Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty Three

13423739781269166312



“Putus?” tanya Al dengan lirih.

Maya mengangguk.

“Kenapa?”

Maya menunduk, jemarinya memainkan bagian bawah blus corak kembang dengan gugup. Pelupuk matanya digenangi cairan bening.

“Nggak tau, Al. Aku cuma mulai merasa… segala yang terjadi pada kita nggak sesuai dengan apa yang kita harapkan.”

“Itulah alasannya kenapa kita harus berjuang, May. Kita nggak boleh berhenti di tengah jalan. Kalo menurutku sendiri, kita hampir belum memperjuangkan apa-apa.”

“Tapi, Al…,” potong Maya, “seandainya aku bukan anak kandung Ibu Rosi, apa Mamamu masih mau nerima aku?”

“Maya….”

“Itu juga yang aku tanyakan ke Mama beberapa hari lalu, ketika beliau datang kemari.”

“Mama ke sini?”

“Iya.”

“Sama siapa?”

“Sendiri.”

“Sendiri? Kok bisa? Padahal aku belum ngasi tau alamat sini ke Mama.”

“Al…. Nggak mungkin Mama lupa tempat ini, walopun terakhir beliau kemari dua puluh tiga tahun yang lalu.”

Hawa siang makin terasa. Kemeja Al sedikit basah di bagian punggung. Ia menunduk, pura-pura memperhatikan lantai teras, padahal pandangan jauh menembus lapisan semen kasar itu. Mau tak mau, saat ini pikirannya sedang meloncat ke beberapa bulan yang lalu, ketika ia merasa Tuhan sedang mempermainkan dia. Sebuah kebetulan yang tidak bisa disebut kebetulan. Dua gadis yang disajikan Tuhan secara beruntun, membuat ia merasa hidup dengan menaiki jet coaster setiap saat. Naik dan turun, tegak dan miring, gerak cepat dan gerak lambat. Semuanya serba tak terduga.

“Aku percaya… dan sangat yakin,” ujar Maya memecah keheningan, “hidupmu akan jauh lebih indah, Al. Bukan bersamaku, tapi dengan gadis yang disiapkan Mama.”

Al kaget. Ia merasa belum pernah bercerita apa-apa soal Rhein kepada Maya. Di otaknya muncul pertanyaan, dari mana Maya tahu soal Rhein. Mungkinkah sang ibu yang menceritakan perihal Rhein kepada Maya?

“Nggak usah sok bingung gitu, Al,” sambung Maya sambil melempar senyum yang sedikit dipaksakan. “Pria sepertimu tidak mungkin dibiarkan memilih sendiri wanita untuk dijadikan istri. Biasanya orangtua akan ikut campur tangan. Perjodohan ini, perjodohan itu. Merger bisnis ini, bisnis itu. Itu sudah biasa, Al. Nggak cuma terjadi di sinetron.”

“Tapi, kamu tahu aku nggak bakal mau dijodohin, Maya.”

“Aku tahu, Al.” Maya memberanikan diri menatap Al sekarang. “Tapi, kamu juga nggak bisa apa-apa buat menentangnya. Kamu anak tunggal, dan itu bakal bikin kamu nggak punya pilihan lain. Dijodohkan, atau dicoret dari daftar pewaris harta keluargamu.”

“Aku nggak peduli uang, May.”

“Kamu bisa bilang gitu sekarang. Tapi, apa kalimat itu bakal berlaku kalau kamu jadi nikah sama aku? Hidupku seperti ini. Apa kamu sanggup menjadi seperti aku dan bapak?”

“Maya. Kamu lupa? Aku udah kerja. Aku punya posisi bagus. Aku punya gaji besar. Aku bisa menghidupi kamu. Lebih dari cukup. Bahkan kalau perlu, bapak berhenti bekerja dan ikut dengan kita.”

“Ini udah siang, Al. Kamu nggak kerja?” Maya berusaha mengalihkan perhatian. Ia mulai jengah dengan pembicaraan ini, yang seolah susah dicari ujungnya.

“Nggak usah ngomongin yang lain dulu.” Rupanya Al sadar, Maya berusaha membuatnya pergi. “Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kamu ngasi tau alasan yang kuat kenapa kita harus putus.”

“Al….” Maya menghela napas panjang. “Kamu jangan lupa, keluargamu punya pengaruh besar. Aku yakin, Mama akan berusaha mencari cara agar kamu jatuh, dan akhirnya mau menerima perjodohan itu.”

“Sekejam itukah Mama di matamu, Maya?!”

“Ya,” tegas Maya.

“Mama nggak sekejam yang kamu bayangkan, Maya. Kamu ingat waktu di rumah, kan, Mama bisa bersikap baik ke kamu.”

“Iya. Tapi, apa Mama bisa bersikap seperti itu terus ke aku? Nggak ada yang bisa menjamin, Al.”

“Kita, kan, nggak perlu tinggal di sana, May. Aku sudah punya tempat tinggal sendiri. Jadi, kalaupun Mama nggak juga mengubah sikapnya ke kamu….”

“Al!” potong Maya. “Nggak usah cari-cari alasan lagi. Aku tetap dengan keputusanku. Kita harus pisah. Kamu setuju atau enggak, aku nggak peduli.”

Maya berdiri, lalu beranjak masuk tanpa mempedulikan Al yang masih duduk di amben dengan raut terkejut. Maya bahkan sengaja memutar anak kunci agak kasar agar suaranya didengar oleh Al.

Kalau saja Al tidak ingat setelah jam makan siang ada janji bertemu dengan rekanan bisnis di kantor, ia pasti akan bertahan di teras rumah Maya sampai langit menggelap. Ia akan terus membujuk Maya, apa pun caranya. Ia tidak rela Maya begitu saja memutuskan apa yang sudah terjalin selama beberapa bulan terakhir. Sungguh ia tidak rela!

***

“Ada tamu, Nyonya,” kata Bu Sari.

Berta mendongakkan kepalanya, diabaikannya sebentar lembar laporan yang baru saja ia terima dari kaki tangannya di perkebunan.

“Siapa?” tanya Berta.

“Ehm…. Anu…. Itu….” Entah apa yang menyebabkan Bu Sari gelisah.

“Siapa?” tegas Berta.

“Ini saya, Teh.”

Tiba-tiba sebuah suara muncul dari ambang pintu ruang kerja Berta. Suara wanita dewasa yang sekilas terdengar seperti suara renyah gadis manis. Suara yang baru beberapa hari lalu Berta dengar di sambungan telepon internasional. Suara Rosi Meilani.

Bu Sari mundur perlahan, membiarkan Rosi memasuki ruang kerja Berta, lalu ia keluar ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu, Berta memandang tak percaya kepada subjek di hadapannya. Seolah apa yang ia lihat bukan wujud asli Rosi.

“Teteh….”

Berta berdiri, menghampiri Rosi, dan memeluknya lama sekali. Sesuatu yang hampir bertahun-tahun lalu ia lakukan terhadap Rosi.

“Teteh. Ada apa? Kok tiba-tiba meluk Ros begini?”

Berta akhirnya melepaskan pelukannya. Ia membimbing Rosi untuk duduk di sofa kulit biru muda.

“Kenapa kamu nggak bilang-bilang dulu kalo mau ke sini, Ros? Teteh pikir kamu nggak jadi balik ke Indonesia.”

Rosi tersenyum. “Tadinya emang iya, Ros baru balik ke sini sekitar tiga bulan lagi. Tapi, kata-kata teteh di telepon bikin Ros penasaran. Jadi, dua hari setelah teteh telepon, Ros bilang sama Mas Ronald kalo teteh minta Ros ke Bandung. Mas Ronald ngasi ijin. Ya, udah, Ros langsung cari tiket ke Jakarta.”

“Sebenernya teteh nggak ngarep kamu datang secepat ini, Ros. Tapi, anyway, kamu sehat?”

“Sehat, Teh. Sebelum ke Bandung, Ros sempat nengok Rhein di Depok. Dia juga kaget liat Ros. Soalnya, Rhein juga taunya Ros bakal ke Indonesia tiga bulan lagi.”

“Terus, gimana kabar Rhein?”

Well…. Teenager. Yah, begitulah kelakuannya. Mulai banyak tingkahnya,” jawab Rosi. “Jadi…, sebenernya ada apa, Teh?” lanjutnya.

Berta diam. Matanya meneliti wajah penasaran Rosi, sementara hatinya sedang bersiap menyampaikan kabar kepada Rosi. Bagi Berta, kabar yang akan disampaikannya nanti merupakan kabar buruk. Entah bagi Rosi, pikir Berta. Jika bisa memilih, Berta ingin menekan tombol backspace agar semua yang tidak sesuai dengan harapan bisa ia hilangkan, termasuk saat ini.

“Kita harus memikirkan ulang soal pernikahan Al dengan Rhein.”

“Maksudnya, Teh?”

“Dipercepat saja. Ini demi keluarga kita.”

“Teteh!” pekik Rosi tertahan. “Teteh ini kenapa sih, kok tiba-tiba ngomongin pernikahan Al sama Rhein? Rhein masih kelas sebelas, Teh. Teteh lupa? Atau, Al yang kebelet nikah? Kalo emang kebelet, sok atuh nikah sama perempuan lain aja. Ros nggak apa-apa kalaupun Rhein nggak jadi nikah sama Al,” cecar Rosi penuh amarah. Napasnya memburu, tangannya gemetar.

“Bukan gitu, Ros. Teteh juga nggak mau menikahkan mereka cepat-cepat, Ros. Tapi, sekarang keadaannya mendesak. Kalau itu nggak kita lakukan, Al akan menikah dengan Maya.”

“Maya?! Ya, sudah atuh, biarin aja. Maya, kan, juga anak Ros.”

“Ros!” Giliran Berta yang meninggikan suaranya. “Maya itu lahir di luar nikah. Apa kamu pengen orang lain tau hal itu? Apa kamu pengen Ronald juga tau hal itu?!”

Rosi agak terkesiap mendengar pertanyaan Berta. Ia pun tidak siap dengan jawabannya. Tangan Rosi makin bergetar dan detak jantungnya meningkat. Apa yang dikatakan Berta memang benar. Selama ini dia menjaga agar jangan sampai fakta itu diketahui orang lain. Jika ia membiarkan Al menikahi Maya, maka bukannya tidak mungkin fakta itu akan menyebar lebih cepat. Itu akan merusak reputasi tidak hanya dirinya dan keluarga, tapi juga reputasi keluarga besar Berta.

“Memangnya mereka benar mau nikah, Teh?” Rosi malah balik bertanya.
Berta mengangguk.

“Kapan?” tanya Rosi lagi. Pandangannya mulai mengabur karena cairan bening di matanya.

“Nggak tau pastinya, tapi teteh yakin itu nggak lama lagi.”

“Kalau emang belum pasti, harusnya teteh nggak perlu meributkan hal ini sekarang,” tukas Rosi.

“Ros…. Kalau aja tunangan Al masih hidup, mungkin kita nggak perlu pusing-pusing. Masalahnya, teteh nggak yakin – selain Rhein – ada gadis lain seperti Maya di dunia ini. Makanya teteh setuju usulan suamimu, Al akan menikah dengan Rhein.”

Rosi menghapus air matanya dengan selembar tisu. Lalu, mengatur napas agar sisa isakannya tak lagi terdengar.

“Teteh…. Kalau memang mereka mau nikah, biarkan saja.”

“Siapa? Al sama Rhein?”

“Bukan. Al dan Maya.”

--- bersambung ---

next chapter


Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment