Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty Six

13423739781269166312


previous chapter

Swift merah meluncur anggun di pelataran parkir apartemen Greenish Residence, tempat Rosi menyewa salah satu unitnya. Rosi memilih basement bagian barat untuk tempat memarkir mobilnya, dekat dengan lift menuju lantai atas. Ia mengajak Maya turun dan segera naik ke lantai lima.

“Mama emang tinggal di sini?” tanya Maya.

Rosi mengangguk.

“Bukannya Tante Berta bilang, Mama tinggal di Sydney?!” Maya penasaran.

“Itu betul. Tapi, setahun dua kali biasanya Mama pulang ke Indonesia. Di Jakarta Mama punya rumah, yang sekarang ditempati Rhein. Ehm, adikmu dari suami Mama yang sekarang.” Rosi agak canggung. “Nah, kalo pas Mama lagi pengen menikmati suasana Bandung, biasanya Mama menyewa apartemen di sini. Empat sampai enam minggu. Terus balik lagi ke Sydney. Mama suka tempatnya. Nggak terlalu besar, tapi rapi dan nyaman ditempati.”

Pintu lift terbuka dan langsung tersaji pemandangan sebuah lorong panjang. Di ujung lorong terdapat jendela besar yang hanya dipasangi kaca setebal satu senti, tanpa bisa dibuka. Di tepi lorong hanya terdapat dua pintu, jaraknya sekitar sepuluh meter. Jadi, di satu lantai ini ada dua unit apartemen.

Rosi merogoh tasnya, lalu mengeluarkan anak kunci. Ia membuka pintu dan mempersilakan Maya masuk.

“Anggap rumahmu sendiri, Nak,” kata Rosi.

Maya mengangguk. Ia berkeliling sendiri, sementara Rosi langsung menuju sudut ruangan yang ternyata adalah dapur. Maya berjalan pelan menyusuri tiap jengkal lantai. Ia membelai sandaran sofa yang lembut, menyentuh patung kayu berbentuk wanita yang sedang mengapit kendi air di lengan kanannya, lalu berhenti di depan buffet.

Mata Maya tertuju pada tiga buah foto berbingkai yang terpajang di sana. Dua di antaranya adalah foto seorang gadis manis berambut sebahu, sedangkan satu foto lagi berisi tiga wajah. Maya berpikir, itu pasti foto keluarga Rosi yang baru. Ia melihat wajah pria paruh baya di sebelah Rosi, ada raut bijak di sana. Maya kembali mengamati dua foto gadis berambut sebahu. Ini pasti Rhein, gumamnya dalam hati.

“Mama selalu membawa ketiga foto itu kalau bepergian,” kata Rosi yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Maya. “Apalagi kalo pergi sendirian kayak sekarang ini,” lanjutnya sambil menyerahkan segelas es teh bercampur perasan lemon kepada Maya. “Mama orang yang gampang kangen.”

Maya tersenyum menanggapi perkataan Rosi.

“Ini Rhein, ya, Ma?” tanya Maya.

“Iya.”

“Cantik, ya,” kata Maya sambil melihat lagi foto Rhein.

“Iya. Kayak kamu,” sahut Rosi.

“Ah, Mama. Bisa aja,” Maya tersipu dan wajahnya merona.

“Sebenernya Mama pengen banget ngenalin kamu ke Rhein, Maya. Mama yakin, kalian bisa jadi kakak beradik yang akur.”

Aku ragu itu, Ma. Rhein kelihatan lebih cantik dibanding aku, sahut Maya dalam hati. Ingin dilantangkan, tapi ia hanya berani tersenyum.

Keduanya duduk di sofa hijau lembut di ruang tengah. Rosi menyalakan alat pemutar kepingan kompak dan memilih lagu lembut untuk didengar.

“Ma…. Papa orangnya seperti apa?”

“Kamu kan sudah ketemu tempo hari.”

“Iya, tapi Maya belum tau bagaimana sifat Papa.”

“Hmm…. Papamu itu… tipe pekerja keras. Mama inget waktu kuliah dulu, Papamu udah rajin cari kerjaan sampingan.”

“Kerja apa, Ma?”

“Papamu ngajar di bimbel. Part time, ngajar Bahasa Inggris. Tapi, pernah juga Papamu kerja di rumah makan di daerah Dago, jadi tukang cuci piring.”

“Oya? Papa mau cuci piring? Kenapa nggak nyari kerja yang lain?”

“Kepepet, katanya. Waktu itu Papa belum ngajar di tempat bimbel. Dan, sedang butuh uang untung membantu temannya yang kecelakaan motor. Itu Papa juga masih ngambil kerjaan lain. Jadi, siang pulang kuliah sampai jam tujuh malam, Papa kerja di warung makan. Terus, bersambung jadi asisten pemilik fotokopian di dekat kampus.”

“Wah…. Terus kapan Papa belajarnya?”

“Ya, setelah pulang kerja. Kadang sampai lewat tengah malam. Untungnya Papamu itu orangnya cepat nangkap pelajaran, jadi nggak butuh waktu lama untuk menguasai satu materi.”

Ada sinar bangga di lengkung bibir Maya.

“Sekarang giliran Rhein, Ma,” pinta Maya. Ia meletakkan gelas tehnya di meja, lalu mengubah posisi duduknya agar bisa menghadap Rosi. “Ceritakan soal Rhein.”

Rosi menyesap sedikit teh lemonnya, lalu mulai bercerita.

“Rhein masih kelas sebelas. Bulan Mei nanti, dia akan merayakan sweet seventeennya. Wajah Rhein persis papanya. Cuma mungkin – ini, sih, kata Tante Berta – sifat Rhein banyak meniru Mama. Rhein senang belanja, senang main ke mall, tapi dia juga suka masak. Seleranya tinggi – itu mungkin sifat warisan dari papanya. Dia anak yang menyenangkan kalau saja sifat malasnya bisa dihilangkan.”

“Malas gimana, Ma?”

“Ya, kadang, Rhein nggak mau susah-susah dulu kalau pengen sesuatu. Misalnya, pernah nih, dia dapat tugas sekolah bikin prakarya dari media steroform. Dia pengen dapat nilai tinggi, tapi nggak mau repot-repot mengolah steroform itu. Alhasil, dia nyogok temennya yang pinter bikin prakarya supaya mau ngerjain tugasnya. Dibayar seratus ribu. Siapa yang bisa nolak, coba?!”

Maya tertawa kecil. “Curang, dong.”

“Iya. Itu kebongkar gara-gara ada salah satu temen Rhein – yang tau kalo prakarya itu bukan Rhein yang bikin – ngadu ke gurunya.”

“Terus gimana, Ma? Rhein dapet hukuman?”

“Iya lah. Rhein disuruh bikin lagi prakarya sederhana dari bahan yang sama, tapi ngerjainnya harus di depan guru keseniannya.”

Keduanya tergelak.

“Maya juga pernah gitu, sih,” kata Maya malu-malu.

“Nah, lho,” sahut Rosi. “Gimana ceritanya?”

“Pelajaran Bahasa Indonesia, Ma. Ceritanya disuruh bikin puisi sederhana tentang alam. Aduh, Maya langsung mules waktu itu karena Maya sadar, Maya nggak bisa bikin puisi. Mana waktunya mepet, besoknya harus dikumpulin. Ya, akhirnya ngerayu temen sebangku buat bikinin puisi. Dia mau. Terus besoknya Maya bawain pisang goreng buat tanda terima kasih ke dia.”

Keduanya tergelak lagi. Namun, tak lama. Suara riuh itu terganggu dengan suara yang berasal dari tas Maya. Ponselnya berbunyi.

“Sebentar ya, Ma.”

Maya mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat nama yang tertera di layar. Alih-alih menjawab telepon, Maya malah menaruh benda mungik itu di meja. Itu membuat Rosi mengerutkan dahi.

“Kenapa nggak dijawab?” tanya Rosi.

“Nggak apa-apa, Ma,” jawab Maya.

Benda itu berhenti berbunyi, namun hanya sebentar. Ia kembali berbunyi dan itu sangat mengganggu Rosi. Di ambilnya ponsel Maya, lalu ia pun melihat nama yang tertera di layar.

“Ini dari Al, lho,” tegas Rosi.

“Iya, Maya tau, Ma,” jawab Maya. “Tapi, biarin aja. Nanti juga dia bosen sendiri.”

“Lho?! Gimana, sih?!”

“Kalau Mama mau, Mama aja yang jawab teleponnya.”

Rosi menggeleng.

“Itu bukan jalan untuk menyelesaikan masalah, Maya,” ujar Rosi. “Katakan, sebenernya ada apa di antara kalian? Mama dapat kabar dari Tante Berta, kalian emang lagi nggak akur.”

Maya menghela napas. Wajahnya ia sembunyikan dari sorot selidik Rosi.

“Maya cuma ngerasa kurang pantas, Ma.”

“Kurang pantas gimana maksudnya?” Rosi tidak puas atas jawaban Maya.

“Ya…. Status Maya dan Al nggak seimbang. Maya cuma anak penjaga kuburan, sedangkan Al….” Maya tidak meneruskan kalimatnya. Ia sibuk membendung rasa gundahnya.

“Maya.” Rosi meraih tangan Maya. “Kamu itu anak Mama. Mama pikir, nggak perlu lagi ada keharusan status yang seimbang. Kamu bebas memilih siapa saja untuk menjadi pendampingmu,” jelas Rosi. “Mama yakin, sebenernya bukan itu yang jadi masalah. Mama tau, kamu nggak pernah berpikiran senaif itu. Bilang aja sama Mama, apa yang bikin kamu ragu sama Al.”

Maya memberanikan diri menatap Rosi. Air mata hampir saja tumpah, tapi buru-buru ia hapus.

“Ma…. Maya sayang sama Al. Tapi, Tante Berta sepertinya punya rencana lain untuk Al.”

“Rencana lain? Maksudnya?”

“Nggak tau, Ma. Maya ngerasa aja, kalo sebenernya Tante Berta udah menyiapkan jodoh untuk Al. Ya, itu cuma perasaan Maya aja. Tapi, feeling itu kuat banget, Ma.”

Rosi terkesiap mendengar penjelasan Maya. Pikirnya, jangan-jangan Berta menceritakan rencana perjodohan Al dengan Rhein. Padahal rencana itu hanya sekadar rencana, tidak pasti mengikat dan belum tentu pasti juga pelaksanaannya.

“Dari mana kamu tau rencana itu, Nak?” Rosi merasa ia memang harus bertanya.

Maya bingung. “Maksudnya?”

Lalu, Rosi tersadar. Mungkin memang Maya tidak pernah mendengar dari Berta.

“Dulu memang Mama dan Tante Berta pernah membahas rencana itu. Tapi, Rhein masih sekolah, sedangkan Al sudah bekerja. Al sudah pantas menikah tahun ini. Dia sudah mapan hidupnya. Jadi, buat apa menunda-nunda sesuatu yang sifatnya ibadah? Tapi, kayaknya Tante Berta punya pikiran lain. Tante Berta bersikeras mempertahankan rencana itu dengan alasan status. Memang, keluarga Al – termasuk juga orang tua Mama – kebanyakan masih berpikiran kolot, menganggap orang kaya harus menikah dengan orang kaya juga. Ah, Mama pikir, itu bukan pikiran yang bijak lagi untuk saat ini.” Jeda sejenak. Rosi kembali menyesap teh lemonnya. “Kamu jangan takut lagi, Nak. Mama mendukung kamu sepenuhnya untuk menikah dengan Al.”

Maya seperti sedang berada di lembah yang dipenuhi bebungaan warna-warni. Ada air terjun yang percikannya mengenai paras ayu Maya. Ada pula beberapa ekor burung gereja yang bertengger di dahan mahoni, mereka berkicau seolah menyanyikan salah satu lagu riang di telinga Maya.

“Ma…. Boleh Maya peluk Mama?”

Rosi tersenyum. Ia letakkan lagi gelas tehnya di meja. Lalu, mendekat dan merengkuh tubuh kurus Maya ke dalam pelukannya. Keduanya kemudian larut dalam isak bahagia.

--- bersambung ---

Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment