Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Memilih (episode 1)






Matahari sudah kembali ke peraduan hampir satu jam yang lalu. Namun, dua anak manusia masih saja terduduk di salah satu bangku taman. Keduanya diam. Entah memang tidak ada yang perlu dibicarakan, atau masing-masing terlalu sibuk dengan pikirannya. Si wanita menggigit bibirnya, sedangkan si pria, melipat kedua tangannya di depan dada. Kadang, si wanita pura-pura merapikan rambut panjangnya yang berombak, dan si pria menggoyangkan salah satu kakinya. Jelas, keduanya sama-sama dilanda kecemasan.
“Al?” si wanita memulai lagi percakapan yang telah terhenti cukup lama.
“Ya?” Sang pria tersentak. Ia menegakkan duduknya.
“Kamu melamun?” tanya Maya yang duduk di samping Al.
“Tidak,” jawab Al singkat.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Al?”
Al tidak menjawab. Ia malah menyandarkan punggungnya. Sandarannya dingin, dan itu terasa sampai ke kulit tubuh Al. Ia lalu menengadahkan kepalanya ke langit. Ia melihat banyak bintang malam ini, tapi bulan hanya sepotong yang tampak.
“Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu,” lanjut Maya. “Apa kamu berpikir soal kita?” Maya melontarkan pertanyaan tadi dengan hati-hati. Ia tahu, Al seorang pria yang sensitif. Tetapi, Al bukan seorang pemarah. Jika Al tersinggung akan sesuatu hal, ia hanya diam. Al sanggup tidak bicara walaupun ia sedang di samping Maya. Dan, Maya sedang tidak ingin hal itu terjadi saat ini. Ia ingin Al bicara.
“Memangnya ada apa dengan kita?” Al malah balik bertanya.
Maya mengerutkan dahi. Ia bingung dengan sikap Al malam ini. Ia pun ikut menyandarkan punggungnya ke bangku taman. “Tidak ada. Tapi, barangkali saja kamu ingin mengatakan sesuatu. Kamu ingat, kan, malam ini tepat satu tahun kita saling mengenal? Ya, hanya… saling mengenal…” Maya menunduk, sudut matanya mulai basah.
“Kamu mau kita yang seperti apa?” Sejak tadi pertanyaan Al selalu singkat, tetapi semuanya butuh jawaban yang sebaliknya. Panjang lebar.
“Seharusnya aku yang tanya begitu, Al. Aku ini wanita yang bebas, dan kamu…, bukan seseorang dengan kebebasan seperti yang aku punya. Akulah yang pantas tanya soal status kita.”
Al kembali tegak. Ia memalingkan wajahnya sehingga kini berhadapan dengan wajah Maya Larasati. Al melihat air mata Maya sudah meluncur bebas keluar dari liangnya. “Jadi, kamu menyalahkan aku, menyalahkan statusku?”
“Tidak. Bukan itu maksudku. Tida ada bedanya apakah aku yang bebas atau kamu yang bebas. Aku cuma ingin menyalahkan takdir. Boleh, kan? Kenapa kita dipertemukan ketika salah satu dari kita sudah bersama orang lain?” Maya berhenti sejenak, mengatur napasnya, lalu mulai bicara lagi. “Dan, kamu ingat bagaimana mulanya kita saling mengenal? Kamu yang menghampiri aku saat aku duduk sendiri di bangku taman ini. Bangku yang sekarang kita tempati. Waktu itu, aku sedang merasa sakit. Lalu, kamu dengan tenangnya membanjiri aku dengan rasa nyaman yang seolah-olah tidak ada habisnya. Itu… benar-benar menenangkan hatiku.”
“Itu artinya kamu menyalahkanku,” sahut Al dengan tenang. Ia kembali menyandarkan punggungnya ke bangku taman.
“Bahkan, ketika kamu sedang tidak menginginkanku seperti yang sekarang kamu lakukan, aku masih tetap merasakan Kenyamanan itu, Al. Entah dari mana datangnya.”
“Lalu, aku harus bagaimana? Aku juga masih sayang dengan gadis itu.” Suara Al mulai terpengaruh oleh emosi negatif.
“Aku tidak pernah memintamu untuk meninggalkan dia. Aku tahu, dia gadismu satu-satunya. Aku hanya… Aku… bukan siapa-siapa.”
Nyanyian binatang malam mulai ramai. Mengusir hening yang terjadi antara Al dan Maya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Maya bangkit dari duduknya.
“Mungkin memang sebaiknya aku pergi,” ujar wanita dua puluh tujuh tahun itu. “Aku sudah mengacaukan hidupmu.”
Al ikut bangkit. Ia berdiri berhadapan dengan Maya. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Entah itu untuk melindungi tangannya dari hawa dingin, ataukah ia ingin menyembunyikan kegugupannya dari pandangan Maya.
“Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Maya.”
“Tidak apa-apa, Al. Aku memang harus pergi. Terima kasih untuk segala yang sudah kamu berikan selama satu tahun ini. Aku menghargai semuanya.”
Maya berbalik, hendak beranjak dari hadapan Al. Tetapi, ternyata Al menahan tangan kiri Maya. Maya berusaha melepaskan tangannya, namun genggaman Al terlalu kuat.
“Jangan pergi,” pinta Al. “Aku masih ingin kamu di sini.”
Maya kembali berhadapan dengan Al. “Aku tidak keberatan menemanimu berjam-jam duduk di bangku taman ini, Al. Tapi, apa kamu memikirkan hatiku? Walaupun kamu menggenggam tanganku, memelukku, dan bahkan menciumi tubuhku, aku hanya merasa pikiranmu tidak sedang bersama tubuhmu saat itu.”
“Maaf,” ujar Al lirih. Ia masih menggenggam jemari Maya. “Aku belum bisa memilih.”
“Kamu tidak perlu memilih, Al,” tukas Maya. “Aku yang akan pergi. Aku…”
Maya tidak dapat meneruskan ucapannya. Air mata telanjur meluncur dari sudut matanya. Mereka lalu duduk kembali di bangku itu. Al merebahkan lagi punggungnya ke sandaran bangku taman. Ia menengadah, menatap langit yang miskin bintang.
“Mungkin kedengarannya egois, tapi aku belum ingin kamu pergi, Maya.”
“Belum ingin?” gumam Maya. “Sempurna! Itu memperlihatkan wajah aslimu yang sebenarnya, Al. Seharusnya aku tidak pernah mengizinkan kamu duduk menemaniku waktu itu.”
Al diam saja mendengar caci maki Maya. Ia tidak menyangkal, malam ini ego lelakinya muncul mendominasi otaknya. Maya masih menunggu Al bersuara, meski ia sebenarnya tidak tahan menunggu tanpa kejelasan seperti saat ini.
“Sebenarnya kamu tidak rugi apa-apa dengan perginya aku, Al. Kita tidak sedang berkomitmen apa-apa, kan? Kamu masih punya gadismu. Aku cuma, ya, aku bisa mencari yang lain. Kamu, berbahagia sajalah dengan kekasihmu. Jangan merasa terganggu karena aku pernah singgah sebentar di hidupmu. Aku yakin, sebentar saja, kamu pasti bisa melupakanku. Aku tidak ingin menghancurkan hubungan kalian. Melihatmu bahagia, itu sudah cukup bagiku.”
Kini giliran Maya yang menyandarkan tubuhnya di bangku taman. Ditatapnya langit, masih miskin bintang dan sepotong bulan yang malu-malu bersinar dari balik awan tipis. Suasana kembali menjadi sepi, seperti hati Maya. Beberapa jam yang lalu, ia masih sangat gembira karena Al mengajaknya bertemu lagi di taman ini. Ia bisa melepas rindu dua pekan yang menggebu-gebu terhadap lelaki dua puluh tujuh tahun itu. Sekarang, semuanya lenyap. Kegembiraan berubah jadi senyap luar biasa. Bahkan, Maya mencari-cari ke mana hilangnya suara nyaring dari hewan-hewan malam itu.
“Maya?” Suara Al memecah sunyi. Matanya masih memandang langit.
“Ya?”
Al lalu mengubah posisi duduknya. Menatap Maya dengan tajam. “Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk…” Suara Al terputus.
Hati Maya kembali tidak menentu. Dalam hatinya, banyak sekali kemungkinan yang akan terungkap dari Al. Mungkin saat ini Al hendak mengambil keputusan yang terbaik untuknya. Apakah Al akan meninggalkan kekasihnya untuk Maya? Atau, justru malah Maya yang akan ditinggalkan? Perang batin. Tetapi, Maya telah mempersiapkan diri dan hatinya andai nanti Al lebih memilih kekasihnya. Itu risiko, pikir Maya. Maya pasrah. Namun, Al masih saja bergeming.
“Oh, ayolah, Al! Katakan saja apa yang menguasai pikiranmu saat ini. Aku ingin tahu tentang…, ah, tentang aku, kamu, dan masa depan. Apa itu mungkin, sebuah masa depan untuk kita?”
Terpaksa Maya harus berkata seperti itu, agar Al paham benar dengan apa yang sedang diinginkannya. Tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang betah digantung perasaannya.
“Jujur aja,” Al membuka suara, “aku punya perasaan lebih kepadamu. Tapi…”
“Tapi, ada gadismu yang tak mungkin kamu tinggalkan. Iya, kan?” potong Maya tiba-tiba.
“Bukan, Maya. Bukan itu.”
“Lalu, apa?!” Suara Maya meninggi.
Al agak terkejut dengan sikap Maya. Gadis itu terlihat seperti pribadi lain di mata Al. Pribadi yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Mungkin benar perkataan orang, pikir Al, cinta akan banyak mengubah kepribadian seseorang.
“Kalau aku bilang, aku tidak punya apa yang kamu sebut ‘gadisku’, apa reaksimu?”
“Ah,” Maya mendengus kesal, “pertanyaan apa lagi ini? Kenapa kamu tidak bisa to the point saja kalau bicara? Aku merasa hanya buang waktu mendengar ocehanmu, Al.” Maya tak lagi merasa sedih. Ia hanya merasa sedang dipermainkan.
“Tidak, Maya. Aku tidak sedang mengoceh.”
“Reaksiku, aku tetap pergi. Aku malas berurusan dengan laki-laki tidak punya pendirian macam kamu, Al. Bisa langsung kita bahas poin pentingnya, please?”
Al menghela napas.
“Tidak ada gadis lain, Maya. Aku hanya mengarang cerita. Aku bahkan lupa untuk apa aku mengarangnya. Dan, sekarang, ketika kamu menyinggung soal gadis lain, aku tetap tidak ingat.”
Maya terkejut, meski tak tampak diwajahnya. Dahinya sedikit berkerut. Sesungguhnya, ia tidak mengerti maksud ucapan Al. “Mengarang cerita?”
“Aku minta maaf.”
“Padahal, aku sudah telanjur percaya, Al,” ujar Maya setengah terisak. Ia bangkit dari bangku dan bersiap pergi. “Aku tidak pernah keberatan dengan statusmu. Aku tidak pernah mengeluh kalau kamu tidak bisa menerima ajakanku bertemu di sini. Aku tidak pernah menyinggung soal gadismu ketika sedang mengobrol. Aku tidak pernah menanyakan soal kejelasan hubungan ini. Tapi, aku tidak tahan dengan semua kepura-puraan ini, Al.”
Al tiba-tiba saja berdiri dan langsung mendekap tubuh Maya. “Setop,” bisik Al. “Jangan bicara lagi.”
Maya tenggelam dalam dekapan hangat dada bidang Al. Wangi aftershave yang Al kenakan menggelitik cuping hidung Maya. Ia merasa sedang berada di sebuah kebun bunga warna-warni dengan aneka aroma.
“Aku belum ingin kehilangan kamu, Maya.”
Suara Al membuyarkan khayalan Maya. Kalimat itu lagi, pikir Maya, bolehkan aku menyerah?
“Apa maumu?” tanya Maya yang kini sudah melepaskan diri dari dekapan Al.
“Mauku,” jawab Al, “menjadi milikmu.”
Maya diam saja. Wajahnya datar. Ia tidak sedang berpura-pura menahan emosinya. Ia memang tidak punya reaksi lain, seolah-olah hatinya sudah bebal dengan apa saja yang Al ucapkan. Sementara itu, Al tahu, ia sudah sangat keterlaluan kali ini. Ia bermain api tanpa memikirkan akibatnya. Lalu, sesuatu yang ia siramkan ke arah api itu ternyata bensin. Hasilnya, semuanya berantakan.
Tanpa pikir panjang lagi, Al meraih pinggang Maya, mendekapnya lagi. Kali ini, ia membiarkan instingnya berbicara banyak kepada Maya, lewat pagutan-pagutan lembut.
“Entah kenapa, Al,” bisik Maya, “aku seharusnya tidak mengizinkan kamu menemaniku duduk di bangku taman waktu itu.”
“Ssstt…” Al menempelkan telunjuknya ke bibir Maya. “Kamu sudah pernah bilang itu. Jangan mengulang kalimat yang sama.”
Maya tersadar, ia sudah mengatakan hal yang sama. Otaknya sedikit terlena dengan ciuman Al. Di luar itu semua, Maya hanya merasa, ciuman itu sudah sangat menjelaskan apa yang hendak Al katakan.

(bersambung)


Order melalui:
Penerbit Jentera Pustaka (jentera.pustaka@gmail.com)
Penulis (my.blue.flames@gmail.com)

Apa Saja yang Perlu Dipercantik dalam Naskah Novel?


Siapa sih yang tidak ingin terlihat tsantik? Semua pasti ingin terlihat menawan oleh siapa pun, termasuk juga sebuah karya seni, ingin tampak cantik di mata penikmatnya. Sesuai dengan judul artikel ini, saya akan sedikit membahas tip dan trik mempercantik naskah, terutama naskah novel.

Apa saja yang harus dipercantik?

Pertama, kalimat-kalimat.
Naskah novel tentu berbeda dengan karya ilmiah. Dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat harus jelas dan tidak ambigu. Novel mungkin butuh kalimat-kalimat dengan kiasan, perumpamaan, atau bahkan peribahasa. Tujuannya tentu saja untuk menghibur pembaca. Penulis yang baik, biasanya dapat dengan mudahnya membuat pembaca merasa berada dalam cerita yang mereka baca. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan bermain kata. Satu adegan — misal adegan cowok nembak cewek, atau adegan ciuman, atau adegan marah-marah — bisa dibuat sampai beberapa halaman. Penulis pasti ingin membuat pembaca memahami betapa bahagianya si cewek yang ditembak cowok, atau bagaimana manisnya ciuman pertama, atau seberapa kesalnya si tokoh karena keinginannya tidak terpenuhi.
Tetapi, ingat, jangan sampai kita berlebihan dalam menggunakan kiasan, perumpamaan, atau peribahasa. Kita ini nulis novel yak, bukan buku 1001 Peribahasa. Cantik tidak harus menor. Tidak harus dengan kata-kata yang bahkan jarang digunakan dalam percakapan kita sehari-hari, meskipun dari segi susunan huruf atau pelafalannya amat menawan. Diksi sederhana pun bisa jadi cantik bila momennya pas.

Kedua, momen atau kejadian.
Jika kalian tidak bisa atau tidak suka dengan kalimat-kalimat yang berbunga-bunga, maka yang harus dipercantik adalah momen-momen dalam cerita kalian. Adegannya mungkin sederhana: cowok ngasi bunga ke ceweknya. Tetapi, bila momennya pas, bakal bikin pembaca baper sampai langit ke tujuh. *gosah lebay, ya, mooooyy
Atau contoh lain, adegan pelukan. Ya kali si cewek lagi goreng tempe, trus dipeluk. Bisa aja, sih, kita bikin si cewek bereaksi santai, cenderung manis, senang dapat pelukan. Tetapi, kenyataannya? Bukannya dapat reaksi manis dari si cewek, yang ada si cowok malah disambit spatula. Masih untung itu wajan isi minyak panas nggak salto ke mana-mana, yang lalu adegan berlanjut dengan latar UGD, suara sirene ambulan meraung-raung ganas, dan lilitan perban di kepala — yang jatuhnya malah mirip bando atau bandana — dengan tetesan obat merah di salah satu spotnya… *teroooooos, moy, terooooooooosssss
Oke, intinya, kalau naskah kalian bukan genre fantasi, jangan bikin adegan-adegan absurd kalau kalian nggak menyiapkan pula penjelasan di balik keabsurdan itu. Ingat, cantik tidak harus menor. Dalam novel detektif, momen cantik bisa jadi ketika si penjahat tertangkap karena kelalaiannya sendiri. Dalam novel petualangan, momen cantik bisa jadi ketika si tokoh menemukan spot menarik di alam, yang mungkin sudah bertahun-tahun ia cari. Dalam novel horor, momen cantik bisa jadi ketika si tokoh bisa berdamai dengan ketakutannya selama ini.

Ketiga, gap atau jarak antaradegan.
Kali ini bukan mempercantik, tetapi cenderung menghaluskan. Dalam cerpen, gap atau jarak antaradegan yang besar mungkin masih bisa ditoleransi, tetapi tidak dalam novel.
Novel punya ruang yang luas dan napas yang amat panjang. Manfaatkan itu. Ceritakan semua sedetail mungkin, serunut mungkin. Kita boleh membuat gap atau jarak antaradegan di bab-bab awal atau tengah, tetapi di akhir kisah, gap atau jarak itu harus dihilangkan dengan memunculkan penjelasan-penjelasan. Biasanya ini dipakai untuk kisah kriminal, kisah misteri, kisah konspirasi para elit penguasa, dan sejenisnya.
Ingat, cantik tidak harus menor. Mentang-mentang dibilang harus runut, kalian malah bikin tulisan kayak buku harian, tiap tanggal dikisahkan. Lah kalau kisah yang kalian tulis berdurasi sepuluh tahun, seberapa tebel itu naskah? Jangan-jangan bisa buat ganjel pintu atau nimpuk maling.
Tulis sesuai kebutuhan. Kalau memang ada jeda sekian hari atau sekian bulan antara adegan-adegan penting tersebut, ya, biarkan mengalir seperti itu. Tak perlu dipaksakan harus membuat aktivitas si tokoh per tanggal kalender. Salah-salah, malah pembaca jadi bosan dan langsung ngeloakin buku kalian. Itu pedih, Kak, pediiihh… *gosah lebay lagi, moooyyy

Keempat, ending atau akhir cerita.
Umumnya, akhir cerita ada dua macam: sedih dan bahagia. Namun, ada satu lagi yang belum jamak dipilih penulis novel, yaitu ending menggantung. Jenis ending seperti itu boleh dipilih, asalkan “nggantung”-nya nggak nanggung. Jangan sampai bikin pembaca berhasrat ngebanting buku kita setelah selesai baca. Buatlah seolah-olah pembaca menginginkan kita membuat sekuel dari naskah tersebut, meskipun aslinya mungkin kisah itu sudah benar-benar tamat.
Ingat, cantik tidak harus menor. Ending yang kece tidak akan membuat pembaca muntah, tidak akan membuat dahi mereka berkerut-kerut. Cinderella mungkin boleh mendapat Prince Charming, tetapi ia tidak mendapat seluruh kerajaan, apalagi sampai punya kuasa atas menteri-menteri kerajaan. Bella Swan hanya mendapat Edward Cullen, tidak sekaligus Jacob Black. Jacob Black cukup jadi menantunya. Astronot-astronot dadakan dalam Armageddon nggak perlu mati semua demi meledakkan meteor yang bakal menghantam bumi. Cukup separuhnya, biar Liv Tyler kebagian adegan cipokan lagi. *mooooyyyy, eling, moooyyyyy

Syudah dulu yes. Kapan-kapan sambung lagi dengan artikel lain. Selamat menulis.

Salam lemper, eh, cilok.

Peran Editor dalam Proses Terbitnya Buku


Ada yang ujug-ujug nanya ke saya. Apakah naskah yang hendak diterbitkan memerlukan sentuhan tangan editor?
Jawabannya, tentu saja perlu.
Kenapa perlu?
Ya kali nggak pake editing, itu saltik berceceran di mana-mana, kayak bakul cilok di Denpasar. Siapa yang sudi baca buku penuh saltik dan saltum? *eh
Inti tugas editor adalah memeriksa naskah. Tapi, jangan berpikir bahwa yang diperiksa hanya kesalahan tik. Tugas atau peran editor lebih dari itu. Apa saja perannya? Simak penjelasan berikut.

Pertama, editor membantu penulis mempercantik naskah. Bagian-bagian yang perlu dipercantik antara lain kalimat-kalimat, momen atau adegan, gap/celah/jarak antaradegan, dan bagian akhir cerita. Lebih detailnya akan dijelaskan di artikel lain.

Kedua, editor membantu penulis menemukan genre yang sesuai. Kadang, ketika saya sedang menyeleksi naskah yang masuk, saya menemukan penulis yang salah milih angkot. Misalnya, si penulis kirim naskah bergenre romance, tapi setelah saya baca, feel-nya kayak lagi baca naskah horor. Meskipun plotnya bagus dan minus saltik, biasanya naskah semacam itu nggak saya loloskan. Gantinya, saya beri si penulis kesempatan untuk mengirim naskah lain dengan genre yang saya sarankan. Tentu naskah terbarunya akan dapat perhatian lebih dari saya ketika proses review nanti.
Tapi, bagaimana jika si penulis tidak tertarik menulis dengan genre yang disarankan? Yasutralahyes. Kan nggak boleh maksa-maksa orang. Jadi, saya akan lirik kembali naskah sebelumnya. Kalau memang punya potensi, saya akan minta si penulis merevisi atau — apes-apesnya — menulis ulang naskahnya. Jika hasilnya jauh lebih baik, akan saya loloskan naskahnya. Dengan catatan, asistensi selama proses editing akan lebih kedjam huahahahaha…

Ketiga, dan yang paling saya anggap penting, editor membantu penulis membangun rasa percaya diri terhadap naskahnya. Nggak jarang loh, naskah sudah lolos review, bahkan sudah masuk proses penyuntingan, eh, penulisnya malah semacam menyerah dengan kekedjaman saya. Padahal, tulisannya bagus, buktinya lolos casting. *eh
Ini di luar penyakit malas yang tiada obatnya itu. Biasanya lebih disebabkan rasa pesimis yang menghantui si penulis. Ia tidak yakin dengan hasil kerjanya; apakah pembaca akan suka atau akan muak. Padahal, suka atau tidaknya pembaca sebenarnya sudah terwakili oleh editor. Kami, para editor, juga paham apa yang diinginkan pembaca. Dan, jika kami menyarankan sesuatu, tentunya sudah melalui berbagai pertimbangan.

Jadi, masih beranggapan peran editor sekadar jadi polisi saltik? Sini, saya sleding dandang cilok dulu, biar sehat.

Salam lemper, eh, cilok.

Karya Tunggal VS Karya Kolaborasi


Belakangan ini kita kerap menjumpai sebuah karya, khususnya novel, yang digarap oleh dua orang atau lebih. Mungkin yang muncul di benak kita adalah, bagaimana proses menulisnya? Bisa macam-macam, tergantung kesepakatan para penulisnya. Pengalaman saya dulu, saya mengerjakan bab pertama, lalu rekan saya menyambung dengan bab dua, kembali lagi ke saya untuk bab tiga, dan seterusnya sampai karya tersebut kami putuskan untuk tamat.
Ada lagi jenis kolaborasi yang lain, yang dipadukan juga dengan unsur estafet seperti yang pernah Fiksiana Community gelar beberapa tahun lalu. Tiap bab dikerjakan oleh penulis yang berbeda. Jadi, jika seluruhnya ada lima belas bab, maka jumlah penulisnya pun ada lima belas. Yang kurang ajarnya adalah, karya tersebut dibuat tanpa menggarap lebih dahulu kerangkanya. Panitia hanya memberi tema. Beruntunglah yang mendapat giliran pertama, dan yang apes tentu saja yang paling buntut. Tapi yang lebih mumet lagi ya editornya. Sebab harus mencocokkan detail-detail yang muncul di tiap bab. *paragraf mengandung tsurhat colongan*
Nah, buat yang masih bingung ingin menulis sendiri atau keroyokan, saya jembreng rangkuman perbandingan keduanya.

Karya Tunggal
1.  Sebuah karya tunggal tentu saja berpunca dari ide satu orang. Kalaupun si penulis mendapat sedikit wangsit untuk karyanya ketika sedang mengobrol dengan seorang teman, tidak bisa serta-merta si teman jadi rekan duet menulis. Si teman hanya memberi satu unsur bahan mentah dan si penulis mungkin harus mencari bahan mentah lainnya agar masakannya matang.
2.  Semua tugas (riset, menulis, dan self-editing) dilakukan oleh satu orang. Mungkin akan terasa berat karena durasi pengerjaan jadi lebih lama. Tapi, bagi yang berjiwa soliter, mungkin ini lebih mudah, karena nggak bakal ada yang ngerempongin di tengah jalan. Halangan terberat ketika sibuk riset mungkin akibat lewatnya tukang cilok di depan rumah. *itu mah elu, moy*
3. Penulis dapat mengatur sendiri waktu kerjanya. Mau dimolor-molorin sampe satu milenium juga nggak papa. *disambit dandang cilok*
4. Jika di tengah jalan si penulis menemukan ide lain untuk detail tulisannya, ia bisa langsung menambahkannya tanpa perlu kulo nuwun dulu pada rekannya.
5.  Segala penilaian yang muncul setelah karyanya dipublikasikan menjadi tanggungan si penulis seorang.

Karya Kolaborasi
1. Merupakan hasil kerja dua atau lebih penulis.
2. Bisa berbagi tugas.
3. Durasi pengerjaan mungkin berbatas waktu, tergantung kesepakatan yang dibuat bersama.
4. Jika di tengah jalan salah satu penulis memiliki gagasan baru, harus didiskusikan lebih dahulu dengan si rekan sebelum ditambahkan ke dalam naskah.
5. Penilaian yang muncul setelah karya dipublikasikan adalah tanggungan bersama.

Lalu, bagaimana jika karya kolaborasi yang sudah setengah jalan tiba-tiba mogok karena salah satu penulis memutuskan berhenti bekerja sama?
Pertama, tulisan bisa diteruskan oleh satu orang. Dengan syarat, izin dulu kepada si rekan. Dalam aplikasinya, mungkin penulis pertama harus membuang (sebagian atau seluruhnya) gagasan si rekan yang sudah tidak ikut serta demi menghindari klaim di kemudian hari. Jika si rekan mengizinkan gagasannya tetap dipakai, jangan lupa cantumkan namanya di halaman dedikasi. Jangan seperti cilok yang lupa dandangnya.
Kedua, tinggalkan dan buat tulisan baru yang lain sama sekali. Ini jelas menuntut kerelaan dan keikhlasan yang luar biasa. Kebayang, dong, capeknya japri-an demi bahas naskah. *kebayang, moy, kebayang*
Ketiga, mencari rekan baru. Ini jelas lebih rempong lagi. Selain minta izin ke rekan terdahulu soal gagasan dalam naskah, kita juga harus menyesuaikan diri dengan rekan yang baru.

Menulis novel memang membutuhkan napas yang amat panjang. Bagi yang sudah biasa, tentu nggak ada masalah, meskipun kerepotan yang terjadi ketika menggarap novel nggak ada yang masuk kategori selaaaww. Namun, bagi yang tidak biasa (tapi ngotot pengen punya karya novel) berduet merupakan salah satu alternatif mewujudkannya.
Alasan lainnya, mungkin saja mereka hendak menyatukan dua (atau lebih) poin ke dalam satu novel. Misalnya novel soal romansa yang terjadi di negeri kanguru. Penulis pertama ternyata pernah tinggal cukup lama di Melbourne (misalnya), jadi ia punya amunisi cukup kuat untuk set lokasi dan suasana. Sementara penulis kedua ternyata jago bikin narasi dan dialog dengan level kebaperan yang ruar binasa sehingga sanggup bikin jomblo-jomblo yang baca mendadak cari pohon toge buat gantung diri. *lebay, moy, lebaaayyy* Bisa dibayangkan, kan, gimana kece badainya karya tersebut?
Dapat disimpulkan juga bahwa karya kolaborasi memungkinkan untuk penggabungan lebih banyak unsur kece, meskipun tidak menampik bahwa penulis tunggal pun bisa menggarap hal yang sama. Jadi, mau nulis sendiri atau keroyokan, itu terserah kalian.

Salam lemper, eh, cilok.

Perintilan Penting Ketika Menulis Fiksi


Kenal Robert Langdon? Kalo kenal, pasti kalian kenal dengan si pencipta karakter tersebut. Yakin seyakin-yakinnya, Dan Brown nggak asal jeplak ketika nyiptain karakter seorang profesor yang ahli bener soal simbol-simbol. Apalagi, ketika dikaitkan dengan setting lokasi yang merupakan kota suci Vatikan. Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit untuk mempelajari itu semua — mengingat jarak Amerika dan Eropa yang nggak mungkin ditempuh dengan sekali engklek. Tapi, hasilnya sepadan. Baik film maupun bukunya, laris manis kek cilok bumbu kacang. *lalu disambit Pakde Robert* Pembaca malah bisa dapat wawasan baru soal simbol-simbol, prosesi pemilihan Paus, atau soal karya-karya Da Vinci. Ya, meskipun kita tidak disarankan menelan mentah-mentah semuanya.
Lalu, kenal Ikal atau Lintang? Kalo kenal, pasti kalian juga kenal Andrea Hirata. Jika kalian berpendapat Andrea Hirata amat lihai menuliskan setting Pulau Belitung, itu karena ia memang putra Belitung. Ia memasukkan pengalaman hidupnya ke dalam tulisannya agar karya tersebut berkesan nyata. Serupa dengan karya-karya Dan Brown tadi, pembaca juga bisa mendapat bayangan seperti apa kehidupan di pulau tersebut, bagaimana bentang alamnya, suasananya, dll, dsb, dkk.
Kenapa jadi mendadak ngomongin setting lokasi sih, Moy?
Ya, karena itu penting. Apa jadinya naskah kalian kalo setting lokasi aja ngasal? Baru masuk meja redaksi aja udah pasti dapet omelan dari tukang reviewnya. Itu baru setting lokasi loh ya, belum perintilan lainnya. Misal kayak jadwal race-nya Om Rossi, yang kudunya hari Minggu, malah kalian tulis hari Rabu. Atau jadwal kereta yang kudunya pukul sembilan malam, malah ditulis pukul tujuh pagi. Kalo kalian lagi bikin fiksi fantasi mah bebaaaasssss mo bikin pukul berapa aja tuh kereta meluncur, tapi kalo bukan fiksi fantasi ya jangan atuh.
Misal lagi nih, warna pelangi yang kudunya ada tujuh, malah kalian tulis sepuluh. Itu yang tiga nyomot dari mana? Atau pentol cilok yang kudunya pake tepung kanji, malah kalian tulis pake tepung beras. Nggak jadi cilok, malah jadi bubur sumsum. *mendadak baper, eh, laper*
Sedikit berbagi pengalaman waktu saya nulis Constellation of Love. Si tokoh utama adalah seorang gadis yang gemar dengan ilmu astronomi. Saya? Boro-boro gemar astronomi, daftar zodiak aja nggak apal. Eh, itu mah astrologi yak. Maap, maap.
Singkatnya, saya belajar lagi. Saya mencari tahu apa yang saya butuhkan. Saya membuka banyak sekali laman astronomi, baik yang resmi maupun dari blog-blog pencinta astronomi. Saya bahkan sampai mencari tahu teleskop jenis apa yang banyak beredar di pasaran. Tapi, tidak semua informasi bisa saya masukkan ke dalam naskah. Saya menyaringnya lagi, mengecek ulang, dan setelah yakin, baru saya berani memasukkannya ke dalam naskah.
Begitu pula ketika saya mengedit sebuah naskah. Bolak balik ngecek kamus, buka browser buat cek data, buka KBBI lagi, lalu Google Translate, lalu KBBI lagi, dan berakhir dengan ngintip temlen pesbuk. *kembali disambit Pakde Robert* Semua demi sebuah kesesuaian. Kalian pikir saya akan telan begitu saja ketika dalam naskah nemu nama tempat yang sebelumnya tidak pernah saya tahu atau dengar? Tidak. Saya pasti mengeceknya. Minimal menyamakan penulisan serta membaca sedikit ulasan mengenai tempat tersebut. Karena kalo sampe kesalahan itu muncul setelah buku terbit, sayalah yang akan diminta foto bareng, eh, dicaci maki oleh pembaca. *malah tsurhat*
Jadi, inti dari tsurhatan random ini adalah, sayangi naskah kalian. Perlakukan karya kalian dengan baik. Caranya? Dengan tidak melakukan hal konyol bernama ‘malas riset’. Riset paling mudah memang lewat internet. Tapi, ingat, bijaklah menyaring semua informasi yang kalian baca.

Salam lemper, eh, cilok.