Kisah Al dan Maya - Chapter Nineteen




Mendung, tipikal langit bulan Januari. Sebentar lagi air tumpah dan bumi menjadi basah. Biasanya – kalau tidak sibuk dengan pekerjaan rumah – Maya akan berada di kamarnya ketika gerimis turun. Ia akan menarik kursi kayu ke dekat jendela kamar, membiarkan lubang segi empat di tembok itu terbuka, dan mengijinkan tetes-tetes air terkecil sesekali menerpa wajah ayunya. Pemandangan yang terlihat dari jendela kamarnya memang bukan pemandangan yang istimewa. Toh, ia hanya bisa mendapati jejeran nisan sejauh mata memandang. Tapi, Maya tidak peduli. Ia hanya ingin menikmati gerimis di saat masih ada kesempatan.

Lain halnya dengan hari ini. Sekarang gerimis sudah turun, tapi Maya tidak berada di dekat jendela. Lubang itu separuhnya dibiarkan tertutup kelambu katun bermotif bunga. Ia sendiri kini duduk di tepi kasur kapuk tua yang tergeletak di lantai, tanpa dipan. Lututnya ditekuk dan hampir menempel di dada. Beberapa langkah dari tempatnya duduk, ada lemari pakaian. Tatapan tertuju pada benda kayu itu, tapi ia tidak benar-benar melihatnya. Sorot matanya kosong, namun di otaknya, berkelebat banyak hal. Kadang wajah-wajah yang muncul, kadang hanya kilasan peristiwa hari-hari kemarin yang mulai mengabur.

“Nak....”

Sapaan lembut muncul dari lelaki tua yang kini berada di ambang pintu kamar Maya. Maya sedikit terkejut. Buru-buru ia membetulkan sikap duduknya.

“Iya, Pak.”

“Bapak pergi dulu. Ada pesanan tiga sekaligus.”

“Iya. Bapak sudah sarapan?”

“Sudah.” Dahlan mendekati gadis yang selalu ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri. “Anak gadis nggak baik kalau terlalu sering melamun. Walaupun pekerjaan rumah sudah selesai, carilah kegiatan lain untuk mengisi waktu.”

“Aku nggak melamun, kok, Pak,” tukas Maya.

Dahlan tahu, anak gadisnya sedang berusaha menyembunyikan kenyataan. Ia lalu ikut duduk di sebelah Maya.

“Sampai kapan bapak harus mengarang cerita jika pemuda itu datang kemari? Bukannya bapak tidak sanggup berbohong, Nak. Bapak hanya kasihan melihat Al. Pemuda itu nggak ngerti dimana letak kesalahannya, sehingga kamu tiba-tiba nggak mau menemui dia. Jangankan Al, bapak pun nggak ngerti ada apa sebenarnya dengan kalian.”

Maya menunduk. Makin menenggelamkan wajahnya dari tatapan sang ayah.

“Itu memang hakmu, Nak,” lanjut Dahlan, “memilih untuk tidak bertemu dengan seseorang. Tapi, Al bukan orang lain.” Dahlan menghela napas panjang. “Sebenarnya, ada apa dengan kalian? Ceritalah, biar bapak mengerti.”

“Nggak ada apa-apa, Pak,” jawab Maya terburu-buru.

“Itu bukan jawaban yang bapak harapkan muncul dari mulutmu, Nak.”

Maya mendongak, melihat wajah ayahnya.

“Pak…. Kalau bapak memang ngerti, seharusnya bapak nggak perlu tanya. Maya sudah cerita sama bapak, apa yang terjadi di Lembang bulan lalu. Pasti bapak sudah bisa menyimpulkan.” Maya kembali menunduk, memandang lantai semen yang ia pijak. “Di dunia ini, keluarga Maya hanya bapak… sama ibu. Walaupun Maya nggak pernah kenal ibu, tapi Maya yakin, ibu orang yang baik. Kadang, Maya berharap kecelakaan itu nggak pernah terjadi, Pak. Supaya Maya bisa mengenal ibu. Pasti kita jadi keluarga yang sempurna, ya, Pak?!”

Dahlan berdiri. Ia hendak keluar kamar. Tapi, sampai di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh ke arah Maya.

“Seharusnya kamu bersyukur, Nak. Kamu diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan ibu kandungmu.” Lalu, ia keluar tanpa perlu melihat dan mendengar reaksi dari Maya.

Di teras, sebelum meraih cangkul dan gunting rumput, Dahlan menyeka sedikit bulir bening yang hampir tumpah dari sudut matanya.

***

Al melongok jam tangannya. Sudah lima belas menit sejak terakhir ia melihat benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Secangkir kopi hitam tanpa gula hampir habis ia teguk. Dan, sore sudah berubah jadi malam. Bahkan, si pelayan kafe sudah dua kali datang ke mejanya untuk menawarkan mengisi kembali cangkir kopinya – dan Al selalu menolaknya. Namun, yang ditunggu belum juga muncul.

Al memutuskan untuk menyibukkan diri dengan ponselnya. Ia berpikir, cara itu pasti ampuh untuk membunuh kebosanan ketika menunggu seseorang. Ia membuka beberapa situs berita online, berusaha membaca dengan seksama artikel-artikel yang disajikan, walaupun setengah dari otaknya tetap terjaga untuk hal lain. Agak berhasil. Kini ketegangan – dan juga kebosanan – mulai memudar. Ia mulai menikmati akitivitas barunya, sampai seseorang datang mengacaukan konsentrasi membacanya.

“Mama tidak ingat kamu gemar bermain gadget, Al. Kamu lebih suka sesuatu yang berbau otomotif.”

Berta sudah berdiri di depan meja yang ditempati Al. Rautnya datar. Lengan kanannya menggamit tas wanita buatan pengrajin lokal, setipe dengan pakaian yang bukan dari brand kenamaan.

“Mama?!” Dahi Al berkerut. Sang ibu tidak terlihat seperti biasanya wanita itu berdandan.

“Ada apa?” tanya Berta sambil menarik kursi, lalu mendudukinya.

“Tumben….”

“Kamu pikir Mama akan berpakaian seperti biasanya ketika Mama tau kamu ngajak Mama ketemuan di…,” Berta menyapu pandangannya ke ruangan kafe, “tempat murahan ini?!” lanjutnya sambil mengecilkan volume suaranya.

“Sederhana bukan berarti murahan, Ma.”

“Apa bedanya? Ehm, jangan-jangan kamu mulai ketularan pacarmu, ya?!”

“Ma…,” tukas Al seolah ingin menghentikan tuduhan-tuduhan yang meluncur dari mulut Berta.

“Cepatlah. Ada apa kamu minta Mama kemari?”

Al menarik napas panjang. Ia mengantongi kembali ponselnya ke saku kemeja.

“Ini soal Maya, Ma.”

“Hmm…,” gumam Berta tak berselera.

“Al minta Mama membujuk Maya….”

“Membujuk?!” potong Berta.

“Dengerin dulu, dong, Ma.”

“Memangnya ada apa dengan gadis itu?” potong Berta lagi. Kini ia sedikit menegakkan badannya, egonya kalah dengan rasa penasaran.

“Aku dan Maya…, yah, agak merenggang. Beberapa kali dia menolak untuk bertemu denganku.”

“Baguslah.”

Sorot kemarahan menghujani Berta. Namun, sosok yang dituju malah sibuk membolak balik halaman buku menu.

“Apa maksud Mama?” tegas Al.

Berta mengalihkan pandangan dari halaman buku menu. “Kamu… dan Rhein. Itu sudah dari dulu. Jadi, kamu jangan berharap keputusan itu bisa berubah, Al.”

Al kesal. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tangan kanannya menyapu rambutnya ke belakang.

“Ma. Sudah berapa kali Al bilang, Rhein nggak mungkin jadi istriku.”

“Kenapa?!” Berta menutup buku menu, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Apa karena gadis miskin itu?”

“Berapa umur Rhein, berapa umurku. Itu alasannya. Rhein masih SMA kelas sepuluh. Kalau aku menunggu Rhein sampai lulus kuliah, aku tidak sanggup, Ma.” Al meraih cangkir kopi dan meneguk sesapan terakhir dari cairan pahit itu. “Lagi pula Mama ini aneh. Maya, kan, juga anak Tante Rosi. Apa bedanya kalau aku menikah dengan Maya? Toh, Mama dan Tante Rosi tetap akan besanan.”

Sekarang giliran Berta yang melempar sorot kemarahan kepada Al. “Aku sudah melahirkan anak bodoh, rupanya. Maya bukan anak sah, Al. Dia lahir bukan dari ikatan perkawinan,” Berta menahan volume suaranya agar tak terdengar oleh pengunjung lain. Suasana kafe mulai ramai. “Rhein… adalah anak sah dari Tante Rosi dan Om Tedi. Jadi, kamu harus menunggu Rhein. Mama tidak peduli jika itu harus memakan waktu bertahun-tahun. Kamu harus menjaga muka Mama di depan keluarga besar mereka.”

Al berdiri.

“Mama seharusnya mendengarkan sendiri apa yang barusan Mama katakan. Kupikir itu bukan hal yang pantas diucapkan seorang ibu kepada anaknya.”

Lepas berkata, Al meninggalkan sang ibu yang masih duduk sambil menyilangkan tangan di depan dada.

***

Sudah pukul satu siang. Agaknya bukan waktu yang tepat untuk bertandang ke rumah seseorang. Tapi, Berta tidak peduli. Ia tetap mengetuk pintu rumah mungil yang berdiri di pinggiran lahan pekuburan. Seorang pria tua membukakan pintunya.

“Cari siapa, Bu?” tanya Dahlan.

“Maya,” jawab Berta datar.

“Maaf. Ibu siapa? Dan, ada apa mencari anak saya?”

Dahlan bukannya tidak percaya pada wanita di hadapannya. Hanya saja ia tahu, anaknya bukan tipe yang sering bergaul dengan wanita semacam ini: berbaju mahal, dandanan mutakhir, dan selalu mengangkat sedikit dagunya ketika berbicara dengan siapa pun.

“Panggilkan saja, Pak. Dia tau siapa saya,” sahut Berta.

Dahlan naik pitam. “Maaf, Bu. Bukannya saya tidak mau memanggil Maya. Tapi, ibu belum memperkenalkan….”

“Biarkan wanita itu masuk, Pak,” suara lembut dari dalam rumah memotong kalimat Dahlan. “Dia bukan orang asing,” lanjutnya.

Dahlan berbalik, melihat Maya sudah berdiri menghadap ke pintu rumah. Daun pintu terkuak lebih lebar lagi, mengijinkan wanita bersetelan ungu tua masuk ke ruang tamu sederhana sang penjaga kuburan.

--- bersambung ---

next chapter

0 comments:

Post a Comment