Kisah Al dan Maya - Chapter Eighteen

13423739781269166312



Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Berta masih belum tidur. Sejak malam, pikirannya sibuk menimang sesuatu. Permintaan Maya kemarin, agar dipertemukan dengan ibu kandungnya, belum juga ia tanggapi. Sebenarnya mudah saja. Ia bisa menelepon Rosi kapan pun ia mau. Tapi, masalahnya, apakah Rosi mau menerima kabar darinya. Berta masih ingat, Rosi pernah berkata sebelum terbang ke Sydney, bahwa jika memang takdir tidak akan mempertemukan lagi dirinya dengan anak kandungnya, Rosi sudah ikhlas. Mungkin Maya memang lebih baik diasuh oleh orang lain, ucap Rosi kala itu pada Berta.

Gagang telepon sedari tadi tergenggam oleh Berta. Berpindah-pindah antara tangan kanan dan tangan kiri. Cemas enggan pergi dari pikiran Berta. Pun ragu masih saja menggelayut di benaknya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menekan beberapa tombol di gagang telepon portable. Dua, tiga jenak menunggu, panggilan internasional tersambung.

Hallo,” suara malas seorang wanita di ujung telepon menyambut.

“Ros....”

Who is there?” tanya Rosi, kali ini dengan suara yang terdengar lebih jelas.

“Ini Teteh, Ros,” jawab Berta.

“Teteh. Ampun. Ini teh masih jam berapa di Bandung?”

“Udah pagi, kok, tapi masih lumayan gelap.”

Hening sejenak. “Ya, Tuhan. Di sini masih jam lima pagi, Teh.” Rupanya Rosi baru saja melirik jam dindingnya. “Berarti di Bandung baru jam dua, ya?!”

Berta tersenyum, lalu menjawab, “Iya, Ros. Bagaimana kabarmu di Sydney? Sehat?”

“Iya, Teh. Ros baik-baik saja. Teteh sendiri gimana? Udah berapa bulan Teteh nggak nelepon Ros? Kangen, ih.”

Di telinga Berta, Rosi masih saja terdengar seperti gadis manis dua puluh tiga tahun yang lalu, walaupun sekarang umur Rosi sudah melewati kepala empat.

“Ros....” Agak ragu untuk memulai nampaknya. Tapi, harus dilakukan, pikir Berta.

“Iya, Teh. Ada apa?”

“Ehm… kapan kamu ada rencana ke Bandung?”

“Kapan, ya?! Nggak tau juga, Teh. Memang ada apa? Al udah mau nikah, ya?”

Berta tertawa kecil, walau dalam hatinya sedikit tersinggung dengan pertanyaan Rosi. “Bukan. Bukan itu. Yah, teteh kangen sama kamu, Ros,” jawab Berta sekenanya. Ia bingung hendak berkata apa untuk menanggapi pertanyaan tentang anaknya.

“Ah, Teteh. Baru juga lima bulan lalu Ros main ke Bandung, kok, sekarang teteh udah kangen Ros. Paling enggak, Ros baru bisa ke Indonesia tiga bulan lagi. Sekalian sama jadwal suami cuti kerja.” Rosi diam. “Memangnya ada apa, sih, Teh? Ros penasaran, ih.”

Berta telah menduga saat itu datang juga, di mana ia harus berkata soal Maya pada Rosi. Ia harus sampaikan itu, mau tidak mau. Jadi, sebelum memulainya, ia menarik satu napas panjang, lalu menghembuskannya disertai desah gulana.

“Pulanglah dulu, Ros. Nanti kamu akan tau sendiri kalau sudah di sini.”

“Teteh….” Hening, lalu, “Teteh nggak apa-apa? Kok, kedengerannya kayak ada sesuatu yang gawat. Apa teteh sakit? Atau, Al yang sakit? Cerita atuh, Teh. Jangan bikin Ros makin penasaran,” pinta Rosi setengah memohon.

“Nggak ada yang sakit, Ros. Kami semua di sini baik-baik aja. Cuma…, yah, Teteh bingung harus bagaimana memulainya….”

“Mulai dari yang paling awal, Teh,” potong Rosi dengan tegas.

“Oke. Ini soal anakmu, Ros.”

“Rhein?! Ada apa dengan Rhein? Apa dia bikin ulah di Jakarta?”

“Bukan. Bukan Rhein. Ini soal anakmu dengan Bayu,” sahut Berta.

“Bayu?” gumam Rosi. “Maya?!” Tiba-tiba Rosi seperti baru saja mendapat kejutan besar.

“Iya. Maya.”

“Teteh…. Bukannya teteh janji nggak bakal mengganggu kehidupan Maya?!”

“Iya, itu benar. Tapi, siapa yang bisa menyetir takdir selain Tuhan, Ros? Tidak ada. Dan, teteh juga nggak pernah ngarep untuk bertemu anak itu. Tapi, yah….”

“Di mana teteh ketemu sama Maya?” potong Rosi lagi.

Berta tidak segera menjawab. Ia yakin, jika percakapan ini diteruskan, Rosi tetap sulit untuk percaya. Pun, sambungan internasional bukan sesuatu yang murah.

“Kalau kamu sudah di sini, kamu akan ngerti sendiri, Ros. Teteh belum bisa menjelaskan lebih banyak lagi. Nanti saja kalau kita sudah bertemu, akan teteh ceritakan semuanya.” Buru-buru Berta memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu Rosi membalas kalimatnya.

***

Lewat satu minggu sejak Maya bertandang ke Lembang, kini Al dan Maya duduk di amben. Mereka berjarak panjang nampan yang berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring kecil pisang goreng. Keduanya diam, sepertinya sibuk menyimak nyanyian katak-katak – gerimis baru saja usai – yang bersembunyi di balik bebatuan. Atau, mungkin keduanya sedang sibuk meniti detik di dalam hati masing-masing. Yang jelas, keheningan masih saja menguasai keduanya sampai pada saat Dahlan tiba di rumah.

“Sudah dari tadi, Nak Al?” tanya Dahlan sambil meletakkan sapu lidi dan gunting rumput di sudut teras.

“Baru sepuluh menit, Pak,” jawab Al.

“Ya, sudah. Bapak mau mandi dulu.”

Al mengangguk. Dahlan masuk ke rumah. Lalu, hening lagi selama beberapa jenak.

“Minum dulu tehnya, Al.”

Al menghela napas. “Mama minta kita ke Lembang lagi, May,” kata Al tanpa mengacuhkan kata-kata Maya. “Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan.”

“Hal penting?!” Maya spontan memalingkan wajah ke arah Al.

“Aku juga nggak tau sepenting apa itu. Tapi, Mama kedengaran serius waktu ngomong di telepon. Tebakanku, mungkin ini menyangkut ibu kandungmu, May.”

“Memangnya kenapa dengan ibuku? Apa Mama udah ketemu sama ibuku?” tanya Maya setengah tak niat.

Dahi Al berkerut mendengar nada bicara Maya. “Apa kamu nggak pengen ketemu ibumu, May? Bukannya minggu lalu kamu minta Mama untuk mencari ibumu?!”

Maya kembali menatap lurus ke depan. Pandangannya menembus gerombolan tanaman kenanga setinggi kira-kira satu meter. Matanya tidak berkaca-kaca, malah sebaliknya, terlihat kilatan kemarahan di sana.

“Dia membuang aku ke tempat ini, kan?” ucap Maya.

“Maksudmu?!” Pandangan Al menyusuri tiap inci paras Maya, mencari-cari apa makna di balik kalimat Maya.

“Aku tidak diinginkan wanita itu, Al. Jadi, untuk apa aku harus menemuinya?”

“Tapi…, kamu….” Al menyeka bulir keringat yang bermunculan di pelipisnya. Udara sore yang sejuk tak bisa mendinginkan emosi yang terlanjur tersulut. “Ada apa, May? Kenapa tiba-tiba kamu bersikap seperti ini? Aku yakin, ibumu juga pengen ketemu kamu.”

“Kamu pasti kenal ibuku, Al. Seperti apa dia? Apa dia cantik?” Maya tiba-tiba membelokkan arah pembicaraan.

“Aku… aku nggak tau. Waktu itu aku masih kecil dan belum bisa mengingat banyak hal.” Sedetik kemudian, ia menyesal telah menjawab dengan kalimat tadi. “Maksudku, kamu udah pernah liat fotonya waktu di rumah, kan?! Ya, dia…, dia cantik. Ibumu cantik.” Jeda sejenak. “Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu?!”

“Bagaimana dengan ayahku? Apa kamu juga kenal dia?” tanya Maya lagi.

Dahi Al berkerut-kerut lagi. “Kamu aneh, May,” katanya sambil membuang muka. “Ada apa, sih? Kalo memang kamu keberatan untuk datang lagi ke Lembang, ya, nggak apa-apa. Aku bisa cari-cari alasan kalo Mama tanya. Pertanyaan-pertanyaanmu itu aneh.”

“Al…. Selama dua puluh dua tahun, aku hanya tahu bahwa pria tua di dalam itu adalah orang tuaku. Aku masih sangat kecil ketika istri pria tua itu meninggal karena tertabrak mobil. Jadi, aku tidak mengenal siapa ibuku. Selama itu pula, aku nggak pernah tau bagaimana rasanya punya ibu, seperti apa perlakuan seorang ibu terhadap anak perempuannya. Aku hanya bisa membayangkan sedikit-sedikit. Malah kadang, bayangan itu terasa kabur, Al.” Satu, dua hela napas, membuang beban yang menyesak di dada. “Sekarang aku disodorkan hal yang aku pikir mustahil terjadi di dalam hidupku – aku akan bertemu ibu. Itu… keajaiban yang menyakitkan, Al.”

Al berusaha mengerti apa yang dirasakan Maya saat ini. Menyusun empati melalui kalimat-kalimat Maya, walaupun itu sulit. Satu bagian yang Al belum mengerti. Mengapa Maya menyebut itu sebagai keajaiban yang menyakitkan?

“Seharusnya aku bahagia, kan, Al?!” Akhirnya Maya melihat lagi ke arah Al. “Aku akan bertemu ibu. Dan, mungkin juga akan bertemu ayahku. Iya, kan?! Tapi, ada perasaan aneh di sini,” Maya menunjuk dadanya.

“Aku tahu, May.” Al meraih jemari Maya. “Aku… berusaha untuk mengerti apa yang terjadi saat ini. Kupikir yang terpenting, kamu harus datang ke Lembang besok. Aku jemput jam delapan, ya.”

Al melepaskan genggamannya. Ia berdiri, lalu memandang sebentar kekasihnya yang kini menunduk menekuni motif bunga pada rok panjangnya.

“Istirahatlah, May. Kamu butuh itu malam ini,” kata Al lagi. Ia kemudian berlalu dari teras rumah.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.

0 comments:

Post a Comment