Kisah Al dan Maya

13423739781269166312



Hari ini Al tidak ingin berlama-lama duduk berdo’a di atas pusara Maya. Selalu teringat olehnya masa-masa di mana mereka bersama memadu cinta. Dan itu agak menyesakkan dadanya. “Aku harus bisa keluar dari dalamnya kesedihan ini. Aku tidak boleh larut terlalu lama dalam kepedihan hati ini,” ujarnya dalam hati.

Sepeninggal Maya, Al memang seperti tak punya pegangan hidup. Hari-hari dilewatinya hanya dengan berziarah dan berbicara dengan pusara Maya. Al yakin bahwa walaupun Maya telah meninggal, Maya tetap ada dan selalu melihatnya.

“Maya, ini sudah keseratus kalinya aku datang menziarahi tempat terakhirmu. Dan aku masih tak bisa melupakanmu. Bahkan aku selalu menganggap kalau kau masih berada di sini. Maya, sepertinya aku memang tak bisa hidup tanpamu. Buktinya aku tak pernah bisa untuk tidak menziarahi tempat terakhirmu ini.” Al berkata kepada nisan Maya. Tangannya terkadang membelai lembut nisan itu, seolah itu adalah wajah Maya. “Maya, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, aku tak akan mencari seseorang yang bisa menggantikanmu dari hidupku. Kaulah satu-satunya yang telah menggenggam hatiku seutuhnya. Aku lebih baik mati daripada harus hidup dengan perempuan selainmu.”

Langit di TPU itu sekarang mendung, dan hari semakin sore. Sudah dua jam Al duduk di atas makam Maya. Sudah dua jam pula airmatanya tak henti mengalir.

“Maya, kenapa kau meninggalkan aku secepat ini? Aku tak bisa hidup tanpamu. Dan ini terbukti saat kau benar-benar tiada. Aku bahkan tak bisa seharipun tidak berkunjung ke tempat terakhirmu ini.”Al diam sejenak dan mengatur napasnya. “Dulu kau pernah bilang bahwa keindahan cinta itu terletak pada mencintai, bukan dicintai. Namun akan lebih indah jika memang bisa saling mencintai. Dan sekarang, aku kehilangan keindahan itu, Maya. Aku kehilanganmu yang dahulu tak pernah rela meninggalkanku walau hanya sehari. Kamu selalu menemaniku dalam segala keadaanku.”

Tiba-tiba, terdengar suara petir menggelegar dari tempat yang jauh dari Al. Langit semakin hitam, pertanda akan segera turun hujan yang lebat. Tapi Al masih bertahan di situ untuk menghabiskan segala kegalauan hatinya. Untuk mencurahkan segala kerinduannya kepada Maya.

“Maya, entah sampai kapan aku harus begini. Menghabiskan hari-hariku di tempat teakhirmu ini. Rasanya aku sudah tak tahan, Maya. Aku ingin menemuimu di tempat yang indah di surga sana. Aku ingin selalu berada di dekatmu. Aku ingin selalu berada di dekatmu. Aku ingin selalu berada di dekatmu, Maya….

Al menangis tersedu. Dirasakannya kesedihan memuncak di hatinya. Debaran jantungnya kian tak beraturan dan pandangan Al menjadi kabur. Al pingsan di atas pusara Maya.

Hujan turun begitu derasnya, memandikan tubuh Al yang tak bergerak. Air hujan yang jatuh di tubuhnya, tak bisa membangunkan Al dari pingsannya. Kilatan halilintar yang diikuti  dentuman petir sama sekali tak berpengaruh. Al masih terbaring dalam pingsan di atas pusara Maya.

“Al….

Tiba-tiba terdengar suara Maya dari belakang tempat Al terbaring. Al yakin itu suara Maya. Al lalu bangun meninggalkan jasadnya. Sekeliling Al berwarna hitam. Hanya Mayalah yang putih, dengan pakaian serba putih dan bersayap seperti malaikat.

“Maya?!

“Kau jangan menangis, sayang. Kau harus bisa hidup tanpa aku…. Suara lembut Maya benar-benar memanjakan kerinduan Al akan kekasihnya.

“Tapi aku tak bisa, Maya.

“Kau pasti bisa, Al. Aku yakin itu.

Tubuh Maya perlahan menghilang dari hadapannya. Al teriak memohon agar Maya tak meninggalkannya. Tapi Maya tetap menghilang.

“Aku ingin ikut denganmu, Maya. Jangan tinggalkan aku!” Al berkata lirih dalam tangisnya.


“Nak…. Nak….” Seorang pria paruh baya menepuk-nepuk bahu Al. “Nak, Al. Bangun, Nak.”

Mata Al perlahan mulai terbuka. Ia mengerjap-ngerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya sore yang terang. Ia sedikit heran, benarkah ia bangun masih di hari yang sama. Bukankah tadi langit begitu gelap dan petir menyambar-nyambar, tanyanya dalam hati.

“Ayo, Nak. Kita hangatkan diri di rumah bapak,” ajak pria tadi sambil menuntun tubuh Al yang masih belum mendapat keseimbangan berjalan.

Tak jauh dari komplek pemakaman itu, terdapat sebuah rumah kecil. Sederhana, namun bersih dan nyaman. Itulah kesan yang ditangkap Al sekilas setelah melihat rumah yang ternyata milik penjaga kompleks pemakaman itu. Al duduk di amben, sebuah tempat duduk lebar dan agak panjang yang terbuat dari bambu. Sementara si pria tua tadi masuk ke dalam rumahnya, Al duduk bersila di amben sambil melepas pandangan ke arah kompleks pemakaman itu. Dari tempat ia duduk, ia bisa melihat dengan jelas pusara Maya.

Sesaat kemudian, pria tua tadi kembali ke teras dan menemani Al duduk di amben. Kemudian muncul seorang gadis yang membawa nampan. Lalu gadis itu meletakkan satu cangkir berisi kopi hitam, satu gelas besar berisi teh hangat – masih terlihat uap mengepul dari cairan berwarna merah kecokelatan itu – dan sepiring singkong rebus.

“Nak, duduklah dulu,” ujar pria tua tadi kepada si gadis. Rupanya gadis itu adalah anaknya. “Ini tamu bapak. Namanya Al.”

Al kaget. Ia baru menyadari, dari mana si pria tua ini tahu namanya, padahal ia belum merasa memperkenalkan diri.

Si gadis tadi tersenyum kepada Al. Selebihnya ia hanya menunduk, sambil sesekali ia melirik ke arah Al atau ayahnya. Terlihat sekali gadis ini begitu santun dan lugu, pikir Al.

“Maaf, Pak,” kata Al. “Tapi dari mana bapak tahu nama saya?”

Pria tua tadi tertawa kecil, lalu melihat ke arah Al. “Perlu dijelaskan juga?!” pria itu malah balik bertanya kepada Al. Lalu Al ingat siapa orang itu dan apa pekerjaannya. Jadi ia rasa, ia tidak perlu bertanya lagi.
Lalu mata Al beralih melihat putri sang penjaga makam itu. Parasnya elok. Meski tidak secantik gadis-gadis yang sering ia lihat di mall atau di tempat kerjanya, tapi Al merasa gadis itu sungguh rupawan. Dan mata gadis itu, pikir Al, seperti mata yang sudah sangat sering ia lihat. Seperti mata yang selalu ada untuk diriku, gumam Al dalam hati.

“Kalau boleh tahu, siapa nama putri bapak?” Al memberanikan diri untuk bertanya.

“Dia bukan putri kandungku. Percaya atau tidak, gadis ini aku temukan terbaring nyaman berselimut di dalam kardus. Seseorang meletakkan kardus itu di amben ini, dua puluh dua tahun yang lalu. Entah siapa yang tega berbuat seperti itu kepada gadis ini,” jelas si pria tua itu – yang sejurus kemudian Al ingat pria tua itu bernama Dahlan – dengan mata berkaca-kaca. “Walau begitu, aku tetap menganggapnya sebagai anakku sendiri. Saat itu juga, ketika pertama kali aku melihatnya di dalam kardus, kuberi ia nama… Maya.”

***


0 comments:

Post a Comment