Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Peran Editor dalam Proses Terbitnya Buku


Ada yang ujug-ujug nanya ke saya. Apakah naskah yang hendak diterbitkan memerlukan sentuhan tangan editor?
Jawabannya, tentu saja perlu.
Kenapa perlu?
Ya kali nggak pake editing, itu saltik berceceran di mana-mana, kayak bakul cilok di Denpasar. Siapa yang sudi baca buku penuh saltik dan saltum? *eh
Inti tugas editor adalah memeriksa naskah. Tapi, jangan berpikir bahwa yang diperiksa hanya kesalahan tik. Tugas atau peran editor lebih dari itu. Apa saja perannya? Simak penjelasan berikut.

Pertama, editor membantu penulis mempercantik naskah. Bagian-bagian yang perlu dipercantik antara lain kalimat-kalimat, momen atau adegan, gap/celah/jarak antaradegan, dan bagian akhir cerita. Lebih detailnya akan dijelaskan di artikel lain.

Kedua, editor membantu penulis menemukan genre yang sesuai. Kadang, ketika saya sedang menyeleksi naskah yang masuk, saya menemukan penulis yang salah milih angkot. Misalnya, si penulis kirim naskah bergenre romance, tapi setelah saya baca, feel-nya kayak lagi baca naskah horor. Meskipun plotnya bagus dan minus saltik, biasanya naskah semacam itu nggak saya loloskan. Gantinya, saya beri si penulis kesempatan untuk mengirim naskah lain dengan genre yang saya sarankan. Tentu naskah terbarunya akan dapat perhatian lebih dari saya ketika proses review nanti.
Tapi, bagaimana jika si penulis tidak tertarik menulis dengan genre yang disarankan? Yasutralahyes. Kan nggak boleh maksa-maksa orang. Jadi, saya akan lirik kembali naskah sebelumnya. Kalau memang punya potensi, saya akan minta si penulis merevisi atau — apes-apesnya — menulis ulang naskahnya. Jika hasilnya jauh lebih baik, akan saya loloskan naskahnya. Dengan catatan, asistensi selama proses editing akan lebih kedjam huahahahaha…

Ketiga, dan yang paling saya anggap penting, editor membantu penulis membangun rasa percaya diri terhadap naskahnya. Nggak jarang loh, naskah sudah lolos review, bahkan sudah masuk proses penyuntingan, eh, penulisnya malah semacam menyerah dengan kekedjaman saya. Padahal, tulisannya bagus, buktinya lolos casting. *eh
Ini di luar penyakit malas yang tiada obatnya itu. Biasanya lebih disebabkan rasa pesimis yang menghantui si penulis. Ia tidak yakin dengan hasil kerjanya; apakah pembaca akan suka atau akan muak. Padahal, suka atau tidaknya pembaca sebenarnya sudah terwakili oleh editor. Kami, para editor, juga paham apa yang diinginkan pembaca. Dan, jika kami menyarankan sesuatu, tentunya sudah melalui berbagai pertimbangan.

Jadi, masih beranggapan peran editor sekadar jadi polisi saltik? Sini, saya sleding dandang cilok dulu, biar sehat.

Salam lemper, eh, cilok.

Karya Tunggal VS Karya Kolaborasi


Belakangan ini kita kerap menjumpai sebuah karya, khususnya novel, yang digarap oleh dua orang atau lebih. Mungkin yang muncul di benak kita adalah, bagaimana proses menulisnya? Bisa macam-macam, tergantung kesepakatan para penulisnya. Pengalaman saya dulu, saya mengerjakan bab pertama, lalu rekan saya menyambung dengan bab dua, kembali lagi ke saya untuk bab tiga, dan seterusnya sampai karya tersebut kami putuskan untuk tamat.
Ada lagi jenis kolaborasi yang lain, yang dipadukan juga dengan unsur estafet seperti yang pernah Fiksiana Community gelar beberapa tahun lalu. Tiap bab dikerjakan oleh penulis yang berbeda. Jadi, jika seluruhnya ada lima belas bab, maka jumlah penulisnya pun ada lima belas. Yang kurang ajarnya adalah, karya tersebut dibuat tanpa menggarap lebih dahulu kerangkanya. Panitia hanya memberi tema. Beruntunglah yang mendapat giliran pertama, dan yang apes tentu saja yang paling buntut. Tapi yang lebih mumet lagi ya editornya. Sebab harus mencocokkan detail-detail yang muncul di tiap bab. *paragraf mengandung tsurhat colongan*
Nah, buat yang masih bingung ingin menulis sendiri atau keroyokan, saya jembreng rangkuman perbandingan keduanya.

Karya Tunggal
1.  Sebuah karya tunggal tentu saja berpunca dari ide satu orang. Kalaupun si penulis mendapat sedikit wangsit untuk karyanya ketika sedang mengobrol dengan seorang teman, tidak bisa serta-merta si teman jadi rekan duet menulis. Si teman hanya memberi satu unsur bahan mentah dan si penulis mungkin harus mencari bahan mentah lainnya agar masakannya matang.
2.  Semua tugas (riset, menulis, dan self-editing) dilakukan oleh satu orang. Mungkin akan terasa berat karena durasi pengerjaan jadi lebih lama. Tapi, bagi yang berjiwa soliter, mungkin ini lebih mudah, karena nggak bakal ada yang ngerempongin di tengah jalan. Halangan terberat ketika sibuk riset mungkin akibat lewatnya tukang cilok di depan rumah. *itu mah elu, moy*
3. Penulis dapat mengatur sendiri waktu kerjanya. Mau dimolor-molorin sampe satu milenium juga nggak papa. *disambit dandang cilok*
4. Jika di tengah jalan si penulis menemukan ide lain untuk detail tulisannya, ia bisa langsung menambahkannya tanpa perlu kulo nuwun dulu pada rekannya.
5.  Segala penilaian yang muncul setelah karyanya dipublikasikan menjadi tanggungan si penulis seorang.

Karya Kolaborasi
1. Merupakan hasil kerja dua atau lebih penulis.
2. Bisa berbagi tugas.
3. Durasi pengerjaan mungkin berbatas waktu, tergantung kesepakatan yang dibuat bersama.
4. Jika di tengah jalan salah satu penulis memiliki gagasan baru, harus didiskusikan lebih dahulu dengan si rekan sebelum ditambahkan ke dalam naskah.
5. Penilaian yang muncul setelah karya dipublikasikan adalah tanggungan bersama.

Lalu, bagaimana jika karya kolaborasi yang sudah setengah jalan tiba-tiba mogok karena salah satu penulis memutuskan berhenti bekerja sama?
Pertama, tulisan bisa diteruskan oleh satu orang. Dengan syarat, izin dulu kepada si rekan. Dalam aplikasinya, mungkin penulis pertama harus membuang (sebagian atau seluruhnya) gagasan si rekan yang sudah tidak ikut serta demi menghindari klaim di kemudian hari. Jika si rekan mengizinkan gagasannya tetap dipakai, jangan lupa cantumkan namanya di halaman dedikasi. Jangan seperti cilok yang lupa dandangnya.
Kedua, tinggalkan dan buat tulisan baru yang lain sama sekali. Ini jelas menuntut kerelaan dan keikhlasan yang luar biasa. Kebayang, dong, capeknya japri-an demi bahas naskah. *kebayang, moy, kebayang*
Ketiga, mencari rekan baru. Ini jelas lebih rempong lagi. Selain minta izin ke rekan terdahulu soal gagasan dalam naskah, kita juga harus menyesuaikan diri dengan rekan yang baru.

Menulis novel memang membutuhkan napas yang amat panjang. Bagi yang sudah biasa, tentu nggak ada masalah, meskipun kerepotan yang terjadi ketika menggarap novel nggak ada yang masuk kategori selaaaww. Namun, bagi yang tidak biasa (tapi ngotot pengen punya karya novel) berduet merupakan salah satu alternatif mewujudkannya.
Alasan lainnya, mungkin saja mereka hendak menyatukan dua (atau lebih) poin ke dalam satu novel. Misalnya novel soal romansa yang terjadi di negeri kanguru. Penulis pertama ternyata pernah tinggal cukup lama di Melbourne (misalnya), jadi ia punya amunisi cukup kuat untuk set lokasi dan suasana. Sementara penulis kedua ternyata jago bikin narasi dan dialog dengan level kebaperan yang ruar binasa sehingga sanggup bikin jomblo-jomblo yang baca mendadak cari pohon toge buat gantung diri. *lebay, moy, lebaaayyy* Bisa dibayangkan, kan, gimana kece badainya karya tersebut?
Dapat disimpulkan juga bahwa karya kolaborasi memungkinkan untuk penggabungan lebih banyak unsur kece, meskipun tidak menampik bahwa penulis tunggal pun bisa menggarap hal yang sama. Jadi, mau nulis sendiri atau keroyokan, itu terserah kalian.

Salam lemper, eh, cilok.

Perintilan Penting Ketika Menulis Fiksi


Kenal Robert Langdon? Kalo kenal, pasti kalian kenal dengan si pencipta karakter tersebut. Yakin seyakin-yakinnya, Dan Brown nggak asal jeplak ketika nyiptain karakter seorang profesor yang ahli bener soal simbol-simbol. Apalagi, ketika dikaitkan dengan setting lokasi yang merupakan kota suci Vatikan. Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit untuk mempelajari itu semua — mengingat jarak Amerika dan Eropa yang nggak mungkin ditempuh dengan sekali engklek. Tapi, hasilnya sepadan. Baik film maupun bukunya, laris manis kek cilok bumbu kacang. *lalu disambit Pakde Robert* Pembaca malah bisa dapat wawasan baru soal simbol-simbol, prosesi pemilihan Paus, atau soal karya-karya Da Vinci. Ya, meskipun kita tidak disarankan menelan mentah-mentah semuanya.
Lalu, kenal Ikal atau Lintang? Kalo kenal, pasti kalian juga kenal Andrea Hirata. Jika kalian berpendapat Andrea Hirata amat lihai menuliskan setting Pulau Belitung, itu karena ia memang putra Belitung. Ia memasukkan pengalaman hidupnya ke dalam tulisannya agar karya tersebut berkesan nyata. Serupa dengan karya-karya Dan Brown tadi, pembaca juga bisa mendapat bayangan seperti apa kehidupan di pulau tersebut, bagaimana bentang alamnya, suasananya, dll, dsb, dkk.
Kenapa jadi mendadak ngomongin setting lokasi sih, Moy?
Ya, karena itu penting. Apa jadinya naskah kalian kalo setting lokasi aja ngasal? Baru masuk meja redaksi aja udah pasti dapet omelan dari tukang reviewnya. Itu baru setting lokasi loh ya, belum perintilan lainnya. Misal kayak jadwal race-nya Om Rossi, yang kudunya hari Minggu, malah kalian tulis hari Rabu. Atau jadwal kereta yang kudunya pukul sembilan malam, malah ditulis pukul tujuh pagi. Kalo kalian lagi bikin fiksi fantasi mah bebaaaasssss mo bikin pukul berapa aja tuh kereta meluncur, tapi kalo bukan fiksi fantasi ya jangan atuh.
Misal lagi nih, warna pelangi yang kudunya ada tujuh, malah kalian tulis sepuluh. Itu yang tiga nyomot dari mana? Atau pentol cilok yang kudunya pake tepung kanji, malah kalian tulis pake tepung beras. Nggak jadi cilok, malah jadi bubur sumsum. *mendadak baper, eh, laper*
Sedikit berbagi pengalaman waktu saya nulis Constellation of Love. Si tokoh utama adalah seorang gadis yang gemar dengan ilmu astronomi. Saya? Boro-boro gemar astronomi, daftar zodiak aja nggak apal. Eh, itu mah astrologi yak. Maap, maap.
Singkatnya, saya belajar lagi. Saya mencari tahu apa yang saya butuhkan. Saya membuka banyak sekali laman astronomi, baik yang resmi maupun dari blog-blog pencinta astronomi. Saya bahkan sampai mencari tahu teleskop jenis apa yang banyak beredar di pasaran. Tapi, tidak semua informasi bisa saya masukkan ke dalam naskah. Saya menyaringnya lagi, mengecek ulang, dan setelah yakin, baru saya berani memasukkannya ke dalam naskah.
Begitu pula ketika saya mengedit sebuah naskah. Bolak balik ngecek kamus, buka browser buat cek data, buka KBBI lagi, lalu Google Translate, lalu KBBI lagi, dan berakhir dengan ngintip temlen pesbuk. *kembali disambit Pakde Robert* Semua demi sebuah kesesuaian. Kalian pikir saya akan telan begitu saja ketika dalam naskah nemu nama tempat yang sebelumnya tidak pernah saya tahu atau dengar? Tidak. Saya pasti mengeceknya. Minimal menyamakan penulisan serta membaca sedikit ulasan mengenai tempat tersebut. Karena kalo sampe kesalahan itu muncul setelah buku terbit, sayalah yang akan diminta foto bareng, eh, dicaci maki oleh pembaca. *malah tsurhat*
Jadi, inti dari tsurhatan random ini adalah, sayangi naskah kalian. Perlakukan karya kalian dengan baik. Caranya? Dengan tidak melakukan hal konyol bernama ‘malas riset’. Riset paling mudah memang lewat internet. Tapi, ingat, bijaklah menyaring semua informasi yang kalian baca.

Salam lemper, eh, cilok.

Moy dan Ru

“Kamu bisa jatuh cinta tanpa jatuh hati, Ru?”

Ru memandang perempuan di sebelahnya, menatapnya lekat-lekat seolah-olah perempuan itu makhluk asing yang baru turun dari unidentified flying object. Seolah-olah perempuan itu baru saja menenggak bergalon-galon bir tanpa es batu. Seolah-olah ada makhluk astral yang menumpang sejenak di otak perempuan itu, mencuci otaknya, lalu pergi tanpa permisi.

Tapi, yang Ru lihat hanya sorot kesungguhan dari perempuan itu. Dan, itu aneh, pikir Ru.

“Jatuh cinta itu sakit, Ru.”

Ru tidak menanggapi. Tepatnya, bingung harus bereaksi seperti apa. Belum sampai lima menit lalu, mereka membahas hal lain, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri mereka. Jenis obrolan siang hari, berteman sekantung besar keripik kentang rasa pedas – kesukaan Ru – dan dua gelas besar susu kocok rasa cokelat – kesukaan Moy, yang terpaksa pula Ru nikmati karena Moy memaksanya. Benar-benar tipikal pertemuan dua orang tanpa embel-embel ikatan apa pun.

Moy memainkan gelas minumannya, memutar-mutarnya perlahan. Sesekali ia angkat gelas plastik itu sejajar matanya, hanya untuk mengamati tetes-tetes embun yang menempel di sana. Ia tahu, Ru tidak mungkin menanggapi ucapannya, tapi ia menunggu, dengan persediaan kesabaran tak terbatas. Susu kocoknya sudah hambar, sudah tak layak disebut minuman manis.

“Kenapa kita di sini, Ru?”

Ru menghela napas panjang. Satu kali, tapi cukup panjang untuk diterjemahkan menjadi novel seribu halaman. Moy tahu itu. Moy paham itu.

Ru meraih jemari Moy yang bebas. Ia tak punya kata-kata, ia tak punya janji-janji. Yang Ru punya hanya perhatian, dari jarak jutaan tahun cahaya. Moy tahu itu. Moy paham itu.

“Kenapa harus jatuh cinta tanpa jatuh hati, Moy?”

Suara Ru terdengar bermil-mil jauhnya dari gendang telinga Moy, bahkan nyaris tak tertangkap getarannya.

“Agar hati tak tercabik-cabik ketika cinta habis, Ru.”

“Ah, Moy…”

Sehelai daun gugur dan mendarat lembut tak jauh dari kaki Moy. Warnanya kuning kecokelatan, warna rapuh yang melegenda. Mungkin begitulah warna hatiku, pikir Moy.

Genggaman tangan Ru menguat, membuat Moy beralih dari daun gugur ke wajah lelaki di sampingnya. Moy merasa dirinya berdiri di tepian kolam luas, bersiap menyelam ke dalamnya. Begitu banyak persiapan supaya ia sukses menyelam tanpa takut terbawa arus. Tapi, ketika ia hendak terjun, sesuatu menahannya.

“Jangan,” titah suara lembut itu, yang tak lain adalah suara Ru. “Kamu tidak akan pernah tahu seberapa dalamnya. Siapa yang akan menolong kalau kamu tenggelam?”

“Aku tidak akan tenggelam, Ru. Tidak untuk yang kedua kalinya.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

Sorot mata Ru meragukan jawaban Moy.

“Jangan khawatir, Ru. Sebab, kolam yang akan kuselami tidak sama dengan sebelumnya. Kali ini aku tahu seberapa dalamnya, aku tahu seberapa deras arusnya. Kamu tidak perlu khawatir.”

Ru menghempaskan punggungnya ke sandaran bangku taman. Ini yang ia takutkan, bahwa Moy akan mengulang kesalahan yang sama. Dan, pada akhirnya, Ru harus datang menolongnya. Kali ini tidak akan berhasil, pikir Ru.

Senja muncul tanpa permisi, membawa kemilau jingga ke dinding retina. Angin mengembuskan hawa yang lebih dingin dibanding satu jam yang lalu, ketika Moy dan Ru baru saja datang. Lampu-lampu di sekitar mereka mulai menyala, memberi cahaya lembut pada perdu dan pohon jepun di sekitar mereka. Dan, alunan seruling mulai terdengar dari radio entah-milik-siapa. Malam memang segera datang, tapi Ru belum bisa membawa Moy pergi dari tempat itu. Ru tahu, setelah ini, akan ada hal lain yang ingin Moy bicarakan.

“Jangan menatapku seperti itu, Ru.”

Ru melebarkan matanya, yang sesungguhnya tidak signifikan terlihat perbedaannya.

“Aku sudah melantur, ya?” Moy menunduk, kembali menekuri gelas plastik di tangannya. “Ayo pulang, Ru. Aku lelah.”

Akhirnya, pikir Ru. Obrolan tadi benar-benar membingungkan. Seperti melompat-lompat di jalanan berlumpur, demi menghindari genangannya.

Ini sudah bulan ketiga puluh tujuh, keadaan Moy belum berubah sejak pertama Ru menemukannya.

Ya, Ru menemukan Moy di sebuah acara pernikahan. Acara yang seharusnya sakral itu kocar-kacir gara-gara seseorang membuka sejarah Moy di depan para undangan.

Ya, itu pernikahan Moy yang kocar-kacir. Mempelai pria tidak mau mengucap sumpah pernikahan karena Moy ternyata belum sembuh.

Sebenarnya, Moy bukannya belum sembuh, tapi ia sengaja melewatkan banyak sekali sesi, hanya untuk duduk di sebuah bangku taman. Moy lebih suka duduk di bangku kayu keras dengan pelitur tidak rata daripada sofa lembut nan empuk yang berada di ruangan beraroma lavender. Moy tidak suka lavender, Moy lebih suka aroma teh hijau. Sofa dan lavender tidak akan membuatnya sembuh. Bangku tamanlah yang membuatnya sembuh. Juga, Moy tidak suka orang asing bertanya terlalu banyak soal dirinya.

Ru bukan orang asing bagi Moy, meskipun mereka baru bertemu kala itu. Bagi Moy, sorot mata Ru seolah-olah sudah pernah – dan selalu – hadir sepanjang dua puluh tujuh tahun perjalanan hidupnya. Ketika bahkan keluarga Moy sendiri mengabaikannya dan lebih sibuk mengurus katering yang terlantar, Ru meraih tangannya dan membawanya berjalan-jalan. Moy tidak paham apa yang Ru lakukan, tapi ia menurut saja — sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan terhadap orang asing.

“Kita duduk di sini saja,” ucap Ru kala itu, di sebuah bangku taman, membuka obrolannya dengan Moy.

Moy bergeming. Benaknya masih berkutat soal pernikahannya yang batal. Dinding retinanya masih terisi raut wajah yang dulu katanya sangat mencintainya, tapi berbalik seratus depalan puluh derajat ketika tahu bagaimana masa lalunya. Moy sendiri bukannya tidak pernah membicarakan hal itu dengan kekasihnya, tapi memang ia tidak pernah cerita mendetail, apalagi mengenai kegiatan membolosnya. Harusnya itu bukan masalah. Toh Moy merasa yang terpenting adalah hasil akhirnya, bukan prosesnya.

Ya, Moy memang sudah sembuh. Ia tidak pernah lagi mengurung diri berhari-hari di kamarnya sambil menangis. Kebanyakan orang-orang berpikiran ia terkena pengaruh ilmu hitam. Padahal, tidak ada yang tahu kalau Moy pernah nyaris mati di tangan salah satu teman SMA-nya yang, yah, kebetulan saja jadi kekasihnya kala itu. Bahkan, orang tua Moy sendiri tidak tahu hal itu. Yang mereka tahu; anaknya bermasalah dan harus segera mendapat pertolongan. Moy berakhir di sofa empuk dalam ruangan beraroma lavender.

“Kamu siapa?” tanya Moy, membalas ajakan Ru untuk duduk.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Ru. “Hanya seseorang yang kerap mengamatimu duduk di bangku ini… sejak tujuh tahun lalu.”

Tubuh Moy limbung. Ru dengan sigap meraih lengan Moy dan membimbingnya untuk duduk.

“Sudah kubilang, kita duduk di sini saja,” kata Ru.


Sejak saat itu, Ru tidak pernah meninggalkan Moy, bahkan ketika Ru teramat jengkel karena tidak paham apa yang Moy bicarakan.

Peran First Reader Bagi Penulis



Beberapa hari terakhir, saya lagi kumat jahilnya. Paling enggak, udah dua kali saya aplot screenshot dari naskah-naskah yang typo. Kesalahan mereka nggak cuma kesalahan biasa kayak seputar salah ngetik kata atau salah membedakan ‘di’ sebagai kata depan dan ‘di’ sebagai awalan. Kesalahan mereka cukup fatal dan bikin jempol saya gatel buat aplot di sosmed. (penasaran ya typo-nya apaan? hihihi… liat aja di akun sosmed saya)

Komentar yang nongol pun beragam, mulai dari ketawa miris sampai ngakak kejang. Bahkan ada teman yang ngatain saya terkena sindrom. Entah sindrom apa yang dia maksud. Dan, ada juga ngasi komen dengan sebuah pertanyaan, “Ini kalo yang punya naskah tau usahanya dipamer-pamerin gimana rasanya ya?”

Dari situ saya langsung ngerasa kayak ditimpuk cireng sebaskom dan bikin saya jadi mikir keras. Iya yah, kok saya jahat banget ngaplot potongan naskah mereka tanpa izin, meskipun saya nggak mencantumkan nama penulisnya.

Tapi saya nggak nyesel ngaplot typo mereka. Jahat, memang, tapi saya punya maksud di balik tindakan itu. Saya berharap mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama sebelum mengirimkan naskah ke penerbit. Itu berlaku untuk si pemilik naskah dan juga para penulis pemula yang sedang berjuang mengantarkan naskah mereka menuju kesuksesan.

Yah, sebenarnya bisa aja sih saya langsung ngasi tau penulisnya soal typo itu, plus ngasi tips n trick biar nggak melakukan kesalahan yang sama. Tapi, mungkin ilmu itu hanya akan dinikmati oleh satu orang. Atau paling banter ya cuma beberapa orang aja kalo kebetulan si penulis meneruskan ilmu tersebut ke teman-teman terdekatnya. Padahal pengennya ya semua penulis pemula bisa mendapat ilmu itu.

Makanya beberapa hari lalu saya posting soal Self Editing. Artikel itu saya buat gara-gara saya gregetan. Sekian kali saya ngereview naskah yang masuk ke JP, selalu saja menemukan kesalahan yang sama. Saya jadi sampe kepikiran kalo mereka ini ngirim naskah begitu mereka selesai ngetik kata ‘THE END’ atau ‘TAMAT’.

Sekarang, kita akan bergerak satu langkah lebih jauh lagi, ke titik di mana kita membutuhkan First Reader.

Apa sih first reader itu?

First reader adalah pembaca pertama naskah mentah kita. Kenapa disebut mentah? First reader ini jadi semacam perwakilan calon konsumen buku kita. Merekalah yang pertama kali akan menemukan kesalahan-kesalahan yang nggak tertangkap mata kita. Mereka mungkin juga akan memberi masukan untuk naskah kita, dan masukan itu bisa aja nggak pernah kepikiran di otak kita tapi ternyata efeknya dahsyat. Kritikan mereka akan membuat naskah mentah kita menjadi naskah setengah matang. Kita mungkin perlu mengulangi proses itu sekali lagi untuk membuat naskah kita benar-benar matang dan siap dikirim ke penerbit atau ke sebuah kompetisi menulis.

First reader bisa siapa saja. Yang penting kita tau mereka bisa ngasi pendapat yang objektif. Kalau jelek, ya katakan jelek. Kalau bagus, ya katakan bagus. Mudahnya, kita bisa sodorin naskah mentah itu ke temen yang hobi banget baca novel. Jadi, karena si temen ini udah biasa baca karya penulis yang udah punya nama, maka dia bisa ngasi perbandingan. Tapi bukan berarti niat nyuruh kita buat ngikutin penulis lain lho yak. Maksudnya, karena si teman ini sudah terbiasa membaca yang baik, maka dia akan dengan mudahnya menemukan yang tidak baik di naskah kita.

Kita boleh kok berdebat dengan first reader kita. Sebab, kita nggak perlu serta-merta nurutin semua sarannya. Mungkin si teman ini menemukan sesuatu yang janggal pada naskah kita dan menyarankan kita untuk mengubahnya. Tapi di sisi lain, kita memang sengaja membuat kejanggalan itu dengan sebuah tujuan. Ya bisa aja kan, karena kita niat bikin trilogi, jadi kita menyisipkan kejanggalan tersebut di buku pertama untuk nanti dipecahkan di buku kedua atau ketiga.

Apakah first reader hanya boleh satu orang? Enggak kok. Boleh berapa aja, terserah si penulis. Semakin banyak first reader, semakin banyak pula kemungkinan saran yang kita terima. Tapi ya jangan terlampau banyak. Yang penting mereka bisa dipercaya. Sebab, dari merekalah kita mungkin akan menemukan beberapa alternatif cemerlang untuk naskah kita.

Sahabat sekaligus temen berantem saya, Citra Rizcha Maya, selalu mengirimkan naskah mentahnya ke saya sebelum dia mengirimkannya ke panitia lomba menulis (waktu itu dia lagi gila lomba hihihi…). Dia selalu minta saya untuk ngasi kripik pedes buat naskahnya. Yang terakhir, baru aja dia lakukan minggu lalu. Padahal, dia bukan pemain baru di jagad pernovelan. Dia sudah menerbitkan tiga buku tunggal dan ikut beberapa antologi cerpen. Tapi, dia tetap merasa perlu menyodorkan naskah mentahnya untuk dibantai first reader. Kenapa? Ya jelas tujuannya untuk meminimalkan jumlah kesalahan yang terjadi. Jadi nanti si reviewer di penerbitan nggak langsung men-skip naskahnya.


So, gimana? Udah nemu siapa aja yang bakal kalian todong untuk jadi first reader? Jangan sampe naskah kalian nanti jadi korban keisengan editor bawel macam saya lho hihihi….