Kisah El dan Maya


13423739781269166312


El menatap tubuh kaku kekasihnya. Rahang El terkatup rapat, ia tak sanggup berkata-kata. Dua orang perawat sedang melepas seluruh alat penunjang kehidupan yang menancap di beberapa bagian tubuh Maya. Jarum-jarum itu sudah dua bulan menjajah kulit halus Maya. Seorang dokter wanita berdiri di samping El. Berkali-kali sang dokter itu mengatakan sesuatu pada El, tapi El tidak mendengarkan. El tahu, dokter itu sedang mencoba menghibur El dan itu sungguh sudah tidak ada gunanya lagi menurut El. Toh perkataan sang dokter tidak dapat mengembalikan napas Maya, wanita yang teramat El cintai.

Perawat-perawat itu masih sibuk dengan tubuh Maya. Sejujurnya, El tidak kuat melihat pemandangan itu. Tapi ia tidak bisa menangis. Tidak. Entah mengapa. Mungkin liang-liang di kedua matanya terlanjur menderita kekeringan, karena selama dua bulan ini terus-menerus mengeluarkan isinya. Atau mungkin El sudah lupa caranya menangis. Namun, hatinya tetap menangis. Menangisi kepergian Maya yang begitu cepat.

El menghempaskan diri ke sofa di kamar rawat Maya. Tatapannya masih nanar ke arah tubuh Maya. Ia melihat di tangan kiri Maya, di jari manis wanita itu, dulu sempat tersemat cincin pertunangan. Kilau cincin itu masih nampak di mata El, walaupun benda itu sudah tersimpan rapi di lemari pakaian El. Warna perak kesukaan Maya dengan berlian delapan belas karat berwarna merah muda. El sendiri yang memilihkan cincin itu untuk Maya. Walaupun sempat ragu, tapi ternyata Maya menyukai pilihan El. Dan El tidak pernah lupa seperti apa ekspresi Maya ketika ia menunjukkan cincin itu.

***

Dua bulan sebelumnya

“Sayang, kita mau pergi ke mana sekarang?” tanya El sembari menyetir mobil Peugeot 206  yang telah dimodifikasi menjadi mobil balap. Jarum speedometer saat ini menunjuk angka90 km/jam.

“Jangan ngebut, Sayang! Aku tidak ingin terlalu cepat sampai di tempat tujuan,” jawab Maya dengan senyuman. Senyuman itulah yang selalu membuat El tak ingin pergi darinya. Senyuman yang membuat El jatuh cinta untuk pertama kali melihatnya. El lalu menurunkan kecepatan mobilnya.

“Hehe…. Tenang saja, Sayang. Aku sedang tak ingin speeding, kok,” jawab El sembarimencubit hidung Maya. “Jadi…. Sekarang kita mau ke mana, Sayang?” El mengulang pertanyaannya.

“Bawa aku ke tempat yang indah, Sayang. Aku ingin melihat pemandangan yang teduh seperti tatapan matamu. Aku ingin kedamaian. Aku terlalu bosan untuk berada di rumah saja malam ini.

“Baiklah. Bagaimana kalau kita ke Dago saja? El menawarkan pilihan.

“Terserah kau saja, Sayang. Dago is fine,” jawab Maya.

El merasakan ada yang beda dengan Maya. Kekasihnya itu nampak lesu dan senyum di wajahnya sedikit terlihat dipaksakan untuk mengembang. Namun El tak mau berburuk sangka. Mungkin memang Maya agak lelah setelah seharian bekerja di kantorpikir El.

Oke. Kita ke Dago,” ujar El.

Boleh aku yang pegang kemudi sekarang?” pinta Maya. “Sudah lama tidak merasakansensasi mobil ini.” Wajahnya berubah, auranya berganti. Maya menjadi ceria dan itu yang membuat El sedikit lega malam ini.

Kau serius, sayang? Kau tidak kesulitan menyetir malam hari?!” tanya El meyakinkan.

Yes, I’m serious, honey. Now pull over the car and let me drive,” jawab Maya tanpa beban.

El meminggirkan mobilnya, berhenti, dan memberikan kemudi kepada Maya. Sungguh malam itu terasa begitu indah buat mereka. Membelah malam, menjauh dari hiruk pikuk kotaBandung, dan sejenak menghirup udara segar di daerah Dago.

Ini adalah perjalanan yang panjang dan ini Sabtu malam. Bukan malam minggu namanya kalau jalanan tidak ramai, bahkan saat ini hampir bisa dikatakan macet. Tapi disitulah sensasinya. Maya sangat menyukai suasana itu.

Malam semakin tua. Jam di tangan El menunjukkan jam sebelas malam. “Apa kau tidak mengantuk, Sayang?” tanya El sembari memegang tangan kiri Maya.

Belum. Kantukku hilang jika sudah di balik kemudi, honey,” jawab Maya dengan senyumankhas kesukaan El. “Hei…. Mengapa dari arah berlawanan jalanan sepi sekali?” tiba-tiba Maya mengubah topik percakapan.

“Entahlah, Sayang. Mungkin memang jarang orang yang bepergian ke arah kota.”

“Aku akan coba menyalip. Toh tanjakan ini tidak terlalu curam.”

“Kupikir sebaiknya jangan, Maya.”

Jika El menyebut nama Maya, berarti ia sedang tidak ingin disanggah. Ucapannya serius dan ia berharap Maya menuruti apa yang ia katakan. Dan memang, menyiap (istilah keteknikan untuk kata menyalip – red) di daerah tanjakan sangat berbahaya.

“Ah, tidak apa-apa. Kau lihat sendiri, Sayang, lajur sebelah sepi sekali.”

Perlahan Maya membelokkan mobil ke kanan dan melaju di lajur menuju Bandung. Dua puluh meter pertama, tidak ada hambatan. Lalu Maya menambah kecepatan mobil El.

“Maya. Lebih baik kau kemudikan lagi ke lajur yang benar,” ucapan El lebih mirip perintah.

“Tenang saja, Sayang,” sahut Maya dengan santai.

Kecepatan mobil sudah lebih dari lima puluh kilometer per jam, dan masih terus bertambah. Lalu dari balik tanjakan, muncul kendaraan besar berkecepatan tinggi. Truk itu tidak bisa mengurangi kecepatannya karena sedang dalam posisi menurun. Maya kaget dan langsung membanting kemudi ke kanan.

Pemandangan terakhir yang El ingat adalah pohon perindang besar yang seolah menghampiri El dengan kecepatan cahaya.

***

Siang ini sepertinya matahari sedang berada tepat di atas kepala. Namun sengatannya seolah tunduk pada lapisan awan-awan kelabu bulan September. Pusara Maya masih basah. Para pelayat sudah pergi sejak setengah jam yang lalu. El masih berdiri di samping pembaringan terakhir Maya. Lagi-lagi, El tidak sanggup berkata satu patahpun, apalagi untuk menangis.

“Menangislah, kekasihku.”

Sebentuk suara hadir di pendengaran El. Ia mencari sosok dari pemilik suara tersebut dan ia mendapati sosok Maya berada di sisi lain pusara, tepat berhadapan dengannya.

“Maya?!” Akhirnya bibir El mengucap sesuatu, walau terdengar sangat lirih.

“Aku tidak pernah melarangmu menangis, kan?!” ujar sosok Maya. “Dengan melihatmu menangis, berarti aku tahu, kau memang mencintai diriku dengan tulus.”

“Benarkah kau Maya?!” El masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia menengok ke pusara Maya, lalu kembali memandang sosok yang berwujud seperti Maya di hadapannya.

“Iya, ini aku,” sahut sosok tadi. “Jangan takut, kekasihku. Aku hanya ingin melihatmu sekali lagi. Karena aku tidak suka, kau seolah tidak rela aku pergi dari sisimu.”

“Aku… aku… tidak sanggup… untuk menangis, Maya….”

Sosok Maya itu tersenyum, lalu bergerak mendekati El. Dan sekarang sosok itu sudah di samping El, ikut memandangi pusara yang masih baru itu.

“Selama hidupku, aku tidak pernah punya orang-orang yang begitu mencintaiku. Orang tuaku…. Kau tentu tahu bagaimana kedua orang tuaku. Sudah puluhan kali rasanya aku mengisahkannya padamu, kekasihku. Kaulah orang yang benar-benar mencintaiku untuk pertama kalinya dalam hidupku, El. Aku tidak menyesal walaupun hanya bisa menikmati cintamu dalam waktu yang cukup singkat. Itu… bulan-bulan terindah dalam hidupku.”

Tiba-tiba, satu bulir bening mencuri keluar dari liangnya. Membasahi pipi kiri El, dan akhirnya jatuh ke bumi. Sosok Maya memalingkan wajahnya ke arah El, lalu tersenyum.

“Sekarang aku bisa pergi dengan tenang, El, kekasihku,” ujarnya, lalu tersenyum kepada El.

Sosok Maya memudar dan kemudian benar-benar menghilang dari hadapan El. Meninggalkan El dengan satu lagi bulir bening yang meluncur dari sudut matanya.

E N D

Note : El dan Maya adalah karakter fiktif ciptaan kami berdua. Kisah ini bukan cerita bersambung. Jadi walaupun nama tokohnya sama, kemungkinan jalan ceritanya tidak berkaitan dengan kisah yang sudah pernah kami posting sebelumnya. Untuk membaca kisah El dan Maya lainnya, silakan cari dengan keyword “kisah el dan maya” tanpa tanda petik. Semoga kisah ini bisa menginspirasi siapapun yang membacanya. Salam hangat dari kami.

Sumber gambar angel on forest.


0 comments:

Post a Comment