Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty Two

13423739781269166312



Sungguh, ini bukan percakapan yang pantas dilakukan di luar ruangan. Ketiga orang ini – dua wanita dan satu pria – masih berdiri dan saling pandang di dekat pagar.

“Masuklah dulu.”

Bayu yang paling dulu sadar bahwa situasi ini bukan hal yang lazim ditengok mata tetangga. Ketiganya menuju ruang tamu, duduk di sofa usang, lalu kembali saling pandang dalam diam. Bayu sendiri bergantian memperhatikan dua subjek di hadapannya. Wajah santun Rosi dan wajah segar Maya. Mirip, ujar Bayu dalam hati.

Tiba-tiba Bayu berdiri dan melangkah menuju lemari pendingin. Ia mengambil beberapa botol minuman dingin, lalu kembali ke tempat duduknya semula.

“Minumlah dulu. Kalian berdua pasti capek di jalan. Tapi, maaf. Suguhan ini mungkin nggak layak disebut suguhan. Cuma air mineral.”

“Nggak apa-apa, Bay. Ini juga sudah cukup, kok,” sahut Rosi.

Mereka kembali diam.

“Pertanyaanku belum dijawab, Ros,” ujar Bayu.

Rosi bertambah kikuk. Berkali-kali ia pura-pura merapikan rambutnya yang tidak berantakan. Juga bersibuk-sibuk membetulkan bajunya yang sebenarnya tidak salah pakai.

“Dia…,” Rosi mulai membuka suara, “memang Kalina Mayasari.”

“Dan, dia adalah?” sambung Bayu.

“Dia… anak kita.”

Maya diam. Bukan karena sudah tahu perihal kalimat jawaban Rosi. Dia hanya tak tahu bagaimana harus bereaksi. Senangkah? Sedihkah? Marahkah? Terlihat kesemuanya di paras kuning langsat yang kini membatu.

“Anak?!”

“Iya,” jawab Rosi.

“Maksudnya?” tukas Bayu.

“Maaf,” gumam Rosi. “Aku belum pernah cerita ke kamu.”

“Cerita apa?”

“Soal dia.”

“Dia?!” Bayu menunjuk perempuan muda di sebelah Rosi.

“Iya,” suara Rosi meninggi. “Kamu nggak percaya? Perlu tes DNA?”

Bayu tidak menjawab. Ia beralih menatap Maya. “Berapa umurmu, Nak?”

“Hampir dua puluh tiga, Om.”

“Jangan panggil dia, Om,” bisik Rosi pada Maya.

“Ehm…,” Maya bingung.

“Nggak apa-apa, Ros,” Bayu menengahi. “Jadi, umurmu hampir dua tiga, ya.” Bayu mengangguk-angguk, seolah telah menemukan jawaban yang memuaskan dahaga penasarannya. “Pantas saja.”

“Banyak yang pengen aku certain, Bay. Soal kenapa aku pergi, kenapa aku nggak pernah kontak kamu selama aku di Lembang, dan soal….”

“Nggak perlu, Ros. Kamu nggak perlu cerita,” potong Bayu.

“Tapi, aku pengen kamu ngerti, Bay?”

“Memangnya  sekarang kamu nganggep aku belum ngerti?!” Bayu menggeleng. “Naif!”

“Aku minta maaf,” kata Rosi dengan kepala menunduk.

“Aku sudah paham sekarang, Ros. Aku bodoh kalau aku nggak juga ngerti apa yang terjadi lebih dari dua puluh tiga tahun yang lalu, Ros.” Bayu mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kita melakukan hal itu, lalu kamu menghilang. Beberapa tahun setelahnya, aku menerima undangan pernikahanmu. Maaf, aku nggak bisa datang, aku cuma malas melihat perempuan yang harusnya menjadi istriku, malah duduk di samping lelaki lain. Aku juga tahu kamu sudah lama pindah ke Australia. Dan, sekarang muncul gadis ini. Semua tidak perlu diceritakan ulang, Ros. Tapi, mungkin gadis ini yang perlu mendengar ceritamu. Aku yakin, dia pasti punya banyak pertanyaan buat kamu.”

Mendadak Rosi menjadi sangat lelah. Rautnya berubah, walaupun tak lagi ada cairan bening menggenang di pelupuk matanya. Ia meraih tangan Maya, namun gadis itu menarik kembali tangannya.

“Cerita saja, Bu,” kata Maya. “Saya akan mendengarkan.”

Rosi menggeleng.

“Nggak apa-apa, Bu. Apa pun yang nanti akan saya dengar, saya terima,” lanjut Maya.

Rosi menghela napas panjang.

“Sebelum bicara lebih banyak, boleh saya minta kamu manggil Mama, Maya?”

Maya mengangguk sambil tersenyum, walaupun di hatinya belum ikhlas berucap kata itu.

“Mama minta maaf, Nak,” kata Rosi. “Mama masih sangat muda waktu itu, dan nggak tau harus berbuat apa. Semua itu kakek neneknya Al yang mengatur. Termasuk ide menyerahkan perawatanmu kepada orang lain. Setelah mengurus cuti kuliah, Mama tinggal selama hampir satu tahun di Lembang.”

“Ehm…, Ma…,” potong Maya.

“Ya?!”

“Bisa dipersingkat saja? Langsung saja Mama jelaskan, kenapa Mama memilih menyerahkan Maya pada orang lain?”

“Nah, aku juga ingin tau itu, Ros,” tambah Bayu. “Kenapa nggak kamu berikan saja anak itu padaku?”

“Ehm…. Semuanya nggak semudah yang bayangkan, Bay. Saat itu aku bingung, juga dilema. Satu sisi, aku ingin sekali menceritakan semuanya ke kamu. Tapi, di sisi lain, aku juga harus memikirkan orangtuaku. Jadi, kutelan bulat-bulat saja usulan Om Wawan dan Tante Yanti. Toh, itu yang terbaik.”

“Benarkah itu, Ma? Itu yang terbaik?” tanya Maya dengan suara bergetar.

“Maya….” Rosi kembali meraih tangan Maya. Dan, kali ini Maya membiarkan tangan kanannya berada dalam genggaman Rosi. “Mama minta maaf. Mama nggak bermaksud membuatmu menderita, Sayang. Mama cuma berpikiran bahwa penjaga kuburan itu akan menganggapmu sebagai putrinya sendiri. Dan, Mama lihat itu memang benar. Mama tahu, pria tua itu sangat melindungimu, Maya.”

“Pria tua itu ayahku, Ma,” suara Maya terdengar lirih di tengah isaknya.

“Hei, jangan lupa. Akulah ayah biologismu, Nak,” sahut Bayu.

“Harusnya kalian nggak perlu muncul. Harusnya aku bisa hidup lebih tenang. Nggak masalah jika aku harus mati tanpa sempat mengenal orangtua kandungku. Aku bahagia, walaupun hanya hidup dengan bapak. Bapak nggak pernah menganggap aku sebagai anak angkat.”

“Mama tau, Nak.”

“Boleh aku minta pulang sekarang, Ma?”

“Kenapa?” tanya Bayu. “Apa kamu nggak senang ketemu orangtua kandungmu?”

“Bukan itu, Om,” jawab Maya. Rosi tak lagi peduli dengan cara Maya memanggil Bayu. “Mungkin saya cuma belum paham apa yang sebenernya terjadi di masa lalu. Dan, mungkin juga, saya nggak mengharap untuk mengerti lebih cepat.”

“Alasannya?” tanya Bayu lagi.

“Bayangkan saja jika Om ada di posisi saya,” jawab Maya. “Mungkin Om bisa memahaminya.”

Maya langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu. Rosi bertambah bingung dengan sikap Maya. Tapi, ia sempat memikirkan satu hal. Segera ia membuka dompet Louis Vuittonnya dan mengeluarkan selembar kartu nama.

“Telepon aku nanti malam,” katanya sambil menyodorkan kartu nama itu kepada Bayu. “Yang ditulis tangan, itu nomer Indonesiaku.”

Bayu menerima kartu itu tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia juga membiarkan Rosi berlaku seperti Maya, meninggalkan ruang tamu tanpa pamit. Pintu depan ia biarkan terbuka selepas dua perempuan tadi melewatinya. Bayu kembali merebahkan punggungnya ke sadaran sofa. Di depannya – di meja tamu – layar laptop menyajikan screen saver kebun teh Ciwideuy.

***

Pagi belum juga sempurna menebar terang di langit. Semburat lembayung masih menggantung di sebelah timur. Al sudah memarkir Vios hitamnya di tepi lahan pekuburan. Ia belum berani turun. Otaknya masih membayangkan pertemuan terakhir dengan Dahlan, pertemuan yang tak juga membuatnya melihat wajah Maya.

Al meraih ponselnya dari saku kemeja. Ia menekan tombol beberapa kali, lalu menempelkan benda itu ke telinga kanan. Sejenak, dua jenak, nada panggilan itu tak kunjung terjawab. Ia menekan tombol merah dan kembali memasukkan ponsel ke saku kemeja. Dengan sedikit memaksakan diri, Al memilih turun dari mobil dan menghampiri rumah Dahlan.

Al beruntung tak perlu mengetuk pintu kali ini. Ketika ia baru memasuki halaman rumah, Maya muncul di teras sambil memegang sapu. Al langsung berlari menghampiri Maya. Ia menahan tangan Maya ketika gadis itu akan kembali ke dalam rumah.

“Kenapa kamu malah lari?” tanya Al yang masih menahan tangan Maya.

“Tolong lepasin tanganku, Al.” Maya tidak menjawab pertanyaan Al.

“Jawab dulu pertanyaanku.”

Maya menatap mata Al. “Itu hakku. Aku nggak perlu selalu menjawab pertanyaanmu.”

Please, May. Ada apa sebenarnya?”

“Nggak ada apa-apa, Al.”

“Terus, kenapa kamu sama sekali nggak mau ketemu aku?”

Maya berusaha sekali lagi untuk melepaskan diri dari genggaman Al. Dan, berhasil. Ia melangkah ke amben dan duduk. Al pun melakukan hal yang sama.

“Aku bertemu ibuku, Al.”

“Apa?! Ibumu?! Kapan? Sama siapa? Sama Mama?!” cecar Al.

“Nggak. Dia datang sendiri.”

“Terus? Dia ngomong apa aja?”

“Banyak hal. Tapi, itu belum membuat aku paham kenapa dia milih ngasi aku ke orang lain.”

“Apa lagi, May? Ceritain semuanya.”

“Al….” Maya memandang wajah kekasihnya. “Lebih baik kita selesaikan saja semuanya sekarang. Maksudku…, kamu nggak perlu datang ke sini lagi. Bisa, kan?!”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.

Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty One




Dahlan berhenti mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar pusara. Ia berdiri untuk meluruskan tulang punggungnya. Sedikit menggerak-gerakkan bahunya agar hilang rasa kaku pada tubuhnya. Ia melirik ke arah rumahnya. Serta merta ia memicingkan mata tuanya. Samar, ia melihat ada seseorang di teras rumahnya. Dari blok kedua jajaran nisan-nisan, mata Dahlan memang tidak terlalu awas. Wajar, umur lima puluh empat bukan lagi kondisi yang optimal. Jadi, Dahlan meninggalkan sabit dan gunting rumputnya di dekat nisan, lalu melangkah pulang.

Dahlan baru dapat melihat siapa seseorang di teras rumahnya ketika ia akan memasuki halaman rumahnya. Ia juga melihat Maya segera berdiri, seolah hendak menyambutnya. Wanita itu pun ikut berdiri, lalu menengok ke arah pagar. Rautnya langsung berubah begitu melihat Dahlan.

“Siapa lagi tamumu kali ini, Nak?” tanya Dahlan saat menjejakkan kaki di teras rumah.

“Ehm…. Perkenalkan, Pak. Ibu ini tantenya Al,” jawab Maya.

“Oh,” gumam Dahlan.

Wanita itu tersenyum sambil menyodorkan tangannya, mengajak Dahlan untuk berjabat. “Nama saya Laila. Sepupu dari ibunya Al.”

Ah, sepupu rupanya, seru Maya dalam hati.

“Maaf, Bu. Tangan saya kotor, baru habis nyabutin rumput,” ujar Dahlan sambil menunjukkan kedua tangannya yang memang masih kotor.

Wanita itu tersenyum, sedikit menahan malu karena tindakannya sendiri. “Tidak apa-apa.” Ia melirik Maya sebentar, lalu berkata lagi, “Begini, Pak. Saya kemari karena diminta oleh Al. Al sedang sibuk, jadi belum bisa kemari. Tapi, Al minta saya menjenguk Maya dan menanyakan keadaan Maya.”

Dahlan tahu, wanita ini sedang mengarang sebuah alasan. Al tidak sibuk seperti yang baru saja wanita itu katakan. Baru dua hari lalu Al kemari. Dan, lagi-lagi, Dahlan harus membuat Al pergi tanpa bertemu Maya.

“Sekaligus… saya minta ijin kepada Bapak. Saya ingin mengajak Maya jalan-jalan ke kota.”

“Jalan-jalan?!” tanya Dahlan.

“Iya, Pak,” jawab wanita itu.

“Ehm, sebentar ya, Ibu Laila. Saya perlu bicara sebentar dengan anak saya.”

“Silakan, Pak.”

Dahlan masuk, diikuti Maya. Wanita itu kembali duduk di amben. Matanya pun kembali menjelajah satu persatu tetumbuhan yang tertata rapi di halaman.

Sementara itu di dalam rumah, Dahlan mengajak Maya ke dapur. Mereka duduk di kursi makan. Dahlan sengaja memilih dapur untuk tempat berbicara karena letaknya agak di belakang. Ia takut – jika ia bicara di ruang tamu – percakapannya dengan Maya akan terdengar oleh Laila.

“Siapa sebenarnya perempuan di luar itu, Nak?”

“Maya juga nggak tau, Pak. Al sendiri nggak pernah cerita. Dan, kalo menurut Maya, wanita itu nggak menyakinkan tingkahnya. Agak takut, sih, Pak.”

“Bapak juga mikir gitu. Minggu lalu ibunya Al yang datang, sekarang perempuan itu. Sebenarnya apa mau keluarga itu terhadap kita? Kalau saja kamu nggak menolak untuk ketemu Al, mungkin ini nggak bakal terjadi,” papar Dahlan. “Oh, bukan. Bukan maksud bapak menyalahkan kamu, Nak,” buru-buru Dahlan menambahkan. “Tapi, ah…, sudahlah.”

“Maya juga nggak nyangka jadinya begini, Pak.”

Dahlan menghela napas panjang. “Ada yang aneh, Nak.”

“Aneh kenapa, Pak?”

“Nggak tau. Bapak cuma merasa – pas lihat perempuan itu – seolah-olah bapak sedang melihat masa yang jauh dari saat ini.”

“Masa depan, maksud bapak?”

“Semacam itu,” jawab Dahlan hati-hati.

“Aneh-aneh aja, Pak.”

“Sudahlah. Ayo kita ke depan lagi.”

“Tapi, Pak,” Maya menahan Dahlan. “Gimana dengan ajakannya? Maya nggak tau harus jawab apa. Menurut bapak, Maya harus gimana?”

Dahlan kembali duduk. Dahinya berkerut ketika berpikir.

“Kamu sendiri pingin ikut atau nggak?” tanya Dahlan. “Kalau kamu ragu, lebih baik jangan, Nak.”

Giliran Maya yang berpikir keras, menimang berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi nanti. Jemarinya saling taut di atas meja makan. Lalu, dengan gerakan cepat, ia membetulkan poninya yang sempat terurai tak beraturan.

“Maya mau ikut dia, Pak.”

“Hmm?!”

Maya tersenyum. “Maya percaya wanita itu, kok, Pak. Kita nggak kenal terlalu banyak orang. Bahkan, hampir tidak ada yang tau soal hubungan Maya sama Al. Jadi, kalau ada orang yang mengaku mengenal Al secara pribadi, pastinya dia bukan orang asing.”

“Memang benar. Tapi, bapak sendiri nggak menyarankan kamu untuk nerima tawarannya, lho.”

“Bapak tenang saja. Nggak akan terjadi apa-apa, kok.”

Keduanya meninggalkan dapur menuju teras. Wanita tadi masih duduk di amben dan agak terkejut ketika mendapati dirinya sudah tidak sendirian lagi di teras rumah itu.

“Bagaimana?” tanya wanita itu.

“Saya akan ikut, Bu,” jawab Maya. “Asal ibu Laila bisa nganter saya lagi ke sini sebelum magrib.”

Wanita itu tersenyum. “Tenang saja. Nanti saya antar pulang.”

“Ya, sudah. Bapak kerja lagi. Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela.”

Maya mengangguk dan Dahlan segera kembali ke tanah pekuburan untuk meneruskan pekerjaannya yang tadi sempat terabaikan.

“Saya mau ganti baju dulu, Bu.”

Wanita itu mengangguk.

Sudah hampir dua puluh menit, minivan milik wanita yang mengaku bernama Laila itu meluncur di atas lapisan aspal. Maya duduk di depan, di samping kursi pengemudi. Keduanya masih lebih banyak diam. Namun, sesekali wanita itu mencuri pandang ke arah Maya yang lebih banyak melempar pandang ke luar jendela.

“Kamu pernah jalan-jalan ke kota?” tanya wanita itu yang rupanya bosan dengan hening.

“Ehm…, jarang sekali, Tante. Tapi, sejak kenal Al, paling nggak dua minggu sekali, dia ngajak saya ke daerah Dago.”

“Dago?!”

“Iya, Tante. Ya, cuma makan malam sambil ngobrol.”

“Nggak pernah ke mall?”

“Enggak, Tante. Al kurang suka keramaian mall.”

Senyap lagi. Entah wanita itu memang sedang berkonsentrasi dengan kemudinya, atau ia sudah tidak punya pertanyaan untuk Maya. Namun, yang pasti, wanita itu sedang berjuang menahan air matanya agar tidak tumpah di depan Maya.

Kini mobil meluncur ke kawasan timur Bandung, ke sebuah perumahan tak jauh dari tempat pacuan kuda. Wanita itu membawa Maya menelusuri beberapa blok menjauh dari tempat pacuan kuda. Lalu, berhenti tepat di persimpangan blok, di depan sebuah rumah mungil yang halaman rumahnya miskin tanaman. Ada sebuah motor bebek terparkir di balik pagar rumah, menandakan si empunya rumah memang berada di rumah.

Wanita itu turun, pun dengan Maya. Keduanya menghampiri pagar rumah. Wanita tadi memasukkan tangannya ke sela-sela pagar, lalu menekan bel yang menempel di tembok sebelah dalam. Satu kali, dua kali, belum ada jawaban.

“Ini rumah siapa, Tante?” tanya Maya.

“Ini… rumah seorang teman tante.” Agak tergagap wanita itu menjawab pertanyaan Maya. “Kami dulu satu kampus di Unpad. Tapi, dia dua angkatan di atas tante.”

“Oh…,” gumam Maya.

Wanita itu menekan bel untuk ketiga kalinya, barulah pintu rumah terbuka. Muncul seorang pria berumur sekitar empat puluh lima tahun dengan rambut sedikit memutih di sekitar pelipis.

Awalnya pria itu hanya terdiam di teras sambil memperhatikan dua orang wanita yangberdiri di luar pagar. Matanya agak memicing, seolah sedang menyesuaikan diri dengan cahaya siang yang kali ini agak redup karena mendung. Dan, pria itu masih saja memicingkan matanya ketika berjalan mendekati pagar. Ia membuka slot pagar dan menggeser rangkaian besi bercat perak ke arah kiri.

“Kalian siapa?” tanya pria itu sambil mengijinkan Maya dan wanita tadi masuk ke halaman rumah.

“Halo, Bayu,” sapa wanita itu. Ia melempar senyum multimakna kepada pria berkulit sawo matang di hadapannya. “Lama tak jumpa. Apa kabarmu?”

“Kamu…,” pria itu tidak menjawab. Ia malah diam sambil telunjuknya mengarah ke wanita dengan dress merah hati.

“Iya. Ini aku.”

“Rosi!” seru pria bernama Bayu itu.

“Rosi?!” gumam Maya dengan heran.

“Apa kabarmu, Ros?” Bayu memeluk wanita yang ia panggil dengan nama Rosi.

“Baik, Bay. Kamu sendiri gimana?” Wanita itu melepaskan dari pelukan Bayu.

“Ya, begini-begini saja. Tapi, overall, aku baik-baik saja,” jawab Bayu.

“Sibuk apa sekarang?” tanya si wanita.

“Masih ada garapan beberapa skenario film pendek,” jawab Bayu lagi. “Dan, siapa ini?” tanyanya sambil menunjuk Maya.

“Ini….” Wanita tadi tidak langsung menjawab. Raut wajah Bayu pun berubah bingung.

“Tante. Bukannya tadi tante bilang nama tante Laila?!”

“Ehm, begini….”

“Laila?!” potong Bayu. “Namanya Rosi. Rosi Meilani. Kamu, siapanya Rosi?” tanya Bayu pada Maya.

“Rosi Meilani?!” ujar Maya lagi, tanpa mengindahkan pertanyaan Bayu.

“Iya, Rosi,” tegas Bayu. “Kamu siapa?” ulangnya.

“Saya…, saya… Kalina Mayasari.”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.

Two Faces - Chapter One



ku ingat pertemuan pertamaku dengan Mou. Ia datang dengan Sam ke Stamford's Diner. Saat itu sudah hampir jam sebelas malam dan mereka berdua hanya memesan dua porsi french fries dan kopi. Tidak ada yang aneh waktu itu. Mereka berdua seperti pelanggan lainnya yang mampir dalam keadaan kelaparan dan butuh tempat bersantai sebelum benar-benar pulang ke rumah. Aku bahkan tidak menganggap serius lirikan dan senyuman dari Mou karena aku mendapat perlakuan itu hampir setiap hari dari yang datang kemari.

Oke. Kejadian malam itu memang tidak bisa dikatakan sebagai pertemuan pertamaku dengan Mou. Kami baru benar-benar bertemu beberapa hari setelahnya, masih di Stamford's Diner, tapi ketika itu masih pukul empat sore.

Mou duduk di bar dan memesan chicken fillet, scrambled egg, dan segelas besar iced coke. Katanya, itu makan siangnya. Well, yeah, aku tidak peduli. Dan, ketika Mou mengeluarkan sebuah buku tebal – setelah beberapa suapan santap siangnya – dan meletakkannya di meja dengan posisi yang sepertinya sengaja untuk dipamerkan kepadaku. Ehm, aku tidak mau ambil pusing. Bahkan saat aku membaca sekilas sebuah nama yang terpajang di sampul buku tebal itu, aku tetap tidak tertarik. Walaupun sempat terlintas di otakku, nama Mourinho Sanchez pastilah seorang keturunan hispanik. Tapi, kenyataan yang kutahu belakangan, Mou bukan keturunan hispanik.

"Zee," gumam Mou setelah membaca pin yang menempel di seragamku, "nama yang lucu," katanya lagi, lalu melanjutkan lagi makannya.

Apa tadi yang ia katakan?! Lucu?! Huh! Mom dan Dad tidak menganggap nama panggilan itu 'lucu' ketika memberikannya padaku. Dan, Mou adalah satu-satunya pria yang menganggap namaku lucu. Oh ya, aku lupa. Namaku Catherine Adams. Nama yang mudah diingat, bukan?! Tapi, tentu nama Zee lebih mudah menancap di otak kalian.

Itu tadi sekilas tentang pertemuan pertamaku dengan Mou. Kami belum benar-benar berkenalan saat itu. Well, Mou tahu namaku, sementara aku belum tahu kalau ia adalah Mourinho Sanchez.


Episode aku dan Mou dimulai sesaat setelah ia menyebut namaku 'lucu'. Aku yang saat itu sedang menata gelas-gelas – yang kebetulan – tepat di hadapannya, langsung menghentikan tanganku. Aku melihatnya sudah tidak lagi memperhatikanku. Ia sudah sibuk dengan makanannya, dan juga buku tebalnya.

"Kau tertarik dengan namaku?!" tanyaku.

Mou tidak menghentikan tangannya. Pun tidak melihatku ketika menyahut, "Tidak juga."

Aku marah. Tapi, aku bisa apa? Karena tiba-tiba Mr. Stamford sudah berdiri tak jauh dariku. Meskipun pria paruh baya itu tidak sedang memperhatikan aku, tetap saja aku tidak mau mengambil risiko kehilangan pekerjaanku. Jadi, kukatakan saja pada Mou, "Kita akan bahas ini selesai jam kerja."

Aku bilang pada Mou untuk kembali ke Stamford's Diner lewat dari jam sebelas malam, saat aku akan pulang. Namun, entah apa yang ada di pikiranku ketika menyuruhnya kembali. Dan, aku hampir yakin ia tak akan datang. Jadi, begitu saatnya aku pulang, maka kuputuskan untuk benar-benar pulang. Lalu, yang terjadi, seseorang menghentikan langkahku hanya satu blok menjelang rumahku. Dari jarak beberapa kaki,  walau dalam keremangan malam, aku tahu siapa orang itu. Dia Jesse.

"Hallo, Sweetheart," sapa Jesse dengan santainya. Kulihat kedua tangannya tersembunyi di saku jaket. Bukan karena dingin, tapi itulah gaya Jesse.

"Apa kabarmu, Jesse?" tanyaku sambil melanjutkan langkahku. Kemudian Jesse mendampingiku berjalan.

"Tidak ada yang spesial," jawab Jesse. "Oya, Zee. Apa besok pagi kau sibuk? Aku ingin mengajakmu ke galeri."

"Untuk apa? Untuk memandangimu berjam-jam memperkosa tuts piano?!"

Jesse tertawa, padahal aku sedang tidak berniat berkelakar. "Kau lucu, Zee. Tapi, tidak. Bukan untuk yang kau sebutkan tadi."

Hmm.... Agak aneh juga. Hari ini ada dua pria yang menyebutku lucu. "Lalu, untuk apa? Aku tidak mau jika itu tidak ada tujuannya. Dan, kau tahu kalau aku tidak tertarik dengan seni. Apa pun bentuknya."

"Pokoknya aku jemput kau jam sembilan tepat," sahut Jesse yang langsung berlari begitu selesai bicara. Aku bahkan belum sempat memberi jawaban apa-apa.

Jesse benar-benar datang ke rumahku pukul sembilan tepat. Ibuku sedang pergi ke Bronx, jadi aku hanya sendiri di rumah. Dengan langkah malas dan setengah mengantuk, aku menuju pintu depan.

"What?" Saat itu aku belum ingat untuk apa Jesse datang ke rumahku. Ini hari Sabtu, dan aku hanya ingin tidur sepanjang hari sampai saatnya nanti aku harus pergi ke Stamford's Diner.

"Ke galeri. Ingat?"

"Ah, itu."

Maunya kututup lagi pintu depan dan kubiarkan Jesse di sana. Aku sangat ingin berbaring kembali di ranjangku. Tapi, pintu rumah tak bisa tertutup rapat. Rupanya kaki kanan Jesse mengganjal di bagian bawah pintu.

"Ayolah, Zee. Aku janji tidak akan lama," Jesse memohon. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang sejenak apa yang mungkin terjadi di galeri, aku menjauh dari pintu dan membiarkannya terbuka sehingga Jesse bisa masuk.

Oke. Baiknya aku ceritakan sedikit soal Jesse. Aku mengenalnya sejak duduk di kelas sembilan. Jesse pindah dari California karena orang tuanya bercerai dan ia lebih memilih ikut dengan ibunya. Well, nasib kami berdua benar-benar sama. Ibuku lebih memilih pindah ke Brooklyn daripada tetap satu kota dengan ayah di DC.

Rumah kami hanya dipisahkan lapangan baseball yang biasa dipakai oleh liga kecil Brooklyn. Kadang Jesse mampir ke rumahku, tapi lebih sering aku yang menginap di tempatnya. Di belakang rumah Jesse ada sebuah pohon besar – entah pohon jenis apa – yang dipasangi sebuah ban mobil yang diikatkan pada pada salah satu dahannya dengan seutas tali besar. Sebuah benda yang membuat aku selalu kembali ke rumah Jesse.

Dan, seperti remaja normal lainnya, kami pernah berkencan. Beberapa kali. Sampai akhirnya kami sadar – atau lebih tepatnya, aku yang menyadari hal itu lebih dulu – bahwa kami lebih pantas berteman.

Dan, inilah yang terjadi di galeri – kami terlambat satu jam dari janji sebelumnya – Jesse mengajakku berkeliling ke seluruh bangunan besar itu. Galeri kota ini baru saja direnovasi. Ditambah beberapa ruangan dan sebuah taman kecil di sudut galeri. Dari terakhir aku berkunjung ke galeri, bangunan ini seperti rumah hantu. Hanya suara alat musik dari kelompok Jesse yang membuat galeri itu hidup.

Salah satu ruangan baru itu diperuntukkan sebagai kelas menulis. Kabarnya, dewan kota harus mendatangkan mentor dari luar New York. Entah karena tidak ada penduduk kota ini yang qualified, atau dewan kota terlalu pelit sehingga harus berburu harga yang lebih murah.

Saat itu, kelas menulis pagi hari baru saja selesai. Beberapa remaja, juga dua wanita paruh baya, nampak keluar dari ruang itu. Aku dan Jesse menunggu sampai semua orang keluar, lalu kami masuk ke ruangan kelas. Jesse bilang, dia ingin mengenalkanku pada mentor kelas menulis. Aku bilang, untuk apa. Jesse tidak menjawab.

"Ini mentor baru kita, Zee."

Aku melihat pria di hadapanku, yang disebutkan Jesse sebagai mentor baru, dan aku seperti disentil oleh cemeti pawang singa.

"Hallo," sapa pria itu. "Aku Mourinho Sanchez."

Aku berharap sungguh-sungguh, bahasa tubuh remajaku ketika melihat pria tampan tidak akan muncul saat ini, saat aku pertama kali berhadapan dengan Mou. Bahkan aku beruntung, pikiranku bisa teralihkan pada hal lain. Dan, yang langsung kuingat adalah, pria ini yang menyebut namaku 'lucu'.

"Kau?!" gumamku. Aku masih belum bisa berkata apa-apa. Mataku masih tak percaya terhadap objek di depannya.

Mou hanya tersenyum. "Meskipun aku memakai nama hispanik. Aku adalah warga asli Amerika," jelasnya. "Sementara ini aku tinggal di Manhattan."

Kejadian memalukan di galeri sudah lewat dua minggu yang lalu. Aku pun sudah mulai melupakannya. Tapi ada yang aneh. Biasanya Mou rutin ke Stamford's Diner pukul empat sore tiap harinya. Namun, selama dua minggu ini, aku tidak melihatnya. Aku mulai khawatir. Tepatnya, kemarin aku mulai khawatir.

Aku berpikir, jika aku menelepon Jesse atau tiba-tiba ke rumahnya hanya untuk menanyakan Mou, dia pasti curiga. Jadi, aku harus membuat Jesse yang mendatangi rumahku. "Mom meminta bantuanmu membereskan gudang, Jesse. Mom bilang, dia seperti mendengar bunyi binatang ketika mencari sesuatu di sana." Padahal aku dan Mom sudah membereskan gudang minggu lalu, dan tidak terjadi apa-apa.

Jesse datang beberapa menit kemudian. Dia masuk dari pintu dapur – hal yang biasa ia lakukan – dan langsung memberikan seringai itu padaku. "Aku tahu mengapa kau memanggilku kemari, Zee."

"Apa?!" gumamku.

"Aku tidak bodoh. Kau pasti penasaran dengan Mr. Sanchez, kan?!"

Oh, tidak. Aku seperti kehilangan oksigen di seluruh tubuhku.

Aku tahu ada yang tidak beres denganku ketika pertama kali melihat Mou di galeri. Campuran antara rasa jengkel, rasa penasaran, dan kekaguman berlebihan, hinggap di otakku saat itu. Aku tidak pernah lupa bahwa Mou menganggap namaku 'lucu'. Aku merasa harus membalas ejekan itu.

Kesimpulan pertemuan saat itu: Jesse memaksaku menemaninya mengikuti kelas menulis. Aku sulit menolak saat itu. Karena tiba-tiba saja Jesse bercerita pada Mou soal naskah drama yang kubuat saat kelas dua belas untuk pertunjukkan akhir tahun sekolah. Itu, sesuatu yang ingin aku kubur dalam-dalam di gudang memoriku. Saat itu aku setuju menyusun naskah drama hanya karena Jesse memintaku untuk itu. Well, saat itu aku tidak bisa menolak permintaan pacarku!

Jadi, ketika Mou tertawa setelah selesai mendengar cerita Jesse, aku makin jengkel kepada mentor baru itu. Sungguh, aku tidak pernah dan tidak ingin membayangkan Mou bakal menjelma menjadi kekasihku nanti.

--- bersambung ---

Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty

13423739781269166312



Berta duduk di salah satu kursi. Matanya tak henti menyapu ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga. Baginya, ini tempat terkumuh yang pernah ia pijak. Di seberang tempatnya duduk, Maya juga duduk diam, sambil terus memperhatikan Berta. Tak lama, Berta membuka tasnya dan mengeluarkan kipas. Ia mengibas-ibaskan benda itu tanpa peduli apakah sang pemilik rumah tersinggung dengan tindakannya. Hawa siang ini memang sangat panas, pikir Berta.

“Ada keperluan apa Ibu Berta kemari?” Maya memberanikan diri bertanya. Ia mulai jemu dengan sikap wanita di hadapannya.

Berta menghentikan kibasan kipasnya sejenak, dahinya berkerut, lalu menyahut, “Baguslah kalau kamu tidak lagi memanggilku dengan sebutan Mama. Itu… tidak pantas.”

Maya memutar bola matanya, lalu mendengus kesal. “Kalau memang tidak ada hal lain, Anda tentu sudah tahu di mana pintunya, Bu.”

“Kamu ngusir saya?!” Berta membelalakkan mata.

“Terserah Ibu Berta mau mengartikan apa.”

Berta sadar, ini bukan saatnya menyombongkan diri atau mempertahankan kehendak. Segalanya begitu membingungkan, sekaligus membuatnya dilema. Jika ia tidak bisa meluluhkan hati Maya, maka ia akan kehilangan Al. Kalau saja ia punya anak yang lain, ia akan merelakan Al pergi dari keluarganya. Sekarang hal terpenting adalah memiliki pewaris perkebunan tehnya. Dan, ia hanya memiliki Al, maka ia harus bisa mendapatkan Maya.

“Saya tahu, hubunganmu dengan Al dua bulan terakhir mulai merenggang,” Berta melunak. “Boleh saya tahu, ada apa sebenarnya dengan kalian?”

Maya menunduk. Sesungguhnya ia bosan dengan pertanyaan ini. Hampir setiap hari ia mendapat pertanyaan itu dari ayahnya sendiri, terutama ketika sebelumnya ayahnya harus berbohong kepada Al dengan mengatakan Maya sedang tidak di rumah. Bukannya ia malas menjawab, tapi ia takut, jawabannya akan memicu pertanyaan-pertanyaan lain.

“Tidak ada apa-apa, Bu,” jawab Maya.

“Benar?! Kenapa saya merasa kamu sedang membuat satu kebohongan nggak masuk akal.”

“Maksud Ibu?!”

“Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa Al nggak bisa ketemu kamu?”

Kesabaran Maya hampir mencapai batas terjauhnya. Ia menatap lekat-lekat lawan bicaranya, mempertontonkan ketegasan seorang wanita muda, dan menginginkan pemahaman sempurna dari Berta.

“Bukannya itu hak saya untuk memilih bertemu dengan siapa?! Saya pikir Ibu tidak perlu tahu apa alasan saya menolak bertemu putra Ibu.”

“Ah, sudahlah. Katakan saja jumlahnya, supaya saya bisa menyiapkan secepatnya,” tukas Berta.

“Apa?” Otak Maya langsung menangkap maksud kalimat Berta. “Apa Ibu sedang berusaha membeli saya?! Saya tidak mau uang Ibu.” Maya berdiri. “Jangan samakan keluarga saya dengan para penjilat, Bu. Kalaupun Al bukan dari keluarga kaya, itu bukan masalah bagi saya. Bukan harta berlimpah yang melandasi hubungan saya dengan putra Ibu. Memangnya saya tahu sebelumnya kalau Al adalah orang kaya?!” Maya menggeleng tegas. “Tidak. Saya tidak pernah mengira kalian sekaya itu. Semisal saya tahu pun, saya memilih untuk menjauh dari dulu.”

Seumur hidup, Berta tidak pernah mengalami cecaran setajam ini. Itu karena semua orang yang hidup di sekelilingnya sangat menghormati, bahkan cenderung segan dan takut. Maka, ketika ia mendapat serangan kalimat-kalimat pedas dari Maya, ia tidak segera membalas. Otaknya beku untuk beberapa detik. Ia tidak bisa memutuskan apa-apa.

“Satu pertanyaan yang memenuhi otak saya sejak pulang dari Lembang dua bulan lalu,” lanjut Maya. “Seandainya saya bukan anak kandung Ibu Rosi, apa hari ini akan terjadi?”

Berta makin tak berkutik. Mulutnya setengah terbuka, ingin melontarkan jawab, tapi suara itu tak kunjung keluar.

“Apa Ibu akan duduk di situ? Apa saya akan berdiri di sini sambil memaki Ibu?” lanjut Maya. “Mungkin semua yang ada hari ini tidak akan terjadi.”

Peluh di pelipis Berta meluncur tanpa halangan. Ia tidak peduli. Di benaknya membaur semua perkataan Maya. Ia sulit memilah mana yang harus ia serap, mana yang harus ia lawan. Sekali lagi, ia hanya bisa diam.

“Bu…,” suara Maya melembut. Ia sudah kembali duduk di kursinya. “Tolong pikirkan lagi. Saya tahu, Ibu punya rencana yang baik untuk Al. Saya juga paham, Al yang meminta Ibu untuk menemui saya. Tapi, saya merasa tidak pantas menjadi pendamping Al. Jangankan menjadi pendamping, mungkin saya juga tidak pantas menjadi temannya. Anak Ibu berhak mendapat yang lebih baik dibanding saya.”

“Tapi, Al keras kepala,” suara Berta bergetar, hampir tak tertangkap indera pendengaran Maya.

“Saya tahu,” Maya tersenyum. “Memang tidak mudah meluluhkan hati Al. Tapi, itu bukan hal yang tidak mungkin, Bu. Al pria baik. Ia tahu bagaimana harus bersikap.”

Berta memandang Maya bukan dengan tatapan penuh rasa jijik seperti sebelumnya. Sorot matanya sangat keibuan, hal yang jarang muncul dari dirinya belakangan ini.

***

Januari baru mulai beberapa hari, tapi sisa-sia kemeriahan pesta pergantian tahun sudah seperti berbulan-bulan hilang. Langit masih dengan kebiasaannya menampakkan kesuraman semaunya. Maya memetik kuntum melati terakhir dari gerombolan yang tumbuh di dekat pagar kayu. Di telapak tangannya kini tertumpuk kuntum-kuntum putih beraroma harum. Ia akan meletakkan melati itu di meja tamu agar ruangan itu terasa segar dengan wewangian bunga.

Kakinya sudah menapak di teras ketika sebuah minivan mendekat, lalu berhenti tak jauh dari halaman rumah Maya. Ia berbalik dan mendapati seorang wanita paruh baya turun dari kursi pengemudi. Wanita itu tak segera memasuki halaman rumah Maya, tapi memilih berdiri di dekat pagar kayu, persis di sebelah rerimbunan melati. Wanita itu tersenyum kepada Maya. Di mata wanita yang memakai dress selutut warna merah hati, terpancar rona bahagia, sedih, sekaligus penyesalan.

“Kamu Maya?” Suaranya lembut dan renyah, terdengar bersamaan.

“Iya, betul,” jawab Maya.

Wanita itu mendekati Maya. Langkahnya anggun, ritmenya terjaga. “Perkenalkan,” katanya sambil menyodorkan tangan kanan kepada Maya, “saya Laila, tantenya Al.”

Maya segera menumpahkan tumpukan melati di tangan kanannya ke telapak satunya lagi. Lalu, segera membalas jabat tangan wanita itu. “Saya Maya,” balasnya. “Mari masuk, Tante.”

“Ah, tidak usah. Kita duduk di sini saja,” kata wanita yang mengaku bernama Laila sambil menunjuk amben yang sedikit basah karena percikan air hujan subuh tadi.

“Basah, Tante. Sebentar saya ambil lap dulu di dalam,” tukas Maya yang segera melesat ke dalam.

Beberapa saat kemudian, Maya kembali ke teras dengan lap di tangan. Melati-melati tadi sudah ia letakkan di meja tamu.

“Kenapa tidak duduk di dalam saja, Tante?” tanya Maya sambil mengeringkan amben dari sisa-sisa percik air hujan. “Di sini dingin, anginnya agak kencang.”

“Nggak apa-apa,” sahut Laila. “Kalau kita ngobrol di dalam, kita nggak bisa melihat yang hijau-hijau.”

“Oh,” Maya tertawa kecil, “saya ngerti. Silakan duduk, Tante.”

Laila duduk. Dan, cara duduk Laila pun membuat Maya sedikit terperanjat dalam hati. Wanita ini begitu anggun, ujarnya dalam hati.

“Tante Laila mau minum apa? Biar saya buatkan. Teh anget, mungkin?!”

“Nggak usah,” jawab Laila yang secara tiba-tiba menyentuh tangan Maya.

Maya kaget, walaupun tidak sampai punya dugaan aneh-aneh.

“Duduklah,” kata Laila lagi.

Maya dan Laila kini duduk bersebelahan, posisinya agak miring sehingga nampak keduanya seperti sedang berhadapan.

“Apa kabarmu, Maya?”

“Ba… baik, Tante,” jawab Maya. Otak Maya bekerja, mencari-cari ingatan soal wanita ini. Pasalnya, Al tidak pernah cerita jika ia mempunyai seorang bibi. Seingat Maya, kedua orangtua Al adalah anak tunggal.

Hening lagi.

“Bunga mawarnya bagus, ya,” ujar Laila lagi menunjuk satu-satunya kuntum mawar yang mekar di bulan ini.

“Eh, iya, Tante.”

Maya mulai bingung – dan juga bosan – dengan sikap tamu barunya ini. Tapi, ia tidak berani bertanya. Ia melihat wanita itu masih asyik berlama-lama memandang halaman rumahnya, menyapukan indera penglihatannya ke tiap-tiap tanaman yang berada di sana. Tak sadar, Maya pun ikut memperhatikan kebun bunga kecil yang kerap ia rawat jika ada waktu senggang. Maya paling suka rimbun melati di dekat pagar itu.

“Maya.” Tiba-tiba Laila sudah memalingkan wajah ke arah Maya. “Kamu mau ikut Tante?”
Maya terkesiap sejenak. “Ikut kemana, Tante?”

“Ke suatu tempat, rumah seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu.”

Hei, wanita ini aneh, pikir Maya.

“Ehm…. Saya khawatir tidak bisa ikut, Tante. Masih ada yang perlu saya kerjakan di rumah. Lagipula, saya belum minta ijin ke bapak.” Maya berharap, kebohongannya tidak akan terdeteksi si tamu.

“Aku yang akan meminta ijin kepada orangtuamu,” sahut Laila.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.