Aku, Kau, dan Masa Depan




“El….”

Pria itu tersentak. “Ya…?!”

“Kau melamun lagi?” tanya Maya yang duduk di samping El.

“Tidak,” jawab El singkat.

“Lalu apa yang kau pikirkan?”

El tidak menjawab. Ia malah menyadarkan punggungnya di bangku taman. Sandarannya dingin, dan itu terasa sampai ke kulit tubuh El. Ia lalu menengadahkan kepalanya ke langit. Ia melihat banyak bintang malam ini, tapi bulan hanya sepotong yang nampak.

“Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu,” ujar Maya. “Apa kau sedang memikirkan soal kita?” Maya melontarkan pertanyaan tadi dengan hati-hati. Ia tahu, El seorang pria yang sensitif. Tapi El bukan seorang pemarah. Jika El tersinggung akan sesuatu hal, ia hanya diam. El sanggup tidak bicara walaupun ia sedang di samping Maya. Dan Maya, sedang tidak ingin hal itu terjadi saat ini. Ia ingin El bicara.

“Memangnya ada apa dengan kita?” El malah balik bertanya.

Maya mengerutkan dahi. Ia bingung dengan sikap El malam ini. Ia pun ikut menyandarkan punggungnya ke bangku taman. “Tidak ada. Tapi barangkali saja kau ingin mengatakan sesuatu. Kau ingat, kan?! Malam ini tepat satu tahun kita saling mengenal. Ya… hanya… saling mengenal….” Maya menunduk, ujung matanya mulai basah.

“Kau ingin kita yang seperti apa?” Sejak tadi pertanyaan El selalu singkat. Tapi semuanya membutuhkan jawabannya yang sebaliknya, panjang lebar.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, El. Aku seorang wanita yang bebas, dan kau, bukan seseorang dengan kebebasan seperti yang aku miliki. Akulah yang pantas bertanya status kita.”

El kembali tegak. Ia memalingkan wajahnya sehingga kini berhadapan dengan wajah Maya. El melihat air mata Maya sudah meluncur bebas keluar dari liangnya. “Jadi kau menyalahkan aku, menyalahkan statusku?”

“Tidak. Tidak ada bedanya apakah aku yang bebas atau kau yang bebas. Aku hanya ingin menyalahkan takdir. Boleh, kan?! Mengapa kita dipertemukan ketika salah satu dari kita sudah bersama orang lain?” Maya berhenti sejenak, mengatur napasnya, lau mulai bicara lagi. “Dan kau ingat bagaimana mulanya kita saling mengenal?! Kaulah yang menghampiri aku saat aku duduk sendiri di bangku taman ini. Ya, di bangku taman ini. Aku yang saat itu sedang terluka, kau banjiri dengan rasa nyaman yang seolah tak ada habisnya kau miliki.”

“Itu artinya kau menyalahkan aku,” sahut El dengan tenang. Ia kembali menyandarkan punggungnya ke bangku taman.

“Bahkan ketika kau sedang tidak menginginkanku seperti yang sekarang kau lakukan, aku masih tetap merasakan kenyamanan itu, El. Entah dari mana datangnya.”

“Lalu aku harus bagaimana? Aku pun masih mencintai kekasihku.” Suara El mulai terpengaruh oleh emosi negatif.

“Aku tidak pernah memintamu untuk meninggalkan dia. Aku tahu, dialah wanitamu satu-satunya. Aku hanya…. Aku… bukan siapa-siapa.”

Nyanyian binatang malam mulai ramai. Mengusir hening yang terjadi antara El dan Maya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Maya bangkit dari duduknya.

“Mungkin memang sebaiknya aku pergi,” ujar wanita dua puluh tujuh tahun itu. “Aku sudah mengacaukan hidupmu.”

El pun bangkit. Ia berdiri berhadapan dengan Maya. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Entah itu untuk melindungi tangannya dari hawa dingin, ataukah ia ingin menyembunyikan kegugupannya dari pandangan Maya.

“Kau tidak bisa pergi begitu saja, Maya.”

“Tidak apa-apa. Aku memang harus pergi. Terima kasih untuk segala yang kau berikan padaku selama satu tahun ini, El. Aku menghargai semuanya.”

Maya berbalik dan hendak beranjak dari hadapan El. Tapi ternyata El menahan tangan kiri Maya.

“Jangan pergi,” pinta El. “Aku masih ingin kau di sini.”

Maya kembali berhadapan dengan El. “Aku tidak keberatan menemanimu berjam-jam duduk di bangku taman ini, El. Tapi apa kau memikirkan hatiku? Walaupun kau menggenggam tanganku, memelukku, dan bahkan menciumi tubuhku, aku hanya merasa pikiranmu tidak sedang bersama tubuhmu saat itu.”
“Maafkan aku, Maya. Aku mengerti keinginan hatimu. Tapi ini tidak mudah. Aku mencintai kekasihku dan tak mungkin meninggalkannya.” El berkata sembari memegang pundak Maya.

“Karena itulah mengapa aku memilih untuk pergi darimu saja, El. Aku….” Maya tidak dapat meneruskan ucapannya.

Mereka lalu duduk kembali di bangku itu. El berusaha menenangkan Maya. Sementara itu, air mata Maya belum juga berhenti mengalir.

Pria itu kembali menatap langit. “Aku mohon, Maya. Kau jangan pergi. Aku tahu mungkin akan menyakitimu. Tapi…. Ucapan El menggantung. Nampak sekali ia berusaha keras menemukan kata-kata yang tepat untuk ia keluarkan. Ia tidak mau Maya tersakiti lagi karena ucapannya.

Maya masih menunggu El meneruskan perkataannya, namun wanita dua puluh tujuh tahun itu tidak sabar. Ia berpikir El masih ragu, atau mungkin sedang mencari alasan lain untuk menahannya agar tidak pergi. “Tapi apa, El?! Kita tidak sedang berkomitmen apa-apa,kan?! Kau berbahagia sajalah dengan kekasihmu. Jangan merasa terganggu karena keberadaanku. Aku juga tidak ingin menghancurkan hubungan kalian. Melihatmu bahagia, itu sudah cukup bagiku.”

Kini giliran Maya yang menyandarkan tubuhnya di bangku taman. Ditatapnya langit, gemintang masih bertebaran, seperti air matanya. Dan rembulan masih setengah, seperti jiwanya, yang setengah lagi sudah diberikannya kepada El. Namun El tak pernah merasakannya. Sebab telah ada purnama dalam hatinya. Purnama yang dibuat kekasihnya untuk El. Itu yang ada dalam pikiran Maya. Suasana kembali menjadi sepi, seperti hati Maya. Bahkan Maya mencari-cari kemana hilangnya suara nyaring dari hewan-hewan malam itu.

“Maya….” Suara El memecah sunyi. Pelan sekali, dan terasa sangat dalam merasuki jiwa Maya. Matanya masih melihat langit.

“Iya.” Jawab Maya dengan pelan pula. El lalu merubah posisi duduknya. Menatap Maya dengan tajam.

“Maya, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk….” Suara El terputus. Hati Maya terasa tidak menentu. Dalam hati Maya, banyak sekali kemungkinan yang akan terungkap dari El. Mungkin saat inilah El hendak mengambil keputusan yang terbaik untuknya. Apakah El akan meninggalkan kekasihnya untuk Maya? Atau justru malah Maya yang akan ditinggalkan? Perang batin. Tapi Maya telah mempersiapkan diri dan hatinya andai nanti Ellebih memilih kekasihnya dan meninggalkan Maya. Itu resiko, pikir Maya. Maya pasrah.

“Maya, mungkin inilah saat yang tepat untuk aku memutuskan apa yang seharusnya aku putuskan. Aku tidak mungkin membiarkan semua ini menggantung hatimu. Aku pun tak ingin membuatmu terluka lebih dalam.” El meneruskan perkataannya. Ditatapnya mata Maya dengan sangat dalam. Maya terlihat sangat gemetar. El memegang tangannya, dan sangat merasakannya. Dibelainya wajahnya Maya yang masih basah. Maya tenggelam dalam suasana yang menenangkannya. Dalam hati ingin memeluk tubuh El, tapi tak sanggup. Ingin juga menciumnya, tapi tak bisa. Maya hanya bisa menahan keinginannya. Dan airmatanya tak henti keluar seperti hujan yang turun setelah kemarau panjang.

“Katakan saja, El. Jangan takut. Aku ingin mendengar engkau berkata tentang…, ah, tentang aku, kau, dan masa depan.” Terpaksa Maya harus berkata seperti itu. Agar Elpaham benar dengan apa yang sedang diinginkannya.

“Maya…. Jujur saja…, aku mempunyai perasaan lebih kepadamu. Tapi….”

“Tapi ada kekasihmu yang tak mungkin kau tinggalkan. Iya, kan?!” potong Maya tiba-tiba.

“Tidak, Maya. Bukan itu.”

“Lalu apa, El? Apa? Suara Maya meninggi, seiring dengan isakannya yang juga semakin terdengar.

“Aku sebenarnya sedang menguji sejauh mana ketulusanmu mencintaiku. Aku tahukau begitu dalam menyayangiku. Hingga setiap aku minta kau untuk menemani malamku, kau tak pernah menolak. Jujur, sebenarnya saat aku memintamu untuk menemuiku di taman ini, saat itu sedang merasakan kerinduan yang begitu dalam kepadamu. Dan kau selalu datang untukku. Aku sungguh terharu dengan ketulusan cintamu. Setahun ini aku biarkanperasaanmu menggantung. Maafkan aku, Maya. Aku tidak bermaksud mempermainkanhatimu. Aku hanya takut, kau seperti perempuan lain yang berpura-pura mencintaiku, lalu pergi meninggalkanku untuk lelaki lain. Aku takut, Maya, takut. Karena itulah aku membiarkanmu dengan perasaanmu. Sekarang aku yakin, Maya, kau serius mencintaiku. Sebab selama setahun ini, aku tak pernah melihat ataupun mendengar kau memiliki kekasih. Kau setia menantiku, entah untuk apa. Dan itulah jawabannya. Kau telah membuktikan ketulusan cintamu kepadaku. Kau telah bertahan selama ini, walaupun tanpa status pacaran atau apalah itu sebutannya. Aku menyayangimu, Maya, bahkan sangat sayang. Tapi ketakutanku mengalahkan semuanya. Dan sekarang, saat kau memilih untuk pergi, aku tak sanggup, Maya. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu bahkan melebihi aku mencintai diriku sendiri. Dan sekarang akupun takut, Maya. Takut kehilanganmu….

Maya hampir tak percaya dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibir El. Airmatanya semakin deras mengalir.

“Lalu kekasihmu yang sering kau ceritakan kepadaku itu, El?”

“Demi Tuhan tidak ada. Aku hanya mereka-reka cerita untuk mengelabuimu.”

Kau tak sedang bercanda kan, El?! Maya mengerutkan dahi ketika bertanya.

Tidak, sayang. Aku benar-benar manusia bebas, belum terikat dengan siapapun. Dan sekarang aku ingin menanyakan satu hal padamu, Maya. Ini tentang aku, kau, dan masa depan.”

“Apa itu, El?” Lagi-lagi Maya cemas.

El meraih jemari Maya, lalu berkata, “Maukah kau menjadi pendamping hidupku, Maya?

Maya segera memeluk erat pria yang dicintainya sejak lama itu dan menangis sejadi-jadinya. Itu tangisan bahagia.

Ya. Aku bersedia mendampingimu, El. Aku pun mencintaimu, El.

Merekapun menghabiskan sisa malam berdua, sampai fajar hendak berkuasa atas malam, sampai kesedihan tak lagi datang menampar.


Sumber gambar park bench at night.

0 comments:

Post a Comment