Kisah Al dan Maya - Chapter Thirty

13423739781269166312


previous chapter

“Rhein. Kamu mau ikut Mama?!”

Rosi merasa harus setengah berteriak agar pertanyaannya barusan bisa membangunkan Rhein yang masih tertidur pulas. Tapi, nyatanya itu pun tak berhasil. Akhirnya Rosi harus menarik selimut Rhein, lalu membuka jendela kamar lebar-lebar. Beruntung, matahari sedang bersinar cukup terik untuk ukuran pukul sembilan pagi, sehingga cahayanya langsung mengenai wajah Rhein. Rhein menggeliat kesal. Ia meraih guling dan menutupi wajahnya.

“Kamu mau ikut nggak?” ulang Rosi.

“Kemana?” Suara Rhein teredam spons guling.

“Ke BSM.”

“Berdua?”

“Ya, bertiga, dong.”

“Nggak, deh.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Lagi males jalan-jalan aja. Pengen nerusin tidur.”

Rosi tahu, Rhein sedang berbohong. Rhein tidak pernah menolak diajak sebelumnya. Bahkan terkadang Rhein yang mengajak lebih dulu. Rosi yakin, ini karena Maya.

“Yakin, nggak mau ikut?” Rosi mengulang pertanyaannya.

“Iyaaaa!!!” Rhein berteriak dari balik guling.

“Ya, udah. Mama pergi dulu.”

“Ma! Tutupin lagi jendelanya,” pinta Rhein.

“Tutup sendiri,” sahut Rosi yang lalu menutup pintu kamar dari luar.

“Ah, sial!” teriak Rhein sambil melempar gulingnya ke sembarang tempat.

Rhein bangkit dari ranjang dan mendekat ke jendela. Tadinya ia ingin menutup kembali jendela itu dan melanjutkan tidurnya. Kalaupun tidak berhasil tidur, ia hanya ingin bermalas-malasan saja di kasur sambil membuka Facebook lewat smartphonenya. Namun, begitu melihat pemandangan yang tersaji dari jendela, Rhein mengurungkan niatnya. Ia memilih berdiri di sana dan memperhatikan lalu lintas di bawah. Ada satu hal yang menarik perhatiannya. Di ruas jalan di samping gedung apartemen, melintas sebuah Vios hitam. Mobil itu mengingatkannya kepada Al. Tapi, ia tahu, itu bukan mobil Al. Al tidak mungkin berkeliaran di jalan pada hari kerja seperti ini. Kecuali, pada hari di mana ia menelepon dari stasiun. Tanpa ia sadari, jemari kanannya menyentuh bibir. Ia kembali mengingat rasa itu, rasa yang tidak pernah ia kecap sebelumnya.

Ponsel di meja berbunyi, membuyarkan lamunan Rhein yang masih berdiri di dekat jendela. Rhein segera mengangkat telepon itu. Itu telepon dari Berta.

“Halo, Tante,” ujar Rhein.

“Kamu sudah di apartemen, kan?!”

“Iya, Tan. Kemarin Al jadi jemput di stasiun. Ada apa, Tan?”

“Mamamu mana?”

“Lagi pergi sama Maya,” jawab Rhein.

“Sama Maya? Maya siapa?” Berta heran.

“Maya siapa lagi, Tante. Ya, Maya anak Mama sama…, sama…, nggak tau sama siapa. Emangnya Tante belum kenal sama Maya?”

Berta diam lama sekali.

“Tan…?!” Rhein mengecek layar ponselnya, sambungan telepon masih berjalan.

“Belum. Tante belum tau,” Berta berbohong.

“Masa?!”

“Eh, Tante main ke situ, ya?!” Berta mengalihkan pembicaraan.

“Sekarang, Tan?”

“Iya,” Berta meyakinkan Rhein. “Kalo nggak macet, satu jam lagi tante sampai di tempatmu.”

“Uhm, oke. Rhein tunggu, Tante.”

Rhein meletakkan lagi ponselnya di meja. Ia beranjak ke jendela, melongok ke bawah, dan kembali menikmati pemandangan lalu lintas kendaraan di jalanan kota Bandung sebelum memutuskan untuk mandi. Ia tidak menyesal menolak ajakan Rosi ke mall, karena ia akan mendapat banyak hal dari Berta. Rhein sangat tidak sabar.

***

Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, Rhein sudah di dapur, menyeduh teh melati dan meracik pancake. Ia menaburkan keju di atas lapisan adonan dan membiarkan keduanya meleleh bersamaan. Wanginya menyebar ke ruang tengah, tapi itu percuma, karena tidak ada orang lain di tempat itu. Rhein duduk di kursi tinggi di dapur, menghadap piring pancake dan cangkir teh. Tatapan puas terlihat di matanya. Ia memasang headset di telinga, lalu mulai menyantap sarapannya.

Rhein menyantap pancakenya pelan-pelan. Jari telunjuknya sibuk memindah-mindah halaman situs pertemanan di smartphonenya. Baru saja ia akan membalas salah satu pesan yang masuk, ponselnya berbunyi. Telepon dari Berta lagi.

“Iya, Tan. Udah di mana?” Rhein langsung bertanya.

“Di basement, dekat pintu keluar. Kamu ke sini aja, ya. Sekalian kita jalan.”

“Jalan kemana, Tan? Di rumah nggak ada orang. Mama nggak bawa kunci. Gimana nanti kalo Mama dateng sebelum Rhein pulang?”

“Titipin aja di front office. Tapi, nggak usah bilang kalo kamu pergi sama tante. Bilang aja kamu pergi sama Al.”

“Al, kan, lagi ngantor. Masa iya bisa jalan-jalan siang bolong gini?!”

“Ya, cari alasan lain, dong. Kamu, kan, punya temen di Bandung. Bilang aja lagi jalan-jalan sama temen.”

“Oh, oke. Tunggu Rhein, ya, Tan.”

Rhein memasukkan pancakenya ke lemari pendingin, lalu menenggak habis teh melatinya. Ia setengah berlari ke kamar untuk menyambar tas kecil berisi dompet dan lipbalm. Dengan gerakan cepat, Rhein memakai wedgesnya dan segera keluar.

Keluar dari lift, Rhein langsung menengok ke dekat pintu keluar. Ia mendapati sebuah sedan warna perak terparkir tak jauh dari pos satpam. Rhein berjalan menuju mobil itu dengan langkah mantap. Wanita yang ada di balik kemudi langsung membukakan pintu dan membiarkan Rhein masuk.

“Kita ke BSM?” tanya si pengemudi.

“Terserah, Tante,” jawab Rhein. “Tapi…,” Rhein menggeser duduknya, “sebenernya Rhein pengen tau sesuatu, Tan.”

“Soal apa?!” Berta masih belum menjalankan mobilnya.

“Maya.”

“Huffftt…,” Berta melepas tangannya dari setir. Ia malah mematikan mesin dan membuka jendela di sisinya. “Kenapa kamu pengen tau soal dia?”

“Ehm…, ya… karena emang Rhein belum tau apa-apa soal dia. Rhein cuma tau, ayah Rhein dan dia beda orang. Dia – mungkin – lahir di luar nikah. Dan, dia calon istri Al.”

“Calon istri?!” seru Berta.

“Iya. Cuma itu yang Rhein tau.”

Berta tak menanggapi kalimat Rhein. Ia malah menggapai tasnya di jok belakang. Ia merogoh ke dalamnya, mencari-cari sesuatu. Lalu, ia mengeluarkan benda semacam kotak kecil dan sebuah korek gas. Berta mengeluarkan satu batang dan menyulutnya.

“Lho, lho, lho?! Kok…?! Sejak kapan tante ngerokok?!”

Berta masih diam. Tangan kanannya sibuk mengantarkan batang rokok ke bibirnya. Sementara itu, Rhein benar-benar tak bisa berkutik melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita yang sudah lama ia kenal, kini menampakkan sikap yang tidak biasa. Cara Berta memainkan batang rokok itu – menurut Rhein – seperti bukan pemula.

“Tan….” Rhein berusaha memperoleh kembali perhatian Berta.

Berta mengisap sekali lagi batang rokoknya. Satu isapan yang panjang dan lama. Asapnya berlalu begitu saja melewati jendela dan menghilang di udara.

“Kamu ingat, waktu kamu masih SD, Om Hartono sering ngasi kamu oleh-oleh kalo pulang dari Singapura?”

Rhein mengangguk pelan.

“Kira-kira menurutmu, Om Hartono ngapain ke Singapura?”

Rhein mengangkat alisnya. “Bisnis?!”

Berta menggeleng. Ia isap rokoknya, lalu berkata, “Bukan. Nggak ada bisnis. Yang ada, murni mencari hiburan.”

“Terus?! Apa hubungannya sama Maya?!”

“Dengerin dulu sampai selesai,” sahut Berta.

“Oke.”

Berta mengisap lagi batang rokoknya, lalu membuang puntungnya sembarangan ke lantai basement.

“Kurang lebih sepuluh tahun lalu, papanya Al diajak salah satu temannya ke sebuah hotel mewah. Di sana ada kasino besar. Papanya ditraktir main kartu di sana, dikasi modal lima ribu dollar Singapura. Beberapa kali main, Om Hartono menang banyak. Kalo nggak salah sampai empat belas ribu dollar. Makanya bisa beli banyak oleh-oleh untuk kita.

“Karena tergiur kemenangan besar, papanya Al memutuskan untuk ke sana lagi. Kali ini pakai uang sendiri. Uang tabungan tante juga dipake. Om Hartono menang lagi. Walaupun nggak terlalu banyak, tapi menang terus. Dua bulan sekali Om Hartono ke Singapura. Kadang tante dan Al juga ikut.

“Tapi, di tahun kedua, mungkin keberuntungan papanya Al sudah berkurang. Mungkin juga memang sudah habis. Terus-terusan kalah. Menang sekali, tapi selanjutnya kalah banyak. Cuma ya gitu, papanya Al masih belum mau nyerah. Sempat pinjam ke teman juga, bahkan uang perkebunan juga hampir dipakai. Terakhir – dan yang paling parah – papanya Al sampai pinjam ke bank. Nggak tanggung-tanggung jumlahnya.”

“Berapa, Tan?” Rhein penasaran.

“Lima milyar.”

“Ow. Ya, nggak terlalu banyak sih.” Rhein berkata dengan santai.

“Oke. Mungkin untuk sekarang nilai itu nggak besar. Tapi, delapan tahun lalu, nilai itu sangat besar. Dan, kalau dihitung sama bunganya kamu bakal kaget.”

“Berapa?” Rhein menegakkan duduknya.

“Lima puluh tujuh,” jawab Berta.

“Lima tujuh?!!” Rhein tercengang.

“Dan, temponya dua tahun lagi,” sambung Rosi.

“Tapi, kan, kebun teh tante untungnya besar. Kan, bisa dipake buat nyicil,” kata Rhein.

Berta menggeleng. Ia menghidupkan mesin mobil, menutup jendelanya, lalu kembali bicara.
“Keuntungan rata-rata kebun tiap bulan itu dua ratus sampai dua ratus dua puluhan juta. Sekarang kamu kalikan sendiri. Apa cukup terkumpul lima puluh tujuh milyar dalam dua tahun?”

“Lha, emangnya tante belum mulai nyicil? Kan, ngutangnya udah delapan taun lalu. Kalo emang kebun teh tante untungnya segitu, pastinya utang di bank nggak bakal membengkak sampe segitu.”

“Ya, kamu benar,” Berta mengangguk. “Tapi, papanya Al juga punya utang sama beberapa temannya. Dan, itu nggak sedikit Rhein. Selama delapan tahun ini, sebenarnya tante hidup dalam belitan hutang. Keuntungan kebun sebesar apa pun, sulit untuk nutupin semuanya.”

“Mama tau soal ini, Tan?”

“Nggak. Kalo Mamamu tau, mungkin dia nggak bakal nurutin saran tante untuk menikahkan kamu sama Al.”

Dahi Rhein berkerut. “Maksudnya?”

Berta tertawa. “Rhein…, Rhein…. Kamu emang masih kecil, belum pantes mikir hal kayak gini.”

“Rhein masih belum ngerti, Tan. Terus, hubungannya sama Maya, apa? Dari tadi tante ngomongnya muter-muter.”

“Mamamu itu mewarisi harta berlimpah dari restoran-restoran milik kakek-nenekmu. Belum lagi tiga gerai franchise fast food di Bandung. Yang paling menguntungkan, ya, dari bermain saham di Sydney. Uang Mamamu banyak, Rhein. Sebanyak yang nggak pernah kamu bayangin. Kalo kamu menikah dengan Al, Mamamu berjanji mau ngasi saham dua puluh persen di salah satu restorannya. Memang, nilainya nggak seberapa dibanding jumlah utang di bank. Tapi, masa Mamamu tega nggak ngasi pinjeman duit ke tante?! We’re family. Family gives us everything.” Berta tersenyum sinis.

Dahi Rhein berkerut ketika mencerna kalimat-kalimat Berta. Dan, kerutan-kerutan itu hilang bersamaan dengan hadirnya pemahaman di otak Rhein.

“Jadi, tante ngejodohin Rhein sama Al cuma buat ndapetin uang Mama?”

“Hmm…. Kira-kira begitu.”

I’m sorry to say, Tan. But, you’re totally insane.”

“Oh, Dear. Who cares? I don’t,” ujar Berta dengan santainya. “Bukannya kamu juga bisa dapet keuntungan dengan menikahi Al. Masa depanmu terjamin, Rhein.”

“Al tau soal ini?”

“Tidak ada yang tau. Kamu orang pertama yang tante kasi tau. Dan, tante juga mau ngasi tau sesuatu.”

Rhein tidak bersuara, tapi matanya seolah bertanya: apa itu.

“Kamu masih ingat, papanya Al meninggal karena apa?”

“Serangan jantung waktu di kamar mandi,” jawab Rhein.

“Lokasinya betul, tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi.”

“Terus?”

“Papanya Al menyayat nadinya sendiri.”

Well…. He deserved that.”

“Kenapa kamu nggak kasian sama tante?” Wajah Berta mendadak memelas.

Rhein menggeleng. “Itu kesalahan tante sendiri. Kenapa tante ngebiarin Om Hartono ketagihan main judi? Harusnya, kan, tante bisa mencegah. Atau…,” Rhein tiba-tiba merasa menemukan jawaban, “atau tante juga ikut menikmati hasilnya?!” Rhein mengangguk-angguk mantap. “Ya, mobil-mobil itu.”

“Mobil yang mana, Rhein? Mobil tante cuma ini.”

“Ah, udahlah, Tan. Ternyata ini bukan soal Maya. Dari semua yang tante ceritain ke Rhein, nggak ada hubungannya sama Maya. Ini semua soal tante. Mungkin tante bisa bohongin Mama, tapi nggak bisa ke Rhein. Dan, perlu tante tau, sekarang tante nggak perlu ngarepin Rhein lagi untuk jadi istri Al.” Rhein diam sebentar dan berpikir. “Mungkin Maya sekali pun nggak pantes buat Al kalo niat awal tante seperti itu.”

Rhein keluar dari mobil dan melangkah dengan mantap ke arah lift, tanpa menengok lagi ke belakang.

--- bersambung ---


Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment