Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty Four

13423739781269166312



“Kamu sadar apa yang kamu bilang, Ros?”

“Sadar, Teh. Sangat sadar.”

“Kenapa? Apa alasannya?”

“Ya, nggak perlu pake alasan, Teh. Yang jelas, niat menikah itu, kan, karena ibadah. Memangnya ada alasan lain? Sok atuh sebutin.” Rosi malah balik bertanya.

“Kamu nggak mikirin reputasi keluarga? Keluargamu, keluarga teteh.”

“Reputasi yang mana lagi, Teh?”

“Kamu ini gimana, sih?”

“Ya, nggak gimana-gimana, Teh. Biarin aja Al dan Maya menikah. Kita nggak perlu menghalangi mereka. Mereka sudah sama-sama dewasa. Al sudah mapan, Maya juga sudah cukup umur. Apa lagi yang harus kita permasalahkan, Teh?”

“Status, Ros. Status!”

“Itu bukan jawaban yang masuk akal, Teh. Kalau teteh nggak punya alasan lain untuk melarang Al dan Maya menikah, lebih baik kita sudahi aja obrolan ini.”

Rosi berdiri, bersiap hendak pergi. Air matanya mengering, sebentar lagi akan hilang, pergi bersama pikiran-pikiran negatifnya tentang Maya. Bagi Rosi, sekarang Maya bukan anak yang harus diabaikan, seperti yang terjadi hampir dua puluh tiga tahun yang lalu. Ia sudah memutuskan, ia akan memperbaiki segalanya dengan anak gadisnya, buah cintanya dengan Bayu. Segalanya!

“Kalau emang teteh juga sayang sama Al, ijinkan dia menikah dengan Maya,” lanjut Rosi, yang lalu beranjak dari ruang kerja Berta.

Itu saja, tidak ada perdebatan lagi, bagi Rosi. Ia tidak peduli jika Berta masih saja berkeras dengan keinginannya soal status, reputasi, atau sejenisnya. Ia memilih bersikap realistis dan tidak lagi mengacuhkan soal tetek bengek priyayi abad millennium. Itu bukan lagi sesuatu yang patut dibanggakan, pikir Rosi.

***

Mimpi adalah hak prerogatif setiap orang. Mimpi adalah keinginan alamiah setiap manusia, termasuk Al. Baginya, mimpi terbesar saat ini adalah menikahi Maya. Mimpi yang sekarang perlahan berubah menjadi harapan. Tidak ada alasan lain yang membuatnya harus mematikan harapan itu. Hanya saja, rupanya harapan itu tidak sejalan dengan pemikiran sang ibu. Paling tidak, belum. Al belum bosan dan belum akan menyerah dengan ibunya. Ia yakin, wanita yang melahirkannya itu akan luluh hatinya jika ia bisa memberikan pengertian yang sempurna untuk dicerna.

Seperti hari ini, Al sengaja meminta ijin pulang lebih awal hanya untuk bertandang ke Lembang. Lagipula, pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak, sehingga bisa ia limpahkan sementara ke asisten manajer. Vios hitamnya meluncur anggun ke pelataran garasi. Ia menyerahkan kunci mobil ke Pak Udin, supir keluarga Berta, dan meminta agar mobilnya dicuci.

“Mama di mana, Pak?” tanya Al pada Pak Udin.

“Tadi, kayaknya udah sepuluh menitan, Nyonya berangkat ke kebon.”

“Sendirian?”

“Iya, Den. Nyonya pergi sendirian.”

“Ya, sudah. Saya langsung ke kebon aja kalo gitu. Oya, titip pesan buat Bu Sari, Pak. Saya minta dibikinin roti bakar sama kopi susu buat nanti malam.”

“Siap, Den. Nanti bapak kasi tau Bu Sari.”

Al berjalan keluar dari halaman rumah. Ia tak perlu bertanya lagi kepada Pak Udin, di kebun sebelah mana ibunya berada. Al sudah tahu dimana biasanya ibunya akan berada jika sedang melakukan inspeksi kebun teh. Jadi, dengan langkah santai, Al mulai menyusuri tepian kebun sepanjang kira-kira lima ratus meter. Tak lama, sampailah ia di sebuah saung, bangunan sederhana tanpa dinding yang terbuat dari rangkaian bambu dan beratap ijuk. Di saung itu, ia menjumpai wanita paruh baya yang uban di kepalanya sudah terlapisi cat rambut warna coklat tua.

“Ma,” sapa Al.

Berta menengok ke samping dan mendapati Al sudah duduk di tepi saung.

“Ngapain kamu ke sini?” tanya Berta dengan nada tak ramah.

“Kenapa, Ma? Mama nggak seneng ditengokin anaknya?”

“Ini bukannya masih jam kerja?” Berta balik bertanya.

“Iya, tapi nggak masalah, kok.”

“Nggak masalah?! Semoga atasanmu juga berpikiran seperti itu,” sahut Berta masih dengan nada tak ramah.

“Mama kenapa, sih? Kok, kedengerannya nyolot terus,” selidik Al.

“Memangnya Mama kedengerannya gimana?” lagi, Berta balik bertanya.

“Pertanyaan Mama aneh,” sahut Al.

“Kamu tuh yang aneh,” balas Berta.

“Ma…. Ada apa sebenarnya?”

“Seharusnya Mama yang nanya gitu ke kamu, Al. Ada apa kamu ke sini? Ini bukan hari minggu, bukan tanggal merah, tau-tau muncul jam segini. Jadi, kamu yang aneh.” Berta tak mau kalah.

“Okey. Al ngalah. Al emang punya alasan pulang hari ini.”

“Semoga bukan alasan yang aneh,” gumam Berta, dan Al mendengarnya dengan jelas.

“Nggak aneh, Ma. Ini soal Maya.”

“Tuh, kan.”

“Ma…. Kenapa sikap Mama belum mencair juga? Gimana kalo Tante Rosi tau soal sikap Mama ke Maya?”

“Emangnya kenapa? Toh, Tante Rosi juga udah ngerti apa mau Mama. Kemarin dia kemari dan bicara nggak jauh beda dari kamu. Padahal dulu dia juga udah setuju kamu nikah sama Rhein. Nggak tau setan apa yang masuk ke otak kalian berdua, kok bisa omongan kalian itu sama. Sama-sama nggak pake mikir.”

Al makin bingung bagaimana menanggapi sikap keras ibunya. Sambil memandang hamparan hijau rimbun teh di hadapannya, Al memutar otak dan berusaha memanen ide.

“Apa ada syarat supaya Mama mau nerima Maya yang mantu Mama? Bilang aja terus terang, Ma. Semoga Al sanggup mengabulkan permintaan Mama.”

Berta mengubah sikap duduknya, namun tetap dalam diam. Lalu, ia turun dari saung dan berjalan sedikit ke arah rerimbunan.

Al ikut turun dari saung dan kini sudah sejajar dengan sang ibu. Ia melipat tangan di dada dan berusaha mengatur ritme detak jantungnya. Jujur, ia sedikit cemas menanti kalimat-kalimat yang akan meluncur dair mulut Berta. Alih-alih menunggu sang ibu bicara, Al malah melanjutkan usahanya membujuk.

“Mama mungkin bisa ngomong A, B, C, atau D,” lanjut Al. “Atau mungkin ngomong ‘nggak suka’, ‘nggak setuju’, atau ‘nggak mengijinkan’. Tapi, Al tetap akan menikahi Maya, dengan atau tanpa restu Mama,” tegas Al.

Berta masih enggan bicara. Tangannya meraih salah satu pucuk teh dan memandang benda hijau itu dengan tatapan bosan. Ia lalu memainkan pucuk teh itu tanpa peduli jika Al akan marah dengan sikap diamnya.

“Coba Mama posisikan diri Mama di posisi Maya,” Al bicara lagi. “Apa yang kira-kira Mama rasakan? Sakit?! Itu udah pasti. Tapi, apa cuma Maya yang sakit? Enggak, Ma. Al juga sakit. Tante Rosi juga.”

Al akhirnya mendapat perhatian penuh dari Berta. Sang Ibu kini menatap tajam ke arahnya.
“Kamu bisa bicara soal sakit, Al. Memangnya kamu pikir Mama nggak sakit?”

“Sakit apa, Ma?” kejar Al. “Lagian, seingat Al, papa nggak pernah memasalahkan dengan siapa Al harus menikah. Dan, seharusnya Mama nggak usah melihat asal usul Maya, tapi bagaimana ke depannya Maya bisa membawa diri di keluarga kita.”

“Al…,” ucap Berta, “berikan Mama satu! Satu saja alasan kuat, kenapa Mama harus menerima Maya sebagai istrimu. Kalau kamu belum bisa mengungkapkan hal itu, jangan datang kemari.”

Berta meninggalkan Al yang masih berdiri di tepi rerimbunan teh. Langkahnya yang agak terseok-seok, ia usahakan agar tidak terlihat oleh Al. Sesungguhnya, hati Berta sedang menanggung perih yang teramat sangat. Ia bukannya sama sekali tidak mengindahkan ucapan Al. Ia pun pernah sesekali berpikir dan memposisikan diri sebagai Maya. Tapi, ego tingkat setan mengalahkan segala yang berwarna putih. Ego tingkat setan juga yang sampai saat ini berhasil membuat Berta mempertahankan keinginannya, bahkan di depan anak semata wayangnya sekalipun. Kadang, ia pula pernah berpikir untuk belajar menerima apa yang orang lain inginkan, terutama keinginan Al. Tapi, sekali lagi, ego tingkat setan kembali berkuasa!

Sementara itu, sepeninggal Berta, Al kembali duduk di tepian saung. Ia mencoba mencerna lagi apa yang baru saja terjadi. Tetap saja, ia belum paham apa yang diinginkan ibunya. Al berpikir, seharusnya tidak perlu alasan lain untuk membuat ibunya menerima Maya, karena sesungguhnya tidak ada ‘cacat’ yang harus diributkan. Memang, tidak ada yang pernah menginginkan lahir dari hubungan tanpa ikatan sah, seperti yang dialami Maya. Itu adalah takdir yang harus diterima. Kalaupun ada yang harus disalahkan, pastinya bukan si anak, tapi orang tuanya.

Al menghela napas panjang. Entah, apa ia sanggup untuk terus membujuk ibunya yang terlampau keras kepala. Ia sangat berharap ada keajaiban yang mampu melelehkan kerasnya sikap Berta. Tidak dimungkiri juga, ia merasa bahwa keajaiban masih enggan menhampiri hidupnya. Tapi, tidak ada salahnya ia terus berharap.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment