Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

When Humphrey Meets Miss Margarita

136435509583024074

Seharusnya aku sudah pulang setengah jam yang lalu. Seharusnya saat ini aku berada di subway menuju Brooklyn. Dan, seharusnya aku tidak menunggui gadis ini!

“Bisa aku minta lagi yang seperti ini?” pintanya.

“Aku takut, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, Nona.”

“Kenapa?”

“Itu sudah gelas yang kelima. Aku takut, jika kau minum satu gelas lagi, tubuhmu akan tumbang.” Sambil membereskan gelas-gelas bir, aku berusaha memberi pengertian padanya.

Dia tertawa. “Tumbang?” Tertawa lagi. “Aku tidak pernah tumbang. Kapan kau melihatku tumbang? Ingatkan aku, hei, bartender!”

Gadis ini rupanya sangat sombong. Ia tidak sadar sedang meracau soal dirinya sendiri. Mungkin aku memang belum pernah melihatnya tumbang. Jangankan tumbang, aku bahkan tidak mengenalnya. Tapi, memang rasanya wajah gadis ini tidak asing. Apa mungkin aku pernah bertemu dengannya di subway? Atau, di fresh market? Ehm, mungkin aku melihatnya di televisi.

“Lebih baik kau pulang saja, Nona. Aku sudah mau menutup tempat ini. Sudah jam tiga pagi dan aku seharusnya sudah pulang setengah jam yang lalu,” kataku. Semoga gadis ini tidak tersinggung dengan ucapanku.

“Jadi, kau mengusirku? Kenapa? Apa kau pikir aku tidak punya uang?”

Dia membuka tas tangannya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus dollar, dan menyodorkannya padaku. Padahal, bukan itu maksudku.

“Tidak, Nona. Bukan seperti itu. Ini sudah pagi. Dan, kau sudah meneguk lima gelas margarita. Aku benar-benar takut lambungmu terkena masalah. Apa perlu aku pesankan taksi?” Aku berusaha berbaik hati, walaupun aku jengkel setengah mati dengan gadis ini.

Baiknya kuceritakan dulu soal gadis ini. Pukul sembilan ia datang. Ia duduk di sudut ruangan dan hanya memesan kopi hitam tanpa gula. Mungkin sekitar dua jam ia di sana. Lalu, perlahan ia beringsut mendekati meja bar. Ia memesan margarita pertamanya, menegak habis, dan meminta gelas kedua. Di gelas kedua, ia mulai meracau. Seterusnya, sampai gelas kelima.

Please….” Jeda sedetik. “What’s your name?”

“Humphrey. Dan Humphrey. You can call me Dan.”

“Okey, Dan. Aku… sedang tidak ingin pulang. Bisakah kau carikan aku tempat untuk bermalam?”

“Ada motel di ujung blok.”

Nooo…. Bukan tempat seperti itu. Bagaimana jika di tempatmu saja?”

Woaa!!! Apa-apaan ini? Aku sedang berniat mencari teman kencan semalam. Aku punya kehidupan yang tidak ingin kubagi. Apalagi dengan gadis asing seperti yang ada di hadapanku saat ini. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, tiba-tiba terdengar suara rem berdecit di luar bar. Dua mobil SUV hitam berhenti mendadak di depan sebuah butik yang terletak di seberang jalan. Sekitar enam orang turun dari dua mobil tersebut. Tubuh mereka menunjukkan hasil latihan fisik yang rutin dan disiplin. Dua di antara mereka masuk ke bar milikku. Pintu bar memang belum aku kunci – berharap gadis ini pulang dengan segera, lalu aku bisa mengunci pintunya.

Dua pria bertubuh tegap berdiri tak jauh dari pintu, keduanya menyapu pandangan ke tiap sisi ruangan. Mereka tidak menemukan siapa-siapa selain aku dan gadis ini.

“Mencari siapa, Tuan-tuan?” tanyaku masih dari balik meja bar.

“Miss Lohan. Kau melihatnya?” tanya si pirang bertato naga di lengannya.

Aku melirik gadis di depanku. Aku perhatikan wajahnya sekali lagi. Astaga! Dia memang Lilo. Rambut hitam dan lensa kontak warna coklat itu mengaburkan deskripsiku. Dia menggeleng pelan, seolah sedang memberiku kode. Lalu, ia bersuara seperti desisan, yang akhirnya aku tahu itu sebagai kata “please”. Dia sedang memohon untuk diselamatkan.

Well, sebenarnya aku tidak rugi apa-apa jika kuserahkan dia kepada dua pria itu. Ada kemungkinan, nama barku akan muncul di berita pukul enam pagi. Itu akan menguntungkan usahaku. Tapi, aku bukan oportunis. Aku tidak mau menjerumuskan orang lain demi keuntungan pribadi. Banyak yang berpikiran aku seperti itu. Apalagi ketika aku masih menjalin hubungan dengan Serena Van der Woodsen.

“Sir?” si pirang mengagetkan aku. “Apa kau melihat Miss Lohan masuk kemari?”

“Lohan? Lindsay Lohan?” Aku tak percaya dengan pendengaranku.

“Ya. Lohan yang mana lagi?” sahut si botak.

“Bagaimana bisa Lindsay Lohan berkunjung ke barku? Ini bukan bar sekelas Golden Paradise di Manhattan. Kalian pasti salah informasi.”

“Informan kami tidak mungkin salah,” sahut si pirang. “Satu jam yang lalu, informan kami mengatakan melihat Miss Lohan di bar ini.”

“Tunggu dulu. Kalau pun memang dia kemari, bukankah itu haknya?”

“Kau tidak lihat berita hari ini?”

“Aku terlalu sibuk di balik meja ini. Jadi, ya… aku tidak menonton berita. Ada apa?”

“Miss Lohan akan berangkat ke LA kurang dari enam jam lagi. Dia harus menjalani rehabilitasi ketergantungan alkohol selama 90 hari. Tapi, tadi malam ia kabur.”

Aku seharusnya terkejut. Nyatanya tidak! Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap gadis ini. Oke, aku sedikit menyesal telah menolongnya. Tapi, ketika aku melihat kembali mata Lindsay, banyak kesengsaraan di sana. Aku menyerah.

“Sir,” ucap si pirang.

“Yeah?”

Is she your girl?” tanyanya lagi.

Harus kujawab apa? “Yes. She’s my girl.” Sudah kukatakan, aku menyerah.

Kedua pria itu keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Dan, kedua SUV hitam itu segera menghilang dari tempat parkir.

“Apa kau akan menjelaskan sesuatu?” tanyaku.

Lindsay menunduk, bahunya bergerak naik-turun. Lama-lama, isakannya makin jelas.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi,” katanya. “Aku ingin berhenti, tapi sulit. Tubuhku selalu memintanya, otakku selalu memerintah tanganku untuk terus menghabiskan minuman itu sampai tetes terakhir. Aku lelah, Dan. Tapi, aku tak sanggup berbuat apa-apa.”

“Mungkin memang kau harus menjalani rehabilitasi itu supaya kau tahu bagaimana harus bertindak.”

“Tidak, Dan! Tempat rehabilitasi itu seperti penjara. Mereka tidak membiarkan kau seenaknya berjalan-jalan di sana. Kau akan banyak menjalani tes-tes memuakkan. Apalagi kepada orang semacam aku. Seolah mereka tak peduli jika aku ini juga manusia. Aku muak dengan mereka, Dan! Aku menginginkan pelukan nyaman dari orang yang menyayangiku. Aku butuh sapaan hangat dari mereka yang mengenalku. Bukan sorotan terus-menerus yang membuatku tak tahu harus berbuat apa. Dan, margarita ini…, selalu menjadi temanku setelah semua yang terjadi di depan kamera.”

Lindsay membenamkan wajahnya dengan kedua lengannya. Isakannya masih terdengar.

“Aku ingat filmmu yang menceritakan tentang keberuntungan. Kau bertukar keberuntungan dengan seorang pemuda tampan hanya gara-gara sebuah ciuman di sebuah pesta topeng.”

Lindsay mengangkat kepalanya. “Film konyol. Aku bersedia bermain di sana hanya karena aku berhutang kepada Halley Duff.”

“Aku tidak menanyakan itu. Yang aku ingin tahu, bagaimana jika kau diberi satu kesempatan lagi untuk memperbaiki hidupmu?”

“Bisakah?” Dahinya berkerut.

“Siapa tahu, kau menemukan sesuatu…, atau seseorang di LA, yang bisa mengubah hidupmu.”

Lindsay bangkit dari kursi. Ia kembali merogoh tasnya dan mengeluarkan empat lembar seratus dollar. “Terima kasih untuk bantuannya. Terima kasih telah membohongi dua penjagaku tadi. Terima kasih… karena sudah menjadi teman mengobrol, walaupun hanya sebentar. Aku berharap… akan ada banyak percakapan di antara kita. Tapi, ya…, kau punya kehidupan yang tak mungkin kau bagi denganku, pecandu margarita yang payah.”

Lindsay melangkah ke pintu bar.

“Kau mau ke mana?” Aku seperti setengah berteriak.

Don’t know yet. Going somewhere but here.”

Lindsay keluar dari bar. Ia menengok kanan-kiri, lalu menyeberang jalan. Dan, punggungnya pun menghilang di balik temaram malam.


Sumber gambar, klik image.

Sepotong Waktu di Halte Bus


Aku melihatnya lagi. Di duduk di tempat yang sama setiap harinya – di bangku paling tepi sebelah kanan. Dia datang pada waktu yang sama tiap harinya, sore hari menjelang senja menampakkan diri di horison barat. Sambil menekuni hiasan manik-manik pada tas tangannya, sesekali ia melongok ke sebelah kanan, seolah menunggu sesuatu – atau seseorang. Kadang juga ia membuka tasnya, mengeluarkan selembar tisu, lalu mengusap sesuatu yang meleleh dari matanya. Dia menangis tanpa suara, dan tanpa raut sedih. Di hari ke sekian aku melihatnya lagi duduk di bangku yang sama, aku tak tahan. Maksudnya, aku terlalu sentimental melihatnya menangis. Jika ia perempuan normal, menangis biasanya tersedu-sedu. Atau, paling tidak, tunjukkanlah ekspresi sedih. Hei, aku hampir saja menyebut perempuan itu ‘tidak normal’. Lancangkah aku? Tapi, aku tidak melantangkan kalimat itu di depannya.

Tahu apa yang membuatku terperangah suatu hari? Ia bicara padaku! Ya, bicara! Seperti manusia normal kami berbincang.

Awalnya, dia menanyakan pukul berapa saat itu. Aku melihat di pergelangan kirinya, jam tangan warna marun yang biasa ia pakai tidak ada di sana. Aku katakan padanya, masih cukup terang untuk melihat apa yang ia tunggu. Dia kembali diam dan meniti lagi manik-manik di tasnya. Apa yang membuatku gusar adalah hal yang ia tunggu. Aku tak pernah bisa tuntas mengetahui apa yang ia tunggu. Aku selalu pergi dari halte itu ketika bus pukul enam datang. Tak jarang, aku ingin mengabaikan saja bus pukul enam itu, menemaninya sampai apa yang ia tunggu akhirnya tiba. Tapi, itu berarti, aku harus kehilangan lima dolar untuk semalam – dan untuk selama-lamanya karena pria kurus yang kusebut ‘bos’ itu tak akan mau memakaiku lagi sebagai pekerjanya. Tapi, rasa penasaranku semakin besar terhadap perempuan itu.

Kuceritakan, perempuan itu cantik, tapi kecantikannya terhalang awan kelabu yang bernama kecemasan. Kantung matanya menghitam, tapi ia mahir menutupnya dengan riasan. Wajahnya seolah tanpa noda, tirus, dan pucat. Bibir tipis itu selalu menggodaku, tak pernah terlapisi perona apa pun. Nampak alami dan – sekali lagi – sangat menggoda! Perempuan ini kira-kira sedikit lebih pendek dari aku – jika ia melepas alas kakinya yang tebal itu. Aku, lelaki dengan tinggi 6,5 kaki. Cukup tinggi. Dan, kuharap cukup berani untuk melewatkan saja bus pukul enam itu. Demi melihatnya lebih lama lagi.

Dan, aku benar-benar melakukannya malam ini! Ehm, tidak. Tepatnya, aku tertinggal bus itu. Aku baru sampai di tikungan blok ketika bus itu tiba di halte. Aku sudah berlari, tapi bus itu sudah melaju terlalu jauh. Akhirnya, setelah berlari hampir setengah mil – aku berlari sejak keluar dari apartemenku – aku kembali ke halte dan menghempaskan begitu saja tubuhku ke bangku. Aku sampai tidak melihat perempuan itu, dia ada di sana dan melihatku dengan tatapan empati.

“Hai,” sapaku. Aku bahkan tak sadar, aku sudah menyapanya!

Perempuan itu hanya tersenyum takut-takut. Entah mengapa. Padahal tak ada orang lain di sekitar kami. Aku hanya berdua dengannya di halte ini.

“Jangan takut!” kataku lagi, yang sedetik kemudian kusesalkan telah mengucapkannya.

“Aku tidak pernah takut.” Ajaib! Dia membalas perkataanku!

“Aku tidak menyebutmu begitu.”

“Kau menyebutnya. Kau menyuruhku agar jangan takut.”

“Kalau begitu aku minta maaf.”

Dia diam saja.

“Sebenarnya aku ingin bertanya padamu. Banyak hal. Maukah kau menjawabnya?”

Dia masih diam.

“Hei, aku bicara padamu. Bukan pada poster usang di belakang tempat dudukmu.”

Dan, dia tetap diam! Lalu, dengan gerakan terburu-buru, ia mengambil secarik kertas dan pena dari tasnya. Ia menulis sesuatu pada carik kertas itu, juga dengan terburu-buru. Selesai, ia meremas-remas kertas itu dan melemparnya ke dekat kakiku. Saat itu aku belum sadar apa yang ia lakukan. Dan, tiba-tiba saja sebuah Ferrari menikung tajam dari sudut blok, berhenti tepat di depan halte, lalu salah satu pintunya terbuka dengan cepat. Perempuan itu langsung masuk ke dalam Ferrari dan menghilang ke arah selatan.

Aku tersadar sekian detik kemudian. Kupungut kertas yang tadi dilemparnya ke arahku.

Jangan pergi dari halte ini. Satu jam lagi aku kembali. Dan, di saat aku kembali, jangan sampai pengemudi Ferrari ini melihatmu.

Ini betulan? Atau… apa? Apa yang ia lakukan selama satu jam dengan orang di dalam Ferrari itu? Ingin rasanya mencari tahu, tapi untuk apa? Aku bahkan tak mengenal perempuan itu. Aku tak tahu siapa namanya, di mana ia tinggal, apa pekerjaannya. Dan, sekarang perempuan itu menyuruhku menunggunya. Huh?! What a day!

Aku menyeberang jalan, masuk ke dalam sebuah café dan memilih bangku yang bisa leluasa memandang halte. Kaca pada dinding ini hanya bisa untuk melihat keluar dan tidak sebaliknya. Aku memesan segelas bir, lalu mulai menunggu.

Satu jam berlalu, aku sudah menghabiskan lima batang kretek. Tapi, Ferrari itu belum juga datang. Ya, sudah. Aku memutuskan, perempuan itu gila! Tapi, mungkin aku lebih gila darinya karena sudah mempercayai kata-katanya. Aku berdiri, membayar tagihanku, dan mengambil koran edisi pagi tadi. Yeah, aku harus mencari pekerjaan baru malam ini.

Baru saja aku membuka pintu café, suara berdecit itu muncul. Dia datang! Hatiku memberi tahu otakku! Kututup lagi pintu café, aku menunggu di ambangnya. Kendaraan merah menyala itu menurunkan seorang wanita di halte, lalu melaju lagi dengan kecepatan tinggi. Mataku mengikuti sedan merah itu sampai menghilang di balik tikungan blok. Lalu, mataku beralih pada perempuan di halte itu. Astaga! Apa yang terjadi?

Aku membuka pintu café dan langsung berlari menyeberang. Dua detik kemudian, aku sudah di hadapan perempuan itu. Pakaiannya tak keruan, compang camping, seperti terburu-buru ia memakainya. Riasannya terhapus di beberapa bagian, kecuali di bibirnya karena perempuan itu tak pernah memakai lipstick.

“Apa yang terjadi?” Kuberanikan diri bertanya.

Perempuan itu menangis dan langsung menghambur ke tubuhku. Air matanya membasahi kemejaku. Dia mendekapku seolah tak ingin kehilangan. Tangisnya bersuara, ada isakan yang memilukan. Aku lingkupkan kedua tanganku ke tubuhnya. Ya, Tuhan! Dia kurus sekali!
Tak lama kemudian, tangis berhenti, tapi isaknya masih terdengar sesekali. Dan, dia masih bertahan mendekapku.

“Sudah bisa bicara?” tanyaku pelan-pelan.

“Kau boleh membawaku,” katanya, sambil melepas dekapannya. “Aku perempuan bebas sekarang.”

“Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.”

“Aku menunggu saat ini datang,” katanya sambil menatapku. “Aku tahu saat ini pasti datang, hanya saja tak tahu kapan.”

Aku makin tak mengerti.

“Tadi pagi aku mendapat kabar dari Bronx, ibuku meninggal. Jantungnya sudah tak kuat lagi menahan derita. Aku tidak menangis karena berita itu, karena itu artinya, aku sudah bebas. Setiap malam, aku tidak perlu lagi masuk ke Ferarri itu, menyodorkan tubuhku untuk pemiliknya, dan menerima lima puluh dolar untuk satu jam. Pria itu selalu kasar, tapi aku butuh dia. Aku butuh uangnya, hanya agar ibuku mendapat perawatan layak di rumah.”

Ah, aku sedikit mengerti sekarang. Kubiarkan perempuan itu melanjutkan ceritanya.

“Ketika aku melihatmu pertama kali, aku tahu, aku bisa bahagia denganmu.”

“Whoaa! Kau tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan,” kataku.

“Aku tahu. Tapi, otakku selalu meneriakkan itu setiap melihatmu.”

“Jangan jadi naïf!”

“Aku tidak peduli.”

“Aku bukan orang yang tepat, Dear. Malam ini aku bahkan kehilangan pekerjaanku. Apa yang bisa kau andalkan dari pria macam aku? Aku tak mau kau menderita lagi. Lebih baik kau pergi ke tempat lain. Carilah orang yang bisa membahagiakan dirimu. Bukan dengan cinta semata. Karena cinta juga butuh uang untuk membuatnya tetap tumbuh. Tidak banyak, yang penting cacing-cacing di perutmu tidak meronta setiap harinya.”

Dia menggeleng, tak setuju dengan ucapanku.

“Aku bahkan tak tahu namamu,” kataku lagi.

“Jadi, kau tidak menginginkanku?” tanyanya. “Lalu, untuk apa kau menungguku malam ini?”

Ah, dia benar. Aku memang menunggunya. Tapi, itu lebih karena rasa penasaranku yang meledak-ledak di dalam sini, di otakku, juga di sini, di perutku, yang seperti diaduk oleh sayap raksasa kupu-kupu tropis. Aku menunggunya karena aku… peduli padanya.

“Baiklah,” katanya, “aku akan pergi. Aku akan menuruti ucapanmu, mencari yang lain, yang lebih tepat untukku. Meski dengan begitu, aku harus kembali menjual cintaku pada mereka yang mau menerimaku.”

“Kenapa kau sebut itu menjual?”

“Karena aku hanya mau memberikannya padamu, bukan kepada pria lain.”

“Oh, Dear. Itu… manis, tapi tak masuk akal. Kita tidak saling kenal.”

“Apa ini masuk akal untukmu?”

Dan, tiba-tiba saja, bibirnya sudah menyentuh bibirku, memagutnya perlahan dengan segala kelembutannya. Dadaku menjadi sesak, ingin meledak. Aku meraih pinggangnya, membawanya lebih dengan denganku. Dia menuruti apa yang kuperintahkan dengan tanganku. Aku membelai rambut hitamnya, seolah aku membelai sutra terbaik dari Asia. Aku sentuh tengkuknya, telinganya, wajahnya…, dadanya! Dan, secara tiba-tiba, ia melepas pagutannya, lalu pergi begitu saja, tanpa melihat lagi ke belakang. Dia juga lupa memberi tahu namanya padaku.

Aku tertegun memandang punggungnya yang semakin menjauh. Punggung terindah yang pernah kusentuh. Dan, setelah ia menghilang di balik tikungan blok, segalanya jadi masuk akal bagiku. Aku jatuh cinta padanya.



Kisah Al dan Maya - Chapter Thirty Two (tamat)

13423739781269166312


Hari Minggu yang tidak biasa di salah satu unit apartemen Greenish Residence. Sore ini, Rosi dan Rhein akan berangkat ke Jakarta. Rosi sekaligus kembali ke Sydney setelah urusan pekerjaannya selesai. Sementara Al akan mengantar Maya kembali ke rumah.

Sudah lebih dari dua minggu Maya meninggalkan rumah. Selama itu juga, ia tidak bicara dengan sang ayah. Banyak yang ia ingin bagi dengan pria tua itu. Pria yang benar-benar telah menjadi orang tua baginya, mengajarkan banyak hal padanya, dan menghujaninya dengan kasih sayang tak terukur. Maya tidak pernah menganggap Dahlan sebagai orang asing, walaupun ada satu kekurangan. Dahlan tidak bisa menikahkan Maya di kemudian hari.

Pintu apartemen sudah dikunci dan anak kuncinya sudah dikembalikan ke front office. Rosi dan Rhein sudah sedari tadi berangkat, tapi Al dan Maya masih berada di basement. Mesin Vios hitam itu menyala, namun Al masih belum ingin melajukan mobilnya.

“Kenapa, Al?” tanya Maya.

“Nggak ada apa-apa.”

“Terus? Kok nggak jalan? Ntar keburu kena macet di jalan.”

Al tertawa. “Bandung selalu macet, May. Kecuali kamu jalan jam dua pagi.”

Maya merajuk. Ia membuang muka ke samping.

“Enggak, kok, Sayang,” Al meraih jemari Maya. “Aku cuma pengen ngobrol sebentar.”

“Kan, bisa nanti di rumah,” sahut Maya.

“Di sini aja.”

“Emang mau ngomong apaan?”

Al membuka dashboard mobilnya, mengambil sesuatu yang tebal dan bersampul biru laut. Maya terkejut. Bagaimana buku hariannya bisa sampai ke tangan Al?

“Maaf. Nggak ijin dulu,” kata Al sambil menyerahkan buku harian itu kepada si empunya.

“Gimana bisa…?” Maya tercekat.

“Nggak perlu diceritain, ya?! Yang penting, kan, bukunya udah balik ke kamu.”

Maya tambah merajuk. Sambil bersungut-sungut di dalam hati, ia membuka-buka halaman buku hariannya. Maya punya pikiran, pasti ada yang berubah. Dan, Maya menemukan halaman yang tadinya kosong, kini telah terisi dengan tulisan yang bukan miliknya. Maya melihat ke arah Al. Ia ingin berteriak menyalahka Al, tapi rasa penasaran terhadap isi tulisan itu telah mengurungkan niat Maya.

Kita boleh saja bertengkar, mempermasalahkan hal klasik bernama strata sosial dan ekonomi. Tapi, aku rela melepas strata apa pun itu, demi bisa bersanding denganmu, Maya. Terdengar absurd?! Mungkin iya. Mungkin juga aku terlalu memaksakan diri. Tapi, apa ada hal logis dalam percintaan? Hal logis menurutku adalah, kau dan aku, kita berdua menjalani hidup bersama selepas ijab qabul. Bersedia?

Lepas membaca kalimat terakhir, Maya berpaling kepada Al dan bertanya, “Ini apa?”

“Ya… itu,” jawab Al kebingungan. Sejujurnya bukan itu reaksi yang ia harapkan.

“Maksudnya?” Maya masih belum paham.

“Maksudnya…,” Al merogoh saku celananya, “ini.” Al menyodorkan sebuah kotak cincin berwarna hitam.

Mata Maya terbelalak. Namun, detik berikutnya, ia menahan pekik gembira. Ia menerima kotak cincin itu dan segera membukanya. Lalu, ia terkejut untuk yang kesekian kalinya sore ini. Cincin yang Al berikan adalah cincin impiannya. Bentuknya sangat sederhana. Tidak ada batu mulia yang menghias di sana. Hanya ada ukiran dua nama anak manusia di lingkar dalamnya: Al & Maya. Maya heran, Al masih mengingat apa yang sebenarnya hanya menjadi selingan sebuah obrolan ringan. Karena, waktu itu belum terpikir sedikit pun segala tetek bengek pernikahan.

“Ya, ampun, Al. Aku pikir, aku akan dilamar di restoran mewah, pas acara makan malam romantis, pake lilin dan iringan musik. Ternyata kejadiannya di sini, di tempat parkir.” Maya menepuk dahinya. “Nggak romantis banget, Al.”

Al tertawa kecil. Ia tidak tersinggung dengan ejekan Maya. Ia hanya tersipu malu sambil menunduk.

“Jadi gimana jawabannya?” tanya Al malu-malu.

Maya berpikir sejenak, lalu bertanya, “Boleh pinjem bolpen?”

“Buat apa?”

“Mana bolpennya?” Tangan Maya menengadah.

Al mengambil pena dari laci dashboard dan memberikannya kepada Maya. Maya menerima pena Al dan langsung menuliskan kalimat singkat di bawah tulisan Al.

Ya. Aku bersedia. Kapan kita menikah?

Maya memperlihatkan tulisannya kepada Al. Giliran Al yang terbelalak setelah membaca tulisan Maya.

“Secepatnya,” Al langsung menjawab pertanyaan yang ditulis Maya. “Kita selesaikan dulu apa yang diminta Mamamu. Ingat,” raut wajah Al langsung berubah, “mungkin kita akan susah membujuk Mama agar mau menemui Mamamu di Jakarta. Sementara Mamamu minggu depan harus terbang lagi ke Sydney.”

Maya mengangguk. “Aku lebih khawatir soal Rhein, Al. Ada kemungkinan dia masih syok.”

Al menepuk bahu Maya. “Adikmu itu gadis yang kuat. Dia hanya korban keegoisan orang dewasa seperti Mamaku. Aku yakin, karena peristiwa ini, Rhein makin dewasa dalam berpikir. Dan, aku lihat, ternyata dia senang mendapatkan kamu sebagai saudaranya.”

Lima belas bulan kemudian….

Berta keluar dari ruangan kantornya. Ia melongok sebentar ke arah dapur. Tidak ada yang berantakan. Ia berlanjut menengok ke tempat penyimpanan peralatan makan. Ia melihat ada satu pegawai saja yang sedang bekerja. Ia menghampiri si pegawai yang kebetulan adalah siswi dari sekolah menengah kejuruan yang sedang magang.

“Yang tugas di sini siapa aja hari ini?”

Tiba-tiba Berta sudah berada di samping si pegawai magang. Si gadis tadi terkejut. Beruntung, sendok-sendok yang ia pegang tidak berhaburan ke lantai.

“Eng…. Anu, Bu. Yang piket sekarang saya sama Teh Dona. Tapi, Teh Dona barusan ke toilet,” jawab si gadis sambil gemetaran.

“Hmm…. Ya, sudah.”

Berta menyingkir dari ruang penyimpanan peralatan makan. Kini ia menuju ruangan utama restoran. Ia berdiri di samping konter kasir. Ia menyapu seluruh ruangan dengan pandangan puas.

Ya, benar. Kini ia berada di sebuah restoran di Jakarta. Bukan sebagai pemilik, hanya sebagai kaki tangan si empunya restoran, yang tak lain adalah Rosi. Ini sebagai sebuah konsekuensi yang harus diterima Berta. Rosi bersedia melunasi hutang Berta dalam tempo enam bulan dengan dua syarat mutlak. Pertama, operasional kebun teh berpindah ke tangan Rosi selama sepuluh tahun. Maksudnya, Berta tetap tertulis sebagai pemilik perkebunan itu, namun Rosilah yang menjalankan – mengelola dan mengambil 60% keuntungan kebun. Kedua, Berta harus bekerja mengurusi salah satu restoran Rosi di Jakarta. Itu berarti, Berta harus bersedia tinggal di Jakarta.

Awalnya Berta menolak solusi itu. Namum, ia diingatkan akan fakta, ia tidak akan mampu melunasi hutang meskipun ia menjual perkebunannya. Padahal, ia sudah berjanji pada kedua orangtuanya akan berusaha mempertahankan kebun walau dalam posisi terjepit sekalipun. Sulit bagi Berta untuk menerima kenyataan itu. Bahkan, ia tidak menanggapi usulan itu sampai berminggu-minggu lamanya. Sampai pada suatu pagi, tiba-tiba Berta terbangun dengan kesadaran penuh. Matanya nyalang menatap foto suaminya yang terpajang di dinding kamar. Lalu, bayangan-bayangan akan masa depan langsung belingsatan di benak Berta. Ia bahkan membayangkan jika ia harus hidup dengan bergantung pada Al. Itu pun kalau Al mau membantunya. Kejadian pagi itu ditutup dengan tersambungnya panggilan internasional ke Sydney.

Sekarang hutang Berta sudah lunas. Ia tidak kehilangan kebun tehnya. Ia hanya kehilangan sebagian besar pendapatannya dari kebun teh. Sepuluh tahun memang lama. Tapi, itu jauh lebih baik dari pada kehilangan harta keluarga.

“Selamat pagi, Bu Berta,” sapa pegawai di bagian kasir.

“Selamat pagi,” sahut Berta. “Gimana pemasukan pagi ini?”

“Baru separuh omset, Bu. Tapi, sebentar lagi jam makan siang, kemungkinan besar kita udah bisa nyampe ke target.”

“Bagus. Berterimakasihlah kepada tim promosi.”

Berta kembali ke ruang kerja. Hari ini dia harus mengecek pembukuan yang telah disusun akuntan. Tapi, ketika pintu terbuka, ia melihat Al dan Maya sudah berada dalam ruang kerjanya.

“Kapan kalian dateng?” tanya Berta.

“Baru aja, Ma,” jawab Maya. “Tadi Mama lagi ngecek ke dapur. Terus, kata waiter, kita disuruh langsung ke sini.”

Berta duduk di balik meja kerjanya. “Kalian udah mau berangkat ke Bandung?” tanya Berta sambil membuka-buka dokumen yang tertumpuk di mejanya.

“Iya, Ma,” jawab Al.

“Kapan kalian ke sini lagi?”

“Mungkin bulan depan,” jawab Maya. “Rhein minta ditemenin selama dia ujian nasional. Tapi, cuma Maya aja yang nginep. Al cuma nganter, terus balik lagi ke Bandung.”

“Jam berapa tadi Mamamu take off, Maya?”

“Jam enam lebih sepuluh menit,” jawab Maya.

Berta mengabaikan sejenak dokumen-dokumennya. Matanya kini menatap Al dan Maya, pasangan yang menikah tujuh bulan yang lalu. Raut wajah Berta berbeda dengan yang dulu. Kini ia lebih tenang, lebih bisa mengontrol emosi. “Makasih, ya,” ujarnya tiba-tiba.

Al dan May bingung.

“Makasih buat apa, Ma?” tanya Al.

“Buat semuanya. Kalau bukan karena paksaan kalian, mungkin Mama nggak ada di sini sekarang. Mungkin juga, Mama udah nyusul Papa.”

“Mama ngomong apa, sih?” tanya Al. “Nggak usah ngomongin yang udah-udah. Lagian, Mama seharusnya berterima kasih sama tante Rosi.”

“Sudah. Tapi, rasanya Mama belum puas kalau belum ngomong sama kalian.”

“Sudahlah, Ma,” sahut Maya. “Dengerin kata Al. Nggak usah ngomong yang udah lewat.”

Berta tersenyum dan mengangguk.

Di mobil, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, Maya lebih banyak diam dibanding biasanya. Wajahnya sedikit pucat dan hampir selalu tidak menghabiskan makanannya beberapa minggu terakhir. Al jelas khawatir.

“Kenapa diem aja, May?”

“Nggak apa-apa.”

“Jangan ngeles.”

Maya melihat Al, dan ia tersenyum. “Emangnya aku keliatan lagi ngeles?”

Al melihat kerling jahil di sudut mata Maya. “Oh, come on. Ada apa sebenernya?”

Maya merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda sepanjang batang es krim dan menyodorkannya kepada Al. Ternyata itu alat uji kehamilan. Ketika Al menerima alat itu, ia langsung menduga apa yang hendak Maya sampaikan.

“Beneran?” tanya Al bersemangat.

Maya mengangguk.

“Alhamdulillah. Udah berapa minggu?”

“Besok kita sama-sama cari tau ke dokter,” jawab Maya.

Al tersenyum. Ia merasa segalanya semakin lengkap sekarang.

THE END

Sumber gambar, klik image.

Kisah Al dan Maya - Chapter Thirty One

13423739781269166312


previous chapter

Rhein menghambur ke ranjang empuk berlapis sprei biru muda. Ia ingin sekali menangis, tapi tidak bisa. Padahal ia merasa hatinya teriris-iris setelah mendengar pengakuan Berta. Namun, kini otaknya yang lebih banyak bekerja dibanding hatinya. Banyak pertanyaan di benaknya, sebagian besar soal kebenaran pengakuan Berta. Ia tahu, jaman sekarang, uang telah mengusai hampir setiap hati manusia. Ia juga berpikir, bagaimana jika ia di posisi Berta. Sepertinya ia akan meniru cara Berta mendapatkan uang.

Tapi, kenapa tante Berta tidak mencari suami lagi – pikir Rhein – yang kaya raya, yang tidak khawatir kekurangan satu apa pun. Kenapa pula keluargaku yang harus menjadi korban? Kalau Mama tak sekaya yang tante Berta tahu, apa perjodohanku dengan Al akan tetap ada? Mungkin tidak, karena itu akan percuma. Dia tidak akan mendapatkan uang dari pernikahan itu. Pantas saja tante Berta sangat terpukul dengan kematian Maya Larasati, karena itu berarti dia kehilangan kesempatan menjadi besan dari eksportir furnitur rotan yang punya omset puluhan milyar tiap bulannya. Ah, apa aku harus menceritakan semua pada Mama. Kupikir, Maya juga perlu tahu. Tapi, kelihatannya mereka memang saling menyukai, walaupun aku belum pernah melihat kemesraan mereka. Apa karena ada aku, mereka jadi menjaga jarak? Sebenarnya aku tidak peduli jika mereka sampai menikah. Tapi…. Ah, kenapa aku malah merasa kasihan pada Maya?

Rhein berusaha menata semua pertanyaan itu, mengorek-ngorek jawabannya di kotak memori, lalu berharap kesimpulan akan segera muncul. Hanya saja, pikir Rhein, semuanya membuat aku mengantuk. Sangat mengantuk.

Rhein pun terlelap, ditemani udara sejuk yang keluar dari pendingin ruangan.

“Rhein…. Rhein….”

Seseorang yang kedengarannya berada jauh dari posisi Rhein berdiri, memanggil-manggil dirinya dengan lantang. Rhein mencari-cari sumber suara itu dan menemukan wajah Maya di sela-sela rimbun bunga kertas.

“Ngapain elu di situ?” Rhein bertanya seolah sebuah kesalahan jika Maya berada di sela rimbun bunga kertas itu.

“Kamu gadis yang baik,” ujar Maya.

“Elu ngomong apa, sih?” Rhein berbalik dan menjauhi Maya.

“Tunggu, Rhein,” Maya meraih tangan kiri Rhein.

“Ada apa?”

“Aku mau bilang sesuatu sama kamu,” jawab Maya.

To the point aja,” sahut Rhein yang masih sedikit kesal.

“Aku…,” Maya ragu sejenak, “aku…. Ehm, gini. Kalau emang kamu ngerasa nggak nyaman sama aku, aku akan mundur.”

“Mundur? Maksudnya?”

“Aku akan menjauh dari kalian,” ujar Maya dengan mantap, dengan binar keseriusan di matanya, dan air muka tanpa ragu.

“Menjauh gimana maksudnya?” Rhein makin bingung.

Maya malah tersenyum dan seolah tubuhnya berubah menjadi transparan. Rhein mencoba menyentuh tubuh Maya, tapi tidak bisa. Ia seperti menampar udara di depannya.

“Maya…. Elu jangan becanda, deh. Maksud lu apa? Gue nggak ngerti.” Rhein cemas, karena sekarang Maya hampir hilang dari pandangannya. “Maya!” seru Rhein, tapi Maya tak bereaksi. Ia terus menyebut nama Maya, berusaha mengembalikan wujud Maya. Suaranya melemah dan ia terduduk di dekat rimbun bunga kertas.

“Rhein…. Rhein….”

Rhein mendongak. Suara itu lagi, gumamnya dalam hati. Tapi, ia tidak mendapati sesiapa pun di dekatnya. Ia benar-benar sendirian, dengan suara seseorang memanggil namanya. Ia kembali meringkuk ketakutan. Ia dekap lututnya dan mulai menangis.

“Aku tahu aku salah, Maya. Tapi, tolong jangan hukum aku seperti ini.”

“Rhein…. Rhein…. Bangun, Rhein.”

Mata Rhein terbuka. Ia tidak berada di dekat rimbun bunga kertas. Ia berada di kamarnya, tertidur di ranjang, dan bermimpi. Mimpi yang mendekati buruk, pikir Rhein. Lalu, ia menengok ke samping, Maya sudah duduk di tepi ranjang dan ia melihat ibunya sedang berkacak pinggang di dekat pintu.

“Pinter, ya, Rhein!” seru Rosi. “Kamu enak-enak tidur, tapi pintu depan nggak dikunci!”

Rhein tahu, ini bukan saatnya membantah. Tapi, ia jengkel dengan sikap ibunya yang selalu menyalahkan. Ia memang lupa mengunci pintu. Ia bahkan tak sempat berpikir untuk mengunci pintu. Berta telah menyita perhatian seluruh sel otaknya.

“Kamu tau?! Tadi Mbak Rara telepon Mama. Katanya dia dapet undangan dari sekolah untuk bicara soal kelakuanmu. Ternyata kamu itu hobi bolos, ya?! Mbak Rara bilang, kamu selalu membujuk dia supaya nggak bilang ke Mama. Ya,Tuhan. Rhein…. Apa jadinya kalo papamu tau kelakuanmu?”

Sorry, Ma,” jawab Rhein lemah.

“Kapan kamu mau balik ke Jakarta?”

Rhein cuma diam dan menggeleng pelan.

“Ah, kamu selalu aja gitu, Rhein. Mama capek sama kamu.” Rosi keluar dari kamar Rhein.

“Jangan terlalu diambil hati, ya. Mama cuma nggak pengen kamu jadi orang yang selalu teledor. Bahaya, kan, kalo kamu lupa ngunci pintu. Kalau ada barang-barang yang hilang, gimana?” Jeda sejenak. “Mama juga nggak kepengen kamu dikeluarin dari sekolah cuma gara-gara bolos. Sayang banget, kan, uang yang udah dikeluarin. Dan, itu juga bukan pengalaman bagus untuk diceritakan.”

Rhein berusaha tersenyum. Entah mengapa, di hadapan Maya kali ini, ia merasa seperti adik kecil yang manis yang baru saja melakukan kesalahan besar. Dan, Maya adalah sang kakak yang siap membela sang adik dari amuk ibunda mereka. Ah, bukankah itu memang kenyataan yang terjadi sekarang, gumam Rhein dalam hati.

“Oya, boleh tanya sesuatu?” lanjut Maya.

Rhein mengangguk. Ia sedikit merapatkan selimutnya ke dagu.

“Tadi waktu kamu tidur, kamu manggil-manggil namaku.”

“Oya?!”

Maya mengangguk. “Abis mimpi apa?”

Rhein diam, berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi di otaknya ketika tidur. Ia ingat, ia memang bermimpi. Tapi, ego remaja kembali menguasai dirinya. Ia malah memunggungi Maya dan berkata, “Bukan urusanmu!”

Hati Maya sebenarnya ingin berontak dengan sikap dingin Rhein. Hanya saja, ia tahu itu tidak akan berhasil membuat Rhein ‘melihat’ dirinya. Maya mengalah. Ia memilih keluar dari kamar dan membiarkan Rhein sendirian.

***

Sore yang mengagumkan. Ketiga perempuan berbeda usia kini berkumpul dalam satu tempat. Di meja makan, tersaji rijst vlaai kedua untuk minggu ini. Maya dan Rosi duduk bersebelahan, sementara Rhein duduk agak jauh dari keduanya. Ada perkembangan bagus sore ini, Rhein ikut duduk di ruang makan bukan karena paksaan Rosi. Sebenarnya Rhein ingin sekali menceritakan pengalamannya tadi siang, ketika ia bertemu Berta. Tapi, ia merasa masih ada yang mengganjal di kerongkongannya. Kata-kata masih tercekat di sana, sulit untuk memulai. Apalagi ia melihat Maya dan Rosi sedang dalam air muka yang jauh dari kesusahan.

“Rhein,” panggil Rosi. “Kamu nggak suka cakenya? Dari tadi Mama liat kamu ngelamun terus.”

“Ah, enggak, Ma. Rhein suka, kok,” kata Rhein sambil menyuapkan potongan rijst vlaai ke mulutnya. “Mama, kan, pernah bikin kayak gini juga waktu di Jakarta.”

“Seharian kamu ngapain aja di rumah?” tanya Rosi.

Rhein tidak menjawab. Ia meletakkan lagi sendoknya di piring. Bergantian ia memandang ibu dan kakak perempuannya. Ada keinginan untuk menghambur ke pelukan Maya, tapi terganjal oleh ego remaja yang masih tinggi. Ia pernah berharap memiliki saudara kandung, walaupun yang diinginkan Rhein adalah saudara laki-laki. Tapi, begini pun sama saja, pikir Rhein. Rhein mulai bosan dengan kesendirian.

“Ma…,” ujar Rhein.

“Ya?”

“Berapa banyak total uang Mama?”

Sungguh pertanyaan yang mengejutkan. Rosi sampai mengerjap-ngerjapkan matanya karena ia pikir gadis yang ia ajak bicara itu bukan Rhein. Tidak. Rhein bukan bertanya seolah-olah gadis itu sudah tahu jawabannya. Bukan pula seperti ingin menyombongkan kepada orang yang tidak percaya akan kekayaan itu. Rosi merasa, Rhein memang sedang ‘bertanya’ dan gadis itu benar-benar membutuhkan jawaban.

Something happened, Dear?” tanya Rosi yang kini berpindah duduk di sebelah Rhein. Maya pun ikut mendekat. Dan, Rhein tidak keberatan.

Yeah. Something happened,” gumam Rhein.

Then, tell us,” sahut Rosi.

I’m afraid, Ma.”

Afraid of what?”

Rhein menggeleng. Di sudut matanya sudah menggenang cairan bening.

Can I hug you?”

Rhein tidak bertanya pada Rosi. Ia bertanya pada Maya. Tentu saja Maya kaget dengan perubahan sikap Rhein. Baginya, itu terlalu drastis. Baru saja tadi pagi Rhein menolak diajak pergi bersama. Sekarang malah Rhein yang menginginkan sebuah pelukan. Ingin sekali Maya bertanya, ada apa. Tapi, ia urungkan. Lebih baik pikirnya untuk menuruti dulu permintaan Rhein. Jadi, Maya mengangguk dengan mantap.

Keduanya saling peluk. Tak ayal itu membuat Rosi terharu. Meskipun di otak Rosi tetap saja banyak pertanyaan bertebaran. Kira-kira apa yang dialami Rhein tadi siang, gumamnya dalam hati.

“Kenapa kamu nanya soal uang Mama?” Maya memberanikan diri bertanya setelah melepaskan diri dari pelukan Rhein.

“Kalo Rhein cerita, mungkin kalian nggak bakalan percaya.”

“Tapi, gimana Mama bisa berusaha percaya kalo kamu belum cerita sama sekali,” sahut Rosi.

Rhein meraih gelas air putih dan meneguknya sampai habis.

“Tadi siang tante Berta ke sini.”

“Ke sini?!” potong Rosi.

“Iya. Tapi, nggak sampe masuk. Tante Berta ngajak ketemuan di basement. Tadinya juga mau jalan, nyusul Mama sama Maya ke BSM. Cuma, pas Rhein nanya sesuatu ke tante Berta, tante Berta malah nggak jadi ngajak pergi. Akhirnya kita cuma ngobrol di dalam mobil.”

Rosi diam, masih menunggu Rhein meneruskan ceritanya. Sambil membelai rambut hitam Rhein, ia memberi isyarat pada Maya agar membereskan sisa rijst vlaai di loyang dan yang tersisa di piring milik Rhein.

“Ma. Mama tau nggak kalo tante Berta itu perokok?”

“Hah?! Ngerokok?”

“Iya, Ma,” seru Rhein. “Gayanya ngerokok itu kayak yang udah biasa banget. Cara megang rokoknya, cara dia ngisep rokoknya. Pokoknya, Mama nggak bakal kaget kalo liat langsung.”

“Terus?!” Rosi penasaran.

Rhein melihat Maya sudah bergabung lagi di meja makan, selepas membereskan piring-piring tadi.

“Rhein nyesel.”

“Nyesel kenapa?” tanya Maya.

“Harusnya Rhein nanya sendiri ke Mama, bukan malah nyari tau lewat tante Berta.”

“Soal apa sih?!” Rosi makin penasaran. “To the point aja, Sayang.”

“Rhein nanya soal Maya ke tante Berta.”

“Hah?! Maya terkejut.

Sorry,” kata Rhein pelan.

Lalu, tanpa diminta lagi, Rhein menceritakan semuanya kepada Rosi dan Maya. Setelahnya, raut wajah Rosi berubah datar. Ia bangkit dari duduknya.

“Mama mau mikir dulu malam ini. Kalian berdua jangan ganggu Mama.”

Rosi masuk ke kamarnya. Terdengar suara anak kunci beradu dengan liangnya. Rosi benar-benar tak ingin diganggu.

***

Pagi yang dingin. Bukan karena hawa yang dihamburkan dari mesin pendingin ruangan, tapi karena di luar sedang gerimis. Maya sudah sedari tadi terjaga. Ia sedang membuat teh hangat dan memanaskan rijst vlaai yang tersisa semalam. Di kursi tinggi, Rhein duduk sambil menopang dagu, memperhatikan semua gerak gerik Maya. Lalu, tiba-tiba terdengar suara anak kunci di putar.

Rosi keluar dari kamar dengan wajah lesu dan kantung mata menghitam. Ia benar-benar tidak tidak tidur semalam. Ia bergabung denga kedua anaknya di dapur.

Maya segera menyodorkan cangkir untuk diisi teh hangat dari teko.

“Mama nggak tidur?” tanya Rhein.

Rosi mengangguk. Ia menyesap tehnya dan menghela napas panjang.

“Kenapa, Ma?” giliran Maya bertanya.

“Kita harus undang Al ke sini nanti malam.” Rosi tidak mengindahkan pertanyaan Maya. “Kita akan bicara banyak.”

“Banyak? Apa aja, Ma?” tanya Maya lagi.

“Ya…, banyak. Yang jelas, Mama udah punya solusi,” jawab Rosi.

--- bersambung ---

Sumber gambar, klik image.