Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Moy dan Ru

“Kamu bisa jatuh cinta tanpa jatuh hati, Ru?”

Ru memandang perempuan di sebelahnya, menatapnya lekat-lekat seolah-olah perempuan itu makhluk asing yang baru turun dari unidentified flying object. Seolah-olah perempuan itu baru saja menenggak bergalon-galon bir tanpa es batu. Seolah-olah ada makhluk astral yang menumpang sejenak di otak perempuan itu, mencuci otaknya, lalu pergi tanpa permisi.

Tapi, yang Ru lihat hanya sorot kesungguhan dari perempuan itu. Dan, itu aneh, pikir Ru.

“Jatuh cinta itu sakit, Ru.”

Ru tidak menanggapi. Tepatnya, bingung harus bereaksi seperti apa. Belum sampai lima menit lalu, mereka membahas hal lain, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri mereka. Jenis obrolan siang hari, berteman sekantung besar keripik kentang rasa pedas – kesukaan Ru – dan dua gelas besar susu kocok rasa cokelat – kesukaan Moy, yang terpaksa pula Ru nikmati karena Moy memaksanya. Benar-benar tipikal pertemuan dua orang tanpa embel-embel ikatan apa pun.

Moy memainkan gelas minumannya, memutar-mutarnya perlahan. Sesekali ia angkat gelas plastik itu sejajar matanya, hanya untuk mengamati tetes-tetes embun yang menempel di sana. Ia tahu, Ru tidak mungkin menanggapi ucapannya, tapi ia menunggu, dengan persediaan kesabaran tak terbatas. Susu kocoknya sudah hambar, sudah tak layak disebut minuman manis.

“Kenapa kita di sini, Ru?”

Ru menghela napas panjang. Satu kali, tapi cukup panjang untuk diterjemahkan menjadi novel seribu halaman. Moy tahu itu. Moy paham itu.

Ru meraih jemari Moy yang bebas. Ia tak punya kata-kata, ia tak punya janji-janji. Yang Ru punya hanya perhatian, dari jarak jutaan tahun cahaya. Moy tahu itu. Moy paham itu.

“Kenapa harus jatuh cinta tanpa jatuh hati, Moy?”

Suara Ru terdengar bermil-mil jauhnya dari gendang telinga Moy, bahkan nyaris tak tertangkap getarannya.

“Agar hati tak tercabik-cabik ketika cinta habis, Ru.”

“Ah, Moy…”

Sehelai daun gugur dan mendarat lembut tak jauh dari kaki Moy. Warnanya kuning kecokelatan, warna rapuh yang melegenda. Mungkin begitulah warna hatiku, pikir Moy.

Genggaman tangan Ru menguat, membuat Moy beralih dari daun gugur ke wajah lelaki di sampingnya. Moy merasa dirinya berdiri di tepian kolam luas, bersiap menyelam ke dalamnya. Begitu banyak persiapan supaya ia sukses menyelam tanpa takut terbawa arus. Tapi, ketika ia hendak terjun, sesuatu menahannya.

“Jangan,” titah suara lembut itu, yang tak lain adalah suara Ru. “Kamu tidak akan pernah tahu seberapa dalamnya. Siapa yang akan menolong kalau kamu tenggelam?”

“Aku tidak akan tenggelam, Ru. Tidak untuk yang kedua kalinya.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

Sorot mata Ru meragukan jawaban Moy.

“Jangan khawatir, Ru. Sebab, kolam yang akan kuselami tidak sama dengan sebelumnya. Kali ini aku tahu seberapa dalamnya, aku tahu seberapa deras arusnya. Kamu tidak perlu khawatir.”

Ru menghempaskan punggungnya ke sandaran bangku taman. Ini yang ia takutkan, bahwa Moy akan mengulang kesalahan yang sama. Dan, pada akhirnya, Ru harus datang menolongnya. Kali ini tidak akan berhasil, pikir Ru.

Senja muncul tanpa permisi, membawa kemilau jingga ke dinding retina. Angin mengembuskan hawa yang lebih dingin dibanding satu jam yang lalu, ketika Moy dan Ru baru saja datang. Lampu-lampu di sekitar mereka mulai menyala, memberi cahaya lembut pada perdu dan pohon jepun di sekitar mereka. Dan, alunan seruling mulai terdengar dari radio entah-milik-siapa. Malam memang segera datang, tapi Ru belum bisa membawa Moy pergi dari tempat itu. Ru tahu, setelah ini, akan ada hal lain yang ingin Moy bicarakan.

“Jangan menatapku seperti itu, Ru.”

Ru melebarkan matanya, yang sesungguhnya tidak signifikan terlihat perbedaannya.

“Aku sudah melantur, ya?” Moy menunduk, kembali menekuri gelas plastik di tangannya. “Ayo pulang, Ru. Aku lelah.”

Akhirnya, pikir Ru. Obrolan tadi benar-benar membingungkan. Seperti melompat-lompat di jalanan berlumpur, demi menghindari genangannya.

Ini sudah bulan ketiga puluh tujuh, keadaan Moy belum berubah sejak pertama Ru menemukannya.

Ya, Ru menemukan Moy di sebuah acara pernikahan. Acara yang seharusnya sakral itu kocar-kacir gara-gara seseorang membuka sejarah Moy di depan para undangan.

Ya, itu pernikahan Moy yang kocar-kacir. Mempelai pria tidak mau mengucap sumpah pernikahan karena Moy ternyata belum sembuh.

Sebenarnya, Moy bukannya belum sembuh, tapi ia sengaja melewatkan banyak sekali sesi, hanya untuk duduk di sebuah bangku taman. Moy lebih suka duduk di bangku kayu keras dengan pelitur tidak rata daripada sofa lembut nan empuk yang berada di ruangan beraroma lavender. Moy tidak suka lavender, Moy lebih suka aroma teh hijau. Sofa dan lavender tidak akan membuatnya sembuh. Bangku tamanlah yang membuatnya sembuh. Juga, Moy tidak suka orang asing bertanya terlalu banyak soal dirinya.

Ru bukan orang asing bagi Moy, meskipun mereka baru bertemu kala itu. Bagi Moy, sorot mata Ru seolah-olah sudah pernah – dan selalu – hadir sepanjang dua puluh tujuh tahun perjalanan hidupnya. Ketika bahkan keluarga Moy sendiri mengabaikannya dan lebih sibuk mengurus katering yang terlantar, Ru meraih tangannya dan membawanya berjalan-jalan. Moy tidak paham apa yang Ru lakukan, tapi ia menurut saja — sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan terhadap orang asing.

“Kita duduk di sini saja,” ucap Ru kala itu, di sebuah bangku taman, membuka obrolannya dengan Moy.

Moy bergeming. Benaknya masih berkutat soal pernikahannya yang batal. Dinding retinanya masih terisi raut wajah yang dulu katanya sangat mencintainya, tapi berbalik seratus depalan puluh derajat ketika tahu bagaimana masa lalunya. Moy sendiri bukannya tidak pernah membicarakan hal itu dengan kekasihnya, tapi memang ia tidak pernah cerita mendetail, apalagi mengenai kegiatan membolosnya. Harusnya itu bukan masalah. Toh Moy merasa yang terpenting adalah hasil akhirnya, bukan prosesnya.

Ya, Moy memang sudah sembuh. Ia tidak pernah lagi mengurung diri berhari-hari di kamarnya sambil menangis. Kebanyakan orang-orang berpikiran ia terkena pengaruh ilmu hitam. Padahal, tidak ada yang tahu kalau Moy pernah nyaris mati di tangan salah satu teman SMA-nya yang, yah, kebetulan saja jadi kekasihnya kala itu. Bahkan, orang tua Moy sendiri tidak tahu hal itu. Yang mereka tahu; anaknya bermasalah dan harus segera mendapat pertolongan. Moy berakhir di sofa empuk dalam ruangan beraroma lavender.

“Kamu siapa?” tanya Moy, membalas ajakan Ru untuk duduk.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Ru. “Hanya seseorang yang kerap mengamatimu duduk di bangku ini… sejak tujuh tahun lalu.”

Tubuh Moy limbung. Ru dengan sigap meraih lengan Moy dan membimbingnya untuk duduk.

“Sudah kubilang, kita duduk di sini saja,” kata Ru.


Sejak saat itu, Ru tidak pernah meninggalkan Moy, bahkan ketika Ru teramat jengkel karena tidak paham apa yang Moy bicarakan.

Peran First Reader Bagi Penulis



Beberapa hari terakhir, saya lagi kumat jahilnya. Paling enggak, udah dua kali saya aplot screenshot dari naskah-naskah yang typo. Kesalahan mereka nggak cuma kesalahan biasa kayak seputar salah ngetik kata atau salah membedakan ‘di’ sebagai kata depan dan ‘di’ sebagai awalan. Kesalahan mereka cukup fatal dan bikin jempol saya gatel buat aplot di sosmed. (penasaran ya typo-nya apaan? hihihi… liat aja di akun sosmed saya)

Komentar yang nongol pun beragam, mulai dari ketawa miris sampai ngakak kejang. Bahkan ada teman yang ngatain saya terkena sindrom. Entah sindrom apa yang dia maksud. Dan, ada juga ngasi komen dengan sebuah pertanyaan, “Ini kalo yang punya naskah tau usahanya dipamer-pamerin gimana rasanya ya?”

Dari situ saya langsung ngerasa kayak ditimpuk cireng sebaskom dan bikin saya jadi mikir keras. Iya yah, kok saya jahat banget ngaplot potongan naskah mereka tanpa izin, meskipun saya nggak mencantumkan nama penulisnya.

Tapi saya nggak nyesel ngaplot typo mereka. Jahat, memang, tapi saya punya maksud di balik tindakan itu. Saya berharap mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama sebelum mengirimkan naskah ke penerbit. Itu berlaku untuk si pemilik naskah dan juga para penulis pemula yang sedang berjuang mengantarkan naskah mereka menuju kesuksesan.

Yah, sebenarnya bisa aja sih saya langsung ngasi tau penulisnya soal typo itu, plus ngasi tips n trick biar nggak melakukan kesalahan yang sama. Tapi, mungkin ilmu itu hanya akan dinikmati oleh satu orang. Atau paling banter ya cuma beberapa orang aja kalo kebetulan si penulis meneruskan ilmu tersebut ke teman-teman terdekatnya. Padahal pengennya ya semua penulis pemula bisa mendapat ilmu itu.

Makanya beberapa hari lalu saya posting soal Self Editing. Artikel itu saya buat gara-gara saya gregetan. Sekian kali saya ngereview naskah yang masuk ke JP, selalu saja menemukan kesalahan yang sama. Saya jadi sampe kepikiran kalo mereka ini ngirim naskah begitu mereka selesai ngetik kata ‘THE END’ atau ‘TAMAT’.

Sekarang, kita akan bergerak satu langkah lebih jauh lagi, ke titik di mana kita membutuhkan First Reader.

Apa sih first reader itu?

First reader adalah pembaca pertama naskah mentah kita. Kenapa disebut mentah? First reader ini jadi semacam perwakilan calon konsumen buku kita. Merekalah yang pertama kali akan menemukan kesalahan-kesalahan yang nggak tertangkap mata kita. Mereka mungkin juga akan memberi masukan untuk naskah kita, dan masukan itu bisa aja nggak pernah kepikiran di otak kita tapi ternyata efeknya dahsyat. Kritikan mereka akan membuat naskah mentah kita menjadi naskah setengah matang. Kita mungkin perlu mengulangi proses itu sekali lagi untuk membuat naskah kita benar-benar matang dan siap dikirim ke penerbit atau ke sebuah kompetisi menulis.

First reader bisa siapa saja. Yang penting kita tau mereka bisa ngasi pendapat yang objektif. Kalau jelek, ya katakan jelek. Kalau bagus, ya katakan bagus. Mudahnya, kita bisa sodorin naskah mentah itu ke temen yang hobi banget baca novel. Jadi, karena si temen ini udah biasa baca karya penulis yang udah punya nama, maka dia bisa ngasi perbandingan. Tapi bukan berarti niat nyuruh kita buat ngikutin penulis lain lho yak. Maksudnya, karena si teman ini sudah terbiasa membaca yang baik, maka dia akan dengan mudahnya menemukan yang tidak baik di naskah kita.

Kita boleh kok berdebat dengan first reader kita. Sebab, kita nggak perlu serta-merta nurutin semua sarannya. Mungkin si teman ini menemukan sesuatu yang janggal pada naskah kita dan menyarankan kita untuk mengubahnya. Tapi di sisi lain, kita memang sengaja membuat kejanggalan itu dengan sebuah tujuan. Ya bisa aja kan, karena kita niat bikin trilogi, jadi kita menyisipkan kejanggalan tersebut di buku pertama untuk nanti dipecahkan di buku kedua atau ketiga.

Apakah first reader hanya boleh satu orang? Enggak kok. Boleh berapa aja, terserah si penulis. Semakin banyak first reader, semakin banyak pula kemungkinan saran yang kita terima. Tapi ya jangan terlampau banyak. Yang penting mereka bisa dipercaya. Sebab, dari merekalah kita mungkin akan menemukan beberapa alternatif cemerlang untuk naskah kita.

Sahabat sekaligus temen berantem saya, Citra Rizcha Maya, selalu mengirimkan naskah mentahnya ke saya sebelum dia mengirimkannya ke panitia lomba menulis (waktu itu dia lagi gila lomba hihihi…). Dia selalu minta saya untuk ngasi kripik pedes buat naskahnya. Yang terakhir, baru aja dia lakukan minggu lalu. Padahal, dia bukan pemain baru di jagad pernovelan. Dia sudah menerbitkan tiga buku tunggal dan ikut beberapa antologi cerpen. Tapi, dia tetap merasa perlu menyodorkan naskah mentahnya untuk dibantai first reader. Kenapa? Ya jelas tujuannya untuk meminimalkan jumlah kesalahan yang terjadi. Jadi nanti si reviewer di penerbitan nggak langsung men-skip naskahnya.


So, gimana? Udah nemu siapa aja yang bakal kalian todong untuk jadi first reader? Jangan sampe naskah kalian nanti jadi korban keisengan editor bawel macam saya lho hihihi….


Mantel Hujan Angel



Aku suka hujan, tapi tidak suka menjadi basah karenanya. Aku suka hujan, ketika aku memang sedang tidak melakukan apa-apa dan hanya menontonnya dari jendela kamarku. Aku suka hujan karena suaranya menenangkan. Tidak ada musik lain yang bisa menyamai alunan merdu dari rintik hujan, tidak juga musik klasik yang sering diputar ayahku ketika ia membaca di perpustakaan. Aku suka hujan karena percikan airnya menyejukkan wajahku.
Tapi, hari ini aku tidak menyukai hujan sama sekali. Hujan pagi ini membuatku harus memakai mantel jika tidak ingin seragamku basah kuyup sesampainya di sekolah. Aku tidak suka memakai mantel hijau jelek yang punya terlalu banyak kantong di bagian depannya.
“Ibu, boleh aku belajar di rumah saja hari ini?”
“Kenapa?” Dahi Ibu berkerut-kerut. Ya, aku tahu, aku tidak biasanya seperti ini. Biasanya, aku selalu bersemangat ke sekolah. Tapi sekali lagi, tidak pagi ini, pagi di mana hujan turun terlalu lebat.
“Tidak ada apa-apa, Bu. Aku hanya ingin belajar di rumah,” jawabku.
“Kamu tidak bisa melakukan itu, Angel. Kamu tidak sakit, dan Ayah sudah siap mengantarmu ke sekolah.”
Aku diam saja. Aku tidak bisa menemukan alasan yang tepat agar Ibu membiarkanku di rumah saja. Ya, baiknya kukatakan saja yang sebenarnya.
“Aku tidak suka mantel hijau itu, Ibu. Mantel itu jelek sekali. Teman-teman selalu tertawa ketika melihatku memakai mantel itu. Mereka bahkan tertawa terlalu keras.”
“Oh, Angel,” desah Ibu. Ia lalu berlutut di hadapanku. Kini wajah kami sejajar. Meskipun begitu, aku belum berani menatap mata Ibu. Aku takut itu akan menyulut kemarahannya. “Angel…” Ibu mengangkat daguku, membuatku kini harus menatap wajahnya. “Kamu tidak suka mantel hujanmu?” tanya Ibu.
Aku mengangguk.
“Tapi mantel itu bagus, Angel. Mantel itu kuat dan tidak mudah rusak. Kamu bisa menghitung sudah berapa lama mantel itu membalut tubuhmu ketika hujan datang?”
“Ehm… sudah lama sekali. Sejak aku kelas satu SD.”
“Bisakah kau menghitungnya?”
Aku menghitung dalam hati dan memakai beberapa jariku untuk mempermudah hitungannya.
“Sudah tiga tahun, Bu,” jawabku.
“Nah, sudah lama sekali, kan? Dan mantel itu masih amat baik kondisinya.”
“Iya, tapi aku malu dengan teman-teman, Bu. Mereka selalu menertawakanku. Mereka bilang, mantelku terlalu tua dan… ehm, terlalu jelek.”
“Angel, mau dengar pendapat Ibu soal teman-temanmu?”
Aku mengangguk.
“Mereka hanya iri karena mereka tidak punya mantel sekuat milikmu. Mantel hujanmu tidak hanya sanggup menahan gerimis, tapi juga tidak mudah tertembus hujan yang lebat. Kakakmu sudah membuktikannya, Angel. Seragamnya tidak pernah kebasahan.”
“Tapi, Bu…”
“Ya, mungkin kamu benar,” Ibu memotong ucapanku, “mantel itu memang sudah tua. Ayah dan Ibu membelinya ketika Brian masih kelas dua SD.”
“Bu…”
“Ya?”
“Aku suka mantel itu, tapi aku tidak suka warnanya,” akhirnya aku mengakuinya. “Warna hijau tua itu membuat rambutku makin terlihat merah menyala.”
Tanpa kuduga sebelumnya, Ibu malah tertawa mendengar ucapanku. Apa ada yang salah?
“Bu, kenapa tertawa?”
“Angel…, Angel…. Kenapa tidak kamu katakan saja kamu tidak suka warnanya? Kenapa harus memakai alasan teman-teman menertawakanmu?”
“Tapi, Bu, mereka memang menertawakan mantelku, jauh sebelum aku sadar aku tidak suka warnanya.”
Ibu berhenti tertawa. Tangannya membelai lembut kepalaku.
“Dengarkan Ibu,” suara Ibu begitu lembut di telingaku. “Jumat minggu ini Ibu akan mengambil jatah libur. Ibu akan menjemputmu dari sekolah dan kita akan berjalan-jalan. Kita akan berbelanja macam-macam barang, dan salah satunya adalah… mantel hujan baru untukmu.”
“Benarkah, Bu?”
Ibu tersenyum dan mengangguk. “Iya, betul. Kamu boleh memilih sendiri warnanya, Angel.”
“Ah, terima kasih, Bu.” Aku memeluknya lama sekali, lalu mencium kedua pipinya.
Dan hal lain yang mengejutkan adalah, ketika aku menginjak halaman rumah, langit sudah tidak meneteskan air lagi. Sinar matahari perlahan muncul. Cerah sekali, secerah suasana hatiku pagi ini.



Note: Cermin ini dibuat untuk tujuan pembelajaran di kelas ekstrakulikuler menulis MI Alam Jamur, Denpasar.

Pentingnya Self-editing

Moy, boleh nanya?

Eh, lagi wawancara nih? *benerin jilbab* Boleh, boleh. Mo nanya apaan?

Nomer sepatu lu berapa?

Hah?

Eh, salah catetan. Bentar. *kebat-kebet notes* Nah, ini dia. Elu kan sering banget tuh ngomel-ngomel di wall ––

Lha, ngomel-ngomel di wall?

Iya, ngomel-ngomel di wall. Elu bilang, kebanyakan penulis pemula males banget melakukan self-editing.

Oh, itu. Jadi, gini. Nggak terhitung banyaknya penulis senior dan editor yang membuat artikel soal pentingnya self-editing. Tapiiiiii…, kok ya masih banyak yang dengan pedenya ngirim naskah berantakan ke penerbit. Yakin naskahnya layak terbit? Yakin cerita yang dibikin bisa meluluhkan hati peninjau naskah? Meskipun kisah yang ditawarkan sekelas serial Divergent, The Hunger Games, atau kisah-kisah romance-nya Nicholas Sparks, tapi kalo naskah kalian berantakan, ya bakalan langsung di-skip ama peninjau.

Berantakan versi peninjau dengan versinya pembaca jelas beda lho yak. Berantakan di sini nggak melulu soal ketikan yang nggak rapi, tapi ada beberapa kesalahan yang masuk kategori berantakan dan harusnya sudah terbabat habis di sesi self-editing.

Oya, ini nggak papa ya wawancaranya nggak pake bahasa baku? KBBI saya lagi dipinjem J.K. Rowling.

Errr… boleh deh. Semoga pembaca nggak muntah-muntah ya, Moy. *rapiin notes* Eniwei, self-editing itu apaan, sih?

Ehm ya, masih sodaraan dikit sih ama si selfie, sepupuan gitu deh. *lalu, dziinnggg… tersambit cireng dengan suksesnya*

Jangan garing gitu deh becandanya, Moy!

Hehehe… oke, oke. Mari kita serius barang sebentar.

Dari penampakan frasanya aja udah ketauan ya self-editing itu apaan. Self-editing adalah proses penyuntingan naskah oleh si penulis sendiri.

Namun, sebuah naskah yang baru saja selesai, tidak bisa serta merta langsung masuk self-editing. Ada satu proses lagi yang sebaiknya dilakukan, yaitu pengendapan. Kenapa? Sebab, otak kita butuh penyegaran setelah sekian lama berjibaku dengan naskah tersebut. Paling enggak, untuk sebuah novel, endapkan selama satu bulan. Makin lama, makin baik. Kayak wine deh, makin lama disimpan, makin kuat aromanya (tsaaahhh…). Lalu, selama proses pengendapan itu, beri otak kita nutrisi yang baik. Lahap bacaan apa saja yang bermanfaat untuk otak. Sambil ngunyah cireng juga boleh. Dan, ketika proses pengendapan berakhir, silakan buka kembali naskah kalian, lalu baca! Maka, kalian mungkin akan menemukan bertumpuk-tumpuk sampah di naskah itu.

Kok sampah sih, Moy?

Iya, sampah! Apa coba sebutan tepatnya untuk sesuatu yang harus dibuang demi kemaslahatan umat? *eh*

Ehm… kasi bocoran dikit deh, Moy, soal sampah-sampah itu.

Ada nih yang bikin paragraf dialognya panjaaaang banget, tanpa jeda narasi. Panjang bisa sampe satu halaman sendiri. Boleh sih kalo emang suka ama yang panjang-panjang ––

Aih, itu tendensinya ke mana ya, Mooooyyyy? *nggerundel nggak jelas dalam hati*

–– tapi itu bakal bikin mata pembaca siwer duluan. Dan lagi, emangnya ada ya orang berbicara lempeng aja tanpa ekspresi dan tanpa memperlihatkan bahasa tubuh yang unik? Kayaknya nggak ada deh. Si Penggugup pasti akan berulang kali mengusap tangannya yang berkeringat ke bajunya. Atau mungkin karakter yang gampang terharu bakalan terisak ketika menceritakan kesedihannya pada tokoh lain. Atau kebetulan kalian bikin si tokohnya emosian ––

Kayak elu ya, Moy, kalo ketemu ama naskah amburadul, bawaannya pengen ngunyah meja. *dalam hati lagi, takut disambit tutup panci*

–– pasti pas ngomong matanya sambil membelalak atau tangannya kadang teracung ke udara. Terus, kenapa sih kalian harus menyisipkan narasi berisi ekspresi dan bahasa tubuh si tokoh? Pertama, ya biar nggak bikin pembaca bosan. Kedua, naskah kalian pasti akan lebih hidup, lebih dinamis.

Ada lagi sampah yang lain, Moy?

Ada! Fakta geografis yang tidak sesuai. Kadang nih yak, kita pengen bikin cerita yang berlatar di negeri tetangga, atau jangan jauh-jauh deh, di provinsi tetangga. Etapi ternyata kita belum pernah ke sono. Alhasil, kita mengandalkan Paman Google untuk membantu kita. Cumaaaaa, ati-ati yah kalo nyopas angka atau nama-nama tempat yang udah fix. Cek ricek berulang-ulang nggak ada salahnya, daripada kalian dicengin ama editor. Pilih mana hayooooowww?

Contohnya yang gimana sih, Moy?

Oke. Misal nih yak, cuma misal ini mah, kalian nulis kalo Denpasar itu letaknya di Pulau Sumatera. Atau nulis Yogyakarta ada di Papua. Atau kalian nulis bahwa Pantai Kuta berada di Kabupaten Buleleng, padahal faktanya ada di Kabupaten Badung. Hwalaaaahhh… editornya semaput deh tuh.

Euw… ekstrem banget contohnya, Mooooyy. *lalu ekting manyun kece*

Oke deh. Contoh sederhananya ya salah nyopas angka. Misalnya panjang Sungai XYZ harusnya 23 km, kalian malah ngetiknya 32 km. Jangan dikira editor terima beres fakta yang dituliskan di naskah. Pasti bakal dicek. Jadi, saran saya, kalo emang buta sama sekali soal suatu tempat, lebih baik ganti dengan lokasi yang sudah sangat kalian kenal, sehingga detail yang kalian tuliskan bisa sampai ke pembaca. Ya paling enggak, nggak bikin manyun pembaca yang berasal dari kota yang kalian coba untuk tuliskan di naskah kalian.

Atau sebaliknya, kalian bernafsu sekali untuk menuliskan Kota ABCD meskipun kalian belum pernah ke sana. Maka, silakan observasi. Cari fakta selengkap-lengkapnya, bisa lewat artikel atau bertanya pada seseorang yang memang tinggal di kota itu. Cari tau juga bagaimana suasana kota itu, perangai orang-orangnya, aktivitasnya, dan lain-lain. Lebih banyak detail yang kalian dapat, lebih hiduplah naskah kalian.

Oke, oke. Mulai paham deh, Moy. Terus apaan lagi sampah yang perlu dibantai?

Usia si tokoh. Jangan sampe di halaman pertama ditulisnya 23 tahun, eh di halaman kedua ditulis 25 tahun, padahal adegannya masih di hari yang sama.

Setting waktu. Kalian bikin adegan di Melbourne pas bulan Desember, tapi si tokohnya pake mantel tebel banget. Plis deh! Desember emang identik ama Natal dan salju, tapi ya liat-liat tempat dong. Di bulan Desember, bumi belahan selatan sedang mengalami musim panas. Masa iya kalian makein mantel tebel ke tokoh yang kalian bikin. Kan kesian, keringetan nggak jelas gitu jadinya.

Urutan kejadian dan fakta tindak kejahatan. Misalnya kalian lagi bikin cerita kriminal. Ada kejadian pencurian dan si tokoh utama dituduh. Padahal dia nggak berbuat, tapi sepuluh menit setelah laporan pencurian masuk, tau-tau si tokoh utama ditangkep tanpa ada penjelasan kenapa polisi bisa memutuskan nangkep dia. Faktanya, polisi nggak bakal menahan seseorang tanpa bukti yang jelas. Polisi pasti bakal melakukan oleh TKP dulu untuk mengumpulkan bukti-bukti. Dan itu nggak cukup cuma sepuluh menit. Mungkin bisa cerita bahwa di TKP ditemukan jejak sepatu bernoda tanah di karpet, dan ternyata jejak sepatu itu cocok dengan sepatunya si tokoh utama, apalagi ditambah kalo sepatunya si tokoh utama juga ternyata bernoda tanah. Atau mungkin di lemari besi ditemukan sidik jari si tokoh utama. Tapi, di tengah proses peradilan, ternyata ditemukan ada seseorang yang mengaku melakukan pencurian tersebut. Ternyata si B, temennya si tokoh utama yang mencuri. Dan soal noda tanah di karpet, ternyata si B meminjam sepatu di tokoh utama agar dirinya terbebas dari tuduhan.

Elu kebanyakan baca bukunya Agatha Christie ama nonton CSI, ya, Moy?!

Ayolah! Kalian pasti bisa membuat semuanya logis di mata pembaca. Bahkan fiksi fantasi pun harus terlihat logis, apalagi yang cuma romance atau slice of life.

Oke, oke. Punya tips buat para penulis?

Ehm… ini mungkin tips udah basi banget, udah banyak yang nayangin di blog, tapi saya nggak bosen buat menyarankan. Kalo kalian pengen ngedit, copy dulu filenya. Jadi nanti yang diedit adalah file kopian dan yang asli tetap utuh. Kenapa? Semisal kalian merasa editan kalian udah melenceng terlalu jauh dari rencana awal, dan kalian lupa bagaimana seharusnya yang terjadi pada tokoh-tokoh kalian, kalian masih punya pedoman yang berupa naskah awal.

Sip deh, Moy. Nanti bayaran wawancaranya ambil di rumah gue yak.

Oh, ada bayarannya?

Ada. Cilok, dua rebu.

Wew…




Adab Berkirim Surel Permohonan Cetak Naskah ke Penerbit

Sebagai editor di sebuah penerbitan – juga ngerangkap jadi tukang review naskah temen-temen – saya sudah cukup banyak membaca. Dan, macam-macam pula yang saya temukan sejak saya nyemplung ke dunia fiksi. Mulai dari naskah kece nan seksi, sampe yang masuk kategori sotoy. Tapi, kali ini yang dibahas bukan soal gimana caranya nulis naskah kece nan seksi. Saya akan berbaik hati menganggap siapa pun yang membaca artikel ini udah pada hebring nulis naskahnya. Naik satu tingkat lagi, ini soal bagaimana basa-basi kalian ketika menyodorkan naskah ke penerbit.

Pertama, pastikan alamat surel penerbitnya nggak ketuker sama alamat surel pacar kalian ya. Kan bisa malu sampe ke ubun-ubun kalo beneran ketuker hihihi…

Kedua, salam pembuka. Ini cukup penting lho. Kalian nggak mungkin nyelonong gitu aja kalo masuk ke rumah orang lain, kan?! Apalagi sambil bawa-bawa granat (read: naskah). Oh, no!
Salam pembuka yang lazim dipakai, antara lain:
1.       Salam Hormat
2.       Dear Publisher ABC
3.       Yang terhormat admin Publisher ABC
Contoh: Dear Jentera Pustaka

Ketiga, kemukakan tujuan kalian mengirim surel. Tentunya dalam rangka menawarkan naskah kalian untuk diterbitkan. Maka, gunakanlah kalimat-kalimat yang tidak berkesan memerintah.
Contoh: Bersama surel ini, saya mengirimkan naskah untuk diterbitkan di Jentera Pustaka dalam bentuk buku cetak dan e-book. Naskah yang saya ajukan berjudul “Our Moments”, merupakan novel yang diperuntukkan bagi pembaca dewasa muda. File terlampir.

Keempat, sertakan pula sinopsis dan narasi singkat mengenai keunggulan naskah. Sinopsis amat penting. Sebab, reviewer tidak mungkin langsung membaca naskah kalian yang panjangnya bisa nyaingin jembatan suramadu (eeaaa…). Reviewer pasti akan membaca lebih dulu sinopsisnya agar tahu naskah macam apa yang ada di tangannya saat itu. Sinopsis lazimnya tidak lebih dari dua halaman. Dari situ, biasanya reviewer sudah bisa menilai apakah naskah tersebut layak terbit atau tidak. Sinopsis bisa ditulis di file yang berbeda dengan naskah.
Jika reviewer sudah terpikat dengan sinopsis kalian, maka yang poin berikutnya yang menentukan adalah narasi keunggulan naskah. Nggak perlu panjang-panjang. Beberapa paragraf pun cukup. Kenapa narasi ini penting? Bukannya nggak mungkin dua otak yang berbeda memiliki ide cerita yang sama. Mungkin sudah ribuan novel bercerita soal kasih tak sampai, atau cinta segitiga, atau tentang perjuangan seorang perantau. Tapi kenapa para penerbit itu masih juga tertarik untuk mencetaknya? Itu karena tiap naskah memiliki cara memasak yang berbeda, mungkin juga racikan bumbu yang berbeda, sehingga menghasilkan rasa yang berbeda ketika dinikmati. Di narasi inilah kalian bisa membeberkan bumbu rahasia kalian. Kalo kalian nggak bisa menunjukkan kelebihan naskah kalian dibanding yang lain, reviewer bakal menganggap naskah kalian pasaran. Atau yang paling parah, bakal dianggap naskah hasil nyontek. Kalau reviewer-nya lagi baik hati, kemungkinan naskah kalian akan masuk daftar antrian untuk dibaca, berharap bahwa sebenarnya naskah kalian unik cuma kalian nggak tau how to sell it.

Kelima, kalimat penutup. Kalo ada pembuka, pastikan pula ada penutup. Di bagian ini, plisss, be a humble person as far as you can do. Sebab, kalianlah yang sangat berharap naskah kalian diterbitkan. Tapi, ungkapkanlah dengan cara yang elegan (tsaahhh…)
Contoh: Besar harapan saya, naskah tersebut dapat diterbitkan oleh Jentera Pustaka. Terima kasih.

Contoh-contoh di atas bukan merupakan harga mati. Kalian bisa memodifikasinya sesuai kebutuhan tanpa mengurangi kerendahan hati kalian. Sebab, terkadang, basa-basi pada surel bisa membuat naskah kalian dilirik, atau tidak sama sekali dan langsung masuk tempat sampah. Yang digituin sih biasanya yang suka ngirim naskah tanpa menyertakan surat pengantar dokter hihihi…


So, selamat mencoba :)))