Kisah Al dan Maya - Chapter Six

13423739781269166312



“Iya, Maya.”

Al diam. Ia menunggu suara Maya menggetarkan lagi gendang telinganya. Jujur, ia sangat merindukan suara lembut dari gadis itu. Satu minggu rupanya sangat cukup untuk membuat rasa rindu itu menggelegak hebat. Rasanya seperti lahar yang sudah benar-benar mendidih dan siap meluncur dari bibir kawah. Seperti meniti lima menit menuju adzan magrib di kala bulan puasa. Sungguh membuat jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.

Keduanya masih diam. Hanya hembusan napas dari keduanya yang memecah keheningan dalam dialog itu.

“Maya....” Al memanggil Maya untuk sekedar mengecek apakah teleponnya masih tersambung atau tidak.

“Al…. Maafkan aku. Tak seharusnya aku bersikap seperti ini kepadamu. Ternyata aku tak bisa tanpa ada sapamu dalam setiap hariku. Seringkali aku merasa sangat kesepian saat ingat canda dan tawa kita. Dan sekarang… aku merasa kehilanganmu.”

Al hanya diam, namun hatinya merasa tenang. Tenang karena ia menjadi tahu bahwa Maya juga merindukannya.

“Al…,” kata Maya lagi. “Padahal baru beberapa hari ini kita tidak bertemu, tapi aku sudah merasa tersiksa. Aku tahu perasaanmu tulus padaku. Namun akupun paham, kau tidak bisa dengan mudah melupakan kekasihmu yang telah tiada. Dan kini....”

Ucapan Maya terhenti. Terdengar helaan napas panjang dan dalam. Al memilih untuk tidak bicara dulu. Ia menunggu Maya menyelesaikan kalimatnya. Kalimat apa saja. Intinya, ia hanya ingin mendengarkan suara lembut Maya, gadis yang telah diwasiatkan almarhum kekasihnya. Sedikit demi sedikit, Al mulai paham bagaimana karakter Maya yang sesungguhnya. Gadis itu kuat, sekaligus rapuh. Keinginannya kuat untuk mendapatkan cinta, namun hatinya serapuh dedaunan kering di musim gugur.

“Jujur saja, Al. Sedikit berat untukku menerima dengan begitu saja semua yang telah terjadi. Kau masih ragu-ragu, dan itu membuatku bingung harus bersikap bagaimana. Namun ada yang lebih berat, Al. Hidupku tanpamu ternyata lebih berat.” Maya manangis.

“Aku mohon jangan menangis, Maya. Tidak masalah buatku jika kau masih belum bisa menerima diriku masuk ke dalam kehidupan cintamu. Tapi kumohon sekali lagi, jangan lagi kau bersedih. Aku akan menunggu sampai kau rela menerimaku dengan segala kekuranganku.” Al menenangkan Maya.

“Aku mengerti, Al.”

Akhirnya malam dilewatkan Al dan Maya dengan dewasa. Kegundahan di hati Al perlahan menghilang. Begitu pula dengan Maya. Gadis itu sudah lebih tenang hatinya karena mendapati Al kini telah mengerti apa yang dikehendakinya. Mereka larut dalam canda dan tawa di telepon persis seperti dua sahabat lama yang lama tak bertemu lalu berjumpa saat itu.

“May….”

“Ya….”

“Besok kan hari libur. Kita jalan, yuk!” ajak Al.

“Jalan kemana, Al?” tanya Maya dengan suara sedikit memanja.

“Lembang. Bagaimana?”

“Hmm…. Oke. Kita memang sudah lama tidak meluangkan waktu untuk refreshing, ya.”

“Iya. Berarti besok jam delapan pagi harus sudah siap, ya?! Aku akan menjemputmu. Sekarang lebih baik kau istirahat. Ini sudah lewat tengah malam.”

“Ya. Kau juga ya, Al.”

“Iya. Sampai bertemu besok. Aku….” Seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.

“Ada apa, Al?”

“Ng…. Tidak ada. Sleep tight ya. Bye.”

Bye.”

Sambungan telepon terputus. Dan keduanya segera terlelap dalam mimpi manis masing-masing.

***

Pukul dua belas lebih lima belas menit, Al masih tenggelam dalam tumpukan dokumen di mejanya. Waktu untuk rehat makan siang sudah mulai sejak lima belas menit yang lalu, tapi ia masih saja berkutat dengan kertas-kertas itu. Entah karena ia belum lapar, atau mungkin ia sedang tidak berselera makan, atau bisa juga karena pekerjaannya memang sedang menuntutnya tanpa rehat. Yang jelas, Al seolah tidak melihat hal lain selain dokumen-dokumen di atas meja kerjanya.

Lima menit jarum jam bergeser, tapi Al tidak bergeser. Ketukan pintu sedikit mengganggu konsentrasi kerja Al. Ia ingin mengabaikan saja ketukan itu. Ia mengira, itu pasti Riska yang akan mengingatkannya soal rehat makan siang. Namun Al salah. Ketukan itu terdengar lagi dan sekarang sedikit lebih keras. Al mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pintu ruang kerjanya. Pintu itu sebagian terbuat dari kaca satu arah – seseorang bisa melihat ke luar ruang kerja, tapi tidak sebaliknya – jadi Al tahu siapa yang berdiri di balik pintu itu. Dan orang itu adalah Shinta.

Al berdiri, lalu bergegas membukakan pintu untuk Shinta. Hal pertama yang ia lihat dari wajah Shinta adalah senyum gadis itu yang tergambar sempurna. Bibir tipis itu terlapisi lipstick tipis warna peach. Shinta berdiri di hadapan Al sambil membawa sebuah bungkusan di tangan kanannya. Mungkin ia baru saja dari mall, pikir Al.

“Hai, Al,” sapa Shinta.

“Hai…,” balas Al. “Ayo masuk.”

Keduanya memasuki ruang kerja Al dan langsung mengambil tempat pada sofa di sudut ruangan. Al nampak kikuk, tapi tidak degan Shinta. Gadis itu nampak tenang sekali, walaupun ia sedikit menyembunyikan keringat dingin yang membanjiri kedua telapak tangannya.

“Apa kabarmu, Al?” tanya Shinta.

“Ehm…. Alhamdulillah, baik.”

“Kau terlihat lebih kurus dibanding terakhir aku melihatmu,” ujar Shinta sambil menelisik penampilan Al.

“Eh, ya. Mungkin kau benar.”

But it was three years ago. Never mind,” tukas Shinta yang lalu menertawakan kalimat bodohnya.

“Ya. Tiga tahun yang lalu,” gumam Al sambil tersenyum simpul.

Shinta mencondongkan tubuhnya ke arah Al. Tangannya memegang tangan Al, lalu berkata, “I’m sorry for your lost, Al. Maya adalah sahabatku, dan aku mengerti bagaimana perasaanmu ketika kehilangan dia. Aku minta maaf tidak bisa datang ke pemakaman Maya. Saat itu aku sedang dalam tugas di Mataram. Dan jika saja saat itu aku bisa meninggalkan pekerjaanku, tentu aku bisa melihat Maya untuk yang terakhir kalinya.” Shinta diam, lalu menghela napas panjang. “Tapi sayangnya itu tidak terjadi. Aku tidak bisa melihat Maya. Dan aku sungguh menyesal.”

Al bingung bagaimana harus membalas perkataan Shinta. Ia bertambah kikuk ketika tangan Shinta masih saja menyentuh jemarinya. Lalu ia memberanikan diri untuk menarik tangannya dan pura-pura hendak bangkit dari duduknya.

“Kau mau minum apa, Shinta? Aku bisa menyuruh office boy untuk menyiapkannya.”

Water is fine,” sahut Shinta.

“Oke.”

Al menuju sudut lain di ruangan itu, tempat disimpannya beberapa botol air mineral. Ia mengambil satu, lalu kembali duduk di samping Shinta. Botol itu segera berpindah tangan dan Shinta meminumnya beberapa teguk.

“Boleh aku tanya?!” Al mulai bicara.

Shinta mengangguk pelan.

“Dari mana kau tahu alamat kantorku?”

Shinta tersenyum. Sepertinya ia memang sudah siap dengan pertanyaan semacam itu keluar dari mulut Al. Gadis itu meletakkan botol air minum ke atas meja, dan mulai bicara. “Maya yang mengatakannya padaku.”

“Maya?!” gumam Al tak percaya.

Shinta tertawa. Renyah dan tanpa malu-malu, pikir Al. Dan itu yang membuat Al menjadi lebih kikuk dan bingung.

“Tidak. Bukan Maya. Kau tahu?! Walaupun kami bersahabat, tapi sepertinya mustahil Maya begitu saja bercerita soal dirimu. Bahkan, jika dulu bukan kau sendiri yang mengatakan padaku, mungkin aku tidak pernah tahu soal pertunangan kalian.”

“Benarkah?!” Al masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Shinta. “Lalu soal alamat kantorku, dari mana kau tahu?

“Perusahaan ini sangat terkenal, Al. Siapa yang tidak tahu bank berinisial M ini? Sangat mudah menemukan gedung ini. Yang sulit adalah menembus barikade anak buahmu.” Shinta tersenyum lagi. Dan kali ini, senyumnya menunjukkan bahwa ia tidak mungkin menyerah begitu saja dengan rintangan yang ada.

“Begitu ya. Kalau begitu, aku minta maaf. Memang sedari pagi aku sangat sibuk. Itulah mengapa aku berpesan pada asistenku agar tidak menerima tamu siapapun, kecuali tamu penting tentunya. Tapi…. Bagaimana kau bisa meyakinkan asistenku bahwa kau seorang tamu penting?”

Shinta tertawa lagi. “Aku tidak mengatakan pada asistenmu bahwa aku seseorang yang penting. Tapi aku sudah merasakan duduk di sofa di samping meja asistenmu selama dua jam.”

“Dua jam?!” pekik Al tertahan.

“Tidak apa-apa. Aku ikhlas melakukannya, karena aku pikir ini memang penting. Ini berkaitan dengan Maya. Aku ingin mengembalikan sesuatu miliknya yang dulu pernah aku curi.”

“Curi?!” Dahi Al berkerut. “Kau mencuri?! Apa yang kau curi?”

“Ehm…. Mungkin terlalu kasar istilahnya. Tapi kenyataannya aku memang mengambil benda itu tanpa sepengetahuan Maya. Entah Maya sadar atau tidak. Tapi sejak aku memegang benda itu, aku selalu merasa bersalah kepadanya.”

Shinta mengangkat bungkusan yang tadi ia letakkan di samping kakinya. Bungkusan itu kini berada di pangkuannya. Sejenak ia nampak ragu untuk menyerahkan bungkusan itu kepada Al.

“Apa isi bungkusan itu, Shinta?” Suara Al pelan, namun terdengar tegas.

“Berjanjilah padaku, Al.” Shinta tidak mengindahkan pertanyaan Al. “Berjanjilah kau tidak akan bertanya padaku mengapa aku mencuri benda ini dari Maya.”

--- bersambung ---


Sumber gambar angel on forest, klik image.

0 comments:

Post a Comment