Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty Two

13423739781269166312



Sungguh, ini bukan percakapan yang pantas dilakukan di luar ruangan. Ketiga orang ini – dua wanita dan satu pria – masih berdiri dan saling pandang di dekat pagar.

“Masuklah dulu.”

Bayu yang paling dulu sadar bahwa situasi ini bukan hal yang lazim ditengok mata tetangga. Ketiganya menuju ruang tamu, duduk di sofa usang, lalu kembali saling pandang dalam diam. Bayu sendiri bergantian memperhatikan dua subjek di hadapannya. Wajah santun Rosi dan wajah segar Maya. Mirip, ujar Bayu dalam hati.

Tiba-tiba Bayu berdiri dan melangkah menuju lemari pendingin. Ia mengambil beberapa botol minuman dingin, lalu kembali ke tempat duduknya semula.

“Minumlah dulu. Kalian berdua pasti capek di jalan. Tapi, maaf. Suguhan ini mungkin nggak layak disebut suguhan. Cuma air mineral.”

“Nggak apa-apa, Bay. Ini juga sudah cukup, kok,” sahut Rosi.

Mereka kembali diam.

“Pertanyaanku belum dijawab, Ros,” ujar Bayu.

Rosi bertambah kikuk. Berkali-kali ia pura-pura merapikan rambutnya yang tidak berantakan. Juga bersibuk-sibuk membetulkan bajunya yang sebenarnya tidak salah pakai.

“Dia…,” Rosi mulai membuka suara, “memang Kalina Mayasari.”

“Dan, dia adalah?” sambung Bayu.

“Dia… anak kita.”

Maya diam. Bukan karena sudah tahu perihal kalimat jawaban Rosi. Dia hanya tak tahu bagaimana harus bereaksi. Senangkah? Sedihkah? Marahkah? Terlihat kesemuanya di paras kuning langsat yang kini membatu.

“Anak?!”

“Iya,” jawab Rosi.

“Maksudnya?” tukas Bayu.

“Maaf,” gumam Rosi. “Aku belum pernah cerita ke kamu.”

“Cerita apa?”

“Soal dia.”

“Dia?!” Bayu menunjuk perempuan muda di sebelah Rosi.

“Iya,” suara Rosi meninggi. “Kamu nggak percaya? Perlu tes DNA?”

Bayu tidak menjawab. Ia beralih menatap Maya. “Berapa umurmu, Nak?”

“Hampir dua puluh tiga, Om.”

“Jangan panggil dia, Om,” bisik Rosi pada Maya.

“Ehm…,” Maya bingung.

“Nggak apa-apa, Ros,” Bayu menengahi. “Jadi, umurmu hampir dua tiga, ya.” Bayu mengangguk-angguk, seolah telah menemukan jawaban yang memuaskan dahaga penasarannya. “Pantas saja.”

“Banyak yang pengen aku certain, Bay. Soal kenapa aku pergi, kenapa aku nggak pernah kontak kamu selama aku di Lembang, dan soal….”

“Nggak perlu, Ros. Kamu nggak perlu cerita,” potong Bayu.

“Tapi, aku pengen kamu ngerti, Bay?”

“Memangnya  sekarang kamu nganggep aku belum ngerti?!” Bayu menggeleng. “Naif!”

“Aku minta maaf,” kata Rosi dengan kepala menunduk.

“Aku sudah paham sekarang, Ros. Aku bodoh kalau aku nggak juga ngerti apa yang terjadi lebih dari dua puluh tiga tahun yang lalu, Ros.” Bayu mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kita melakukan hal itu, lalu kamu menghilang. Beberapa tahun setelahnya, aku menerima undangan pernikahanmu. Maaf, aku nggak bisa datang, aku cuma malas melihat perempuan yang harusnya menjadi istriku, malah duduk di samping lelaki lain. Aku juga tahu kamu sudah lama pindah ke Australia. Dan, sekarang muncul gadis ini. Semua tidak perlu diceritakan ulang, Ros. Tapi, mungkin gadis ini yang perlu mendengar ceritamu. Aku yakin, dia pasti punya banyak pertanyaan buat kamu.”

Mendadak Rosi menjadi sangat lelah. Rautnya berubah, walaupun tak lagi ada cairan bening menggenang di pelupuk matanya. Ia meraih tangan Maya, namun gadis itu menarik kembali tangannya.

“Cerita saja, Bu,” kata Maya. “Saya akan mendengarkan.”

Rosi menggeleng.

“Nggak apa-apa, Bu. Apa pun yang nanti akan saya dengar, saya terima,” lanjut Maya.

Rosi menghela napas panjang.

“Sebelum bicara lebih banyak, boleh saya minta kamu manggil Mama, Maya?”

Maya mengangguk sambil tersenyum, walaupun di hatinya belum ikhlas berucap kata itu.

“Mama minta maaf, Nak,” kata Rosi. “Mama masih sangat muda waktu itu, dan nggak tau harus berbuat apa. Semua itu kakek neneknya Al yang mengatur. Termasuk ide menyerahkan perawatanmu kepada orang lain. Setelah mengurus cuti kuliah, Mama tinggal selama hampir satu tahun di Lembang.”

“Ehm…, Ma…,” potong Maya.

“Ya?!”

“Bisa dipersingkat saja? Langsung saja Mama jelaskan, kenapa Mama memilih menyerahkan Maya pada orang lain?”

“Nah, aku juga ingin tau itu, Ros,” tambah Bayu. “Kenapa nggak kamu berikan saja anak itu padaku?”

“Ehm…. Semuanya nggak semudah yang bayangkan, Bay. Saat itu aku bingung, juga dilema. Satu sisi, aku ingin sekali menceritakan semuanya ke kamu. Tapi, di sisi lain, aku juga harus memikirkan orangtuaku. Jadi, kutelan bulat-bulat saja usulan Om Wawan dan Tante Yanti. Toh, itu yang terbaik.”

“Benarkah itu, Ma? Itu yang terbaik?” tanya Maya dengan suara bergetar.

“Maya….” Rosi kembali meraih tangan Maya. Dan, kali ini Maya membiarkan tangan kanannya berada dalam genggaman Rosi. “Mama minta maaf. Mama nggak bermaksud membuatmu menderita, Sayang. Mama cuma berpikiran bahwa penjaga kuburan itu akan menganggapmu sebagai putrinya sendiri. Dan, Mama lihat itu memang benar. Mama tahu, pria tua itu sangat melindungimu, Maya.”

“Pria tua itu ayahku, Ma,” suara Maya terdengar lirih di tengah isaknya.

“Hei, jangan lupa. Akulah ayah biologismu, Nak,” sahut Bayu.

“Harusnya kalian nggak perlu muncul. Harusnya aku bisa hidup lebih tenang. Nggak masalah jika aku harus mati tanpa sempat mengenal orangtua kandungku. Aku bahagia, walaupun hanya hidup dengan bapak. Bapak nggak pernah menganggap aku sebagai anak angkat.”

“Mama tau, Nak.”

“Boleh aku minta pulang sekarang, Ma?”

“Kenapa?” tanya Bayu. “Apa kamu nggak senang ketemu orangtua kandungmu?”

“Bukan itu, Om,” jawab Maya. Rosi tak lagi peduli dengan cara Maya memanggil Bayu. “Mungkin saya cuma belum paham apa yang sebenernya terjadi di masa lalu. Dan, mungkin juga, saya nggak mengharap untuk mengerti lebih cepat.”

“Alasannya?” tanya Bayu lagi.

“Bayangkan saja jika Om ada di posisi saya,” jawab Maya. “Mungkin Om bisa memahaminya.”

Maya langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu. Rosi bertambah bingung dengan sikap Maya. Tapi, ia sempat memikirkan satu hal. Segera ia membuka dompet Louis Vuittonnya dan mengeluarkan selembar kartu nama.

“Telepon aku nanti malam,” katanya sambil menyodorkan kartu nama itu kepada Bayu. “Yang ditulis tangan, itu nomer Indonesiaku.”

Bayu menerima kartu itu tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia juga membiarkan Rosi berlaku seperti Maya, meninggalkan ruang tamu tanpa pamit. Pintu depan ia biarkan terbuka selepas dua perempuan tadi melewatinya. Bayu kembali merebahkan punggungnya ke sadaran sofa. Di depannya – di meja tamu – layar laptop menyajikan screen saver kebun teh Ciwideuy.

***

Pagi belum juga sempurna menebar terang di langit. Semburat lembayung masih menggantung di sebelah timur. Al sudah memarkir Vios hitamnya di tepi lahan pekuburan. Ia belum berani turun. Otaknya masih membayangkan pertemuan terakhir dengan Dahlan, pertemuan yang tak juga membuatnya melihat wajah Maya.

Al meraih ponselnya dari saku kemeja. Ia menekan tombol beberapa kali, lalu menempelkan benda itu ke telinga kanan. Sejenak, dua jenak, nada panggilan itu tak kunjung terjawab. Ia menekan tombol merah dan kembali memasukkan ponsel ke saku kemeja. Dengan sedikit memaksakan diri, Al memilih turun dari mobil dan menghampiri rumah Dahlan.

Al beruntung tak perlu mengetuk pintu kali ini. Ketika ia baru memasuki halaman rumah, Maya muncul di teras sambil memegang sapu. Al langsung berlari menghampiri Maya. Ia menahan tangan Maya ketika gadis itu akan kembali ke dalam rumah.

“Kenapa kamu malah lari?” tanya Al yang masih menahan tangan Maya.

“Tolong lepasin tanganku, Al.” Maya tidak menjawab pertanyaan Al.

“Jawab dulu pertanyaanku.”

Maya menatap mata Al. “Itu hakku. Aku nggak perlu selalu menjawab pertanyaanmu.”

Please, May. Ada apa sebenarnya?”

“Nggak ada apa-apa, Al.”

“Terus, kenapa kamu sama sekali nggak mau ketemu aku?”

Maya berusaha sekali lagi untuk melepaskan diri dari genggaman Al. Dan, berhasil. Ia melangkah ke amben dan duduk. Al pun melakukan hal yang sama.

“Aku bertemu ibuku, Al.”

“Apa?! Ibumu?! Kapan? Sama siapa? Sama Mama?!” cecar Al.

“Nggak. Dia datang sendiri.”

“Terus? Dia ngomong apa aja?”

“Banyak hal. Tapi, itu belum membuat aku paham kenapa dia milih ngasi aku ke orang lain.”

“Apa lagi, May? Ceritain semuanya.”

“Al….” Maya memandang wajah kekasihnya. “Lebih baik kita selesaikan saja semuanya sekarang. Maksudku…, kamu nggak perlu datang ke sini lagi. Bisa, kan?!”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment