Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Frappe dan Roti Bawang



Aku bermimpi. Aneh. Karena beberapa hari terakhir, tidurku… ehm… gelap. Dan yeah, aku memang bermimpi, saat tidur siang yang amat sangat tidak sengaja – di meja kantor!

Kamu, duduk di seberang meja, menandaskan potongan terakhir spicy chicken wings – favoritmu! – dan aku hanya bisa menonton. Tangan-tanganku seolah berbobot ribuan ton. Aku tidak bisa bergerak. Aku juga tidak tahu apa aku bisa membuat senyum dengan otot-otot wajahku. Yang jelas, aku senang melihat wajahmu, di mimpiku.

Ingin tahu rasanya? Bayangkan saja sebidang kebun bunga. Wangi dan warna-warni.

“Rotinya nggak dimakan?” tanyamu. Tapi, aku tidak mendengar suaraku menjawab pertanyaanmu. Dan kamu pun membiarkan roti-roti itu, utuh!

“Moy….” Kamu menyeka bibirmu dengan selembar tisu, lalu mengoyak-oyaknya, seperti biasa. Seperti… kamu! “Kamu nggak lapar?”

Oh, ya. Aku sangat lapar. Bisakah kamu membawa potongan roti bawang itu ke mulutku? Karena sepertinya, tangan-tanganku belum mau bekerja sama.

“Moy…, bicaralah.” Sesuatu yang hangat menyelimuti tangan kiriku. Ada jemarimu di sana. Nyaman.

“Ru….” Oke! Aku mendengar suaraku. “Bawa aku ke tempat lain?”

“Kenapa?”

“Pokoknya, bawa saja aku ke tempat lain. Tempat yang lebih baik dari ini.”

Kamu mengedarkan pandanganmu ke seluruh ruangan. Restoran itu sedang ramai, tapi tetap terlihat nyaman dengan lampu-lampu lembutnya.

“Nggak ada yang salah dengan tempat ini, Moy. Aku suka di sini….”

“Ya, tapi aku nggak suka,” potongku. Tiba-tiba saja, satu tanganku sudah mengaduk-aduk cairan cokelat muda dalam gelas tinggi.

“Habiskan saja frappe-mu, lalu kita pergi.” Kedua alismu hampir menyatu.

Ah, Ru…. Marah pun, kamu tetap terlihat menawan. Aku tidak bisa membayangkan jika wajah marahmu menghilang dari memori otakku.

“Ru?”

“Ya?”

“Kenapa kita nggak pernah bertemu?”

“Memangnya kamu pikir kita lagi ngapain sekarang?”

Aku menggeleng. “Kamu tau maksudku, Ru. Jangan mengelak. Jawab aja.”

Kamu, mengambil selembar tisu lagi. Kamu melumat tisu itu sampai tak berbentuk. Aku tahu, kamu membantai tisu tak berdosa itu hanya karena bingung harus berbuat apa. Papaya float-mu sudah tak bersisa, dan kamu tetap tidak berani menyentuh roti bawang – masih utuh dan sudah dingin!

Aku menunggu, tapi kamu belum bicara apa-apa.

Ah, inginnya aku memusnahkan saja semua orang – dan juga benda-benda! – di ruangan ini. Atau mungkin, aku dan kamu bisa berteleportasi ke pantai, supaya kamu bisa bicara tanpa ragu. Bukankah kita masih berada di alam serbabisa? Penasaran, bagian otak sebelah mana yang bertugas mengatur adegan-adegan dalam mimpi? Aku ingin sekali memanipulasinya!

“Aku rasa,” kamu mulai bicara, “kamu seharusnya berhenti menunggu.”

Ya, ampun, Ru. Tahu apa kamu soal menunggu? Kamu tidak pernah menunggu, karena kamu tidak pernah mengharapkan kehadiranku. Kamu tidak perlu menunggu, karena kamu punya semua yang kamu butuhkan. Kamu tidak suka menunggu, karena kamu tahu, dan kamu sadar, aku tidak pernah nyata untuk kamu.

“Maafin aku, Moy. Ini semua salah.”

Aku mendapati pandanganku penuh dengan warna cokelat muda. Tangan-tanganku nyaris membeku, menggenggam gelas berisi frappe yang dingin. Lalu, ekor mataku menangkap gerakan piring berisi roti bawang menjauh…, mendekat ke arahmu. Dalam beberapa menit saja, delapan potong roti bawang itu lenyap.

“Kamu tau, Ru?! Seharusnya mereka nggak menyebutnya bintang jatuh.” Kamu berhenti mengoyak-oyak lembar tisu terakhir. Kamu mulai mendengarkanku. “Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat. Bintang nggak pernah punya luka gores. Bintang cuma ingin tempat baru untuk… hidup lebih lama lagi. Meskipun dengan bergerak, bintang-bintang itu harus kehilangan sebagian tubuhnya.”

Lama sekali kamu cuma bisa diam. Kedua alismu menyatu dengan cara yang berbeda. “Maksud kamu apa, Moy?”

Aku baru mau menjelaskan, tapi semuanya buyar!
                
Sial! Ponsel kampret!
                
“Halo….” Siapa pun yang mendengar suaraku saat itu, pasti mengira aku baru saja menelan puluhan butir obat sakit kepala. Untungnya, kantor masih kosong. Semua orang belum kembali dari rehat makan siang. Tapi, suara tawa di seberang malah membuatku ingin menenggelamkan ponselku dalam semangkok bubur basi.
                
“Tidurmu lucu, Moy.”
                
Lalu, klik!
                
Bah! Telepon gila itu membuat kedua mataku terbuka sepenuhnya. Aku menyisir ruangan besar tempatku bekerja. Aku tidak menemukan kamu! Lalu, dari mana kamu tahu kalau aku tertidur?
                
Ponselku berbunyi lagi. Pesan singkat masuk. “Tunggu sebentar lagi, bakal ada yang nganterin sesuatu buat kamu, Moy.”
                
Aku benci teka-teki. Dan kamu tahu itu! Kuharap, saat aku menemukan kamu, adrenalinku hanya cukup untuk mengoceh, alih-alih menamparmu.
                
Pintu lift terbuka ketika aku ingin membanting ponselku. Tidak! Bukan kamu yang muncul. Itu Beni, kurir dari ruang resepsionis. Dan dia membawa bungkusan besar. Untukku, katanya, dari kamu. Aku tidak percaya. Jadi kugeletakkan saja bungkusan itu dan segera berlari ke lantai satu, berharap kamu masih ada di situ.
                
Tapi, seperti biasanya – uhm, yeah, mungkin aku hanya terlambat beberapa detik. Kalau saja aku langsung sadar soal telepon itu, mungkin sekarang aku sudah memenjarakan kamu ke dalam dekapanku.
                
Aku kembali ke mejaku, duduk diam memandangi bungkusan, yang kata Beni, dari kamu. Aku bisa saja menebak apa isinya. Tapi, aku tidak mau. Aku masih menggilai kejutan-kejutan – kalau kamu ingat, Ru. Meskipun aku tahu, dari bulir-bulir embun yang menempel pada bungkusan, itu pasti cold frappe, minuman favoritku. Dan dari aroma yang masuk ke cuping hidungku, aku tahu, delapan potong roti bawang itu siap membahagiakan lambungku. Dan juga otakku!
                
Ah, Ru. Sampai kapan kamu bisa berhenti menjadi hantu? Sampai kapan kamu mengandalkan frappe dan roti bawang untuk membuat segalanya menjadi nyata? Harusnya kita bisa sampai di rumah, Ru. Mungkin, kita salah mengambil rute perjalanan. Entah.

                
Lama-lama, Ru…, kamu seolah membiarkan aku menjadi seperti bintang-bintang yang bergerak itu. Kamu tahu, Ru? Bergerak itu tidak semudah kelihatannya. Bergerak, akan membuatku harus kehilangan sebagian dari diriku. Membuatku kehilangan… kamu.


Sumber gambar dari sini.

New Novel: Memilih



Penulis: Sekar Mayang
Editor: Ardian Syam
Cover: Granito
ISBN: 978-602-17515-7-2


Sinopsis

Alhatiry Nur Oktavian harus memilih untuk menikah dengan Maya atau perempuan lain. Seharusnya itu pilihan mudah, bukan hanya karena Al tahu siapa yang lebih dicintainya, tetapi karena Maya dan perempuan lain adalah….

Rosi Meilani pernah disudutkan pada kondisi yang harus memilih antara masa depan bagi janinnya dan masa depannya sendiri. Ada banyak sekali saran termasuk dari seorang perempuan lain yang sangat dia kenal. Sekarang pilihan yang pernah dia putuskan, menjadi masalah bagi perempuan lain….

Kalina Mayasari harus memilih untuk melawan kehendak seorang perempuan lain yang mungkin akan menjadi mertuanya, atau menuruti kehendaknya dan kekasihnya. Seharusnya itu pilihan mudah, karena ibu kandungnya sendiri mendukung hubungan kasih mereka. Tetapi ibunya dan perempuan lain itu….

Semua orang harus membuat pilihan, apa pun risiko yang akan muncul dari pilihan tersebut. Secerdas apa pun seseorang, tidak akan berarti bila dia tidak berani memilih. Apalagi bila tidak berani menghadapi risiko dari pilihannya sendiri.


Versi e-book IDR 20.000,-   

E-book tersedia di Google Play Store, Scoop dan Wayangforce


Versi Cetak Rp.61.000,-

Pemesanan versi cetak melalui Sekar Mayang

E-mail: my.blue.flames@gmail.com

WA 085857466569
BBM 760FC632

Antologi Cerpen: Cerita dari Timur



Penulis: Citra Rizcha Maya ~ Gilang Rahmawati ~ Granito Ibrahim ~ Insan Purnama ~ Kit Rose ~ Odi Shalahudin ~ Rengga Bagus Nanjar ~ Sekar Mayang ~ Selsa
Editor: Rina Wijayanti
Cover: Granito
ISBN: 978-602-1429-03-7


Sinopsis

Cerita dari Timur merupakan buku antologi - kumpulan cerita pendek–yang ditulis oleh sembilan orang dari berbagai latar belakang. Lewat ragam cerita dalam berbagai rupa, buku ini mencoba menyuguhkan sisi cutting edge budaya ketimuran. Isu tentang cinta, sosiologi, politik, psikologi, ekonomi, folkantropologi, hukum, sosial, serta isu-isu yang cenderung anomali, merupakan menu sekaligus komposisi yang terdapat di dalam buku ini.


Harga versi digital Rp.25.000,- atau USD.2,99

bisa dilihat di Scoop atau Wayangforce


Versi cetak Rp.55.000,-
Pemesanan versi cetak melalui Sekar Mayang:
E-mail my.blue.flames@gmail.com
WA 085857466569
BBM 760FC632

New Novel: Constellation of Love



Penulis: Sekar Mayang
Editor: Liez Mutiara

Cover: Granito Ibrahim

ISBN: 978-602-14169-7-6



Sinopsis

Rhein Cassandra adalah mimpi seluruh gadis SMA. Dia cantik, kaya, pengagum ilmu astronomi, fashionable, punya otak yang keren, dan memiliki kepopuleran yang hampir sempurna di sekolah.

Hampir sempurna?

Ya, hampir sempurna. Karena Rhein bersahabat dengan si nomor satu, sang selebritas sekolah, Sofia Morita.

Tepat di ulang tahunnya yang ketujuh belas, sesuatu terjadi. Hanya beberapa saat sebelum pesta dimulai, Rhein melihat Mario, cowoknya, sedang bersama Sofia di koridor toilet. Apa yang Rhein lihat di sana, membuat hidupnya merasa terhantam.

Saat itu juga, otak Rhein memikirkan satu hal. Ia harus segera menyelamatkan hatinya.


Versi e-book : Rp.20.000,- 


Tersedia di Google Play Store, Scoopdan Wayangforce.

Versi cetak: Rp.56.000,- 
Pemesanan versi cetak melalui Sekar Mayang.
Email: my.blue.flames@gmail.com
WA 085857466569
BBM 760FC632

Moments



Life contains… moments.”

Aku tidak pernah berpikir soal itu, sampai detik ini. Bahwa hidup yang kita jalani adalah sekumpulan peristiwa – moments. Dan, sialnya, itu benar.

Momen pertama dalam hidupmu – yang orang lain ingat, sedangkan kau tidak – adalah ketika kau merangkak keluar dari rahim ibumu. Lahir normal atau lewat operasi, itu tidak masalah. Intinya, kau mulai menghirup udara untuk pertama kalinya. Kedengarannya sederhana ya?! Tapi, itu jelas melibatkan proses rumit mulai dari pembuahan, sampai pecahnya ketuban.

Selanjutnya, kau mulai tertawa, memanggil ibumu, belajar berjalan, jatuh dari tempat tidur untuk yang pertama kali, dan mungkin juga terluka saat kau berebut mainan robot dengan kawanmu yang sedikit lebih besar. Lalu, kau akan merasakan dunia sekolah. Otakmu penuh dengan materi ujian, persiapan prom night, pilihan tempat kuliah yang tidak sedikit – dan kadang melibatkan intervensi orangtuamu. Intinya, kau tumbuh, sampai di titik kau mulai mempertanyakan eksistensi dirimu sendiri. Apa yang sudah kau jalani, dan apa yang belum. Ada kemungkinan kau lebih banyak memikirkan soal pilihan-pilihanmu terdahulu. Kau menyesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya. Itu… salah satu momen lagi, dalam hidupmu.

Aku, tak ubahnya dirimu. Aku, manusia biasa, sepertimu. Bedanya, aku berusaha menikmati setiap momen yang ada, yang baru saja aku sadari, aku pilih sendiri untuk kujalani.

***

 “Kenapa kamu pengen keliling dunia, Ay?”

Chris bertanya seolah itu akan membuat hidungnya berdarah hebat. Ia takut, dan dia tidak sadar kalau aku tahu hal itu. Kau tahu?! Aku inginnya tidak perlu menjawab pertanyaan Chris. Tapi, itu tidak adil. Chris sudah di sampingku sejak…, entah, aku lupa kapan tepatnya – akhir-akhir ini aku terlalu sering melupakan banyak hal. Rasanya, aku sudah mengenal Chris lama sekali.

“Ayla….”

Aku merasa kulit punggung tanganku menghangat. Ada tangan Chris di sana.

“Tidak tepat keliling dunia, Chris,” kataku.

“Maksudnya?”

“Thailand, Spanyol, Afrika Selatan, Amerika – well, Hawaii, tepatnya – dan berakhir di Korea Selatan. Cuma itu aja kok. Tapi, biar gampang, sebut saja ‘keliling dunia’.”

Aku setengah berharap, tidak ada pertanyaan lanjutan dari Chris. Tapi, itu tidak mungkin. Chris akan terus bertanya, sampai aku menjawab semuanya. Ehm, maksudku, sampai ia mendapat jawaban yang ia inginkan. Chris akan selalu begitu. Aku tidak membencinya, tapi juga tidak terlalu menyukai kebiasaannya itu. Kadang, aku kesal dengan sikap Chris yang selalu ingin tahu apa saja. Di lain waktu, saat ia tidak ingin bertanya apa-apa, aku justru ingin mendengar celoteh Chris. Aku suka melihat gerak bibirnya ketika ia bicara. Another weird moment, yet gorgeous.

“Nggak bisa, keliling Indonesia aja?” tanya Chris lagi. “Kayaknya kamu dulu pernah bilang pengen menyusuri gugusan kepulauan Nusa Tenggara.”

Aku tertawa mendengar celoteh Chris.

“Cuma pengen ke Gili Trawangan sama ke Pulau Moyo aja kok. Nggak semuanya, Chris.”

“Ya, sekalian aja, Ay.”

Aku menyandarkan kepalaku ke bahu kiri Chris. Aku melihat langit-langit teras, ada dua cicak yang sedang berkejaran. Sepertinya, mereka adalah dua jantan yang sedang berebut wilayah. Entah. Hanya tebakan acak. Dan, rupanya, salah satu cicak harus rela kehilangan ekornya akibat pertempuran itu.

“Kasian,” gumam Chris, sambil mengamati ekor cicak yang menggeliat di lantai teras.

“Aku pengen tau, seperti apa tempat yang namanya Pattaya itu.” Aku berusaha mengalihkan perhatian Chris dari benda menjijikan itu – aku tidak pernah senang melihat cicak dari jarak dekat, apalagi hanya ekornya yang mengeliat-geliat tak tentu arah. Itu selalu membuatku bergidik.

“Hah?!” Chris melirik ke arahku.

“Aku pengen tau,” lanjutku, “gimana meriahnya festival banteng di Spain. Aku pengen tau, seperti apa tempat yang namanya Barcelona, Granada, dan Madrid. Di Afrika Selatan, aku pengen berdiri di ujung paling selatan dataran benua hitam itu. Di Hawaii, ehm…, aku cuma pengen liat para surfer bermain dengan ombak besar. Dan, di Korea Selatan….” Aku menatap mata Chris. Aku melihat ketidaksabaran di sana, pada kerut-kerut di dahinya. “Aku cuma pengen main bola salju di sana.”

“Wow!”

Itu saja. Setelah aku hampir berbusa-busa menjabarkan banyak hal, Chris hanya bereaksi dengan satu kata. Kau tahu?! Inilah yang kusebut ‘momen menjengkelkan’. Tapi, aku bisa apa? Jengkel pun, aku tetap mencintai pria itu. Jadi, dengan sadar, kuhapus momen itu dari rekaman di otakku, lalu menggantinya dengan ‘momen romantis’. Aku menciumnya, dan Chris membalas inisiatifku itu dengan menangkupkan kedua tangannya di rahangku.

“Kalau misalnya kamu cuma punya satu pilihan negara. Mana yang kamu pilih, Ay?”

“Ehm…. Spanyol. Granada.”

“Alasannya? Aku pikir kamu bakal bilang Korea.”

“Nggak ada. Katamu tadi aku harus memilih. Aku pilih Granada. Itu aja.”

***

“Apa yang kau lukis kali ini, Ay?”

Chris datang ke studioku dengan membawa bungkusan – aku tahu dari aroma yang tiba-tiba menyerbu cuping hidungku – berisi croissant yang segar. Aku, selalu suka croissant. Apalagi jika menyantapnya dibarengi dengan madu. Mungkin bukan kebiasaan yang umum, tapi itu memanjakan lidahku.

Morning, Chris.”

Aku menyapukan goresan-goresan terakhir di beberapa tempat. Aku tidak melukis. Aku hanya membuat sketsa. Aku memakai kanvas kecil, dan aku hanya memakai pensil untuk membuat sketsa. Aku, mengabadikan objek apa saja yang melintas tanpa ijin di otakku.

Pagi-pagi sekali, masih gelap, aku terbangun begitu saja. Aku sadar, aku baru saja menjalani sebuah mimpi yang aneh. Tapi, indah. Aku dalam mimpi, adalah seekor capung. Aku hinggap di banyak tempat. Yang paling aku ingat, aku hinggap di atas tumpukan potongan kayu bakar di tepi tanah lapang. Mataku tertuju ke arah tanah lapang itu. Di ujung tanah lapang adalah tepian hutan cemara. Dan, saat itu, matahari hendak bangkit dari tidurnya. Mataku – kedua mata capungku – menangkap pemandangan munculnya sang bola oranye. Harusnya aku bisa berteriak “Hei! Itu indah!”. Namun, aku bahkan tidak tahu, apa aku bisa ehm… let’s say… mendengung, saat menjadi capung.

Pemandangan itulah yang aku tuangkan menjadi sebuah sketsa satu warna. Aku, puas dengan apa yang kubuat kali ini. Aku berdiri dua langkah lebih jauh dari tripod. Aku sadar, aku tersenyum ketika mengamati hasil karyaku sendiri. Dan, Chris…. Dia berdiri di sampingku, melakukan hal yang sama, tapi tanpa senyum.

“Kamu tau, Ay?! Harusnya kamu jual semua lukisanmu itu.”

“Ini sketsa, Chris. Bukan lukisan.”

Yeah…. Apa pun itu namanya. Kamu bisa dapat uang banyak. Dan, kita bisa keliling dunia.”

“Aku nggak akan menjual mereka, Chris.” Aku menghadap ke arah Chris, mendekati tubuhnya hampir tanpa jarak. “Nggak, di saat aku masih hidup.”

Dan, ini mungkin yang disebut ‘momen air mata’. Mendadak, kedua mataku menjadi panas, dan mengabur.

“Ayla…. Kamu akan hidup. Lebih lama dari yang pernah kamu bayangin.”

Air mata sudah jatuh, tumpah. Dan, Chris memungutnya, menaruhnya di kantung-kantung rindu, untuk kemudian dikeluarkan saat musim semi tiba. Musim, di mana aku, akan kembali menjadi… tanah.

***

“Chris….”

Ia tidak mendengar suaraku. Padahal aku sudah cukup lantang memanggilnya.

“Chris!”

Kukeraskan suaraku, tapi Chris bergeming. Ia malah menyalami seorang pria tua yang memakai kemeja hitam, lalu pria berikutnya yang juga memakai atasan warna hitam. Ada dua pria lagi yang menyalami Chris, dan juga dua wanita muda. Semua pria di sini memakai baju hitam – atau celana hitam. Dan, para wanitanya memakai baju berwarna dominan hitam. Chris juga. Ia memakai jas hitam.

“Chris….”

Itu bukan suaraku. Itu suara… Mom. Oh, Mom. Kenapa aku merasa kita tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun? Apa aku sudah menjadi anak durhaka? Kenapa matamu sembab, Mom? Apa aku membuat satu kesalahan lagi yang membuatmu menangis?

Aku melihat Mom memeluk Chris lama sekali.

“Terima kasih, ya,” kata Mom. “Mom tau, enam tahun bukan waktu yang sebentar. Dan, kamu menjalani semuanya dengan sabar. Mom yakin, Ayla juga sangat berterima kasih.”

“Aku sayang Ayla, Mom. Aku terima Ayla apa adanya dia.”

Owh, Chris. I know you do.

“Besok mereka akan mengkremasi Ayla.” Itu suara Mom lagi. Ia berbisik kepada Chris.

Tunggu dulu! Kremasi?!

“Iya, Mom. Minggu depan, kita akan bawa semua lukisan Ayla ke Bali. Temanku di Ubud udah setuju minjemin galerinya untuk memajang semua karya Ayla. Dan, uang hasil penjualannya bisa buat nambahin beli tiket ke Spanyol. Ayla pengen banget ke Granada, Mom.”

Ini bukan momen yang ingin aku lihat. Tapi, itu terjadi begitu saja. Mom menangis. Bukankah harusnya aku bisa memilih momen yang ingin aku rasakan? Kenapa malah aku terjebak untuk melihat… kematianku sendiri?

Selama beberapa saat, aku menganggap Tuhan tidak adil. Harusnya aku dibiarkan memilih sendiri semuanya. Tapi, aku ingat, aku memang memilih. Aku memilih untuk tidak meneruskan kemo, berhenti meminum obat apa pun, dan berusaha menjalani hidup dengan menganggap bahwa sel jahat itu tidak pernah sedetik pun tumbuh di dalam tubuhku.

Ya, aku memilih semua momen itu. Dan, ini memang persis seperti yang aku bayangkan. Tepat setelah aku bermimpi menjadi capung, aku bermimpi hal lain. Sebuah mimpi, di mana tubuh dinginku dikelilingi orang-orang yang mencintaiku. The greatest moment of all.


                Life contains… moments. Moments, keep you alive.”

Sumber gambar dari sini.