Kisah Al dan Maya - Chapter Twenty One




Dahlan berhenti mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar pusara. Ia berdiri untuk meluruskan tulang punggungnya. Sedikit menggerak-gerakkan bahunya agar hilang rasa kaku pada tubuhnya. Ia melirik ke arah rumahnya. Serta merta ia memicingkan mata tuanya. Samar, ia melihat ada seseorang di teras rumahnya. Dari blok kedua jajaran nisan-nisan, mata Dahlan memang tidak terlalu awas. Wajar, umur lima puluh empat bukan lagi kondisi yang optimal. Jadi, Dahlan meninggalkan sabit dan gunting rumputnya di dekat nisan, lalu melangkah pulang.

Dahlan baru dapat melihat siapa seseorang di teras rumahnya ketika ia akan memasuki halaman rumahnya. Ia juga melihat Maya segera berdiri, seolah hendak menyambutnya. Wanita itu pun ikut berdiri, lalu menengok ke arah pagar. Rautnya langsung berubah begitu melihat Dahlan.

“Siapa lagi tamumu kali ini, Nak?” tanya Dahlan saat menjejakkan kaki di teras rumah.

“Ehm…. Perkenalkan, Pak. Ibu ini tantenya Al,” jawab Maya.

“Oh,” gumam Dahlan.

Wanita itu tersenyum sambil menyodorkan tangannya, mengajak Dahlan untuk berjabat. “Nama saya Laila. Sepupu dari ibunya Al.”

Ah, sepupu rupanya, seru Maya dalam hati.

“Maaf, Bu. Tangan saya kotor, baru habis nyabutin rumput,” ujar Dahlan sambil menunjukkan kedua tangannya yang memang masih kotor.

Wanita itu tersenyum, sedikit menahan malu karena tindakannya sendiri. “Tidak apa-apa.” Ia melirik Maya sebentar, lalu berkata lagi, “Begini, Pak. Saya kemari karena diminta oleh Al. Al sedang sibuk, jadi belum bisa kemari. Tapi, Al minta saya menjenguk Maya dan menanyakan keadaan Maya.”

Dahlan tahu, wanita ini sedang mengarang sebuah alasan. Al tidak sibuk seperti yang baru saja wanita itu katakan. Baru dua hari lalu Al kemari. Dan, lagi-lagi, Dahlan harus membuat Al pergi tanpa bertemu Maya.

“Sekaligus… saya minta ijin kepada Bapak. Saya ingin mengajak Maya jalan-jalan ke kota.”

“Jalan-jalan?!” tanya Dahlan.

“Iya, Pak,” jawab wanita itu.

“Ehm, sebentar ya, Ibu Laila. Saya perlu bicara sebentar dengan anak saya.”

“Silakan, Pak.”

Dahlan masuk, diikuti Maya. Wanita itu kembali duduk di amben. Matanya pun kembali menjelajah satu persatu tetumbuhan yang tertata rapi di halaman.

Sementara itu di dalam rumah, Dahlan mengajak Maya ke dapur. Mereka duduk di kursi makan. Dahlan sengaja memilih dapur untuk tempat berbicara karena letaknya agak di belakang. Ia takut – jika ia bicara di ruang tamu – percakapannya dengan Maya akan terdengar oleh Laila.

“Siapa sebenarnya perempuan di luar itu, Nak?”

“Maya juga nggak tau, Pak. Al sendiri nggak pernah cerita. Dan, kalo menurut Maya, wanita itu nggak menyakinkan tingkahnya. Agak takut, sih, Pak.”

“Bapak juga mikir gitu. Minggu lalu ibunya Al yang datang, sekarang perempuan itu. Sebenarnya apa mau keluarga itu terhadap kita? Kalau saja kamu nggak menolak untuk ketemu Al, mungkin ini nggak bakal terjadi,” papar Dahlan. “Oh, bukan. Bukan maksud bapak menyalahkan kamu, Nak,” buru-buru Dahlan menambahkan. “Tapi, ah…, sudahlah.”

“Maya juga nggak nyangka jadinya begini, Pak.”

Dahlan menghela napas panjang. “Ada yang aneh, Nak.”

“Aneh kenapa, Pak?”

“Nggak tau. Bapak cuma merasa – pas lihat perempuan itu – seolah-olah bapak sedang melihat masa yang jauh dari saat ini.”

“Masa depan, maksud bapak?”

“Semacam itu,” jawab Dahlan hati-hati.

“Aneh-aneh aja, Pak.”

“Sudahlah. Ayo kita ke depan lagi.”

“Tapi, Pak,” Maya menahan Dahlan. “Gimana dengan ajakannya? Maya nggak tau harus jawab apa. Menurut bapak, Maya harus gimana?”

Dahlan kembali duduk. Dahinya berkerut ketika berpikir.

“Kamu sendiri pingin ikut atau nggak?” tanya Dahlan. “Kalau kamu ragu, lebih baik jangan, Nak.”

Giliran Maya yang berpikir keras, menimang berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi nanti. Jemarinya saling taut di atas meja makan. Lalu, dengan gerakan cepat, ia membetulkan poninya yang sempat terurai tak beraturan.

“Maya mau ikut dia, Pak.”

“Hmm?!”

Maya tersenyum. “Maya percaya wanita itu, kok, Pak. Kita nggak kenal terlalu banyak orang. Bahkan, hampir tidak ada yang tau soal hubungan Maya sama Al. Jadi, kalau ada orang yang mengaku mengenal Al secara pribadi, pastinya dia bukan orang asing.”

“Memang benar. Tapi, bapak sendiri nggak menyarankan kamu untuk nerima tawarannya, lho.”

“Bapak tenang saja. Nggak akan terjadi apa-apa, kok.”

Keduanya meninggalkan dapur menuju teras. Wanita tadi masih duduk di amben dan agak terkejut ketika mendapati dirinya sudah tidak sendirian lagi di teras rumah itu.

“Bagaimana?” tanya wanita itu.

“Saya akan ikut, Bu,” jawab Maya. “Asal ibu Laila bisa nganter saya lagi ke sini sebelum magrib.”

Wanita itu tersenyum. “Tenang saja. Nanti saya antar pulang.”

“Ya, sudah. Bapak kerja lagi. Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela.”

Maya mengangguk dan Dahlan segera kembali ke tanah pekuburan untuk meneruskan pekerjaannya yang tadi sempat terabaikan.

“Saya mau ganti baju dulu, Bu.”

Wanita itu mengangguk.

Sudah hampir dua puluh menit, minivan milik wanita yang mengaku bernama Laila itu meluncur di atas lapisan aspal. Maya duduk di depan, di samping kursi pengemudi. Keduanya masih lebih banyak diam. Namun, sesekali wanita itu mencuri pandang ke arah Maya yang lebih banyak melempar pandang ke luar jendela.

“Kamu pernah jalan-jalan ke kota?” tanya wanita itu yang rupanya bosan dengan hening.

“Ehm…, jarang sekali, Tante. Tapi, sejak kenal Al, paling nggak dua minggu sekali, dia ngajak saya ke daerah Dago.”

“Dago?!”

“Iya, Tante. Ya, cuma makan malam sambil ngobrol.”

“Nggak pernah ke mall?”

“Enggak, Tante. Al kurang suka keramaian mall.”

Senyap lagi. Entah wanita itu memang sedang berkonsentrasi dengan kemudinya, atau ia sudah tidak punya pertanyaan untuk Maya. Namun, yang pasti, wanita itu sedang berjuang menahan air matanya agar tidak tumpah di depan Maya.

Kini mobil meluncur ke kawasan timur Bandung, ke sebuah perumahan tak jauh dari tempat pacuan kuda. Wanita itu membawa Maya menelusuri beberapa blok menjauh dari tempat pacuan kuda. Lalu, berhenti tepat di persimpangan blok, di depan sebuah rumah mungil yang halaman rumahnya miskin tanaman. Ada sebuah motor bebek terparkir di balik pagar rumah, menandakan si empunya rumah memang berada di rumah.

Wanita itu turun, pun dengan Maya. Keduanya menghampiri pagar rumah. Wanita tadi memasukkan tangannya ke sela-sela pagar, lalu menekan bel yang menempel di tembok sebelah dalam. Satu kali, dua kali, belum ada jawaban.

“Ini rumah siapa, Tante?” tanya Maya.

“Ini… rumah seorang teman tante.” Agak tergagap wanita itu menjawab pertanyaan Maya. “Kami dulu satu kampus di Unpad. Tapi, dia dua angkatan di atas tante.”

“Oh…,” gumam Maya.

Wanita itu menekan bel untuk ketiga kalinya, barulah pintu rumah terbuka. Muncul seorang pria berumur sekitar empat puluh lima tahun dengan rambut sedikit memutih di sekitar pelipis.

Awalnya pria itu hanya terdiam di teras sambil memperhatikan dua orang wanita yangberdiri di luar pagar. Matanya agak memicing, seolah sedang menyesuaikan diri dengan cahaya siang yang kali ini agak redup karena mendung. Dan, pria itu masih saja memicingkan matanya ketika berjalan mendekati pagar. Ia membuka slot pagar dan menggeser rangkaian besi bercat perak ke arah kiri.

“Kalian siapa?” tanya pria itu sambil mengijinkan Maya dan wanita tadi masuk ke halaman rumah.

“Halo, Bayu,” sapa wanita itu. Ia melempar senyum multimakna kepada pria berkulit sawo matang di hadapannya. “Lama tak jumpa. Apa kabarmu?”

“Kamu…,” pria itu tidak menjawab. Ia malah diam sambil telunjuknya mengarah ke wanita dengan dress merah hati.

“Iya. Ini aku.”

“Rosi!” seru pria bernama Bayu itu.

“Rosi?!” gumam Maya dengan heran.

“Apa kabarmu, Ros?” Bayu memeluk wanita yang ia panggil dengan nama Rosi.

“Baik, Bay. Kamu sendiri gimana?” Wanita itu melepaskan dari pelukan Bayu.

“Ya, begini-begini saja. Tapi, overall, aku baik-baik saja,” jawab Bayu.

“Sibuk apa sekarang?” tanya si wanita.

“Masih ada garapan beberapa skenario film pendek,” jawab Bayu lagi. “Dan, siapa ini?” tanyanya sambil menunjuk Maya.

“Ini….” Wanita tadi tidak langsung menjawab. Raut wajah Bayu pun berubah bingung.

“Tante. Bukannya tadi tante bilang nama tante Laila?!”

“Ehm, begini….”

“Laila?!” potong Bayu. “Namanya Rosi. Rosi Meilani. Kamu, siapanya Rosi?” tanya Bayu pada Maya.

“Rosi Meilani?!” ujar Maya lagi, tanpa mengindahkan pertanyaan Bayu.

“Iya, Rosi,” tegas Bayu. “Kamu siapa?” ulangnya.

“Saya…, saya… Kalina Mayasari.”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar, klik image.

0 comments:

Post a Comment