Kisah Al dan Maya - Chapter Thirty Two (tamat)

13423739781269166312


Hari Minggu yang tidak biasa di salah satu unit apartemen Greenish Residence. Sore ini, Rosi dan Rhein akan berangkat ke Jakarta. Rosi sekaligus kembali ke Sydney setelah urusan pekerjaannya selesai. Sementara Al akan mengantar Maya kembali ke rumah.

Sudah lebih dari dua minggu Maya meninggalkan rumah. Selama itu juga, ia tidak bicara dengan sang ayah. Banyak yang ia ingin bagi dengan pria tua itu. Pria yang benar-benar telah menjadi orang tua baginya, mengajarkan banyak hal padanya, dan menghujaninya dengan kasih sayang tak terukur. Maya tidak pernah menganggap Dahlan sebagai orang asing, walaupun ada satu kekurangan. Dahlan tidak bisa menikahkan Maya di kemudian hari.

Pintu apartemen sudah dikunci dan anak kuncinya sudah dikembalikan ke front office. Rosi dan Rhein sudah sedari tadi berangkat, tapi Al dan Maya masih berada di basement. Mesin Vios hitam itu menyala, namun Al masih belum ingin melajukan mobilnya.

“Kenapa, Al?” tanya Maya.

“Nggak ada apa-apa.”

“Terus? Kok nggak jalan? Ntar keburu kena macet di jalan.”

Al tertawa. “Bandung selalu macet, May. Kecuali kamu jalan jam dua pagi.”

Maya merajuk. Ia membuang muka ke samping.

“Enggak, kok, Sayang,” Al meraih jemari Maya. “Aku cuma pengen ngobrol sebentar.”

“Kan, bisa nanti di rumah,” sahut Maya.

“Di sini aja.”

“Emang mau ngomong apaan?”

Al membuka dashboard mobilnya, mengambil sesuatu yang tebal dan bersampul biru laut. Maya terkejut. Bagaimana buku hariannya bisa sampai ke tangan Al?

“Maaf. Nggak ijin dulu,” kata Al sambil menyerahkan buku harian itu kepada si empunya.

“Gimana bisa…?” Maya tercekat.

“Nggak perlu diceritain, ya?! Yang penting, kan, bukunya udah balik ke kamu.”

Maya tambah merajuk. Sambil bersungut-sungut di dalam hati, ia membuka-buka halaman buku hariannya. Maya punya pikiran, pasti ada yang berubah. Dan, Maya menemukan halaman yang tadinya kosong, kini telah terisi dengan tulisan yang bukan miliknya. Maya melihat ke arah Al. Ia ingin berteriak menyalahka Al, tapi rasa penasaran terhadap isi tulisan itu telah mengurungkan niat Maya.

Kita boleh saja bertengkar, mempermasalahkan hal klasik bernama strata sosial dan ekonomi. Tapi, aku rela melepas strata apa pun itu, demi bisa bersanding denganmu, Maya. Terdengar absurd?! Mungkin iya. Mungkin juga aku terlalu memaksakan diri. Tapi, apa ada hal logis dalam percintaan? Hal logis menurutku adalah, kau dan aku, kita berdua menjalani hidup bersama selepas ijab qabul. Bersedia?

Lepas membaca kalimat terakhir, Maya berpaling kepada Al dan bertanya, “Ini apa?”

“Ya… itu,” jawab Al kebingungan. Sejujurnya bukan itu reaksi yang ia harapkan.

“Maksudnya?” Maya masih belum paham.

“Maksudnya…,” Al merogoh saku celananya, “ini.” Al menyodorkan sebuah kotak cincin berwarna hitam.

Mata Maya terbelalak. Namun, detik berikutnya, ia menahan pekik gembira. Ia menerima kotak cincin itu dan segera membukanya. Lalu, ia terkejut untuk yang kesekian kalinya sore ini. Cincin yang Al berikan adalah cincin impiannya. Bentuknya sangat sederhana. Tidak ada batu mulia yang menghias di sana. Hanya ada ukiran dua nama anak manusia di lingkar dalamnya: Al & Maya. Maya heran, Al masih mengingat apa yang sebenarnya hanya menjadi selingan sebuah obrolan ringan. Karena, waktu itu belum terpikir sedikit pun segala tetek bengek pernikahan.

“Ya, ampun, Al. Aku pikir, aku akan dilamar di restoran mewah, pas acara makan malam romantis, pake lilin dan iringan musik. Ternyata kejadiannya di sini, di tempat parkir.” Maya menepuk dahinya. “Nggak romantis banget, Al.”

Al tertawa kecil. Ia tidak tersinggung dengan ejekan Maya. Ia hanya tersipu malu sambil menunduk.

“Jadi gimana jawabannya?” tanya Al malu-malu.

Maya berpikir sejenak, lalu bertanya, “Boleh pinjem bolpen?”

“Buat apa?”

“Mana bolpennya?” Tangan Maya menengadah.

Al mengambil pena dari laci dashboard dan memberikannya kepada Maya. Maya menerima pena Al dan langsung menuliskan kalimat singkat di bawah tulisan Al.

Ya. Aku bersedia. Kapan kita menikah?

Maya memperlihatkan tulisannya kepada Al. Giliran Al yang terbelalak setelah membaca tulisan Maya.

“Secepatnya,” Al langsung menjawab pertanyaan yang ditulis Maya. “Kita selesaikan dulu apa yang diminta Mamamu. Ingat,” raut wajah Al langsung berubah, “mungkin kita akan susah membujuk Mama agar mau menemui Mamamu di Jakarta. Sementara Mamamu minggu depan harus terbang lagi ke Sydney.”

Maya mengangguk. “Aku lebih khawatir soal Rhein, Al. Ada kemungkinan dia masih syok.”

Al menepuk bahu Maya. “Adikmu itu gadis yang kuat. Dia hanya korban keegoisan orang dewasa seperti Mamaku. Aku yakin, karena peristiwa ini, Rhein makin dewasa dalam berpikir. Dan, aku lihat, ternyata dia senang mendapatkan kamu sebagai saudaranya.”

Lima belas bulan kemudian….

Berta keluar dari ruangan kantornya. Ia melongok sebentar ke arah dapur. Tidak ada yang berantakan. Ia berlanjut menengok ke tempat penyimpanan peralatan makan. Ia melihat ada satu pegawai saja yang sedang bekerja. Ia menghampiri si pegawai yang kebetulan adalah siswi dari sekolah menengah kejuruan yang sedang magang.

“Yang tugas di sini siapa aja hari ini?”

Tiba-tiba Berta sudah berada di samping si pegawai magang. Si gadis tadi terkejut. Beruntung, sendok-sendok yang ia pegang tidak berhaburan ke lantai.

“Eng…. Anu, Bu. Yang piket sekarang saya sama Teh Dona. Tapi, Teh Dona barusan ke toilet,” jawab si gadis sambil gemetaran.

“Hmm…. Ya, sudah.”

Berta menyingkir dari ruang penyimpanan peralatan makan. Kini ia menuju ruangan utama restoran. Ia berdiri di samping konter kasir. Ia menyapu seluruh ruangan dengan pandangan puas.

Ya, benar. Kini ia berada di sebuah restoran di Jakarta. Bukan sebagai pemilik, hanya sebagai kaki tangan si empunya restoran, yang tak lain adalah Rosi. Ini sebagai sebuah konsekuensi yang harus diterima Berta. Rosi bersedia melunasi hutang Berta dalam tempo enam bulan dengan dua syarat mutlak. Pertama, operasional kebun teh berpindah ke tangan Rosi selama sepuluh tahun. Maksudnya, Berta tetap tertulis sebagai pemilik perkebunan itu, namun Rosilah yang menjalankan – mengelola dan mengambil 60% keuntungan kebun. Kedua, Berta harus bekerja mengurusi salah satu restoran Rosi di Jakarta. Itu berarti, Berta harus bersedia tinggal di Jakarta.

Awalnya Berta menolak solusi itu. Namum, ia diingatkan akan fakta, ia tidak akan mampu melunasi hutang meskipun ia menjual perkebunannya. Padahal, ia sudah berjanji pada kedua orangtuanya akan berusaha mempertahankan kebun walau dalam posisi terjepit sekalipun. Sulit bagi Berta untuk menerima kenyataan itu. Bahkan, ia tidak menanggapi usulan itu sampai berminggu-minggu lamanya. Sampai pada suatu pagi, tiba-tiba Berta terbangun dengan kesadaran penuh. Matanya nyalang menatap foto suaminya yang terpajang di dinding kamar. Lalu, bayangan-bayangan akan masa depan langsung belingsatan di benak Berta. Ia bahkan membayangkan jika ia harus hidup dengan bergantung pada Al. Itu pun kalau Al mau membantunya. Kejadian pagi itu ditutup dengan tersambungnya panggilan internasional ke Sydney.

Sekarang hutang Berta sudah lunas. Ia tidak kehilangan kebun tehnya. Ia hanya kehilangan sebagian besar pendapatannya dari kebun teh. Sepuluh tahun memang lama. Tapi, itu jauh lebih baik dari pada kehilangan harta keluarga.

“Selamat pagi, Bu Berta,” sapa pegawai di bagian kasir.

“Selamat pagi,” sahut Berta. “Gimana pemasukan pagi ini?”

“Baru separuh omset, Bu. Tapi, sebentar lagi jam makan siang, kemungkinan besar kita udah bisa nyampe ke target.”

“Bagus. Berterimakasihlah kepada tim promosi.”

Berta kembali ke ruang kerja. Hari ini dia harus mengecek pembukuan yang telah disusun akuntan. Tapi, ketika pintu terbuka, ia melihat Al dan Maya sudah berada dalam ruang kerjanya.

“Kapan kalian dateng?” tanya Berta.

“Baru aja, Ma,” jawab Maya. “Tadi Mama lagi ngecek ke dapur. Terus, kata waiter, kita disuruh langsung ke sini.”

Berta duduk di balik meja kerjanya. “Kalian udah mau berangkat ke Bandung?” tanya Berta sambil membuka-buka dokumen yang tertumpuk di mejanya.

“Iya, Ma,” jawab Al.

“Kapan kalian ke sini lagi?”

“Mungkin bulan depan,” jawab Maya. “Rhein minta ditemenin selama dia ujian nasional. Tapi, cuma Maya aja yang nginep. Al cuma nganter, terus balik lagi ke Bandung.”

“Jam berapa tadi Mamamu take off, Maya?”

“Jam enam lebih sepuluh menit,” jawab Maya.

Berta mengabaikan sejenak dokumen-dokumennya. Matanya kini menatap Al dan Maya, pasangan yang menikah tujuh bulan yang lalu. Raut wajah Berta berbeda dengan yang dulu. Kini ia lebih tenang, lebih bisa mengontrol emosi. “Makasih, ya,” ujarnya tiba-tiba.

Al dan May bingung.

“Makasih buat apa, Ma?” tanya Al.

“Buat semuanya. Kalau bukan karena paksaan kalian, mungkin Mama nggak ada di sini sekarang. Mungkin juga, Mama udah nyusul Papa.”

“Mama ngomong apa, sih?” tanya Al. “Nggak usah ngomongin yang udah-udah. Lagian, Mama seharusnya berterima kasih sama tante Rosi.”

“Sudah. Tapi, rasanya Mama belum puas kalau belum ngomong sama kalian.”

“Sudahlah, Ma,” sahut Maya. “Dengerin kata Al. Nggak usah ngomong yang udah lewat.”

Berta tersenyum dan mengangguk.

Di mobil, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, Maya lebih banyak diam dibanding biasanya. Wajahnya sedikit pucat dan hampir selalu tidak menghabiskan makanannya beberapa minggu terakhir. Al jelas khawatir.

“Kenapa diem aja, May?”

“Nggak apa-apa.”

“Jangan ngeles.”

Maya melihat Al, dan ia tersenyum. “Emangnya aku keliatan lagi ngeles?”

Al melihat kerling jahil di sudut mata Maya. “Oh, come on. Ada apa sebenernya?”

Maya merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda sepanjang batang es krim dan menyodorkannya kepada Al. Ternyata itu alat uji kehamilan. Ketika Al menerima alat itu, ia langsung menduga apa yang hendak Maya sampaikan.

“Beneran?” tanya Al bersemangat.

Maya mengangguk.

“Alhamdulillah. Udah berapa minggu?”

“Besok kita sama-sama cari tau ke dokter,” jawab Maya.

Al tersenyum. Ia merasa segalanya semakin lengkap sekarang.

THE END

Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment