Kisah Al dan Maya - Chapter Two






Setelah pertemuan pertamanya dengan Maya, anak dari seorang penjaga TPU, Al merasakan ada perbedaan dalam dirinya. Perlahan ia sudah mulai bisa mengikhlaskan kepergian kekasihnya. Dan Al sadar, Maya – yang baru saja masuk ke dalam kehidupan pribadinya – sanggup mengisi kekosongan jiwa, yang sebelumnya selalu menjadikannya terpuruk dan putus asa.

Dua minggu setelah pertemuan pertamanya dengan Maya, Al sudah mulai bisa lebih akrab dengan Maya. Mereka seperti menemukan kecocokan di antara begitu banyak perbedaan. Tak jarang Al menyapa Maya hanya untuk sekedar menanyakan kabar, baik lewat pesan singkat atau sesekali Al menelepon Maya. Dulu, Al sanggup menghabiskan berjam-jam waktunya di akhir pekan hanya dengan duduk di hadapan pusara kekasihnya. Dan setiap kali pula air mata Al selalu tumpah tak terbendung.

Suatu sore, Maya menemani Al mengujungi makam kekasihnya. Berdua, mereka merawat pusara Maya sehingga selalu nampak bersih.

“Tuhan memerintahkan kepada kita untuk selalu bisa ikhlas dalam segala apa yang kita lakukan dan terhadap segala apa yang kita hadapi,” ujar Maya setelah selesai menaburkan bunga di atas makam kekasih Al. “Termasuk mengikhlaskan kepergian seseorang yang sangat kita cintai.”

“Mas Al….”

“Maya,” potong Al. Dan Mayapun sontak memalingkan wajah menatap Al dengan heran. “Sudah kubilang, panggil aku Al saja. Kau paham kan?!”

Maya mengangguk dan agak tersipu. Al memang sudah berulang kali memintanya melakukan itu. Tapi Maya selalu saja merasa tidak enak. Umurnya dengan Al terpaut cukup jauh. Maya masih dua puluh dua tahun, sedangkan Al enam tahun lebih tua.

“Kau tadi hendak bicara apa?” tanya Al.

“Ehm… ya….” Maya masih tersipu. “Soal hidup kita. Apa yang kita miliki sekarang bukannya hanya untuk disia-siakan. Masih ada kehidupan yang abadi setelah kehidupan ini.”

“Iya, Maya. Aku sadari itu sejak bertemu denganmu. Aku tidak lagi berpikir kalau cinta yang tulus adalah sebuah perasaan yang dipaksakan. Bahkan cinta sampai mati itu bukan berarti kita membiarkan diri kita ‘mati’ setelah kematian seorang kekasih. Cinta sampai mati adalah cinta yang selalu dialirkan untuk yang dikasihi, meskipun ia telah pergi dari hidup kita. Entah itu karena sudah meninggal ataupun memang ia lebih memilih untuk bersama orang lain yang lebih dicintainya.”

Maya mengangguk mengiyakan ucapan Al. “Ya, kita memang dituntut untuk selalu menerima takdir dengan lapang dada. Karena itu sudah menjadi ketentuanNya yang telah lama dituliskan di buku catatan hidup kita.”

Al tersenyum. “Terima kasih kau selalu mengingatkan aku sehingga aku sadar bahwa hidup itu tak selebar daun telinga. Jangan bosan ya,” pintanya.

“Semoga tidak,” sahut Maya sambil membalas senyum kepada Al.

“Al. Maya. Sudah sore. Ayo ke rumah dulu. Kita minum teh manis dulu.”

Tiba-tiba Pak Dahlan, ayah Maya, memanggil keduanya. Terlihat kaki pria tua itu berlumuran tanah basah. Rupanya ia baru saja selesai menggali lubang untuk acara pemakaman esok pagi.

“Terima kasih, Pak. Kami hendak keluar dulu sebentar. Tadi Maya bilang, stok obatnya sudah tersisa sedikit,” sahut Al. Padahal sebenarnya stok obat Maya masih cukup untuk satu minggu ke depan. Dan Maya langusng paham maksud Al beralasan seperti itu kepada ayahnya. Ia hanya bisa menunduk dan menyembunyikan senyumnya dari sang ayah.

Mereka berdua menuju tempat terparkirnya mobil Vios hitam milik Al.

“Semoga ayah percaya dengan alasan kau berikan, Al,” ujar Maya tak lama setelah mobil menjauh dari kompleks pemakaman.

Al tersenyum. “Ya. Semoga saja.”

Setelah setengah jam membelah keramaian jalanan Kota Kembang, rupanya Al membawa mobilnya menuju taman kota.

“Untuk apa kita kemari, Al?” tanya Maya sedikit keheranan.

Al tidak menjawab untuk beberapa saat. Sampai di pelataran parkir, Al baru menanggapi pertanyaan Maya. “Aku ingin mengajakmu melihat tempat yang bagus.”

Maya mengerutkan dahi. Tapi ia menurut saja ketika Al menggenggam tangannya dan mengajaknya berjalan menyusuri taman. Tak lama, mereka sampai di depan kolam teratai. Di situ ada bangku panjang dari kayu. Sandarannya terbuat dari ukiran berbahan logam dan dicat warna hijau tua.

“Aku sering kemari bersama kekasihku,” sambung Al sambil mengajak Maya duduk di bangku panjang itu.

“Oya?!” Maya tak tahu harus berkomentar apa. Ia hanya tidak siap dengan kejutan kecil yang Al berikan sore ini.

Keduanya terdiam, menatap beberapa ekor angsa yang berenang di antara teratai-teratai yang mengapung tenang di permukaan air kolam.

“Maya.” Al bicara memecah keheningan. “Sudah tiga bulan kita saling mengenal. Aku masih ingat. Pada tanggal ini tiga bulan yang lalu, aku pertama kali melihatmu dan mengetahui namamu. Aku mengingatmu seolah aku mengingat kekasihku yang telah pergi. Walaupun wajahmu berbeda dengan kekasihku, tapi nama kalian berdua sama. Dan matamu…, aku seperti melihat mata kekasihku saat ini. Aku pikir mata itu tak tergantikan, namun kau hadir nyata di hadapanku, Maya. Dan kau sanggup membuatku nyaman berada di dekatmu.”

Al berbicara serius. Maya mendengarkan dengan baik. Ini pertama kalinya Al berbicara dengan sangat serius, tidak seperti biasanya yang selalu menyelipkan canda di antara ucapannya.

“Maya,” ujarnya lagi. “Jujur saja. Aku merasakan ketenangan ketika bicara denganmu. Kata-katamu yang meneduhkan, dan kalimat-kalimatmu yang menyejukkan, sungguh membuatku selalu sadar bahwa hidup itu indah. Sayang jika dilewatkan begitu saja dengan percuma tanpa bisa menikmatinya. Kau telah berhasil membuatku bangkit dari keterpurukkan.”

Maya hanya diam.

“Ketika aku berada di sampingmu, aku selalu lupa pada masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Aku menjadi lebih tegar.” Kali ini Al mencoba untuk menatap wajah Maya lebih lama lagi. “Percaya atau tidak, banyak sekali hati yang datang sebelum dirimu yang mencoba menawarkan ketenangan dan kesejukkan. Namun mereka tak berhasil. Aku masih berada pada keterpurukan bahkan kedatangan mereka hanya menambah kegusaranku. Atau mungkin saja aku yang belum mau menerima sebentuk perasaan apapun untuk hatiku. Entahlah. Aku sendiri sudah enggan berpikir soal itu.”

Al menghela napas panjang. Dua kali. Lalu bicara lagi. “Berbeda denganmu, Maya. Aku menemukan sosok kekasihku dalam dirimu. Tutur lembutmu, bahkan gaya bicaramu sungguh tak jauh berbeda dengan kekasihku yang telah pergi.” Al menghela napas panjang lagi.

Sementara itu, Maya mencoba menenangkan dirinya. Sungguh, ia merasa sedikit terganggu oleh kata-kata Al.

“Mas Al….” Maya tak lagi mengindahkan permintaan Al sebelumnya. Ia hanya ingin bicara sejujurnya. “Tapi aku bukan orang yang pantas menggantikan kekasihmu. Aku hanya perempuan biasa yang ingin dicintai dengan segenap ketulusan, bukan yang harus dicintai dengan alasan tertentu.”

“Aku memang mencintaimu dengan tulus, Maya. Bersediakah kau menjadi kekasihku?”

Maya benar-benar terkejut dengan pertanyaan Al. Jantungnya berdetak begitu kencang. Namun Maya berusah menyembunyikannya dari Al, mesikpun Al bisa melihat tangan Maya yang gemetar. Jemari-jemari lentik itu sibuk memainkan ujung cardigan ungu tua dengan gugup. Seperti terjadi perang batin dalam diri Maya. Di satu sisi tidak dimungkiri, ia memang mengagumi sosok pria yang kini duduk di sampingnya. Pria dengan paras rupawan serta jiwanya yang penuh kasih dan sayang. Tapi ini perihal hati. Maya tak ingin tertipu oleh kasih sayang palsu, yang tidak ada di dalamnya ketulusan mencintai. Ketulusan cinta itu mutlak bagi Maya.

Dan Maya pun tidak tahu, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Al. Apa ia melihat dirinya sebagai Maya yang baru dikenalnya beberapa bulan? Ataukah ia hanya melihat kekasihnya yang telah tiada? Semua pertanyaan berputar-putar dalam pikiran Maya, membuatnya lidahnya kelu tak mampu berucap.

“Maya…”

Lagi-lagi Maya tersentak, tersadar dari lamunannya karena tangan Al menyentuh tangannya. Dan entah apa yang membuatnya perlahan melepaskan tangannya dari sentuhan Al, tapi itu terjadi. Al pun heran dibuatnya. Tidak seperti Maya yang biasanya, pikir Al.

“Maya…,” kata Al lagi. “Ada apa? Apa kau sakit?”

Maya menggeleng. “Tidak. Aku tidak apa-apa.”

“Tapi wajahmu pucat.”

Maya menggeleng lagi, kali ini lebih tegas. “Sungguh. Aku tidak apa-apa.”

Al diam memperhatikan Maya. Ia yakin, sesuatu telah terjadi pada diri gadis yang duduk di sampingnya itu. “Kalau ada yang hendak kau ceritakan….”

“Mas…,” potong Maya.

Al berhenti bicara dan membiarkan Maya yang menguasai percakapan. Rautnya memberi tanda pada gadis itu agar meneruskan ucapannya.

“Aku bukan Maya!” tegasnya. “Maksudku, aku bukan kekasihmu yang sudah meninggal itu. Aku seseorang yang lain dan aku tidak mau kau samakan aku dengan kekasihmu. Hanya karena nama kami sama, bukan berarti kami adalah orang yang sama. Itu tidak akan terjadi sekalipun kau paksakan aku untuk berpakaian layaknya Mayamu.” Maya diam sebentar, mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Wajahnya betambah pucat, dan itu membuat Al sangat khawatir. “Aku tidak apa-apa.” Maya mengangkat kedua tangannya, seolah ingin menghalangi Al mendekatinya.

“Baiklah. Aku minta maaf.”

Itu saja yang mampu Al ucapkan. Sejujurnya, Al tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia pun sama bingungnya. Jika memang Tuhan tidak membuat sebuah rencana untuk dirinya dengan Maya yang sekarang, apa artinya pertemuan ini. Apa ini sebuah kebetulan? Karena jika benar, ia masih meyakini ketidaksengajaan ini memiliki arti di baliknya.

“Antarkan aku pulang,” pinta Maya. Gadis itu sudah bangkit dari bangku taman dan hendak melangkah menuju tempat parkir mobil.

Al menarik satu lagi napas panjang untuk mengusir kegundahannya. Ia pun bangkit mengikuti Maya yang sudah lebih dulu berjalan. Dalam perjalanan pulang, tidak ada kata-kata terucap dari bibir keduanya. Pun ketika Al mampir untuk membeli dua strip suplemen penambah darah di apotek – Al rasa jumlah itu cukup untuk persediaan obat Maya selama dua minggu ke depan.

Sampai ke rumah, Maya tetap tidak bicara. Pintu mobil sudah sedikit terbuka, tapi Al menahan tangan kanan Maya. Maya berusaha melepaskan diri tapi rupanya genggaman tangan Al terlalu kuat. Maya melihat ke arah Al, dan ia melihat wajah pria itu seperti sedang memohon padanya.

“Ijinkan aku untuk berpikir dulu, Mas,” akhirnya Maya angkat bicara. “Biarkan pikiranku tenang selama beberapa hari ke depan.” Ia diam, matanya tidak lagi menatap ke arah Al. “Aku harap kau mengerti.”

Maya keluar dari mobil. Al masih melihat punggung gadis itu sebelum menghilang masuk ke dalam rumahnya. Dan pria dua puluh delapan tahun itu masih saja belum menjalankan mobilnya selama beberapa saat.

— bersambung —

next chapter

Note : Setelah ada beberapa orang sahabat yang meminta kisah Al dan Maya ini diteruskan, akhirnya kami memutuskan untuk membuatnya menjadi cerita bersambung. Semoga bisa menginspirasi semua sahabat pembaca. Salam :)

Sumber gambar angel on forest.

0 comments:

Post a Comment