Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty

13423739781269166312



Berta duduk di salah satu kursi. Matanya tak henti menyapu ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga. Baginya, ini tempat terkumuh yang pernah ia pijak. Di seberang tempatnya duduk, Maya juga duduk diam, sambil terus memperhatikan Berta. Tak lama, Berta membuka tasnya dan mengeluarkan kipas. Ia mengibas-ibaskan benda itu tanpa peduli apakah sang pemilik rumah tersinggung dengan tindakannya. Hawa siang ini memang sangat panas, pikir Berta.

“Ada keperluan apa Ibu Berta kemari?” Maya memberanikan diri bertanya. Ia mulai jemu dengan sikap wanita di hadapannya.

Berta menghentikan kibasan kipasnya sejenak, dahinya berkerut, lalu menyahut, “Baguslah kalau kamu tidak lagi memanggilku dengan sebutan Mama. Itu… tidak pantas.”

Maya memutar bola matanya, lalu mendengus kesal. “Kalau memang tidak ada hal lain, Anda tentu sudah tahu di mana pintunya, Bu.”

“Kamu ngusir saya?!” Berta membelalakkan mata.

“Terserah Ibu Berta mau mengartikan apa.”

Berta sadar, ini bukan saatnya menyombongkan diri atau mempertahankan kehendak. Segalanya begitu membingungkan, sekaligus membuatnya dilema. Jika ia tidak bisa meluluhkan hati Maya, maka ia akan kehilangan Al. Kalau saja ia punya anak yang lain, ia akan merelakan Al pergi dari keluarganya. Sekarang hal terpenting adalah memiliki pewaris perkebunan tehnya. Dan, ia hanya memiliki Al, maka ia harus bisa mendapatkan Maya.

“Saya tahu, hubunganmu dengan Al dua bulan terakhir mulai merenggang,” Berta melunak. “Boleh saya tahu, ada apa sebenarnya dengan kalian?”

Maya menunduk. Sesungguhnya ia bosan dengan pertanyaan ini. Hampir setiap hari ia mendapat pertanyaan itu dari ayahnya sendiri, terutama ketika sebelumnya ayahnya harus berbohong kepada Al dengan mengatakan Maya sedang tidak di rumah. Bukannya ia malas menjawab, tapi ia takut, jawabannya akan memicu pertanyaan-pertanyaan lain.

“Tidak ada apa-apa, Bu,” jawab Maya.

“Benar?! Kenapa saya merasa kamu sedang membuat satu kebohongan nggak masuk akal.”

“Maksud Ibu?!”

“Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa Al nggak bisa ketemu kamu?”

Kesabaran Maya hampir mencapai batas terjauhnya. Ia menatap lekat-lekat lawan bicaranya, mempertontonkan ketegasan seorang wanita muda, dan menginginkan pemahaman sempurna dari Berta.

“Bukannya itu hak saya untuk memilih bertemu dengan siapa?! Saya pikir Ibu tidak perlu tahu apa alasan saya menolak bertemu putra Ibu.”

“Ah, sudahlah. Katakan saja jumlahnya, supaya saya bisa menyiapkan secepatnya,” tukas Berta.

“Apa?” Otak Maya langsung menangkap maksud kalimat Berta. “Apa Ibu sedang berusaha membeli saya?! Saya tidak mau uang Ibu.” Maya berdiri. “Jangan samakan keluarga saya dengan para penjilat, Bu. Kalaupun Al bukan dari keluarga kaya, itu bukan masalah bagi saya. Bukan harta berlimpah yang melandasi hubungan saya dengan putra Ibu. Memangnya saya tahu sebelumnya kalau Al adalah orang kaya?!” Maya menggeleng tegas. “Tidak. Saya tidak pernah mengira kalian sekaya itu. Semisal saya tahu pun, saya memilih untuk menjauh dari dulu.”

Seumur hidup, Berta tidak pernah mengalami cecaran setajam ini. Itu karena semua orang yang hidup di sekelilingnya sangat menghormati, bahkan cenderung segan dan takut. Maka, ketika ia mendapat serangan kalimat-kalimat pedas dari Maya, ia tidak segera membalas. Otaknya beku untuk beberapa detik. Ia tidak bisa memutuskan apa-apa.

“Satu pertanyaan yang memenuhi otak saya sejak pulang dari Lembang dua bulan lalu,” lanjut Maya. “Seandainya saya bukan anak kandung Ibu Rosi, apa hari ini akan terjadi?”

Berta makin tak berkutik. Mulutnya setengah terbuka, ingin melontarkan jawab, tapi suara itu tak kunjung keluar.

“Apa Ibu akan duduk di situ? Apa saya akan berdiri di sini sambil memaki Ibu?” lanjut Maya. “Mungkin semua yang ada hari ini tidak akan terjadi.”

Peluh di pelipis Berta meluncur tanpa halangan. Ia tidak peduli. Di benaknya membaur semua perkataan Maya. Ia sulit memilah mana yang harus ia serap, mana yang harus ia lawan. Sekali lagi, ia hanya bisa diam.

“Bu…,” suara Maya melembut. Ia sudah kembali duduk di kursinya. “Tolong pikirkan lagi. Saya tahu, Ibu punya rencana yang baik untuk Al. Saya juga paham, Al yang meminta Ibu untuk menemui saya. Tapi, saya merasa tidak pantas menjadi pendamping Al. Jangankan menjadi pendamping, mungkin saya juga tidak pantas menjadi temannya. Anak Ibu berhak mendapat yang lebih baik dibanding saya.”

“Tapi, Al keras kepala,” suara Berta bergetar, hampir tak tertangkap indera pendengaran Maya.

“Saya tahu,” Maya tersenyum. “Memang tidak mudah meluluhkan hati Al. Tapi, itu bukan hal yang tidak mungkin, Bu. Al pria baik. Ia tahu bagaimana harus bersikap.”

Berta memandang Maya bukan dengan tatapan penuh rasa jijik seperti sebelumnya. Sorot matanya sangat keibuan, hal yang jarang muncul dari dirinya belakangan ini.

***

Januari baru mulai beberapa hari, tapi sisa-sia kemeriahan pesta pergantian tahun sudah seperti berbulan-bulan hilang. Langit masih dengan kebiasaannya menampakkan kesuraman semaunya. Maya memetik kuntum melati terakhir dari gerombolan yang tumbuh di dekat pagar kayu. Di telapak tangannya kini tertumpuk kuntum-kuntum putih beraroma harum. Ia akan meletakkan melati itu di meja tamu agar ruangan itu terasa segar dengan wewangian bunga.

Kakinya sudah menapak di teras ketika sebuah minivan mendekat, lalu berhenti tak jauh dari halaman rumah Maya. Ia berbalik dan mendapati seorang wanita paruh baya turun dari kursi pengemudi. Wanita itu tak segera memasuki halaman rumah Maya, tapi memilih berdiri di dekat pagar kayu, persis di sebelah rerimbunan melati. Wanita itu tersenyum kepada Maya. Di mata wanita yang memakai dress selutut warna merah hati, terpancar rona bahagia, sedih, sekaligus penyesalan.

“Kamu Maya?” Suaranya lembut dan renyah, terdengar bersamaan.

“Iya, betul,” jawab Maya.

Wanita itu mendekati Maya. Langkahnya anggun, ritmenya terjaga. “Perkenalkan,” katanya sambil menyodorkan tangan kanan kepada Maya, “saya Laila, tantenya Al.”

Maya segera menumpahkan tumpukan melati di tangan kanannya ke telapak satunya lagi. Lalu, segera membalas jabat tangan wanita itu. “Saya Maya,” balasnya. “Mari masuk, Tante.”

“Ah, tidak usah. Kita duduk di sini saja,” kata wanita yang mengaku bernama Laila sambil menunjuk amben yang sedikit basah karena percikan air hujan subuh tadi.

“Basah, Tante. Sebentar saya ambil lap dulu di dalam,” tukas Maya yang segera melesat ke dalam.

Beberapa saat kemudian, Maya kembali ke teras dengan lap di tangan. Melati-melati tadi sudah ia letakkan di meja tamu.

“Kenapa tidak duduk di dalam saja, Tante?” tanya Maya sambil mengeringkan amben dari sisa-sisa percik air hujan. “Di sini dingin, anginnya agak kencang.”

“Nggak apa-apa,” sahut Laila. “Kalau kita ngobrol di dalam, kita nggak bisa melihat yang hijau-hijau.”

“Oh,” Maya tertawa kecil, “saya ngerti. Silakan duduk, Tante.”

Laila duduk. Dan, cara duduk Laila pun membuat Maya sedikit terperanjat dalam hati. Wanita ini begitu anggun, ujarnya dalam hati.

“Tante Laila mau minum apa? Biar saya buatkan. Teh anget, mungkin?!”

“Nggak usah,” jawab Laila yang secara tiba-tiba menyentuh tangan Maya.

Maya kaget, walaupun tidak sampai punya dugaan aneh-aneh.

“Duduklah,” kata Laila lagi.

Maya dan Laila kini duduk bersebelahan, posisinya agak miring sehingga nampak keduanya seperti sedang berhadapan.

“Apa kabarmu, Maya?”

“Ba… baik, Tante,” jawab Maya. Otak Maya bekerja, mencari-cari ingatan soal wanita ini. Pasalnya, Al tidak pernah cerita jika ia mempunyai seorang bibi. Seingat Maya, kedua orangtua Al adalah anak tunggal.

Hening lagi.

“Bunga mawarnya bagus, ya,” ujar Laila lagi menunjuk satu-satunya kuntum mawar yang mekar di bulan ini.

“Eh, iya, Tante.”

Maya mulai bingung – dan juga bosan – dengan sikap tamu barunya ini. Tapi, ia tidak berani bertanya. Ia melihat wanita itu masih asyik berlama-lama memandang halaman rumahnya, menyapukan indera penglihatannya ke tiap-tiap tanaman yang berada di sana. Tak sadar, Maya pun ikut memperhatikan kebun bunga kecil yang kerap ia rawat jika ada waktu senggang. Maya paling suka rimbun melati di dekat pagar itu.

“Maya.” Tiba-tiba Laila sudah memalingkan wajah ke arah Maya. “Kamu mau ikut Tante?”
Maya terkesiap sejenak. “Ikut kemana, Tante?”

“Ke suatu tempat, rumah seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu.”

Hei, wanita ini aneh, pikir Maya.

“Ehm…. Saya khawatir tidak bisa ikut, Tante. Masih ada yang perlu saya kerjakan di rumah. Lagipula, saya belum minta ijin ke bapak.” Maya berharap, kebohongannya tidak akan terdeteksi si tamu.

“Aku yang akan meminta ijin kepada orangtuamu,” sahut Laila.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment