Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Menakar Kemampuan Diri dalam Menulis Fiksi


Tadinya saya ingin membahas soal bagaimana menuliskan akhir dari sebuah novel. Akan tetapi, saya lebih tertarik menulis soal takaran diri dalam menulis fiksi. Apa dasarnya? Tidak ada. Saya hanya ingin berbagi pengalaman. Mudah-mudahan bisa membuka pemikiran kalian soal proses menulis fiksi.
Saya mengawali perjalanan mengasyikkan ini sebagai pembaca senyap. Buruan saya adalah cerpen dan cerita bersambung di laman Kompasiana. Beberapa nama langsung menjadi favorit dan selalu saya nantikan kemunculannya. Lama-kelamaan, saya tergoda untuk menulis sendiri. Awalnya cerpen, lalu cerita bersambung. Puja-puji meluap bersama rasa percaya diri saya terhadap dunia tulis-menulis ini.
Tahun 2013 pertama kali saya dengar soal UWRF (Ubud Writers dan Readers Festival). Saya menghadiri salah satu sesinya yang kebetulan digelar di Denpasar. Di situlah saya bertemu Langit Amaravati, salah satu penulis yang berhasil lolos seleksi emerging writer gelaran tersebut. Sepulang dari sana, saya berpikir, kenapa saya tidak mencoba mengikuti seleksi untuk tahun berikutnya? Toh saya punya banyak amunisi.
Tidak ingin gegabah, saya seret salah seorang admin senior Fiksiana Community untuk membantu saya memilih tulisan mana saja yang layak dijadikan portofolio.
Iya, saya pikir saya sudah memperhitungkan segalanya.
Nyatanya?
Iya, saya tidak lolos.
Belakangan saya berpikir, “Yaelah, elu siapa sih, Moy? Remahan cilok aja belagu ndaftar UWRF.” Orang lain mungkin saja mendaftar seleksi di tahun berikutnya, tetapi saya tidak. Entah apa alasan saya waktu itu, hanya saja saya tidak menyesalinya. Itu keputusan yang tepat. Sebab, jika memaksa, mungkin saya akan frustrasi dan malah sama sekali meninggalkan aktivitas menulis.
Ya, saya tetap menulis sampai sekarang, tetapi tidak mengklaim diri saya sebagai penulis. Saya editor, dan profesi itu ternyata menyelamatkan jiwa saya tepat selepas keterpurukan karena gagal lolos seleksi. (hilih, lebay lu, Moy!) Saya editor, yang sesekali membuat artikel apalah-apalah demi reward uang virtual buat jajan burger di mekdi. (Moooy…) Saya editor, yang sesekali suka pamer pekerjaan di media sosial demi meyakinkan friend list bahwa saya bukan penulis yang ditinggalkan penggemarnya. (Mooooooooyyy…) Saya editor, yang memakai cilok sebagai tameng pencitraan, padahal aslinya hobi makan nasi padang lauk rendang dobel. (Moooooooooooooyyyyyyyyy…!!!)
Tetapi, memang benar. Saya lebih menikmati aktivitas menyunting naskah orang lain ketimbang membuatnya sendiri. Ada kepuasan tersendiri ketika menemukan kejanggalan atau kekurangan dalam naskah. Otak saya seolah-olah berpindah setelan, default mencari kesalahan-kesalahan pada naskah, yang tentunya sepaket dengan mempercantiknya. Tenang saja, saya tidak pernah kehilangan kesempatan berimajinasi. Malah seringnya jadi diskusi menarik dengan si penulis. Paling tidak, saya membantu si penulis berimajinasi lebih indah lagi. Dan biasanya memang begitu, penulis terpacu untuk membuat adegan yang lebih pas.
Seiring waktu, saya seperti benar-benar kehilangan kemampuan menulis cerpen atau novel. Cerpen terakhir yang saya buat nyaris dua tahun lalu. Itu pun sudah kehilangan rasa dan nyawa. Sementara novel, terakhir kali adalah November 2013. Sebenarnya saya sedang mengolah draft lama dan mungkin akan saya luncurkan tahun depan. (Yaelah, Moy, spoiler amat dah!) Kalaupun tiba-tiba saya membagikan tautan sebuah artikel, bisa dipastikan itu hanya tip menulis novel atau cerpen-cerpen lama. Bahkan, proses pembuatan artikel tip menulis seringnya ternodai oleh keinginan untuk tampil sempurna. Tulisannya yaaaaa, bukan orangnya ngahahaha… Sebab, seperti saya bilang tadi, otak saya sudah default nyari-nyari kesalahan.
Maka, rasanya tidak salah bila saya katakan bahwa menulis itu susah. Iya, susah, apalagi kalau harus sambil meyakinkan orang lain bahwa kita bisa menulis. Tetapi, saya bisa melakukan hal itu — meyakinkan orang lain — saat saya menjadi editor. Saya bisa meyakinkan penulis-penulis tak percaya diri bahwa tulisan mereka bagus. Hidung saya biasanya bisa mengendus potensi besar, meskipun pada akhirnya hanya sedikit penulis yang percaya dengan kata-kata saya.
Menulis itu susah. Sebab, sebelum menulis, kita harus membaca. Riset, istilah kerennya, untuk memperkaya tulisan kita, sekalipun itu hanya novel. Rasanya saya sudah sering membahas soal aktivitas riset ini. Silakan ubek-ubek artikel lama saya.
Menulis itu susah. Sebab, seperti saya bilang tadi, kita harus meyakinkan pembaca bahwa karya kita masuk akal. Dari awal pembaca sudah tahu bahwa novel adalah rekaan, meskipun seringkali diambil dari kejadian sungguhan di dunia nyata. Misalnya novel bertema kriminal yang bercerita soal penyelundupan/perdagangan manusia. Karakter, setting waktu serta tempat memang fiktif, tetapi jenis kejadian itu nyata adanya. Tugas penulis adalah meyakinkan pembaca bahwa kejahatan itu nyata dan bisa menimpa siapa saja.
Menulis itu susah. Sebab, tidak setiap penulis bisa menggarap segala jenis genre. Akui saja. Sama seperti saya yang tidak bisa menulis artikel politik, apalagi resep masakan karena bisanya cuma makan. (Tumben ngaku, Moy?!) Biasanya itu bergantung pada ketertarikan si penulis terhadap salah satu genre. Si penyuka romance tentu akan berburu bacaan serupa, bahkan rela memesan lebih dulu jika penulis favoritnya kebetulan menelurkan karya. Namun, kondisi itu tidak bisa dipukul rata. Ada yang sangat menggemari novel bertema konspirasi/kriminal, tetapi selalu menulis fiksi cecintaan dengan level baper yang kebacut. (Ng… elu nggak lagi ngomongin diri sendiri, kan, Moy?!) Kalaupun maksa menulis novel bertema konspirasi, paling hebat berakhir di blog pribadinya dengan jumlah pembaca di bawah lima puluh. (Moy, gosah curcol!!!)
Susah atau mudah, semua bergantung pada si penulis sendiri dalam menakar kemampuan menulisnya. Percaya diri itu harus, tetapi tidak berlebihan. Konsultasi dengan pegiat literasi atau diskusi ringan dengan sesama rekan penulis bisa menjadi langkah yang tepat. Jika ingin mencoba jenis tulisan baru, tunjukkan dulu kepada first reader kepercayaan kalian sebelum karya itu dipublikasikan. Niscaya kesusahan yang terjadi hanyalah penantian abang cilok yang tak kunjung lewat.

Selamat menulis.
Salam lemper, eh, cilok.


PS: Artikel pertama tayang di Kompasiana.

Apa yang Bisa Ditulis Setelah Tanda Petik Tutup?


Kemarin saya membuat status di dinding grup Fiksiana Community. Isinya menanyakan kepada anggota grup, kira-kira apa saja kesulitan mereka dalam menulis. Kenapa saya bertanya seperti itu?

Bagi yang sudah terbiasa menulis fiksi, apalagi sampai menelurkan beberapa karya versi cetak, tentu menulis sama mudahnya dengan menghirup udara. Atau sama entengnya dengan jajan cilok di prapatan depan (eh, gimana?). Apalagi kalau isi bukunya merupakan ‘pesanan’, tinggal eksekusi, mungkin hanya tambah riset dan polesan sedikit. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang baru saja terjun ke kolam kata-kata? Saya tidak ingin semangat mereka buyar karena berbagai kesulitan yang mereka hadapi.
Beberapa kali FC mengadakan kompetisi menulis kecil-kecilan, hanya beberapa nama saja yang bisa ‘memuaskan’ mata saya sebagai juri. Ini bukan berarti karya mereka yang tidak menang adalah buruk. Saya yakin, seberapa tidak berbakatnya seseorang, tetapi jika terus berlatih dan mendapat ‘makanan’ yang baik, maka mereka akan menuai hasil yang luar biasa. Ya, sebesar itu keyakinan saya kepada seluruh anggota grup. Maka, saya bertanya, sekiranya bisa saya carikan ‘makanan’ yang tepat sehingga mereka bisa berlatih lebih giat lagi.

Di luar dugaan, pertanyaan itu mendapat reaksi luar biasa dari anggota grup. Bahkan, anggota senior (baca: yang sudah beberapa kali menelurkan karya, baik cetak maupun daring) ikut menyuarakan kegelisahan dalam menulis.

Setelah saya rangkum, muncul poin-poin sebagai berikut:
·         Ide cerita (termasuk di dalamnya membahas plot, alur, kelogisan cerita, dan penataan konflik),
·         Menjaga mood atau semangat menulis (erat kaitannya dengan disiplin diri),
·         Mengembangkan karakter serta memilih nama untuk karakter tersebut,
·         Kalimat atau paragraf pembuka,
·         Delivery/penyampaian kisah (erat kaitannya dengan gaya menulis),
·         Membuat judul, serta
·         Tanda baca.

Nah, di bagian pertama ini, saya tertarik membahas soal tanda baca. Bukan titik atau koma, melainkan tanda petik. Sebab, ada anggota grup yang mengeluhkan, “Apa yang harus saya tulis setelah tanda petik tutup?”

Kita semua tahu, tanda petik merupakan tanda baca (“…”) yang mengapit petikan langsung yang menyatakan kutipan berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain (KBBI Edisi V). Dalam cerpen atau novel, tanda petik digunakan untuk menunjukkan bagian dialog para tokohnya.
Jadi, apa yang harus ditulis selanjutnya setelah si tokoh selesai bicara?
Jawabannya, banyak.

Yang paling mudah kita tulis adalah reaksi tokoh lain yang menjadi lawan bicara. Sebab, ini bukan monolog, pastilah percakapan itu minimal melibatkan dua tokoh. Jika tokoh pertama selesai bicara, tulis saja reaksi si tokoh kedua. Bagaimana raut wajah serta bahasa tubuhnya? Apakah senang, marah, sedih, atau malah datar saja? Ketika bereaksi sedih, apa yang terlihat dari gerak tubuhnya? Jika senang, apakah si tokoh kedua ini melompat-lompat kegirangan? Kalau datar saja, apakah memang wajahnya terlalu banyak mendapat suntikan botox, atau tak lebih karena si tokoh merupakan manusia tanpa ekspresi?
Hal lain yang bisa ditulis adalah suasana ketika percakapan itu terjadi. Apakah pagi, siang, atau malam hari? Jika pagi, apakah matahari sudah muncul di atas horison?  Jika siang, seterik apa matahari menyinari? Apakah sampai membuat para tokohnya berpeluh luar biasa? Jika malam, apakah suara jangkrik-jangkrik ikut menemani percakapan tersebut? Lalu, di manakah percakapan itu terjadi? Di dalam atau di luar ruangan? Jika di dalam ruangan, apakah ada penyejuk udara di sana? Apakah ada jendela besar yang membuat angin bebas masuk sehingga menggoyang-goyangkan poni salah satu tokohnya? Apakah kursi-kursi itu cukup nyaman untuk percakapan yang serius soal masa depan para tokohnya? Jika di luar ruangan, mengapa memilih pantai sebagai tempat bercakap-cakap? Mengapa tidak di taman saja, yang lebih banyak bebungaan sehingga membangkitkan suasana hati si tokoh wanita? Atau, mengapa percakapan itu terjadi di bengkel mobil, padahal topiknya soal rencana pernikahan?
Banyak, banyak sekali yang bisa ditulis. Jika digali lagi, semua itu akan berkaitan dengan karakter tokoh-tokohnya. Kalau sudah membahas karakter tokoh, nanti akan menyambung ke ide cerita, plot, alur, dan sebagainya. Sebab, sebuah kisah sejatinya merupakan kumpulan detail yang bisa Anda persembahkan kepada pembaca. Seberapa besar persembahan itu, tentu bergantung pada seberapa luasnya imajinasi Anda.

Selamat menulis. Sampai jumpa di artikel berikutnya.

Salam lemper, eh, cilok.


PS: Artikel pertama tayang di Kompasiana.

Liburan ke Bali Tanpa Khawatir




Siapa yang tidak tahu Bali? Mungkin di antara para pembaca ada yang fasih menyebutkan spot apa saja yang menarik dan banyak didatangi wisatawan. Pantai Kuta, Legian, Ubud, Nusa Dua, Bedugul, Kintamani, Lovina, Pantai Pandawa, Monkey Forest, hanya sebagian kecil dari sekian banyak lokasi yang bisa dikunjungi. Jutaan wisatawan, baik lokal maupun asing, datang ke Bali untuk berlibur. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menjadikan Bali sebagai tujuan berlibur setiap tahunnya. Meskipun masih banyak tujuan wisata lain yang sama menariknya dengan Bali, itu sah-sah saja. Siapa pun berhak melakukannya. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar liburan tidak berakhir sia-sia dan bebas dari rasa khawatir.
Pertama, tujuan wisata. Bali memang lebih kecil jika dibandingkan dengan Pulau Jawa, apalagi dengan Kalimantan. Akan tetapi, pantas rasanya jika kita menyebut bahwa tiap jengkal Bali adalah tujuan wisata. Saking banyaknya, kita harus memilih tempat mana yang benar-benar ingin kita kunjungi. Bukan apa-apa, ini semata-mata karena waktu yang terbatas.
Anggaplah kalian hanya punya waktu tiga hari di Bali, maka fokuskan hanya pada satu area. Misalnya Bali bagian selatan. Di bagian ini saja ada puluhan spot menarik. Tak akan sanggup rasanya jika harus dituntaskan dalam satu hari. Boleh saja jika kalian ingin merambah ke bagian lain, misalnya ke Bedugul yang berada di tengah-tengah Pulau Bali. Tetapi, waktu kalian akan terbuang di jalan, apalagi dengan kondisi lalu lintas Denpasar-Badung-Tabanan yang padatnya nyaris menyamai kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sungguh, kalian tentu tak mau liburan kali ini berakhir dengan gerutuan “tua di jalan”.
Kedua, kondisi fisik. Aktivitasnya mungkin hanya main di pantai, lihat matahari terbenam, dan makan malam di restoran tepi pantai. Tetapi, serius deh, kalau kalian tidak terbiasa dengan angin pantai, apalagi jika dalam kondisi kurang fit, tubuh kalian akan bereaksi keras. Alih-alih menuju tempat wisata berikutnya, kalian malah mencari apotek terdekat untuk membeli ramuan anti masuk angin.
Perhatikan juga bulan keberangkatan kalian. Kalau kalian berniat mencari udara hangat, lebih baik tidak kemari saat Juni hingga Agustus. Pada masa itu, hawa di sini lebih dingin dari biasanya. Dan, kalau kalian kemari di rentang Desember hingga Februari, siap-siap membawa payung atau jas hujan, atau memilih tempat wisata in door sebab curah hujan akan lebih tinggi dari biasanya.
Ketiga, dan yang paling penting, dana. Yap, ini poin utamanya. Bagi yang duitnya tinggal nggunting dan nggak berseri (baca: dana berlebih atau bahkan nyaris tak berbatas), tentu bebas memilih tempat menginap dan kebutuhan lainnya. Mulai dari hotel dengan jenama internasional persis di hadapan Pantai Kuta atau Nusa Dua, hingga vila privat yang hanya segelintir selebritas dan figur publik yang mampu mengaksesnya. Akan tetapi, bagi yang memiliki dana terbatas, tentu tidak bisa sesuka hati melakukan hal yang sama.
Perlu ditinjau lagi, apa tujuan kalian berlibur ke Bali (atau tempat lainnya di belahan dunia mana pun). Jika lebih banyak aktivitas di luar ruangan — mungkin mengikuti olahraga ekstrem — tentu tidak perlu memilih penginapan yang bertarif mahal. Dengan tubuh penat, kalian mungkin tidak peduli dengan hiasan bunga jepun dan handuk yang dibentuk artistik yang biasanya terdapat dalam kamar bertarif mahal. Kalian hanya perlu hanya membersihkan diri, lalu tidur beralas seprai bersih. Namun, tidak ada salahnya jika kalian ingin menginap di tempat keren yang sedang ngehits di kalangan traveler.
Bisakah? Tentu bisa.
Caranya?
Yang paling sederhana dari semua cara adalah, menabung. Sisihkan sebagian pendapatan kalian untuk tujuan ini. Bisa dengan membuat rekening lain atau as simple as simpan dalam celengan ayam. Besarannya tentu bervariasi, tergantung semewah apa penginapan yang kalian inginkan. Kalian juga bisa memakai aplikasi perencanaan keuangan daring untuk membantu merumuskan pendanaan selama liburan. Jangan khawatir, di sana ada para pakar yang siap membantu mewujudkan rencana keuangan kalian.
Jalan ninja lainnya adalah, berburu promo atau potongan harga. Hotel-hotel berbintang lima dan di atasnya juga memiliki kamar low budget dengan jumlah terbatas. Hanya saja, low budget di sini jangan serta-merta dipadankan dengan tarif hotel bintang satu atau dua.
Untuk transportasi selama liburan, ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Kalian bisa menyewa sepeda motor, mobil (dengan atau tanpa sopir), atau ikut paket tur dengan grup berisi lima hingga sepuluh orang. Kalau ingin benar-benar berhemat, menyewa sepeda motor dalah pilihan yang tepat. Jangan khawatir soal nyasar di jalan. Kalian tentu bisa mengakses peta daring sebagai panduan. Kekurangannya adalah, kalian harus tabah berhadapan dengan lalu lintas yang yaaaa-gitu-deh.
Nah, sekarang soal makanan. Tidak jauh berbeda sebenarnya. Tergantung selera kalian. Juga, seberapa tangguh kalian berburu informasi dari pemandu lokal jebolan Google. Satu tip jika kalian ingin bersantap dengan tenang: lihat dulu daftar harganya. Kalau mereka tidak memajang daftar harga, tak ada salahnya bertanya lebih dulu. Sebab, malu bertanya (akan) malu-maluin (kalau ternyata duitnya nggak cukup buat bayar nasi sepiring doang ngahahaha…).
Jadi, sudahkah kalian membeli celengan ayam? Kalau sudah, selamat menabung. Dan, sampai jumpa di Bali.


Foto koleksi pribadi. Silakan digunakan tanpa menghilangkan identitas di sudut foto.
Artikel pertama tayang di Kompasiana.

Memilih (episode 3)





Kicau burung gereja meramaikan sore, menemani Al dan Maya yang sedang duduk di teras rumah Dahlan. Di tengah-tengah amben, tersaji dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng.
Al masih tetap dengan kebiasaannya mengunjungi kompleks pemakaman di daerah selatan Kota Bandung. Tapi, bukan untuk mengunjungi makam Maya Larasati — ya, itu masih ia lakukan seminggu sekali — melainkan menemui putri Dahlan, Kalina Mayasari. Entah harus menamakan apa hubungan ini, pikir Al, aku merasa nyaman berada di dekatnya.
“Siapa nama pacarmu, Al?” Maya membuka obrolan serius mereka untuk pertama kali.
“Namanya Maya Larasati.”
Mata Maya sedikit melebar.
“Iya, betul,” kata Al lagi. “Panggilannya Maya. Sama sepertimu.”
“Oke. Maya itu, bagaimana kamu menggambarkan dia?”
Al menyesap sedikit teh hangatnya. “Indah, seperti malaikat.”
Maya tersenyum geli. “Memangnya ada manusia seperti malaikat?”
“Ada. Ya, seperti dia. Juga, sepertimu.”
Maya menunduk. Ia merasa seluruh darah dalam tubuhnya sedang menuju wajah, yang menyebabkan rona merah di pipi. Ia berharap Al tidak melihatnya.
“Aku serius, Maya,” kata Al lagi.
“Terima kasih. Tapi, rasanya itu tidak benar,” balas Maya. “Maksudku, aku hanya gadis biasa yang tidak pantas disamakan dengan pacarmu.”
“Ya…, mungkin kamu anggap ini sebagai rayuan tidak bermutu, atau candaan, tapi aku tidak bohong.”
“Ah, sudahlah.”
Mereka diam lagi. Al sibuk menyesap tehnya perlahan, sementara Maya hanya diam memandang rimbun kembang sepatu di halaman. Maya merasa aneh dengan situasi ini. Tidak jelas apa yang diinginkan Al dan itu membuatnya resah.
“Maya, boleh aku tanya?”
“Tanya apa?”
“Kalau aku minta kamu menggantikan tunanganku…”
“Menggantikan?” potong Maya.
“Ehm, maksudnya…”
“Aku mengerti,” sahut Maya.
“Ya…, begitulah. Bersedia?”
“Maaf, aku tidak bisa.”
“Kenapa?” tanya Al.
“Karena aku bukan pengganti.”
“Lalu?”
“Tidak ada lanjutannya, Al.”
“Tapi…”
“Kalau aku bilang aku mengerti, berarti aku memang benar-benar mengerti, Al. Tunanganmu itu…, okelah namanya sama denganku, tapi bukan berarti aku dan dia adalah orang yang sama. Di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar sama, bahkan yang kembar identik. Apa kamu pikir aku ini reinkarnasi pacarmu yang sudah meninggal itu?”
“Tidak, bukan begitu maksudku.”
“Aku pikir obrolan kita kali ini tidak ada ujungnya.”
“Ada ujungnya, kok.”
“Maksudnya?” Giliran Maya yang bingung.
“Lepaskan pikiranmu soal pacarku yang sudah…,” Al menelan ludah, “… meninggal. Yang aku ingin tahu, apa kamu bersedia kalau setelah ini aku selalu mengganggu hidupmu?”
Maya tertawa. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ia tidak ingin tawanya terlalu meledak, walaupun ia sangat ingin melakukannya. Pria yang jatuh cinta ternyata menjadi bodoh ketika bermain dengan kata-kata, pikirnya. Setelah gelaknya mereda, Maya kembali melempar tanya. “Mengganggu hidupku, ya? Dengan apa?”
Al kikuk. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Beruntung ia masih memegang gelas teh, jadi ia bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Dengan apa, ya? Ah, kamu harusnya tidak perlu bertanya lagi. Seharusnya kamu sudah paham maksudku.”
“Kalau aku bilang aku belum paham, bagaimana?” Maya tersenyum simpul.
“Besok hari Sabtu. Kita jalan-jalan, yuk?”
“Hei, jangan ganti topik dulu! Pertanyaanku belum kamu jawab,” protes Maya.
Al makin kelimpungan. Ia tak pernah sekikuk ini sebelumnya di depan seorang gadis. Bahkan, tidak di hadapan Maya Larasati.
“Kenapa?” Maya membuyarkan lamunan Al.
“Tidak ada apa-apa,” Al berbohong. Sesungguhnya ia masih belum tahu harus menjawab bagaimana. Pertanyaan Maya memang mudah, tetapi cukup sulit dijawab. “Tapi, bisakah kita ganti topik?”
Maya tergelak lagi.
“Yang begitu saja kamu tidak bisa menjawab, Al.” Maya mengganti nada bicaranya. “Aku mau tanya. Apa kamu sudah ikhlas dengan kehilanganmu?”
Al mengangguk.
“Benarkah?” Maya bertanya lagi.
“Iya,” jawab Al dengan mantap.
“Tapi, aku pikir, kamu itu belum ikhlas.”
Dahi Al berkerut-kerut. “Kenapa bisa begitu?”
“Karena…” Maya berhenti bicara dan menatap Al dengan serius. “Semisal namaku bukan Maya, apa kamu juga menawarkan kesempatan itu, sesuatu tentang mengganggu hidupku?”
“Aku tidak tahu.” Mata Al hampir tak berkedip.
Dua pasang mata itu bertemu di satu titik, saling merapal rasa yang menguar darinya. Berusaha saling mengerti, saling mencari celah untuk menyatukan ingin. Detik-detik berikutnya terasa seperti perlambatan yang semakin besar, yang berusaha membekukan keduanya. Al dan Maya tidak keberatan, asal mereka tidak berada dalam dua titik yang berbeda di dalam perlambatan itu.
“Ini sudah hampir gelap, Al. Lebih baik kamu pulang.”
Al terkesiap dari lamunannya. Ia melihat sekeliling, langit hampir menjingga. Sebentar lagi ayah Maya akan pulang, gumam Al dalam hati.
“Ya, aku pulang saja,” ujar Al. “Tapi, besok…”
“Tidak bisa. Aku janji sama Bapak, akan membantunya membersihkan makam. Besok akan banyak orang datang berziarah.” Maya setengah berharap, alasan yang ia lontarkan kali ini tidak tercium janggalnya.

Maya merebahkan tubuhnya di kasur kapuk tua berlapis seprai merah muda. Ia memandang langit-langit kamarnya, lalu kembali terlintas percakapan yang baru saja terjadi antara dirinya dan Al. Yang tadi itu apa, tanyanya dalam hati. Lalu, ia sampai pada kesimpulannya sendiri. Maya ingin sekali tak percaya dengan apa yang ia pikirkan, tetapi nyatanya Al memang memintanya menggantikan Maya Larasati sebagai kekasihnya. Satu yang Maya yakini, permintaan Al adalah sebuah hal yang absurd, seabsurd ucapan Al soal malaikat-malaikat itu.
Apa benar, ada cinta yang didasari keserupaan nama? Itu aneh, pikir Maya sekali lagi. Jika saja Al memintanya dengan cara yang berbeda, tanpa sedikit pun melibatkan cinta lamanya, Maya akan mempertimbangkannya.
Ponsel Maya berbunyi. Ada pesan singkat masuk.

Maaf, Maya. Mungkin tadi bicaraku terlalu mengada-ada. Tapi, aku benar-benar ingin dekat denganmu. Bolehkah?

Kata-kata dari Al membuat Maya spontan mengembangkan senyumnya. Tetapi, ia enggan membalas pesan itu. Ia setengah melempar ponsel — yang merupakan pemberian Al beberapa hari yang lalu — ke atas meja kayu tua di sudut ruangan kamarnya. Kembali ia merebahkan diri ke kasur. Kembali ia menatap langit-langit kamarnya, sambil sesekali menyimak rekaman lantunan ayat-ayat Alquran yang keluar dari pengeras suara musala.
Maya adalah seorang gadis yang tidak mudah percaya kepada orang lain, terutama kepada lawan jenis. Kecuali, sang ayah tentunya. Ia memiliki banyak teman wanita, tetapi tak ada satu pun yang bisa dijadikan tempat untuk berkeluh kesah, atau sekadar bercerita tentang hal-hal menarik seputar wanita. Justru dirinyalah yang selama ini menjadi tempat teman-temannya mencurahkan isi hati mereka. Maya berpikir, jika mereka saja bercerita dan memintanya mencarikan jalan keluar dari suatu masalah, bagaimana bisa teman-temannya itu memberi jalan keluar untuk masalah yang sedang ia hadapai sekarang. Namun, hikmahnya adalah, ia bisa mengenal banyak karakter orang dari mereka yang telah dikenalnya. Satu-satunya tempat mencurahkan isi hatinya selain sang ayah adalah buku harian yang tersimpan rapi di deretan buku-buku yang ia letakkan di atas meja.
Maya bangkit dari kasur dan segera mengambil buku hariannya. Ia duduk dan membuka halaman terakhir yang berisi tulisan. Ia melihat tanggal terakhir ia menuliskan sesuatu di buku itu, dan sedikit terkejut. Ternyata sudah satu bulan lebih ia tidak pernah menulis. Ia mengambil pena dari laci, lalu mulai menulis.

Bandung, 30 Agustus 2011
Aneh sekali rasanya, mengetahui seseorang menyukaiku karena namaku mirip dengan kekasihnya yang sudah meninggal. Aku penasaran, kalau namaku bukan Maya, apa dia masih menawarkan kedekatan itu? Aku meragukannya. Amat sangat!
Aku sendiri bukannya tidak percaya dengan apa yang namanya cinta pada pandangan pertama. Walaupun agak tidak masuk akal menurutku, tapi itu bukannya mustahil terjadi. Hanya saja, dalam kasusku ini, yang namanya kebetulan itu terlalu klise.
Ehm, tidak bisakah aku mendapat kisah cintaku dengan jalan yang normal dan lurus-lurus saja, tanpa harus merasakan drama? Yah, hidupku sudah cukup drama dengan terdamparnya aku di tempat ini. Aku tidak menyesal dipungut oleh Bapak, dibandingkan jika aku terdampar di kolong jembatan. Paling tidak, orang tua kandungku memikirkan masa depanku.
Tapi, kuburan?! Ah, sudahlah!
     
Maya berhenti menulis. Ia bangkit dari kursinya dan menutup jendela kamar, lalu berniat mengambil air minum ke dapur. Namun, saat hendak menutup jendela kamarnya, ia melihat Vios hitam masih berada di pinggir jalan, terparkir dengan nelangsa. Maya kembali ke meja dan menyambar ponselnya. Ia menekan tombol ponsel beberapa kali dan menempelkan gawai itu ke telinga kanannya.
“Halo,” sapa suara dari seberang sambungan.
“Halo, Al. Kamu di mana sekarang? Sudah sampai rumah?” tanya Maya.
Lama tak terdengar jawaban dari Al. Maya memperhatikan ponselnya sejenak, memastikan sambungan telepon masih aktif, lalu mendekatkan lagi benda itu ke telinganya.
“Al?”
“Iya, Maya. Aku sudah di rumah. Baru saja aku ingin meneleponmu, mengabari kalau aku sudah sampai rumah. Tapi, ternyata aku kalah cepat.” Lalu, terdengar suara tawa Al yang Maya pikir agak sedikit dipaksakan.
“Oh, ya? Syukurkah kalau begitu.”
“Memangnya ada apa, Maya? Suaramu kedengeran kayak orang khawatir.”
“Ah, tidak. Tolong jangan gede rasa dulu, ya.” Maya tertawa. “Aku lihat ada Vios hitam terparkir tidak jauh dari rumah. Aku pikir itu kamu, Al. Benar, kamu sudah di rumah?” Maya menegaskan lagi pertanyaannya kepada Al.
“Iya, aku sudah di rumah. Kamu tidak perlu khawatir, Maya.”
“Oke. Aku tutup dulu, ya. Sudah hampir magrib.”
Maya menekan tombol merah pada ponselnya dan meletakkan kembali benda itu di atas meja. Ia beranjak menuju jendela, tetapi tidak langsung menutupnya. Sekali lagi ia memperhatikan Vios hitam yang terparkir tak jauh dari rumahnya. Matanya memicing. Ia merasa seperti melihat seseorang di balik kemudi mobil itu, tetapi karena ini menjelang senja dan cahaya matahari sedikit tertutup awan, maka Maya tidak bisa memastikan apa yang ia lihat saat itu. Namun, ia meyakinkan hatinya sendiri. Al sudah di rumah, dan ia yakin, pria itu jujur padanya.
Maya melepas batang besi yang menyangga jendela berkaca itu dan menguncinya dengan saksama. Ia merapikan kelambu yang menutupi jendela itu dan memastikan tidak ada celah yang terlihat dari luar.
Sementara itu, Al masih saja memegang ponselnya. Sambungan sudah terputus sejak tadi, dan Al seolah-olah tak percaya apa yang baru saja ia katakan kepada Maya. Ia tersadar dari lamunannya dan memasukkan kembali ponselnya ke saku kemeja.
Al memegang kemudi, namun mesin mobilnya masih belum menyala. Ia bingung. Sebenarnya ia ingin sekali berlari ke rumah itu, mengetuk jendela kamar Maya, dan mengajaknya keluar rumah tanpa harus pamit kepada ayahnya — kembali lagi seperti remaja yang sedang kasmaran. Tetapi, ia bukan remaja, dan itu rasanya tidak mungkin terjadi.
Azan Magrib lantang tersiar dari musala yang tak jauh dari kompleks pemakaman tersebut. Al memutuskan untuk pulang saja. Toh tidak ada gunanya memaksakan kehendak saat ini juga. Maya pasti akan menganggap dirinya pria bodoh jika berbuat seperti itu. Lagi pula, ada baiknya juga ia menenangkan diri. Maya pun ada benarnya. Gadis itu bukanlah Maya Larasati, kekasihnya yang telah meninggal.

Malam harinya, Maya kembali membuka buku harian. Ini sudah hampir tengah malam, namun mata Maya belum mau terpejam. Kantuk seolah-olah hilang dan perhatiannya tersita oleh kejadian sore hari tadi. Sebenarnya tubuh Maya sudah meronta minta diistirahatkan, tetapi ada dorongan yang lebih besar dalam dirinya untuk kembali membuka buku hariannya. Dan, ia sadar, itu karena Al.

Bandung, masih di tanggal yang sama.
Seharusnya aku menghafal nomor mobilnya agar aku tahu saat dia berbohong, aku bisa langsung mencecarnya. Kenapa aku begitu yakin tadi dia berbohong, ya? Ah, sudahlah. Itu haknya. Aku tidak punya hak untuk mengatur apa yang terucap dari mulutnya karena aku bukan seseorang yang pantas untuk berbuat itu. Meskipun aku sangat berharap bisa melakukannya.
Ya, Tuhan. Kenapa aku jadi seperti ini? Dia harus bertanggung jawab terhadap rasa gelisah yang sekarang menyerangku dengan membabi buta.

Maya menutup buku hariannya, menyimpan kembali benda itu di antara berderet-deret buku di atas meja, lalu merebahkan tubuh lelahnya di kasur. Matanya belum mau terpejam, padahal ini sudah tengah malam. Ia menyalakan radio pemberian Dahlan, berharap masih ada siaran di malam yang semakin tua ini.

Dalam kamarnya di apartemen mewah yang terletak di tengah Kota Kembang, Al terduduk di sofa sambil menatap nanar foto Maya Larasati di tangan kanannya. Perlahan, rasa kehilangan yang sempat memudar karena kehadiran Maya yang baru dikenalnya, kini mulai menjalar kembali ke hatinya. Dan, itu membuatnya harus merasakan sakit lagi. Sebuah rasa sakit yang aneh, pikirnya, karena ia tidak melihat luka di tubuhnya. Ya, yang terluka adalah hatinya.
“Pipiku terlihat lebih berisi, ya, di foto itu.”
Tiba-tiba sebentuk suara hadir di pendengaran Al. Namun, Al tak lagi terkejut seperti sebelumnya. Ia sudah paham siapa yang hadir di sampingnya kini.
“Ya,” sahut Al, “kamu terlalu banyak mengunyah potato chips dan minum berliter-liter soda dalam satu minggu.”
Sosok yang duduk di samping Al tertawa malu. “Itu salahmu, Al,” katanya kemudian. “Kamu bilang aku boleh memakan apa pun saat kamu mendapat promosi sebagai kepala cabang di tempat kerjamu. Dua hal itu — potato chips dan soda — adalah surga duniaku.”
Al menengok ke samping. Ia mendapati sosok kekasihnya tengah duduk dan memandang dirinya. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna kuning muda, gaun pemberian Al ketika pesta pertunangan. Tubuhnya berpendar, seolah-olah ada cahaya berlebihan yang menimpa sosok bernama Maya Larasati.
“Apa kabarmu, Maya? Apa kamu bahagia dengan kehidupan barumu di sana?”
“Tidak. Aku belum bisa bahagia, Al.”
“Kenapa?”
“Sebab aku belum melihatmu bahagia.”
Al kembali menatap foto di tangannya. “Itu sulit, Sayang. Hal yang membuatku bahagia telah hilang. Kamu pasti tahu apa itu.”
“Tapi, kamu dapat yang baru, kan? Terima saja hal itu dengan ikhlas. Bisa, kan, Dear?”
Al memalingkan wajahnya kembali ke sosok Maya Larasati. Ia melihat gadis itu tersenyum. “Apa maksudmu?”
Maya Larasati tersenyum, lalu menjawab, “Kamu pasti tahu maksudku.” Lalu, sosok berpendar itu pun menghilang.

(bersambung)


Order melalui:
Penerbit Jentera Pustaka (jentera.pustaka@gmail.com)
Penulis (my.blue.flames@gmail.com)


Hati-Hati Memakai Setting Waktu dalam Naskahmu


Pertemuan sebelumnya kita sudah membahas poin apa saja yang perlu dipercantik dalam naskah, khususnya novel. Kali ini kita akan membahas lebih detail soal pemakaian waktu. Detail yang satu ini erat kaitannya dengan pembentukan konflik dalam kisah yang kalian tulis.
Dalam banyak cerita yang mungkin pernah kalian baca, tentu kalian mendapati tokoh(-tokoh) di sana sedang melakukan perjalanan. Bisa dengan berjalan kaki, bersepeda, menumpang mobil teman, atau dengan angkutan umum. Untuk tiga jenis aktivitas yang saya sebut pertama, tidak masalah jika kalian memakai sembarang waktu, asal memang sesuai dengan kebutuhan. Misal, menumpang mobil teman setelah menghadiri sebuah undangan pesta yang kebetulan baru selesai lewat tengah malam. Atau, bersepeda menuju tempat kerja selepas subuh sebab jarak tempuhnya sepuluh kilometer. Si tokoh memang harus berangkat lebih awal jika tidak ingin terlambat. Itu risiko. Sebab, ia hanya punya sepeda dan tidak punya ongkos untuk naik angkutan umum seperti rekan-rekannya. Atau, si tokoh memilih berjalan kaki ke tempat tujuan karena memang jaraknya dekat, hanya seratus lima puluh meter, dan akan sangat merepotkan jika harus memakai kendaraan bermotor.
Bebas. Sesuai kebutuhan.
Namun, lain perkara jika si tokoh menumpang angkutan umum.
Untuk angkutan kota/desa, kebanyakan memang tidak berjadwal tetap. Rasanya masih aman untuk menulis semau kalian, meskipun rata-rata angkutan tersebut akan ngandang selepas pukul sembilan malam. Nah, kalau si tokoh harus naik kereta api, bus malam antarkota antarprovinsi (AKAP), atau pesawat, maka berhati-hatilah.

Kita bahas kereta dulu, ya.
Kalau kalian sudah biasa naik kereta, tentu paham bagaimana ritme pergerakan kereta. Kalian mungkin bahkan hafal nama-nama kereta, jadwal keberangkatan, juga kedatangannya. Tidak hanya itu, bagaimana suasana perjalanan pun rasanya sudah seperti di luar kepala untuk dituliskan.
Tetapi, bagi yang jarang, apalagi belum pernah naik kereta api, tentu akan menemui kesulitan jika tidak melongok jadwal. Tenang saja. Situs resmi KAI dan banyak agen perjalanan bisa dijadikan rujukan. Hanya saja, ya, kalian tetap harus berhati-hati dalam memilih. Sama-sama trayek Jakarta-Surabaya, ada yang lewat Semarang (jalur utara), ada juga yang lewat Yogyakarta (jalur selatan). Stasiun tujuan di Surabaya pun berbeda. Kereta jalur utara berujung di Stasiun Pasar Turi, sedangkan kereta jalur selatan berujung di Stasiun Surabaya Kota (terkenal pula dengan sebutan Stasiun Semut). Kalau sampai tertukar, modyaaarrr kowe dilok-lokno bonek *eh
Lagi, sama-sama trayek Surabaya-Ketapang/Banyuwangi, ada kereta pagi, ada pula kereta malam. Boleh juga dari Ketapang dilanjut naik bus Damri ke Denpasar, supaya bisa ketemu saya *hayyaaahhh

Sekarang bus malam AKAP.
Bus-bus malam rata-rata berangkat sore hari. Paling siang mungkin sekitar pukul dua. Dan, sampai di tempat tujuan pun rata-rata pagi. Tetapi, di tengah perjalanan tentu tidak ada yang bisa menduga. Kesempatan ini bisa kita pakai untuk memunculkan konflik.
Kalau saja si tokoh tidak tertinggal bus malam…
Kalau saja si tokoh tidak terlambat sampai terminal…
Kalau saja si tokoh tidak terlambat memesan taksi daring menuju terminal…
Kalau saja si tokoh tidak menerima telepon dari seseorang yang menyebabkan ia terlambat memesan taksi…
Kalau saja sehari sebelumnya si tokoh bersedia bicara dengan si penelepon…
Banyak yang bisa digali dari hanya adegan ketinggalan bus.
Bisa juga begini:
Si tokoh berharap bus malam tiba tepat waktu di kota tujuan sekitar pukul lima pagi, sehingga ia bisa sarapan nasi rawon dulu, di warung langganan dekat terminal, sebagaimana kebiasaannya jika berkunjung ke kota itu. Tetapi, sesuatu terjadi di tengah perjalanan. Misal, macet parah belasan kilometer sehingga bus tiba di kota tujuan ketika matahari sudah berada di puncak kepala, dan si tokoh tidak kebagian nasi rawon. Padahal, nasi rawon itu merupakan pembangkit semangatnya ketika harus bertemu dengan kerabat yang nasibnya kurang beruntung. Tidak ada nasi rawon, tidak ada tambahan semangat, membuatnya memandang segala sesuatu dengan sedikit berbeda.
Misal lagi, bus tersebut mengalami kecelakaan. Tidak parah, tetapi membuat semua penumpang harus dialihkan ke armada lain, sementara bus tersebut harus dibawa ke kantor polisi. Di bus pengganti, ternyata si tokoh bertemu dengan orang baru, lawan jenis, dan mereka terlibat percakapan. Lalu, jreeenggg, di imajinasi kalian terdengar musik latar lagu berjudul Sephia milik Sheila on 7.
Yang perlu diperhatikan juga adalah suasana selama perjalanan dengan bus malam tersebut.
Apakah si tokoh lebih sering terlelap? Kalau tidak, apa yang ia lakukan? Mendengarkan musik? Bermain ponsel? Membaca? Atau sesederhana menatap ke luar jendela bus? Ketika melewati daerah sepi, tentu tatapannya akan berbeda dengan saat bus melewati daerah ramai seperti perkotaan. Pemandangan apa yang ia nikmati? Alun-alun kota? Deretan pertokoan dan mal? Bagaimana suasana alun-alun kota ketika pukul dua dini hari? Apakah sama dengan suasana pukul delapan malam? Berlaku juga untuk pertokoan dan mal. Bisa jadi si tokoh melihat daerah pertokoan yang ternyata masih ramai meskipun sudah pukul dua pagi.
Dari situ bisa berkembang banyak sekali paragraf bagus yang akan memanjakan pembaca.

Nah, giliran moda pesawat.
Kalian yang pernah naik pesawat tentu paham bahwa moda yang satu ini terjadwal ketat. Maskapai mewajibkan penumpang hadir di bandara paling tidak sembilan puluh menit sebelum waktu keberangkatan. Para penumpang harus didata ulang, koper-koper harus diberi nomor dan masuk bagasi, beberapa lansia yang butuh penanganan khusus, ibu hamil yang harus melakukan pemeriksaan, dan banyak lagi poin yang harus dilewati. Semuanya perlu waktu dan tidak bisa diburu-buru.
Selain waktu keberangkatan, perhatikan pula waktu kedatangan, juga durasi transit jika memang diperlukan. Kita tidak bisa seenak jidat. Jika memang pesawat tepat waktu lepas landas dan mendarat pagi hari, jangan ditulis mendarat siang. Kecuali, kalau diceritakan pesawat mengalami keterlambatan lepas landas.
Dari adegan keterlambatan juga bisa dieksplorasi banyak detail untuk si tokoh. Kalau pesawat tepat waktu, bagaimana reaksinya? Kalau pesawat terlambat tiba, apa saja yang berubah pada rutinitasnya? Apakah yang terkena dampak hanya satu tokoh, atau ada tokoh lain? Semua dapat memperkaya konflik sehingga cerita kalian tidak jatuh membosankan.

Sama seperti detail lain, kalian bisa memanfaatkan internet untuk memastikan jadwal moda transportasi yang akan kalian gunakan dalam naskah. Jangan sampai kalian dapat teguran sayang dari editor hanya gara-gara salah memasukkan detail waktu, ya.

Selamat menulis.
Salam lemper, eh, cilok.