Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Kisah Al dan Maya - Chapter Thirty

13423739781269166312


previous chapter

“Rhein. Kamu mau ikut Mama?!”

Rosi merasa harus setengah berteriak agar pertanyaannya barusan bisa membangunkan Rhein yang masih tertidur pulas. Tapi, nyatanya itu pun tak berhasil. Akhirnya Rosi harus menarik selimut Rhein, lalu membuka jendela kamar lebar-lebar. Beruntung, matahari sedang bersinar cukup terik untuk ukuran pukul sembilan pagi, sehingga cahayanya langsung mengenai wajah Rhein. Rhein menggeliat kesal. Ia meraih guling dan menutupi wajahnya.

“Kamu mau ikut nggak?” ulang Rosi.

“Kemana?” Suara Rhein teredam spons guling.

“Ke BSM.”

“Berdua?”

“Ya, bertiga, dong.”

“Nggak, deh.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Lagi males jalan-jalan aja. Pengen nerusin tidur.”

Rosi tahu, Rhein sedang berbohong. Rhein tidak pernah menolak diajak sebelumnya. Bahkan terkadang Rhein yang mengajak lebih dulu. Rosi yakin, ini karena Maya.

“Yakin, nggak mau ikut?” Rosi mengulang pertanyaannya.

“Iyaaaa!!!” Rhein berteriak dari balik guling.

“Ya, udah. Mama pergi dulu.”

“Ma! Tutupin lagi jendelanya,” pinta Rhein.

“Tutup sendiri,” sahut Rosi yang lalu menutup pintu kamar dari luar.

“Ah, sial!” teriak Rhein sambil melempar gulingnya ke sembarang tempat.

Rhein bangkit dari ranjang dan mendekat ke jendela. Tadinya ia ingin menutup kembali jendela itu dan melanjutkan tidurnya. Kalaupun tidak berhasil tidur, ia hanya ingin bermalas-malasan saja di kasur sambil membuka Facebook lewat smartphonenya. Namun, begitu melihat pemandangan yang tersaji dari jendela, Rhein mengurungkan niatnya. Ia memilih berdiri di sana dan memperhatikan lalu lintas di bawah. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Di ruas jalan di samping gedung apartemen, melintas sebuah Vios hitam. Mobil itu mengingatkannya kepada Al. Tapi, ia tahu, itu bukan mobil Al. Al tidak mungkin berkeliaran di jalan pada hari kerja seperti ini. Kecuali, pada hari di mana ia menelepon dari stasiun. Tanpa ia sadari, jemari kanannya menyentuh bibir. Ia kembali mengingat rasa itu, rasa yang tidak pernah ia kecap sebelumnya.

Ponsel di meja berbunyi, membuyarkan lamunan Rhein yang masih berdiri di dekat jendela. Rhein segera mengangkat telepon itu. Itu telepon dari Berta.

“Halo, Tante,” ujar Rhein.

“Kamu sudah di apartemen, kan?!”

“Iya, Tan. Kemarin Al jadi jemput di stasiun. Ada apa, Tan?”

“Mamamu mana?”

“Lagi pergi sama Maya,” jawab Rhein.

“Sama Maya? Maya siapa?” Berta heran.

“Maya siapa lagi, Tante. Ya, Maya anak Mama sama…, sama…, nggak tau sama siapa. Emangnya Tante belum kenal sama Maya?”

Berta diam lama sekali.

“Tan…?!” Rhein mengecek layar ponselnya, sambungan telepon masih berjalan.

“Belum. Tante belum tau,” Berta berbohong.

“Masa?!”

“Eh, Tante main ke situ, ya?!” Berta mengalihkan pembicaraan.

“Sekarang, Tan?”

“Iya,” Berta meyakinkan Rhein. “Kalo nggak macet, satu jam lagi tante sampai di tempatmu.”

“Uhm, oke. Rhein tunggu, Tante.”

Rhein meletakkan lagi ponselnya di meja. Ia beranjak ke jendela, melongok ke bawah, dan kembali menikmati pemandangan lalu lintas kendaraan di jalanan kota Bandung sebelum memutuskan untuk mandi. Ia tidak menyesal menolak ajakan Rosi ke mall, karena ia akan mendapat banyak hal dari Berta. Rhein sangat tidak sabar.

***

Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, Rhein sudah di dapur, menyeduh teh melati dan meracik pancake. Ia menaburkan keju di atas lapisan adonan dan membiarkan keduanya meleleh bersamaan. Wanginya menyebar ke ruang tengah, tapi itu percuma, karena tidak ada orang lain di tempat itu. Rhein duduk di kursi tinggi di dapur, menghadap piring pancake dan cangkir teh. Tatapan puas terlihat di matanya. Ia memasang headset di telinga, lalu mulai menyantap sarapannya.

Rhein menyantap pancakenya pelan-pelan. Jari telunjuknya sibuk memindah-mindah halaman situs pertemanan di smartphonenya. Baru saja ia akan membalas salah satu pesan yang masuk, ponselnya berbunyi. Telepon dari Berta lagi.

“Iya, Tan. Udah di mana?” Rhein langsung bertanya.

“Di basement, dekat pintu keluar. Kamu ke sini aja, ya. Sekalian kita jalan.”

“Jalan kemana, Tan? Di rumah nggak ada orang. Mama nggak bawa kunci. Gimana nanti kalo Mama dateng sebelum Rhein pulang?”

“Titipin aja di front office. Tapi, nggak usah bilang kalo kamu pergi sama tante. Bilang aja kamu pergi sama Al.”

“Al, kan, lagi ngantor. Masa iya bisa jalan-jalan siang bolong gini?!”

“Ya, cari alasan lain, dong. Kamu, kan, punya temen di Bandung. Bilang aja lagi jalan-jalan sama temen.”

“Oh, oke. Tunggu Rhein, ya, Tan.”

Rhein memasukkan pancakenya ke lemari pendingin, lalu menenggak habis teh melatinya. Ia setengah berlari ke kamar untuk menyambar tas kecil berisi dompet dan lipbalm. Dengan gerakan cepat, Rhein memakai wedgesnya dan segera keluar.

Keluar dari lift, Rhein langsung menengok ke dekat pintu keluar. Ia mendapati sebuah sedan warna perak terparkir tak jauh dari pos satpam. Rhein berjalan menuju mobil itu dengan langkah mantap. Wanita yang ada di balik kemudi langsung membukakan pintu dan membiarkan Rhein masuk.

“Kita ke BSM?” tanya si pengemudi.

“Terserah, Tante,” jawab Rhein. “Tapi…,” Rhein menggeser duduknya, “sebenernya Rhein pengen tau sesuatu, Tan.”

“Soal apa?!” Berta masih belum menjalankan mobilnya.

“Maya.”

“Huffftt…,” Berta melepas tangannya dari setir. Ia malah mematikan mesin dan membuka jendela di sisinya. “Kenapa kamu pengen tau soal dia?”

“Ehm…, ya… karena emang Rhein belum tau apa-apa soal dia. Rhein cuma tau, ayah Rhein dan dia beda orang. Dia – mungkin – lahir di luar nikah. Dan, dia calon istri Al.”

“Calon istri?!” seru Berta.

“Iya. Cuma itu yang Rhein tau.”

Berta tak menanggapi kalimat Rhein. Ia malah menggapai tasnya di jok belakang. Ia merogoh ke dalamnya, mencari-cari sesuatu. Lalu, ia mengeluarkan benda semacam kotak kecil dan sebuah korek gas. Berta mengeluarkan satu batang dan menyulutnya.

“Lho, lho, lho?! Kok…?! Sejak kapan tante ngerokok?!”

Berta masih diam. Tangan kanannya sibuk mengantarkan batang rokok ke bibirnya. Sementara itu, Rhein benar-benar tak bisa berkutik melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita yang sudah lama ia kenal, kini menampakkan sikap yang tidak biasa. Cara Berta memainkan batang rokok itu – menurut Rhein – seperti bukan pemula.

“Tan….” Rhein berusaha memperoleh kembali perhatian Berta.

Berta mengisap sekali lagi batang rokoknya. Satu isapan yang panjang dan lama. Asapnya berlalu begitu saja melewati jendela dan menghilang di udara.

“Kamu ingat, waktu kamu masih SD, Om Hartono sering ngasi kamu oleh-oleh kalo pulang dari Singapura?”

Rhein mengangguk pelan.

“Kira-kira menurutmu, Om Hartono ngapain ke Singapura?”

Rhein mengangkat alisnya. “Bisnis?!”

Berta menggeleng. Ia isap rokoknya, lalu berkata, “Bukan. Nggak ada bisnis. Yang ada, murni mencari hiburan.”

“Terus?! Apa hubungannya sama Maya?!”

“Dengerin dulu sampai selesai,” sahut Berta.

“Oke.”

Berta mengisap lagi batang rokoknya, lalu membuang puntungnya sembarangan ke lantai basement.

“Kurang lebih sepuluh tahun lalu, papanya Al diajak salah satu temannya ke sebuah hotel mewah. Di sana ada kasino besar. Papanya ditraktir main kartu di sana, dikasi modal lima ribu dollar Singapura. Beberapa kali main, Om Hartono menang banyak. Kalo nggak salah sampai empat belas ribu dollar. Makanya bisa beli banyak oleh-oleh untuk kita.

“Karena tergiur kemenangan besar, papanya Al memutuskan untuk ke sana lagi. Kali ini pakai uang sendiri. Uang tabungan tante juga dipake. Om Hartono menang lagi. Walaupun nggak terlalu banyak, tapi menang terus. Dua bulan sekali Om Hartono ke Singapura. Kadang tante dan Al juga ikut.

“Tapi, di tahun kedua, mungkin keberuntungan papanya Al sudah berkurang. Mungkin juga memang sudah habis. Terus-terusan kalah. Menang sekali, tapi selanjutnya kalah banyak. Cuma ya gitu, papanya Al masih belum mau nyerah. Sempat pinjam ke teman juga, bahkan uang perkebunan juga hampir dipakai. Terakhir – dan yang paling parah – papanya Al sampai pinjam ke bank. Nggak tanggung-tanggung jumlahnya.”

“Berapa, Tan?” Rhein penasaran.

“Lima milyar.”

“Ow. Ya, nggak terlalu banyak sih.” Rhein berkata dengan santai.

“Oke. Mungkin untuk sekarang nilai itu nggak besar. Tapi, delapan tahun lalu, nilai itu sangat besar. Dan, kalau dihitung sama bunganya kamu bakal kaget.”

“Berapa?” Rhein menegakkan duduknya.

“Lima puluh tujuh,” jawab Berta.

“Lima tujuh?!!” Rhein tercengang.

“Dan, temponya dua tahun lagi,” sambung Rosi.

“Tapi, kan, kebun teh tante untungnya besar. Kan, bisa dipake buat nyicil,” kata Rhein.

Berta menggeleng. Ia menghidupkan mesin mobil, menutup jendelanya, lalu kembali bicara.
“Keuntungan rata-rata kebun tiap bulan itu dua ratus sampai dua ratus dua puluhan juta. Sekarang kamu kalikan sendiri. Apa cukup terkumpul lima puluh tujuh milyar dalam dua tahun?”

“Lha, emangnya tante belum mulai nyicil? Kan, ngutangnya udah delapan taun lalu. Kalo emang kebun teh tante untungnya segitu, pastinya utang di bank nggak bakal membengkak sampe segitu.”

“Ya, kamu benar,” Berta mengangguk. “Tapi, papanya Al juga punya utang sama beberapa temannya. Dan, itu nggak sedikit Rhein. Selama delapan tahun ini, sebenarnya tante hidup dalam belitan hutang. Keuntungan kebun sebesar apa pun, sulit untuk nutupin semuanya.”

“Mama tau soal ini, Tan?”

“Nggak. Kalo Mamamu tau, mungkin dia nggak bakal nurutin saran tante untuk menikahkan kamu sama Al.”

Dahi Rhein berkerut. “Maksudnya?”

Berta tertawa. “Rhein…, Rhein…. Kamu emang masih kecil, belum pantes mikir hal kayak gini.”

“Rhein masih belum ngerti, Tan. Terus, hubungannya sama Maya, apa? Dari tadi tante ngomongnya muter-muter.”

“Mamamu itu mewarisi harta berlimpah dari restoran-restoran milik kakek-nenekmu. Belum lagi tiga gerai franchise fast food di Bandung. Yang paling menguntungkan, ya, dari bermain saham di Sydney. Uang Mamamu banyak, Rhein. Sebanyak yang nggak pernah kamu bayangin. Kalo kamu menikah dengan Al, Mamamu berjanji mau ngasi saham dua puluh persen di salah satu restorannya. Memang, nilainya nggak seberapa dibanding jumlah utang di bank. Tapi, masa Mamamu tega nggak ngasi pinjeman duit ke tante?! We’re family. Family gives us everything.” Berta tersenyum sinis.

Dahi Rhein berkerut ketika mencerna kalimat-kalimat Berta. Dan, kerutan-kerutan itu hilang bersamaan dengan hadirnya pemahaman di otak Rhein.

“Jadi, tante ngejodohin Rhein sama Al cuma buat ndapetin uang Mama?”

“Hmm…. Kira-kira begitu.”

I’m sorry to say, Tan. But, you’re totally insane.”

“Oh, Dear. Who cares? I don’t,” ujar Berta dengan santainya. “Bukannya kamu juga bisa dapet keuntungan dengan menikahi Al. Masa depanmu terjamin, Rhein.”

“Al tau soal ini?”

“Tidak ada yang tau. Kamu orang pertama yang tante kasi tau. Dan, tante juga mau ngasi tau sesuatu.”

Rhein tidak bersuara, tapi matanya seolah bertanya: apa itu.

“Kamu masih ingat, papanya Al meninggal karena apa?”

“Serangan jantung waktu di kamar mandi,” jawab Rhein.

“Lokasinya betul, tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi.”

“Terus?”

“Papanya Al menyayat nadinya sendiri.”

Well…. He deserved that.”

“Kenapa kamu nggak kasian sama tante?” Wajah Berta mendadak memelas.

Rhein menggeleng. “Itu kesalahan tante sendiri. Kenapa tante ngebiarin Om Hartono ketagihan main judi? Harusnya, kan, tante bisa mencegah. Atau…,” Rhein tiba-tiba merasa menemukan jawaban, “atau tante juga ikut menikmati hasilnya?!” Rhein mengangguk-angguk mantap. “Ya, mobil-mobil itu.”

“Mobil yang mana, Rhein? Mobil tante cuma ini.”

“Ah, udahlah, Tan. Ternyata ini bukan soal Maya. Dari semua yang tante ceritain ke Rhein, nggak ada hubungannya sama Maya. Ini semua soal tante. Mungkin tante bisa bohongin Mama, tapi nggak bisa ke Rhein. Dan, perlu tante tau, sekarang tante nggak perlu ngarepin Rhein lagi untuk jadi istri Al.” Rhein diam sebentar dan berpikir. “Mungkin Maya sekali pun nggak pantes buat Al kalo niat awal tante seperti itu.”

Rhein keluar dari mobil dan melangkah dengan mantap ke arah lift, tanpa menengok lagi ke belakang.

--- bersambung ---


Sumber gambar, klik image.

Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty Nine

13423739781269166312


previous chapter

Rhein kembali ke apartemen. Dilihatnya sang ibu sedang membuat minuman. Ada tiga gelas tinggi di meja dapur dan masing-masing sudah terisi irisan lemon. Es teh lemon kembali menjadi minuman pelebur kekakuan. Rhein memilih sofa tunggal yang terletak di sudut ruangan, dekat buffet, tak jauh dari pintu menuju balkon. Ia merogoh sakunya, memasang headset ponselnya, dan menutup mata untuk menikmati daftar lagu. Saat itu ia berharap tidak ada orang yang bakal mengganggunya. Ia lelah, walaupun hanya bepergian jarak dekat – Rhein menganggap Jakarta-Bandung memang dekat.

Rasanya mungkin baru satu menit Rhein menikmati musik dari ponselnya, tiba-tiba ada yang melepas headsetnya. Ternyata Rosi yang melakukannya. Sambil memberi tatapan tegas, Rosi memberi perintah, “Pindah! Kita ngobrol di ruang tengah.”

“Ma. Rhein capek. Nggak bisa entaran aja?” tanya Rhein.

“Udah, nggak usah banyak alesan. Sana pindah,” tegas Rosi.

Dengan gontai, Rhein terpaksa menuruti perintah ibunya. Rosi tersenyum. Paling tidak, ketika ada Maya di sini, Rhein agak sungkan untuk bermanja-manja.

“Duduk di sebelah Maya,” pinta Rosi.

Rhein mengangkat kedua alisnya, lalu, “Ma…,” ia memberi tatapan tak percaya.

“Duduk,” ulang Rosi.

Rhein menurut.

Good,” ujar Rosi sambil berdiri di depan sofa, memperhatikan kedua gadis yang duduk bersebelahan. “Yah, kalian memang mirip,” kata Rosi lagi. “Mata kalian sangat mirip.”

“Mirip?! Mirip apanya?” Rhein bingung, tapi Maya tidak.

“Ah, Rhein. Mama memang belum cerita ke kamu,” jawab Rosi.

“Cerita apa?” Rhein makin bingung.

Rosi mendekat ke sofa, lalu duduk di antara Maya dan Rhein.

“Ya, mata kalian memang mirip. Kalian mewarisi mata yang sama dari nenek.”

“Uti?! Maksudnya?” Rhein mengubah posisi duduknya. Kini ia menghadap Rosi.

“Ya, dari Uti.”

Rhein diam, berpikir. Lalu, ia membuka mulutnya. Ia ingin melontar apa yang ia pikirkan, tapi semuanya hanya tertahan di kerongkongan. Rosi tahu, Rhein sudah menduga apa yang ia kehendaki. Pada akhirnya, tidak perlu waktu lama bagi Rosi untuk memberitahu siapa Maya sebenarnya. Tapi, mungkin – pikir Rosi – Rhein akan butuh waktu lama untuk menerima kenyataan.

Maya is your sister, Rhein,” kata Rosi pelan, agar Rhein dapat mencerna maknanya. “Walaupun ayah kalian bukan orang yang sama, tapi kalian berasal dari rahim yang sama. Rahim Mama.”

Alih-alih meneruskan obrolan, Rhein malah berlari ke kamar.

“Lho?! Rhein!” panggil Rosi. Ia hendak mengejar Rhein ke kamar, tapi dicegah Maya.

“Biarin aja, Ma,” kata Maya sambil menahan lengan Rosi.

“Ya, tapi….”

“Nggak apa-apa, Ma. Rhein pasti lagi pengen sendiri dulu,” ujar Maya.

“Tehnya?!”

Maya tertawa kecil. “Biar Maya yang ngabisin,” ujarnya sambil meraih teh lemon bagian Rhein. “Mending sekarang kita terusin masakan yang tadi Mama bikin. Kasian, masih setengah mateng gitu. Kan, nanti malem Al dateng ke sini lagi,” Maya mengingatkan. “Mungkin kita perlu bikin menu tambahan.”

Maya berjalan ke arah lemari pendingin, membuka pintunya, dan melongok isinya.

“Kita bisa goreng brokoli sama kembang kolnya, Ma,” kata Maya lagi. Rosi masih saja berdiri di dekat sofa. “Pake tepung bumbu. Kayaknya cocok buat tambahan lauk.”

Rosi mengalah. Mungkin Maya benar, pikirnya. Saat ini Rhein pasti butuh waktu untuk sendiri.

Di dalam kamar, Rhein menenggelamkan wajahnya ke bantal. Tak ada isak, tapi ia merasa sakit yang tak berbentuk. Ujung jemarinya nyeri, dadanya pun merasa hal yang sama. Ada hal yang seharusnya tidak terjadi. Otaknya sedang berusaha menolak informasi yang baru saja masuk. Itu dilakukannya terus menerus, sampai tak sadar, ia pun terlelap.

***

Bel pintu berbunyi ketika jarum jam hampir menyentuh angka delapan.

“Tolong bukain pintunya, Sayang,” pinta Rosi pada Maya. “Mama mau nata piring-piring dulu.”

Maya mengangguk dan beranjak menuju pintu. Daun pintu bergeser, ternyata Al yang datang. Melihat sosok pria di hadapan, Maya kembali teringat percakapan terakhirnya dengan Al. Itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk diingat, pikir Maya. Tapi, sosok di hadapannya tersenyum, lalu menyerahkan paper bag padanya.

“Buat kamu,” kata Al. Lelaki itu masih memegang dua bungkusan lagi di tangan kirinya.

Maya menerima bungkusan itu. “Ayo masuk,” ajaknya.

Keduanya menuju ruang tengah. Al menghampiri Rosi, lalu menyerahkan salah satu paper bag pada wanita paruh baya itu.

“Rhein mana?” tanya Al.

“Masih di kamarnya,” jawab Rosi. “Dari sore belum keluar.”

Al tidak bicara lagi. Ia langsung menuju kamar Rhein. Pintu terbuka dan Al langsung mendapati Rhein sedang duduk di ranjang, menyandarkan punggungnya ke tembok sambil memeluk bantal. Pakaian Rhein masih sama seperti yang terakhir Al lihat tadi sore. Mata gadis itu coreng moreng karena riasannya berantakan.

“Kamu kenapa lagi, Rhein?” Al meletakkan bungkusannya di meja, lalu duduk di sebelah Rhein.

Rhein tidak menjawab. Ia kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal.

“Kalo nggak mau cerita, ya, nggak apa-apa.” Al bangkit dari duduk, hendak keluar dari kamar.

Tiba-tiba, “Al!” Rhein menampakkan lagi wajahnya.

Al berhenti melangkah. “Ya?”

“Elu pasti udah tau, ya?!” tanya Rhein.

“Tau apa?” Al bingung.

“Maya,” jawab Rhein.

“Maksudnya?!”

“Ah, udahlah. Nggak usah dibahas lagi.” Rhein kembali menopang dagunya dengan bantal.

Al kembali duduk. Ia memandang Rhein penuh selidik. Ia yakin, sesuatu telah terjadi selepas ia pergi. Apa mungkin Rosi sudah memberitahu perihal Maya kepada gadis ini, tanya Al dalam hati.

“Cerita, dong. Ada apa?” tanya Al sambil merapikan rambut Rhein yang berantakan.

Rhein bergeming. Tatapan matanya masih ke arah Al, tapi kosong tanpa makna.

“Sejak kapan elu tau?” Akhirnya Rhein buka suara.

“Soal apa? Maya?”

Rhein mengangguk. “Elu pasti udah tau, kan?! Kenapa tadi siang nggak sekalian bilang ke gue? Elu malah bilang Maya itu calon istri lu. Maksudnya apa?”

Al menghela napas panjang.

“Awalnya gue juga nggak tau, Rhein. Gue nggak pernah kepikiran kalo Maya itu juga anak nyokap elu. Sampai akhirnya, pas gue bawa Maya main ke Lembang, semuanya kebongkar.” Jeda sebentar. “Dan, yah, gue emang udah tau kalo Maya itu kakakmu. Cuma gue pikir, tadi siang itu belum waktunya gue kasi tau elu. Elu baru dateng, masih capek. Kalo gue paksa, pasti elu nggak bakal mau nerima.”

“Sama aja. Mau diceritain taun depan juga gue nggak bakal percaya. Gue itu anak tunggal. Dan, gue pengen faktanya tetep seperti itu.”

“Ya, nggak boleh gitu, Rhein. Cepat atau lambat, elu harus tau itu. Entah itu dari mulut gue atau dari mulut nyokap lu langsung. Itu lebih baik daripada elu taunya dari orang lain.”

“Gue tetep nggak terima.”

Al membelai rambut hitam Rhein. “Gue, Maya, atau nyokap elu sekalipun, nggak maksa elu untuk bisa nerima semua itu sekarang. Yang penting elu udah tau faktanya.”

“Kenapa Maya bukan cowok?” gerutu Rhein. “Padahal gue pengen banget punya kakak cowok.”

“Udahlah, Rhein. Daripada elu ngomel-ngomel nggak karuan, mending elu mandi sekarang. Mama sama Maya udah nunggu dari tadi. Gue sampe laper banget nih, nunggu elu nggak keluar-keluar dari kamar,” canda Al.

“Ogah. Gue mau di sini aja.”

“Ayolah,” bujuk Al. “Ato gue perlu kembaliin lagi barang ini ke tokonya?” tanya Al sambil menunjuk paper bag yang tadi ia bawa.

Rhein meraih paper bag dengan kasar. Ia membuka selotip yang merekatkan mulut paper bag itu, lalu mengeluarkan isinya. Ternyata itu sepotong gaun model A-line berwarna hijau muda. Ada sedikit lengkung terlihat di bibir Rhein. Ia menyukai gaunnya.

Thanks, Al,” gumamnya hampir tak tertangkap pendengaran Al.

Al tersenyum. Dan, sebelum keluar kamar, ia sempat berkata, “Hei, Rhein. Kalo Maya itu laki-laki, mungkin dia nggak ngebolehin gue deket-deket sama elu.”

Pintu kamar tertutup. Ruangan kamar kembali senyap. Rhein masih memeluk gaun barunya. Tak sadar, selepas Al melontar kalimat terakhir, Rhein terus mengembang senyum. Tapi, ia sadar, otaknya menginginkan Al untuk beberapa alasan tertentu.

***

Angin dingin menghampiri balkon tanpa permisi, menerpa wajah Maya. Di sampingnya, Al duduk dengan sikap gugup dan canggung. Lelaki itu memainkan cangkir kopi, memutar-mutarnya di atas meja. Menyesapnya sedikit, lalu memainkan lagi cangkirnya.

“Mungkin Rhein butuh waktu lebih lama lagi.” Akhirnya Al memecah kesenyapan.

“Kamu sadar, kan, seharusnya obrolan kita ini bukan soal Rhein?!” sahut Maya.

Sorry,” gumam Al.

“Ya, sudahlah. Mungkin kita harus melakukannya lain kali, Al,” ujar Maya sambil bangkit dari duduknya. “Aku juga belum siap buat ngobrol lebih banyak lagi.”

Maya menggeser pintu balkon dan masuk ke ruang tengah. Al masih diam dan memandang langit malam kota Bandung. Beberapa menit kemudian, ia memilih untuk kembali masuk ke ruang tengah.

Di dalam, Al mendapati pemandangan yang – ia pikir – seharusnya tidak terjadi. Maya dan Rosi duduk di sofa ruang tengah sambil menonton tayangan tivi kabel, sementara Rhein duduk di salah satu kursi tinggi di dapur sambil bersibuk ria dengan ponselnya. Al menggeleng. Mungkin memang belum saatnya, ujarnya dalam hati.

“Tante, Al pulang dulu,” pamitnya.

“Lho, kok buru-buru?! Tante belum sempat ngobrol banyak sama kamu, Al.”

“Lain kali aja, Tante. Ini udah hampir jam sebelas dan besok Al masih harus ngantor. Weekend nanti, Al ke sini lagi.”

“Ya, sudah. Lain kali aja kita ngobrol.”

“Gue ikut,” celetuk Rhein tiba-tiba. Kini ia sudah berada di dekat pintu utama.

“Ikut kemana?” tanya Al.

“Sampe parkiran bawah,” jawab Rhein.

“Nggak usah,” tukas Al.
Lalu, Rhein melempar tatapan aneh pada Al. Dan, Al langsung tahu, Rhein sedang ingin bicara dengannya.

“Oke.” Al pura-pura menyerah, sementara Rosi hanya menggeleng-geleng melihat tingkah Rhein.

“Obrolan kita tadi siang belum selesai,” kata Rhein sambil menunggu lift terbuka.

“Obrolan yang mana lagi?” Pintu lift terbuka, keduanya segera masuk. “Gue pikir, elu masih butuh waktu untuk nerima semuanya.”

Pintu lift tertutup. Rhein mendekat ke panel yang tertanam di dinding lift. Telunjuknya dengan santai menekan tombol ‘hold’.

“Rhein! Ngapain elu pencet tombolnya?”

Rhein mendekat. “Buat nerusin obrolan kita yang terpotong,” jawab Rhein.

Al merasa Rhein berdiri terlalu dekat, jadi ia mundur selangkah. Tapi, Rhein kembali mendekat. Al mundur lagi dan Rhein kembali memperpendek jarak. Begitu seterusnya, sampai Al tak punya ruang lagi untuk mundur.

Call me evil. Tapi, emang seharusnya gue nggak punya kakak perempuan. Maya boleh aja ada di dunia ini, tapi seharusnya dia bukan pacar lu. Dan, seharusnya juga, gue bisa nikah sama lu.” Rhein mulai meracau.

“Rhein! Sadar!” Al menggoncang-goncangkan bahu Rhein.

Rhein langsung menepis kedua tangan Al dari bahunya. “Gue sadar, Al!” seru Rhein, suaranya bergetar.

“Ya, kalo elu ngerasa sadar, pencet lagi tombolnya.”

“Gue… nggak mau…,” bisik Rhein.

Wajah Rhein makin dekat dengan wajah Al. Rhein memejamkan mata dan membiarkan insting menuntunnya. Dan, benar saja, insting remaja telah menuntunnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia tidak peduli apa reaksi Al. Ia hanya ingin terus dekat dengan Al. Namun, sepanjang lumatan-lumatan itu, Rhein tidak merasakan penolakan dari Al. Ia merasa, memang hal inilah yang seharusnya terjadi.

“Gue tahu, Al, elu juga ngarepin hal ini,” ujar Rhein. Ia kembali menekan tombol ‘hold’, lalu menyadarkan lengan kanannya ke dinding lift. Ia melihat pantulan wajahnya di panel tombol. Lagi, ia merasa bukan dirinya yang ia lihat. Ia melihat wajah seorang gadis dengan tatapan mata kosong, seperti tatapannya.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.

Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty Eight

13423739781269166312


previous chapter

Al dan Rhein melangkah melewati Maya yang masih mematung di dekat pintu. Maya sendiri setengah takjub melihat Rhein. Gadis yang dilihatnya sekarang amat berbeda dengan foto yang ia lihat di buffet. Tidak ada lagi rambut hitam sebahu dan lengkung bibir manis pada wajah polos tanpa riasan. Kini yang terlihat hanya rambut warna burgundy yang dipotong sangat pendek dan riasan mata yang sangat gelap.

“Bolos sekolah lagi?!”

Rosi langsung menyerang Rhein dengan pertanyaan tajam. Tapi, Rhein malah langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, membuka wedges warna khaki, dan membiarkannya di sembarang tempat. Tangannya segera menyambar remote tivi.

“Guru-guru lagi pada rapat, Ma. Dua hari. Daripada panas-panasan di Jakarta, mending ngadem di Bandung.”

“Alesan!” bantah Rosi. “Apa Mbak Rara tau kamu ke sini?”

“Enggak,” jawab Rhein dengan santainya.

“Rhein…, Rhein. Mama, kan, udah bilang kalo minggu depan Mama ke Jakarta. Jadi, kamu nggak perlu ke Bandung. Kalo Papa tau kelakuanmu ini, pasti jatah uang jajanmu bakal dipangkas habis. Nggak bakalan ada lagi liburan semester ke Sydney, apalagi beli mobil. Papa nggak bakal ngasi,” tegas Rosi.

“Rhein pengen ngadem, Ma. Nggak boleh?” Rhein setengah memelas. “Jakarta lagi panasnya ampun-ampunan, Ma.” Lagi-lagi, Rhein berusaha membela diri.

“Kamu juga Al,” Rosi beralih mengomeli Al, “ngapain kamu nurut disuruh-suruh Rhein?”

Al kaget dirinya jadi tertuduh. “Sumpah, Tante. Al juga nggak tau apa-apa. Tiba-tiba Rhein telepon minta dijemput. Ini juga sebenernya Al ninggalin banyak kerjaan gara-gara dia. Terus, tumben-tumbenan dia minta jemput di stasiun.”

“Stasiun?” Rosi heran, lalu Rhein. “Kenapa kamu nggak naik travel aja? Kan, nggak perlu minta jemput Al.”

“Lagi males naik travel, Ma,” sahut Rhein tanpa merasa bersalah. “Males lewat Cipularang.  Bosen liat batu cadas mulu. Enakan naik kereta, bisa liat jurang-jurang yang keren.” Tangan Rhein asyik menekan-nekan tombol remote tivi, memindah-mindah saluran seenak hati. “Kayaknya asyik, deh, kalo bisa bungee jumping di situ. Keren.”

Rosi memandang Al dan seolah sedang menyampaikan permintaan maaf lewat mata atas tingkah Rhein hari ini. Al selalu memaklumi segala tingkah Rhein dan berusaha tidak gegabah menyikapinya. Rhein memang senang bertindak sesuka hati dan itu tak jarang membuat orang-orang di sekitarnya senewen.

“Ini apa?” Rosi baru sadar ada yang aneh dengan rambut Rhein. Ia menarik rambut Rhein hingga warna burgundy itu lepas dari kepala. Sekarang yang terlihat adalah rambut hitam sebahu yang berantakan “Udah Mama bilang, jangan pake lagi wig ini. Anak kecil kayak kamu itu belum waktunya pake wig. Punya rambut bagus, tapi nggak bersyukur. Gundulin aja sekalian kalo kamu tetep pengen pake wig.”

“Mama.... Rhein suka warnanya. Please, jangan dibuang.”

Terlambat. Rosi sudah melempar rambut palsu itu ke tong sampah. Dan, Rhein langsung terperanjat.

“Mama jahat.” Rhein merajuk, lalu kembali sibuk dengan remote tivi.

“Kalo kamu masih nyembunyiin wig di rumah, Mama bakal bakar semuanya. Inget itu, Rhein!”

“Itu siapa, Ma?” Rhein menunjuk Maya dengan mengangkat sedikit dagunya. Perhatiannya tidak lagi ke soal rambut palsu. “Pembantu?” tanyanya.

Lagi, Rosi memandang Al. Kali ini Rosi meminta bantuan Al untuk menjelaskan perihal Maya kepada Rhein. Namun, Al juga menyerah. Ia belum sanggup.

“Itu Maya,” jawab Al.

“Oh, Maya. Bisa minta tolong? Bikinin es teh, atau es jeruk, atau apalah yang dingin-dingin. Gue haus.”

“Rhein!” seru Al.

Rosi malah memijit pelipisnya dengan satu tangan.

“Kenapa?” tanya Rhein.

Al tidak menjawab, tapi langsung menarik lengan Rhein dan membawanya ke salah satu kamar tamu. Sementara itu, Rosi menghampiri Maya yang sedari tadi masih berdiri di dekat pintu. Rosi membimbingnya ke sofa. Maya diam saja, tak bertanya atau menyoal perkataan Rhein. Rautnya pun hampir tidak berubah. Datar.

“Maafin Rhein, ya, Sayang,” kata Rosi.

“Nggak apa-apa, Ma. Rhein, kan, emang belum tau siapa Maya,” Maya menegaskan. “Wajar kalo sikapnya seperti itu.”

“Tapi, nggak wajar kalo tiba-tiba dia bilang kamu pembantu di sini,” sahut Rosi.

Maya hanya bisa tersenyum.

Di kamar tamu, Al mendudukkan Rhein di kursi, sementara ia berdiri berkacak pinggang di depan Rhein.

“Kok bisa-bisanya elu bilang Maya pembantu di sini?!” tanya Al.

“Gue, kan, emang nggak tau siapa dia,” Rhein mencari-cari alasan untuk menutupi penyesalannya.

“Tapi, kenapa langsung ngejudge dia pembantu?”

“Abisan, dandanannya biasa. Mukanya potongan pembantu banget,” gumam Rhein dengan wajah tertunduk. Ia hampir tak berani menatap Al.

“Cuma gara-gara Maya nggak pake make up kayak elu, atau ngeblow rambut ala salon, terus elu seenaknya bilang dia pembantu?! Mikir pake otak, Rhein! Jangan pake dengkul!”

“Sorry,” gumam Rhein tak jelas.

Al menghela napas panjang. “Maya itu pacar gue. Calon istri gue,” ujar Al.

Rhein mengangkat kepala, lalu tertawa keras. Ia bangkit dari kursi dan berdiri tepat di hadapan Al, melempar pandangan meremehkan.

“Calon istri?! Lagi ngelindur?!”

“Enggak,” jawab Al. Ia malas berdebat dengan Rhein.

“Emangnya elu lupa nyokap kita berdua pernah bilang apa?”

“Enggak, tuh.”

Rhein mulai bingung. “Ya, berarti elu nggak bisa seenaknya nganggep perempuan itu calon istri lu,” seru Rhein. “Ortu kita berdua udah sepakat.”

“Sepakat apa? Terserah gue, dong. Gue bebas milih siapa aja buat jadi istri gue.”

“Oke. Nggak masalah. Emangnya gue sudi punya suami elu?! Bakalan repot kalo elu udah reyot, sementara gue masih seger.”

“Rhein. Gue minta tolong banget. Sekali-kali, coba elu pikirin dulu apa yang mau elu omongin. Jangan asal jeplak nggak jelas. Salah-salah malah elu nyakitin orang lain. Nggak masalah kalo lawan bicara elu, tuh, gue. Gue udah hapal tabiat lu. Kalo orang lain, pasti mereka tersinggung sama omongan lu.”

“Oke. Gue minta maaf.”

“Jangan sama gue. Bilang langsung sama Maya.”

“Oh, come on, Al. Masa gue harus ngulang lagi?! Nggak bisa gue nitip ke elu?”

“Nitip apaan? Jangan ngeles, deh. Atau gue perlu bilang kalo elu sering bolos ke Bandung tiap bulannya?!”

“Eit, jangan! Please. Nanti Mama bakalan ngamuk tingkat dewa ke gue. Ntar gue batal dapet mobil baru.”

“Ya, udah. Minta maaf sama Maya, dan gue anggap kita impas.”

Rhein mengacungkan jempolnya. Al beranjak ke pintu dan menyuruh Rhein keluar lebih dulu.

“Sekarang?” tanya Rhein. “Nggak bisa entaran aja? Gue, kan, baru dateng. Masih capek, Al.”

“Nggak pake ngeles!” tegas Al.

Rhein menurut. Ia keluar kamar diikuti Al. Rhein melihat ibunya dan Maya tengah duduk di sofa, lalu ia pun mendekati keduanya.

“Gue…. Ehm, maksudnya, aku…. Aku… aku minta… maaf.” Gugup, Rhein memilin-milin ujung kaosnya.

“Nggak apa-apa,” balas Maya sambil tersenyum.

“Oke,” seru Al. “Masalah beres. Al harus balik ke kantor, Tante. Masih banyak yang harus dikerjain,” pamit Al.

Rosi berdiri dan menyalami Al. “Nanti malem ke sini lagi, ya. Tante perlu bicara sama kamu.”

“Iya, Tante.” Al membalas jabat tangan Rosi.

“Gue anter ke lift,” sahut Rhein yang langsung membuka pintu depan.

“Nggak usah. Elu temenin Mama sama Maya aja.”

“Gue maksa,” sahut Rhein.

“Oke.” Al menyerah.

Di depan lift, sambil menunggu pintu terbuka, Rhein berkata, “Gue iri sama elu, Al.”

“Iri kenapa?”

“Elu bisa dapet pasangan, sementara gue, pacaran paling lama cuma sebulan. Itu juga ternyata gue diporotin.”

“Makanya,” Al mengacak-acak rambut Rhein, “kalo nyari pacar jangan cuma liat tampang.”

“Yaelah. Masa iya gue harus nyari yang tampangnya kayak tukang parkir di bawah?!”

Al tertawa. Pintu lift terbuka dan Al masuk. Sebelum pintu lift menutup otomatis, Al sempat menjawab pertanyaan Rhein.

“Yang penting hatinya, Rhein.”

Quick lesson, please. Gimana caranya biar gue tau bersih apa enggaknya hati seorang cowok?” tanya Rhein sambil menahan pintu lift.

“Elu bakal tau ketika elu melihat matanya,” jawab Al.

“Gitu doang?” Tangan Rhein masih menahan pintu lift.

“Kalo cara itu nggak berhasil, well, yeah…, you just feel that he’s the one.”

Rhein menarik tangannya, lalu pintu pun menutup otomatis. Ia mulai mencerna kata-kata Al, sambil melihat bayangan buram dirinya yang terpantul dari pintu elevator. Sekilas, Rhein melihat wajah gadis manis yang sedang bersedih. Bukan sedih karena rambut palsunya yang kini menjadi penghuni tempat sampah, tapi karena di dalam hatinya kini merasa kosong. Rhein amat kesepian.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.