Kisah Al dan Maya - Chapter Eleven

13423739781269166312



Subuh sudah berlalu. Kini mentari bersiap hendak menunjukkan kegagahannya kepada seluruh makhluk hidup di bumi. Tak terkecuali Maya. Ia baru saja selesai membereskan sisa sarapan ayahnya. Sekarang ia duduk di balik meja belajar tua di kamarnya. Secara refleks, ia mengambil buku harian dan bolpen dari laci meja.

Ada yang aneh dengan diriku. Semalam, aku seperti dihempas ke banyak adegan opera sabun yang biasa aku tonton di televisi. Mengejutkan, menyakitkan, dan membuatku ingin berteriak marah. Siapa yang menyangka kalau aku mendapat ciuman pertamaku justru setelah aku bertengkar hebat dengan Al? Kupikir ciuman pertamaku pasti terjadi ketika sedang kencan di sebuah taman, atau ketika selesai makan malam romantis di atap sebuah gedung bertingkat. Ya, khas pengila dongeng upik abu dan pangeran tampan berkuda putih. Tapi bukan itu yang terjadi semalam!

Jika ingat bagaimana tingkah Al di butik itu semalam, rasanya aku ingin membawakan petasan korek api dan kuselipkan di antara rambut perempuan itu. Sepuluh batang petasan rasanya cukup untuk membalas perbuatannya. Tapi itu sangat tidak elegan. Aku memang tidak tahu seperti apa keluargaku. Hanya saja, entah mengapa, aku selalu ingin menunjukkan kalau aku bukan terlahir dari rahim wanita sembarangan. Aku sadar, aku punya harga diri. Dan nampaknya, hanya itu hartaku yang paling berharga.

Tiba-tiba Maya menghentikan gerakan jemarinya. Ia menutup buku hariannya dan kembali menaruhnya di laci meja. Ia teringat isi pesan singkat dari Al semalam. Katanya ia akan diajak menginap di suatu tempat. Al akan menjemput jam delapan. Maya menengok jam di dinding. Jam delapan hanya satu jam lagi. Segera saja ia membuka lemari lalu menata beberapa potong pakaian ke dalam sebuah tas besar.

Benar saja. Saat matahari mulai meninggi dan semakin hangat, Al datang menjemputnya. Lebih cepat lima belas menit sebenarnya, tapi tidak masalah buat Maya. Tas besar itu sudah berisi segala yang ia perlukan jika sedang tidak di rumah, termasuk peralatan kecantikan dan perlengkapan untuk mandi.

Sementara itu, Dahlan sudah sedari tadi berada di pemakaman. Sekarang adalah hari Minggu. Dan di akhir pekan, peziarah akan lebih banyak daripada hari biasa.

“Lebih cepat lima belas menit, Al.”

Al tersenyum. “Bukankah itu lebih baik daripada terlambat?!”

Maya membalas senyum Al disertai dengan anggukan.

“Lagipula,” sambung Al, “aku tidak ingin kita terjebak macet.” Al diam. Ia baru benar-benar memperhatikan Maya sekarang. “Kau terlihat sangat cantik dengan pakaian itu, Maya.”

Oke. Tidakkah dia sadar kalau baju ini adalah baju yang kupilih di butik tadi malam? Ternyata Al memang hanya memperhatikan perempuan itu.

Maya tersenyum menanggapi pujian dari Al. Ya, hanya tersenyum. Sebab ia yakin, jika ia mau, ia bisa mengulang lagi pertengkaran semalam. Dan itu akan menjadi hal yang paling ia sesali seumur hidupnya. Jadi ia hanya memilih tersenyum.

“Memangnya kau mau ajak aku kemana, Al?”

Pertanyaan Maya menyadarkan Al dari keterpesonaan yang sedang ia rasakan. “Ehm,” sedikit tergagap, “kita akan… ke suatu tempat. Nanti kau akan tahu,” sambungnya. “Eh, ayahmu mana? Kau sudah pamit?”

“Ayah sudah ke makam sejak tadi.”

“Lho…. Ada apa? Apa ada pesanan lubang?”

Tawa Maya hampir saja meledak. Tapi ia buru-buru menahannya. “Tidak, Al. Hari ini tidak ada pesanan lubang. Sekarang, kan, hari minggu. Dan biasanya akan ada lebih banyak peziarah dibanding hari-hari lain. Terkadang ada yang memakai jasa ayah untuk membersihkan petak-petak pusara itu.”

“Ah, ya. Aku lupa.”

Tanpa menunggu lama, keduanya segera menaiki mobil Al. Lalu lintas hari Minggu sangat tidak bisa diprediksi. Dan Al tidak ingin mereka benar-benar terjebak kemacetan.

“Boleh aku bertanya lagi, akan kemana kita?” tanya Maya di tengah perjalanan.

“Tidak boleh. Ini kejutan. Sebentar lagi kita sampai,” jawab Al dengan memasang raut jahil pada wajahnya.

“Kau tahu aku tidak suka kejutan, Al. Itu membuatku ingin muntah saja ketika aku tahu yang aku hadapi bukan hal yang aku inginkan.”

Al tertawa mendengar ucapan Maya. “Tenang saja, Sayang. Aku tidak akan sekejam itu.”

“Aku tahu,” sahut Maya tanpa mengubah nadanya. Ia masih ragu. “Kau tidak akan sekejam itu padaku. In case something happen to me, you better know what to do.”

I will. I really am,” ujar Al.

Keduanya kembali terdiam. Al sedang fokus menyetir, sementara Maya kembali tenggelam dalam pikirannya.

Aku yakin perbedaan adalah hal yang indah. Bukankah jika semua sama, dunia tidak akan menemukan harmonisasinya?! Aku dan Al sangat berbeda. Maksudku, status sosial kami berbeda. Itu masih menjadi ketakutanku. Mungkin Al berpikir aku benar-benar tidak tahu tujuan perjalanan ini. Tapi aku masih ingat Al menyebut daerah Lembang sebagai tempat tinggalnya dulu. Dan ini adalah jalan menuju Lembang, kan?!

“Apa yang sedang kau pikirkan, Maya?”

“Tidak ada,” jawab Maya sambil memalingkan pandangan menembus kaca mobil di sampingnya.

“Benarkah?! Kulihat kau melamun. Pasti ada yang sedang kau pikirkan.”

Maya kembali melihat Al. Ia tersenyum. “Aku hanya sedang memikirkan – dan sedikit mencemaskan – apa yang kebanyakan para gadis pikirkan. Kurasa itu wajar, Al.”

Vios hitam Al melenggang perlahan memasuki sebuah pekarangan luas. Di tepi pekarangan itu ditumbuhi pohon cemara yang berderet rapi. Ada juga beberapa tanaman bunga tumbuh di sisi lain pekarangan. Sedan milik Al lalu berhenti tepat di depan sebuah teras dari rumah bergaya kolonial Belanda. Di teras itu ada empat pilar besar dan kokoh. Ada satu set kursi kayu jati dan sebuah jambangan besar yang diletakkan di sudut teras. Jambangan itu berisi sebuket bunga sedap malam yang nampaknya masih segar.

“Rumah siapa ini, Al?” tanya Maya sambil melepas sabuk pengaman.

Al tersenyum. “Rumahku,” jawabnya ringan.

“Hah?!” pekik tertahan Maya tak terelakkan. Itu sedikit membuat Al ragu, apakah keputusannya mengajak Maya ke rumah sudah benar.

“Iya. Memangnya kenapa?! Aku ingin memperkenalkanmu pada ibuku.”

“Tapi, Al….”

“Ayolah,” potong Al. Ia tersenyum, seolah sedang membujuk Maya dengan senyuman itu. “Kalian pasti akan cepat akrab.”

Dengan keyakinan tipis dan mood yang tiba-tiba berantakan, Maya keluar dari mobil dengan membawa tasnya. Al menunggunya di anak tangga menuju teras. Langkah Maya masih penuh keraguan. Tapi Al tersenyum lagi. Dan senyum itu yang membuat keyakinan Maya bertambah. Meskipun hanya sedikit. Ini sudah lebih dari cukup, pikir Maya.

Memasuki ruang tamu seperti memasuki sebuah galeri seni. Maya benar-benar dibuat kagum oleh apa yang ia temukan pagi ini. Dari luar, memang rumah ini terlihat biasa saja. Mayapun tak terlalu terkesan, kecuali pada jambangan besar di teras yang berisi buket bunga sedap malam. Pasalnya, ia pernah beberapa kali mengunjungi seorang kerabat jauh ayahnya yang tinggal di Cirebon. Kerabat ayahnya bekerja di sebuah pabrik gula dan Maya sempat diajak berkelilling kompleks perumahan yang dihuni oleh petinggi-petinggi di pabrik itu. Rumah-rumah di sana memang besar, tapi di dalamnya miskin interior. Begitulah penjelasan Pak Bakri, kerabat ayahnya.

Dan jika Maya menyebut ruang tamu ini sebagai galeri seni, itu tidak salah. Ada dua set kursi tamu, diletakkan di dua sisi berbeda. Satu set di sisi kanan adalah kursi tamu seperti kebanyakan, terbuat dari spon dan dilapisi kain kuning gading bercorak bunga. Sedangkan satu set lagi adalah kursi tamu yang terbuat dari kayu jati. Sekilas mirip kursi-kursi di teras, tapi yang ini ukirannya lebih rumit dan warnanya lebih alami. Dan di dinding ruang ini, tergantung tiga lukisan bertema alam. Ukurannya juga luar biasa menurut Maya.

Maya tidak sempat melihat dengan teliti benda-benda apa saja yang terdapat di ruang tamu ini. Tapi ia tetap berpendapat, ini memang tiruan galeri seni. Sekarang pandangannya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya. Wanita itu memakai celana panjang berbahan katun warna coklat tua dan blus lengan pendek dengan warna yang lebih muda. Rambut wanita itu digulung dan dipasangi jepit jala warna hitam. Riasannya biasa saja. Hanya satu yang menonjol di wajahnya. Bibir tipis yang saat ini masih terkatup rapat dilapisi lipstick warna merah menyala. Dan keyakinan yang dibangun Maya ketika melihat senyum Al di teras tadi, sekarang mendadak rontok.

“Siapa dia, Al?”

Oh, tidak. Suara itu lebih mirip suara sipir wanita kejam dibanding suara seseorang yang keibuan. Telapak tangan Maya mulai berkeringat.

Al maju mendekati ibunya. Satu tangannya masih menggenggam tangan Maya. Sejenak Al merasakan remasan pada jemarinya. Ia tahu, Maya sangat ketakutan.

“Kenalkan, Bu. Gadis ini adalah kekasihku. Namanya Maya.”

“Maya?!” Ibunda Al tidak menyembunyikan wajah terkejutnya ketika mendengar nama Maya.

“Iya. Tapi jelas bukan Maya Larasati, Bu.” Mendadak raut wajah Al menjadi sedikit sedih.

Maya sendiri beranjak mendekati Ibunda Al. Ia meraih tangan kanan wanita itu dan mencium punggung tangannya. “ Iya, Bu. Saya Maya,” ujarnya, berusaha sopan. “Kalina Mayasari.”

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest, klik image.

0 comments:

Post a Comment