Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Showing posts with label cerita nyampah. Show all posts
Showing posts with label cerita nyampah. Show all posts

If Happy Ever After Did Exist...



Kau datang lagi. Berdiri di depan pintu rumahku dengan wajah tampanmu yang selalu terlihat menyebalkan. Dan lebih menyebalkan lagi, aku menyukai wajah itu. Kau tersenyum, tapi tanpa bicara. Buatku, senyuman itu berarti banyak hal. Hanya saja, aku tak tahu pasti yang mana yang sedang kau tunjukkan saat ini. Kau, pria dengan sejuta ekspresi wajah. Aku benci itu.

Mungkin seharusnya aku langsung menghambur ke dalam pelukanmu, menikmati rasa mint dari bibirmu, dan membiarkan aroma aftershave itu menerobos masuk lubang hidungku. Tapi itu tidak terjadi. Yang ada saat ini, aku hanya memandang dirimu dengan pertanyaan besar, mengapa. Dan kau, Aaron, lagi-lagi aku tidak bisa membaca ekspresi wajahmu. Apakah kau sedang menunjukkan rasa rindu yang begitu besar kepadaku? Ataukah kau hanya ingin memastikan apakah aku merindukanmu dengan benar? Atau yang terakhir - yang paling aku benci dan tak kuharapkan terjadi - kau ingin memberitahu aku bahwa kau baik-baik saja tanpaku. Ah, itu menyakitkan, Aaron.

Hallo, SerenaLong time no see, huh?!” katamu dengan nada cuek yang menjengkelkan.

Where have you been?” tanyaku dengan malas.

Going somewhere.”

“Aku senang kau masih ingat jalan ke rumahku.” Kali ini aku ingin membuktikan padanya bahwa akulah yang baik-baik saja tanpa diriya.

Yeah…. I want to see you. Boleh aku masuk? Kita perlu bicara.”

“Bicara saja di sini,” sahutku dengan tegas.

Aaron nampak bingung dengan perubahan sikapku. Itu terlihat jelas di wajahnya. Dan itulah untuk pertama kalinya aku melihat sebuah ekspresi utuh di wajahnya.

We really need to talk,” katanya dengan lembut, namun terkesan ada nada kemarahan di sana.

“Aaron…. Banyak yang terjadi ketika kau pergi.” Mungkin memang aku harus menjelaskan padanya. “Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan waktu kita yang terbuang percuma. Seharusnya kau memikirkan hal itu sebelumnya. Aku tidak sanggup jika terus kau permainkan seperti itu. Aku wanita, aku punya hati, dan itu bukan untuk dipermainkan dengan mudahnya, like you did to me.”

Aku berhenti bicara sejenak dan berusaha mengontrol liang-liang di mataku agar tidak menumpahkan isinya. Aku ingin Aaron mengerti, aku bukan wanita yang seperti dia pikirkan.

“Pergilah,” kataku lagi. “Kau layak mendapatkan yang lebih dariku.”

Aku menutup pintu. Aku masih berdiri di situ sampai Aaron pergi. Dan sekarang, aku benar-benar menangis, menangisi sebuah kejadian yang tidak seharusnya tidak perlu terjadi.

If happy ever after did exist, I would still be holding you, Aaron. Like I always did.

Wanita, Emansipasi, dan Kartini




Emansipasi wanita. Itu dua penggal kata yang sering aku dengar selama bulan April. Sayangnya, aku tidak cukup pintar untuk tahu apa arti dari dua kata itu sesungguhnya. Butuh waktu lama hingga aku sedikit mengerti hal itu. Ya… maklum saja, aku bukan termasuk manusia beruntung yang bisa mencicipi pendidikan di bangku sekolah. Jadi, aku hanya bisa menambah pengetahuan dari sekitarku saja. Dan… oya, dari televisi juga.

Mereka yang selalu muncul di layar kaca itu bilang, bahwa emansipasi adalah bentuk penyetaraan antara pria dan wanita. Jujur saja, aku tidak pernah mengerti apa artinya. Hingga setelah sekian lama, aku baru mendapati maksud dari dua kata itu. Mereka ingin pria dan wanita disejajarkan posisinya. Baiklah, aku sedikit menangkap maksudnya. Tapi itu membuatku berpikir lagi, disejajarkan dalam hal apa. Hmm…, ternyata aku tetap tidak mengerti maksudnya.

Lalu di lain hari aku melihat tayangan yang berbeda soal emansipasi wanita. Mereka bilang inilah waktunya para wanita di Indonesia bebas memilih sebuah pekerjaan. Apapun bentuk pekerjaan itu, sekarang sudah tidak boleh lagi ada yang melarang, sekalipun itu akan menjadikan mereka srikandi dalam sarang manusia berhormon testosterone. Ehm…, aku hanya bisa tertawa miris ketika melihat dan mendengar tayangan itu. Aku tertawa dalam hati ketika harus mendengar kata ‘memilih’ alih-alih ‘terpaksa’. Mengapa? Mari menyimak sedikit tentang diriku.

Aku seorang wanita. Aku sudah berkeluarga. Dan aku adalah seorang kuli bangunan. Kaget?! Jangan lah…. Itu bukan hal yang bisa membuatmu terkena serangan jantung. Bagi siapapun yang pernah menetap sejenak di Pulau Dewata, pasti tahu bahwa itu adalah hal biasa. Lalu apa hubungannya dengan yang tadi kukatakan di atas?

Begini…. Kalau aku tidak salah ingat, bukankah pekerjaan sebagai kuli bangunan adalah pekerjaan para pria?! Dan mengapa aku yang seorang wanita bisa bekerja menjadi kuli bangunan? Ya itu tadi, karena sebuah keterpaksaan. Hanya itu pekerjaan yang bisa aku dapatkan dengan kepintaran otak yang terbatas. Jika bisa, aku tidak ingin bekerja diluar rumah, apalagi sebagai kuli bangunan. Aku memilih untuk tetap di rumah dan mendidik anakku. Ah, tiba-tiba aku jadi ingat iklan minuman penambah tenaga yang memiliki jargon bahwa pekerja lapangan adalah lelaki. Ingin kutampar saja si pembuat iklan itu, agar mereka tahu iklan seperti itu telah menyakiti hati kami para wanita yang bekerja sebagai kuli bangunan.

Dan siapa pula itu Kartini? Mereka yang di televisi selalu menyebutkan emansipasi wanita diprakarsai oleh Kartini. Setahuku, Kartini adalah nama seorang yang dipakai sebagai nama sebuah ruas jalan di kota Denpasar ini. Baru seminggu yang lalu aku mengetahui siapa Kartini sebenarnya, ketika anak perempuanku yang masih kelas 2 SD mengoceh soal pelajaran di sekolahnya, dan dia menyebutkan nama itu. Wanita itu – yang bernama Kartini – telah berjasa besar dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum hawa. Berkat wanita itu, kini kaum hawa berhak mengeyam pendidikan setinggi-tingginya dan bebas memilih pekerjaan untuk dirinya sendiri.

Sekali lagi aku harus tertawa miris di dalam hati. Pendidikan di Indonesia tidak membiarkan orang sepertiku – yang berharta remah-remah emas – menikmati manisnya ilmu di bangku sekolah. Aku bersyukur anak perempuanku satu-satunya masih bisa bersekolah. Dan memang karena itulah aku rela menjadi kuli bangunan. Aku tidak ingin anakku mengikuti jejak keterpaksaanku.

Aku kembali berpikir di antara waktu-waktu singkatku, tentang hubungan antara wanita, emansipasi, dan Kartini. Ah…, untuk apa aku memikirkan hal seperti itu? Hanya sia-sia dan percuma. Lebih baik aku tidur agar aku punya tenaga untuk berkerja esok hari. Selamat Hari Kartini bagi yang merayakannya. Karena jujur saja, aku tidak merayakannya.

Kenapa Fiksi #3




Kok ini lagi ya?! Hahahaha…. Abis gimana dong?! Soalnya kalimat-kalimat ide itu munculnya tidak berbarengan dengan ide tulisan yang saya posting sebelumnya. Tapi kali ini saya tidak akan bercerita soal dialog imajiner lagi, atau menceritakan sesuatu melalui dua karakter fiksi saya. Saya akan berbagi soal pertanyaan yang terlontar dari suami saya tercinta, tentunya masih soal cerita fiksi garapan saya.

Suatu malam, ketika saya sedang mengerjakan sebuah cerpen (saya lupa yang mana), suami saya ikut menemani sambil makan cemilan. Tiba-tiba saja dia bertanya, “Kenapa gak dibikin komik aja?” Dan dengan ringannya saya pun menjawab, “Aku gak bisa nggambar.”

Lalu dia menawarkan diri untuk membuatkan gambar-gambarnya. Tapi sekali lagi saya menolaknya. Bukannya saya meragukan kemampuannya sebagai seorang desainer grafis yang jago pula menggambar, hanya saja saya tidak suka kalau cerpen-cerpen saya dituangkan dalam bentuk komik. Bukan berarti saya tidak suka komik lho. Favorit saya tetap Donal Bebek hehehe….

Satu lagi alasan saya menyukai menulis cerita fiksi adalah prosesnya. Saya sangat menikmati proses menemukan kata-kata yang pas lalu merangkainya menjadi sebuah kalimat. Lalu saya menemukan lagi beberapa kata dan menjadi satu kalimat lagi. Begitu seterusnya hingga banyak kalimat yang saya kumpulkan, lalu terangkailah menjadi paragraf-paragraf yang sarat makna. Dan ketika saya membaca ulang apa yang telah terangkai, saya menjadi sangat puas.

Saya jadi teringat tentang keluhan seorang sahabat. Ia ingin sekali menulis sebuah cerita fiksi, tapi ia berkata tidak bisa membuatnya. Saya menjawab dalam hati, “Itu tidak mungkin”. Sebenarnya tidaklah sulit untuk membuat sebuah cerita fiksi. Mungkin yang terasa sulit adalah saat pertama memulainya. Jika kita sudah mendapatkan starting point yang pas, maka kita dapat dengan mudah mengalirkan cerita begitu saja. Dan itu pasti terasa sangat meyenangkan ketika sudah ada sebuah alur yang pasti di otak kita.

Jadi, mengapa Anda tidak mencoba untuk mulai menulis fiksi sore ini? Saya yakin, banyak di antara para pembaca adalah orang-orang yang berbakat menulis fiksi.

Salam hangat :)

Kenapa Fiksi #2




Tulisan ini adalah kelanjutan dari postingan sebelumnya yang berjudul Kenapa Fiksi #1. Tapi dalam tulisan ini, aku tidak akan menggunakan dua karakter fiksiku, Nita dan Pram. Di sini hanya ada aku yang bercerita.

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja muncul dialog imajiner di kepalaku. Sebuah percakapan antara aku dan diriku tentang alasan menulis fiksi. Hmm…, mungkin agak aneh ya. Tapi biarkan aku berbagi sedikit saja penggalan dialog itu.

***

Aku : Kenapa sih kau senang sekali menulis cerita fiksi?

Diriku : Karena hanya tulisan jenis itu yang aku kuasai penggarapannya.

Aku : Tapi kau kan bisa belajar lagi untuk menulis jenis lainnya? Itu tidak akan sulit bagimu.

Diriku : Memang benar. Hanya saja, aku tidak tertarik. Bagiku, hanya dengan menulis fiksi, batinku bisa terpuaskan.

Aku : Ah, kau bohong. Kau hanya ingin menciptakan sebuah dunia baru yang sesuai denganmu.

Diriku : Hmm…, itu terserah aku. Toh tidak ada orang lain yang aku rugikan.

***

Dari kecil, sejak aku bisa membaca, aku sudah menyenangi cerita-cerita fiksi. Sewaktu SD bacaan favoritku adalah cerpen-cerpen di majalah Bobo dan serial Donal Bebek. Walaupun hanya membeli majalah bekas, aku tidak mempedulikannya. Bahkan aku bisa membacanya berulang-ulang tanpa merasa bosan sedikitpun.

Ketika masuk jenjang SMP, aku mulai berkenalan dengan serial Trio Detektif karya Alfred Hitchcook. Dan untuk memuaskan dahagaku, aku bergabung dengan sebuah persewaan komik yang kebetulan memiliki koleksi serial itu. Beranjak SMA, aku mulai menyentuh buku-buku karangan Agatha Christie. Karakter favoritku adalah Hercule Poirot. Menyenangkan sekali rasanya bisa ikut tenggelam dalam teka-teki yang diciptakan wanita hebat itu. Jujur saja, aku ingin menjadi seperti Agatha.

Dan setahun lalu, ketika aku ‘menemukan’ Kompasiana sebagai harta karun yang baru, aku merasa sangat beruntung. Kanal fiksi adalah kanal yang paling sering aku kunjungi. Aku banyak membaca karya-karya hebat dari teman-teman Kompasiana. Aku yakin, sebagian dari mereka menulis tanpa mempedulikan reward berupa materi, yang penting imajinasi dan buah pemikiran mereka bisa tersalurkan. Begitu pula denganku.

Sekali lagi, mungkin tulisan ini kurang bermanfaat. Tapi paling tidak, ini hasil karyaku sendiri.

Salam hangat.


Kenapa Fiksi #1




“Kenapa fiksi?” tanya Pram kepada Nita, kekasihnya.

“Hmm…. Kenapa ya?!” gumam Nita.

“Aku tahu kau suka menulis. Tapi dari sekian banyak topik yang bisa kau tulis menjadi sebuah artikel, mengapa kau memilih fiksi?” tanya Pram lagi.

Baru saja Nita akan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Pram, tapi Pram sudah mengajukan pertanyaan lagi.

“Dan mengapa kau pilih internet sebagai media untuk menyalurkan karyamu? Tapi tahan dulu jawabanmu. Aku akan buatkan secangkir teh hangat untukmu.”

Pram berlalu menuju dapur untuk membuat teh hangat. Beberapa saat kemudian, ia muncul lagi dengan dua cangkir teh hangat di tangannya.

“Bisa kujawab pertanyaanmu sekarang?” tanya Nita.

“Silahkan.”

“Dokterku mengatakan bahwa otak kananku lebih besar ketimbang otak kiri,” ujar Nita.

“Hah, you kidding?!”

“Hihihi…. Entahlah kalau soal ukuran. Tapi yang jelas, aku sudah menyadari sejak lama bahwa otak kananku lebih aktif. Aku lebih tertarik membaca rubrik cerpen pada majalah remaja dan koran. Dari situ aku mulai membuat cerpenku sendiri. Dan aku menemukan suatu kesenangan tersendiri ketika melakukan hal itu. Maksudku, ketika aku menulis, aku seolah berada dalam suatu dunia yang hanya ada aku di sana. Tidak ada yang berani menegur apa yang hendak aku tulis karena ini memang imajinasiku sendiri.”

“Tapi itu kan menjadikan dirimu seolah hidup dalam sebuah fantasi. Kau jadi tidak bisa merasakan apa yang terjadi pada dunia saat ini.”

“Eits, tunggu dulu. Itu bukan berarti aku tidak peduli dengan kejadian di sekitarku. Aku tetap bisa menulis soal kelaparan di Somalia melalui fiksi. Atau soal angka buta huruf yang masih tinggi di Indonesia bagian timur. See, the point is, aku bisa memasukkan tema apa saja ke dalam fiksi, tapi tidak sebaliknya.”

“Maksudnya?” tanya Pram lagi karena sedikit tidak mengerti.

“Hihihi…. Pacarku o’on juga ternyata,” celetuk Nita.

“Ayolah…. Jangan bercanda, Nit.”

“Kau jelas-jelas tidak mungkin menyelipkan hal yang fiksi di rubrik politik. Itu pasti akan menimbulkan kekacauan dan pasti akan merembet ke hal yang lain. Atau contoh lain misalnya. Kau tidak mungkin mem-fiksi-kan harga beras dalam kolom ekonomi. Dan kau pun tidak boleh memfiksikan jumlah gol dalam sebuah pertandingan sepak bola yang kemudian kau masukkan ke kolom olahraga. Tapi dalam fiksi, semua itu boleh. Ya, namanya juga fiksi. Yang penting tidak menyinggung soal SARA.”

But, writing fiction can’t feed you well.”

“Wow, jangan salah. Kau pikir apa yang sudah ditulis oleh Walt Disney dan Agatha Christie? Atau Pramoedya Ananta Toer dan Djenar Maesya Ayu? Mereka bisa makan dari menulis fiksi, Pram.”

“Oke, aku tahu itu. Tapi mengapa harus melalui internet kau publikasikan karyamu?”

“Hmm…. Ibarat sedang menaiki tangga, sekarang aku masih berada pada anak tangga yang pertama. Aku tidak mau buru-buru menaiki tangga itu. Takut di tengah jalan aku terpeleset dan akhirnya harus mendarat lagi di posisi awal. Untuk saat ini, aku hanya ingin karyaku dikenal orang secara random. Sekaligus aku ingin tahu, sebenarnya fiksi macam apa yang digemari publik sebagian besar. Dan aku pun masih ingin mengasah keterampilanku dalam menulis fiksi sebelum aku benar-benar terjun ke ranah itu dan menjadikan fiksi sebagai sumber emas permataku.”

Sinar bulan jatuh ke lantai teras tempat Nita dan Pram duduk. Walaupun belum bulat sempurna, tapi sinarnya cukup terang untuk menemani mereka berdiskusi malam ini. Dan malam ini, Pram mendapat satu lagi pelajaran dari kekasihnya. Bahwa menulis fiksi bukanlah sesuatu hal yang sia-sia belaka.

***