Dan suaramu adalah serupa cairan yang lalu membasahi kerongkonganku. Aku menikmati setiap tetesnya.”

Luna bangkit dari duduknya sambil membawa foto berbingkai di tangannya. Sekarang ia mendekap foto itu. Tubuhnya berayun, mengikutin alunan nada dari alat pemutar compact disc. Mata Luna terpejam. Ia benar-benar menikmati bebunyian itu di telinganya.

Ku ada di sini…
Pahamilah kau tak pernah sendiri…
Karena aku selalu…
Di dekatmu saat engkau terjatuh…

“Aku ingat, saat pertama aku tahu bahwa Biyan bermain api denganku, kau datang padaku, Ariel. Kau menghapus air mataku, kau kuatkan hatiku, kau ajak aku tersenyum lagi. Dan kau memastikan bahwa aku menyelesaikan semua masalahku dengan Biyan. Ya, Biyan memang mengaku bersalah. Ia tergoda bujukan gadis itu dan Biyan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi rupanya Biyan tidak bersungguh-sungguh, Ariel. Aku menjadi sakit lagi karena dia. Tidakkah kau melihat lukaku sekarang kembali menganga, Ariel?! Dan lubangnya lebih besar dari sebelumnya!”

Luna masih mendekap foto berbingkai itu. Tapi posisinya tak lagi berdiri. Ia terduduk di lantai, kakinya bersila. Lalu ia lepaskan dekapannya terhadap foto berbingkai itu. Lama sekali ia memandangi lagi foto itu. Isaknya kembali terdengar.

Aku ingin kau merasa…
Kamu mengerti… aku mengerti kamu…
Aku ingin kau pahami…
Cintamu bukanlah dia…

“Ya. Sekarang aku benar-benar paham ucapanmu sebelum kau pergi, Ariel. Biyan memang bukan orang yang tepat untukku. Tapi siapakah yang tepat untukku, Ariel? Sejak kepergianmu, aku tidak bisa lagi menemukan yang sepertimu. Jika kau kenal seseorang yang sepertimu, tolong beritahu aku, Ariel. Karena aku hanya bisa dengan seseorang yang sepertimu. Bukan dengan yang lain.”

Sejenak Luna melepas pandangannya terhadap foto berbingkai itu. Ia bangkit dan berjalan ke arah balkon. Ia tidak menyangka, hari telah beranjak senja. Foto berbingkai itu masih di tangannya sementara ia manjakan pandangan sejenak ke arah warana jingga yang menyeruak di langit barat.

Dengarlah aku…
Suara hati ini memanggil namamu…
Karena separuh aku… dirimu…

“Aku mendengar suaramu lagi, Ariel. Sepertinya suaramu muncul dari horizon barat. Berbaur dengan warna jingga yang indah. Aku suka itu. Oh, Ariel. Aku masih tak mengerti, mengapa kau pergi begitu saja. Kau pergi dengan kalimat terakhirmu yang masih juga menjadi tanda tanya bagiku. Kau bilang bahwa separuh dirimu adalah aku. Benarkah?! Aku masih belum memahaminya.”

Kembali Luna memandangi foto berbingkai di tangannya.

“Seandainya aku bisa melihatmu lagi, Ariel. Aku ingin berteriak lantang di hadapanmu, bahwa aku menyesal. Aku menyesal telah membuatmu pergi. Walaupun belum tentu itu karena aku. Ah, aku jadi malu, Ariel. Aku malu karena keegoisanku ternyata telah membunuh hatimu padaku.”

Dengarlah aku…
Suara hati ini memanggil namamu…
Karena separuh aku…
Menyentuh laramu…
Semua lukamu telah menjadi lirikku…
Karena separuh aku… dirimu…

Nun jauh dari tempat Luna, seorang pemuda sedang berdiri di tepi danau. Ia memandang ke arah terbitnya matahari. Kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket kulitnya. Di saku sebelah kanan jaket itu, ada selembar foto yang sedikit lusuh karena dibiarkan tak berbingkai. Namun Ariel menjaga foto tanpa bingkai itu dengan segenap hatinya.

“Aku tahu kau mendengarku, Luna. Di manapun kau berada, aku yakin kau mendengarku. Mengertilah, Luna. Bahwa aku punya alasan meninggalkanmu di sana. Aku biarkan kau menjelajahi ragam rasa untuk hatimu. Karena dengan begitu – ketika kau merasa terluka, yang juga aku rasakan di sini – kau akan memahami bagaimana hebatnya cintaku padamu. Dan dari setiap lukamu yang tertoreh di hatiku, terlantun kata-kata indah bak kidung surgawi. Percayalah, Lunaku.”

--- @@@ ---

Foto sunset.

Kisah Al dan Maya - Chapter Nine


13423739781269166312



Baru lima menit. Para gadis akan membutuhkan waktu lebih lama dari itu untuk memilih pakaian. Apalagi untuk acara kencan. Mungkin akan sedikit lebih lama. Al menenangkan dirinya. Tak dimungkiri, ia gelisah, sekaligus sedang menduga-duga, bagaimana rupa Maya setelah berdandan.

“Assalammualaikum.”

Suara berat dan tenang muncul dari pintu rumah. Pak Dahlan datang. Baju taqwa, sarung, dan peci yang dikenakan pria tua itu membuat Al tidak perlu bertanya lagi dari mana Pak Dahlan tadi.

“Wa’alaikumsalam,” sahut Al. Ia bangkit lalu menyalami ayah Maya.

“Sudah dari tadi, Nak Al?” tanya Pak Dahlan.

“Iya, Pak.”

“Maya mana?”

“Sedang berganti pakaian,” jawab Al. “Sekalian saya juga minta ijin, Pak. Malam ini saya ingin mengajak Maya keluar.”

Pak Dahlan tidak menjawab. Ia melepas pecinya dan menaruh di atas meja tamu. Lalu ia tempatkan diri di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan Al. Kursi yang tadi dipakai Maya. Antara Al dan Pak Dahlan hanya ada sebuah meja tamu, yang salah satu kakinya diganjal dengan sekeping pecahan genteng.

Al sendiri masih bingung, sekaligus cemas. Ia takut Pak Dahlan tidak mengijinkan dirinya mengajak Maya keluar malam ini.

“Mau kemana kalian berdua?” Akhirnya pria tua yang kepalanya setengah ditumbuhi uban mulai bicara.

“Ehm…. Saya ingin mengajak Maya makan malam di luar, Pak.”

“Memangnya di sini tidak bisa makan malam?!”

Mati kutu. Al bingung hendak menjawab apa. Ia merasa seperti makhluk bodoh di hadapan Pak Dahlan. Pertanyaan tadi bukan seperti kalimat yang mempertahankan harga diri – yang biasanya dilakukan kaum papa jika merasa tersinggung – tapi lebih seperti orangtua yang menangkap basah anaknya sedang mencuri mangga di halaman rumah tetangga, padahal di halaman rumahnya sendiri juga ada pohon mangga yang ranum buahnya.

Al membenahi sikap duduknya. Itu kamuflase. Sebenarnya ia sedang menyusun sebuah alasan tepat atas pertanyaan Pak Dahlan. Tak sadar, pori-pori pelipisnya mulai mengeluarkan cairan.

“Sebenarnya, makan malam hanya sebagian dari tujuan saya mengajak Maya keluar malam ini. Selebihnya, saya hanya ingin mengajak Maya menikmati suasana malam. Apalagi sekarang malam minggu. Saya harap bapak mengerti.”

Pak Dahlan tertawa kecil. Tapi lama-lama menjadi sebuah tawa yang lantang dan renyah. Seolah pria tua itu tengah menyaksikan tayangan komedi. Dan itu jelas membuat Al heran setengah mati. Ia bertanya-tanya, apa gerangan maksud orang tua ini. Lalu Pak Dahlanpun berhenti tertawa. Pria tua itu melihat Al. Bukan dengan tatapan tajam atau menghakimi. Tapi dengan tatapan seorang pria tua kepada anak lelakinya.

“Bapak mengerti, Nak Al. Bukankah bapak juga dulu pernah muda?!”

Sebuah kalimat retorika yang tidak perlu penegasan lagi. Jadi Al hanya tersenyum malu. Mungkin ia sudah menyadari kebodohannya. Sementara itu, Pak Dahlan melanjutkan tawanya. Al makin merasa dia adalah makhluk paling bodoh di dunia ini.

Tawa Pak Dahlan terhenti ketika Maya membuka pintu kamarnya. Engsel pintu itu berdecit, seakan ingin menyadarkan dua pria yang tengah duduk di kursi tamu, bahwa akan ada makhluk indah berhati rapuh yang akan keluar dari persembunyiannya. Dan memang, Maya berhasil membuat kedua pria itu – Al dan Pak Dahlan – termangu seperti tengah menyaksikan seorang bidadari yang baru saja turun dari khayangan.

“A… ada yang sa… salah, ya, dengan bajuku?” Maya tergagap melontarkan pertanyaan.

Dan kedua pria itupun terkesiap. Lalu berlomba memberikan pandangannya. Maya bingung mengikuti kalimat-kalimat Al dan ayahnya, karena memang keduanya bicara secara bersamaan. Namun di tengah kebingungannya, Maya tersenyum dalam hati. Ternyata penampilannya sanggup membuat paling tidak dua orang pria terkesima.

Nyatanya, tidak ada yang spesial dari penampilan Maya. Ia hanya mengenakan celana jeans warna hitam, t-shirt dengan aksen garis di beberapa bagian, dan sepotong cardigan biru tua dengan dua kantong di sisi kiri dan kanan. Tiga potong pakaian yang ia kenakan bukanlah benda mahal yang ia beli dari mall. Bahkan, toko tempat ia membeli tiga potong pakaian itu adalah toko pakaian bekas. Hanya saja, Maya rela berjam-jam menjelajah di dalam toko itu demi mendapatkan sesuatu yang ia anggap mahal. Dan ia berhasil.

Maya mendekati ayahnya. Ia langsung meraih tangan kanan ayahnya dan mencium punggung tangan pria tua itu.

“Aku pergi dulu, Ayah.”

“Ah, ya. Jangan pulang terlalu malam,” sahut Pak Dahlan, lalu beralih bicara kepada Al, “Dan, Nak Al…. Bawa kembali putriku dalam keadaan yang baik, ya. Kau mengerti maksud bapak, kan?!”

“Iya, Pak. Saya mengerti.”

Tak lama, kedua muda-mudi itu sudah meluncur dengan Vios hitam milik Al, menembus belantara kemacetan akhir minggu menuju ke pusat kota Bandung.

“Kita akan makan di sana,” kata Al setelah selesai memarkir mobilnya. Ia menunjuk sebuah kafe yang terletak di kompleks pertokoan mewah. “Masakan di sana enak. Kau pasti akan suka. Tapi sebelumnya, aku ingin mengajakmu ke situ.” Al menunjuk sebuah butik yang bersebelahan dengan kafe.

Maya sedikit terkejut. Lalu terlintas di pikirannya bahwa sesuatu yang ia kenakan untuk membalut tubuhnya, tidak dianggap pantas oleh Al.

“Memangnya ada yang salah dengan bajuku?”

“Tidak.” Al tersenyum. “Aku hanya ingin kau punya beberapa potong lagi yang seperti itu.” lalu Al bersiap keluar dari mobil.

“Tunggu dulu.” Maya menahan tangan Al. Tapi segera ia lepaskan. “Menurutmu, apa aku harus memakai cardigan ini? Aku pikir warnanya tidak cocok dengan t-shirt yang aku pakai.”

Ah, para gadis selalu meributkan hal-hal yang tidak seharusnya. Bukankah yang terpenting adalah rasa nyaman. Tapi Al tidak berani mengucapkannya secara lantang di hadapan Maya.

“Jika menurutmu itu tidak cocok, lepaskan saja. Tapi kalau kau merasa nyaman dengan itu, ya, pakai saja.”

Maya diam. Pandangannya lurus ke depan. Bibirnya nampak seolah mengulum sesuatu. Al tahu, gadis itu sedang berpikir.

“Ah, aku lepas saja.” Lalu Maya meletakkan begitu saja cardigan itu di jok belakang dan segera keluar dari mobil.

Begitu memasuki ruangan butik, Maya benar-benar takjub. Ia belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Jauh sekali. Berbanding terbalik dengan yang ia lihat di toko pakaian bekas yang pernah ia datangi. Jika di toko pakaian bekas, dalam satu gantungan sepanjang satu meter terdapat puluhan potong baju, maka di butik ini hanya beberapa potong saja. Hawa sejuk jelas menambah elegan segala yang Maya lihat di butik ini. Walaupun rasa takjubnya melebihi dari yang pernah ia rasakan, tapi Maya menahannya agar tidak terlihat memalukan di mata orang lain.

“Silakan kau pilih apa saja yang kau suka.”

Suara Al membuyarkan ketakjuban Maya. Gadis itu mengangguk. Al meninggalkan Maya, lalu beralih menuju sisi lain ruangan tempat berbagai macam pakaian pria terpajang rapi. Tak lama, datang seorang pramuniaga wanita.

“Selamat malam. Selamat datang di butik ini. Jika ada yang ingin ditanyakan, bisa dengan saya Dita Saputri,” ujar sang pramuniaga yang berseragam kemeja batik.

Al yang sebelumnya tengah melihat-lihat pakaian pria salah satu bagian butik, seketika menegakkan kepalanya. Nama itu baginya sangat tidak asing. Ia lalu menghampiri sang pramuniaga yang sedang membantu Maya memilih pakaian.

“Kau Dita?!” tanya Al.

Yang ditanya berbalik melihat Al dengan heran. Gadis itu hanya mengangguk ragu.

“Dulu sekolah di SMA 5 Bandung?” tanya Al lagi.

Kali ini anggukan gadis bernama Dita itu sedikit lebih yakin. Al malah tersenyum.

“Aku Al. Kau masih ingat, kan?! Dulu kita pernah sekelas di tahun kedua.”

Dita diam sebentar. Keningnya sedikit berkerut. Ia sedang memeras memorinya, mencoba mencari-cari kenangan yang Al usik dari otaknya.

“Kau Alhatiry? Yang sering mengejek rambut pendekku?!”

Al mengangguk. Ia menyalami Dita, lalu menepuk bahu gadis itu dengan akrabnya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah reuni mini antara Al dan Dita. Dua orang ini seolah lupa, di dekat mereka ada Maya yang kini merasa tersisihkan. Ada gurat kecemburuan di wajah Maya. Namun Maya tak ingin rasa itu menjadi racun dalam dirinya. Ia memilih menghindar dari dua orang itu dan kembali menyibukkan diri berburu pakaian mahal di butik ini. Toh ia tidak perlu membayar untuk ini semua. Sekali-kali ia ingin bersikap tidak peduli dengan sekitarnya.

Maya pikir ia sudah berusaha mengulur waktu selama mungkin. Berkali-kali ia keluar masuk kamar pas untuk mencoba pakaian yang ia pilih. Tapi ia merasa masih kurang mengulur waktu. Al masih saja sibuk dengan gadis itu. Aku mulai bosan dengan ini, pekik Maya dalam hati. Jadi ia kumpulkan beberapa potong pakaian yang tadi ia pilih – semuanya dengan bandrol harga lebih dari dua ratus ribu – lalu ia sodorkan begitu saja kepada Al. Dan yang lebih menjengkelkan buat Maya, Al terus saja sibuk dengan gadisnya.

Ah, apa gunanya aku menunggu di sini? Pemandangan di luar nampaknya lebih mengasyikkan untuk dilihat. Maya bicara pada dirinya sendiri.

Maya keluar dari butik. Matahari sudah sedari tadi menghilang di balik horizon barat. Sekarang permadani biru tua menguasai langit Bandung. Hawa dinginpun tak mau ketinggalan menjajah raga siapapun, termasuk Maya. Ia masih berdiri di depan pintu butik. Sendirian. Al masih – entah apa yang pria itu lakukan – di dalam butik. Kedua tangan Maya saling mengait, bersilangan di depan dadanya, berharap dengan posisi seperti itu bisa sedikit membentenginya dari hawa dingin.

“Duduk di kursi saya saja, Mbak.”

Seorang juru parkir menawarkan sambil menunjuk kursi plastik di sampingnya. Maya tersenyum, lalu menggeleng pelan.

“Saya nggak lama kok, Pak. Terima kasih tawarannya,” balas Maya.

“Tapi, mbak,” ujar sang juru parkir lagi. “Kayaknya mbak musti nunggu agak lama.”

Pria paruh baya dengan rambut mulai memutih itu mengalihkan pandangan ke dalam ruangan butik, melalui kaca tembus pandang yang menghias bagian muka bangunan itu. Otomatis, Maya mengikuti pandangannya ke arah yang sama. Ia melihat Al, dan juga gadis pramuniaga itu, masih saja berbincang. Mereka tampak semakin akrab setelah beberapa saat. Dan rasanya sulit memisah keakraban itu, pikir Maya. Jadi, tanpa bicara lagi, ia menerima tawaran kursi plastik yang sudah tak cerah lagi warnanya.

Sepuluh menit berlalu, berubah menjadi dua puluh menit, dan dengan bergegas menginjak tiga puluh menit. Al masih di dalam butik, dan Maya masih duduk sambil menahan dingin di teras butik. Berkali-kali ia mengumpat dalam hati. Tentang apa saja. Yang paling banyak adalah tentang kebodohannya tidak membawa serta cardigan biru tua yang sekarang tergeletak di jok belakang.

Sementara itu, Al masih saja membahas masa SMA dengan Dita. Gadis tomboi itu – yang sekarang sudah berubah menjadi wanita feminin – memang gadis yang menyenangkan. Tak akan bosan jika berbincang dengannya, pikir Al. Lalu tiba-tiba Al terlonjak ketika tanpa sengaja pandangannya terarah pada jam dinding di salah satu sisi ruangan itu.

“Ya, ampun. Ini sudah jam delapan lebih.”

Dita tidak bereaksi apa-apa. Gadis itu sepertinya lupa, Al tidak datang sendirian. “Memangnya kenapa, Al? Ini, kan, masih sore. Apalagi sekarang malam minggu.”

“Justru karena sekarang ini malam minggu, aku tidak seharusnya melupakan seseorang.”

Mata Al mencari-cari sosok Maya di dalam ruangan butik, sambil membereskan pembayaran beberapa potong pakaian yang tadi dipilih Maya. Ia tidak menemukan Maya di ruangan itu. Lalu ia memicingkan matanya menembus kegelapan di luar sana. Pun ia tidak melihat siluet tubuh Maya di sana. Setelah pembayaran selesai, tanpa pamit lagi kepada Dita, Al bergegas menuju pintu keluar. Sampai di luar, Al masih tidak bisa menemukan Maya!

Al menjatuhkan bungkusan berisi pakaian. Tangan kanannya merogoh saku celana, mengambil ponselnya. Ia mencari nama Maya pada benda canggih itu, lalu menekan tombol hijau. Sambil matanya tak lepas menyapu sekitar, telinga kanan Al sigap menangkap suara Maya. Tapi suara yang ditunggu tidak kunjung hadir. Al resah.

Setidaknya lima menit terakhir ia sibuk dengan ponselnya, sementara matanya tak henti mencari sosok Maya. Ia ingin sekali bertanya pada juru parkir, tapi rupanya pria berseragam itu sudah pulang. Al berbalik. Kini punggungnya membelakangi jalan raya dan matanya menatap nanar butik yang tadi ia kunjungi. Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin ia mulai merasa bersalah.

“Kupikir kau memang tidak bisa menghilangkan karismamu terhadap semua gadis.”

Suara itu, ujar Al dalam hati. Lalu ia berbalik dan menemukan sosok Maya di hadapannya. Tangan kanan gadis itu memegang sebotol minuman dingin.

“Tapi paling tidak, aku sudah mengetahui itu sekarang. Hingga esok hari, jika aku terjebak dalam situasi seperti ini lagi, aku tidak akan kaget,” ujar suara itu lagi.

“Dari mana saja kau, Maya? Mengapa kau tidak menjawab teleponku?”

“Ponselku tertinggal di saku cardigan. Dan benda itu tergeletak di jok belakang,” jawab Maya. “Beruntung aku bukan gadis bodoh yang meninggalkan pula tasnya di dalam mobil. Sehingga aku bisa membeli sesuatu yang bisa mengusir kering di tenggorokanku.”

Kalimat Maya kini terdengar lebih ketus. Ia kesal. Dan berharap tidak menumpahkan kekesalannya dengan cara yang tidak elegan. Jujur, ia ingin sekali menampar Al saat ini juga. Ia ingin tamparan itu bisa menyadarkan betapa pria itu tidak boleh lagi bersikap sembarangan terhadap teman wanitanya.

“Aku benar-benar minta maaf, Maya. Bisakah kita bicara sambil jalan? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Tidak perlu. Lebih baik kau antar aku pulang.”

--- bersambung ---


next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.



Kisah Al dan Maya - Chapter Eight

13423739781269166312



Sore ini adalah Sabtu sore yang cerah, pikir Al. Dan juga sejuk!

Ah, tidak juga. Faktanya, terik matahari pukul tiga sore masih saja menguasai bumi Bandung. Jadi, walaupun Bandung berada pada dataran tinggi, kesejukan masih lebih terasa di sebuah ruangan berpendingin udara dibanding dengan di luar ruangan.

Tapi lain halnya dengan Al. Dia benar-benar merasa sejuk dimanapun ia berpijak. Sejuk itu, ada di sana, di dalam hati Al. Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Shinta, ia mulai menata hati dan perasaannya. Ia fokuskan hanya pada satu nama. Maya. Dan sore ini, pria penyuka warna abu-abu hendak mengunjungi Maya. Tidak ada janji sebelumnya. Ia hanya ingin melihat paras ayu Maya. Beberapa hari hanya berkomunikasi dengan ponsel, tanpa bertemu langsung, membuat rindu Al membuncah kepada gadis berambut lurus itu.

Dan nanti malam adalah malam minggu, malam yang tepat un tuk mengajak Maya pergi ke luar untuk jalan-jalan. Ia menyiapkan diri lagi begitu sampai di apartemen. Pakaian terbaik dikenakannya, parfum mahal disemprotkan ke tubuhnya.

Aku harus tampil sempurna.” Al berbicara sendiri di depan cermin sembari memerhatikan pantulan bayangannya. Dilihatnya jam di tangan, jarumnya menunjuk di antara angka empat dan lima. Ini artinya harus segera berangkat kalau tidak mau kemalaman sampai rumah Maya. Sedikit saja Al menunda keberangkatannya, maka ia akan terjebak kemacetan akhir minggu yang parah. Dan tak banyak lagi berpikir Al segera mengambil kunci mobilnya yang bergeletak sembarang di samping laptop di atas meja kerjanya.

Ah, benar saja. Jalanan sudah mulai ramai. Mungkin sebentar lagi akan menjadi sangat ramai, ujar Al dalam hati. Baru setengah perjalanan, ponsel Al berbunyi. Tanpa meminggirkan mobilnya Al mengangkat telepon yang masuk. Nama seseorang muncul di layar ponselnya.

“Halo,ujar suara di seberang sana. Suara wanita. Dan itu suara yang pernah menggetarkan hati Al beberapa tahun lalu.

Halo, Shinta. Ada apa?” balas Al dengan santai. Matanya tak lepas dari jalanan yang ia lalui.

“Aku ingin mengobrol denganmu. Sebentar saja. Apa kau punya waktu , Al?”

“Maaf, Shinta. Aku tidak bisa. I’m in the middle of something. Kind of hurry. Lain kali aku akan meneleponmu,” jawab Al sekenanya. Ia enggan mengatakan jika ia akan bertemu dengan Maya. Tapi iapun tak mau berbohong.

Baiklah. Kutunggu teleponmu besok,” suara Shinta bercampur sedikit kekecewaan.

Maafkan aku, Shinta. Aku memang sedang ada urusan lain sore ini.”

Aku mengerti. Maaf, aku sudah mengganggu urusanmu. Bye, Al.”

Lalu hening. Nampaknya Shinta menutup telepon sebelum Al sempat membalas. Ia hanya tersenyum sambil menaruh ponsel di saku kemejanya. Di hatinya kini hanya ada Maya. Tidak ada niatan untuk menyakiti gadis itu, apalagi mempermainkan hatinya.

Suasana hampir redup, tapi belumlah gelap sangat, ketika Al memarkir Vios hitamnya tak jauh dari rumah Maya. Ponselnya berbunyi lagi. Padahal Al sudah hendak keluar dari mobil. Ia melihat sebuah nama. Tidak, bukan nama. Lebih tepatnya hanya sebuah sebutan untuk seorang wanita yang telah melahirkannya dua puluh delapan tahun yang lalu.

“Ya, Mama?!”

“Kau dimana?” Pertanyaan tegas, singkat, dan langsung ke inti masalah.

“Di luar. Ada janji dengan seorang teman di sebuah kafe.” Tak tega sebenarnya Al memanipulasi jawaban. Tapi ia belum siap mendapat keterkejutan ibundanya terhadap nama Maya. “Ada apa, Ma?” Biasanya setelah ini, akan ada sebuah permintaan yang hampir tak bisa ia tolak.

“Mama ingin bicara. Besok kau harus datang ke rumah.”

Benar saja, kata Al dalam hati. Ia menarik napas panjang, lalu menjawab, “Iya, Ma. Jam sepuluh aku akan datang ke rumah.”

Tak ada suara lagi. Rupanya sambungan telepon telah terputus. Ia masukkan lagi ponselnya ke saku celana dan beranjak keluar mobil dengan segera.

Teras rumah lengang. Tapi Al mendengar sayup-sayup suara televisi. Ada orang di dalam, pikir Al. Ia mengetuk pintu rumah. Agak keras. Ia takut seseorang yang berada di dalam rumah tak mendengar gara-gara suara ketukan itu kalah dengan suara televisi. Sejenak, dua jenak, belum ada yang datang membukakan pintu. Ini hampir gelap, gumam Al dalam hati. Ia mengetuk lagi. Sama kerasnya dengan yang pertama. Lalu ia mendengar langkah kaki mendekat ke arah pintu rumah. Dan pintupun terbuka. Seketika, Al mendapati wajah terkejut Maya.

“Kau?!” Suara Maya tertahan.

Al hanya tersenyum.

“Untuk apa kau kemari?” tanya Maya.

Kedua alis Al hampir menyatu karena kerut dahinya. Benarkah pertanyaan yang ia dengar? Karena baginya, pertanyaan itu, dan juga nadanya, terdengar seperti kedatangannya sangat tidak diharapkan di sini.

“Aku… ingin bertemu denganmu,” jawab Al.

Dan sedetik kemudian, Al melihat sebuah penyesalan tergambar di wajah Maya. Mungkin gadis itu menyesal telah melontarkan pertanyaan yang salah kepada pria di hadapannya. Selanjutnya, sorot mata penuh permintaan maaf terlihat oleh Al.

“Masuklah,” ujar Maya.

Kini keduanya telah duduk di ruang tamu sederhana milik keluarga Pak Dahlan. Di kursi tamu usang yang posisinya berhadapan dengan televisi berwarna keluaran beberapa tahun yang lalu. Gambarnya agak sedikit goyang. Sekilas Al melihat tayangan yang ada di benda kotak itu, masih menampilkan iklan berbagai macam barang. Ada rasa penasaran dalam otak Al, tontonan macam apa, atau film dengan genre apa yang Maya sukai. Suatu hari ia ingin mengajak gadis itu ke bioskop.

“Mau minum apa?”

Pertanyaan Maya membuyarkan lamunan Al.

“Ehm…. Tidak usah.”

Hening lagi. Maya hanya menunduk sambil memainkan ujung blousenya. Ia tak berani menatap langsung wajah Al. Ia takut, tak bisa mengendalikan rasa rindunya. Tadi belum terasa, tapi sekarang malah menjadi-jadi, rutuk Maya dalam hati.

“Aku ingin mengajakmu keluar,” kata Al.

“Kemana?”

Terlalu cepat Maya, seharusnya kau tahan dulu pertanyaan itu. Maya malah memarahi diri sendiri karena kekonyolannya di hadapan Al. Sementara Al hanya tersenyum saja melihat Maya melakukan hal itu.

“Kita lihat saja nanti,” jawab Al. “Yang jelas, aku ingin melihatmu tersenyum sepanjang malam ini.”

Oh, tidak. Itu kalimat paling romantis yang kudengar dari mulut Al, ungkap Maya dalam hati. Dan karena itulah, Maya bingung hendak bereaksi seperti apa. Ia senang, terharu, sekaligus ingin berteriak lantang. Ia ingin semua orang tahu, ia sedang jatuh cinta kepada Al untuk kesekian kalinya. Tak pernah, atau paling tidak, belum ada komitmen apa-apa di antara mereka. Tapi Maya ingin melantangkan juga kepada semua orang, bahwa Al adalah kekasihnya. Bukan kekasih orang lain atau siapapun juga.

“Kau sudah mandi, kan, Maya?!”

Itu bukan pertanyaan. Hanya sekadar membuktikan bahwa tebakannya benar. Maya mengangguk. Samar, tapi tetap terlihat oleh Al.

“Gantilah pakaianmu,” pinta Al. “Aku menunggu.”

Maya tak segera bangkit dari duduknya. Ia seolah masih mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya. Kencan pertamanya dengan Al adalah sebuah ketidaksengajaan. Ketika Al tiba-tiba mengajaknya ke sebuah taman kota. Lalu mereka duduk di sebuah bangku di tepian danau kecil di taman itu. Di sana, meluncurlah kisah tentang Maya, tunangan Al yang telah meninggal. Juga tentang mengapa Al ingin sekali menjadikan dirinya kekasih. Bagi Maya, saat itu hampir tidak bisa disebut kencan. Ada air mata setelahnya. Dan itu bukan sesuatu yang ia inginkan. Sekarang, mungkin inilah kencan pertamaku, gumam Maya.

“Maya….”

“Ehm…. Iya….” Maya gugup. “ Aku ke dalam dulu sebentar.”

Di dalam kamar, Maya langsung menghambur ke lemari pakaian di sudut ruangan. Ia membuka  kedua daun pintu lemari kayu itu. Ia menyapukan pandangan ke seluruh pakaian yang terlipat rapi di sana. Lalu ia menggeleng. Ia baru sadar, di lemari itu, tidak ada baju yang layak untuk dipakai berkencan. Semuanya adalah pakaian bekas pemberian orang. Entah siapa yang memberinya, terkadang ayahnya tidak mengatakannya. Seketika ia menjadi lemas.

Lalu pandangannya beralih ke kabin sebelah, tempat beberapa potong pakaian tergantung berderet. Ia menghela napas lagi. Menurutnya, pakaian-pakaian itu juga tidak cocok untuk mengimbangi gaya berpakaian Al. Akhirnya mata Maya tertuju pada tiga potong pakaian yang belum lama ia beli dengan tabungannya sendiri. Ia membeli tiga benda itu di pasar. Tapi ia berusaha memilih model semirip mungkin dengan yang dipakai para pesohor-pesohor yang wajahnya sering muncul di televisi. Dan memang tiga benda itu diperuntukkan untuk situasi seperti yang ia hadapi saat ini.

--- bersambung ---


Sumber gambar angel on forest, klik image.



Kisah Al dan Maya - Chapter Seven


13423739781269166312



Mengucap janji itu mudah, pikir Al. Tapi janji soal apa? Sedangkan gadis yang duduk di sampingnya malah bersikap misterius. Shinta masih memegangi bungkusan itu di pangkuannya. Sorot matanya memperlihatkan dua hal sekaligus. Yakin, namun sedikit ragu. Shinta yakin bahwa tindakannya kali ini benar, tapi ia ragu Al mau menerima alasan yang ia berikan.

“Shinta,” ucap Al. “Lebih baik kau katakan terus terang. Jujur saja, aku tidak suka bermain-main jika menyangkut pribadi Maya. Tunanganku sudah meninggal dan sebaiknya kau tidak perlu mengusik ketenangannya di alam sana.”

“Al….” Shinta menghela napas. “Aku tidak mungkin melakukan ini semua jika tanpa alasan. Bagiku, apa yang aku lakukan adalah benar. Tapi akupun yakin, kau pasti menganggap ini semua hanya sebuah permainan.”

Shinta menunduk, membuka sedikit bungkusan itu untuk melihat isinya. Mungkin pula, gadis berambut panjang berombak itu hanya sedang memastikan isi bungkusan itu dalam keadaan sama seperti terakhir ia melihatnya. Lalu Shinta mendongak lagi, melihat wajah Al yang masih menghujamkan pandangan penuh selidik kepadanya. Tiba-tiba Shinta mencengkeram lebih keras bungkusan yang ia pegang, seolah tak mau benda itu berpindah tangan.

“Jika kau belum ikhlas mengembalikan benda milik Maya, aku pikir aku tidak perlu lagi menunjukkan jalan keluar dari ruangan ini padamu,” suara Al meninggi.

“Tidak!” Cengkeraman itupun melemah. “Aku ikhlas mengembalikan benda ini.”

Shinta memberikan bungkusan itu pada Al. Lalu dengan tergesa-gesa, Al membuka bungkusan itu dan mendapati gaun kuning muda milik Maya di tangannya. Gaun itu dipakai Maya saat pesta pertunangan setahun lalu.

“Bagaimana gaun ini bisa ada padamu?” Lebih mirip sebuah tuduhan daripada sebuah pertanyaan. Tapi Al tidak peduli. Ia hanya ingin mencecar gadis yang duduk di sampingnya itu dengan banyak sekali pertanyaan.

Shinta mengalihkan pandangan ke arah tembok ruang kerja Al. Bukan karena apa-apa, ia hanya ingin menghindar dari sorot mata Al yang menurutnya sangat membius. Tatapan mata itu masih sama seperti tiga tahun yang lalu, ujar Shinta dalam hatinya. Dan ia masih saja tidak bisa membentengi dirinya dari hal itu.

“Kau mungkin ingat, Al. Setahun yang lalu, tepat seminggu setelah pesta pertunangan kalian. Aku mengunjungi sahabatku.” Shinta berhenti sebentar, mengusap satu bulir yang keluar dari sudut mata kirinya. “Aku memang menyempatkan diri untuk menginap di apartemen Maya selama beberapa hari. Dan suatu malam, Maya menunjukkan gaun itu padaku. Lalu aku berpikir dalam hati, seharusnya aku bisa memakai gaun itu jika saja dulu aku tidak meninggalkanmu. Aku menyesal, itu memang benar. Tapi itu sudah tidak ada gunanya lagi, kan?! Kita tidak mungkin lagi mengulangi kejadian yang sama seperti tiga tahun yang lalu.”

“Shinta….” Suara Al terlalu pelan.

“Mungkin aku memang bodoh, Al. Dan egois. Aku akui itu. Akupun selalu menyangkal bahwa kejadian yang lalu di antara kita adalah kesalahanku. Jadi, aku ingin sekali memiliki gaun itu, bagaimanapun caranya.”

“Dan kau mencurinya?!”

“Tidak seperti itu tepatnya. Bisa dikatakan, aku hanya mencuri nota binatu dari tas Maya. Itu saja. Lalu ketika aku memutuskan untuk kembali ke Tasik, aku mampir untuk mengambil gaun itu. Orang-orang di binatu itu tidak pernah memperhatikan siapa saja wajah-wajah yang bertandang ke tempat mereka. Mereka hanya mencocokkan antara nota dan baju-baju itu.”

“Tapi untuk apa kau mencurinya, Shinta? Aku tidak mengerti. Aku pikir, aku yang bersalah sampai kau harus pergi. Tapi….” Kalimat Al menggantung. “Begini saja.” Lalu Al menyodorkan kembali bungkusan itu kepada Shinta. “Kau boleh ambil gaun itu. Aku ikhlas memberikannya padamu. Tapi kau sendiri harus berjanji satu hal padaku.”

Shinta diam saja. Tidak menanggapi perkataan Al.

“Kau tidak perlu lagi kembali lagi kemari, dengan alasan apapun,” ucap Al lagi.
Shinta menangis.

“Aku tidak mengerti. Tidak pernah mengerti, mengapa dulu aku memutuskan untuk pergi darimu, Al.”

“Ya. Dan aku lebih menyesalkan sikap kekanak-kanakanmu. Kau sudah dewasa, Shinta. Tidak bisakah kau bersikap sesuai usiamu?” Dahi Al berkerut lagi.

“Kupikir… aku bisa menemukan yang lebih baik darimu, Al.”

Al menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Wajahnya menghadap ke langit-langit ruangan. Matanya terpejam, tapi bukan tertidur. Ia hanya sedang berpikir. Ah, tidak. Lebih tepatnya mengingat masa lalu. Masa tiga tahun yang lalu, ketika ada nama Shinta di sudut ruang hati yang kini didiami sosok almarhum kekasihnya.

“Begini saja,” Al menegakkan lagi duduknya. “Tawaranku masih berlaku. Kau boleh membawa lagi gaun itu. Toh tidak ada gunanya jika kau berikan padaku lagi. Maya sudah tidak ada. Dan tidak mungkin pula aku menyimpan gaun itu, Shinta. Seseorang.... Ehm…. Seorang gadis, yang kini bersamaku, aku ingin sekali menjaga perasaannya.”

Shinta mengerutkan dahinya dan bertanya-tanya dalam hati : seorang gadis? siapa dia?

“Maksudmu?” Shinta bertanya untuk menutupi rasa penasarannya.

I met a girl,” jawab Al singkat.

And who is she?”

“Lebih baik kau tidak tahu sama sekali, Shinta. Daripada kau menjadi semakin penasaran dengan gadis ini,” ujar al serius.

Shinta mendengus pelan, lalu berkata, “Baiklah. Toh aku kemari bukan untuk menguliti kehidupan barumu. Aku kemari hanya ingin mengembalikan gaun milik Maya. Kuharap kau benar-benar mau menerimanya karena aku sudah berkorban untuk bisa sampai kemari dengan gaun itu,” tegas Shinta.

“Tidak, Shinta. Lebih baik kau ambil saja gaun itu.”

Al teringat kepada cincin tunangannya yang kini tersimpan rapi di laci lemari pakaian. Ia takut kejadian yang sama akan menimpa dirinya jika tetap menerima kembali gaun milik Maya.

“Aku tidak punya alasan lain untuk menyimpan gaun itu, Al. Memangnya apa yang salah jika gaun itu berada di lemari pakaianmu? Atau kau bisa saja memberikan gaun itu kepada orang lain. Pacar barumu, misalnya. Bisa saja, kan?!”

“Apa kau takut?!” sambung Shinta lagi. “Kau takut tidak bisa melupakan Maya sementara kau baru saja menjajal kehidupan barumu dengan gadis yang entah siapa namanya itu. Benar begitu, Al?!” Shinta tersenggal-senggal. Emosi yang baru saja ia luapkan membuat pelipisnya sedikit berkeringat. “Aku rasa, Maya tidak ingin kau melupakan dirinya. Mungkin lebih tepatnya, ia hanya ingin kau tidak terjebak lebih jauh lagi ke dalam masa lalumu.”

Al tercengang mendapati cecaran kata-kata pedas dari Shinta. Tidak seperti Shinta yang biasanya, pikir Al. Shinta yang dulu ia kenal adalah seorang gadis yang lembut, baik tutur kata dan tinglah lakunya. Sehingga ia tidak menyesal pernah mengenal dan menjalin hubungan dengan Shinta. Tapi hari ini ia melihat sisi lain dari Shinta. Sebuah sisi yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Apakah gadis ini benar-benar menginginkan dirinya? Al tidak berani mencari tahu jawaban dari pertanyaan itu melalui wajah Shinta. Mata gadis itu bisa membuat pertahanannya luluh lantak. Jadi Al hanya bisa memandang ke bawah, menekuni corak ubin yang ia injak.

“Aku tahu ini menyakitkan, Al. Tapi….” Shinta berhenti. Ia menarik nafas dalam-dalam. Seolah sedang bersiap-siap hendak mengatakan seuatu dengan berat.

Sementara Al masih diam dan menunduk. Lelaki dengan tanda lahir biru di punggung tangan kirinya ini masih menunggu Shinta melanjutkan kalimatnya. Tapi kata-kata itu tak kunjung ia dengar. Al mengangkat kepalanya. Ia melihat Shinta yang sedang menatapnya. Berkali-kali gadis itu menghapus bulir-bulir bening yang keluar dari sudut matanya.

“Tolong jangan menangis, Shinta. Kau tahu aku tidak tahan melihat seorang wanita menangis.”

“Izinkan aku mendampingimu, Al. Aku ingin membayar kesalahanku di masa lalu dengan mengabdi kepadamu.”

Al terkejut. Shinta berkata nyaris tanpa beban. Tak disangkanya Shinta akan berkata sejujurnya tentang perasaan yang dimilikinya terhadap Al.

“Apa kau serius, Shinta?”

“Aku serius Al. Aku pernah melakukan satu kali kepadamu. Walaupun hanya bertahan lima bulan. Tapi itu…. Itu bulan-bulan terindah dalam hidupku. Aku menyesal telah mengacaukan segalanya di masa lalu.”

Kini giliran Al yang bermain-main dengan helaan napas panjang dan dalam. Ia merasa otaknya membeku, tak dapat berpikir soal apapun. Ingin sekali ia bersikap tidak peduli kepada Shinta. Mungkin ia bisa memanggil Riska untuk membantunya mengeluarkan gadis ini dari ruang kerjanya. Atau bisa juga ia menyudahi percakapan ini dengan berpura-pura akan pergi meeting di luar kantor dengan partner bisnis. Intinya, ia tidak ingin melihat wajah Shinta lagi.

Tapi pada kenyataannya, Al tidak bisa melakukan itu semua. Ia bukan tipe lelaki pengecut seperti itu. Sebisa mungkin, ia menghadapi setiap masalah dengan sikap dewasa dan bijak. Dan ia tahu, Shinta sedang menunggu tanggapannya sekarang.

“Al….”

Al masih diam. Ia malah kembali menghenyakkan punggungnya ke sandaran sofa. Matanya lurus menatap tembok ruangan. Ia memikirkan janjinya kepada almarhumah Maya. Lalu ia sampai pada satu keputusan.

“Aku tidak bisa, Shinta.” Al hanya berharap ia tidak perlu menyesal dengan keputusan yang ia buat. “Aku sudah berjanji untuk menjaga perasaan gadis itu.” Al menegakkan duduknya lalu menatap Shinta. “Maafkan aku, Shinta.”

Shinta menangis. Kali ini tidak ada lembaran tisu yang menghapus air matanya. Ia membiarkan riasannya luntur terkena air mata. Ia tidak peduli. Toh Al sudah tidak menginginkan dirinya lagi.

“Jika saja kau datang lebih cepat, Shinta….”

“Kau menyesal, Al?”

“Mungkin. Tapi….”

“Kau mencintai gadis itu?” potong Shinta.

“Gadis itu…. Dia… seorang perempuan yang kuhormati.”

“Lalu aku?” Shinta masih saja menyangkal bahwa Al telah memiliki kekasih.

“Kau, Shinta. Kau adalah seorang teman yang layak kuhormati,” tegas Al. Suaranya pelan, tapi tanpa keraguan sedikitpun.

“Al….”

“Ya….”

“Bolehkan aku memelukmu? I promise this is the last,” pinta Shinta.

Al heran dengan permintaan Shinta. Ia rasa itu permintaan yang tidak seharusnya diajukan di saat seperti ini. Tapi Al berusaha menjadi teman yang baik. Apa salahnya memeluk seorang sahabat, pikir Al. Lalu ia merengkuh gadis berambut panjang berombak ke dalam pelukannya. Tidak ada yang terjadi. Al memang sudah melepas rasa yang dulu ia miliki terhadap Shinta. Yang ada saat ini adalah perasaan sebagai seorang sahabat.

Lain halnya dengan Shinta. Ia masih merasa getar-getar yang pernah ia rasakan tiga tahun yang lalu, saat ia dan Al masih mengecap manisnya cinta. Namun Shintapun sadar, apalah gunanya mempertahankan rasa ini jika pada akhirnya ia harus bertepuk sebelah tangan.

“Terima kasih, Al.” Shinta melepasan diri dan beranjak dari duduknya. “Maaf jika aku mengganggumu hari ini. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku akan pergi. Dan aku berdoa untuk kebahagiaanmu, Al.”

Shinta merapikan sikapnya, mengatur kembali raut wajahnya, lalu kembali memasang senyum di bibir ranumnya. Ia melangkah dengan mantap menuju pintu meninggalkan Al yang masih duduk di sofa. Sembari menatap punggung Shinta yang mulai menjauh, Al mengucap maaf kepada Shinta di dalam hati kecilnya.

--- bersambung ---


Sumber gambar angel on forest, klik image.