Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Kisah Al dan Maya - Chapter Seventeen

13423739781269166312



Nyonya Berta masih saja bergeming. Di hadapannya, Al dan Maya juga melakukan hal yang sama. Tapi, mereka diam karena menunggu Nyonya Berta mengatakan sesuatu.

“Keluar!” perintah Nyonya Berta kepada keduanya.

“Tapi, Ma. Mama belum menjelaskan siapa yang bersama Mama di foto ini.”

“Itu tidak perlu. Tidak penting,” balas Nyonya Berta.

“Penting buatku, Ma. Penting juga buat Maya. Apa Mama tidak melihat wajah di foto ini?”

“Keluar!” ulang Nyonya Berta. Kali ini dengan suara yang lebih tegas.

Al menatap ibunya dengan rasa kecewa. Dalam hati ia berharap dugaannya soal wajah pada foto itu benar adanya, bahwa gadis itu adalah ibu kandung Maya, karena memang wajah keduanya hampir serupa. Sementara itu, Maya hanya bisa bersembunyi di balik punggung Al, menunduk, dan hampir tak berani menatap wajah Nyonya Berta. Di dalam hati Maya juga terbesit satu dugaan yang sama. Sebuah dugaan yang kali ini berkembang menjadi harapan.

“Ayo, kita keluar saja, Maya,” ajak Al sambil menggandeng tangan kekasihnya.

Maya menuruti ajakan Al. Ia kembali ke kamarnya ditemani Al. Mereka duduk di tepian ranjang dengan berteman hening. Keduanya tidak tahu harus bicara apa. Masing-masing menyimpan banyak kalimat di dalam benak mereka. Yang jelas, apa yang mereka pikirkan masih seputar wajah pada foto tua tadi, yang sekarang masih berada di tangan Al.

“Aku ingin pulang saja, Al.” Maya mengulangi keinginannya yang tadi pagi ia utarakan pada Al. “Antarkan aku pulang besok pagi,” pintanya.

Al memalingkan wajah ke arah Maya. Tanpa berpikir lagi, ia mengangguk, menyanggupi permintaan Maya. “Ya. Kita akan pulang besok pagi,” ucapnya. “Lebih baik kau tidur saja sekarang. Jangan pikirkan apa-apa dulu. Biarkan Mama menjelaskan jika memang ia ingin menjelaskan.”

Maya mengangguk.

Al memandang lagi dua objek manusia pada foto tua itu. Lalu, ia tersenyum, seolah ia sedang berhadapan dengan kabar baik.

“Kenapa senyum-senyum gitu, Al?” Maya keheranan.

“Nggak ada apa-apa. Tidurlah.” Al mencium kening Maya, lalu pergi meninggalnya sendiri di kamar.

Setelah Al menutup pintu, Maya membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia menarik selimut sampai sebatas dada. Hawa Lembang malam ini terasa lebih dingin. Ia mencoba memejamkan mata, walaupun pikirannya masih saja mengembara kemana-mana, terutama foto tua itu.

Jika memang benar wanita itu adalah ibuku, dekatkan dia padaku. Aku ingin melihatnya dari dekat, pinta Maya dalam hati. Tak lama, ia pun terlelap.

***

Suara binatang malam masih sayup terdengar, adzan subuh belum juga rampung dikumandangkan, namun Maya sudah benar-benar terjaga dari tidurnya. Tidak, sebenarnya ia tidak benar-benar tidur. Ia memang terlelap tak lama setelah Al meninggalkannya di kamar. Tapi, tak lama setelah itu, tidurnya jadi tidak nyenyak. Beberapa kali ia terbangun karena mimpi buruk. Tiga kali wajah pada foto tua itu menyambangi bunga tidurnya. Sungguh bukan mimpi yang Maya harapkan.

Usai adzan subuh berkumandang, ia siap dengan sajadah dan mukena. Menit-menit berikutnya, hanya ada ia dan Penciptanya.

Satu jam berlalu, terdengar suara ketukan pintu. Maya masih terduduk di atas sajadah. Beberapa bagian mukenanya basah oleh air mata. Ia berdiri, lalu mendekati pintu. Ternyata Al yang datang.

“Oh, maaf. Aku mengganggu, ya?” tanya Al.

“Enggak, kok. Aku sudah selesai.” Maya membuka mukenanya dan melipat rapi kain putih gading itu. “Ada apa, Al?”

“Mama belum bangun. Jadi, kita tunggu Mama bangun, terus kita pamit ke Bandung. Gimana?”

“Iya, nggak apa-apa.”

“Bu Sari!”

Tiba-tiba terdengar teriakan dari ruang tengah. Al keluar dari kamar Maya dan mendapati ibunya sudah duduk di sofa ruang tengah. Maya pun ikut mengintip dari balik punggun Al. Tak lama, Bu Sari muncul dari bagian belakang rumah dengan setengah berlari.

“Ada apa, Nyonya?”

“Buatkan kopi susu untuk saya. Dan, buatkan juga dua cangkir teh hangat.”

“Eng.... Tapi, Nyonya....” Bu Sari tidak jadi meneruskan kalimatnya.

“Tapi, apa?”

“Nyonya, kan, sudah lama tidak minum kopi.”

“Bukan urusanmu. Buatkan saja!” perintah Nyonya Berta pada wanita berumur awal enam puluhan itu.Bu Sari mengangguk dan segera beranjak ke dapur.

Bu Sari, seorang asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun bekerja untuk keluarga Berta. Bahkan, perempuan asal Ciamis itu sudah bekerja di sana sejak Berta masih sekolah. Umurnya memang sudah lebih dari enam puluh tahun, tapi fisiknya tak kalah dengan wanita umur empat puluhan. Ia masih bisa mengerjakan banyak hal di rumah ini. Walaupun ia kadang mendapat omelan dari Nyonya Berta, seperti yang terjadi pagi ini, tapi majikannya itu sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Tidak hanya Bu Sari. Beberapa asisten rumah tangga yang lain, supir, dan juga tukang kebun, diperlakukan layaknya keluarga di rumah ini.

Nyonya Berta melihat Al dan Maya sedang berdiri di ambang pintu kamar tamu. “Sedang apa kalian berdiri di situ? Duduk!” perintahnya dengan tegas.

Al dan Maya menuruti apa perintah Nyonya Berta. Keduanya duduk berdampingan di sofa. Nyonya Berta menatap mereka bergantian. Awalnya, air muka Nyonya Berta terlihat tegang, seperti seorang guru yang menangkap basah siswanya menyontek saat ujian. Namun, ketika Nyonya Berta berlama-lama memandang wajah Maya – Maya sendiri agak menunduk, menghindari matanya bertemu dengan mata Nyonya Berta – air mukanya berubah jadi agak tenang. Bahkan, ia bisa melempar senyum samar kepada Bu Sari ketika wanita tua itu selesai meletakkan minuman di meja.

“Minumlah dulu,” kata Nyonya Berta – dengan nada tenang – pada Al dan Maya. Sementara ia sendiri meraih cangkir merah marun yang berisi kopi susu hangat.

Lagi, Al dan Maya hanya bisa menuruti tanpa berani menanyakan apa-apa. Keduanya menyesap sedikit teh hangat yang disajikan Bu Sari, lalu meletakkan kembali cangkirnya di meja hampir bersamaan.

“Maya. Ikut aku ke kamar,” ujarnya sambil berdiri. “Ada sesuatu yang ingin kupastikan.”

Maya menengok ke arah Al. Ia ragu untuk menuruti permintaan Nyonya Berta. Tapi, Al mengangguk pelan, tanda ia meyakinkan Maya bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Sementara Maya dan Nyonya Berta berada di kamar, di ruang tengah Al menanti dengan cemas. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Padahal hari masih sangat pagi, belum layak untuk berkeringat. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Maya keluar dari kamar diikuti Nyonya Berta. Keduanya kembali duduk ke tempat semula.

“Apa yang terjadi di dalam sana, Ma?” tanya Al tak sabar.

“Ceritakan saja, Maya,” ujar Nyonya Berta.

“Ehm....” Maya menggigit bibir bawahnya. Dan, Al makin tak sabar mengetahui apa yang baru saja terjadi di kamar.

“Tidak apa-apa. Ceritakan saja,” lang Nyonya Berta.

“Ng.... Mama menanyakan, apa aku punya tanda lahir di paha sebelah kiri.”

“Lalu?”

“Ya. Aku memang punya tanda lahir itu,” jawab Maya.

“Dan, apa hubungannya dengan wajah pada foto tua itu, Ma?”

Nyonya Berta tidak segera menjawab. Ia kembali menyesap kopi susu yang mulai dingin. “Kaitannya... sebuah hubungan darah.”

Al terkejut, sekaligus makin tidak mengerti maksud ibunya.

“Dua puluh dua tahun lalu,” Nyonya Berta mulai bercerita, “aku pernah memandikan seorang bayi perempuan. Bayi itu lahir tanpa ayah. Kalian pasti tahu artinya. Dan, pada tubuh bayi perempuan itu, ada sebuah tanda lahir berwarna biru pucat....”

“Dan, tanda itu ada di paha kiri,” potong Al.

“Lancang sekali kamu, Al,” kata Nyonya Berta. “Tapi, yah..., itu benar. Bayi itu adalah perempuan yang duduk di sampingmu sekarang.”

Al memandang Maya, masih dengan air muka tak percaya. Lalu, kembali bertanya pada ibunya, “Lalu, siapa perempuan di foto tua itu, Ma?”

“Dasar anak bodoh! Seharusnya kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri, Al.”

“Perempuan itu... ibuku, Al,” kata Maya dengan tenang, diiringi dengan senyum yang mengembang sempurna. Sejenak Al seolah melihat senyuman pada wajah Maya.

“Ibumu? Benarkah?!”

Maya mengangguk.

“Namanya Rosi. Lengkapnya Rosi Meilana. Anak dari Januar Saputra dan Ratna Dumilah. Kedua orang itu sahabat kakek dan nenekmu, Al.”

“Jika Mama sudah tahu siapa Maya, kenapa sebelumnya Mama menolak Maya?”

“Yah..., karena Mama belum berpikir sampai situ. Kamu tahu, di dunia ini banyak manusia berwajah mirip. Kalau wajah seperti Maya, mungkin ada ratusan atau ribuan orang yang memilikinya. Maaf, tapi memang wajah seperti itu sangat pasaran.”

“Bahkan ketika melihat foto tua itu, Mama masih menganggap wajah Maya pasaran?”

“Ehm.... Ya, itu benar. Hanya satu yang bisa meyakinkan Mama bahwa Maya adalah anak dari Rosi. Tanda lahir itu.”

“Wajah pasaran itu alasan klise, Ma. Seharusnya Mama langsung tahu begitu melihat Maya.”

“Ah, kamu ini benar-benar keras kepala, Al. Persis ayahmu. Jelas, kan, kamu tidak bisa menyetir pikiran orang lain. Walaupun wajah mereka mirip, tapi hanya tanda lahir itu yang bisa memastikan, Al. Buka pikiranmu!”

Selesai mencecar Al, Nyonya Berta kembali mengambil cangkir kopinya dan menghabiskan cairan berwarna coklat pekat itu.

Maya sedari tadi hanya diam. Ia tidak berani menyela percakapan menegangkan antara Al dan ibunya. Selain itu, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari keduanya. Segalanya masih begitu samar.

“Sekarang semuanya sudah jelas,” ucap Al. “Apa Mama masih menolak Maya?”

“Lebih baik kamu jangan tanya soal itu dulu, Al. Itu urusan nanti.”

“Ehm.... Kalau boleh tahu,” Maya memberanikan diri untuk bertanya, “di mana Ibu Rosi sekarang tinggal, Ma?”

“Hmm.... Sudah lama aku tidak berkomunikasi dengan ibumu,” jawab Nyonya Berta.“Kalau tidak salah ingat, terakhir bertemu dia sekitar sepuluh tahun lalu, saat dia akan pergi ke luar negeri.”

“Bagaimana caranya agar saya bisa bertemu dengan Ibu Rosi?”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.


Kisah Al dan Maya - Chapter Sixteen




Kurang lebih tujuh bulan Rosi menjadi penghuni sementara rumah keluarga Tuan Wawan. Selama itu, Rosi berusaha mematuhi apa yang pria tua itu katakan. Setengah dari pikirannya menggaungkan perihal rasa segan terhadap keluarga Tuan Wawan. Setengahnya lagi, hanya gundukan rasa bersalah yang entah ditujukan kepada siapa, banyak yang ia sesalkan.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Rasa sakit mulai menghinggapi tubuh Rosi sejak malam menjelang dini hari. Ia hampir tidak tidur semalaman. Beberapa jam setelah rasa sakit itu datang, ia belum berani memberitahu siapapun. Pasalnya, seminggu yang lalu, ia merasakan hal sama, namun tidak separah hari ini. Lalu, dengan paniknya ia meminta bidan segera datang ke rumah. Setelah diperiksa, ternyata rasa sakit itu bukan rasa sakit menjelang persalinan. Bidan mengatakan, rasa sakit itu bisa karena kram perut. Wajar terjadi pada ibu hamil. Penyebabnya bisa karena stres menjelang persalinan.

Rosi benar-benar terjaga sampai fajar hendak muncul di horizon timur. Saat ia pikir sebagian penghuni rumah sudah bangun, ia baru keluar dari kamar dengan tertatih. Bu Sari, salah seorang asisten rumah tangga keluarga Berta, yang pertama kali mengetahui kondisi Rosi. Bu Sari langsung mengetuk pintu kamar Berta. Tak lama, kira-kira kurang dari satu jam, bidan yang biasa menangani Rosi sudah datang. Dan, yang terjadi selanjutnya, adalah perjuangan antara hidup dan mati seorang gadis yang masih ‘hijau’.

***

Pelan-pelan Berta membuka lapisan kain yang membalut tubuh ringkih yang mungil. Ada tanda lahir yang agak besar di paha kiri bayi itu. Warnanya biru pucat. Tanda ini akan mudah sekali diingat, batin Berta. Lalu, dengan lembut ia membasuh bayi perempuan itu dengan air hangat. Bayi itu sudah berumur dua minggu. Dan, hampir setiap hari, Berta memandikan bayi itu. Bukannya si ibu tidak bisa memandikan, tapi biarlah ikatan itu terjad ketika menyusui saja.

“Kamu sudah memikirkan sebuah nama untuknya, Ros?” tanya Berta sambil pelan-pelan menyabuni tubuh si bayi.

“Sudah, Teh.”

Berta melirik Rosi yang sedang duduk di tepi ranjang. “Siapa namanya?”

“Kalina Mayasari,” jawab Rosi dengan mantap.

“Kalina Mayasari?” gumam Berta. “Nama yang cantik. Tapi, apa artinya?”

“Nggak tau, Teh. Ros juga menganggap nama itu cantik.” Rosi menghela napas panjang. “Ros dan Bayu pernah ngobrol soal nama. Ya, di tengah obrolan ini itu yang nggak jelas ujungnya.” Rosi tersipu. “Bayu pernah menyebut nama Kalina. Dan, Ros…. Ros suka nama Maya. Sederhana, tapi indah. Bukan menyoal artinya yang ‘tak berwujud’, hanya kagum dengan jalinan aksara yang membentuknya.”

Berta tertawa. Agak keras. Hampir saja sang bayi terlepas dari tangannya. “Teteh baru kali ini denger kamu sok filosofis gitu.”

“Ah, Teteh. Ros, mah, nggak ngerti apa-apa soal filosofi sebuah nama.” Rosi tersipu malu, lagi.

Berta sudah selesai memandikan sang bayi. Sekarang ia membungkus makhluk mungil itu dengan handuk lembut untuk mengeringkan kulitnya. Lalu, ia balur tubuh bayi perempuan itu dengan minyak telon dan bedak. Beberapa menit kemudian, si bayi sudah rapi dan siap menyusu pada Ros.

“Sebenarnya Ros kasihan sama Maya, Teh. Dia cuma bisa dapet ASI sebentar.”

Berta membereskan ember bayi dan perlengkapan lainnya. “Tapi, itu lebih baik daripada nggak dapet sama sekali, Ros. Yang penting,” Berta kini duduk di sebelah Ros, “kalian berdua sudah punya ikatan batin.”

Rosi tersenyum, walaupun dalam hatinya terasa perih. Tak lama lagi ia harus rela melepas bayinya. Namun, sampai detik ini, ia tidak tahu kemana harus menyerahkan bayinya. Jika harus diserahkan ke panti asuhan, akan bertambah rumit urusannya. Pun, Ros sedikit meragukan kesejahteraan putrinya di tempat itu. Tapi, jika harus menyerahkan Maya kepada sebuah keluarga, siapa yang mau menerima? Itu juga pilihan yang sulit. Ia tak bisa juga menduga-duga apa yang mungkin terjadi di masa depan. Akankah Maya benar-benar dianggap sebagai anak kandung keluarga itu? Atau, Maya akan tetap dianggap sebagai anak angkat dan malah diperlakukan sebagai ‘orang lain’? Benar-benar banyak kemungkinan yang bisa terjadi.

“Ros….”

Berta menyentuh bahu Rosi. Rupanya Rosi melamun sampai tidak menyadari kalau Maya sudah sedari tadi terlelap di pangkuannya.

“Tidurkan Maya di kasur, sementara kamu siap-siap,” ujar Berta dengan suara setengah berbisik, agar tak mengganggu tidur sang bayi.

“Iya, Teh,” Rosi menurut, lalu menidurkan Maya di atas ranjang. “Tapi, Teh…. Bagaimana kalau Om Wawan dan Tante Yanti nanya soal Maya?”

Tadinya Berta hendak keluar dari kamar Rosi. Namun, urung setelah mendengar pertanyaan Rosi. Itu hal yang belum benar-benar Berta pikirkan.

Pernah, satu hari setelah Maya lahir ke dunia, Nyonya Yanti menyarankan agar Rosi memakai jasa sebuah panti asuhan untuk mencarikan orangtua angkat bagi Maya. Tapi, Rosi menolak. Waktu itu Rosi beralasan belum ingin berpisah terlalu cepat dengan Maya. Padahal sesungguhnya, Rosi takut jika menuruti saran Nyonya Yanti, ia akan kesulitan ‘melihat’ Maya. Rosi ingin, di kemudian hari, ia tahu dimana harus menemukan Maya.

“Mungkin kita harus berbohong sedikit,” jawab Berta setelah berpikir sejenak.

“Bohong gimana, Teh? Ros nggak berani, ah.”

“Bilang aja, Maya kita titipkan ke sebuah panti asuhan di Bandung. Bukannya dulu Mama pernah nyaranin kayak gitu?!”

Rosi mash belum yakin dengan apa yang dikatakan Berta. Berta mendekat. Ia menepuk bahu Rosi sambil tersenyum.

“Percaya sama Teteh, Ros. Semuanya bakalan baik-baik aja.”

Kali ini Rosi tersenyum dan setuju dengan apa yang dikatakan Berta.

***

“Mama…. Pulang, yuk,” rengek Al. “Al udah capek muter-muter terus. Ntar Papa, Abah, sama Buti marah, lho, kalo Al pulangnya kesorean.”

Berta mengerti kondisi Al yang sudah sangat kelelahan. Sekarang sudah hampir pukul empat sore. Berarti sudah hampir enam jam ia, Al, juga Rosi dan bayinya, berada di jalan raya. Siang tadi memang mereka sempat mampir ke sebuah mall di pusat kota Bandung, hanya untuk menyenangkan Al. Karena sebelumnya, mereka berkali-kali keluar masuk beberapa perumahan mewah. Al menjadi bosan dan terus merengek minta dibelikan mainan. Lalu, selepas dua jam berada di mall, mereka melanjutkan berkeliling ke beberapa perumahan. Dan, Al kembali bosan.

“Sabar, ya, sayang,” Berta berusaha menenangkan putra sewata wayangnya. “Kita masih nyari rumah temennya Tante Rosi,” dalihnya.

“Emangnya… temennya Tante Rosi nggak ngasi tau dulu di mana alamatnya?” tanya Al dengan nada kesal khas anak umur lima tahun.

Sementara itu, Berta dan Rosi saling pandang. Keduanya benar-benar tidak menyangka, anak sekecil Al bisa berpikir secepat itu.

“Ehm…, gini, Al.” Giliran Rosi yang bicara. “Temen Tante Rosi lagi sakit. Jadi, nggak bisa ngasi tau alamatnya.”

“Kan, bisa lewat telepon ngasi taunya, Tante,” sahut Al lagi.

“Temennya Tante Rosi nggak punya telepon, Al,” tukas Berta.

“Tapi, Ma….”

“Al, liat deh! Ada kuda,” seru Berta sambil menunjuk sebuah delman yang sedang parkir di tepi jalan.

“Wah…,” gumam Al terkagum-kagum. “Ma, berhenti, Ma! Berhenti! Al mau pegang kudanya,” teriak Al sambil mengguncang-guncangkan bahu kiri Berta.

Berta terpaksa menuruti permintaan putranya. Ia memarkir sedan hitam tak jauh dari delman tersebut. Al langsung menghambur keluar begitu mobil berhenti. Sementara Berta membantu Rosi turun dari mobil, ternyata Al sudah mengelus-elus kepala kuda sambil mengobrol dengan sang kusir delman.

“Teteh….”

“Ya?!”

“Ternyata kita ada di depan kuburan, Teh,” ujar Rosi dengan suara pelan.

Berta langsung menengok ke arah tempat yang dilihat Rosi. Memang benar, kini mereka tengah berada di depan sebuah kompleks pemakaman. Keduanya tidak menyadari hal itu. Pasalnya, di areal yang tak seberapa luasnya, tidak terdapat satupun pohon kamboja yang identik dengan tanah pekuburan. Tepian areal itu, yang berbatasan dengan jalan raya, ditanami pohon kenangan yang belum terlalu tinggi batangnya. Namun, beberapa di antaranya sudah berbunga lebat sehingga aroma kenanga memenuhi udara yang mereka hirup.

Tak jauh dari tempat Berta dan Rosi berdiri, ada sebuah jalan masuk kecil menuju rumah yang terletak persis di salah satu tepi areal pekuburan. Di rumah itu, di terasnya, duduklah sepasang suami istri. Mereka nampak tengah bersantai sambil berbincang. Ada raut bahagia terpancar dari keduanya. Paling tidak, begitulah yang mata Rosi tangkap dari sepasang suami istri tersebut. Mendadak, Rosi tahu apa yang harus ia lakukan.

“Teteh….”

“Ya….”

“Ros udah tahu sekarang.”

“Tahu apa?” tanya Berta keheranan, sementara matanya bergantian melihat Al yang masih sibuk dengan kuda.

Ros tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.

Kisah Al dan Maya - Chapter Fifteen

13423739781269166312



Dua minggu sudah berlalu sejak Rosi memberitahukan perihal kehamilannya kepada Berta. Belum ada lagi yang diberitahu soal itu. Keduanya masih sepakat untuk diam, tidak bicara, apalagi berkoar, soal kehamilan yang belum saatnya terjadi. Pun Rosi berusaha untuk tidak berlaku seperti kebanyakan wanita hamil, apalagi di hadapan Bayu, walaupun rasa mual benar-benar menyiksa Rosi.

Pernah satu hari, Rosi menelepon orangtuanya yang kala itu berada di Singapura. Hanya iseng. Rosipun sangat tidak berharap mereka pulang dalam waktu dekat ini. Jika semuanya sesuai jadwal, mereka baru akan pulang ke Indonesia setahun lagi. Waktu yang cukup, gumam Rosi dalam hatinya.

Kadang Rosi merasa jadi anak yang terabaikan. Benar, harta mereka berlimpah. Rosi tidak perlu repot mencari kerja paruh waktu seperti yang banyak dilakukan mahasiswa di Bandung untuk mendapat uang saku lebih. Ia hanya perlu datang ke bank dan mengambil uang sebanyak yang ia perlu. Orangtuanya sudah menyiapkan dana untuk banyak hal yang Rosi perlukan. Benar-benar Rosi tidak perlu khawatir soal itu. Namun, ya, rasa terabaikan itu tidak bisa begitu saja menguap dengan limpahan materi yang hampir tak berbatas. Rosi kesepian.

Di satu saat, Rosi merasa ia sudah menemukan cara untuk mengusir rasa sepi itu. Keluarga Berta jawabannya. Orangtua mereka bersahabat sejak lama. Dan, Rosi merasa keluarga itu sudah menjadi bagian dari keluarga besarnya. Ia tidak pernah merasa sungkan kepada orangtua Berta, walau ia sudah pasti menaruh hormat kepada Tuan Wawan dan Nyonya Yanti. Terkadang lagi, Rosi merasa, orangtua Berta adalah orangtuanya. Pun Tuan Wawan dan Nyonya Yanti seringkali menganggap, Rosi adalah adik kandung dari anak semata wayang mereka, Berta.

Dan, Bayu adalah hal kedua yang dapat mengusir rasa sepi yang Rosi rasakan. Rosi mengenal Bayu di kampus. Bayu adalah mahasiswa satu angkatan di atas Rosi. Bidang studi mereka sama, ekonomi manajemen. Bayu tidak hanya menjadi kekasih Rosi sejak tahun pertama Rosi menimba ilmu di bangku kuliah. Bayu dapat menjelma menjadi siapapun. Kakak yang baik, kawan yang perhatian, teman diskusi yang menyenangkan, sahabat yang selalu ada dalam kondisi apapun. Bagi Rosi, Bayu adalah segalanya. Hanya di hadapan Bayu, Rosi bisa menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi putri tunggal dari pasangan kaya raya.

***

Sore yang nyaman. Tidak ada awan yang terlampau besar yang sanggup menutupi indahnya warna biru pada langit dataran Lembang. Rosi sudah satu jam yang lalu sampai di rumah Berta. Keduanya kini – ditemani Al – sedang menikmati es teh lemon dan kudapan di teras belakang. Suami Berta, Hartono, kebetulan sedang melakukan inspeksi di kebun teh, jadi tidak dapat menemani mereka bersantai di rumah.

Al sendiri sibuk dengan beberapa mainan plastik di lantai teras. Sesekali ia mendatangi meja kecil yang diapit dua kursi yang kini diduduki Rosi dan Berta, untuk mengambil kudapan atau meminum susu cokelat hangat.

“Teteh belum berani bilang ke Papa dan Mama, Ros,” ujar Berta setelah menyesap sedikit es teh lemonnya.

Rosi mengangguk, lalu menyahut, “Nggak apa-apa, Teh. Biar Ros yang bilang langsung sama Om Wawan dan Tante Yanti.”

“Tapi, kan, Ros….”

“Nggap apa-apa, Teh,” potong Rosi dengan cepat. “Ros yang salah. Jadi, Ros yang harus tanggung jawab. Biar Ros yang menyampaikan ke orangtua Teteh.”

Berta memandang Rosi dengan rasa iba yang teramat sangat.

“Jangan ngeliat Ros kayak gitu, Teh. Ros bukannya sedang mencari belas kasihan. Ros hanya butuh dukungan.”

“Teteh paham, Ros. Dan, bagaimana dengan rencanamu sendiri? Apa kamu berniat untuk membiarkan janin itu tumbuh di rahimmu? Atau….” Berta tidak meneruskan kalimatnya.

Rosi segera menengok ke arah Berta. Ia yakin, ia tahu apa yanghendak dikatakan Berta. “Demi Tuhan, Teh. Pikiran itu memang sempat ada di otak Ros. Tapi, walaupun Ros bukan manusia yang rajin ibadah, Ros nggak akan membuang janin ini.” Suara Rosi bergetar, namun ia yakin dengan apa yang baru saja ia katakan.

“Lalu, bagaimana selanjutnya, ketika bayi itu nantinya lahir?”

Rosi kembali menekuni motif ubin di lantai teras. “Bisakah… kita pikirkan itu nanti, Teh? Sekarang ini, Ros hanya ingin fokus dengan apa yang terjadi hari ini. Buat Ros, bersembunyi dari Bayu adalah hal yang lebih berat daripada harus memikirkan bagaimana membesarkan janin ini. Ros pengen banget Bayu tahu hal ini. Tapi, Ros nggak mau Bayu malah merasa bersalah kepada Ros.”

Berta tertawa sinis.

“Kalau bolah Teteh bilang, Ros, kamu itu gadis bodoh. Kamu dibutakan sama cinta. Okelah, Bayu bukan laki-laki yang buruk. Tapi, tidak bisakah kalian menunggu sampai beberapa tahun lagi? Paling nggak, sampai kamu lulus kuliah, Ros. Teteh tahu, orangtuamu sudah – kasarnya – menjodohkan kamu dengan pemuda lain. Dan, Teteh juga tahu banget, kamu bakal menentang perjodohan itu. Tapi, kalau nantinya kamu bisa meyakinkan orangtuamu soal Bayu, Teteh yakin, pelan-pelan orangtuamu bakal nerima Bayu.”

Rosi makin tak sanggup bicara. Ia menyibukkan diri dengan gelas es teh lemonnya yang kini tersisa separuh isinya. Pelan-pelan, ia mulai mencerna perkataan Berta. Tak dimungkiri, ia membenarkan apa yang perempuan itu ucapkan, bahwa ia terlalu terburu-buru. Seharusnya, apa yang ia impikan bersama Bayu, bisa jadi hal terindah dalam hidupnya. Apa daya, nasi telah menjadi bubur, kapas telah menjadi benang. Segala yang terjadi tidak dapat dikembalikan seperti sediakala.

***

“Jadi benar kau hamil, Ros?!” cecar Nyonya Yanti yang duduk berseberangan dengan Rosi.

Rosi menunduk, keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Ini malam hari, namun Rosi berkeringat. Hawa sejuk yang terhembus dari kipas yang terpasang di langit-langit ruang tengah itu, nampak tidak membawa pengaruh bagi Rosi. Ia tetap berkeringat karena situasi yang ia pikir menyudutkan dirinya.

Ruang tengah itu hanya terisi empat orang. Rosi, Berta, Tuan Wawan, dan Nyonya Yanti. Hartono sedang menemani Al bermain di kamar. Rosi baru saja menyampaikan perihal kehamilannya kepada orangtua Berta. Dan, itulah reaksi pertama yang Rosi dapat.

“Iya, Tante,” jawabnya dengan suara nyaris tak terdengar.

“Kok bisa?!” Kekalutan dan rasa tak percaya Nyonya Yanti terhadap Rosi, membuatnya tak sadar telah melempar pertanyaan konyol.

“Ma,” Berta mengingatkan Ibundanya. “Tolong jangan tekan Rosi seperti itu,” bisiknya kepada sang ibu.

“Ya, tapi, kan….”

“Ma.” Berta sedikit menekan nada suaranya. “Biar Papa bicara dulu.”

Tuan Wawan bukannya diam karena tidak peduli. Pria tua itu sangat peduli dengan kondisi Rosi. Apapun itu. Rosi tak ubahnya seperti putri kandungnya sendiri. Sekarang ini ia sedang berpikir. Memikirkan segalanya. Soal sebab musabab, alasan-alasan yang mungkin terlontar, dan apa yang kira-kira harus dilakukan. Usia membuatnya bijak memahami masalah. Ia memang belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Berta, putri tunggalnya, menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, sampai akhirnya ia nikahkan dengan Hartono, salah seorang pegawai kepercayaannya di perkebunan teh.

Tuan Wawan akhirnya bicara setelah beberapa jenak terdiam, “Mereka tidak boleh tahu, Ros. Tidak boleh ada yang tahu selain orang-orang di rumah ini. Usahakan, dalam waktu dekat ini, kamu mengurus cuti kuliah. Selanjutnya, kamu harus tinggal di sini. Tidak boleh keluar, tidak boleh berinteraksi dengan orang lain selain yang tinggal di rumah ini.”

Rosi hendak membuka mulut untuk menyahuti perkataan Tuan Wawan, tapi telunjuk Tuan Wawan menggagalkannya.

“Perintahku,” lanjut Tuan Wawan, “bukan untuk disanggah. Ini demi kebaikanmu, Rosi. Juga demi kebaikan janin yang ada di perutmu.”

Selesai bicara, Tuan Wawan langsung berdiri dari kursinya. Ia menatap Rosi sebentar. Tatapan yang penuh sesal, juga sedikit rasa ingin melindungi. Ia memilih pergi dari ruang tengah itu dan menuju kamarnya. Nyonya Yanti mengikutinya, masih dengan rasa tak percayanya yang begitu besar terhadap Rosi.

Berta berdiri, lalu duduk di samping Rosi. Ia mendekap gadis itu dan mengusap-usap bahunya, seolah ingin menyalurkan sedikit kehangatan untuk Rosi.

“Kami semua sayang kamu, Ros. Jangan anggap perkataan Papa tadi adalah sesuatu yang jahat. Kami sepakat menjauhkanmu dari dunia luar, semata-mata untuk menjaga reputasi.”

“Reputasi?”

“Ya.”

“Reputasi siapa?”

“Semua orang. Kamu, orangtuamu, keluarga Teteh, juga Bayu. Mungkin sekarang kamu belum mengerti, tapi nanti pasti kamu bakal mengerti kenapa Papa seolah-olah bersikap jahat padamu. Semua ini, demi kebaikanmu, Ros.”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.

Kisah Al dan Maya - Chapter Fourteen

13423739781269166312



Dua puluh tiga tahun yang lalu…

Pukul empat sore, Berta sudah berada di pinggiran kebun teh milik orangtuanya, tak jauh dari rumah. Sembari berdiri di antara rerimbunan pohon teh, ia menyuapi putranya yang baru menginjak usia lima tahun. Sesekali ia menunjuk kawanan burung di langit untuk menghibur anaknya, lalu kembali menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke mulut putranya.

“Teteh!” Seseorang – baru saja keluar dari sedan abu-abu – memanggil Berta.

Berta menengok ke arah sumber suara, lalu tersenyum. “Hei, sini, Ros,” sahutnya.

Gadis itu – yang bernama Rosi – segera mendekat ke tempat Berta berdiri. Langkahnya ringan, walau wajahnya sedikit menunjukkan sesuatu yang lain. Seperti ia sedang menyembunyikan kabar buruk. Namun, Rosi menyamarkan raut itu dengan nyaris sempurna. Ia terlihat seriang badut di taman ria, atau mungkin seriang seorang guru taman kanak-kanak. Baginya, tidak boleh ada yang melihatnya dalam keadaan sedih.

“Udah lama nunggu, ya, Teh?!” tanya Rosi.

“Ah, enggak, kok,” jawab Berta, yang kemudian kembali menyuapi putranya. Suapan terakhir.

“Al. Lihat, nih, tante punya apa?” ujar Rosi sambil merogoh ke dalam tas selempangnya.

“Permen?” tanya Al dengan wajah riangnya.

“Ehm, bukan,” sahut Rosi sambil menggeleng. Lalu ia mengeluarkan sekantong besar biskuit marie dan menyerahkannya kepada Al. “Permen bisa bikin gigi hitam dan rusak, Al. Nggak mau, kan, gigi Al ompong gara-gara kebanyakan makan permen?!” Al menggeleng. “Nah, makanya Tante kasih Al biskuit aja. Ini buat sarapan Al sebelum berangkat sekolah,” lanjut Rosi.

“Mama?!” Al seolah meminta persetujuan Berta perihal biskuit itu. Berta mengangguk, lalu tersenyum. Kemudian Al berlari pulang sambil membawa bungkusan berisi biskuit pemberian Rosi.

“Apa kabarmu, Ros?”

“Ehm…. Baik, Teh,” jawab Rosi sambil menunduk.

“Apa kabarmu, Ros?” Berta mengulang pertanyaan. Kali ini dengan nada tidak biasa, campuran antara nada tidak percaya dan mengancam. Tapi Rosi malah makin menunduk dan diam.

Pertemuan kali ini Berta anggap tidak biasa. Ini baru tengah minggu. Bukan waktu-waktu di mana Rosi biasa berkunjung ke Lembang. Biasanya, Rosi datang kemari di akhir minggu. Sabtu pagi datang, menginap semalam, lalu kembali ke Bandung pada hari Minggu sore. Itu rutinitas sebulan dua kali. Tapi sekarang, ini baru selang tiga hari setelah acara ‘menginap’ tersebut.

“Ros bingung gimana harus mulai cerita, Teh.” Akhirnya Rosi buka suara.

“Mulailah dari yang paling awal,” tukas Berta.

“Mungkin emang Ros aja yang bodoh, Teh.”

“Bodoh? Maksudnya?” Berta menelisik wajah Rosi yang kini memandang lepas ke hamparan rimbun pohon teh.

“Ros melakukan sesuatu yang bodoh.”

Berta semakin heran dengan kalimat-kalimat Rosi. Menurutnya, gadis di sampingnya ini terlalu bertele-tele dalam menyampaikan sesuatu. “Cerita saja, Ros. Jangan main tebak-tebakan gitu,” ujar Berta makin tak sabaran.

“Ros minta maaf, baru kali ini bisa cerita sama Teteh. Sebab Ros takut….”

“Takut kenapa?” potong Berta.

“Ros hamil, Teh. Sudah lewat sepuluh minggu.” Kesannya, ucapan itu memang ringan, tapi ada beban berat terkandung di dalamnya. Dan, Rosi lega sekarang beban itu sedikit berkurang.

Lain halnya dengan Berta. Bagai dilecut cemeti pawang singa, Berta benar-benar kaget. “Hamil?!” pekiknya tertahan sambil mencari kebenaran di mata Rosi.

Rosi mengangguk.

“Sepuluh minggu?!”

Rosi mengangguk lagi. Ia lalu memandang Berta dengan tatapan memohon. “Tolong jangan bilang Mama dan Papa, ya, Teh,” pintanya.

“Sama siapa?” Berta seolah tak mempedulikan permintaan Rosi.

“Maksudnya?”

“Lelaki yang menghamilimu? Apa itu Bayu?”

Rosi mengangguk.

“Bayu harus bertanggung jawab,” ujar Berta dengan geram.

“Tidak, Teh. Itu tidak perlu,” sahut Rosi.

Lagi-lagi ucapan Rosi membuat dahi Berta berkerut karena heran. “Kenapa enggak? Jelas Bayu harus bertanggung jawab. Dia nggak boleh lari begitu saja.”

“Bukan gitu maksud Ros, Teh.”

“Terus maksudmu gimana? Apa Bayu juga udah tahu soal kehamilanmu?”

“Belum, Teh.” Rosi menunduk lagi. Air matanya siap membuncah dari liangnya.

“Ah, Ros….” Berta masygul. “Sebenarnya ada apa? Kamu tiba-tiba telepon Teteh tadi siang, minta ke sini. Padahal ini bukan hari Sabtu, dan kamu juga baru aja dari sini – nginep di sini – tiga hari yang lalu. Sekarang tiba-tiba kamu datang dengan cerita; kamu hamil. Jadi, ada apa sebenarnya? Teteh belum ngerti, Ros.”

Rosi menangis. Ia bahkan tak sanggup memandang wajah perempuan di sampingnya yang telah ia anggap sebagai kakak kandungnya. Dalam hatinya ia sadar, ia bersalah. Ia telah berbuat sesuatu yang menuntut pertanggungjawaban yang tinggi pada akhirnya. Dan, itulah yang terjadi sekarang. Ia harus siap dengan masa depan, sesuatu yang belum pernah ia pikirkan dan ia bayangkan akan terjadi pada dirinya secepat ini.

“Ada alasan kuat kenapa Ros nggak ngasi tahu Bayu, Teh.”

“Apa itu?” Berta buru-buru menyambar kalimat Rosi.

“Bayu adalah lelaki yang bertanggung jawab.”

“Terus nunggu apa lagi? Kenapa kamu nggak langsung bilang ke Bayu?” sambar Berta lagi.

“Teteh nggak mungkin lupa, kan, waktu Mama dan Papa nitipin Ros ke Om Wawan dan Tante Yanti?! Papa pernah bilang disela-sela obrolan, bahwa Papa sudah merancang masa depan Ros. Ros harus selesai kuliah tepat waktu, lalu Ros harus kerja di restoran Papa selama beberapa tahun. Mungkin empat atau lima tahun. Baru setelah itu Ros dinikahkan dengan calon pilihan Papa dan Mama. Dan, selama Ros kuliah, Papa nggak mengijinkan Ros dekat dengan lelaki manapun. Teteh nggak mungkin lupa soal itu, kan?!”

Berta diam. Ia sedang membongkar kardus memorinya perihal peristiwa dua tahun lalu, kala Rosi baru saja menginjak Bandung untuk kuliah. Ya, memang benar semua yang dikatakan Rosi. Dan, Berta masih jelas mengingat peristiwa itu.

“Jadi, Ros nggak mungkin menikah sekarang, kan, Teh?!” Air mata Rosi makin membanjiri paras ayunya.

Berta masih saja bergeming. Namun otaknya tidak diam. Di benaknya, berlarian tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.

“Ros bukannya nggak percaya sama Bayu, Teh. Bayu lelaki yang baik. Dia pernah bilang, dia tidak akan lari dari apa yang semestinya ia lakukan jika hal ini terjadi. Bahkan, beberapa kali, Bayu mengajak Ros untuk menikah. Tak masalah, kata Bayu, jika Mama dan Papa tidak menerima dia sebagai menantu. Walaupun Bayu masih ngerjain skripsi, tapi dia yakin sanggup menghidupi Ros dengan bayarannya sebagai mentor di tempat bimbingan belajar. Semuanya terlihat sempurna di mata kami berdua, Teh. Cuma, Ros dan Bayu terhalang rencana Papa.”

Langit mulai memerah di bagian barat. Kedua wanita beda usia ini masih berdiri di tempat yang sama. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

“Apa kamu nyesel, Ros?”

Rosi tersenyum, getir. “Kalo itu, mah, nggak usah ditanya, Teh. Teteh pasti tahu jawaban Ros.”

Giliran Berta yang melempar senyum dengan amat terpaksa. Inginnya menghibur Rosi, anak semata wayang dari sahabat orangtuanya, calon penerus usaha kuliner yang lumayan terkenal di Jakarta: Saung Desa. Tapi apa daya, Berta tak dapat berbuat apa-apa.

“Apa rencanamu terhadap janin itu? Apa mau kamu teruskan memeliharanya?”

Rosi menunduk. Tangannya memegang perut bagian bawah. “Masih belum tahu, Teh.” Rosi menengok ke arah Berta. “Menurut Teteh, Ros harus gimana?”

“Sudahlah. Jangan dulu dipikirkan. Mungkin kita harus ngobrol sama orangtua Teteh.”

“Tapi, Teh…. Apa nanti Om Wawan dan Tante Yanti nggak akan bilang ke Papa sama Mama?”

Berta tersenyum. “Kita bisa bicarakan itu nanti. Yang penting, sekarang kamu pulang dulu. Biar nggak kemalaman sampe Bandung. Kan, kamu udah nggak boleh sering-sering keluar malem sekarang. Apalagi kamu nyetir mobil sendiri, Ros.”

Rosi mengangguk. “Ros pulang dulu, Teh. Salam buat Om Wawan dan Tante Yanti.” Lalu, Rosi melangkah menjauhi Berta. Kaki-kaki jenjang menuntunnya menuju tempat parkir mobil di tepian kebun teh. Langit kemerahan mengiringi perjalanan pulangnya menuju Kota Kembang; Bandung.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.

Sambel Rajang

Saya adalah penyuka makanan pedas. Dan itulah yang membuat saya kadang bereksperimen dalam membuat sambal. Berikut adalah hasil eksperimen yang saya namakan Sambel Rajang.

1352093173368386926

Bahan-bahan :
1. Cabai rawit 10 buah
2. Cabai merah besar 2 buah
3. Cabai hijau besar 3 buah
4. Bawang merah 5 siung
5. Bawang putih 2 siung
6. Kunyit
7. Jahe
8. Tomat 1 buah yang agak besar
9. Gula, garam, dan penyedap secukupnya.
10. Minyak 2 sendok makan untuk menggoreng.

Cara membuat :
1. Bersihkan seluruh bahan cabai, bawang, kunyit, dan jahe, lalu potong (rajang) kecil-kecil.
2. Panaskan minyak, kemudian goreng bahan yang sudah dirajang.
3. Tambahkan gula, garam, dan penyedap (jika suka) sesuai selera.
4. Goreng sampai matang merata. Angkat.
5. Potong tomat menjadi seukuran dadu. Lalu campurkan ke dalam sambal yang sudah matang. Aduk rata.
6. Sambel Rajang siap dihidangkan.

Selamat mencoba.

Foto koleksi pribadi.