Asa Asha

“Yang terjadi, kau akan mencabuti kelopak bunga pucat itu satu persatu, sambil bergumam ‘datang’ dan ‘tidak’ bergantian.”

Frappe dan Roti Bawang

“Bintang nggak pernah jatuh. Bintang cuma bergerak, berpindah tempat."

Menunggu Kereta

“Senang rasanya bisa duduk lagi di peron ini, Pram, menunggu kereta yang akan membawaku ke Cirebon.”

Perjalanan ke Lain Hati

“Sayang banget,” Raisa mencibir. “Kalo aja kamu mau membuka hati untuk cewek lain, aku yakin, kamu bisa dapet yang lebih dari dia, Jim.”

Kamila, Kamila

“Call me evil. Tapi, nyatanya aku senang jika ada perempuan lain yang menderita karena tidak jadi mendapatkanmu.”

Karena Cinta



Karena cinta adalah…

tiap tetes darah sang ibu

yang mengalir dalam tubuh sang janin


Karena cinta adalah…

tetesan peluh kakek renta yang bekerja keras untuk menghidupi satu - satunya cucu

yang telah ditinggal mati ayah bundanya


Karena cinta adalah…

pelukan hangat sang ibu

yang menenangkan tangis anaknya di hari pertama sekolah


Karena cinta adalah…

genggaman tangan sang suami ketika mendampingi sang istri

yang sedang melahirkan anak pertamanya


Karena cinta adalah…

lukisan abstrak dari anak berumur lima tahun

yang dipersembahkan sebagai kado ulang tahun untuk ibunya


Karena cinta adalah…

setiap kepingan dan lembaran uang

yang kita sumbangkan untuk para korban bencana


Karena cinta adalah…

perkataan dari seorang sahabat

yang membakar semangat ketika kita sedang terpuruk


Karena citnta adalah…

sebuah nasehat orang tua kepada anaknya

yang diucapkan ketika sang anak akan menempuh ujian di sekolah

Karena cinta adalah…

sesuatu yang berharga milik kita semua,

maka… jagalah dengan baik - baik cinta itu…

 
Denpasar, 170911

sumber gambar dari sini

artikel juga bisa dilihat di sini

Rp 750 Ribu Untuk Sepotong Kertas



    Arin gelisah. Duduknya tak tenang di hadapan meja belajar tua warisan ayahnya. Kembali ia membuka halaman buku rekeningnya, dipandangi angka yang tertera di sana, lalu menutupnya lagi. Ia bangkit dari kursi dan menuju ke dekat jendela. Disibaknya kelambu tipis yag terpasang di jendela itu. Ia melihat matahari sudah meninggi. Kemudian ia kembali duduk dan membuka lagi salah satu halaman di buku rekeningnya. Keputusannya sudah bulat.
    Arin keluar dari kamar. Ia mencari dimana sosok ibundanya berada. Ternyata sang ibunda sedang di ruang jahit. Ia pun mengambil kursi plastik lalu mendudukinya tak jauh dari posisi ibundanya.
    “Mak….”
    Ada getar ketika Arin bersuara. Sang ibu langsung menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Arin.
    “Ada apa, Nak?”
    “Mak. Aku pengen nonton konser musik.”
    “Konser musik?! Dimana? Emang itu konsernya siapa?”
    “Itu,” jawab Arin sambil menunjuk layar televisi yang kebetulan sedang menayangnya liputan tentang sang musisi.

Cerita Nisa : Aku Bukan Siti Nurbaya!!!



    “Nisa…. Menikahlah denganku. Akan kulunasi semua hutang ayahmu di lima bank itu,” pinta Arman.
    Nisa tidak menjawab. Kepalanya semakin tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan pria di hadapannya. Bulir – bulir bening telah menyeruak keluar dari mata indahnya. Nisa menangis.
    Hati Nisa remuk kala itu juga. Ternyata ini tujuan utama dari pertemuan yang telah dirancang oleh orang tuanya. Sebuah perjodohan dengan syarat yang menurut Nisa sangat absurd. Seharusnya orang tuanya tidak mengorbankan dirinya hanya untuk kepentingan hutang piutang.
    Hidup memang belum cukup adil untuk Nisa. Tapi ia harus tetap menjalaninya, demi keluarga.


***


Teruntuk kekasih hatiku…
Gerbang itu hanya sejengkal lagi dari hadapanku
Namun aku seolah tak bisa menjangkaunya
Tupai – tupai nakal sudah menggodaku untuk segera melangkah
Meninggalkanmu dalam kesendirian

Aku pergi bukan karena tak setiaku
Aku pergi bukan karena bosan dengan sayangmu
Mereka telah menukar diriku demi sebuah pengampunan
Mereka menganggapku tak ubahnya seperti barang dagangan
Aku takut… marah… sedih… kecewa… dan sakit…
Tak bisa aku dengan lantang berteriak dan menggeram
Aku berkubang dalam lumpur yang mereka sebut sebagai bakti
Dan aku tak bisa memintamu untuk menarikku dari kubangan lumpur yang pekat ini

Dan aku memang pergi bukan karena tak setiaku atau bosan dengan sayangmu
Jadi janganlah kau menangisi diriku
Jangan kau jual pula harga dirimu demi mendapatkan diriku kembali
Karena, walau raga ini menjadi milik seseorang di sana, tapi hatiku selalu untuk dirimu…


    Nisa melipat kertas surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Esok, setelah Arman berangkat ke kantor, ia akan pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat itu untuk Beni.


***


    Plaaakk!!!
    “Apa kau bilang? Kau ingin berpisah denganku?! Meski berjuta – juta kali kau minta hal itu dariku, aku tidak akan pernah mengabulkan keinginanmu,” teriak Arman.
    Nisa terpojok di sudut kamar, terduduk sambil memegangi pipinya yang pedih terkena tamparan Arman. Sambil terisak ia terus membela diri.
    “Tapi apalagi yang bisa dipertahankan dari pernikahan ini? Dari awal saja, niat kita menikah bukan karena cinta, Mas.”
    “Peduli apa soal cinta?! Kalau aku tidak menyelamatkan keuangan keluargamu, mungkin kau sudah berakhir menjadi tukang cuci piring di warung makan. Dan meskipun aku sudah melunasi hutang – hutang ayahmu di bank, aku masih bisa membuat keluargamu terpuruk di dasar jurang kemiskinan yang paling dalam. Camkan itu, Nisa!! Kau tidak mungkin lari dariku!!”


***


    Nisa mengambil sebuah cangkir dari rak piring. Ia lalu mengisi cangkir itu dengan kopi dan gula dan diseduh dengan air panas. Ia mengaduk kopi dengan tenang dan disertai senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.
    Nisa merogoh saku celananya dan mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening. Ia membuka tutup botol itu dan meneteskan cairan bening itu ke dalam cangkir. Kemudian ia mengaduk lagi kopi itu untuk terakhir kalinya.
    Nisa berjalan ke ruang makan sambil membawa cangkir berisi kopi itu.
    “Ini kopinya, Mas. Silahkan diminum.”
    “Iya, makasih,” sahut Arman sambil terus membaca koran.
    Arman tidak memperhatikan bahwa sedari tadi Nisa memakai sarung tangan plastik yang biasa digunakan ketika hendak mengolah ikan laut.
    Nisa kembali menuju dapur. Ia mengambil seikat kangkung yang tadi dibelinya di pasar. Ia dengan santainya memotong – motong batang kangkung.
    Setelah beberapa menit, tiba – tiba terdengar bunyi berdebam yang cukup keras. Seperti ada benda berat yang jatuh ke lantai. Tapi Nisa tidak segera mencari tahu asal bunyi itu. Ia hanya menunggu beberapa menit sambil memandang pemandangan di luar jendela dapur. Ia sudah tidak menyentuh kangkung itu lagi.
    Beberapa menit sudah berlalu, Nisa beranjak menuju kamarnya. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah tas jinjing yang tak terlalu besar. Tas itu berisi beberapa potong baju dan uang tunai 10 juta.
    Nisa keluar kamar dan berdiri memandang ke arah meja makan. Di lantai ada sesosok tubuh yang sudah tidak bergerak dan mulutnya mengeluarkan busa berwarna putih. Nisa merogoh saku celananya lagi dan memandang botol kecil berisi obat tetes mata itu sambil tersenyum.
    Rencana Nisa sudah berhasil. Kini ia bisa pergi dengan bebas.


sumber gambar dari sini

cerpen ini juga bisa dilihat di sini