Kisah Al dan Maya - Chapter Thirty One

13423739781269166312


previous chapter

Rhein menghambur ke ranjang empuk berlapis sprei biru muda. Ia ingin sekali menangis, tapi tidak bisa. Padahal ia merasa hatinya teriris-iris setelah mendengar pengakuan Berta. Namun, kini otaknya yang lebih banyak bekerja dibanding hatinya. Banyak pertanyaan di benaknya, sebagian besar soal kebenaran pengakuan Berta. Ia tahu, jaman sekarang, uang telah mengusai hampir setiap hati manusia. Ia juga berpikir, bagaimana jika ia di posisi Berta. Sepertinya ia akan meniru cara Berta mendapatkan uang.

Tapi, kenapa tante Berta tidak mencari suami lagi – pikir Rhein – yang kaya raya, yang tidak khawatir kekurangan satu apa pun. Kenapa pula keluargaku yang harus menjadi korban? Kalau Mama tak sekaya yang tante Berta tahu, apa perjodohanku dengan Al akan tetap ada? Mungkin tidak, karena itu akan percuma. Dia tidak akan mendapatkan uang dari pernikahan itu. Pantas saja tante Berta sangat terpukul dengan kematian Maya Larasati, karena itu berarti dia kehilangan kesempatan menjadi besan dari eksportir furnitur rotan yang punya omset puluhan milyar tiap bulannya. Ah, apa aku harus menceritakan semua pada Mama. Kupikir, Maya juga perlu tahu. Tapi, kelihatannya mereka memang saling menyukai, walaupun aku belum pernah melihat kemesraan mereka. Apa karena ada aku, mereka jadi menjaga jarak? Sebenarnya aku tidak peduli jika mereka sampai menikah. Tapi…. Ah, kenapa aku malah merasa kasihan pada Maya?

Rhein berusaha menata semua pertanyaan itu, mengorek-ngorek jawabannya di kotak memori, lalu berharap kesimpulan akan segera muncul. Hanya saja, pikir Rhein, semuanya membuat aku mengantuk. Sangat mengantuk.

Rhein pun terlelap, ditemani udara sejuk yang keluar dari pendingin ruangan.

“Rhein…. Rhein….”

Seseorang yang kedengarannya berada jauh dari posisi Rhein berdiri, memanggil-manggil dirinya dengan lantang. Rhein mencari-cari sumber suara itu dan menemukan wajah Maya di sela-sela rimbun bunga kertas.

“Ngapain elu di situ?” Rhein bertanya seolah sebuah kesalahan jika Maya berada di sela rimbun bunga kertas itu.

“Kamu gadis yang baik,” ujar Maya.

“Elu ngomong apa, sih?” Rhein berbalik dan menjauhi Maya.

“Tunggu, Rhein,” Maya meraih tangan kiri Rhein.

“Ada apa?”

“Aku mau bilang sesuatu sama kamu,” jawab Maya.

To the point aja,” sahut Rhein yang masih sedikit kesal.

“Aku…,” Maya ragu sejenak, “aku…. Ehm, gini. Kalau emang kamu ngerasa nggak nyaman sama aku, aku akan mundur.”

“Mundur? Maksudnya?”

“Aku akan menjauh dari kalian,” ujar Maya dengan mantap, dengan binar keseriusan di matanya, dan air muka tanpa ragu.

“Menjauh gimana maksudnya?” Rhein makin bingung.

Maya malah tersenyum dan seolah tubuhnya berubah menjadi transparan. Rhein mencoba menyentuh tubuh Maya, tapi tidak bisa. Ia seperti menampar udara di depannya.

“Maya…. Elu jangan becanda, deh. Maksud lu apa? Gue nggak ngerti.” Rhein cemas, karena sekarang Maya hampir hilang dari pandangannya. “Maya!” seru Rhein, tapi Maya tak bereaksi. Ia terus menyebut nama Maya, berusaha mengembalikan wujud Maya. Suaranya melemah dan ia terduduk di dekat rimbun bunga kertas.

“Rhein…. Rhein….”

Rhein mendongak. Suara itu lagi, gumamnya dalam hati. Tapi, ia tidak mendapati sesiapa pun di dekatnya. Ia benar-benar sendirian, dengan suara seseorang memanggil namanya. Ia kembali meringkuk ketakutan. Ia dekap lututnya dan mulai menangis.

“Aku tahu aku salah, Maya. Tapi, tolong jangan hukum aku seperti ini.”

“Rhein…. Rhein…. Bangun, Rhein.”

Mata Rhein terbuka. Ia tidak berada di dekat rimbun bunga kertas. Ia berada di kamarnya, tertidur di ranjang, dan bermimpi. Mimpi yang mendekati buruk, pikir Rhein. Lalu, ia menengok ke samping, Maya sudah duduk di tepi ranjang dan ia melihat ibunya sedang berkacak pinggang di dekat pintu.

“Pinter, ya, Rhein!” seru Rosi. “Kamu enak-enak tidur, tapi pintu depan nggak dikunci!”

Rhein tahu, ini bukan saatnya membantah. Tapi, ia jengkel dengan sikap ibunya yang selalu menyalahkan. Ia memang lupa mengunci pintu. Ia bahkan tak sempat berpikir untuk mengunci pintu. Berta telah menyita perhatian seluruh sel otaknya.

“Kamu tau?! Tadi Mbak Rara telepon Mama. Katanya dia dapet undangan dari sekolah untuk bicara soal kelakuanmu. Ternyata kamu itu hobi bolos, ya?! Mbak Rara bilang, kamu selalu membujuk dia supaya nggak bilang ke Mama. Ya,Tuhan. Rhein…. Apa jadinya kalo papamu tau kelakuanmu?”

Sorry, Ma,” jawab Rhein lemah.

“Kapan kamu mau balik ke Jakarta?”

Rhein cuma diam dan menggeleng pelan.

“Ah, kamu selalu aja gitu, Rhein. Mama capek sama kamu.” Rosi keluar dari kamar Rhein.

“Jangan terlalu diambil hati, ya. Mama cuma nggak pengen kamu jadi orang yang selalu teledor. Bahaya, kan, kalo kamu lupa ngunci pintu. Kalau ada barang-barang yang hilang, gimana?” Jeda sejenak. “Mama juga nggak kepengen kamu dikeluarin dari sekolah cuma gara-gara bolos. Sayang banget, kan, uang yang udah dikeluarin. Dan, itu juga bukan pengalaman bagus untuk diceritakan.”

Rhein berusaha tersenyum. Entah mengapa, di hadapan Maya kali ini, ia merasa seperti adik kecil yang manis yang baru saja melakukan kesalahan besar. Dan, Maya adalah sang kakak yang siap membela sang adik dari amuk ibunda mereka. Ah, bukankah itu memang kenyataan yang terjadi sekarang, gumam Rhein dalam hati.

“Oya, boleh tanya sesuatu?” lanjut Maya.

Rhein mengangguk. Ia sedikit merapatkan selimutnya ke dagu.

“Tadi waktu kamu tidur, kamu manggil-manggil namaku.”

“Oya?!”

Maya mengangguk. “Abis mimpi apa?”

Rhein diam, berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi di otaknya ketika tidur. Ia ingat, ia memang bermimpi. Tapi, ego remaja kembali menguasai dirinya. Ia malah memunggungi Maya dan berkata, “Bukan urusanmu!”

Hati Maya sebenarnya ingin berontak dengan sikap dingin Rhein. Hanya saja, ia tahu itu tidak akan berhasil membuat Rhein ‘melihat’ dirinya. Maya mengalah. Ia memilih keluar dari kamar dan membiarkan Rhein sendirian.

***

Sore yang mengagumkan. Ketiga perempuan berbeda usia kini berkumpul dalam satu tempat. Di meja makan, tersaji rijst vlaai kedua untuk minggu ini. Maya dan Rosi duduk bersebelahan, sementara Rhein duduk agak jauh dari keduanya. Ada perkembangan bagus sore ini, Rhein ikut duduk di ruang makan bukan karena paksaan Rosi. Sebenarnya Rhein ingin sekali menceritakan pengalamannya tadi siang, ketika ia bertemu Berta. Tapi, ia merasa masih ada yang mengganjal di kerongkongannya. Kata-kata masih tercekat di sana, sulit untuk memulai. Apalagi ia melihat Maya dan Rosi sedang dalam air muka yang jauh dari kesusahan.

“Rhein,” panggil Rosi. “Kamu nggak suka cakenya? Dari tadi Mama liat kamu ngelamun terus.”

“Ah, enggak, Ma. Rhein suka, kok,” kata Rhein sambil menyuapkan potongan rijst vlaai ke mulutnya. “Mama, kan, pernah bikin kayak gini juga waktu di Jakarta.”

“Seharian kamu ngapain aja di rumah?” tanya Rosi.

Rhein tidak menjawab. Ia meletakkan lagi sendoknya di piring. Bergantian ia memandang ibu dan kakak perempuannya. Ada keinginan untuk menghambur ke pelukan Maya, tapi terganjal oleh ego remaja yang masih tinggi. Ia pernah berharap memiliki saudara kandung, walaupun yang diinginkan Rhein adalah saudara laki-laki. Tapi, begini pun sama saja, pikir Rhein. Rhein mulai bosan dengan kesendirian.

“Ma…,” ujar Rhein.

“Ya?”

“Berapa banyak total uang Mama?”

Sungguh pertanyaan yang mengejutkan. Rosi sampai mengerjap-ngerjapkan matanya karena ia pikir gadis yang ia ajak bicara itu bukan Rhein. Tidak. Rhein bukan bertanya seolah-olah gadis itu sudah tahu jawabannya. Bukan pula seperti ingin menyombongkan kepada orang yang tidak percaya akan kekayaan itu. Rosi merasa, Rhein memang sedang ‘bertanya’ dan gadis itu benar-benar membutuhkan jawaban.

Something happened, Dear?” tanya Rosi yang kini berpindah duduk di sebelah Rhein. Maya pun ikut mendekat. Dan, Rhein tidak keberatan.

Yeah. Something happened,” gumam Rhein.

Then, tell us,” sahut Rosi.

I’m afraid, Ma.”

Afraid of what?”

Rhein menggeleng. Di sudut matanya sudah menggenang cairan bening.

Can I hug you?”

Rhein tidak bertanya pada Rosi. Ia bertanya pada Maya. Tentu saja Maya kaget dengan perubahan sikap Rhein. Baginya, itu terlalu drastis. Baru saja tadi pagi Rhein menolak diajak pergi bersama. Sekarang malah Rhein yang menginginkan sebuah pelukan. Ingin sekali Maya bertanya, ada apa. Tapi, ia urungkan. Lebih baik pikirnya untuk menuruti dulu permintaan Rhein. Jadi, Maya mengangguk dengan mantap.

Keduanya saling peluk. Tak ayal itu membuat Rosi terharu. Meskipun di otak Rosi tetap saja banyak pertanyaan bertebaran. Kira-kira apa yang dialami Rhein tadi siang, gumamnya dalam hati.

“Kenapa kamu nanya soal uang Mama?” Maya memberanikan diri bertanya setelah melepaskan diri dari pelukan Rhein.

“Kalo Rhein cerita, mungkin kalian nggak bakalan percaya.”

“Tapi, gimana Mama bisa berusaha percaya kalo kamu belum cerita sama sekali,” sahut Rosi.

Rhein meraih gelas air putih dan meneguknya sampai habis.

“Tadi siang tante Berta ke sini.”

“Ke sini?!” potong Rosi.

“Iya. Tapi, nggak sampe masuk. Tante Berta ngajak ketemuan di basement. Tadinya juga mau jalan, nyusul Mama sama Maya ke BSM. Cuma, pas Rhein nanya sesuatu ke tante Berta, tante Berta malah nggak jadi ngajak pergi. Akhirnya kita cuma ngobrol di dalam mobil.”

Rosi diam, masih menunggu Rhein meneruskan ceritanya. Sambil membelai rambut hitam Rhein, ia memberi isyarat pada Maya agar membereskan sisa rijst vlaai di loyang dan yang tersisa di piring milik Rhein.

“Ma. Mama tau nggak kalo tante Berta itu perokok?”

“Hah?! Ngerokok?”

“Iya, Ma,” seru Rhein. “Gayanya ngerokok itu kayak yang udah biasa banget. Cara megang rokoknya, cara dia ngisep rokoknya. Pokoknya, Mama nggak bakal kaget kalo liat langsung.”

“Terus?!” Rosi penasaran.

Rhein melihat Maya sudah bergabung lagi di meja makan, selepas membereskan piring-piring tadi.

“Rhein nyesel.”

“Nyesel kenapa?” tanya Maya.

“Harusnya Rhein nanya sendiri ke Mama, bukan malah nyari tau lewat tante Berta.”

“Soal apa sih?!” Rosi makin penasaran. “To the point aja, Sayang.”

“Rhein nanya soal Maya ke tante Berta.”

“Hah?! Maya terkejut.

Sorry,” kata Rhein pelan.

Lalu, tanpa diminta lagi, Rhein menceritakan semuanya kepada Rosi dan Maya. Setelahnya, raut wajah Rosi berubah datar. Ia bangkit dari duduknya.

“Mama mau mikir dulu malam ini. Kalian berdua jangan ganggu Mama.”

Rosi masuk ke kamarnya. Terdengar suara anak kunci beradu dengan liangnya. Rosi benar-benar tak ingin diganggu.

***

Pagi yang dingin. Bukan karena hawa yang dihamburkan dari mesin pendingin ruangan, tapi karena di luar sedang gerimis. Maya sudah sedari tadi terjaga. Ia sedang membuat teh hangat dan memanaskan rijst vlaai yang tersisa semalam. Di kursi tinggi, Rhein duduk sambil menopang dagu, memperhatikan semua gerak gerik Maya. Lalu, tiba-tiba terdengar suara anak kunci di putar.

Rosi keluar dari kamar dengan wajah lesu dan kantung mata menghitam. Ia benar-benar tidak tidak tidur semalam. Ia bergabung denga kedua anaknya di dapur.

Maya segera menyodorkan cangkir untuk diisi teh hangat dari teko.

“Mama nggak tidur?” tanya Rhein.

Rosi mengangguk. Ia menyesap tehnya dan menghela napas panjang.

“Kenapa, Ma?” giliran Maya bertanya.

“Kita harus undang Al ke sini nanti malam.” Rosi tidak mengindahkan pertanyaan Maya. “Kita akan bicara banyak.”

“Banyak? Apa aja, Ma?” tanya Maya lagi.

“Ya…, banyak. Yang jelas, Mama udah punya solusi,” jawab Rosi.

--- bersambung ---

Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment