Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Showing posts with label article. Show all posts
Showing posts with label article. Show all posts

Menikmati Orgasme Pengetahuan




Mungkin sudah banyak yang membahas soal jenis orgasme yang satu ini. Beberapa di antara kalian juga mungkin sudah mengerti apa yang hendak saya bahas di sini. Yang jelas, ini murni opini saya. Semisal ada kesamaan dengan apa yang diungkapkan orang lain, itu kebetulan semata.

Lagi-lagi soal orgasme, ya? Tenang, ini bukan sesuatu yang buruk. Malah mungkin bagi sebagian orang, ini adalah kewajaran yang menyenangkan.

Menurut KBBI, orgasme memang istilah yang dipakai dalam bidang kesehatan, khususnya berkaitan dengan seksualitas. Orgasme adalah puncak kenikmatan seksual, khususnya dialami pada akhir sanggama. Nah, bagaimana dengan orgasme pengetahuan?

Akhir-akhir ini, ramai dibahas soal bumi menuju dimensi kelima. Topik ini cukup lumrah dalam komunitas-komunitas berbasis spiritual. Apa, sih, dimensi kelima itu? Ini adalah tingkatan saat seluruh penghuni bumi berada pada kesadaran penuh atas eksistensi mereka di alam raya. Fase ini ditandai dengan makin tersebar dan diterimanya pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya tersembunyi, entah sengaja disembunyikan atau memang baru ditemukan.

Pengetahuan-pengetahuan ini umumnya memang agak sulit diterima awam. Bisa jadi karena keterbatasan cara pandang, atau sesederhana tidak ingin menerima sesuatu yang baru, apalagi yang mengandung kontroversi.

Saya sendiri sejak lama paham bahwa jika seseorang dapat melihat makhluk halus (baca: hantu), berarti ia dan makhluk tersebut memang berada dalam satu frekuensi. Akan tetapi, banyak awam menilai bahwa kemampuan tersebut adalah anugerah Gusti. Ehm, bisa jadi iya. Toh saya tidak ingin mereduksi kuasa Gusti. Akan tetapi, saya lebih meyakini teori pertama. Bahwa, siapa pun bisa berada dalam frekuensi yang sama dengan makhluk dari dunia lain asalkan kondisinya memenuhi syarat.

Hal lain, soal burung gagak yang identik dengan kematian. Ini masih berkaitan dengan frekuensi. Burung gagak bisa menangkap frekuensi makhluk lain yang akan habis masa hidupnya. Akan tercium oleh insting burung gagak bahwa organ-organ tubuh si calon mati akan segera berhenti bekerja. Biasanya tidak dalam hitungan waktu yang lama. Dari situlah mitos soal burung gagak terbentuk.

Sebenarnya masih banyak contoh lainnya. Misal tentang kekuatan doa yang erat kaitannya dengan energi dari Semesta. Bahwa, doa-doa yang disertai pembukaan diri terhadap alam raya biasanya akan cepat terwujud. Belum lagi soal konsep surga dan neraka yang oleh sebagian orang dianggap hanya karangan agar manusia takut berbuat kejahatan. Bahwa, tanpa adanya surga dan neraka, jika seseorang ingin berbuat jahat tentu tidak ada yang menghalangi. Sebab, perbuatan itu biasanya datang dari keinginan memenuhi kebutuhan diri.

Pengetahuan-pengetahuan semacam ini dibahas oleh sekelompok orang melalui berbagai macam diskusi, baik daring maupun luring. Peminatnya dari berbagai macam kalangan. Mereka umumnya tidak pernah membatasi identitas peserta diskusi. Tidak peduli apa agamamu, latar belakang pendidikanmu, ras, suku, jenis kelamin dan orientasi seksual, siapa pun boleh bergabung. Syaratnya hanya satu, berani membuka diri terhadap berbagai macam kemungkinan yang akan hadir.

Bagi sebagian kecil orang, diskusi-diskusi seperti ini tak ubahnya aktivitas sanggama. Kau membuka bajumu (membuka pikiran), kau menerima orang lain memasuki tubuhmu (menerima pengetahuan baru), kau bergerak bersamanya (berdiskusi, membahas pengetahuan tersebut), lalu kau orgasme (merasakan puncak kenikmatan menyerap pengetahuan baru).

“Elu sendiri udah pernah ngerasain orgasme pengetahuan, Moy?”

Hahaha … Pake nanya.

Bagi saya sendiri, pengetahuan tidak melulu sesuatu yang berbau sains atau hal-hal rumit. Segala sesuatu yang belum kita ketahui adalah pengetahuan, termasuk itu tentang seni, kuliner, atau hal lain yang bisa kita jumpai di keseharian kita. Saya kerap berbagi pengetahuan soal musik dan film dengan beberapa sahabat. Dan, ketika membahasnya, ada kepuasan tersendiri yang sukar dijelaskan. Apalagi, jika ternyata kami sama-sama menyukai objek tersebut, makin gembira rasanya.

Layaknya orgasme seksual, orgasme pengetahuan bisa dicapai sendiri. Asalkan tadi, kita membuka pintu masuk pengetahuan selebar-lebarnya. Kita bisa bergerak sendiri, mencari sumber-sumber lain untuk menguatkan atau bahkan menambah pengetahuan tersebut. Lalu, merasakan kepuasannya. Akan tetapi, yah, tentunya akan lebih menyenangkan jika aktivitas ini dilakukan bersama partner diskusi (kesayangan). Orgasme yang kalian dapat akan berlipat-lipat nikmatnya.

Jadi, siapkah kalian merasakan nikmatnya orgasme pengetahuan?

---

SEKAR MAYANG
Editor Jentera Pustaka
Pekerja Teks Komersial

Note : For commission work, please contact 0821-4590-7646.

Menentukan Akhir Kisah

Setiap awal pasti memiliki akhir. Begitu pun dengan sebuah karya fiksi, baik tulis maupun audiovisual. Ada beberapa jenis akhir kisah yang biasanya dipakai penulis-penulis yang telah menelurkan karya. Ada akhir yang bahagia, sedih, atau campuran keduanya, juga akhir yang menggantung.

Dari sekian banyak judul, rata-rata penulis memilih akhir bahagia untuk karya mereka. Kenapa? Bisa jadi memang jenis ceritanya yang mewajibkan penulis mengakhiri dengan happily ever after, semacam kisah Cinderella dan Pangeran Tampan. Atau sesederhana “ingin membuat pembaca tersenyum”. Sedangkan untuk akhir yang sedih, para penulis seolah-olah ingin berbagi pesan bahwa hidup tak selamanya di atas awan. Ada sebagian kecil dari manusia harus menerima ujian yang lebih berat tanpa ada kesempatan untuk tersenyum. (Duh, Moy, tisu mana tisuuu?!)

Bagaimana dengan akhir kisah campuran (baca: gabungan antara bahagia dan sedih)?

Nah, ini yang menarik. Bagi yang pernah membaca karya-karya Nicholas Sparks tentu tahu akhir kisah seperti apa yang saya maksud. Dear John dan The Last Song adalah dua di antara sekian banyak karyanya yang berakhir bahagia-sedih. Saya tidak mau memuntahkan bocoran soal akhir kisahnya, jadi saya coba berikan gambaran secara umum.

Sesuai hukum yang berlaku di alam: tidak ada asap tanpa api. Adanya reaksi adalah buah dari aksi. Setiap perbuatan pasti mengandung konsekuensi tertentu. Tidak selamanya efek dari tindakan itu bersifat positif. Seseorang yang berprofesi sebagai pedagang makanan rela membagi beberapa bungkus dagangannya untuk pengamen cilik yang kelaparan. Apa hasilnya? Si pedagang kehilangan sebagian keuntungannya, tetapi si pengamen cilik tidak kelaparan lagi. Kira-kira seperti itu yang terjadi pada dua judul di atas.

Lantas, bagaimana dengan akhir yang menggantung?

Ini biasanya dipakai untuk novel yang berseri. Rata-rata dua sampai empat judul untuk tiap rangkaiannya. Jenis ini bukannya tidak memiliki akhir sama sekali. Penulis pasti menamatkan plot untuk seri tersebut, akan tetapi ada satu — atau mungkin banyak — teka-teki yang belum terjawab dan akan dipaparkan lebih mendalam di seri berikutnya. Banyak sekali contoh untuk akhir kisah sejenis ini. Kalau boleh saya bilang, ini ending favorit para penulis luar negeri. Sebut saja Veronica Roth dengan trilogi Divergent, Colleen Hoover dengan trilogi Slammed, atau Jonathan Stroud dengan serial bertokoh Bartimaeus. Kenapa? Biar bisa dapat duit buanyaaak hahaha… (Atuhlah, Moy!)

Oke, begini yang saya tangkap. Pertama, mereka bisa fokus menyelesaikan satu konflik. Novel adalah karya yang bernapas panjang. Kita bisa memasukkan banyak detail untuk membuat kisah tersebut amat sangat hidup di benak pembaca. Satu konflik, banyak detail. Boleh saja membuat dua konflik, tetapi itu akan membingungkan pembaca. Hanya orang-orang tertentu yang terberkahi otak luar biasa yang sanggup menyelesaikan membacanya. Lagi pula, dengan banyak konflik, jumlah halaman yang dibutuhkan tentu akan sangat banyak. Bayangkan, berapa harga yang harus dikeluarkan konsumen untuk satu buku saja?

Kedua, cara itu membuat si penulis tetap produktif. Bisa saja, di tengah proyek merampungkan rangkaian tersebut, ia menemukan ide cerita lain. Sebab, ide cerita biasanya tidak bisa dicari. Ia akan datang sendiri ke otak kita, siap atau tidak. Jika tidak ada halangan, soal menangkap ide cerita ini akan saya paparkan di artikel lain.

Ketiga, ini murni bisnis, gaeesss. Hihihi… Dengan membuat pembaca penasaran, akan terbuka kemungkinan mereka mencari jawaban atas rasa penasaran mereka (baca: beli seri selanjutnya).

Apa pun akhir cerita yang kita pilih, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan.

Pertama, genre tulisan. Novel bertema konspirasi/kriminal biasanya menuntut penjelasan di akhir kisah. Rata-rata happy ending dengan diamankannya si biang masalah. Hanya saja, kalian tidak bisa berkata bahwa si pelaku sudah ditangkap tanpa menjelaskan bagaimana prosesnya. Atau setidaknya, jelaskan kenapa si pelaku sampai rela berbuat onar seperti itu.

Bisa juga kalian membuat akhir kisah yang bahagia-sedih. Bahagia bagi tokoh A, tetapi kabar buruk untuk tokoh B (seperti akhir novel The Appeal karya John Grisham). Lalu, B mencoba membalik keadaan di seri berikutnya. Nah, jadi ada jalan untuk menulis buku selanjutnya, kan?

Untuk genre lainnya, silakan kalian berkreasi sesuai plot yang sudah kalian rancang.

Kedua, fokus menulis akhir kisah untuk tokoh(-tokoh) utama. Jangan mblakrak (baca: menyimpang tidak keruan) ke tokoh-tokoh pendukung hanya karena kalian lebih suka dengan karakter mereka. Tokoh utama sudah pasti memiliki sebagian besar porsi dalam naskah, sekalipun dia nantinya tidak berumur panjang di akhir kisah. Kalau kalian membuatnya mati di tengah-tengah naskah, maka mungkin dia bukan tokoh utamamu. Kecuali, si mati ini akan muncul lagi sebagai roh/hantu. (Ehlah, Moy, malah nyebut-nyebut hantu pulak!)

Ketiga, membaca keinginan pasar. Bagi penulis yang sudah memiliki basis penggemar, tentu ini tidak sulit. Ia hanya perlu membuka diskusi dengan para penggemarnya tentang kisah seperti apa yang ingin mereka baca. Tidak bisa dimungkiri, penggemar adalah raja. Meski tidak bisa gebyah uyah (baca: pukul rata), jika penulis tidak mau mendengar saran dari penggemarnya, ia berpotensi kehilangan calon pembaca. (Tapi, Moy, kalo udah kadung ngefans, ya, pasti dibelilah. Nggak urusan kalo abis baca, bukunya malah dilempar ke kucing tetangga yang kebetulan lewat.) Namun, jika si penulis memiliki penggemar yang menyukai kejutan, ia akan mengejutkan mereka dengan akhir kisah yang luar biasa.

Bagaimana dengan penulis pemula?

Penulis pemula memang belum punya penggemar, tetapi ia bisa mencari tahu buku apa yang paling banyak terjual sepanjang tahun. Biasanya itu akan menggambarkan buku jenis apa — sekaligus akhir kisah seperti apa — yang paling diminati khalayak. Ia juga bisa bergabung dengan forum-forum diskusi untuk menyerap banyak informasi soal buku. Atau, sesimpel bergabung dengan grup-grup kepenulisan semacam Fiksiana Community. Tenang saja, Kaka-Kaka Admin serta mBer-mBer nan kece-badai akan membantu kalian menentukan pilihan. (Yaelah, iklan amat, Moy!)

Pada intinya, tidak ada pakem khusus dalam menulis fiksi. Semua disesuaikan dengan kebutuhan. Sebab, batasan-batasan mungkin saja akan membuat karya terlihat nanggung, setengah hati, tidak bernas.

Selamat menulis.

Salam lemper, eh, cilok.

(Artikel pertama tayang di Kompasiana)

Memilih Nama untuk Tokoh Fiksimu


Permintaan untuk topik ini sebenarnya sudah beberapa waktu lalu muncul di dinding grup Facebook Fiksiana Community. Hanya saja, saya baru bisa menyajikannya sekarang. Harap maklum, jadwal emak-emak merangkap so(k)sialita sungguh padat merayap bagaikan cecak-cecak di dinding. *eh, gimana?
Apalah artinya sebuah nama?
Tentu kalian sering mendengar pepatah itu. Ya, memang, nama bisa jadi tidak punya arti penting, tetapi bisa juga sangat perlu dipikirkan dan disematkan dengan saksama. Sekeren-kerennya panggilan sayang untuk pacar, ujung-ujungnya nyebut ‘Mantan’ juga kalau sudah putus. (Iya juga, ya, Moy?!) Namun, nama bisa sangat berarti untuk seruas jalan. Kalian tidak mungkin menyebut jalan-yang-ada-indoalfanya-sebelahan-sama-apotek-seger-waras untuk sebuah ruas jalan. Yah, kecuali beberapa orang, mungkin masih menggunakan cara itu ketika menerangkan ruas jalan yang ia maksud. Akan tetapi, berapa banyak orang yang hafal bahwa Toko Indoalfa letaknya bersebelahan dengan Apotek Seger Waras? Maka, perlu sebuah nama untuk menyingkat semua drama yang mungkin terjadi.
Lagi deh, misalnya kalian punya binatang peliharaan seekor ayam jago yang kluruk-nya bisa menjangkau wilayah satu kecamatan. Kalian namai ayam itu dengan sebutan Jackie the Great. Suatu hari, kalian melihat Jackie the Great berdiri dengan anggunnya di teras. Hanya saja, keanggunan itu musnah ketika kalian melihat ia buang hajat dengan khidmatnya. Lalu, terjadinya. Mulut kalian merepet lebih dulu ketimbang mengingat nama si ayam jago. “Dasar ayam dodol! Nelek nggak liat tempat!” seru kalian sambil mengacungkan sapu tebah ke arah si ayam. Namun, nama bisa sangat berarti untuk seorang anak manusia. Nama menjadi tak sekadar sebutan, melainkan tumpukan doa dan harapan orang tua.
Nah, berkaitan dengan penulisan karya fiksi, nama tokoh begitu pentingnya untuk disematkan. Si penulis serupa orang tua yang memberi nama untuk buah hatinya: penuh pengharapan bahwa si tokoh dapat menjalankan perannya dengan baik. Tak jarang, pembaca bisa menduga-duga dan membayangkan seperti apa karakter si tokoh hanya dengan melihat namanya. Lagi pula, kalian tidak bisa terus-menerus menyebutnya dengan kata ganti sepanjang naskah. (Ho-oh, Moy, ho-oh! Bisa puyeng baca ‘dia’ lagi, ‘dia’ lagi.)
Saya sendiri tidak terlalu memusingkan nama-nama tokoh pada naskah-naskah yang saya pegang. Saya menganggapnya sebagai hak prerogatif si penulis. Saya baru akan ikut campur jika si penulis menyematkan nama aneh untuk tokohnya.
Aneh di sini bisa berarti banyak hal. Mungkin set waktu dan lokasinya tidak pas. Misalnya set tahun enam puluhan di Indonesia, tetapi memakai nama kekinian. Bisa juga karena asal-usul atau leluhur si tokoh kurang sesuai. Keturunan raja atau bangsawan biasanya punya aturan tertentu dalam pemberian nama. Jika terjadi penyimpangan, tentu ada alasan tertentu yang bisa jadi detail menarik untuk naskah kalian. Atau, jika si tokoh dinamai persis seperti seorang figur publik, bisa jadi karena orang tuanya memiliki kenangan tertentu dan ingin anaknya sesukses si figur publik.
Seorang wanita Kaukasia bernama Deborah atau Amanda mungkin terdengar lazim, tetapi bagaimana jika dia bernama Ajeng atau Dewi atau Laras? Kalian tidak bisa asal memakai nama tersebut hanya karena kalian suka. Tentu ada alasan tertentu yang melatari munculnya nama tersebut untuk seorang wanita Kaukasia. Ini bisa jadi cerita. Misalnya, si tokoh tengah berselancar di internet dan menemukan sebuah video tentang budaya Jawa. Ia memutuskan untuk mempelajari topik tersebut, mendalaminya langsung di Indonesia. Ketika belajar, ia menemukan nama-nama gadis Jawa yang menarik minatnya, lalu memilih salah satu untuk dirinya sendiri.
Sama halnya dengan nama panggilan si tokoh. Kalian bisa saja — jika perlu — menyiapkan satu bab khusus membahas nama panggilan. Bagaimana bisa sampai nama panggilan itu muncul? Biasanya berkaitan dengan masa kecil si tokoh. Siapa saja yang memanggil si tokoh dengan sebutan itu? Apakah ada nama panggilan lain ketika si tokoh beranjak remaja/dewasa? Banyak hal yang bisa diceritakan.
Nama tidak mesti harus sesuai dengan karakter si tokoh. Misal si tokoh adalah gadis manis nan kalem. Rata-rata karakter seperti itu akan dinamai Linda, Putri, Wulan atau nama-nama yang senada. Akan tetapi, bagaimana jika kita namai si gadis manis ini dengan Tristan atau Rama? Seperti nama cowok, ya? Tidak apa-apa, asal ada latar belakangnya.
Menarik, bukan?
Jadi, silakan kalian berkreasi dengan nama tokoh-tokoh yang kalian ciptakan. Bebas, asal kalian bisa bertanggung jawab dengan apa yang telah kalian tulis. Sebab, ini bukan soal pantas atau tidaknya sebuah nama disematkan, melainkan kisah apa yang hendak kalian sajikan melalui nama-nama tersebut.

Selamat menulis.
Salam lemper, eh, cilok.

PS: Artikel pertama tayang di Kompasiana.

Menakar Kemampuan Diri dalam Menulis Fiksi


Tadinya saya ingin membahas soal bagaimana menuliskan akhir dari sebuah novel. Akan tetapi, saya lebih tertarik menulis soal takaran diri dalam menulis fiksi. Apa dasarnya? Tidak ada. Saya hanya ingin berbagi pengalaman. Mudah-mudahan bisa membuka pemikiran kalian soal proses menulis fiksi.
Saya mengawali perjalanan mengasyikkan ini sebagai pembaca senyap. Buruan saya adalah cerpen dan cerita bersambung di laman Kompasiana. Beberapa nama langsung menjadi favorit dan selalu saya nantikan kemunculannya. Lama-kelamaan, saya tergoda untuk menulis sendiri. Awalnya cerpen, lalu cerita bersambung. Puja-puji meluap bersama rasa percaya diri saya terhadap dunia tulis-menulis ini.
Tahun 2013 pertama kali saya dengar soal UWRF (Ubud Writers dan Readers Festival). Saya menghadiri salah satu sesinya yang kebetulan digelar di Denpasar. Di situlah saya bertemu Langit Amaravati, salah satu penulis yang berhasil lolos seleksi emerging writer gelaran tersebut. Sepulang dari sana, saya berpikir, kenapa saya tidak mencoba mengikuti seleksi untuk tahun berikutnya? Toh saya punya banyak amunisi.
Tidak ingin gegabah, saya seret salah seorang admin senior Fiksiana Community untuk membantu saya memilih tulisan mana saja yang layak dijadikan portofolio.
Iya, saya pikir saya sudah memperhitungkan segalanya.
Nyatanya?
Iya, saya tidak lolos.
Belakangan saya berpikir, “Yaelah, elu siapa sih, Moy? Remahan cilok aja belagu ndaftar UWRF.” Orang lain mungkin saja mendaftar seleksi di tahun berikutnya, tetapi saya tidak. Entah apa alasan saya waktu itu, hanya saja saya tidak menyesalinya. Itu keputusan yang tepat. Sebab, jika memaksa, mungkin saya akan frustrasi dan malah sama sekali meninggalkan aktivitas menulis.
Ya, saya tetap menulis sampai sekarang, tetapi tidak mengklaim diri saya sebagai penulis. Saya editor, dan profesi itu ternyata menyelamatkan jiwa saya tepat selepas keterpurukan karena gagal lolos seleksi. (hilih, lebay lu, Moy!) Saya editor, yang sesekali membuat artikel apalah-apalah demi reward uang virtual buat jajan burger di mekdi. (Moooy…) Saya editor, yang sesekali suka pamer pekerjaan di media sosial demi meyakinkan friend list bahwa saya bukan penulis yang ditinggalkan penggemarnya. (Mooooooooyyy…) Saya editor, yang memakai cilok sebagai tameng pencitraan, padahal aslinya hobi makan nasi padang lauk rendang dobel. (Moooooooooooooyyyyyyyyy…!!!)
Tetapi, memang benar. Saya lebih menikmati aktivitas menyunting naskah orang lain ketimbang membuatnya sendiri. Ada kepuasan tersendiri ketika menemukan kejanggalan atau kekurangan dalam naskah. Otak saya seolah-olah berpindah setelan, default mencari kesalahan-kesalahan pada naskah, yang tentunya sepaket dengan mempercantiknya. Tenang saja, saya tidak pernah kehilangan kesempatan berimajinasi. Malah seringnya jadi diskusi menarik dengan si penulis. Paling tidak, saya membantu si penulis berimajinasi lebih indah lagi. Dan biasanya memang begitu, penulis terpacu untuk membuat adegan yang lebih pas.
Seiring waktu, saya seperti benar-benar kehilangan kemampuan menulis cerpen atau novel. Cerpen terakhir yang saya buat nyaris dua tahun lalu. Itu pun sudah kehilangan rasa dan nyawa. Sementara novel, terakhir kali adalah November 2013. Sebenarnya saya sedang mengolah draft lama dan mungkin akan saya luncurkan tahun depan. (Yaelah, Moy, spoiler amat dah!) Kalaupun tiba-tiba saya membagikan tautan sebuah artikel, bisa dipastikan itu hanya tip menulis novel atau cerpen-cerpen lama. Bahkan, proses pembuatan artikel tip menulis seringnya ternodai oleh keinginan untuk tampil sempurna. Tulisannya yaaaaa, bukan orangnya ngahahaha… Sebab, seperti saya bilang tadi, otak saya sudah default nyari-nyari kesalahan.
Maka, rasanya tidak salah bila saya katakan bahwa menulis itu susah. Iya, susah, apalagi kalau harus sambil meyakinkan orang lain bahwa kita bisa menulis. Tetapi, saya bisa melakukan hal itu — meyakinkan orang lain — saat saya menjadi editor. Saya bisa meyakinkan penulis-penulis tak percaya diri bahwa tulisan mereka bagus. Hidung saya biasanya bisa mengendus potensi besar, meskipun pada akhirnya hanya sedikit penulis yang percaya dengan kata-kata saya.
Menulis itu susah. Sebab, sebelum menulis, kita harus membaca. Riset, istilah kerennya, untuk memperkaya tulisan kita, sekalipun itu hanya novel. Rasanya saya sudah sering membahas soal aktivitas riset ini. Silakan ubek-ubek artikel lama saya.
Menulis itu susah. Sebab, seperti saya bilang tadi, kita harus meyakinkan pembaca bahwa karya kita masuk akal. Dari awal pembaca sudah tahu bahwa novel adalah rekaan, meskipun seringkali diambil dari kejadian sungguhan di dunia nyata. Misalnya novel bertema kriminal yang bercerita soal penyelundupan/perdagangan manusia. Karakter, setting waktu serta tempat memang fiktif, tetapi jenis kejadian itu nyata adanya. Tugas penulis adalah meyakinkan pembaca bahwa kejahatan itu nyata dan bisa menimpa siapa saja.
Menulis itu susah. Sebab, tidak setiap penulis bisa menggarap segala jenis genre. Akui saja. Sama seperti saya yang tidak bisa menulis artikel politik, apalagi resep masakan karena bisanya cuma makan. (Tumben ngaku, Moy?!) Biasanya itu bergantung pada ketertarikan si penulis terhadap salah satu genre. Si penyuka romance tentu akan berburu bacaan serupa, bahkan rela memesan lebih dulu jika penulis favoritnya kebetulan menelurkan karya. Namun, kondisi itu tidak bisa dipukul rata. Ada yang sangat menggemari novel bertema konspirasi/kriminal, tetapi selalu menulis fiksi cecintaan dengan level baper yang kebacut. (Ng… elu nggak lagi ngomongin diri sendiri, kan, Moy?!) Kalaupun maksa menulis novel bertema konspirasi, paling hebat berakhir di blog pribadinya dengan jumlah pembaca di bawah lima puluh. (Moy, gosah curcol!!!)
Susah atau mudah, semua bergantung pada si penulis sendiri dalam menakar kemampuan menulisnya. Percaya diri itu harus, tetapi tidak berlebihan. Konsultasi dengan pegiat literasi atau diskusi ringan dengan sesama rekan penulis bisa menjadi langkah yang tepat. Jika ingin mencoba jenis tulisan baru, tunjukkan dulu kepada first reader kepercayaan kalian sebelum karya itu dipublikasikan. Niscaya kesusahan yang terjadi hanyalah penantian abang cilok yang tak kunjung lewat.

Selamat menulis.
Salam lemper, eh, cilok.


PS: Artikel pertama tayang di Kompasiana.

Apa yang Bisa Ditulis Setelah Tanda Petik Tutup?


Kemarin saya membuat status di dinding grup Fiksiana Community. Isinya menanyakan kepada anggota grup, kira-kira apa saja kesulitan mereka dalam menulis. Kenapa saya bertanya seperti itu?

Bagi yang sudah terbiasa menulis fiksi, apalagi sampai menelurkan beberapa karya versi cetak, tentu menulis sama mudahnya dengan menghirup udara. Atau sama entengnya dengan jajan cilok di prapatan depan (eh, gimana?). Apalagi kalau isi bukunya merupakan ‘pesanan’, tinggal eksekusi, mungkin hanya tambah riset dan polesan sedikit. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang baru saja terjun ke kolam kata-kata? Saya tidak ingin semangat mereka buyar karena berbagai kesulitan yang mereka hadapi.
Beberapa kali FC mengadakan kompetisi menulis kecil-kecilan, hanya beberapa nama saja yang bisa ‘memuaskan’ mata saya sebagai juri. Ini bukan berarti karya mereka yang tidak menang adalah buruk. Saya yakin, seberapa tidak berbakatnya seseorang, tetapi jika terus berlatih dan mendapat ‘makanan’ yang baik, maka mereka akan menuai hasil yang luar biasa. Ya, sebesar itu keyakinan saya kepada seluruh anggota grup. Maka, saya bertanya, sekiranya bisa saya carikan ‘makanan’ yang tepat sehingga mereka bisa berlatih lebih giat lagi.

Di luar dugaan, pertanyaan itu mendapat reaksi luar biasa dari anggota grup. Bahkan, anggota senior (baca: yang sudah beberapa kali menelurkan karya, baik cetak maupun daring) ikut menyuarakan kegelisahan dalam menulis.

Setelah saya rangkum, muncul poin-poin sebagai berikut:
·         Ide cerita (termasuk di dalamnya membahas plot, alur, kelogisan cerita, dan penataan konflik),
·         Menjaga mood atau semangat menulis (erat kaitannya dengan disiplin diri),
·         Mengembangkan karakter serta memilih nama untuk karakter tersebut,
·         Kalimat atau paragraf pembuka,
·         Delivery/penyampaian kisah (erat kaitannya dengan gaya menulis),
·         Membuat judul, serta
·         Tanda baca.

Nah, di bagian pertama ini, saya tertarik membahas soal tanda baca. Bukan titik atau koma, melainkan tanda petik. Sebab, ada anggota grup yang mengeluhkan, “Apa yang harus saya tulis setelah tanda petik tutup?”

Kita semua tahu, tanda petik merupakan tanda baca (“…”) yang mengapit petikan langsung yang menyatakan kutipan berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain (KBBI Edisi V). Dalam cerpen atau novel, tanda petik digunakan untuk menunjukkan bagian dialog para tokohnya.
Jadi, apa yang harus ditulis selanjutnya setelah si tokoh selesai bicara?
Jawabannya, banyak.

Yang paling mudah kita tulis adalah reaksi tokoh lain yang menjadi lawan bicara. Sebab, ini bukan monolog, pastilah percakapan itu minimal melibatkan dua tokoh. Jika tokoh pertama selesai bicara, tulis saja reaksi si tokoh kedua. Bagaimana raut wajah serta bahasa tubuhnya? Apakah senang, marah, sedih, atau malah datar saja? Ketika bereaksi sedih, apa yang terlihat dari gerak tubuhnya? Jika senang, apakah si tokoh kedua ini melompat-lompat kegirangan? Kalau datar saja, apakah memang wajahnya terlalu banyak mendapat suntikan botox, atau tak lebih karena si tokoh merupakan manusia tanpa ekspresi?
Hal lain yang bisa ditulis adalah suasana ketika percakapan itu terjadi. Apakah pagi, siang, atau malam hari? Jika pagi, apakah matahari sudah muncul di atas horison?  Jika siang, seterik apa matahari menyinari? Apakah sampai membuat para tokohnya berpeluh luar biasa? Jika malam, apakah suara jangkrik-jangkrik ikut menemani percakapan tersebut? Lalu, di manakah percakapan itu terjadi? Di dalam atau di luar ruangan? Jika di dalam ruangan, apakah ada penyejuk udara di sana? Apakah ada jendela besar yang membuat angin bebas masuk sehingga menggoyang-goyangkan poni salah satu tokohnya? Apakah kursi-kursi itu cukup nyaman untuk percakapan yang serius soal masa depan para tokohnya? Jika di luar ruangan, mengapa memilih pantai sebagai tempat bercakap-cakap? Mengapa tidak di taman saja, yang lebih banyak bebungaan sehingga membangkitkan suasana hati si tokoh wanita? Atau, mengapa percakapan itu terjadi di bengkel mobil, padahal topiknya soal rencana pernikahan?
Banyak, banyak sekali yang bisa ditulis. Jika digali lagi, semua itu akan berkaitan dengan karakter tokoh-tokohnya. Kalau sudah membahas karakter tokoh, nanti akan menyambung ke ide cerita, plot, alur, dan sebagainya. Sebab, sebuah kisah sejatinya merupakan kumpulan detail yang bisa Anda persembahkan kepada pembaca. Seberapa besar persembahan itu, tentu bergantung pada seberapa luasnya imajinasi Anda.

Selamat menulis. Sampai jumpa di artikel berikutnya.

Salam lemper, eh, cilok.


PS: Artikel pertama tayang di Kompasiana.

Liburan ke Bali Tanpa Khawatir




Siapa yang tidak tahu Bali? Mungkin di antara para pembaca ada yang fasih menyebutkan spot apa saja yang menarik dan banyak didatangi wisatawan. Pantai Kuta, Legian, Ubud, Nusa Dua, Bedugul, Kintamani, Lovina, Pantai Pandawa, Monkey Forest, hanya sebagian kecil dari sekian banyak lokasi yang bisa dikunjungi. Jutaan wisatawan, baik lokal maupun asing, datang ke Bali untuk berlibur. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menjadikan Bali sebagai tujuan berlibur setiap tahunnya. Meskipun masih banyak tujuan wisata lain yang sama menariknya dengan Bali, itu sah-sah saja. Siapa pun berhak melakukannya. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar liburan tidak berakhir sia-sia dan bebas dari rasa khawatir.
Pertama, tujuan wisata. Bali memang lebih kecil jika dibandingkan dengan Pulau Jawa, apalagi dengan Kalimantan. Akan tetapi, pantas rasanya jika kita menyebut bahwa tiap jengkal Bali adalah tujuan wisata. Saking banyaknya, kita harus memilih tempat mana yang benar-benar ingin kita kunjungi. Bukan apa-apa, ini semata-mata karena waktu yang terbatas.
Anggaplah kalian hanya punya waktu tiga hari di Bali, maka fokuskan hanya pada satu area. Misalnya Bali bagian selatan. Di bagian ini saja ada puluhan spot menarik. Tak akan sanggup rasanya jika harus dituntaskan dalam satu hari. Boleh saja jika kalian ingin merambah ke bagian lain, misalnya ke Bedugul yang berada di tengah-tengah Pulau Bali. Tetapi, waktu kalian akan terbuang di jalan, apalagi dengan kondisi lalu lintas Denpasar-Badung-Tabanan yang padatnya nyaris menyamai kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sungguh, kalian tentu tak mau liburan kali ini berakhir dengan gerutuan “tua di jalan”.
Kedua, kondisi fisik. Aktivitasnya mungkin hanya main di pantai, lihat matahari terbenam, dan makan malam di restoran tepi pantai. Tetapi, serius deh, kalau kalian tidak terbiasa dengan angin pantai, apalagi jika dalam kondisi kurang fit, tubuh kalian akan bereaksi keras. Alih-alih menuju tempat wisata berikutnya, kalian malah mencari apotek terdekat untuk membeli ramuan anti masuk angin.
Perhatikan juga bulan keberangkatan kalian. Kalau kalian berniat mencari udara hangat, lebih baik tidak kemari saat Juni hingga Agustus. Pada masa itu, hawa di sini lebih dingin dari biasanya. Dan, kalau kalian kemari di rentang Desember hingga Februari, siap-siap membawa payung atau jas hujan, atau memilih tempat wisata in door sebab curah hujan akan lebih tinggi dari biasanya.
Ketiga, dan yang paling penting, dana. Yap, ini poin utamanya. Bagi yang duitnya tinggal nggunting dan nggak berseri (baca: dana berlebih atau bahkan nyaris tak berbatas), tentu bebas memilih tempat menginap dan kebutuhan lainnya. Mulai dari hotel dengan jenama internasional persis di hadapan Pantai Kuta atau Nusa Dua, hingga vila privat yang hanya segelintir selebritas dan figur publik yang mampu mengaksesnya. Akan tetapi, bagi yang memiliki dana terbatas, tentu tidak bisa sesuka hati melakukan hal yang sama.
Perlu ditinjau lagi, apa tujuan kalian berlibur ke Bali (atau tempat lainnya di belahan dunia mana pun). Jika lebih banyak aktivitas di luar ruangan — mungkin mengikuti olahraga ekstrem — tentu tidak perlu memilih penginapan yang bertarif mahal. Dengan tubuh penat, kalian mungkin tidak peduli dengan hiasan bunga jepun dan handuk yang dibentuk artistik yang biasanya terdapat dalam kamar bertarif mahal. Kalian hanya perlu hanya membersihkan diri, lalu tidur beralas seprai bersih. Namun, tidak ada salahnya jika kalian ingin menginap di tempat keren yang sedang ngehits di kalangan traveler.
Bisakah? Tentu bisa.
Caranya?
Yang paling sederhana dari semua cara adalah, menabung. Sisihkan sebagian pendapatan kalian untuk tujuan ini. Bisa dengan membuat rekening lain atau as simple as simpan dalam celengan ayam. Besarannya tentu bervariasi, tergantung semewah apa penginapan yang kalian inginkan. Kalian juga bisa memakai aplikasi perencanaan keuangan daring untuk membantu merumuskan pendanaan selama liburan. Jangan khawatir, di sana ada para pakar yang siap membantu mewujudkan rencana keuangan kalian.
Jalan ninja lainnya adalah, berburu promo atau potongan harga. Hotel-hotel berbintang lima dan di atasnya juga memiliki kamar low budget dengan jumlah terbatas. Hanya saja, low budget di sini jangan serta-merta dipadankan dengan tarif hotel bintang satu atau dua.
Untuk transportasi selama liburan, ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Kalian bisa menyewa sepeda motor, mobil (dengan atau tanpa sopir), atau ikut paket tur dengan grup berisi lima hingga sepuluh orang. Kalau ingin benar-benar berhemat, menyewa sepeda motor dalah pilihan yang tepat. Jangan khawatir soal nyasar di jalan. Kalian tentu bisa mengakses peta daring sebagai panduan. Kekurangannya adalah, kalian harus tabah berhadapan dengan lalu lintas yang yaaaa-gitu-deh.
Nah, sekarang soal makanan. Tidak jauh berbeda sebenarnya. Tergantung selera kalian. Juga, seberapa tangguh kalian berburu informasi dari pemandu lokal jebolan Google. Satu tip jika kalian ingin bersantap dengan tenang: lihat dulu daftar harganya. Kalau mereka tidak memajang daftar harga, tak ada salahnya bertanya lebih dulu. Sebab, malu bertanya (akan) malu-maluin (kalau ternyata duitnya nggak cukup buat bayar nasi sepiring doang ngahahaha…).
Jadi, sudahkah kalian membeli celengan ayam? Kalau sudah, selamat menabung. Dan, sampai jumpa di Bali.


Foto koleksi pribadi. Silakan digunakan tanpa menghilangkan identitas di sudut foto.
Artikel pertama tayang di Kompasiana.

Hati-Hati Memakai Setting Waktu dalam Naskahmu


Pertemuan sebelumnya kita sudah membahas poin apa saja yang perlu dipercantik dalam naskah, khususnya novel. Kali ini kita akan membahas lebih detail soal pemakaian waktu. Detail yang satu ini erat kaitannya dengan pembentukan konflik dalam kisah yang kalian tulis.
Dalam banyak cerita yang mungkin pernah kalian baca, tentu kalian mendapati tokoh(-tokoh) di sana sedang melakukan perjalanan. Bisa dengan berjalan kaki, bersepeda, menumpang mobil teman, atau dengan angkutan umum. Untuk tiga jenis aktivitas yang saya sebut pertama, tidak masalah jika kalian memakai sembarang waktu, asal memang sesuai dengan kebutuhan. Misal, menumpang mobil teman setelah menghadiri sebuah undangan pesta yang kebetulan baru selesai lewat tengah malam. Atau, bersepeda menuju tempat kerja selepas subuh sebab jarak tempuhnya sepuluh kilometer. Si tokoh memang harus berangkat lebih awal jika tidak ingin terlambat. Itu risiko. Sebab, ia hanya punya sepeda dan tidak punya ongkos untuk naik angkutan umum seperti rekan-rekannya. Atau, si tokoh memilih berjalan kaki ke tempat tujuan karena memang jaraknya dekat, hanya seratus lima puluh meter, dan akan sangat merepotkan jika harus memakai kendaraan bermotor.
Bebas. Sesuai kebutuhan.
Namun, lain perkara jika si tokoh menumpang angkutan umum.
Untuk angkutan kota/desa, kebanyakan memang tidak berjadwal tetap. Rasanya masih aman untuk menulis semau kalian, meskipun rata-rata angkutan tersebut akan ngandang selepas pukul sembilan malam. Nah, kalau si tokoh harus naik kereta api, bus malam antarkota antarprovinsi (AKAP), atau pesawat, maka berhati-hatilah.

Kita bahas kereta dulu, ya.
Kalau kalian sudah biasa naik kereta, tentu paham bagaimana ritme pergerakan kereta. Kalian mungkin bahkan hafal nama-nama kereta, jadwal keberangkatan, juga kedatangannya. Tidak hanya itu, bagaimana suasana perjalanan pun rasanya sudah seperti di luar kepala untuk dituliskan.
Tetapi, bagi yang jarang, apalagi belum pernah naik kereta api, tentu akan menemui kesulitan jika tidak melongok jadwal. Tenang saja. Situs resmi KAI dan banyak agen perjalanan bisa dijadikan rujukan. Hanya saja, ya, kalian tetap harus berhati-hati dalam memilih. Sama-sama trayek Jakarta-Surabaya, ada yang lewat Semarang (jalur utara), ada juga yang lewat Yogyakarta (jalur selatan). Stasiun tujuan di Surabaya pun berbeda. Kereta jalur utara berujung di Stasiun Pasar Turi, sedangkan kereta jalur selatan berujung di Stasiun Surabaya Kota (terkenal pula dengan sebutan Stasiun Semut). Kalau sampai tertukar, modyaaarrr kowe dilok-lokno bonek *eh
Lagi, sama-sama trayek Surabaya-Ketapang/Banyuwangi, ada kereta pagi, ada pula kereta malam. Boleh juga dari Ketapang dilanjut naik bus Damri ke Denpasar, supaya bisa ketemu saya *hayyaaahhh

Sekarang bus malam AKAP.
Bus-bus malam rata-rata berangkat sore hari. Paling siang mungkin sekitar pukul dua. Dan, sampai di tempat tujuan pun rata-rata pagi. Tetapi, di tengah perjalanan tentu tidak ada yang bisa menduga. Kesempatan ini bisa kita pakai untuk memunculkan konflik.
Kalau saja si tokoh tidak tertinggal bus malam…
Kalau saja si tokoh tidak terlambat sampai terminal…
Kalau saja si tokoh tidak terlambat memesan taksi daring menuju terminal…
Kalau saja si tokoh tidak menerima telepon dari seseorang yang menyebabkan ia terlambat memesan taksi…
Kalau saja sehari sebelumnya si tokoh bersedia bicara dengan si penelepon…
Banyak yang bisa digali dari hanya adegan ketinggalan bus.
Bisa juga begini:
Si tokoh berharap bus malam tiba tepat waktu di kota tujuan sekitar pukul lima pagi, sehingga ia bisa sarapan nasi rawon dulu, di warung langganan dekat terminal, sebagaimana kebiasaannya jika berkunjung ke kota itu. Tetapi, sesuatu terjadi di tengah perjalanan. Misal, macet parah belasan kilometer sehingga bus tiba di kota tujuan ketika matahari sudah berada di puncak kepala, dan si tokoh tidak kebagian nasi rawon. Padahal, nasi rawon itu merupakan pembangkit semangatnya ketika harus bertemu dengan kerabat yang nasibnya kurang beruntung. Tidak ada nasi rawon, tidak ada tambahan semangat, membuatnya memandang segala sesuatu dengan sedikit berbeda.
Misal lagi, bus tersebut mengalami kecelakaan. Tidak parah, tetapi membuat semua penumpang harus dialihkan ke armada lain, sementara bus tersebut harus dibawa ke kantor polisi. Di bus pengganti, ternyata si tokoh bertemu dengan orang baru, lawan jenis, dan mereka terlibat percakapan. Lalu, jreeenggg, di imajinasi kalian terdengar musik latar lagu berjudul Sephia milik Sheila on 7.
Yang perlu diperhatikan juga adalah suasana selama perjalanan dengan bus malam tersebut.
Apakah si tokoh lebih sering terlelap? Kalau tidak, apa yang ia lakukan? Mendengarkan musik? Bermain ponsel? Membaca? Atau sesederhana menatap ke luar jendela bus? Ketika melewati daerah sepi, tentu tatapannya akan berbeda dengan saat bus melewati daerah ramai seperti perkotaan. Pemandangan apa yang ia nikmati? Alun-alun kota? Deretan pertokoan dan mal? Bagaimana suasana alun-alun kota ketika pukul dua dini hari? Apakah sama dengan suasana pukul delapan malam? Berlaku juga untuk pertokoan dan mal. Bisa jadi si tokoh melihat daerah pertokoan yang ternyata masih ramai meskipun sudah pukul dua pagi.
Dari situ bisa berkembang banyak sekali paragraf bagus yang akan memanjakan pembaca.

Nah, giliran moda pesawat.
Kalian yang pernah naik pesawat tentu paham bahwa moda yang satu ini terjadwal ketat. Maskapai mewajibkan penumpang hadir di bandara paling tidak sembilan puluh menit sebelum waktu keberangkatan. Para penumpang harus didata ulang, koper-koper harus diberi nomor dan masuk bagasi, beberapa lansia yang butuh penanganan khusus, ibu hamil yang harus melakukan pemeriksaan, dan banyak lagi poin yang harus dilewati. Semuanya perlu waktu dan tidak bisa diburu-buru.
Selain waktu keberangkatan, perhatikan pula waktu kedatangan, juga durasi transit jika memang diperlukan. Kita tidak bisa seenak jidat. Jika memang pesawat tepat waktu lepas landas dan mendarat pagi hari, jangan ditulis mendarat siang. Kecuali, kalau diceritakan pesawat mengalami keterlambatan lepas landas.
Dari adegan keterlambatan juga bisa dieksplorasi banyak detail untuk si tokoh. Kalau pesawat tepat waktu, bagaimana reaksinya? Kalau pesawat terlambat tiba, apa saja yang berubah pada rutinitasnya? Apakah yang terkena dampak hanya satu tokoh, atau ada tokoh lain? Semua dapat memperkaya konflik sehingga cerita kalian tidak jatuh membosankan.

Sama seperti detail lain, kalian bisa memanfaatkan internet untuk memastikan jadwal moda transportasi yang akan kalian gunakan dalam naskah. Jangan sampai kalian dapat teguran sayang dari editor hanya gara-gara salah memasukkan detail waktu, ya.

Selamat menulis.
Salam lemper, eh, cilok.

Apa Saja yang Perlu Dipercantik dalam Naskah Novel?


Siapa sih yang tidak ingin terlihat tsantik? Semua pasti ingin terlihat menawan oleh siapa pun, termasuk juga sebuah karya seni, ingin tampak cantik di mata penikmatnya. Sesuai dengan judul artikel ini, saya akan sedikit membahas tip dan trik mempercantik naskah, terutama naskah novel.

Apa saja yang harus dipercantik?

Pertama, kalimat-kalimat.
Naskah novel tentu berbeda dengan karya ilmiah. Dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat harus jelas dan tidak ambigu. Novel mungkin butuh kalimat-kalimat dengan kiasan, perumpamaan, atau bahkan peribahasa. Tujuannya tentu saja untuk menghibur pembaca. Penulis yang baik, biasanya dapat dengan mudahnya membuat pembaca merasa berada dalam cerita yang mereka baca. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan bermain kata. Satu adegan — misal adegan cowok nembak cewek, atau adegan ciuman, atau adegan marah-marah — bisa dibuat sampai beberapa halaman. Penulis pasti ingin membuat pembaca memahami betapa bahagianya si cewek yang ditembak cowok, atau bagaimana manisnya ciuman pertama, atau seberapa kesalnya si tokoh karena keinginannya tidak terpenuhi.
Tetapi, ingat, jangan sampai kita berlebihan dalam menggunakan kiasan, perumpamaan, atau peribahasa. Kita ini nulis novel yak, bukan buku 1001 Peribahasa. Cantik tidak harus menor. Tidak harus dengan kata-kata yang bahkan jarang digunakan dalam percakapan kita sehari-hari, meskipun dari segi susunan huruf atau pelafalannya amat menawan. Diksi sederhana pun bisa jadi cantik bila momennya pas.

Kedua, momen atau kejadian.
Jika kalian tidak bisa atau tidak suka dengan kalimat-kalimat yang berbunga-bunga, maka yang harus dipercantik adalah momen-momen dalam cerita kalian. Adegannya mungkin sederhana: cowok ngasi bunga ke ceweknya. Tetapi, bila momennya pas, bakal bikin pembaca baper sampai langit ke tujuh. *gosah lebay, ya, mooooyy
Atau contoh lain, adegan pelukan. Ya kali si cewek lagi goreng tempe, trus dipeluk. Bisa aja, sih, kita bikin si cewek bereaksi santai, cenderung manis, senang dapat pelukan. Tetapi, kenyataannya? Bukannya dapat reaksi manis dari si cewek, yang ada si cowok malah disambit spatula. Masih untung itu wajan isi minyak panas nggak salto ke mana-mana, yang lalu adegan berlanjut dengan latar UGD, suara sirene ambulan meraung-raung ganas, dan lilitan perban di kepala — yang jatuhnya malah mirip bando atau bandana — dengan tetesan obat merah di salah satu spotnya… *teroooooos, moy, terooooooooosssss
Oke, intinya, kalau naskah kalian bukan genre fantasi, jangan bikin adegan-adegan absurd kalau kalian nggak menyiapkan pula penjelasan di balik keabsurdan itu. Ingat, cantik tidak harus menor. Dalam novel detektif, momen cantik bisa jadi ketika si penjahat tertangkap karena kelalaiannya sendiri. Dalam novel petualangan, momen cantik bisa jadi ketika si tokoh menemukan spot menarik di alam, yang mungkin sudah bertahun-tahun ia cari. Dalam novel horor, momen cantik bisa jadi ketika si tokoh bisa berdamai dengan ketakutannya selama ini.

Ketiga, gap atau jarak antaradegan.
Kali ini bukan mempercantik, tetapi cenderung menghaluskan. Dalam cerpen, gap atau jarak antaradegan yang besar mungkin masih bisa ditoleransi, tetapi tidak dalam novel.
Novel punya ruang yang luas dan napas yang amat panjang. Manfaatkan itu. Ceritakan semua sedetail mungkin, serunut mungkin. Kita boleh membuat gap atau jarak antaradegan di bab-bab awal atau tengah, tetapi di akhir kisah, gap atau jarak itu harus dihilangkan dengan memunculkan penjelasan-penjelasan. Biasanya ini dipakai untuk kisah kriminal, kisah misteri, kisah konspirasi para elit penguasa, dan sejenisnya.
Ingat, cantik tidak harus menor. Mentang-mentang dibilang harus runut, kalian malah bikin tulisan kayak buku harian, tiap tanggal dikisahkan. Lah kalau kisah yang kalian tulis berdurasi sepuluh tahun, seberapa tebel itu naskah? Jangan-jangan bisa buat ganjel pintu atau nimpuk maling.
Tulis sesuai kebutuhan. Kalau memang ada jeda sekian hari atau sekian bulan antara adegan-adegan penting tersebut, ya, biarkan mengalir seperti itu. Tak perlu dipaksakan harus membuat aktivitas si tokoh per tanggal kalender. Salah-salah, malah pembaca jadi bosan dan langsung ngeloakin buku kalian. Itu pedih, Kak, pediiihh… *gosah lebay lagi, moooyyy

Keempat, ending atau akhir cerita.
Umumnya, akhir cerita ada dua macam: sedih dan bahagia. Namun, ada satu lagi yang belum jamak dipilih penulis novel, yaitu ending menggantung. Jenis ending seperti itu boleh dipilih, asalkan “nggantung”-nya nggak nanggung. Jangan sampai bikin pembaca berhasrat ngebanting buku kita setelah selesai baca. Buatlah seolah-olah pembaca menginginkan kita membuat sekuel dari naskah tersebut, meskipun aslinya mungkin kisah itu sudah benar-benar tamat.
Ingat, cantik tidak harus menor. Ending yang kece tidak akan membuat pembaca muntah, tidak akan membuat dahi mereka berkerut-kerut. Cinderella mungkin boleh mendapat Prince Charming, tetapi ia tidak mendapat seluruh kerajaan, apalagi sampai punya kuasa atas menteri-menteri kerajaan. Bella Swan hanya mendapat Edward Cullen, tidak sekaligus Jacob Black. Jacob Black cukup jadi menantunya. Astronot-astronot dadakan dalam Armageddon nggak perlu mati semua demi meledakkan meteor yang bakal menghantam bumi. Cukup separuhnya, biar Liv Tyler kebagian adegan cipokan lagi. *mooooyyyy, eling, moooyyyyy

Syudah dulu yes. Kapan-kapan sambung lagi dengan artikel lain. Selamat menulis.

Salam lemper, eh, cilok.

Peran Editor dalam Proses Terbitnya Buku


Ada yang ujug-ujug nanya ke saya. Apakah naskah yang hendak diterbitkan memerlukan sentuhan tangan editor?
Jawabannya, tentu saja perlu.
Kenapa perlu?
Ya kali nggak pake editing, itu saltik berceceran di mana-mana, kayak bakul cilok di Denpasar. Siapa yang sudi baca buku penuh saltik dan saltum? *eh
Inti tugas editor adalah memeriksa naskah. Tapi, jangan berpikir bahwa yang diperiksa hanya kesalahan tik. Tugas atau peran editor lebih dari itu. Apa saja perannya? Simak penjelasan berikut.

Pertama, editor membantu penulis mempercantik naskah. Bagian-bagian yang perlu dipercantik antara lain kalimat-kalimat, momen atau adegan, gap/celah/jarak antaradegan, dan bagian akhir cerita. Lebih detailnya akan dijelaskan di artikel lain.

Kedua, editor membantu penulis menemukan genre yang sesuai. Kadang, ketika saya sedang menyeleksi naskah yang masuk, saya menemukan penulis yang salah milih angkot. Misalnya, si penulis kirim naskah bergenre romance, tapi setelah saya baca, feel-nya kayak lagi baca naskah horor. Meskipun plotnya bagus dan minus saltik, biasanya naskah semacam itu nggak saya loloskan. Gantinya, saya beri si penulis kesempatan untuk mengirim naskah lain dengan genre yang saya sarankan. Tentu naskah terbarunya akan dapat perhatian lebih dari saya ketika proses review nanti.
Tapi, bagaimana jika si penulis tidak tertarik menulis dengan genre yang disarankan? Yasutralahyes. Kan nggak boleh maksa-maksa orang. Jadi, saya akan lirik kembali naskah sebelumnya. Kalau memang punya potensi, saya akan minta si penulis merevisi atau — apes-apesnya — menulis ulang naskahnya. Jika hasilnya jauh lebih baik, akan saya loloskan naskahnya. Dengan catatan, asistensi selama proses editing akan lebih kedjam huahahahaha…

Ketiga, dan yang paling saya anggap penting, editor membantu penulis membangun rasa percaya diri terhadap naskahnya. Nggak jarang loh, naskah sudah lolos review, bahkan sudah masuk proses penyuntingan, eh, penulisnya malah semacam menyerah dengan kekedjaman saya. Padahal, tulisannya bagus, buktinya lolos casting. *eh
Ini di luar penyakit malas yang tiada obatnya itu. Biasanya lebih disebabkan rasa pesimis yang menghantui si penulis. Ia tidak yakin dengan hasil kerjanya; apakah pembaca akan suka atau akan muak. Padahal, suka atau tidaknya pembaca sebenarnya sudah terwakili oleh editor. Kami, para editor, juga paham apa yang diinginkan pembaca. Dan, jika kami menyarankan sesuatu, tentunya sudah melalui berbagai pertimbangan.

Jadi, masih beranggapan peran editor sekadar jadi polisi saltik? Sini, saya sleding dandang cilok dulu, biar sehat.

Salam lemper, eh, cilok.