Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Showing posts with label fiksi dewasa. Show all posts
Showing posts with label fiksi dewasa. Show all posts

Dez dan Em

 


Namanya Dez. Bukan nama sebenarnya, tetapi begitulah ia dipanggil oleh teman-temannya.

Aku mengenalnya sejak dua tahun lalu ketika aku tak sengaja menonton sajian musik akustik di pelataran mal. Aku waktu itu sedang duduk di salah satu bangku kedai kopi, sendirian, menghadap laptop dengan setumpuk tenggat yang harus dituntaskan. Di antara lalu lintas tanganku dari laptop, ponsel, botol air mineral, juga gelas kopi kedua, telingaku menangkap nada-nada itu.

All I Want dari Kodaline. Aku mengenali lirik dan nadanya sebab aku juga kerap memutar lagu itu ketika bekerja. Bukan favorit, tetapi cukup mendinginkan otak saat harus bertempur dengan pekerjaan. Jadi, ketika mendengar intronya, aku benar-benar menjatuhkan pandanganku ke arah lelaki yang memegang gitar sekaligus menyanyikan lagu itu.

Suara Dez biasa saja, sama dengan para penyanyi akustik lainnya. Cukup merdu untuk ukuran siaran langsung dengan peralatan terbatas. Namun, suara itu benar-benar membuat hatiku menghangat. Dan, lepas lagu Kodaline itu, aku malah tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku. Ada sesuatu yang menarikku untuk diam sejenak dan menikmati dua lagu berikutnya. Di akhir lagu ketiga, matanya bertemu denganku.

Namanya Dez. Bukan nama sebenarnya, tetapi aku tidak peduli.

Bulan-bulan berikutnya, aku dan Dez cukup kerap berinteraksi. Kami membahas nyaris segalanya. Ia semacam menggilai ilmu pengetahuan, apalagi yang kelihatan rumit untuk orang lain. Sebisa mungkin aku mengimbanginya. Sebab, aku sendiri baru kali ini menemukan lelaki yang punya ketertarikan besar terhadap alam semesta, juga tidak pernah terlalu ambil pusing perihal fisik perempuan. Katanya, ia nyaris tidak peduli dengan bentuk tubuhku, asalkan otakku bisa bekerja dengan baik.

“Memangnya kenapa kalau tubuhmu tidak seperti Scarlet Witch atau Black Widow?” begitu tanyanya saat kukatakan aku benci difoto. “Aku tidak suka kalau kamu selalu insecure seperti itu. You have everything, Em. You also have me. Berhentilah bersikap seolah-olah tidak ada lagi peduli padamu.”

Tak jarang kami berdebat layaknya orang yang benar-benar berlawanan pemikiran. Matanya menyala, berisi kobaran semangat. Tangannya bergerak ke sana kemari, memperlihatkan ketertarikannya dengan topik bahasan yang kami pilih. Kata-kata yang ia gunakan mencerminkan sedalam apa ia berpikir. Jujur, sepertiga masa dari durasi obrolan itu hanya kupakai untuk mengamati bahasa tubuhnya. Ia sungguh lelaki yang berbeda.

Namanya Dez. Bukan nama sebenarnya, tetapi kurasa aku mulai menyukainya.

Oh, jangan berpikir terlalu jauh dulu. Aku sedang tidak memikirkan soal berpasangan di masa depan. Tidak, bukan itu. Belum sampai ke sana. Aku menyukai Dez karena ia mencintai seni seperti seorang ibu mencintai anaknya. Tampak tanpa pamrih, tidak mengharap orang lain memuji atau sebangsanya. Itu betulan. Sebab, tiap kali aku memujinya seusai tampil secara akustik di beberapa kesempatan, aku selalu mendapat omelan. Katanya, “Bilang saja suaraku jelek, Em.” Padahal, aku benar-benar sedang memujinya.

Sungguh, kalau ia bukan orang yang istimewa di hidupku, sudah kutinggalkan ia dari dulu. Sayangnya, aku tidak tega berbuat itu. Sekesal apa pun aku dengan Dez—biasanya gara-gara mendebatku soal alur yang kupakai dalam tulisan-tulisanku, atau soal eksistensi Tuhan, atau soal betapa aku tidak menyukai tubuhku sendiri, atau soal warna langit sore hari yang kerap berubah-ubah sesuai intensitas cahaya matahari—aku tidak pernah berpikir untuk menjauh darinya. Semakin aku kesal, semakin aku ingin tetap di dekatnya, menjadi orang yang pertama tahu kabarnya di pagi hari, dan mengucapkan selamat tidur saat malam tiba.

Namanya Dez. Bukan nama sebenarnya, tetapi terasa nyaman ketika kuucapkan.

Katanya, itu karena aku dan dirinya berada dalam vibrasi yang sama. Aku tidak mendebatnya kali ini, tetapi muncul pertanyaan dalam otakku: vibrasi apa?

 

***

 

Namanya Em. Penggalan dari Emily. Katanya, supaya orang lain mudah menyebutnya.

Ya, segala sesuatu tentang Em memang mudah, termasuk awal perkenalan kami. Benar-benar semudah membalikkan telapak tangan.

Aku yang menghampirinya lebih dulu ketika ia masih duduk di salah satu bangku Starbucks. Di hadapan Em ada setumpuk kopian naskah atau semacamnya, sebuah laptop yang terbuka, dua botol air mineral yang kosong, serta dua gelas kopi yang salah satunya sudah tandas. Entah, tidak ada alasan spesifik, aku hanya ingin berkenalan dengannya. Sebab, selama aku bernyanyi, ekor mataku menangkap bahwa di sisi kiri ada seseorang yang benar-benar memperhatikanku. Namun, sesungguhnya aku takut. Aku takut mataku kali ini menipuku lebih jauh. Hanya saja, ada bisikan di tempurung kepalaku bahwa kali ini apa yang kurasakan bukan sekadar ilusi. Jadi, menjelang akhir lagu ketiga, kuberanikan diri menatap apa yang aku harap adalah masa depanku.

Namanya Em. Penggalan dari Emily. Katanya, ia selalu menyukai nama dengan satu suku kata.

Sama seperti ia menyukai lagu, buku, dan kopi. Bagi Em, itu perpaduan sempurna dari aroma surga. Aku sempat mendebatnya. Bagaimana bisa aroma surga dimanifestasikan dalam bentuk lagu? Kira-kira satu jam lamanya aku mencecar Em dengan topik itu. Orang lain mungkin tidak akan tahan dengan kebiasaan burukku—kurasa—mempertanyakan segala sesuatu yang kuanggap belum logis. Akan tetapi, Em bertahan, mendengarku dengan saksama, serta menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan kesabaran luar biasa.

Aku bisa melihat dari matanya, ia bukan perempuan biasa, bukan perempuan yang mudah mengungkapkan isi hatinya kepada orang lain. Kalaupun pada akhirnya ia mau bicara, ada hal yang pasti membuatnya nyaman. Atau, versi lainnya yang tidak aku suka: terpaksa. Terpaksa, begitu ia sampaikan saat kutanya soal hubungan terakhirnya dengan seorang lelaki. Em terpaksa meninggalkan lelaki itu karena ia merasa tidak pernah dihargai. Ia mencoba bertahan dalam diamnya semata-mata tidak ingin berkonflik. Namun, rasa sakit itu membuatnya terpaksa bicara, dan pergi. Em tidak suka diamnya dimanfaatkan.

“Rasanya luar biasa lega, Dez, saat aku tahu aku terbebas dari beban seluas es Kutub Selatan. Beban yang berat dan dingin.”

Aku hanya tersenyum sembari menggenggam tangannya. Menguatkan hatinya, membuatnya bersemu lagi, dan menjadikan ia sebagai perempuan indah dalam hidupku.

Namanya Em. Penggalan dari Emily. Katanya, apalah artinya sebuah nama jika kamu tidak mencintai pemiliknya.

Itu betul. Aku tidak peduli jika Em ternyata tidak bernama Em. Aku akan tetap mencintainya sekalipun ia bernama Drew, Amanda, atau Michelle. Aku akan tetap mencintai perempuan yang selalu tahan dengan ide-ide gilaku soal alam semesta, serta kegilaan-kegilaanku lainnya. Bahkan, keluargaku sendiri selalu menyerah ketika dalam sebuah pertemuan aku tiba-tiba melempar sebuah pertanyaan perihal spirit bernama cinta. Mereka akan diam sejenak, pura-pura mengambil minuman di dapur, atau mengecek ponsel mereka, lalu aku berakhir seorang diri di ruangan itu. Itu terjadi tidak hanya satu kali.

“Mereka bukan tidak mau menjawab, Dez. Mereka hanya tidak tertarik dengan tema-tema luar biasa untuk obrolan ringan acara minum teh. Kamu punya aku, Dez. Aku akan selalu mendengarmu, meski mungkin nanti kamu tinggal di sini dan aku pergi ke Venus.” Em lalu tergelak, meledekku dengan wajah tanpa dosa.

Kami berciuman setelahnya. Mempertemukan jiwa kami dalam dimensi dan vibrasi yang sama. Membuat ikatannya semakin kuat dari hari ke hari.

Aku akan tetap mencintai Em, meskipun aku tidak bisa setiap saat menyentuh tubuhnya. Kami kini berjarak satu malam perjalanan dengan bus. Pekerjaannya menuntut Em untuk menjauh dariku. Tidak apa-apa, kataku padanya saat ia bercerita mendapat tawaran bekerja di salah satu grup media besar. Kukatakan seperti itu karena aku tahu mimpi indah Em adalah bergumul dengan lebih banyak lagi naskah. Tidak apa-apa, kataku padanya saat ia menangis di pelukanku malam sebelum tubuhnya meninggalkanku. Ia sempat memintaku ikut dengannya, tetapi terpaksa kutolak. Itulah pertama kalinya aku menolak permintaan Em.

Aku tidak bisa ikut sebab jiwaku telanjur tertanam di kota ini. Biarlah aku menunggu Em menyelesaikan kontrak pekerjaannya. Hanya lima tahun, bukan waktu yang lama. Akan sangat sepadan dengan akhir yang manis nantinya. Aku tidak bisa membelenggu gerak Em dengan sebuah ikatan. Aku tidak ingin mengekang jiwanya yang aku tahu betul mendamba kebebasan. Dan, apa pun yang terjadi nanti, aku akan tetap mencintai Em.


---

SEKAR MAYANG

Editor Penerbit Jentera Pustaka

Pekerja Teks Komersial


Catatan : Cerpen ini ditulis tahun 2021. Salah satu yang akan dimasukkan ke dalam buku Kumpulan Cerpen BELATI SANG TUAN. Versi digital akan dibagikan secara gratis.

Cerpen ini juga tayang di Facebook.

Sumber gambar.

Nug dan Bibirnya

 



Ia akan datang ke kotaku, begitu katanya ketika kami bicara lewat telepon minggu lalu. Dan, ia akan datang sendirian.

Ialah Bunga, perempuan yang sudah dua tahun ini membuatku benar-benar merasakan rindu yang tak tertahankan. Ialah Bunga, yang membuatku setiap hari tak sabar menunggu sapaannya. Ialah Bunga, yang membuatku mengerti bahwa cinta perlu diperjuangkan.

Aku sudah si lobi stasiun sejak tiga puluh menit lalu. Kereta yang membawa Bunga akan datang lima menit lagi. Sungguh, ini akan jadi lima menit terpanjang dalam hidupku. Bagaimana tidak? Aku dan Bunga sama sekali belum pernah bertatap muka secara langsung. Selama ini kami hanya bertegur sapa lewat jaringan internet. Jadi, aku gugup, aku sedikit panik. Ini akan jadi pertemuan pertama kami setelah dua tahun.

Bunga sebenarnya bukan orang yang sama sekali asing dalam hidupku. Mungkin, dulu kami pernah berpapasan di lorong kampus, atau bersinggungan di kantor administrasi, atau bahkan bersebelahan di kedai fotokopi. Kami berada dalam satu kelompok pencinta buku dan mungkin pernah berada di satu forum yang sama, tetapi jalan kami belum pernah benar-benar bertalian.

Semuanya terjadi begitu saja. Aku lebih dulu menghubungi Bunga ketika kulihat ia baru saja memamerkan hasil karyanya. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku hanya mengikuti bisikan hati. Dan, di sinilah aku saat ini, menunggunya muncul di pintu kedatangan.

 

***

 

Keretaku melambat. Aku segera menurunkan ransel dari rak di atasku. Aku tidak akan lama di kota ini, mungkin hanya dua hari, tetapi kurasa itu akan sepadan dengan segalanya.

Aku tidak mengenal pria ini sebelumnya. Tidak, sama sekali. Aku hanya pernah mendengar namanya satu atau dua kali ketika teman yang lain bicara soal pembuat sketsa andal di kota ini. Hanya mendengar dan belum pernah melihat karya-karyanya. Oh, ya, namanya Nugroho, tetapi lebih sering dipanggil Nug. Dan, kurasa ia juga termasuk anggota kelompok pencinta buku di kampusku. Aku tidak ingat apakah pernah satu forum dengannya. Mungkin pernah, mungkin juga tidak. Entahlah. Ingatanku hanya sesekali menjangkau wajahnya yang ketika itu masih belia.

Ah, intinya, aku terkejut ketika Nug menelepon untuk membeli salah satu kumpulan cerpenku. Rasanya aneh saja. Ia yang sebelumnya tidak berselisih jalan denganku, tiba-tiba hadir, memberondongku dengan segala pesonanya, membuatku berpikir: Apakah semesta sedang bermain-main denganku? Aku yang awalnya agak membentengi diri akhirnya menyerah. Padahal, kalau saja ia tahu, aku belum lama sembuh dari luka yang lalu. Ketika ia tahu aku memiliki luka, ia berkata, “Aku ingin menyumbang luka untukmu, untuk diksimu, tetapi aku tidak tega. Tidak akan tega, Bunga.”

Dan, di sinilah aku, menunggu kereta benar-benar berhenti supaya aku bisa segera lari dan membenamkan diriku ke pelukannya.

 

***

 

Perempuan itu muncul di pintu kedatangan. Kulihat punggungnya menggendong ransel Rip Curl warna hitam—aku tahu dari logo di bagian talinya—dan di tangannya tergenggam sebuah ponsel. Ia akan berada di kota ini selama dua hari. Lima puluh jam yang akan kujalani, kunikmati, kumasukkan ke dalam memori, dan tidak akan pernah kuhapus.

Begitu melihatku, Bunga langsung berlari. Lenganku membentang, kuterima tubuhnya dengan segera. Aku tidak peduli orang-orang memberi tatapan aneh atau bahkan celetukan bernada sumbang. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin mendekap Bunga, menghilangkan masa dua tahun yang luar biasa perih dan tak tertahankan.

“Ehm, Bunga?”

“Ya?”

“Mau sampai kapan kita pelukan di sini?”

Bunga tertawa. Ia lalu melepaskan diri dari pelukanku. “Ayo makan. Aku lapar. Porsi makanan di kereta hanya sanggup memuaskan satu atau dua cacing. Sementara kamu tahu, kan, Nug, aku memelihara satu batalion cacing,” celotehnya, seperti biasa, sanggup membuat kepenatanku seolah-olah sirna dalam sekejap. Suara Bunga agak berbeda dengan yang biasa kudengar lewat telepon. Mendengarnya langsung terasa begitu melegakan, begitu menyenangkan.

Pukul delapan malam, aku dan Bunga sudah duduk di balkon apartemen yang kusewa selama tiga hari. Aku datang lebih dulu kemarin, dari Bandung, sementara Bunga baru bisa sampai kota ini tadi sore. Kata Bunga sewaktu kami merencanakan pertemuan ini, “Aku tidak mau di hotel, Nug. Carikan tempat lain, yang sekiranya kamu pikir aku akan nyaman menempatinya selama dua hari.”

Ah, Bunga, bukankah tempat ternyaman untukmu adalah hatiku? Kamu sendiri yang mengatakannya tepat satu bulan kita menjalin temali kisah.

Aku mendapat apa yang Bunga inginkan untuk kami menghabiskan waktu. Sebuah apartemen di pinggiran kota dengan pemandangan malam hari yang luar biasa menawan. Kami menikmati gemerlap lampu kota, menyesap teh, mendengar kisah masing-masing. Aku dengan perjalanan menggambarku, Bunga dengan segala rangkaian diksinya. Lalu, ketika semua kisah terasa nyaris habis dituturkan, kuberanikan diri menyentuh wajahnya.

 

***

 

Tangan Nug kini berada di wajahku. Rasanya hangat, dengan aroma frangipani yang berasal dari sabun tangan di wastafel. Rasanya hangat, dengan buku-buku sedikit kasar karena terlalu banyak memeluk pensil. Rasanya hangat, dengan ritme belaian yang mulai aku ingat dan aku sukai. Oh, aku tidak tahu ternyata aku begitu mengharapkan tubuhnya hadir secara nyata di hadapanku. Aku masih tidak percaya, aku benar-benar bisa menyentuh raganya malam ini. Masih terasa seperti mimpi, terasa seperti jauh dari jangkauanku. Sungguh, dua tahun yang luar biasa menyakitkan.

Kini, aku dan Nug hanya berjarak … ah, kami tak lagi berjarak. Tanganku pun sudah sedari tadi berada di wajahnya. Meneliti setiap inci kulit sawo matangnya, berusaha merekam gurat-gurat usia di sana. Iya, aku dan Nug tak lagi belia, tak lagi pantas disebut sebagai ABG yang sedang kasmaran, meskipun kami terlihat persis seperti itu.

“Apa yang kamu rasakan, Bunga?”

Aku tidak tahu. Segalanya tampak campur aduk. Aku ingin tertawa, ingin menangis, ingin waktu berhenti berjalan. Aku ingin selamanya seperti ini, aku ingin Nug untuk diriku sendiri, tidak untuk yang lain. Hanya saja, aku harus rela berbagi, rela tidak mendapat utuh.

Just … don’t ever think to leave me, Nug.”

I won’t.”

Seumur hidupku, berciuman adalah hal yang menyenangkan, menggairahkan, dan membuatku hidup. Akan tetapi, menjalaninya dengan Nug, membuatku sadar, segala sesuatunya tidak bisa begitu saja kumiliki. Namun, bukankah manusia masih berhak berharap? Aku dan Nug sudah berkali-kali membahasnya, mempelajari berbagai kemungkinan, mencari celah. Hasilnya tetap sama: aku dan Nug masih harus menunggu, entah berapa lama lagi.

Bibir Nug masih menempel di bibirku. Kami belum ingin berpisah. Kami baru saja mulai, tentu saja tak ingin selesai cepat-cepat. Memang, masih ada empat puluh lima jam lagi, tetapi kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu.

Bibir Nug masih menempel di bibirku. Rasanya manis, sekaligus getir. Sungguh, bukan perpaduan yang indah, tetapi aku tetap ingin menikmatinya. Aku bahkan rela menunggu dua tahun demi momen ini. Dan, aku tidak pernah mendapat bibir seperti milik Nug sebelumnya. Bibir-bibir sebelumnya hanya berisi nafsu akan lubang pada tubuh bagian bawahku, berisi janji-janji manis, berisi kebohongan yang terasa nyata.

Bibir Nug masih menempel di bibirku. Kami membiarkan segalanya terlepas, membiarkan segalanya menemui takdir, membiarkan semesta menamatkan tugasnya. Jalan yang aku dan Nug lalui kemarin amat rumit. Orang lain mungkin akan menyerah begitu saja, mungkin akan memilih jalan lain yang lebih mudah dan tidak melelahkan, tetapi aku dan Nug bertahan.

Bibir Nug masih menempel di bibirku. Entah kapan kami bisa mendapatkan momen ini lagi. Kami benar-benar tidak bisa—dan tidak berani—memikirkannya. Sebab, ketika empat puluh lima jam nanti habis, aku dan Nug harus kembali pada kenyataan yang ada.

---

Sekar Mayang

Editor Penerbit Jentera Pustaka

Pekerja Teks Komersial


Sumber gambar

Teduh




Sudah sekian purnama Ru pergi, sekian purnama pula aku tidak melihat wajahnya. Biasanya, aku akan ke taman kota untuk mengusir resah, menyerap energi dari hijaunya dedaunan di sana. Duduk berjam-jam di undakan monumen, hanya untuk mengulang segalanya. Meskipun pada pengujung hari, aku tidak peduli pada diriku sendiri. Aku akan tetap menjalani ritual yang sama. Bekerja, pulang, lalu bermimpi.

Hingga hari itu, aku terjebak antara mimpi dan kenyataan. Aku melihat wajah Ru.

Hanya wajahnya.

Aku mengerjap sekali, berharap wajah itu hilang dari pandanganku, tetapi tidak berhasil. Kerjapan kedua malah membuat aku melihat torsonya. Dan, kerjapan ketiga membuat aku sadar, Ru memang berada di hadapanku.

Wajahnya agak berbeda. Mungkin karena cambang tipis yang tumbuh di wajahnya. Aku tidak tahu kalau Ru bercambang. Selama aku mengenal lelaki itu, wajahnya selalu bersih. Namun, sorot matanya tetap sama. Sorot yang selalu meneduhkanku, sorot yang mampu membuatku menarik otot-otot di sekitar bibirku. Ru tidak pernah gagal membuatku tersenyum. Seperti kali ini.

“Ayo kita ke taman, Moy,” ajaknya.

Ru begitu saja menarik lenganku tanpa menunggu aku menjawab ajakannya. Itu tidak perlu, mungkin, sebab aku tidak pernah menolak.

Rumput-rumput di taman kota masih berbalut embun ketika aku dan Ru menjejakkan kaki di sana. Ini baru pukul enam pagi, ngomong-ngomong. Langit masih temaram dan udara masih sedikit membekukan lubang hidung. Ini bulan Juni, apa yang bisa kauharapkan soal cuaca hangat? Tidak akan ada.

Ru memungut satu kuntum jepun yang tergeletak di rumput. Kelopaknya masih segar, mungkin belum lama gugur. Ru memberikannya begitu saja padaku, lalu ia kembali berjalan. Aku menikmati pemandangan punggungnya yang tegap. Aku tahu, aku akan berlama-lama memaku mataku pada punggungnya, seperti yang sudah-sudah.

“Moy, berhentilah membuatku takut,” kata Ru tiba-tiba.

Aku tertawa.

“Apa yang membuatmu takut, Ru? Aku tidak pernah memakai topeng lagi.”

“Senyummu membuatku takut, Moy.”

“Senyumku?”

Ru mendekat hingga nyaris tak berjarak denganku. Kini, aku yang mulai takut. Bukan karena tatapan mata orang-orang di sekelilingku, tetapi karena aku tahu, setelah ini, mungkin masih sekian purnama lagi aku bisa mendapati wajah Ru yang hanya sejengkal dariku.

“Apa kamu tidak sadar, Moy, kalau senyummu bisa meneduhkan langit?”

Oh, my!

Aku merasa kaki-kakiku tenggelam, jantung lepas dari sarangnya, dan paru-paruku pensiun meminta oksigen. Aku ingin teriak meminta tolong, tetapi tenggorokanku tercekat. Yang ada, bibir Ru menempel begitu saja di dahiku. Lalu, jutaan kembang api meledak di atas kepala kami.


(Artikel pertama tayang di Kompasiana)

Jeda


“Apa yang akan terjadi seandainya dulu aku tidak lari, Ru?”

Aku menoleh. Moy masih duduk di sampingku, memandang lepas ke lautan. Matanya tertutup kacamata hitam. Rambutnya berayun dimainkan angin pantai. Aku berharap ia melanjutkan ucapannya, tetapi tidak. Itu saja kalimatnya. Kalimat yang membuat otakku membeku.

Apa yang terjadi jika ia tidak lari?

Entahlah. Siapa yang tahu jawabannya? Dulu yang mana? Siapa yang mengejarnya? Akukah?

“Apa yang terjadi seandainya hari ini tidak ada, Ru?”

Hah?

“Akan ke mana kita, Ru, seandainya tidak ada jeda belasan tahun itu?”

Baiklah, ini harus segera dihentikan. Aku tidak mengajaknya bertemu untuk merusak otakku.

“Moy, tidak ada satu orang pun yang mampu menjawab itu semua.”

Moy menoleh. Ia melepas kacamatanya, dan baru kulihat, sudut matanya basah.

“Yang jelas,” lanjutku, “semua terjadi karena sebuah alasan.”

Moy memakai kembali kacamatanya. Hanya Tuhan yang tahu, apakah ia akan menangis lagi atau tidak. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan ini bisa terjadi. Aku membayangkan hal lain, hal-hal yang lebih menyenangkan.

Aku membayangkan senyumnya.

Aku membayangkan gelak tawanya ketika mendengar lelucon yang kulempar.

Aku membayangkan binar matanya ketika kuceritakan soal kucing-kucingku.

Aku membayangkan menautkan jemariku di antara jemarinya.

Aku membayangkan merapikan rambutnya ketika angin pantai terlalu nakal kepadanya.

Aku membayangkan mengecup dahinya saat aku hendak kembali ke kota dengan burung besi.

Itu saja bayanganku. Namun, semuanya tidak aku dapatkan. Ketika aku melihatnya lagi setelah sekian lama, aku tahu, sesuatu telah terjadi. Moy terlalu sering terluka dalam rentang belasan tahun itu. Teramat sering, hingga aku bisa melihat hal itu di matanya, mengecap di balik senyumnya. Pahit, semuanya terlalu pahit.

Lalu, aku sadar, aku memang seharusnya tidak membiarkannya lari.

(Artikel pertama tayang di Kompasiana)

Memilih (episode 3)





Kicau burung gereja meramaikan sore, menemani Al dan Maya yang sedang duduk di teras rumah Dahlan. Di tengah-tengah amben, tersaji dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng.
Al masih tetap dengan kebiasaannya mengunjungi kompleks pemakaman di daerah selatan Kota Bandung. Tapi, bukan untuk mengunjungi makam Maya Larasati — ya, itu masih ia lakukan seminggu sekali — melainkan menemui putri Dahlan, Kalina Mayasari. Entah harus menamakan apa hubungan ini, pikir Al, aku merasa nyaman berada di dekatnya.
“Siapa nama pacarmu, Al?” Maya membuka obrolan serius mereka untuk pertama kali.
“Namanya Maya Larasati.”
Mata Maya sedikit melebar.
“Iya, betul,” kata Al lagi. “Panggilannya Maya. Sama sepertimu.”
“Oke. Maya itu, bagaimana kamu menggambarkan dia?”
Al menyesap sedikit teh hangatnya. “Indah, seperti malaikat.”
Maya tersenyum geli. “Memangnya ada manusia seperti malaikat?”
“Ada. Ya, seperti dia. Juga, sepertimu.”
Maya menunduk. Ia merasa seluruh darah dalam tubuhnya sedang menuju wajah, yang menyebabkan rona merah di pipi. Ia berharap Al tidak melihatnya.
“Aku serius, Maya,” kata Al lagi.
“Terima kasih. Tapi, rasanya itu tidak benar,” balas Maya. “Maksudku, aku hanya gadis biasa yang tidak pantas disamakan dengan pacarmu.”
“Ya…, mungkin kamu anggap ini sebagai rayuan tidak bermutu, atau candaan, tapi aku tidak bohong.”
“Ah, sudahlah.”
Mereka diam lagi. Al sibuk menyesap tehnya perlahan, sementara Maya hanya diam memandang rimbun kembang sepatu di halaman. Maya merasa aneh dengan situasi ini. Tidak jelas apa yang diinginkan Al dan itu membuatnya resah.
“Maya, boleh aku tanya?”
“Tanya apa?”
“Kalau aku minta kamu menggantikan tunanganku…”
“Menggantikan?” potong Maya.
“Ehm, maksudnya…”
“Aku mengerti,” sahut Maya.
“Ya…, begitulah. Bersedia?”
“Maaf, aku tidak bisa.”
“Kenapa?” tanya Al.
“Karena aku bukan pengganti.”
“Lalu?”
“Tidak ada lanjutannya, Al.”
“Tapi…”
“Kalau aku bilang aku mengerti, berarti aku memang benar-benar mengerti, Al. Tunanganmu itu…, okelah namanya sama denganku, tapi bukan berarti aku dan dia adalah orang yang sama. Di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar sama, bahkan yang kembar identik. Apa kamu pikir aku ini reinkarnasi pacarmu yang sudah meninggal itu?”
“Tidak, bukan begitu maksudku.”
“Aku pikir obrolan kita kali ini tidak ada ujungnya.”
“Ada ujungnya, kok.”
“Maksudnya?” Giliran Maya yang bingung.
“Lepaskan pikiranmu soal pacarku yang sudah…,” Al menelan ludah, “… meninggal. Yang aku ingin tahu, apa kamu bersedia kalau setelah ini aku selalu mengganggu hidupmu?”
Maya tertawa. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ia tidak ingin tawanya terlalu meledak, walaupun ia sangat ingin melakukannya. Pria yang jatuh cinta ternyata menjadi bodoh ketika bermain dengan kata-kata, pikirnya. Setelah gelaknya mereda, Maya kembali melempar tanya. “Mengganggu hidupku, ya? Dengan apa?”
Al kikuk. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Beruntung ia masih memegang gelas teh, jadi ia bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Dengan apa, ya? Ah, kamu harusnya tidak perlu bertanya lagi. Seharusnya kamu sudah paham maksudku.”
“Kalau aku bilang aku belum paham, bagaimana?” Maya tersenyum simpul.
“Besok hari Sabtu. Kita jalan-jalan, yuk?”
“Hei, jangan ganti topik dulu! Pertanyaanku belum kamu jawab,” protes Maya.
Al makin kelimpungan. Ia tak pernah sekikuk ini sebelumnya di depan seorang gadis. Bahkan, tidak di hadapan Maya Larasati.
“Kenapa?” Maya membuyarkan lamunan Al.
“Tidak ada apa-apa,” Al berbohong. Sesungguhnya ia masih belum tahu harus menjawab bagaimana. Pertanyaan Maya memang mudah, tetapi cukup sulit dijawab. “Tapi, bisakah kita ganti topik?”
Maya tergelak lagi.
“Yang begitu saja kamu tidak bisa menjawab, Al.” Maya mengganti nada bicaranya. “Aku mau tanya. Apa kamu sudah ikhlas dengan kehilanganmu?”
Al mengangguk.
“Benarkah?” Maya bertanya lagi.
“Iya,” jawab Al dengan mantap.
“Tapi, aku pikir, kamu itu belum ikhlas.”
Dahi Al berkerut-kerut. “Kenapa bisa begitu?”
“Karena…” Maya berhenti bicara dan menatap Al dengan serius. “Semisal namaku bukan Maya, apa kamu juga menawarkan kesempatan itu, sesuatu tentang mengganggu hidupku?”
“Aku tidak tahu.” Mata Al hampir tak berkedip.
Dua pasang mata itu bertemu di satu titik, saling merapal rasa yang menguar darinya. Berusaha saling mengerti, saling mencari celah untuk menyatukan ingin. Detik-detik berikutnya terasa seperti perlambatan yang semakin besar, yang berusaha membekukan keduanya. Al dan Maya tidak keberatan, asal mereka tidak berada dalam dua titik yang berbeda di dalam perlambatan itu.
“Ini sudah hampir gelap, Al. Lebih baik kamu pulang.”
Al terkesiap dari lamunannya. Ia melihat sekeliling, langit hampir menjingga. Sebentar lagi ayah Maya akan pulang, gumam Al dalam hati.
“Ya, aku pulang saja,” ujar Al. “Tapi, besok…”
“Tidak bisa. Aku janji sama Bapak, akan membantunya membersihkan makam. Besok akan banyak orang datang berziarah.” Maya setengah berharap, alasan yang ia lontarkan kali ini tidak tercium janggalnya.

Maya merebahkan tubuhnya di kasur kapuk tua berlapis seprai merah muda. Ia memandang langit-langit kamarnya, lalu kembali terlintas percakapan yang baru saja terjadi antara dirinya dan Al. Yang tadi itu apa, tanyanya dalam hati. Lalu, ia sampai pada kesimpulannya sendiri. Maya ingin sekali tak percaya dengan apa yang ia pikirkan, tetapi nyatanya Al memang memintanya menggantikan Maya Larasati sebagai kekasihnya. Satu yang Maya yakini, permintaan Al adalah sebuah hal yang absurd, seabsurd ucapan Al soal malaikat-malaikat itu.
Apa benar, ada cinta yang didasari keserupaan nama? Itu aneh, pikir Maya sekali lagi. Jika saja Al memintanya dengan cara yang berbeda, tanpa sedikit pun melibatkan cinta lamanya, Maya akan mempertimbangkannya.
Ponsel Maya berbunyi. Ada pesan singkat masuk.

Maaf, Maya. Mungkin tadi bicaraku terlalu mengada-ada. Tapi, aku benar-benar ingin dekat denganmu. Bolehkah?

Kata-kata dari Al membuat Maya spontan mengembangkan senyumnya. Tetapi, ia enggan membalas pesan itu. Ia setengah melempar ponsel — yang merupakan pemberian Al beberapa hari yang lalu — ke atas meja kayu tua di sudut ruangan kamarnya. Kembali ia merebahkan diri ke kasur. Kembali ia menatap langit-langit kamarnya, sambil sesekali menyimak rekaman lantunan ayat-ayat Alquran yang keluar dari pengeras suara musala.
Maya adalah seorang gadis yang tidak mudah percaya kepada orang lain, terutama kepada lawan jenis. Kecuali, sang ayah tentunya. Ia memiliki banyak teman wanita, tetapi tak ada satu pun yang bisa dijadikan tempat untuk berkeluh kesah, atau sekadar bercerita tentang hal-hal menarik seputar wanita. Justru dirinyalah yang selama ini menjadi tempat teman-temannya mencurahkan isi hati mereka. Maya berpikir, jika mereka saja bercerita dan memintanya mencarikan jalan keluar dari suatu masalah, bagaimana bisa teman-temannya itu memberi jalan keluar untuk masalah yang sedang ia hadapai sekarang. Namun, hikmahnya adalah, ia bisa mengenal banyak karakter orang dari mereka yang telah dikenalnya. Satu-satunya tempat mencurahkan isi hatinya selain sang ayah adalah buku harian yang tersimpan rapi di deretan buku-buku yang ia letakkan di atas meja.
Maya bangkit dari kasur dan segera mengambil buku hariannya. Ia duduk dan membuka halaman terakhir yang berisi tulisan. Ia melihat tanggal terakhir ia menuliskan sesuatu di buku itu, dan sedikit terkejut. Ternyata sudah satu bulan lebih ia tidak pernah menulis. Ia mengambil pena dari laci, lalu mulai menulis.

Bandung, 30 Agustus 2011
Aneh sekali rasanya, mengetahui seseorang menyukaiku karena namaku mirip dengan kekasihnya yang sudah meninggal. Aku penasaran, kalau namaku bukan Maya, apa dia masih menawarkan kedekatan itu? Aku meragukannya. Amat sangat!
Aku sendiri bukannya tidak percaya dengan apa yang namanya cinta pada pandangan pertama. Walaupun agak tidak masuk akal menurutku, tapi itu bukannya mustahil terjadi. Hanya saja, dalam kasusku ini, yang namanya kebetulan itu terlalu klise.
Ehm, tidak bisakah aku mendapat kisah cintaku dengan jalan yang normal dan lurus-lurus saja, tanpa harus merasakan drama? Yah, hidupku sudah cukup drama dengan terdamparnya aku di tempat ini. Aku tidak menyesal dipungut oleh Bapak, dibandingkan jika aku terdampar di kolong jembatan. Paling tidak, orang tua kandungku memikirkan masa depanku.
Tapi, kuburan?! Ah, sudahlah!
     
Maya berhenti menulis. Ia bangkit dari kursinya dan menutup jendela kamar, lalu berniat mengambil air minum ke dapur. Namun, saat hendak menutup jendela kamarnya, ia melihat Vios hitam masih berada di pinggir jalan, terparkir dengan nelangsa. Maya kembali ke meja dan menyambar ponselnya. Ia menekan tombol ponsel beberapa kali dan menempelkan gawai itu ke telinga kanannya.
“Halo,” sapa suara dari seberang sambungan.
“Halo, Al. Kamu di mana sekarang? Sudah sampai rumah?” tanya Maya.
Lama tak terdengar jawaban dari Al. Maya memperhatikan ponselnya sejenak, memastikan sambungan telepon masih aktif, lalu mendekatkan lagi benda itu ke telinganya.
“Al?”
“Iya, Maya. Aku sudah di rumah. Baru saja aku ingin meneleponmu, mengabari kalau aku sudah sampai rumah. Tapi, ternyata aku kalah cepat.” Lalu, terdengar suara tawa Al yang Maya pikir agak sedikit dipaksakan.
“Oh, ya? Syukurkah kalau begitu.”
“Memangnya ada apa, Maya? Suaramu kedengeran kayak orang khawatir.”
“Ah, tidak. Tolong jangan gede rasa dulu, ya.” Maya tertawa. “Aku lihat ada Vios hitam terparkir tidak jauh dari rumah. Aku pikir itu kamu, Al. Benar, kamu sudah di rumah?” Maya menegaskan lagi pertanyaannya kepada Al.
“Iya, aku sudah di rumah. Kamu tidak perlu khawatir, Maya.”
“Oke. Aku tutup dulu, ya. Sudah hampir magrib.”
Maya menekan tombol merah pada ponselnya dan meletakkan kembali benda itu di atas meja. Ia beranjak menuju jendela, tetapi tidak langsung menutupnya. Sekali lagi ia memperhatikan Vios hitam yang terparkir tak jauh dari rumahnya. Matanya memicing. Ia merasa seperti melihat seseorang di balik kemudi mobil itu, tetapi karena ini menjelang senja dan cahaya matahari sedikit tertutup awan, maka Maya tidak bisa memastikan apa yang ia lihat saat itu. Namun, ia meyakinkan hatinya sendiri. Al sudah di rumah, dan ia yakin, pria itu jujur padanya.
Maya melepas batang besi yang menyangga jendela berkaca itu dan menguncinya dengan saksama. Ia merapikan kelambu yang menutupi jendela itu dan memastikan tidak ada celah yang terlihat dari luar.
Sementara itu, Al masih saja memegang ponselnya. Sambungan sudah terputus sejak tadi, dan Al seolah-olah tak percaya apa yang baru saja ia katakan kepada Maya. Ia tersadar dari lamunannya dan memasukkan kembali ponselnya ke saku kemeja.
Al memegang kemudi, namun mesin mobilnya masih belum menyala. Ia bingung. Sebenarnya ia ingin sekali berlari ke rumah itu, mengetuk jendela kamar Maya, dan mengajaknya keluar rumah tanpa harus pamit kepada ayahnya — kembali lagi seperti remaja yang sedang kasmaran. Tetapi, ia bukan remaja, dan itu rasanya tidak mungkin terjadi.
Azan Magrib lantang tersiar dari musala yang tak jauh dari kompleks pemakaman tersebut. Al memutuskan untuk pulang saja. Toh tidak ada gunanya memaksakan kehendak saat ini juga. Maya pasti akan menganggap dirinya pria bodoh jika berbuat seperti itu. Lagi pula, ada baiknya juga ia menenangkan diri. Maya pun ada benarnya. Gadis itu bukanlah Maya Larasati, kekasihnya yang telah meninggal.

Malam harinya, Maya kembali membuka buku harian. Ini sudah hampir tengah malam, namun mata Maya belum mau terpejam. Kantuk seolah-olah hilang dan perhatiannya tersita oleh kejadian sore hari tadi. Sebenarnya tubuh Maya sudah meronta minta diistirahatkan, tetapi ada dorongan yang lebih besar dalam dirinya untuk kembali membuka buku hariannya. Dan, ia sadar, itu karena Al.

Bandung, masih di tanggal yang sama.
Seharusnya aku menghafal nomor mobilnya agar aku tahu saat dia berbohong, aku bisa langsung mencecarnya. Kenapa aku begitu yakin tadi dia berbohong, ya? Ah, sudahlah. Itu haknya. Aku tidak punya hak untuk mengatur apa yang terucap dari mulutnya karena aku bukan seseorang yang pantas untuk berbuat itu. Meskipun aku sangat berharap bisa melakukannya.
Ya, Tuhan. Kenapa aku jadi seperti ini? Dia harus bertanggung jawab terhadap rasa gelisah yang sekarang menyerangku dengan membabi buta.

Maya menutup buku hariannya, menyimpan kembali benda itu di antara berderet-deret buku di atas meja, lalu merebahkan tubuh lelahnya di kasur. Matanya belum mau terpejam, padahal ini sudah tengah malam. Ia menyalakan radio pemberian Dahlan, berharap masih ada siaran di malam yang semakin tua ini.

Dalam kamarnya di apartemen mewah yang terletak di tengah Kota Kembang, Al terduduk di sofa sambil menatap nanar foto Maya Larasati di tangan kanannya. Perlahan, rasa kehilangan yang sempat memudar karena kehadiran Maya yang baru dikenalnya, kini mulai menjalar kembali ke hatinya. Dan, itu membuatnya harus merasakan sakit lagi. Sebuah rasa sakit yang aneh, pikirnya, karena ia tidak melihat luka di tubuhnya. Ya, yang terluka adalah hatinya.
“Pipiku terlihat lebih berisi, ya, di foto itu.”
Tiba-tiba sebentuk suara hadir di pendengaran Al. Namun, Al tak lagi terkejut seperti sebelumnya. Ia sudah paham siapa yang hadir di sampingnya kini.
“Ya,” sahut Al, “kamu terlalu banyak mengunyah potato chips dan minum berliter-liter soda dalam satu minggu.”
Sosok yang duduk di samping Al tertawa malu. “Itu salahmu, Al,” katanya kemudian. “Kamu bilang aku boleh memakan apa pun saat kamu mendapat promosi sebagai kepala cabang di tempat kerjamu. Dua hal itu — potato chips dan soda — adalah surga duniaku.”
Al menengok ke samping. Ia mendapati sosok kekasihnya tengah duduk dan memandang dirinya. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna kuning muda, gaun pemberian Al ketika pesta pertunangan. Tubuhnya berpendar, seolah-olah ada cahaya berlebihan yang menimpa sosok bernama Maya Larasati.
“Apa kabarmu, Maya? Apa kamu bahagia dengan kehidupan barumu di sana?”
“Tidak. Aku belum bisa bahagia, Al.”
“Kenapa?”
“Sebab aku belum melihatmu bahagia.”
Al kembali menatap foto di tangannya. “Itu sulit, Sayang. Hal yang membuatku bahagia telah hilang. Kamu pasti tahu apa itu.”
“Tapi, kamu dapat yang baru, kan? Terima saja hal itu dengan ikhlas. Bisa, kan, Dear?”
Al memalingkan wajahnya kembali ke sosok Maya Larasati. Ia melihat gadis itu tersenyum. “Apa maksudmu?”
Maya Larasati tersenyum, lalu menjawab, “Kamu pasti tahu maksudku.” Lalu, sosok berpendar itu pun menghilang.

(bersambung)


Order melalui:
Penerbit Jentera Pustaka (jentera.pustaka@gmail.com)
Penulis (my.blue.flames@gmail.com)