Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Aku Nana... dan Ini Kisahku

1343770332897777518

Kolaborasi Sekar Mayang dan Miss Rochma.

Jangan salahkan aku! Salahkan bapakku. Jangan salahkan ibuku! Salahkan bapakku. Laki-laki itu yang membuat aku menjadi peminta rayuan laki-laki. Laki-laki itu yang membuat aku menjadi penikmat sentuhan laki-laki.

***

“Nana. Apa benar ini handphone kamu?”

Ibu guru yang cantik itu bertanya dengan senyum yang menawan kepadaku. Kacamatanya yang berwarna merah, semakin memunculkan keayuannya. Senyumnya, menunjukkan dia ramah. Seperti ibuku.

Ibu…. Bagaimana kabarmu di sana? Meskipun kita sudah lama tidak bertemu, tapi fotomu dalam ukuran kecil masih tersimpan rapi di sela-sela dompetku. Karena aku tidak mau lagi kehilangan memori manis di masa laluku. Ibu…. Tahukah engkau kalau ibu guru ayu ini mirip denganmu? Cara tertawanya, cara berbicaranya, bahkan bentuk tubuhnya. Sungguh Ibu, aku masih belum bisa melupakan kepingan kenangan atasmu meskipun kau sudah meninggalkan aku ke dalam pelukan laki-laki jahanam itu delapan tahun yang lalu, bersama dua tas besar berisi pakaian dan dokumen-dokumen penting milikmu. Meninggalkan aku dengan boneka kelinciku karena laki-laki itu sudah mengkhianati cincin kawin yang selalu tertanam di jari manismu.

“Nana. Benar ini handphone kamu?”

Ah, aku terlalu menikmati tentangmu ibu, sampai ibu guru ayu ini mengulang pertanyaannya dua kali. Wajah ibu guru ayu ini terlihat lelah, membuatku tanpa sadar menganggukkan kepalaku mengiyakan apa yang dia tanyakan.

Kulihat dia membetulkan duduknya yang sedari tadi condong ke arahku, Ibu. Sungguh gerakannya mirip dengan gerakanmu yang memiliki ribuan irama. Diutak-atik handphone coklat yang ada di genggamannya lalu menyodorkan kepadaku. Memudahkan aku melihat jalinan warna yang ada di balik layar lebar handphone milikku.

“Coba jelaskan ke Ibu. Kenapa ada video seperti ini di handphonemu?”

Aku sengaja memendam suara ini, tidak mau menjawab pertanyaan ibu guru ayu ini, Ibu. Aku jadi teringat padamu Ibu. Ketika aku melakukan kesalahan, kau selalu mengawali dengan rangkaian kata ‘coba jelaskan’.

“Nana. Bisa jelaskan pada ibu? Masalah seperti ini sudah masalah kamu yang kedua yang ditangani ibu dalam satu tahun ini.” Jeda sejanak. “Yang lalu, entah siapa yang ada di video itu. Tapi yang sekarang, yang membuat ibu kaget, ada kamu di video itu.”

Aku memandang wajah ibu guru ayu ini. Penuh harap di ujung matanya atas pertanyaan yang tak juga kunjung aku jawab. Tapi aku hanya mau diam. Bukan malas menjawab tapi karena aku terbiasa diam atas apa yang aku alami. Kucoba menyibukkan mataku memandangi gerakan-gerakan eksotisku dengan seorang remaja laki-laki yang bergerak di balik layar handphoneku.

“Nana…. Ibu tahu kamu anak yang baik. Kalau memang kamu mau ibu bantu supaya masalahmu selesai, cerita apa adanya pada ibu.”

Tapi aku tetap tidak mau bicara. Ah, lebih baik aku menunduk supaya aku tidak lihat wajah bulat ibu guru ayu ini yang mirip denganmu, Ibu.

Dalam tundukku, kuarahkan bola mataku ke atas mengintip sosok yang diam-diam aku kagumi sejak aku pertama kali masuk di SMP ini. Berulang kali dia membetulkan kaca matanya. Aku tahu dia gelisah, seperti ketika bapakku berulang kali menyisir rambutnya dengan kelima jarinya ketika dia gelisah karena aku memberontak untuk dicumbunya.

Sepuluh menit berlalu dalam diam. Harus kuakui, sepuluh menit ini seperti sepuluh hari lamanya.

“Nana. Lebih baik kamu kembali ke kelas. Besok kita lanjutkan lagi ngobrolnya.”

Jangan, Bu! Jangan suruh aku pergi! Aku sudah merasa nyaman di lingkaran perhatianmu. Kuangkat kepalaku pelan-pelan untuk memandang wajah ibu guru ayu ini. Dan tanpa terasa, aliran air mata luruh deras di wajahku.

“Nana. Menangis saja, kalau memang mau menangis. Tapi jangan hanyut dalam tangismu. Ceritakan. Ibu akan senang mendengarnya.”

Huuuuaaaahhhhh…!!!!! Aku rindu padamu, Ibu. Dan hanya pada ibu guru ayu ini aku menumpahkan semua luka masa laluku.

Bahwa jangan salahkan aku. Salahkan bapakku! Jangan salahkan ibuku! Salahkan bapakku! Laki-laki itu yang membuat aku menjadi peminta rayuan laki-laki. Laki-laki itu yang membuat aku menjadi penikmat sentuhan laki-laki. Laki-laki itu yang menggali lubang di untaian kenangan masa laluku. Laki-laki itu yang membuat aku ingin membunuhnya padahal dulu sempat aku memujanya. Laki-laki itu yang pertama kali mencium dengan paksa tubuh indahku.
“Nana…. Menangis saja tidak akan membuat ibu mengerti. Ceritakan apa yang terjadi.”

Aku ragu ibu guru ayu ini bisa langsung mengerti apa yang kurasakan, Ibu. Tidak semua orang bisa mengerti. Bahkan mungkin tidak akan ada yang mau mengerti. Mereka pikir, pasti aku yang salah. Aku yang memancing laki-laki laknat – yang seharusnya kuhormati – untuk berbuat mesum terhadapku. Bahwa aku yang mengail di air keruh, bukan laki-laki dengan tato harimau yang memenuhi punggungnya itu. Ah, mengapa aku jadi benci kepada semua orang? Dan kau, ibu guru ayu, jangan membuatku jadi ikut membencimu. Aku tahu kau pasti akan mengerti apa yang yang terjadi pada diriku. Hanya saja..., hanya saja…, ah, aku takut. Aku takut kau akan menangisiku. Padahal aku hanya perlu pelukan hangat dan usapan lembut pada rambut panjangku.

“Jika kau mau, kita bisa keluar, Nana. Mungkin kau canggung menceritakan hal itu di sini. Kita bisa pergi ke sebuah tempat yang nyaman. Ibu tahu satu tempat yang cocok.”

Ah, ibu guru ayu, tawaranmu sungguh menggiurkan. Ya. Aku memang agak canggung menceritakannya di sini. Selain karena tatapan Ibu Risna – rekan kerjamu sesama guru konseling – yang sudah pasti menghakimiku, suasana ruang konseling ini mengingatkanku pada suatu tempat mengerikan. Paling tidak, mengerikan versiku sendiri.

Ruangan konseling ini sempit dan sedikit gelap. Mungkin karena letaknya yang di sudut area sekolah – juga karena jumlah jendelanya yang hanya satu – membuatnya kurang mendapat sinar matahari. Dan kepala sekolah kita terlalu pelit untuk mengijinkan ibu guru ayu ini menyalakan lampu ketika sedang bekerja di ruangan ini. Jadilah keremangan dan keterbatasan ruangan ini mengingatkanku pada ruang kerja bapakku. Bah! Ruang kerja?! Mengapa aku jadi sok sopan menamai sebuah ruangan yang telah merenggut kehormatanku? Hmm…, mungkin karena laki-laki laknat itu adalah orang yang seharusnya aku hormati. Ya, mungkin saja.

Lalu sofa ini, sofa yang kita duduki saat ini, terkesan tua dan kumal. Seperti tempat ketika laki-laki itu pertama kali melucuti pakaianku. Dia bilang, yang pertama haruslah dia yang mendapatkan. Selanjutnya, setiap malam minggu, lelaki lain yang berdompet tebal selalu mencicipi tubuhku. Aku tidak pernah mendapat lebih dari seratus ribu untuk sekali main. Bahkan ketika bapak mendapat dua juta dari salah seorang tamu kaya raya, aku tetap mendapat seratus ribu.

Aku akhirnya jadi tahu, kenapa ibu meninggalkan bapak. Pengkhianatan cinta yang sungguh terlalu besar. Dan sampai sekarang aku tidak habis pikir, kenapa ibu tega meninggalkan aku dengan laki-laki yang mengkhianatinya. Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa membenci ibu karena hanya sosok dia yang mampu mengumpulkan kenangan indah yang semakin berserakan oleh rasa benci terhadap bapak.

“Hapus air matamu, Nana. Pergilah ke toilet untuk merapikan diri. Tunggu di sini sementara ibu mengurus ijin untuk keluar hari ini.”

Ibu guruku yang ayu, entah apa yang ada di pikiranmu tentang aku. Boleh jadi, aku buta sama sekali tentangmu. Aku hanya melihat sorot mata ibuku di matamu, lalu suara lembut ibuku di pita suaramu, dan bahasa tubuh santun ibuku yang berada di setiap otot-ototmu, serta senyum ibuku yang tergaris sempurna di bibirmu. Ah, itu sudah mewakili segalanya, kupikir.

Jadi, aku anggukkan kepalaku. Lalu mengusap mataku yang sembab dan basah dengan tisu lusuh yang sedari tadi berada di genggamanku. Yeah, paling tidak, aku bisa hunting calon pelanggan baru untuk malam minggu besok. Pelanggan-pelanggan kaya yang aku kenal juga dari klien-klien bapak. Dunia baru yang akhirnya aku pilih karena luka hati.

E N D

Sumber gambar Mount Blanc Amaryllis.

Bugar "Ala Gue" Saat Puasa


1342910880330104405

Halo, sahabat semua. Bagaimana kabar kalian pagi ini? Yang lagi puasa, tadi sahur pake menu apa ya? Boleh donk berbagi hehehe….  Eike juga mawar berbagi neh, bo. (kenapa mendadak copas banci kaleng ya bahasanya wkwkwk).Anyway, kali ini saya nggak posting fiksi dulu. Itu jatahnya ntar malem :D

Balik lagi ke menu sahur. Apa menu sahur kalian dini hari tadi? Apa kalian mengkonsumsi banyak karbo (nasi) dan sedikit serat? Apa kalian mengkonsumsi kafein setelah santap sahur? Atau tidak melupakan teh hangat dengan gula yang sedikit lebih banyak dari biasanya?

Nah…. Coba deh tips yang berikut ini.

1. Makanlah dengan porsi yang biasa. Mengurangi karbo (nasi) itu lebih baik. Dan jangan lupa mengkonsumsi serat (sayuran). Kalau serat, dibanyakin juga nggak apa-apa. Malahan bagus buat lambung karena bisa menunda rasa lapar lebih lama lagi.

2. Konsumsi buah setelah sahur. Serat kan tidak hanya sayuran, tapi juga buah. Namun, tidak semua buah bisa dikonsumsi setelah santap sahur. Uh, nggak kebayang gimana jadinya lambung kalo maksain nyantap duren abis sahur hihihi…. Kalau saya sendiri menyarankan apel atau pir. Kenapa? Karena kandungan air dalam dua jenis buah tersebut cukup tinggi, sehingga (insyaAllah) kalian tidak akan dehidrasi selama ± 14 jam berpuasa. Satu butir apel atau pir saya rasa cukup untuk membuat kita lebih bugar saat puasa.

3. Hindari kafein. Menurut sumber yang pernah saya baca, minuman seperti kopi dan teh memiliki sifat diuretic (tolong kasi tau kalo salah ketik ya). Artinya, minuman itu memancing kita untuk lebih sering buang air kecil. Nggak percaya? Awalnya saya juga gitu. Tapi setelah bertahun-tahun melakukan penelitian dan pengamatan terhadap diri sendiri (cieeee… berat bahasanya hihihi…), fakta itu memang benar. Kira-kira satu sampai dua jam setelah saya mengkonsumsi, saya pasti kebelet pipis. Kalau memang ngebet banget pengen ngopi, sebaiknya minumlah selepas kalian berbuka. Tapi nggak jamin kalau nantinya jadi susah tidur yak hehehehe….

Semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat untuk yang sedang menjalankan ibadah puasa. Asli, bukan bermaksud menggurui, apalagi nyuruh. Hanya sekadar berbagi apa yang sudah pernah saya rasakan. :)

Salam

Cerita Nara Sang Pramuria #2




“Yoda…,” ujar Nara sambil memainkan ujung rambutnya.

“Ya…,” sahutnya Yoda yang pandangannya masih melekat pada sebuah buku di tangannya.

“Mengapa kau memilihku?” tanya Nara.

Yoda terkejut dengan pertanyaan Nara. Mau tidak mau, ia menutup buku yang sedari tadi ia baca dan meletakkannya di atas meja kerja. Ia menghampiri Nara yang tengah duduk di sofa.

“Aku tidak mengerti pertanyaanmu, Nara. Memilihmu sebagai apa?”

“Aku tahu kau mengerti maksudku. Aku ini… ehm… bukan seorang wanita baik-baik. Aku ini… pelacur kelas rendah. Tapi mengapa kau masih sudi berbicara denganku?”

“Jika yang kau maksud bicara adalah berteman denganmu, apa yang salah dengan hal itu? Bukankah aku berhak dan bebas memilih siapapun yang ingin kujadikan teman?! Dan kau, Nara…. Kau bukan sekedar teman biasa bagiku. Kau… yang telah membuatku bisa melihat seorang wanita dari sisi lain. Kau juga yang telah membuatku lebih memaknai kehadiran wanita dalam hidupku.”

“Benarkah itu?! Akhir-akhir ini, kau menjadi semakin pintar bicara, Yoda.”

“Aku tidak hanya sekedar bicara, Nara. Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Tidakkah kau mendengar nada kejujuran dalam ucapanku?!”

“Pria terkadang berbohong demi menenangkan hati wanitanya. Aku melihat hal itu sekarang.”

Yoda menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengacak-ngacak poni Nara dan beranjak dari samping wanita itu.

“Kau selalu saja menyamakan kisahmu dengan milik orang lain. Sekali lagi kukatakan, tolong…, jangan lalukan hal itu lagi.”

“Oke. Aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi kau seorang penulis. Aku tahu, penulis biasanya terlalu senang berkhayal. Maksudku, semakin sering kau menulis, semakin kau berkhayal sesuatu yang absurd tentang diriku. Kau menganggap aku sebagai wanita impianmu. Begitulah yang aku baca dari bukumu. Padahal aku teramat sangat tak layak menerima hal itu.”

“Aku… tak pernah menganggapmu sebagai seorang pelacur, Nara. Aku tetap menganggapmu sebagai seorang wanita seutuhnya. Apa yang terjadi padamu saat ini, aku tidak punya hak untuk mengusiknya. Kubiarkan kau dengan apa yang kau pilih. Aku menyayangimu… lebih dari yang kau tahu, Nara…. Mungkin baru kali ini aku mengatakannya, tapi kuharap kau menyadari hal itu sebelum hari ini. Dan aku menulis tentangmu, bukan berarti aku ingin kau menjadi seperti apa yang kutulis. Aku ingin semua orang tahu, bahwa seorang pelacurpun, tetaplah seorang manusia. Ia selalu menganggap dirinya tidak sempurna. Tapi ia lupa bahwa ada seseorang yang bisa membawanya menuju kesempurnaan itu.”

“Itu… terlalu berlebihan, Yoda. Aku benar-benar tak layak menerima itu semua darimu.”

“Semakin kau menolaknya, makin dekat pula hal itu menghampirimu. Kau tidak bisa hidup terus menerus dalam kesendirian, Nara. Suatu saat, kau pasti merindukan hadirnya seorang teman. Dan aku… ingin hadir mengisi peran itu untukmu. Tapi aku tidak pernah memaksakan kehendakku padamu. Tetap, kau punya hak untuk menyingkirkanku dari hidupmu. Walaupun aku tak pernah mau itu terjadi.”

Bahkan pelacur sepertikupun tetap membutuhkan seorang teman, ujar Nara dalam hati. But this is more than I expected. Yoda berhak mendapatkan yang lebih baik. Bukan wanita sepertiku yang tidak pernah memiliki masa depan. Batin Nara berkecamuk.

“Aku tahu kau berpikir bahwa aku seharusnya bersama wanita lain yang bukan sepertimu,” Yoda memulai percakapan lagi.

“Kau membaca pikiranku?!” Nara terkejut, karena apa yang dikatakan Yoda memang benar.

“Tidak. Aku bukan mind reader. Tapi aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku mengenalmu bukan satu atau dua tahun, Nara. Lebih dari itu, kan?! Dan itu waktu yang cukup untukku mengenalmu lebih jauh. Aku tahu kau sebenarnya tersiksa dengan pekerjaanmu. Dan kau ingin secepatnya lari dari kenyataan itu. Tapi semakin kau ingin lari, kau malah semakin terbelenggu dengan sumpahmu sendiri.”

“Sumpah?! Sumpah apa?”

“Kau katakan dirimu telah mati rasa. Tapi kenyataannya kau hanya ingin membalas dendam terhadap perlakuan yang kau terima di masa lalu.”

“Mengapa kau jadi membicarakan hal itu, Yoda?”

Sejenak Nara dan Yoda terdiam. Bunyi mesin pendingin udara menggantikan riuhnya percakapan mereka berdua. Yoda hanya memandang Nara dengan tatapan iba. Tapi Nara balas menatap Yoda dan seolah berteriak di antara tatapannya bahwa ia tidak butuh dikasihani. Ia hanya butuh dirinya dianggap sebagaimana mestinya, yaitu sebagai seorang pelacur jalanan. Tidak lebih. Namun Yoda tidak pernah setuju dengan hal itu.

“Nara…. Aku memilihmu karena aku yakin, kau adalah wanita yang luar biasa. Aku bisa melihat itu dari pancaran kedua matamu. Kedua mata yang selalu aku rindukan ketika kita saling berjauhan. Kedua mata yang selalu membuatku merasa nyaman di tengah kehangatan yang kau suguhkan, Nara. Kau… bukanlah seperti yang orang lain lihat.” Yoda menghela napas panjang. “Aku menunggumu… dan akan tetap menunggumu, sampai kau bisa menyayangiku dengan tulus. Aku tidak menginginkan wanita lain dalam hidupku. Aku hanya ingin dirimu.”

“Seandainya saja semua pria sepertimu, Yoda, tentu aku bisa merasakan kebahagiaan lebih awal. Rasanya aku sudah lupa bagaimana manisnya hal itu.”

Yoda kembali duduk di samping Nara. Ia merengkuh Nara ke dalam pelukannya. “Tapi jika itu terjadi, kau tidak akan pernah mengenalku, Nara,” ujarnya. “Tuhan sudah menggariskan hal ini pada hidupmu. Dan percayalah padaku, Nara. Aku bisa membuatmu kembali menikmati manisnya kebahagiaan.”

***

Sumber gambar Red Rose.
Kisah lain, cari dengan keyword “cerita nara” tanpa tanda petik.

Rindu




Aku mengingatmu. Selalu. Kau sudah berada di otak kecilku sejak pertama kali kita bersua di chat room beberapa tahun yang lalu. Ya…, aku mengingatmu…, walau belum pernah bertemu denganmu….

Senyum Nina merekah ketika ia membaca ulang coretan iseng yang ia buat malam sebelumnya. Ia menyimpan kembali selembar kertas itu di atas meja kerjanya dan beranjak ke arah jendela. Ia membuka jendela kamarnya dan membiarkan udara pagi yang segar menerobos masuk.

Hari sudah terang walau jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi waktu Denpasar. Nina memandang dunia luar dari balik jendela kamarnya. Apa yang ia lihat memang bukanlah pemandangan pegunungan atau pantai dengan bentangan air laut yang biru, tapi hanyalah atap dari deretan rumah-rumah di sebuah pemukiman padat penduduk. Walaupun begitu adanya, ia tetap tersenyum. Karena hari ini adalah hari yang sangat ia tunggu sejak bertahun-tahun lamanya. Ia akan bertemu Pram untuk yang pertama kalinya.

Ponsel Nina berdering. Ada telepon masuk. Ia segera menyambar benda itu dari atas meja riasnya. 

“Halo,” sapanya.

“Halo, Ade,” jawab seseorang di ujung telepon.

Nina tersenyum mendengar sapaan yang sudah sangat ia kenal. “Mas….”

“Kau sudah bangun?!”

“Sudah. Mas sedang di mana ini?”

“Masih di bus, menuju bandara.”

“Jadi… nanti kita bertemu di mana?”

“Di hotel saja. Nanti mas kabari lagi jika sudah mendarat di Ngurah Rai.”

“Baiklah. Aku tunggu.”

“Ehm… Nina….”

“Ya….”

“Akhirnya hari ini terjadi juga. Kau… dan aku…, akhirnya bisa bertemu setelah delapan tahun lamanya.”

“Iya, Mas…. I just can’t wait.”

Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, ponsel Nina berbunyi lagi. Kali ini ada pesan singkat yang masuk ke inbox ponselnya. Buru-buru Nina membuka pesan itu. Blue Ocean Hotel, Kuta. Room 339. Itulah isi pesan singkat yang dikirim Pram untuknya.

Nina bergegas menuju tempat yang diminta Pram. Motornya dipacu sekencang yang ia bisa. Ia bahkan tidak peduli panasnya udara di luar membuat peluhnya bercucuran. Dua puluh lima menit kemudian, ia sampai di hotel dan langsung bertanya letak kamar 339 kepadareceptionist. Seseorang mengantarnya sampai persis di depan kamar nomor 339.

Sejenak Nina ragu. Ia kembali berpikir, apakah yang dilakukannya sekarang ini tidak akan menimbulkan masalah. Tangannya sudah akan mengetuk pintu kamar itu, tapi tiba-tiba daun pintu itu bergerak, menciptakan sedikit celah.

“Masuklah,” ujar sebuah suara dari dalam kamar.

Nina agak bingung. Tapi ia menurut saja. Ia masuk ke kamar itu dan seorang pria langsung tersenyum ke arahnya.

“Bagaimana kau tahu kalau itu aku?”

“Hmm…. Katakanlah aku mempunyai indera keenam untuk mengetahui kedatanganmu, Nina.”

“Kau bohong. Pasti receptionist itu sudah mengatakan padamu perihal kedatanganku.”

“It’s that matter?!” Pram perlahan mendekati Nina. Dan sekarang, wajah Pram hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Nina. “Aku… merindukanmu…,” ujarnya sambil membelai wajah Nina.

“Me too….”

Satu pagutan tercipta dari bibir Nina dan Pram. Kini… rindu mereka telah bersatu. Dan atas nama cinta, impaslah sudah tahun-tahun yang telah mereka lalui, terbayarkan dengan terrangkainya lisan di satu udara yang sama.

***

Sumber gambar

Artikel dapat dilihat juga di sini.

Friend or Foe - Chapter Three





Kisah sebelumnya di Chapter Two.

Beberapa pelayan yang disewa Robert keluar dengan segera ketika pintu dapur dimasuki dengan langkah buru-buru oleh Nala dan Marion. Nala membelakangi Marion yang ragu-ragu untuk menyentuh pundaknya yang bergetar. Kemarahan, kesedihan, dan rasa gusar yang tak tertahankan membuat Nala merasa lemah tak berdaya. Dari cermin Marion melihat wajah sahabatnya dalam ekspresi yang sulit dilukiskan. Sementara Nala yang mengetahui kehadiran Marion, pada mulanya lebih suka mengabaikan, tapi dia tahu itu tak berguna. Sekian lama Nala menyimpannya, dan mungkin inilah waktunya untuk dia menumpahkan segalanya – seperti dia menumpahkan sisa Wine yang dia tumpahkan ke wastafel dengan gelasnya begitu saja.

“Siapa yang bisa kupercaya sekarang?” Nala menghela nafasnya yang berat, seberat ketidaknyamanan yang ia rasakan selama ini. “Jebakan dan pengkhianatan! Apa lagi yang bisa dijelaskan?” Nala ingin bicara dalam nada kasar tapi kemarahannya tertahankan karena tiba-tiba dia diselimuti kelelahan.

“I’m so sorry…,” Marion menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Kupikir masih belum terlambat untuk memperbaiki segalanya.”

“Akan lebih baik membiarkan segalanya berantakan daripada memaksa menyatukan banyak retakan yang berujung menyakitkan,” sahut Nala yang masih membelakangi Marion.

Nala tiba-tiba memikirkan banyak hal. Waktu yang sudah begitu lama berlalu, seharusnya dia tak pernah tahu. Segala sesuatu yang tak diketahuinya tidak akan menyakitinya. Pengkhianatan terasa menyakitkan dan menghancurkan kepercayaannya terhadap sebuah hubungan yang bernama persahabatan. Nala merasakan sentuhan tangan Marion di kulitnya, rasanya seperti terbakar. Kini Nala tak ingin lagi menyangkal.

“Kau pikir mengapa aku pergi? Mengapa aku terlihat seperti membenci diri sendiri? Yeah, I hate myself and I wanna die.” Nala seperti sedang memperolok dirinya. “Tanyakan dirimu sendiri!” Kali ini Nala menatap lurus ke cermin, hingga mata hijaunya berpandangan dengan mata hazel Marion. “Because the reason is you!” ada nada menghakimi. “Mungkin aku orang paling egois di dunia, but…. Oh, God! Aku memandangmu sebagai kembaran jiwaku, saudara secara emosional.” Sedikit berat, saat Nala ingin menyampaikan kata-kata selanjutnya. “Kau menyembunyikannya, tak ingin fakta itu diketahui oleh diriku. Tapi sesuatu yang kau lakukan dengan Dalton di balik punggungku – sejujurnya – tak ingin kumaafkan. Tapi bahkan untuk orang sepertiku, bijaksana kurasa perlu.”

Nala berbalik, hingga keduanya saling bertatapan. Tapi tak lama Marion memilih untuk menatap ujung sepatu Christian Loubotinnya. “Walau menyakitkan…,” sambung Nala lagi, “kau ada di sana saat aku terpuruk. Kau menyelamatkan aku nyaris di sepanjang hidupku. Kupikir menutupi kecintaanmu terhadap kekasihku.” Nala memilih menatap langit-langit sekarang, dia tak ingin menumpahkan air matanya yang menggenang. “Aku berusaha mencari alasan agar aku bisa membencimu.” Suara Nala lebih serak sekarang. “Tapi aku tak bisa.” Nala menggelengkan kepalanya perlahan. “Menyalahkan perselingkuhanmu dan Dalton membuat segalanya terasa nyata. Sehingga baik buatku untuk pura-pura membuat alasan lain untuk mempertegas kepergianku. Kau tahu itu menyakitiku, tapi di sini bukan hanya aku yang tersakiti.” Nala tak lagi kuasa menahan air matanya. “Tapi kita semua.”

Marion menatap Nala yang ingin menghapus air matanya. Tapi di saat yang sama, Marion bahkan tak sanggup menghapus air matanya sendiri.

“Kadang aku bertanya. Apa, mengapa, dan bagaimana.” Nala bicara lagi. “Tahukah kau apa yang kita dapatkan?” Ia seolah bertanya pada Marion. “Hanya alasan!” Nala menjawab pertanyaannya sendiri. “Sementara kita tahu yang paling kita butuhkan adalah pemahaman, hingga aku mendapat satu keputusan untuk melupakan kebenaran. Kuubah kenyataan menjadi khayalan. Dan yang kupilih adalah pergi dan tak lagi percaya hati.”

Nala menatap Marion, tapi Marion masih tak mampu untuk membalas tatapan sahabatnya. “Kau tahu, kerusakan dalam hidupku takkan menyakiti siapapun. Tapi noda dalam hidupmu yang sempurna, itu bisa mengubah segalanya. Bisakah kita berhenti sekarang dan biarkan segalanya berjalan seperti alurnya?” tanya Nala pada sahabatnya.

“Demi kesalahan yang telah terlewatkan, I beg you a mercy.” Marion sungguh-sungguh, tangisan meleleh di wajahnya. “Inilah yang bisa kulakukan untuk memperbaiki segalanya. Kumohon kembalilah pada Dalton.”

“Seharusnya segalanya tidak perlu terjadi. Dan tidak ada yang perlu untuk diperbaiki.” Nala sudah mulai dengan nada bicara seperti biasanya, terdengat seperti orang yang tidak peduli segalanya. Bahkan jika ada Anaconda di sampingnya, ia hanya perlu menyingkir tanpa perlu berteriak histeris seperti kebanyakan wanita.

“Aku dan Dalton,” ujar Marion. “Mungkin kau harus tahu sekarang. Dalton hanya obsesiku. Pada akhirnya, aku kembali pada seseorang yang mencintaiku. Dan Dalton, seharusnya ia bisa bersama seseorang yang tak pernah hilang dari hatinya. Aku tak bisa sepertimu, Nala. Kau tak harus belajar keras, kau tak harus berusaha menjadi teladan, dan kau bebas menentukan pilihan. Kadang aku iri. Tapi pada akhirnya aku tahu, aku tidak boleh begini. Kau sahabatku, yang terbaik yang pernah ada dalam hidupku.” Marion menatap Nala, untuk meyakinkannya.”Kembalilah seperti dulu.”

“Katakan padaku bagaimana cara menghidupkan rasa yang telah mati?” tanya Nala pelan. Ia berharap Marion tak punya jawaban untuknya.

“Bisakah kita memulainya dari nol?” Marion bertanya. “Anggaplah ini kali pertama kau dan Dalton bertemu. See?! Tidakkah kau berpikir aku dan Robert tak melewati saat seperti ini? Jika tidak, mungkin ini bukanlah pesta pre-wedding kami. Mungkin ini tak lebih dari reuni SMA kita saja.”

Nala tertawa, sejenis tawa lelah terpaksa. “Sayang sekali, honey….” Ia menyapukan jemarinya di rambut merah Marion yang membandel. “Hidup kita bukan seperti komedi romantis tontonanmu. Realistislah!”

“I need you to rethink about that. Aku akan kembali ke dalam, banyak tamu yang harus kutemui.” Marion menghela nafas panjang, lalu berkata ”Talk to him, please.” Marion memohon. “I’m begging you.” Dan Marion pun meninggalkan Nala yang kini membelakanginya.

“Nope! Aku lebih suka membenamkan diri di lautan dari pada bertemu dengannya.” Nala bicara dengan marah pada dirinya sendiri.

Marion menghampiri Robert dan Dalton yang masih berdiri di samping bar. Sekilas ia melihat memar semu yang berada di pelipis Dalton. Lalu beralih melihat Robert dan langsung menghujani tunangannya itu dengan pandangan menyalahkan. Marion tidak meminta Robert bertindak sampai sejauh itu. Namun sepertinya Robert tetap tidak ingin disalahkan. Robert tidak ingin harga dirinya turun hanya gara-gara tatapan Marion yang terlihat menghakiminya.

“Robert. Bisa kupinjam Dalton sejenak?” Marion masih memberikan tatapan tajamnya pada Robert, seolah memaksa Robert untuk meminta maaf padanya di kesempatan pertama.

Robert tidak menjawab pertanyaan Marion. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Ia langsung menjauh dari Marion dan Dalton untuk menemui tamu undangan yang lain.

“Kau bisa bicara dengannya sekarang, Dalton,” ujar Marion setelah memastikan Robert cukup jauh untuk bisa mendengar percakapan dirinya dan Dalton.

“Nala yang ingin berbicara denganku, atau kau yang memaksanya untuk bicara denganku?” tanya Dalton dengan nada menghakimi.

“Is that matter now?” Marion balik menyerang ucapan Dalton.

“Oke. Aku akan bicara dengannya.”

Dalton beranjak dari samping bar menuju dapur. Dari jauh ia melihat Nala sedang menatap microwave. Gadis itu tidak tahu Dalton sedang berjalan ke arahnya.

“Nalton!” setengah teriakan Dalton mengagetkan Nala.

Nala sangat mengenal suara itu. Dan lebih parahnya lagi, Nala merindukan suara itu. Seketika itu juga, ia langsung berbalik untuk melihat si empunya suara.

“Begitu mereka menyebut kita di High School, huh?!” Dalton masih berbicara denga nadanya sama, selalu menggoda. “Tidakkah kamu merindukan episode di saat masih bersama, saat masih saling jatuh cinta?”

Nala memasang pertahanan, tapi dia kebingungan tak tahu harus bagaimana. Jadi wajah angkuhnya adalah tameng terbaik yang dia punya. “Ada yang tak ingin melupakan masa lalu rupanya,” sindir Nala. “By the way…, senang melihatmu belum terpanggang di neraka.”

“Kau merindukanku. Itu, kan, artinya?” Dalton membalas dengan nada jahil seperti biasanya.

“Itu hal terakhir yang ingin kurasakan.”

“Dan aku orang pertama yang ingin mempercayainya.” Dalton tertawa renyah, ada beberapa orang di ruang tengah yang sempat menengok sebentar ke arah mereka. “Bisa kita bicara?”

“Kau pikir apa yang sedang kita lakukan?” tanya Nala. Sesaat kemudian, ia merasa tangan Dalton menyentuh lengannya. Masing-masing dari mereka merasakan sensasi yang mereka rindukan. “Hei! Sopan sekali kau! Menyentuh tanpa izin dikategorikan sebagai bentuk pelecehan seksual.”

“Kau terdengar seperti Robert. Membosankan.”

Nala membuang muka. Mereka terlihat seperti sepasang remaja yang tengah bertengkar.

“Come on!”

Dalton masih menatap Nala. Tatapannya memohon. Tapi Nala tak bisa menolak ketika Dalton membawanya menuju rooftop. Di sana, mereka duduk di tepi kolam, saling memandang.

“Apa yang kamu inginkan?” Nala bertanya cepat, dia ingin mengakhiri segalanya dengan mudah.

“Menikahlah denganku.” Dalton merogoh sakunya. Tanpa kotak beludru, benda mungil itu terlihat berkilauan di bawah cahaya bulan. Sayang, Nala tak terkesan.

“Please…,” Dalton memohon.

Nala ingin membuang muka. Tapi ketika mata Dalton bertemu pandang dengan matanya, tatapan mata pria itu seolah menghipnotisnya. Ia ingin berhenti terpesona, tapi tak bisa. Apalagi ketika ia teringat gambar permanen wajahnya di lengan kiri Dalton, ia hanya ingin tersenyum. Selanjutnya, Nala benar-benar tidak menolak ketika pada akhirnya bibir Dalton menyentuh bibirnya.

Dari kejauhan Robert dan Marion menatap mereka. Keduanya berharap malam ini kisah Dalton dan Nala akan seindah mereka. Walaupun sejujurnya, Robert masih menyimpan marah. tapi ketika dia melihat binar bahagia saat Marion menatap Nala dan Dalton, Robert memilih menyerah, dan memberikan ciuman hangat penuh cinta untuk kekasihnya.


— T H E  E N D —