Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Kisah Al dan Maya - Chapter Four

13423739781269166312



Sudah satu minggu, sejak pertemuan terakhirnya dengan Maya, kini Al kembali lagi ke kompleks pemakaman itu. Ia masih duduk dengan gelisah di balik kemudi Vios hitamnya dan menatap ragu sebuah rumah sederhana milik Pak Dahlan. Pintu rumah itu dibiarkan terbuka, menandakan rumah itu tidak kosong. Lalu pandangannya beralih ke pusara kekasihnya. Tidak ada yang berbeda di sana, masih bersih, seperti terakhir ditinggalkan. Rupanya ada yang membersihkan pusara itu selama satu minggu ini, pikir Al.

Sekarang masih pukul empat sore. Mendung menggantung di akhir bulan Desember. Meski tidak menghitam, tapi sedikit membawa hawa dingin. Al mengambil bungkusan plastik berisi bunga yang tadi dibelinya di dekat gerbang kompleks pemakaman. Ia keluar dari mobil lalu berdiri dan sekilas menengok ke rumah Pak Dahlan. Di teras rumah itu, Maya sedang berdiri di dekat pin tu rumah sambil memegang sapu. Begitu gadis itu sadar Al sedang menatapnya, ia langsung masuk ke dalam rumah.

Al menghela napas panjang. Sepertinya Maya belum mau bertemu denganku, pikir Al. Iapun melangkah menuju pusara kekasihnya.

Al berjongkok dan membuka bungkusan plastik. Ia menaburkan isi bungkusan itu merata ke pusara Maya. Lalu ia menengadahkan kedua tangannya dan mengucap doa dalam hati. Selesai berdoa, Al tidak langsung pergi. Seperti biasa, ia akan berlama-lama memandangi nisan kekasihnya. Ia akan membelai nisan itu seolah-olah benda itu adalah wajah wanita yang pernah menjadi tunangannya.

Tak lama kemudian, sesosok wanita bergaun kuning muda berdiri di samping Al. Al melihat dengan sudut matanya dan langsung paham siapa wanita itu.

“Apa kabarmu, Maya?” tanya Al. Matanya masih tak lepas dari nisan.

Maya tidak menjawab. Wanita itu ikut berjongkok di samping Al. Diambilnya beberapa kelopak mawar dari atas pusara. Lalu menaburkannya lagi ke atas pusara. Entah apa maksudnya, Al tidak mengerti.

“Kau tahu siapa yang selalu membersihkan pusaraku, Al?” tanya Maya.

“Tidak,” sahut Al singkat. Mungkin Pak Dahlan, kata Al dalam hatinya.

“Gadis itu yang melakukannya setiap pagi,” ujar Maya lagi.

Dahi Al berkerut. Lalu ia memalingkan wajah ke arah Maya dan mendapati sosok itu tengah tersenyum padanya. Ia melempar pandangan tak percaya pada sosok itu, seolah ingin mempertegas ketidakpercayaannya. Mungkin suara hatinya lantang berteriak ‘benarkah’. Dan Maya hanya mengangguk pelan, namun tegas.

“Tapi untuk apa? Itu bukan tugasnya,” kata Al. Ia melirik jauh ke arah rumah Pak Dahlan. Ia sedikit yakin, Maya sedang memperhatikannya dari balik kelambu jendela ruang tamu.

“Aku tidak tahu. Ia hanya membersihkan pusara ini. Tidak dengan yang lain.”

Lagi-lagi dahi Al berkerut. “Itu… aneh,” gumamnya.

“Tapi gadis itu terlihat tulus melakukannya,” ujar Maya.

Al diam. Ia sedang berpikir, kira-kira apa yang sedang terjadi di sini. Jemari tangan kanannya secara refleks memainkan benda bulat yang melingkar di jari manis tangan kiri. Lalu ia melihat benda itu. “Ya, Tuhan. Ternyata aku masih saja memakai cincin ini.”

“Lepaskan cincin itu, Al,” pinta Maya. “Semoga saja gadis itu belum menyadarinya.”

Al berpikir sejenak, lalu berkata, “Tidak bisa, Maya. Aku masih ingin memakainya. Bahkan aku tidak ingin melepasnya, walaupun nantinya aku akan hidup dengan wanita lain.”

“Itu namanya egois, Al. Lepaskan cincin itu. Simpan. Walau bukan berarti kau harus melupakan benda itu.”

Al melihat lagi cincin perak yang melingkar di jari manis tangan kirinya. “Memangnya kenapa jika aku masih ingin memakainya?” Pertanyaan Al begitu sederhana, tapi nadanya seperti tidak ingin dibantah. “Aku memang masih ingin memakainya. Apa itu salah?”

“Itu memang salah, Al. Pantas saja gadis itu masih meragukan dirimu,” ujar Maya. “Mungkin saja ia sudah menyadari keberadaan cincin itu di jarimu. Kau tidak bisa terus menerus hidup dengan masa lalu, Al. Kau harus ikhlas melepas diriku.”

“Bagaimana jika aku belum mau melepasmu?”

Grow up, Al. Kau tidak perlu bertindak seekstrim itu untuk membuktikan cintamu padaku. Aku yakin, cintamu begitu besar padaku. Dan itu tidak perlu kau buktikan dengan apapun lagi. Hargailah perasaan gadis itu, Al. Ia sedang menanti keseriusanmu untuk mencintainya dengan tulus.” Maya diam sejenak. “Lagipula, kau bukan lagi remaja ingusan yang baru mengenal cinta. Kau tahu cinta tidak hanya berasal dari satu orang. Maksudku…, kau tidak bisa terus menganggap kepergianku adalah sebuah kesalahan. Ini adalah takdir yang harus dijalani, Al. Kau harus memahami itu.”

Al tetap diam.

“Entahlah,” akhirnya Al bersuara. “Aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku takut tidak bisa menjadi yang terbaik untuknya. Jujur saja, aku belum bisa berhenti memikirkanmu. Aku selalu melihatmu ketika melihat dia. Maksudku, wajah kalian memang berbeda. Tapi sorot mata dan cara gadis itu bicara, it’s just like you. Dan aku tidak bisa tidak teringat padamu. Lalu aku menjadi takut. Sangat takut jika nantinya aku hanya menyakiti hati gadis itu. Dia… rapuh, Maya. Memang bukan aku yang menjadikan dia seperti itu. Tapi tetap saja aku merasa bersalah.”

“Kau masih menginginkan aku berbahagia di alamku, kan, Al?!”

“Iya…, tapi….” Al tidak melanjutkan kalimatnya.

“Tapi apa, Al?” Maya menatap Al dan menanti jawaban pria itu.

“Aku rasa… aku tidak sanggup, Maya. Kebahagiaanku adalah ketika aku berada di dekatmu.”

“Itu artinya kau tidak ingin aku bahagia, Al….” Maya menangis. Wajah sendu dari sosok yang berpendar itu kini berhias air mata.

“Maafkan aku, Maya.” Al berucap lirih. Ia tertunduk, menekuni butir-butir tanah merah yang kini ternoda oleh air matanya sendiri.

“Aku selalu mencintaimu, Al. Bahkan sampai detik ini, ketika kita sudah berbeda dunia. Aku ingin melihatmu bahagia. Karena dengan itu, aku pun bisa merasa bahagia di tempatku saat ini.” Maya diam. Ia berdiri, lalu berkata lagi. “Cintailah gadis itu… seperti kau mencintaiku dahulu.”

Maya menghilang, dan Al masih saja bergeming di posisi yang sama, sampai ia terkejut sendiri oleh bunyi ponselnya. Ada pesan singkat masuk. Al merogoh saku kemeja dan mengambil ponselnya.

Apa kabar, Al? Besok aku akan berangkat ke Bandung untuk hadir di workshop penulisan cerpen. Gramedia yang punya hajat. Workshopnya sih lusa. Kalau kau tidak sibuk, kita sempatkan untuk bertemu ya. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Aku cukup lama berada di Bandung. Selesai workshop, aku ingin refreshing beberapa hari sebelum aku kembali bekerja. Mungkin juga aku akan main ke Dago. Besok aku berangkat dari Tasik sekitar jam dua siang. Sampai Bandung kira-kira jam lima sore. Doakan saja aku tidak terjebak macet. Oke deh, nanti aku hubungi lagi. Shinta.”

Pesan singkat yang tidak singkat, gumam Al dalam hati. Ia tidak sadar, bibirnya mengembangkan segaris senyum tipis.

Shinta adalah seorang teman lama. Ia bertemu dengan Shinta ketika ia masih aktif datang ke Tasik untuk mengadakan diskusi sastra di sela-sela kesibukan kantornya. Al pernah sangat dekat dengan Shinta. Namun itu sudah tiga tahun yang lalu, sebelum Al bertemu dengan Maya.

Ponsel Al berbunyi lagi, sebuah pesan singkat masuk.

Jangan tanya dari mana aku mendapatkan nomor barumu ini. Nanti pasti aku ceritakan. Oya, aku juga punya kejutan untukmu, dari seseorang yang pastinya sangat kau kenal. Don’t get curious. Hehehe…. See you soon, Al.

Al berdiri. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku kemeja. Raut wajahnya berubah, tidak lagi sesedih beberapa saat yang lalu. Ia berjalan dengan langkah mantap menuju mobilnya. Ia bahkan tidak menengok ke arah rumah Pak Dahlan. Padahal Maya sedang berada di teras rumah dan memandang heran ke arah Al.

***

Senin sore, Al masih berada di kantornya. Ia menimang-nimang ponselnya di tangan kiri. Matanya memperhatikan jam meja yang terletak di samping monitor. Lalu jari jempolnya dengan tekun menekan beberapa tombol di ponselnya. Tak lama kemudian, nada sambung terdengar.

“Halo,” sapa suara di ujung sambungan. Suara yang renyah dan ceria, pikir Al.

“Halo, Shinta,” balas Al.

“Hai, Al. Kau di mana sekarang? Aku baru saja sampai di hotel. Kau jadi kemari?”

“Ehm….” Lama Al berpikir.

“Kalau kau sibuk, aku tidak memaksa kok.” Suara Shinta kembali terdengar.

“Tidak. Pekerjaanku hari ini sudah selesai.” Al diam lagi. Ia seperti menimbang-nimbang kalimat yang ingin ia ucapkan. “Kau menginap di hotel apa? Barangkali kita bisa bertemu malam ini. Aku benar-benar penasaran dengan kejutan yang kau janjikan dua hari lalu.”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest.

Kisah Al dan Maya - Chapter Three

13423739781269166312



Maya menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Masih terbayang di benaknya, perkataan Al tentang cinta dan luapan perasaan pria itu terhadap dirinya. Ini tidak mudah baginya. Menerima cinta Al hanya akan membuat dirinya jatuh ke dalam kepalsuan cinta yang dimiliki Al kepadanya. Maya berpikir, cinta Al adalah cinta yang hanya didasari oleh keserupaan namanya dengan nama kekasihnya yang telah tiada. Namun Maya pun tak dapat membohongi dirinya sendiri. Ia sesungguhnya memiliki harapan lebih kepada Al. Ia ingin mencintai Al, tapi keinginannya itu terhalang oleh sosok Maya. Meskipun wanita itu telah tiada, namun Al nampaknya belum bisa melepas bayangan kekasihnya. Pria itu masih saja memikirkan Maya.

Maafkan aku, Maya. Mungkin aku terlalu cepat untuk mengungkapkan perasaanku yang sejujurnya kepadamu. Tapi aku sungguh tidak tahan dengan diriku sendiri. I just can’t stop thinking of you.”

Pesan singkat dari Al membuat Maya mau tak mau mengembangkan senyumnya. Ia tak membalasnya. Langsung saja ia setengah melempar ponsel – yang merupakan pemberian Al beberapa minggu yang lalu – ke atas meja kayu tua di sudut ruangan kamarnya. Kembali ia merebahkan diri ke kasur kapuk tua. Ia menatap langit-langit kamarnya yang terbuat dari anyaman bambu, sambil sesekali menyimak rekaman lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang keluar dari pengeras suara mushola.

Maya adalah seorang gadis yang tidak mudah percaya kepada orang lain, terutama kepada lawan jenis. Kecuali sang ayah tentunya. Ia memiliki banyak teman wanita, namun tak ada satupun yang bisa dijadikan tempat untuk berkeluh kesah, atau sekadar bercerita tentang hal-hal menarik seputar wanita. Justru dirinyalah yang selama ini menjadi tempat teman-temannya mencurahkan isi hati mereka. Maya berpikir, jika mereka saja bercerita dan memintanya mencarikan jalan keluar dari suatu masalah, bagaimana bisa teman-temannya itu memberi jalan keluar untuk masalah yang sedang ia hadapai sekarang. Namun hikmahnya adalah, ia bisa mengenal banyak karakter orang dari mereka yang telah dikenalnya. Satu-satunya tempat mencurahkan isi hatinya selain sang ayah adalah buku harian yang tersimpan rapi di laci mejanya.

Maya bangkit tadi kasur dan segera mengambil buku tersebut dari laci meja. Ia duduk dan membuka halaman terakhir yang berisi tulisan. Ia melihat tanggal terakhir ia menuliskan sesuatu di buku itu, dan sedikit terkejut. Ternyata sudah satu bulan lebih ia tidak pernah menulis. Ia mengambil pena dari laci, lalu mulai menulis.

Maafkan aku, Al. Bukannya aku tidak bisa menerima cintamu. Dan bukan pula aku tidak percaya pada ketulusan yang ada di kedalaman jiwamu. Hanya saja, aku takut di kemudian hari aku hanya menjadi pelampiasan rasa rindumu kepada kekasihmu. Karena, sekali lagi aku katakan, aku bukan Maya, kekasihmu yang telah berpulang itu. Aku paham, kau masih belum bisa melupakan dirinya. Tapi tidak bisakah kau hanya melihat aku dan bukannya melihat kekasihmu itu? Kau bilang, wanita itu adalah cinta abadimu. Jika itu benar, seharusnya kita tidak perlu bertemu saja.

Aku tidak ingin menjadi bayangan kekasihmu yang terdahulu. Jika memang kau mencintaiku maka cintailah aku sebagai aku, bukan sebagai orang lain. Aku tahu pasti sangat sulit melupakan seseorang yang telah lama kau cintai, bahkan kau sendiri telah menyebutnya sebagai cinta abadimu. Tapi jika memang kau mencintaiku, kau harus bisa melupakannya. Jangan karena aku yang selama ini selalu ada di dekatmu lalu kau anggap aku bisa dengan mudahnya kau miliki. Hidupku pahit, Al. Aku bahkan tak tahu siapa ayah dan ibu kandungku. Aku hanya tahu ayahku yang menemukanku dalam kardus. Pak Dahlan, yang kini menjadi Ayahku, benar-benar menyayangiku dengan setulus hati tanpa berharap apapun. Pria tua itu hanya berharap aku bisa bertahan hidup. Meskipun ragaku seolah enggan melakukan itu, tapi otakku memerintahkan untuk tetap bertahan. Dan itu tidak mudah, Al. Belum lagi soal status keberadaanku di dunia ini. Di saat aku ingin tahu siapa orangtua kandungku, maka saat itulah aku merasa aku hanyalah anak haram. Aku tidak lagi diinginkan oleh ayah dan ibuku sehingga mereka membuangku ke TPU.

Tidak bosan aku mengatakan bahwa ini sangat sulit, Al. Bukan saja tentang hatiku yang tak mudah jatuh cinta, tapi juga karena aku masih meragukan ketulusanmu.

Maya berhenti menulis. Ia bangkit dari kursinya dan berniat menutup jendela kamar lalu mengambil air minum ke dapur. Namun saat ingin menutup jendela kamarnya, ia melihat vios hitam masih berada di pinggir jalan, terparkir dengan nelangsa. Maya kembali ke mejanya lalu menyambar ponselnya. Ia menekan tombol ponsel beberapa kali dan menempelkan gadget itu ke telinga kanannya. Maya sedang menelepon Al.

“Halo,” sapa suara darri seberang sambungan.

“Halo, Al. Kau dimana sekarang? Sudah sampai rumah?” tanya Maya.

Lama tak terdengar jawaban dari Al. Maya memperhatikan ponselnya sejenak, memastikan sambungan telepon masih aktif, lalu mendekatkan lagi benda itu ke telinganya.

“Al….”

Iya, Maya. Aku sudah di rumah. Baru saja aku ingin meneleponmu untuk mengatakan hal itu. Tapi rupanya aku kalah cepat.” Lalu terdengar suara tawa Al yang Maya pikir agak sedikit dipaksakan.

“Oh ya?! Syukurkah kalau begitu.”

“Memangnya ada apa, May? Nada suaramu terdengar khawatir.”

Ah, tidak. Tolong jangan gede rasa dulu ya.” Maya tertawa. “Aku lihat ada Vios hitam terparkir tak jauh dari rumah. Aku pikir itu kau, Al. Benar kau sudah di rumah?” Maya menegaskan lagi pertanyaannya kepada Al.

Iya. Aku sudah di rumah. Kau tidak perlu khawatir, Maya.”

Baiklah. Aku tutup dulu ya. Ini sudah hampir magrib.”

Maya menekan tombol merah pada ponselnya dan meletakkan kembali benda itu di atas meja. Ia beranjak menuju jendela, tapi tidak langsung menutupnya. Sekali lagi ia memperhatikan Vios hitam yang terparkir tak jauh dari rumahnya. Matanya memicing. Ia merasa seperti melihat seseorang di balik kemudi mobil itu. Tapi karena ini menjelang senja, dan cahaya matahari sedikit tertutup awan, maka Maya tidak bisa memastikan apa yang ia lihat saat itu. Namun ia meyakinkan hatinya sendiri. Al sudah di rumah, dan ia yakin, pria itu jujur padanya.

Lalu Maya melepas batang besi yang menyangga jendela berkaca itu dan menguncinya dengan seksama. Ia merapikan kelambu yang menutupi jendela itu dan memastikan tidak ada celah yang terlihat dari luar.

Sementara itu, Al masih saja memegang ponselnya. Sambungan sudah terputus sejak tadi, dan Al seolah tak percaya apa yang baru saja ia katakan kepada Maya. Ia tersadar dari lamunannya dan memasukkan kembali ponselnya ke saku kemeja.

Al memegang kemudi, tapi mesin mobilnya masih belum menyala. Ia bingung. Sebenarnya ia ingin sekali berlari ke rumah itu, mengetuk jendela kamar Maya, dan mengajaknya keluar rumah tanpa harus pamit kepada ayahnya – kembali lagi seperti remaja yang sedang kasmaran. Tapi ia bukan remaja, dan itu rasanya tidak mungkin terjadi.

Adzan magrib lantang bergema dari mushola yang tak jauh dari kompleks pemakaman tersebut. Al memutuskan untuk pulang saja. Toh tidak ada gunanya memaksakan kehendak saat ini juga. Maya pasti akan menganggap dirinya pria bodoh jika berbuat seperti itu. Lagipula, ada baiknya juga ia ikut menenangkan diri. Mayapun ada benarnya, gadis itu bukanlah Maya.

***

Malam harinya, selepas sholat isya, Maya kembali membuka buku hariannya. Biasanya, selepas isya ia akan menemani ayahnya menonton acara berita di televisi, atau merapikan baju-baju yang sesiang tadi dijemur. Tapi kali ini, ada dorongan yang lebih besar dalam dirinya untuk kembali membuka buku hariannya. Dan ia sadar, itu karena Al.

Seharusnya aku menghapal nomor mobilmu, Al. Agar aku tahu saat kau berbohong. Mengapa aku sangat yakin kau berbohong tadi? Ah, sudahlah. Itu hakmu. Aku tidak punya hak untuk mengatur apa yang terucap dari bibirmu karena aku bukan seseorang yang pantas untuk berbuat itu. Meskipun aku sangat berharap bisa melakukannya.

Ya, Tuhan. Mengapa aku jadi seperti ini? Al, kau harus bertanggung jawab terhadap rasa gelisah yang sekarang menyerangku dengan membabi buta. Yeah, it’s all because of you.

Maya menutup buku hariannya, lalu berbaring di kasur kapuk tua berlapis sprei biru muda. Matanya belum mau terpejam. Lagipula, ini masih terlalu sore untuk terlelap. Lalu otaknya pun mengembara, memutar memori yang terjadi sore tadi di taman kota. Al begitu memuja kekasihnya yang telah tiada, pikir Maya. Iapun jadi penasaran paras wanita yang telah mencuri hati Al. Pastilah seorang wanita berparas dan berhati cantik, gumam Maya dalam hatinya.

Dalam kamarnya di apartemen mewah yang terletak di tengah Kota Kembang, Al terduduk di sofa sambil menatap nanar foto Maya di tangan kanannya. Perlahan, rasa kehilangan yang sempat memudar karena kehadiran Maya yang baru dikenalnya, kini mulai menjalar kembali ke hatinya. Dan itu membuatnya harus merasakan sakit lagi. Sebuah rasa sakit yang aneh, pikirnya, karena ia tidak melihat luka di tubuhnya. Ya, yang terluka adalah hatinya.

“Pipiku terlihat lebih berisi, ya, di foto itu.”

Tiba-tiba sebentuk suara hadir di pendengaran Al. Namun Al tak lagi terkejut seperti sebelumnya. Ia sudah paham siapa yang hadir di sampingnya kini.

“Ya,” sahut Al, “kau terlalu banyak mengunyah potato chips dan minum berliter-liter soda dalam satu minggu.”

Sosok yang duduk di samping Al tertawa malu. “Kau bilang aku boleh memakan apapun saat kau mendapat promosi sebagai manager di tempat kerjamu. Dua hal itu – potato chips dan soda – adalah surga duniaku.”

Al menengok ke sebelahnya. Ia mendapati sosok kekasihnya tengah duduk dan memandang dirinya. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna kuning muda – gaun pemberian Al ketika pesta pertunangan – dan tubuhnya berpendar, seolah ada cahaya berlebihan yang menimpa sosok bernama Maya Larasati.

“Apa kabarmu, Maya? Apa kau bahagia dengan kehidupan barumu di sana?”

“Tidak,” jawab Maya. “Aku belum bisa bahagia, Al.”

“Mengapa?”

“Karena aku belum melihatmu bahagia.”

Al beralih lagi menatap foto di tangannya. “Itu sulit, Maya. Karena hal yang membuatku bahagia telah menghilang dari hidupku.”

“Tapi kau mendapatkan yang baru, Al. Mengapa kau tidak menerimanya dengan ikhlas?”

Al memalingkan wajahnya kembali ke sosok Maya. Ia melihat wanita itu tersenyum. “Apa maksudmu, Maya?”

Maya tersenyum, lalu menjawab, “Kau pasti tahu maksudku.” Lalu sosok berpendar itupun menghilang.

--- bersambung ---


Sumber gambar angel on forest.

Kisah Al dan Maya - Chapter Two






Setelah pertemuan pertamanya dengan Maya, anak dari seorang penjaga TPU, Al merasakan ada perbedaan dalam dirinya. Perlahan ia sudah mulai bisa mengikhlaskan kepergian kekasihnya. Dan Al sadar, Maya – yang baru saja masuk ke dalam kehidupan pribadinya – sanggup mengisi kekosongan jiwa, yang sebelumnya selalu menjadikannya terpuruk dan putus asa.

Dua minggu setelah pertemuan pertamanya dengan Maya, Al sudah mulai bisa lebih akrab dengan Maya. Mereka seperti menemukan kecocokan di antara begitu banyak perbedaan. Tak jarang Al menyapa Maya hanya untuk sekedar menanyakan kabar, baik lewat pesan singkat atau sesekali Al menelepon Maya. Dulu, Al sanggup menghabiskan berjam-jam waktunya di akhir pekan hanya dengan duduk di hadapan pusara kekasihnya. Dan setiap kali pula air mata Al selalu tumpah tak terbendung.

Suatu sore, Maya menemani Al mengujungi makam kekasihnya. Berdua, mereka merawat pusara Maya sehingga selalu nampak bersih.

“Tuhan memerintahkan kepada kita untuk selalu bisa ikhlas dalam segala apa yang kita lakukan dan terhadap segala apa yang kita hadapi,” ujar Maya setelah selesai menaburkan bunga di atas makam kekasih Al. “Termasuk mengikhlaskan kepergian seseorang yang sangat kita cintai.”

“Mas Al….”

“Maya,” potong Al. Dan Mayapun sontak memalingkan wajah menatap Al dengan heran. “Sudah kubilang, panggil aku Al saja. Kau paham kan?!”

Maya mengangguk dan agak tersipu. Al memang sudah berulang kali memintanya melakukan itu. Tapi Maya selalu saja merasa tidak enak. Umurnya dengan Al terpaut cukup jauh. Maya masih dua puluh dua tahun, sedangkan Al enam tahun lebih tua.

“Kau tadi hendak bicara apa?” tanya Al.

“Ehm… ya….” Maya masih tersipu. “Soal hidup kita. Apa yang kita miliki sekarang bukannya hanya untuk disia-siakan. Masih ada kehidupan yang abadi setelah kehidupan ini.”

“Iya, Maya. Aku sadari itu sejak bertemu denganmu. Aku tidak lagi berpikir kalau cinta yang tulus adalah sebuah perasaan yang dipaksakan. Bahkan cinta sampai mati itu bukan berarti kita membiarkan diri kita ‘mati’ setelah kematian seorang kekasih. Cinta sampai mati adalah cinta yang selalu dialirkan untuk yang dikasihi, meskipun ia telah pergi dari hidup kita. Entah itu karena sudah meninggal ataupun memang ia lebih memilih untuk bersama orang lain yang lebih dicintainya.”

Maya mengangguk mengiyakan ucapan Al. “Ya, kita memang dituntut untuk selalu menerima takdir dengan lapang dada. Karena itu sudah menjadi ketentuanNya yang telah lama dituliskan di buku catatan hidup kita.”

Al tersenyum. “Terima kasih kau selalu mengingatkan aku sehingga aku sadar bahwa hidup itu tak selebar daun telinga. Jangan bosan ya,” pintanya.

“Semoga tidak,” sahut Maya sambil membalas senyum kepada Al.

“Al. Maya. Sudah sore. Ayo ke rumah dulu. Kita minum teh manis dulu.”

Tiba-tiba Pak Dahlan, ayah Maya, memanggil keduanya. Terlihat kaki pria tua itu berlumuran tanah basah. Rupanya ia baru saja selesai menggali lubang untuk acara pemakaman esok pagi.

“Terima kasih, Pak. Kami hendak keluar dulu sebentar. Tadi Maya bilang, stok obatnya sudah tersisa sedikit,” sahut Al. Padahal sebenarnya stok obat Maya masih cukup untuk satu minggu ke depan. Dan Maya langusng paham maksud Al beralasan seperti itu kepada ayahnya. Ia hanya bisa menunduk dan menyembunyikan senyumnya dari sang ayah.

Mereka berdua menuju tempat terparkirnya mobil Vios hitam milik Al.

“Semoga ayah percaya dengan alasan kau berikan, Al,” ujar Maya tak lama setelah mobil menjauh dari kompleks pemakaman.

Al tersenyum. “Ya. Semoga saja.”

Setelah setengah jam membelah keramaian jalanan Kota Kembang, rupanya Al membawa mobilnya menuju taman kota.

“Untuk apa kita kemari, Al?” tanya Maya sedikit keheranan.

Al tidak menjawab untuk beberapa saat. Sampai di pelataran parkir, Al baru menanggapi pertanyaan Maya. “Aku ingin mengajakmu melihat tempat yang bagus.”

Maya mengerutkan dahi. Tapi ia menurut saja ketika Al menggenggam tangannya dan mengajaknya berjalan menyusuri taman. Tak lama, mereka sampai di depan kolam teratai. Di situ ada bangku panjang dari kayu. Sandarannya terbuat dari ukiran berbahan logam dan dicat warna hijau tua.

“Aku sering kemari bersama kekasihku,” sambung Al sambil mengajak Maya duduk di bangku panjang itu.

“Oya?!” Maya tak tahu harus berkomentar apa. Ia hanya tidak siap dengan kejutan kecil yang Al berikan sore ini.

Keduanya terdiam, menatap beberapa ekor angsa yang berenang di antara teratai-teratai yang mengapung tenang di permukaan air kolam.

“Maya.” Al bicara memecah keheningan. “Sudah tiga bulan kita saling mengenal. Aku masih ingat. Pada tanggal ini tiga bulan yang lalu, aku pertama kali melihatmu dan mengetahui namamu. Aku mengingatmu seolah aku mengingat kekasihku yang telah pergi. Walaupun wajahmu berbeda dengan kekasihku, tapi nama kalian berdua sama. Dan matamu…, aku seperti melihat mata kekasihku saat ini. Aku pikir mata itu tak tergantikan, namun kau hadir nyata di hadapanku, Maya. Dan kau sanggup membuatku nyaman berada di dekatmu.”

Al berbicara serius. Maya mendengarkan dengan baik. Ini pertama kalinya Al berbicara dengan sangat serius, tidak seperti biasanya yang selalu menyelipkan canda di antara ucapannya.

“Maya,” ujarnya lagi. “Jujur saja. Aku merasakan ketenangan ketika bicara denganmu. Kata-katamu yang meneduhkan, dan kalimat-kalimatmu yang menyejukkan, sungguh membuatku selalu sadar bahwa hidup itu indah. Sayang jika dilewatkan begitu saja dengan percuma tanpa bisa menikmatinya. Kau telah berhasil membuatku bangkit dari keterpurukkan.”

Maya hanya diam.

“Ketika aku berada di sampingmu, aku selalu lupa pada masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Aku menjadi lebih tegar.” Kali ini Al mencoba untuk menatap wajah Maya lebih lama lagi. “Percaya atau tidak, banyak sekali hati yang datang sebelum dirimu yang mencoba menawarkan ketenangan dan kesejukkan. Namun mereka tak berhasil. Aku masih berada pada keterpurukan bahkan kedatangan mereka hanya menambah kegusaranku. Atau mungkin saja aku yang belum mau menerima sebentuk perasaan apapun untuk hatiku. Entahlah. Aku sendiri sudah enggan berpikir soal itu.”

Al menghela napas panjang. Dua kali. Lalu bicara lagi. “Berbeda denganmu, Maya. Aku menemukan sosok kekasihku dalam dirimu. Tutur lembutmu, bahkan gaya bicaramu sungguh tak jauh berbeda dengan kekasihku yang telah pergi.” Al menghela napas panjang lagi.

Sementara itu, Maya mencoba menenangkan dirinya. Sungguh, ia merasa sedikit terganggu oleh kata-kata Al.

“Mas Al….” Maya tak lagi mengindahkan permintaan Al sebelumnya. Ia hanya ingin bicara sejujurnya. “Tapi aku bukan orang yang pantas menggantikan kekasihmu. Aku hanya perempuan biasa yang ingin dicintai dengan segenap ketulusan, bukan yang harus dicintai dengan alasan tertentu.”

“Aku memang mencintaimu dengan tulus, Maya. Bersediakah kau menjadi kekasihku?”

Maya benar-benar terkejut dengan pertanyaan Al. Jantungnya berdetak begitu kencang. Namun Maya berusah menyembunyikannya dari Al, mesikpun Al bisa melihat tangan Maya yang gemetar. Jemari-jemari lentik itu sibuk memainkan ujung cardigan ungu tua dengan gugup. Seperti terjadi perang batin dalam diri Maya. Di satu sisi tidak dimungkiri, ia memang mengagumi sosok pria yang kini duduk di sampingnya. Pria dengan paras rupawan serta jiwanya yang penuh kasih dan sayang. Tapi ini perihal hati. Maya tak ingin tertipu oleh kasih sayang palsu, yang tidak ada di dalamnya ketulusan mencintai. Ketulusan cinta itu mutlak bagi Maya.

Dan Maya pun tidak tahu, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Al. Apa ia melihat dirinya sebagai Maya yang baru dikenalnya beberapa bulan? Ataukah ia hanya melihat kekasihnya yang telah tiada? Semua pertanyaan berputar-putar dalam pikiran Maya, membuatnya lidahnya kelu tak mampu berucap.

“Maya…”

Lagi-lagi Maya tersentak, tersadar dari lamunannya karena tangan Al menyentuh tangannya. Dan entah apa yang membuatnya perlahan melepaskan tangannya dari sentuhan Al, tapi itu terjadi. Al pun heran dibuatnya. Tidak seperti Maya yang biasanya, pikir Al.

“Maya…,” kata Al lagi. “Ada apa? Apa kau sakit?”

Maya menggeleng. “Tidak. Aku tidak apa-apa.”

“Tapi wajahmu pucat.”

Maya menggeleng lagi, kali ini lebih tegas. “Sungguh. Aku tidak apa-apa.”

Al diam memperhatikan Maya. Ia yakin, sesuatu telah terjadi pada diri gadis yang duduk di sampingnya itu. “Kalau ada yang hendak kau ceritakan….”

“Mas…,” potong Maya.

Al berhenti bicara dan membiarkan Maya yang menguasai percakapan. Rautnya memberi tanda pada gadis itu agar meneruskan ucapannya.

“Aku bukan Maya!” tegasnya. “Maksudku, aku bukan kekasihmu yang sudah meninggal itu. Aku seseorang yang lain dan aku tidak mau kau samakan aku dengan kekasihmu. Hanya karena nama kami sama, bukan berarti kami adalah orang yang sama. Itu tidak akan terjadi sekalipun kau paksakan aku untuk berpakaian layaknya Mayamu.” Maya diam sebentar, mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Wajahnya betambah pucat, dan itu membuat Al sangat khawatir. “Aku tidak apa-apa.” Maya mengangkat kedua tangannya, seolah ingin menghalangi Al mendekatinya.

“Baiklah. Aku minta maaf.”

Itu saja yang mampu Al ucapkan. Sejujurnya, Al tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia pun sama bingungnya. Jika memang Tuhan tidak membuat sebuah rencana untuk dirinya dengan Maya yang sekarang, apa artinya pertemuan ini. Apa ini sebuah kebetulan? Karena jika benar, ia masih meyakini ketidaksengajaan ini memiliki arti di baliknya.

“Antarkan aku pulang,” pinta Maya. Gadis itu sudah bangkit dari bangku taman dan hendak melangkah menuju tempat parkir mobil.

Al menarik satu lagi napas panjang untuk mengusir kegundahannya. Ia pun bangkit mengikuti Maya yang sudah lebih dulu berjalan. Dalam perjalanan pulang, tidak ada kata-kata terucap dari bibir keduanya. Pun ketika Al mampir untuk membeli dua strip suplemen penambah darah di apotek – Al rasa jumlah itu cukup untuk persediaan obat Maya selama dua minggu ke depan.

Sampai ke rumah, Maya tetap tidak bicara. Pintu mobil sudah sedikit terbuka, tapi Al menahan tangan kanan Maya. Maya berusaha melepaskan diri tapi rupanya genggaman tangan Al terlalu kuat. Maya melihat ke arah Al, dan ia melihat wajah pria itu seperti sedang memohon padanya.

“Ijinkan aku untuk berpikir dulu, Mas,” akhirnya Maya angkat bicara. “Biarkan pikiranku tenang selama beberapa hari ke depan.” Ia diam, matanya tidak lagi menatap ke arah Al. “Aku harap kau mengerti.”

Maya keluar dari mobil. Al masih melihat punggung gadis itu sebelum menghilang masuk ke dalam rumahnya. Dan pria dua puluh delapan tahun itu masih saja belum menjalankan mobilnya selama beberapa saat.

— bersambung —

next chapter

Note : Setelah ada beberapa orang sahabat yang meminta kisah Al dan Maya ini diteruskan, akhirnya kami memutuskan untuk membuatnya menjadi cerita bersambung. Semoga bisa menginspirasi semua sahabat pembaca. Salam :)

Sumber gambar angel on forest.

Kisah Al dan Maya

13423739781269166312


Hari ini Al tidak ingin berlama-lama duduk berdo’a di atas pusara Maya. Selalu teringat olehnya masa-masa di mana mereka bersama memadu cinta. Dan itu agak menyesakkan dadanya. “Aku harus bisa keluar dari dalamnya kesedihan ini. Aku tidak boleh larut terlalu lama dalam kepedihan hati ini,” ujarnya dalam hati.

Sepeninggal Maya, Al memang seperti tak punya pegangan hidup. Hari-hari dilewatinya hanya dengan berziarah dan berbicara dengan pusara Maya. Al yakin bahwa walaupun Maya telah meninggal, Maya tetap ada dan selalu melihatnya.

“Maya, ini sudah keseratus kalinya aku datang menziarahi tempat terakhirmu. Dan aku masih tak bisa melupakanmu. Bahkan aku selalu menganggap kalau kau masih berada di sini. Maya, sepertinya aku memang tak bisa hidup tanpamu. Buktinya aku tak pernah bisa untuk tidak menziarahi tempat terakhirmu ini.” Al berkata kepada nisan Maya. Tangannya terkadang membelai lembut nisan itu, seolah itu adalah wajah Maya. “Maya, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, aku tak akan mencari seseorang yang bisa menggantikanmu dari hidupku. Kaulah satu-satunya yang telah menggenggam hatiku seutuhnya. Aku lebih baik mati daripada harus hidup dengan perempuan selainmu.”

Langit di TPU itu sekarang mendung, dan hari semakin sore. Sudah dua jam Al duduk di atas makam Maya. Sudah dua jam pula airmatanya tak henti mengalir.

“Maya, kenapa kau meninggalkan aku secepat ini? Aku tak bisa hidup tanpamu. Dan ini terbukti saat kau benar-benar tiada. Aku bahkan tak bisa seharipun tidak berkunjung ke tempat terakhirmu ini.”Al diam sejenak dan mengatur napasnya. “Dulu kau pernah bilang bahwa keindahan cinta itu terletak pada mencintai, bukan dicintai. Namun akan lebih indah jika memang bisa saling mencintai. Dan sekarang, aku kehilangan keindahan itu, Maya. Aku kehilanganmu yang dahulu tak pernah rela meninggalkanku walau hanya sehari. Kamu selalu menemaniku dalam segala keadaanku.”

Tiba-tiba, terdengar suara petir menggelegar dari tempat yang jauh dari Al. Langit semakin hitam, pertanda akan segera turun hujan yang lebat. Tapi Al masih bertahan di situ untuk menghabiskan segala kegalauan hatinya. Untuk mencurahkan segala kerinduannya kepada Maya.

“Maya, entah sampai kapan aku harus begini. Menghabiskan hari-hariku di tempat teakhirmu ini. Rasanya aku sudah tak tahan, Maya. Aku ingin menemuimu di tempat yang indah di surga sana. Aku ingin selalu berada di dekatmu. Aku ingin selalu berada di dekatmu. Aku ingin selalu berada di dekatmu, Maya….

Al menangis tersedu. Dirasakannya kesedihan memuncak di hatinya. Debaran jantungnya kian tak beraturan dan pandangan Al menjadi kabur. Al pingsan di atas pusara Maya.

Hujan turun begitu derasnya, memandikan tubuh Al yang tak bergerak. Air hujan yang jatuh di tubuhnya, tak bisa membangunkan Al dari pingsannya. Kilatan halilintar yang diikuti  dentuman petir sama sekali tak berpengaruh. Al masih terbaring dalam pingsan di atas pusara Maya.

“Al….

Tiba-tiba terdengar suara Maya dari belakang tempat Al terbaring. Al yakin itu suara Maya. Al lalu bangun meninggalkan jasadnya. Sekeliling Al berwarna hitam. Hanya Mayalah yang putih, dengan pakaian serba putih dan bersayap seperti malaikat.

“Maya?!

“Kau jangan menangis, sayang. Kau harus bisa hidup tanpa aku…. Suara lembut Maya benar-benar memanjakan kerinduan Al akan kekasihnya.

“Tapi aku tak bisa, Maya.

“Kau pasti bisa, Al. Aku yakin itu.

Tubuh Maya perlahan menghilang dari hadapannya. Al teriak memohon agar Maya tak meninggalkannya. Tapi Maya tetap menghilang.

“Aku ingin ikut denganmu, Maya. Jangan tinggalkan aku!” Al berkata lirih dalam tangisnya.


“Nak…. Nak….” Seorang pria paruh baya menepuk-nepuk bahu Al. “Nak, Al. Bangun, Nak.”

Mata Al perlahan mulai terbuka. Ia mengerjap-ngerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya sore yang terang. Ia sedikit heran, benarkah ia bangun masih di hari yang sama. Bukankah tadi langit begitu gelap dan petir menyambar-nyambar, tanyanya dalam hati.

“Ayo, Nak. Kita hangatkan diri di rumah bapak,” ajak pria tadi sambil menuntun tubuh Al yang masih belum mendapat keseimbangan berjalan.

Tak jauh dari komplek pemakaman itu, terdapat sebuah rumah kecil. Sederhana, namun bersih dan nyaman. Itulah kesan yang ditangkap Al sekilas setelah melihat rumah yang ternyata milik penjaga kompleks pemakaman itu. Al duduk di amben, sebuah tempat duduk lebar dan agak panjang yang terbuat dari bambu. Sementara si pria tua tadi masuk ke dalam rumahnya, Al duduk bersila di amben sambil melepas pandangan ke arah kompleks pemakaman itu. Dari tempat ia duduk, ia bisa melihat dengan jelas pusara Maya.

Sesaat kemudian, pria tua tadi kembali ke teras dan menemani Al duduk di amben. Kemudian muncul seorang gadis yang membawa nampan. Lalu gadis itu meletakkan satu cangkir berisi kopi hitam, satu gelas besar berisi teh hangat – masih terlihat uap mengepul dari cairan berwarna merah kecokelatan itu – dan sepiring singkong rebus.

“Nak, duduklah dulu,” ujar pria tua tadi kepada si gadis. Rupanya gadis itu adalah anaknya. “Ini tamu bapak. Namanya Al.”

Al kaget. Ia baru menyadari, dari mana si pria tua ini tahu namanya, padahal ia belum merasa memperkenalkan diri.

Si gadis tadi tersenyum kepada Al. Selebihnya ia hanya menunduk, sambil sesekali ia melirik ke arah Al atau ayahnya. Terlihat sekali gadis ini begitu santun dan lugu, pikir Al.

“Maaf, Pak,” kata Al. “Tapi dari mana bapak tahu nama saya?”

Pria tua tadi tertawa kecil, lalu melihat ke arah Al. “Perlu dijelaskan juga?!” pria itu malah balik bertanya kepada Al. Lalu Al ingat siapa orang itu dan apa pekerjaannya. Jadi ia rasa, ia tidak perlu bertanya lagi.
Lalu mata Al beralih melihat putri sang penjaga makam itu. Parasnya elok. Meski tidak secantik gadis-gadis yang sering ia lihat di mall atau di tempat kerjanya, tapi Al merasa gadis itu sungguh rupawan. Dan mata gadis itu, pikir Al, seperti mata yang sudah sangat sering ia lihat. Seperti mata yang selalu ada untuk diriku, gumam Al dalam hati.

“Kalau boleh tahu, siapa nama putri bapak?” Al memberanikan diri untuk bertanya.

“Dia bukan putri kandungku. Percaya atau tidak, gadis ini aku temukan terbaring nyaman berselimut di dalam kardus. Seseorang meletakkan kardus itu di amben ini, dua puluh dua tahun yang lalu. Entah siapa yang tega berbuat seperti itu kepada gadis ini,” jelas si pria tua itu – yang sejurus kemudian Al ingat pria tua itu bernama Dahlan – dengan mata berkaca-kaca. “Walau begitu, aku tetap menganggapnya sebagai anakku sendiri. Saat itu juga, ketika pertama kali aku melihatnya di dalam kardus, kuberi ia nama… Maya.”

***


Bugar "Ala Gue" Saat Puasa


1342910880330104405

Halo, sahabat semua. Bagaimana kabar kalian pagi ini? Yang lagi puasa, tadi sahur pake menu apa ya? Boleh donk berbagi hehehe….  Eike juga mawar berbagi neh, bo. (kenapa mendadak copas banci kaleng ya bahasanya wkwkwk).Anyway, kali ini saya nggak posting fiksi dulu. Itu jatahnya ntar malem :D

Balik lagi ke menu sahur. Apa menu sahur kalian dini hari tadi? Apa kalian mengkonsumsi banyak karbo (nasi) dan sedikit serat? Apa kalian mengkonsumsi kafein setelah santap sahur? Atau tidak melupakan teh hangat dengan gula yang sedikit lebih banyak dari biasanya?

Nah…. Coba deh tips yang berikut ini.

1. Makanlah dengan porsi yang biasa. Mengurangi karbo (nasi) itu lebih baik. Dan jangan lupa mengkonsumsi serat (sayuran). Kalau serat, dibanyakin juga nggak apa-apa. Malahan bagus buat lambung karena bisa menunda rasa lapar lebih lama lagi.

2. Konsumsi buah setelah sahur. Serat kan tidak hanya sayuran, tapi juga buah. Namun, tidak semua buah bisa dikonsumsi setelah santap sahur. Uh, nggak kebayang gimana jadinya lambung kalo maksain nyantap duren abis sahur hihihi…. Kalau saya sendiri menyarankan apel atau pir. Kenapa? Karena kandungan air dalam dua jenis buah tersebut cukup tinggi, sehingga (insyaAllah) kalian tidak akan dehidrasi selama ± 14 jam berpuasa. Satu butir apel atau pir saya rasa cukup untuk membuat kita lebih bugar saat puasa.

3. Hindari kafein. Menurut sumber yang pernah saya baca, minuman seperti kopi dan teh memiliki sifat diuretic (tolong kasi tau kalo salah ketik ya). Artinya, minuman itu memancing kita untuk lebih sering buang air kecil. Nggak percaya? Awalnya saya juga gitu. Tapi setelah bertahun-tahun melakukan penelitian dan pengamatan terhadap diri sendiri (cieeee… berat bahasanya hihihi…), fakta itu memang benar. Kira-kira satu sampai dua jam setelah saya mengkonsumsi, saya pasti kebelet pipis. Kalau memang ngebet banget pengen ngopi, sebaiknya minumlah selepas kalian berbuka. Tapi nggak jamin kalau nantinya jadi susah tidur yak hehehehe….

Semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat untuk yang sedang menjalankan ibadah puasa. Asli, bukan bermaksud menggurui, apalagi nyuruh. Hanya sekadar berbagi apa yang sudah pernah saya rasakan. :)

Salam

Kisah El dan Maya


13423739781269166312


El menatap tubuh kaku kekasihnya. Rahang El terkatup rapat, ia tak sanggup berkata-kata. Dua orang perawat sedang melepas seluruh alat penunjang kehidupan yang menancap di beberapa bagian tubuh Maya. Jarum-jarum itu sudah dua bulan menjajah kulit halus Maya. Seorang dokter wanita berdiri di samping El. Berkali-kali sang dokter itu mengatakan sesuatu pada El, tapi El tidak mendengarkan. El tahu, dokter itu sedang mencoba menghibur El dan itu sungguh sudah tidak ada gunanya lagi menurut El. Toh perkataan sang dokter tidak dapat mengembalikan napas Maya, wanita yang teramat El cintai.

Perawat-perawat itu masih sibuk dengan tubuh Maya. Sejujurnya, El tidak kuat melihat pemandangan itu. Tapi ia tidak bisa menangis. Tidak. Entah mengapa. Mungkin liang-liang di kedua matanya terlanjur menderita kekeringan, karena selama dua bulan ini terus-menerus mengeluarkan isinya. Atau mungkin El sudah lupa caranya menangis. Namun, hatinya tetap menangis. Menangisi kepergian Maya yang begitu cepat.

El menghempaskan diri ke sofa di kamar rawat Maya. Tatapannya masih nanar ke arah tubuh Maya. Ia melihat di tangan kiri Maya, di jari manis wanita itu, dulu sempat tersemat cincin pertunangan. Kilau cincin itu masih nampak di mata El, walaupun benda itu sudah tersimpan rapi di lemari pakaian El. Warna perak kesukaan Maya dengan berlian delapan belas karat berwarna merah muda. El sendiri yang memilihkan cincin itu untuk Maya. Walaupun sempat ragu, tapi ternyata Maya menyukai pilihan El. Dan El tidak pernah lupa seperti apa ekspresi Maya ketika ia menunjukkan cincin itu.

***

Dua bulan sebelumnya

“Sayang, kita mau pergi ke mana sekarang?” tanya El sembari menyetir mobil Peugeot 206  yang telah dimodifikasi menjadi mobil balap. Jarum speedometer saat ini menunjuk angka90 km/jam.

“Jangan ngebut, Sayang! Aku tidak ingin terlalu cepat sampai di tempat tujuan,” jawab Maya dengan senyuman. Senyuman itulah yang selalu membuat El tak ingin pergi darinya. Senyuman yang membuat El jatuh cinta untuk pertama kali melihatnya. El lalu menurunkan kecepatan mobilnya.

“Hehe…. Tenang saja, Sayang. Aku sedang tak ingin speeding, kok,” jawab El sembarimencubit hidung Maya. “Jadi…. Sekarang kita mau ke mana, Sayang?” El mengulang pertanyaannya.

“Bawa aku ke tempat yang indah, Sayang. Aku ingin melihat pemandangan yang teduh seperti tatapan matamu. Aku ingin kedamaian. Aku terlalu bosan untuk berada di rumah saja malam ini.

“Baiklah. Bagaimana kalau kita ke Dago saja? El menawarkan pilihan.

“Terserah kau saja, Sayang. Dago is fine,” jawab Maya.

El merasakan ada yang beda dengan Maya. Kekasihnya itu nampak lesu dan senyum di wajahnya sedikit terlihat dipaksakan untuk mengembang. Namun El tak mau berburuk sangka. Mungkin memang Maya agak lelah setelah seharian bekerja di kantorpikir El.

Oke. Kita ke Dago,” ujar El.

Boleh aku yang pegang kemudi sekarang?” pinta Maya. “Sudah lama tidak merasakansensasi mobil ini.” Wajahnya berubah, auranya berganti. Maya menjadi ceria dan itu yang membuat El sedikit lega malam ini.

Kau serius, sayang? Kau tidak kesulitan menyetir malam hari?!” tanya El meyakinkan.

Yes, I’m serious, honey. Now pull over the car and let me drive,” jawab Maya tanpa beban.

El meminggirkan mobilnya, berhenti, dan memberikan kemudi kepada Maya. Sungguh malam itu terasa begitu indah buat mereka. Membelah malam, menjauh dari hiruk pikuk kotaBandung, dan sejenak menghirup udara segar di daerah Dago.

Ini adalah perjalanan yang panjang dan ini Sabtu malam. Bukan malam minggu namanya kalau jalanan tidak ramai, bahkan saat ini hampir bisa dikatakan macet. Tapi disitulah sensasinya. Maya sangat menyukai suasana itu.

Malam semakin tua. Jam di tangan El menunjukkan jam sebelas malam. “Apa kau tidak mengantuk, Sayang?” tanya El sembari memegang tangan kiri Maya.

Belum. Kantukku hilang jika sudah di balik kemudi, honey,” jawab Maya dengan senyumankhas kesukaan El. “Hei…. Mengapa dari arah berlawanan jalanan sepi sekali?” tiba-tiba Maya mengubah topik percakapan.

“Entahlah, Sayang. Mungkin memang jarang orang yang bepergian ke arah kota.”

“Aku akan coba menyalip. Toh tanjakan ini tidak terlalu curam.”

“Kupikir sebaiknya jangan, Maya.”

Jika El menyebut nama Maya, berarti ia sedang tidak ingin disanggah. Ucapannya serius dan ia berharap Maya menuruti apa yang ia katakan. Dan memang, menyiap (istilah keteknikan untuk kata menyalip – red) di daerah tanjakan sangat berbahaya.

“Ah, tidak apa-apa. Kau lihat sendiri, Sayang, lajur sebelah sepi sekali.”

Perlahan Maya membelokkan mobil ke kanan dan melaju di lajur menuju Bandung. Dua puluh meter pertama, tidak ada hambatan. Lalu Maya menambah kecepatan mobil El.

“Maya. Lebih baik kau kemudikan lagi ke lajur yang benar,” ucapan El lebih mirip perintah.

“Tenang saja, Sayang,” sahut Maya dengan santai.

Kecepatan mobil sudah lebih dari lima puluh kilometer per jam, dan masih terus bertambah. Lalu dari balik tanjakan, muncul kendaraan besar berkecepatan tinggi. Truk itu tidak bisa mengurangi kecepatannya karena sedang dalam posisi menurun. Maya kaget dan langsung membanting kemudi ke kanan.

Pemandangan terakhir yang El ingat adalah pohon perindang besar yang seolah menghampiri El dengan kecepatan cahaya.

***

Siang ini sepertinya matahari sedang berada tepat di atas kepala. Namun sengatannya seolah tunduk pada lapisan awan-awan kelabu bulan September. Pusara Maya masih basah. Para pelayat sudah pergi sejak setengah jam yang lalu. El masih berdiri di samping pembaringan terakhir Maya. Lagi-lagi, El tidak sanggup berkata satu patahpun, apalagi untuk menangis.

“Menangislah, kekasihku.”

Sebentuk suara hadir di pendengaran El. Ia mencari sosok dari pemilik suara tersebut dan ia mendapati sosok Maya berada di sisi lain pusara, tepat berhadapan dengannya.

“Maya?!” Akhirnya bibir El mengucap sesuatu, walau terdengar sangat lirih.

“Aku tidak pernah melarangmu menangis, kan?!” ujar sosok Maya. “Dengan melihatmu menangis, berarti aku tahu, kau memang mencintai diriku dengan tulus.”

“Benarkah kau Maya?!” El masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia menengok ke pusara Maya, lalu kembali memandang sosok yang berwujud seperti Maya di hadapannya.

“Iya, ini aku,” sahut sosok tadi. “Jangan takut, kekasihku. Aku hanya ingin melihatmu sekali lagi. Karena aku tidak suka, kau seolah tidak rela aku pergi dari sisimu.”

“Aku… aku… tidak sanggup… untuk menangis, Maya….”

Sosok Maya itu tersenyum, lalu bergerak mendekati El. Dan sekarang sosok itu sudah di samping El, ikut memandangi pusara yang masih baru itu.

“Selama hidupku, aku tidak pernah punya orang-orang yang begitu mencintaiku. Orang tuaku…. Kau tentu tahu bagaimana kedua orang tuaku. Sudah puluhan kali rasanya aku mengisahkannya padamu, kekasihku. Kaulah orang yang benar-benar mencintaiku untuk pertama kalinya dalam hidupku, El. Aku tidak menyesal walaupun hanya bisa menikmati cintamu dalam waktu yang cukup singkat. Itu… bulan-bulan terindah dalam hidupku.”

Tiba-tiba, satu bulir bening mencuri keluar dari liangnya. Membasahi pipi kiri El, dan akhirnya jatuh ke bumi. Sosok Maya memalingkan wajahnya ke arah El, lalu tersenyum.

“Sekarang aku bisa pergi dengan tenang, El, kekasihku,” ujarnya, lalu tersenyum kepada El.

Sosok Maya memudar dan kemudian benar-benar menghilang dari hadapan El. Meninggalkan El dengan satu lagi bulir bening yang meluncur dari sudut matanya.

E N D

Note : El dan Maya adalah karakter fiktif ciptaan kami berdua. Kisah ini bukan cerita bersambung. Jadi walaupun nama tokohnya sama, kemungkinan jalan ceritanya tidak berkaitan dengan kisah yang sudah pernah kami posting sebelumnya. Untuk membaca kisah El dan Maya lainnya, silakan cari dengan keyword “kisah el dan maya” tanpa tanda petik. Semoga kisah ini bisa menginspirasi siapapun yang membacanya. Salam hangat dari kami.

Sumber gambar angel on forest.