Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty Five



Rosi datang lagi ke tempat pemakaman umum. Ia menunggu di dalam mobil yang terparkir di tepi jalan raya. Pandangan Rosi ke arah rumah Dahlan sedikit terhalang ranting-ranting kenanga, tapi ia masih bisa melihat dengan jelas teras rumah itu. Ia menunggu dan terus menunggu, sampai nantinya Dahlan keluar rumah.
 
Bosan sempat menggelayuti otak Rosi. Hampir saja ia kembali memutar anak kunci dan menjauh dari areal makam, tapi sudut matanya menangkap pergerakan di teras rumah mungil itu. Dahlan baru saja berpamitan dengan putrinya. Rosi urung memutar anak kunci. Ia malah bersiap turun dari mobil. Ia menunggu sampai Dahlan hilang dari pandangannya, barulah ia berani turun dari mobil.
 
Di teras rumah, Rosi tidak langsung mengetuk pintu. Kedua tangannya – secara tak sadar – mematut-matutkan diri. Tanpa cermin, tanpa tambahan sapuan bedak dan perona bibir. Lalu, ia pun mendekat ke arah pintu dan mulai mengetuk.
 
Pintu terbuka dari dalam. Seorang gadis dengan raut terkejut menyambut kehadiran Rosi.
 
“Ibu…,” gumam Maya.
 
“Apa kabarmu, Nak?”
 
“Ba… baik, Bu,” Maya tergagap menjawab. Detik berikutnya, ia baru saja sadar siapa di depannya. “Masuk dulu, Bu,” katanya lagi sambil menggeser daun pintu.
 
Rosi menuruti tawaran Maya. Kakinya ia langkahkan memasuki rumah Dahlan untuk pertama kalinya. Berbeda dengan Berta yang mencemooh kondisi hidup Maya, Rosi malah iba. Dan, sedikit menyesal telah memilih keluarga Dahlan sebagai tempatnya menitipkan Maya. Namun, itu hanya sebagian kecil. Rosi lebih bersyukur ia tidak menitipkan Maya pada keluarga yang nantinya menjadikan gadis itu tak ubahnya seperti Rhein: merasa memiliki harta berlimpah, sombong, dan tak mau repot jika ingin sesuatu.
 
“Ibu mau minum apa?” tawar Maya.
 
“Maya. Panggil Mama aja, ya,” pinta Rosi. Ia tersenyum.
 
“Eh… ehm, iya. Mama mau minum apa?” Maya kikuk.
 
“Apa aja. Yang penting nggak ngerepotin,” jawab Rosi.
 
“Sebentar, ya, Ma.”
 
Lalu, Maya menghilang di balik korden hijau yang warnanya sudah memudar di makan usia. Tak lama, ia kembali dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat. Maya meletakkan dua cangkir porselen murahan di atas meja dan membiarkan nampannya juga di sana.
 
“Silakan diminum.” Maya masih kikuk, tapi berusaha tak menunjukkannya di hadapan Rosi.
 
Rosi tidak mengindahkan tawaran Maya. Ia hanya memandangi gadis di hadapannya dengan tatapan yang aneh: campuran antara bahagia dan sedih. Dengan tatapan seperti itu, Maya makin bingung harus bersikap bagaimana.
 
“Boleh Mama lihat kamarmu?” tanya Rosi.
 
“Apa?” gumam Maya tak percaya.
 
“Lihat kamarmu,” ulang Rosi. “Boleh?”
 
Maya mengangguk pelan, lalu mengajak Rosi mendekati pintu kayu yang dihiasi ukiran alphabet sebanyak empat buah. Daun pintunya terdorong ke arah kamar, lalu terhidang suasana kamar yang sederhana.
 
Rosi melepas sepatu berhak lima senti, salah satu rancangan Jimmy Choo, di ambang pintu.
 
“Pake aja sepatunya, Ma. Biar nggak kotor kakinya,” kata Maya.
 
“Nggak apa-apa. Ayo, antar Mama melihat-lihat kamarmu.”
 
Entah, sebenarnya apa mau wanita ini, pikir Maya. Maya lebih memilih menurutinya daripada mengajukan pertanyaan yang menggelitik rasa penasarannya.
 
Maya melangkah masuk, diikuti Rosi.
 
“Nggak ada apa-apa, Ma. Cuma kasur, lemari, sama meja kayu tua yang Maya pake buat belajar.”
 
Rosi melihat sekeliling dan mengangguk, mengiyakan perkataan Maya. Lalu, ia mendekati lemari. “Boleh?” tanyanya sambil memegang gagang pintu lemari tersebut.
 
Dahi Maya berkerut, tapi tampa pikir panjang lagi, ia mengiyakan permintaan Rosi.
 
Pintu lemari terbuka, juga tidak ada hal aneh yang Rosi temukan di sana. Kabin pertama berisi pakaian. Kabin kedua berisi buku-buku dan beberapa peralatan rias sederhana. Kabin ketiga dan keempat juga berisi pakaian.
 
“Kamu punya tas besar, Nak?” tanya Rosi tiba-tiba. Dan, itu membuat Maya semakin bingung.
 
“Buat apa, Ma?” Maya memberanikan diri bertanya.
 
“Buat packing baju-bajumu,” jawab Rosi.
 
Packing?! Memangnya mau kemana?”
 
“Ke tempat Mama.”
 
“Hah?!”
 
“Iya. Kamu nginep seminggu atau dua minggu di tempat Mama. Kita bisa ngobrol sambil nonton tivi, jalan-jalan, masak-masak. Atau, terserah kamu mau ngapain aja. Yang penting, kita bisa kumpul. Gimana? Mau?”
 
“Ehm…,” Maya berpikir. “Terus, gimana sama bapak? Kasian nanti nggak ada yang ngurusin.”
 
“Minta aja salah satu tetanggamu untuk mengurusi makanan dan rumah. Nanti Mama yang bayar ongkosnya. Gimana?”
 
Maya diam. “Satu minggu aja, Ma,” katanya kemudian. “Maya nggak bisa kalo lebih dari seminggu.”
 
Rosi tersenyum. “Oke. Sekarang, ambil tas dan bawa baju seperlunya aja. Nggak usah banyak-banyak. Terus ini,” Rosi merogoh tasnya dan mengambil sejumlah uang, “buat biaya makan bapak dan ongkos merawat rumah selama kita pergi. Semoga ini cukup.”
 
Maya menerima uang dari Rosi. Semuanya lembaran seratus ribu dan jumlahnya sepuluh lembar. Jelas ini lebih dari cukup untuk ukuran kami, batin Maya.

***
 
Dahlan meletakkan sabit dan gunting rumput di sudut teras. Ia kembali ke halaman, menuju keran air di samping rumah untuk membasuh kakinya yang banyak terkena lumpur. Lalu, dengan santainya ia berjalan lagi ke teras dan langsung meraih gagang pintu. Macet! Daun pintunya tak bergeser. Pintu itu terkunci!
 
Ia mengetuk pintu beberapa kali sambil memanggil Maya. Tak kunjung ada jawaban. Ia melongok ke jendela kamar Maya yang menghadap halaman, kelambunya tertutup rapat. Tak puas hanya menerka-nerka apa yang terjadi, Dahlan turun dari teras dan berjalan cepat menuju rumah Pak Rustam yang berjarak kira-kira dua puluh meter. Mungkin istrinya tahu kemana Maya pergi, pikir Dahlan. Biasanya Maya memang memberitahu istri Pak Rustam jika akan pergi ketika Dahlan tidak di rumah.
 
“Bu Rustam,” sapa Dahlan kepada wanita lima puluh tahunan yang tengah menjemur pakaian di halaman.
 
“Iya, Pak Dahlan. Ada apa?” Bu Rustam menghentikan gerakan tangannya.
 
“Lihat Maya?” tanya Dahlan.
 
“Oh, Neng Maya pergi, Pak.”
 
“Kemana?”
 
Duka, Pak. Katanya sih, mau nginep di rumah Ibu Rosi. Cuma nggak bilang di mana,” jelas Bu Rustam.
 
“Ibu Rosi?!” gumam Dahlan.
 
“Iya, Pak,” sahut Bu Rustam. “Terus, tadi juga Neng Maya ngasih saya duit….”
 
“Duit?!” potong Dahlan. “Buat apa, Bu?”
 
“Saya disuruh nyiapin makanan buat Pak Dahlan selama Neng Maya pergi. Sekalian, saya juga disuruh beberes rumah seperlunya kata Neng Maya.”
 
Waduh, Dahlan mengumpat dalam hati. “Terus, Maya bilang kapan dia pulang, Bu?” tanyanya.
 
“Nggak, Pak. Dibilang sih semingguan. Tapi, Neng Maya juga bilangnya nggak pasti kapan dia pulang. Ini, dia nitip kunci rumah sama saya, Pak,” kata Bu Rustam sambil merogoh saku dasternya, lalu memberikan anak kunci itu kepada Dahlan.
 
Dahlan menerima anak kunci sambil tetap menggerutu di dalam hati.
 
“Ya, sudah. Makasih, Bu.”
 
“Oya, Pak. Nanti malam bapak mau makan apa? Biar saya siapin.”
 
“Nggak usah lah, Bu. Ngerepotin.”
 
“Ya, enggak, Pak. Kan, saya udah dikasi amanat sama Neng Maya.”
 
“Ehm…, “ Dahlan berpikir. “Bu Rustam nggak perlu repot-repot mikir atau nanya saya mau makan apa. Saya terima apa saja yang Bu Rustam siapkan,” tukas Dahlan. “Saya nggak milih-milih, kok, Bu.”
 
Bu Rustam mengangguk. Dahlan kembali ke rumahnya.
 
Baru selangkah memasuki pekarangan rumahnya, Dahlan menangkap sosok Al sedang duduk di amben. Pemuda itu sibuk dengan ponselnya sampai tak sadar, Dahlan sudah berada di dekatnya.
 
“Nak, Al. Sendirian?” sapa Dahlan.
 
Al terlonjak. Ia berdiri sambil buru-buru memasukkan ponselnya ke saku kemeja. “Eh, iya, Pak. Mayanya ada?”
 
Dahlan bingung bagaimana harus menjelaskan. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lalu duduk di amben. Al mengikuti Dahlan sambil menunjukkan raut yang bingung pula.
 
“Kenapa, Pak?” Al memberanikan diri bertanya.
 
“Maya nggak ada, Nak Al,” jawab Dahlan.
 
“Nggak ada? Kemana, Pak?”
 
“Itu dia, Nak. Bapak juga nggak tau,” kata Dahlan dengan nada menyesal. “Barusan tanya ke tetangga, katanya Maya nginep di rumah Ibu Rosi.”
 
Al kaget mendengar penjelasan Dahlan. Ia memang belum pernah bertemu dengan Rosi, tapi Al tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Dahlan.
 
“Ibu Rosi pernah ke sini, Pak?”
 
“Iya. Dan, ini yang kedua kalinya perempuan itu kemari. Tapi, ngapain juga anak bapak dibawa-bawa? Apa belum puas kemarin-kemarin dia bikin hati anak bapak jadi kacau?”
 
“Maksud bapak?”
 
Sebenarnya Dahlan tidak tega untuk bicara. Tapi, ia lebih tidak tega lagi melihat wajah Al yang memelas menuntut penjelasan. Dahlan pun mulai mengurai apa yang terjadi pada Maya ketika diajak Rosi berkunjung ke rumah Bayu. Al diam, menyimak cerita Dahlan. Walaupun banyak tanya menggelayut di benaknya, Al belum berani bertanya. Ia menunggu, sampai Maya sendiri yang nanti akan bercerita padanya.

---bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment