Kisah Al dan Maya - Chapter Five

13423739781269166312

Kolaborasi Sekar MayangEl Hida.


Al meletakkan ponselnya ke meja. Iapun kembali menekuni jarum jam di meja kerjanya yang menurutnya bergerak lebih lambat dari biasanya. Sekarang masih pukul empat lebih lima puluh menit. Sepuluh menit lagi jam kerja berakhir.

Baru saja Al selesai menelepon Shinta. Gadis itu memberikan alamat hotel tempatnya menginap. Tak jauh, mungkin sekitar lima belas menit berkendara dari kantor. Hanya saja, seperti ada yang mengganjal di hati Al. Entah apa itu. Rasanya raga Al terlalu berat untuk diajak bepergian kemana-mana. Rasanya, ia hanya ingin berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya, dan meniti detik-detik yang terbuang begitu saja. Ia ingin sekali merasa menyesal dengan jumlah detik yang ia buang. Tapi pongahnya terlalu besar untuk ia taklukkan sendiri. Alhasil, ia masih bingung untuk menentukan sikap.

Lima menit berlalu dan Al hanya memakainya untuk termenung. Ia masih menatap jam meja warna perak itu. Kemudian sebuah ketukan pelan membuyarkan lamunannya. Riska, sang sekretarisnya, membuka pintu ruangan Al pelan-pelan.

“Pak,” ujar Riska. “Maaf mengganggu. Saya hanya mengingatkan Anda soal meeting esok pagi dengan jajaran direksi. Pukul delapan tepat, Pak.”

Al diam memperhatikan Riska. Gadis itu sungguh manis, pikir Al. Dan sialnya, ia baru menyadari hal itu. Padahal Riska sudah menjadi sekretarisnya selama lebih dari dua tahun.
“Pak…,” Riska kembali menegur pelan.

Al tersadar, lalu mengangguk tanpa berucap satu katapun. Dan Riska sepertinya sudah memaklumi tabiat baru sang bos. Sejak kepergian tunangannya, Al menjadi sangat pendiam.
Tak lama setelah Riska menutup pintu, ponsel Al bergetar. Ada pesan singkat masuk. Tak seperti biasanya, kali ini ia langsung menyambar benda pipih itu. Dalam hati ia berharap Maya yang mengirim pesan singkat itu.

Al, nanti langsung ke kamarku ya. Nomor 403. Aku tunggu.”

Tanpa sadar, Al tersenyum lagi, tapi hatinya tidak ikut tersenyum. Masih ada yang mengganjal, dan ia bahkan tak tahu apa yang membuatnya harus berpikir berkali-kali hanya untuk menemui Shinta. Akhirnya Al memutuskan untuk tidak bertemu Shinta. Ia terlalu banyak menyimpan keraguan dalam hatinya yang membuat langkahnya terasa begitu berat. Sekarang ia lebih memilih berpikir bagaimana caranya agar kehidupannya kini berjalan dengan indah meskipun ia sebenarnya sudah putus asa.

Maya benar-benar cinta sejatinya. Ia tak bisa begitu saja melepaskan rasanya walau Maya kini sudah tiada. Cincin perak yang masih ia pakai di jarinya belum ingin ia lepas. Karena Al berpikir, jika ia melepas cincin itu berarti ia telah merelakan kekasihnya hilang. Dan sepertinya ia belum menginginkan itu terjadi.

Al masih memegang ponselnya. Sekejap kemudian, ia mengetik pesan balasan untuk Shinta.

Maaf, Shinta. Ternyata malam ini aku belum bisa menemuimu. Tadinya kupikir aku baik-baik saja, tapi nyatanya kepalaku pusing. Terkadang aku terlalu memaksakan diri untuk bekerja, dan inilah hasilnya, tubuhku berontak karena kelelahan. Semoga besok malam kita bisa bertemu ya. Regrads, Al.

Pesan singkat itu terpaksa Al kirim. Malam ini ingin dihabiskannya untuk merenung.

Seolah mengerti beban berat yang dipikul otaknya, tubuh Al pun nampaknya enggan untuk beraktivitas. Lambungnya seakan menolak berbagai penganan yang coba ia masukkan. Alhasil, Al hanya menyantap sepotong pizza – itu sisa kemarin malam yang ia panaskan dengan microwave – dan sekaleng minuman soda. Bukan santapan yang penuh gizi, tapi itu lebih baik dibanding tidak memakan apapun, pikir Al.

Lepas makan malam ala kadarnya, Al menghempaskan diri ke ranjang empuk berlapis bedcover warna maroon. Ia pejamkan mata dan berkali-kali menghela napas panjang. Dan benaknyapun mengembara tak tentu arah, sampai akhirnya terhenti pada Maya, putri sang penjaga makam. Al sangat penasaran kenapa Maya sangat ikhlas membersihkan makam kekasihnya saat ia tidak sempat berziarah. Apa memang benar yang melakukannya adalah Maya? Atau itu hanya akal-akalan kekasihnya saja supaya Al mau merelakan cintanya kepada Maya?

Al bangkit dari ranjang dan melangkah menuju ruang tengah. Ia mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di meja. Lalu ia kembali ke kamar. Sambil berbaring, ia mencoba untuk merangkai beberapa kalimat untuk Maya. Ia hanya berharap, Maya mau mengerti mengapa beberapa hari ini ia tidak menemui gadis itu. Walaupun sebenarnya gadis itu yang meminta dirinya untuk sedikit menjauh.

Ah, aku jadi merindukan wajah ayunya,” gumam Al dalam hati.

Jemari Al menari lincah di antara tombol-tombol ponselnya.

Maya. Maafkan aku yang telah mencintaimu di saat yang kurang tepat. Saat aku dalam keadaan masih mengingat kekasihku. Wajar kau ragu padaku, dan mungkin wajar pula aku begini. Aku….

Sampai pada kalimat itu Al berhenti. Lalu dihapusnya pesan tadi dan mulai menulis kembali dengan kalimat yang lain.

Maya. Tak mengapa jika kau memang masih ragu. Aku sadar diriku yang tak bisa melupakannya memang menjadi faktor utama keberatanmu menerima cintaku. Tapi....

Al menarik nafasnya lagi. Malam semakin larut dan ia masih saja gundah dengan segala pikirannya. Ia menghapus kalimat pada pesan tadi dan menggantinya dengan yang baru.

Maya. Aku mengerti perasaanmu. Aku tak ingin membuatmu terluka. Maka tak mengapa jika memang kau tak bisa menerimaku. Aku akui, aku memang tak bisa melupakan kekasihku. Aku tak bisa....

Namun pesan singkat itu hanya bisa membeku di layar ponsel Al. Iapun belum berani mengirimkannya. Ia letakkan ponsel itu di dadanya dan kembali terpejam. Ada yang terasa perih di dalam dirinya. Sesuatu yang sepertinya mencoba untuk menyakiti dirinya. Ujung jemari kedua tangannya terasa nyeri, seperti terendam di dalam kubangan air beku. Pun dadanya berdetak tak beraturan, dan itu membuat Al seakan menyerah dengan keadaan.

Tidak seharusnya seorang pria bersikap seperti ini. Tidak seharusnya seorang pria bimbang dalam mengambil keputusan. Dan tidak seharusnya seorang pria terombang-ambing dalam pikirannya sendiri. Al hanya bisa mengutuki dirinya sendiri.

“Al….

Al tersentak. Ia membuka mata dan mendapati Maya sudah berbaring di sampingnya. Sosok berpendar itu terbaring miring dengan wajah melihat ke arah Al. She’s gorgeous, like always, gumam Al dalam hati.

“Aku tak bisa, Sayang. Maafkan aku….Walaupun liang di mata Al tidak mengeluarkan isinya, namun hatinya masih menangis.

“Kau pasti bisa, Sayang,” sahut Maya. “Kau harus bisa mengganti sebentuk wajah di hatimu dengan wajah gadis itu. Tempatkan aku pada sudut kecil di ruang hatimu, lalu berikanlah seluas-luasnya hatimu untuk dia. Gadis itu sangat mencintaimu, Al. Mungkin lebih dari aku.

“Tidak,” ujar Al. “Kau tetap yang….”

“Kau ingat?!” potong Maya. “Dia bahkan rela dan ikhlas membersihkan pusaraku. Padahal dia tidak pernah mengenalku.”

Al diam. Kembali ia menatap ke atas, namun pandangannya jauh menembus langit-langit kamarnya. Entahlah. Aku ragu aku bisa membahagiakannya sedangkan aku tak bisa melupakanmu, Maya.

“Jangan ragu, Sayang. Kau harus bisa bangkit dari keadaan ini. Jangan biarkan dirimu terlalu lama terpuruk.

Satu bulir bening mencuri keluar dari sudut mata Al. Maya meraih wajah Al dan menghapus air mata kekasihnya. Lalu Al menatap cincin di jarinya. Perlahan ia mencoba melepaskan benda perak bulat itu dari jari manisnya. Dan dari ekor matanya, Al yakin, Maya sedang tersenyum ke arahnya.

“Selamat tinggal, Al. Semoga kau bahagia.”

Al tersenyum tepat di saat sosok Maya mulai menghilang.


Jauh dari apartemen mewah Al, tepatnya di sudut sebuah kompleks pemakaman, Maya terbaring di kasur kapuk yang mulai usang dimakan usia. Ia gelisah. Ini sudah hampir tengah malam, namun ia belum juga bisa memejamkan mata. Berkali-kali ia melirik layar ponselnya. Alih-alih melihat angka pada jam digital di layar ponselnya, ia menunggu benda pipih itu berbunyi karena ada panggilan atau pesan singkat masuk.

Sempat terpikir, apakah harus ia yang lebih dulu menelepon Al. Atau ia hanya perlu melakukan yang seperti kebanyakan gadis lalukan? Menunggu. Tapi ia bosan menunggu. Kembali ia menyambar ponselnya dan mencari nama Al pada phonebook. Lalu nada sambung terdengar.

Tak lama kemudian, “Halo,” suara berat Al sampai di pedengaran Maya.

“Halo, Al,” sahut Maya.

--- bersambung ---

next chapter

Sumber gambar angel on forest.

0 comments:

Post a Comment